Wednesday, February 17, 2016

Putri Pena & Ksatria Tak Berkuda

Ini adalah cerita tentang Putri Pena dan Ksatria tak Berkuda

Putri Pena, sesuai namanya, selalu membawa sebuah pena emas ke mana pun ia pergi. Dengan pena itu, ia menuliskan semua hal menarik yang ditemukannya dan pengalaman-pengalaman di buku hariannya. Ia dibesarkan di Kerajaan Tulis, di mana penduduknya gemar berekspresi melalui kata-kata. Beruntungnya lagi, Putri Pena memiliki sahabat-sahabat yang tidak pernah meninggalkannya seperti Putri Sastra, Putri Dongeng, Pangeran Filsafat, dan masih banyak lagi.

Ksatria tak Berkuda, adalah ksatria muda dengan banyak keahlian yang tidak dimiliki ksatria lain seusianya. Selain cerdas dan banyak akal, ia juga mahir menggunakan pedang. Ia adalah ksatria yang pemberani dan pantang menyerah. Sang raja sangat menyayanginya. Namun, Ksatria tak Berkuda tetap rendah hati dan merasa masih perlu mempelajari banyak hal. Maka, ia memutuskan berkelana seorang diri meninggalkan Negeri 1000 Dagang, tempat tinggalnya selama ini yang terkenal dengan pedagang-pedagangnya yang jujur dan baik hati.

Putri Pena dan Ksatria tak Berkuda dipertemukan pada satu hari. Kalau saja Putri Pena tidak terpisah dari rombongan kerajaan karena terlalu asyik mengamati kawanan rusa di Hutan Hijau dan Ksatria tak Berkuda tidak dikejar seekor singa kelaparan, mereka tidak akan pernah bertemu. Apakah takdir yang mempertemukan mereka atau hanya sebuah kebetulan, tidak ada yang mempermasalahkannya. 

Bersama-sama, mereka merajut hari di Hutan Hijau. Ksatria tak Berkuda yang berkuda yang berburu dan Putri Pena yang memasak makanan untuk mereka berdua. Sampai akhirnya pasukan kerajaan berhasil menemukan putri mereka yang hilang dan membawanya kembali ke Kerajaan Tulis. Negeri 1000 Dagang pun mengirim utusan untuk menjemput ksatria terbaiknya karena negeri mereka sedang menghadapi ancaman perang dari negara lain.

Di mata Putri Pena, Ksatria tak Berkuda adalah pemuda paling menarik yang pernah ia kenal. Di balik wajah dinginnya, ia memiliki kehangatan yang selalu berhasil menenangkan hati sang putri. Putri Pena juga mengagumi kemampuan berburu sang Ksatria, di mana ia pernah melihat sang Ksatria memburu dua kancil sekaligus dengan pedangnya. Selama di Hutan Hijau, Ksatria tak Berkuda selalu melindungi Putri Pena. Ksatria tak Berkuda bagaikan jelmaan pangeran idaman sang putri dan ia bersyukur bisa mengenalnya.

Ksatria tak Berkuda belum pernah bertemu putri yang memiliki mata seindah Putri Pena sebelumnya. Di balik keindahan matanya, sang Putri seolah menyimpan keceriaan dan semangat hidup yang tinggi. Bersama Putri Pena, ia lebih optimis menghadapi setiap bahaya yang mengancam di Hutan Hijau. Putri Pena juga pandai merangkai kata-kata yang mampu menghibur sang Ksatria saat gundah. Dalam waktu singkat, Putri Pena berhasil memikat hatinya.

Selanjutnya, hari-hari terasa lebih indah bagi Putri Pena maupun Ksatria tak Berkuda. Terpisah oleh jarak tidak menjadi penghalang bagi mereka untuk tetap menjaga komunikasi. Walau Putri Pena harus menjalani serangkaian pembelajaran sebagai calon ratu dan Ksatria tak Berkuda berlatih perang, keduanya masih bisa menyempatkan diri saling berkirim surat. Bertukar cerita dan saling memberi dukungan. Kepada Ksatria tak Berkuda, Putri Pena berbagi pengalaman dan ide-idenya selama mengikuti pembelajaran yang terasa lama dan melelahkan. Dengan Putri Pena, Ksatria tak Berkuda leluasa mengungkapkan kegelisahannya menghadapi perang pertamanya. 


Sampai tiba-tiba, Ksatria tak Berkuda tidak pernah mengirim surat lagi kepada Putri Pena. Mereka bagaikan kehilangan komunikasi. Putri Pena tidak tahu bagaimana kabar Ksatria tak Berkuda, tetapi ia selalu ragu menulis surat untuk sang Ksatria. Surat terakhir dari sang Ksatria hanya berisi perkembangan singkat tentang latihan perangnya dan perang sudah ditetapkan akan berlangsung ketika purnama pada bulan keempat muncul. Pada purnama bulan keempat, Putri Pena akan dinobatkan sebagai ratu muda oleh ayahandanya dan sang Putri berharap Ksatria tak Berkuda bisa hadir pada perayaan bahagianya itu. Di balik sifat optimisnya yang mulai berkurang, sang Putri masih menyimpan harapan sederhanya untuk bertemu sang Ksatria. Namun, jika takdir berkehendak lain atau kebetulan itu tidak menghampirinya seperti dulu, sang Putri tetap mengucapkan syukur kepada Sang Pencipta karena dulu dipertemukan dengan Ksatria tak Berkuda, sang pangeran idaman yang telah berhasil mencuri hatinya. 

07.04.2010

0 Comments:

Post a Comment