![]() |
| RT Darling! Challenge |
![]() |
| Biasa ngecek EYDnya tulisan udah bener atau belum, sekarang ngecek tanaman yang ditanam udah tumbuh segimana :') |
![]() |
| RT Darling! Challenge |
![]() |
| Biasa ngecek EYDnya tulisan udah bener atau belum, sekarang ngecek tanaman yang ditanam udah tumbuh segimana :') |
"Apa resolusinya?" tanya Superior saya ujug-ujug. Nggak jelas ditujukan ke siapa, jadi kami semua yang ada di ruangan itu malah saling berpandangan.
"2021, apa resolusinya? Biasanya kan bikin resolusi gitu ya.."
Sejujurnya, saya lupa kapan terakhir membuat resolusi secara 'resmi' alias ditulis begini. Sepertinya untuk menyambut tahun lalu nggak ada resolusi khusus. Jadinya acakadul deh.
Belajar dari tahun lalu, saya ingin mengembalikan kebiasaan-kebiasaan baik yang mungkin sempat hilang. Termasuk menulis resolusi. Kenapa sih harus ditulis? Supaya ingat. Dan lebih memotivasi untuk bisa mencapainya. Walau dalam beberapa kasus, resolusi selintas yang justru terkabul :').
Jadi, untuk tahun 2021, inilah beberapa resolusi saya...
1. Menerapkan Gaya Hidup Sehat
Alias lebih banyak 'gerak' (bukan olahraga ya hahaha) dan mengurangi goreng-gorengan. Terutama kalo di kantor. Huhuhu monmaap ya gaes kalo saya akan sering absen melipir ke tempat gorengan nanti.
Tapi kalo ada menu #KantinCorcomm yang lain yhaaa... diliat dulu menunya apa ð
2. Kembali Menulis
Menulis blog, menulis freelance, menulis di socmed, apapun deh. Ibarat olahragawan yang jarang gerak, ini jari udah mulai kaku kalo nggak diasah lagi.
3. Baca yang Berfaedah
Termasuk buku yang nggak melulu fiksi. Dari pertengahan tahun sebenarnya udah mulai membiasakan lagi baca satu buku nonfiksi. Biasanya tema parenting atau pengembangan diri. Tapi, durasi antara menyelesaikan novel fiksi vs buku nonfiksi beda jauh yaa ternyata ð
4. Mengurangi Overthinking
Suatu hari, saya pernah cerita sama salah satu sohib, kenapa pikiran random saya sering kejadian. Ternyata, teman saya ini juga mengalami hal yang sama beberapa kali, tiba-tiba kepikiran sesuatu terus malah kejadian. Kami akhirnya menyimpulkan teori jaman kuliah dulu, bahwa ketika kita menginginkan atau memikirkan sesuatu, Semesta akan berkonsipirasi mewujudkannya.
Sayangnya, yang random kepikiran ini kadang nggak selalu tentang hal positif. Kadang biasa aja mempertanyakan sesuatu, tapi yang kejadiannya malah jelek. Huhu!
Belajar dari beberapa kerandoman di tahun lalu, saya ingin mengurangi ke-overthinking-an di tahun ini. Nggak mikir aneh-aneh deh intinya! Termasuk juga dalam menghadapi orang-orang yang 'nggak sesuai harapan'.
Jadi, inilah empat resolusi saya di tahun 2021, selain tentunya beberapa resolusi terkait relationship, parenting, dan karir yang nggak perlu dituliskan di sini hehehe.
Kalau kamu, punya resolusi apa?
Seumur-umur, 2020 kayaknya adalah tahun yang paling 'drama'. Selain situasi hidup yang suka jungkir-balik, kondisi dunia pada umumnya juga berubah drastis akibat adanya pandemi Covid-19.
Di balik semua roller coaster kehidupan, ada beberapa hal yang membuat saya masih sangat bersyukur di tahun ini. Selain diri sendiri, keluarga, dan support system yang sehat lahir batin, berikut ini beberapa hal atau keputusan terbaik yang terjadi di tahun 2020 versi saya.
1. Melahirkan Anak Kedua
Ini adalah peristiwa terbaik pertama yang terjadi di tahun 2020. Dengan kehamilan yang nggak direncanakan dan diprediksi, Alhamdulillah baby kedua ini bisa lahir sesuai prediksi tanggalnya.
Hamil anak kedua, perjalanannya lebih struggle. Sang Kakak yang semakin aktif dan fisik yang rasanya makin renta membuat kehamilan kali ini dijalani dengan lebih legawa.
Anak kedua diperkirakan lahir 8 Maret 2020. Belajar dari pengalaman kelahiran pertama yang maju seminggu dari HPL, saya udah menyiapkan segala peralatan untuk ke RS, termasuk juga sounding ke Sang Kakak dan mewanti-wanti suami untuk nggak dinas ke luar kota.
Hari H HPL, saya masih kuliah. Ujian pula. Saat itu, corona masih belum seheboh sekarang, jadi kuliahnya masih secara langsung. Lumayan sih, mau nggak mau jadi 'olahraga' naik turun tangga tiap dua minggu sekali.
Sebenarnya, saya udah sounding ke baby supaya keluar sesuai HPL aja. Nggak usah di tanggal 12 (teteup hahaha) juga nggak papa. Biar apa? Biar ujiannya take home ajaaa~ ð. Tapi mungkin sang baby justru mau menyemangati saya yang ujian karena dia pun udah 'ikut' kuliahnya dari awal. Jadi, dia memilih melihat dunia satu hari tepat setelah ujian.
Setelah Kinar lahir, dunia saya dan dunia secara keseluruhan serasa berubah. Dunia saya, jelas, ada peran tambahan. Tapi Alhamdulillah bangetnya, Kinar ini baiiiiik sekali. Sangat jarang 'ngajak' ibunya begadang kecuali di sebulan pertama kehidupannya. Terima kasih ya, Sayangku!
Dan di luar sana, virus Covid-19 mulai disikapi serius oleh 'pihak-pihak yang berwenang'. Nggak lama setelah saya bersalin di RS, pemerintah setempat membuat kebijakan bahwa melahirkan di RS harus tes rapid/SWAB dulu dan hanya bisa didampingi satu orang aja plus nggak boleh dijenguk. Mau kontrol kehamilan ke RS pun ada beberapa protokol yang harus diperhatikan. Intinya, lebih ribet.
2. Kuliah Lagi
Keputusan maju mundur ini sebenarnya dibuat di akhir tahun 2019. Waktu itu, sama sekali nggak bakal menyangka akan ada corona yang mengubah segalanya.
Kesempatan kuliah lagi akhirnya diambil karena dari perusahaan mengadakan kelas kerja sama. Jadi, nggak perlu ribet bolak-balik ke luar kota, pikir saya. Plus, jam istirahat masih bisa pulang ke rumah sebentar seperti biasa. Dan untungnya lagi, jam kuliahnya lebih 'manusiawi' dibanding angkatan sebelumnya. Sabtu-Minggu, dua minggu sekali, 08.00 - 17.00 WITA.
Saya juga sempat sharing sama teman di angkatan sebelumnya yang menjalani perkuliahan dengan kondisi baru melahirkan. Asli, salut banget sih sama perjuangannya! Sambil mikir juga apakah saya bisa, ketika dia pernah bercerita, "Waktu itu pas lagi ujian, pernah anak nangis kehausan. Dia ada di musholla (Training Center Badak LNG) sama Mamaku. Jadi, ngebut deh ngerjain ujiannya dan buru-buru menemui mereka."
Namanya kuliah Manajemen, suka nggak suka memang pasti akan ketemu dengan angka. Tapi, saya baru menyadari 'tantangannya' ketika melihat daftar mata kuliah dan silabusnya. Nggak cuma hitung-hitungan akuntansi, banyak juga ternyata yang menggunakan rumus dan simbol yang nggak pernah saya lihat sebelumnya. ð
'Thanks' to corona, sejak pertengahan Maret 2020 alias setelah saya melahirkan, sistem perkuliahan diubah ke online. Memang perlu penyesuaian cara belajar, tapi hikmahnya, perkuliahan ini bisa dilakukan dari rumah. Jadilah terkadang di beberapa perkuliahan, saya belajar sambil mengasuh anak dan ketiduran.
Yang membuat lebih bersyukur, semua tugas dan ujian juga dilakukan secara online jadi masih ada waktu untuk mempelajari materi yang sulit dipahami (dan ini banyak! Ga cuma untuk satu mata kuliah aja ð). Yuk bisa yuk dua semester lagi lulus!
3. Sharing Knowledge
Tahun 2020 juga memberi kesempatan bagi saya untuk lebih banyak berbagi ilmu dan pengalaman. Karena dilakukan secara online, ada satu masa rasanya kerjaan jadi sharing melulu. Tapi seru kok, menambah jaringan sekaligus mengasah percaya diri lagi~.
Jadi, terima kasih 2020! Untuk semua suka duka, pelajaran berharga, dan pengingatnya. Yuk 2021 lebih seru lagi yuk!
![]() | ||||
| Ketika bahas soal-soalnya sama temen seangkatan |
Pernah nggak menjadi panitia suatu acara, pesertanya sebagian besar mahasiswa, dan kamu kebagian menjadi seksi konsumsi yang membagikan snack secara langsung kepada para peserta? Kalau belum, cobain deh.
Suatu hari, saya melihat sebuah fenomena. Bukan sebagai panitia, hanya mengamati situasi yang saya gambarkan tadi. Di sebuah acara, panitia membagikan snack box kepada para peserta yang sebagian besar mahasiswa itu. Entah pesertanya kelaperan belum makan, pusing banyak tugas, abis berantem sama pacarnya atau gimana, SEBAGIAN BESAR dari mereka menerima kotak dengan muka lempeng. Tanpa ucapan "Terima kasih" keluar dari mulutnya.
Nggak usah ditanya gimana perasaannya panitia yang mungkin udah gedabrukan nyiapin acara itu, saya yang liat fenomena ini aja kzl sendiri.
Kenapa sih susah banget mengucapkan terima kasih? Atau sekedar ngasih senyum?
Helloooow..bilang 'terima kasih' itu gampang banget loh! Variasinya juga banyak. 'Makasih', 'thank you', 'tengs', 'suwun', sebutin deh pake bahasa yang dikuasai! Bahkan pakai bahasa nonverbal semacam senyuman juga nggak papa!
Mengucapkan 'terima kasih' adalah pelajaran memberi apresiasi yang paling sederhana, tapi bisa berefek besar. Membuat orang merasa dihargai, memotivasi orang untuk terus melakukan kebaikan, bahkan siapa tau, bisa memperbaiki mood yang sedang kacau. Menerima ucapan 'terima kasih' yang tulus itu bisa menjadi obat pereda lelah, you know :')
Maka..hayuuuk adik adik, kakak kakak, bapak ibu semua... kita biasakan...mengucapkan 'terima kasih' untuk sesederhana apapun hal baik yang kita terima atau lihat. Nggak perlu laah rasanya..buku setumpuk-tumpuk untuk tau gimana cara mengucapkan 'terima kasih' yang tulus. Cukup mulai dari diri sendiri, sering-sering mengapresiasi, dan lama-lama kebiasaan ini akan terbentuk dan (semoga) menular.
Jadi, sudah mengucapkan 'terima kasih' untuk siapa hari ini?
Terima kasih sudah membaca ya ;)
Belum ada genap setahun, saya pernah posting mengenai kesiapan meraih resolusi ketiga. Pada tulisan itu, kesiapannya memang lebih dari segi mental. Ada 14 pertanyaan yang bisa mengindikasikan apakah si penjawab sebenarnya sudah siap menikah atau belum. Dan si penjawab yang sok iye itu dengan pedenya menjawab di blog padahal saat itu belum ada bayangan jelas tentang resolusi ketiganya :)).
Setelah kemantapan hati itu ada, rupanya segala hal menuju terlaksananya acara sakral itu juga perlu disiapkan dengan matang. Nggak sekadar aspek yang besar seperti tempat, dekor, baju (dan seragam), dan katering ternyata, melainkan banyak sekali printilan yang perlu dimatangkan.
Sederhananya, acara sakral ini melibatkan dua pihak. Yang tidak kecil ternyata, besar sekali. Maka, membuatnya pun perlu melihat dari berbagai sisi, termasukn
mempertimbangkan kenyamanan keluarga besar dan tamu yang akan datang.
Berbicara mengenai pernikahan, kata pertama yang terlintas di benak saya saat itu adalah 'rustic'. Klasik, timeless. Natural. Sederhana. Berkesan. Beda. Belakangan setelah browsing sana-sini, ternyata tema rustic sepertinya memang cukup banyak digemari para calon manten. Hehe.
Setelah tema pernikahan rustic disetujui juga oleh Mas LNG, detil terkait tema itu langsung dicari. Pilih, pilih, lucu, suka, harga nggak masuk budget, menjadi tahapan selanjutnya. Memilih segala sesuatu untuk acara sakral ini memang perlu pertimbangan matang karena bagi saya ini akan menjadi acara yang diselenggarakan sekali seumur hidup. Namun harus memilih dengan rasional juga dan melihat 'asas manfaat'nya, mengingat setelah menikah pasti bakal banyak kebutuhan yang perlu dipenuhi.
Referensi utama saya mencari hal-hal terkait tema rustic ini adalah Pinterest dan Instagram. Tinggal masukkan hashtag atau keyword yang dicari, dan voila! Keluarlah beragam referensi yang bikin nggak sabar pengen segera menikah :___)))).
Pinterest lebih diperuntukkan mencari konsep, sedangkan Instagram untuk mencari mereka yang bisa mewujudkannya. Misalnya begini. Saya mencari referensi dekor atau undangan tema rustic di Pinterest, lalu mencari vendor yang kira-kira bisa mewujudkannya. Walaupun hasilnya nggak mirip-mirip banget, ya lumayanlah suka hehe.
Jadi, tujuan tulisan ini apa? :))
Betul, memberi referensi atau rekomendasi vendor yang kemarin berjasa membantu terwujudnya acara sakral itu. Sebagian ditemukan di dunia maya, tapi nggak sedikit juga yang ditemukan di dunia nyata.
Maka, kalau kamu kurang lebih mirip saya, suka sesuatu yang lain daripada yang lain tapi bagus dan unik, menyiapkan acara dari jarak jauh, lokasi acara ada di kota kecil yang belum banyak referensi vendor wedding, semoga tulisan ini bisa cukup membantu :)
1. Bahman
Vendor yang satu ini ada di Sumedang, kota tempat acara dilangsungkan. Konon jasanya udah terkenal bagus dan ternyata keluarga saya beberapa kali bekerja sama untuk acara nikahan sodara dan khitanan.
Sebagai vendor senior yang sudah punya nama, jasa yang disediakan Bahman lengkap. Kemarin saya memakai tenda, dekorasi, katering, make up (pengantin dan keluarga), seragam keluarga dan penerima tamu, plus mobil pengantin.
Tenda, dekor, dan make up untuk saya disiapkan mulai dari acara pengajian. Meski dekor dan make upnya nggak seperti referensi dari Pinterest maupun Instagram, hasilnya cukup memuaskan dan banyak tamu yang suka. Ohya, kateringnya juga enak terutama jus jambunya yang menggunakan buah asli! Sayang saya nggak terlalu sempet mencicipi sebagian besar hidangannya :))
2. Enan Dharsita
Ini bukan vendor sih, lebih tepatnya sosok orang yang memiliki beberapa koneksi vendor pengisi acara. Kang Enan sendiri berprofesi sebagai MC dan jasanya sudah terkenal di kalangan tokoh masyarakat Bogor dan sekitarnya. Meskipun kiprahnya di sana, Kang Enan ternyata sesama wargi Sukatali (desa nenek, tempat acara) dan masih ada hubungan keluarga. Cincaylah untuk book beliau di tengah kepadatan jadwalnya :))).
Selain jasa MC Formal - Sunda mulai dari pengajian sampai resepsi, Kang Enan juga membawa 'tim hore' berupa dokumentasi foto dan video (pake drone!), pengisi acara, dan beberapa orang WO-nya yang memastikan semua acara berjalan tepat waktu.
Btw, kami nggak pakai WO khusus untuk acara sakral ini. Semua rangkaian acara Alhamdulillah dibantu oleh keluarga kedua belah pihak. Pengisi acara yang disiapkan Kang Enan juga termasuk 'prosesi' pengajian, siraman, dan adat Sunda sebelum memulai resepsi. Sesuai idaman :')
3. Aksa Bride
Inilah vendor yang ditemukan di IG berkat keukeuhnya ingin membuat undangan dengan konsep yang unik dan beda. Di antara konsep undangan rustic yang bertebaran, vendor dari Jogya ini bisa membuat undangan yang sekaligus berfungsi sebagai pembatas buku. Desain dan ilustrasinya lucu. Mereka juga cukup kooperatif melayani permintaan (baca: revisian) dari saya dan Mas LNG sebelum akhirnya undangan siap cetak dan disebarkan. Maklum, di sini terbiasa dengan urusan cetak mencetak, jadi segala tahapan prosesnya mulai dari konsep awal, desain, draft, sampai dummy perlu dicek quality controlnya supaya hasil akhirnya sesuai harapan.
4. Amethyst
Ini vendor untuk menyewa baju pengantin di Sumedang. Perihal baju pengantin ini awalnya sempat ada beberapa wacana, di antaranya cukup mengenakan satu baju sepanjang acara dan ingin jahit sendiri.
Sebelum menemukan butik mini ini, saya sebenarnya sangat tertarik dengan salah satu baju kebaya-modern-muslim-Sunda hasil berburu di IG. Nggak paham detil bahan dan printilannya, yang jelas model dan tampilan kebaya itu terlihat elegan. Saat mengontak penjahitnya, ternyata kebaya itu bukan disewa, melainkan dibuat khusus untuk kliennya. Saya juga disarankan untuk kontak langsung ke kliennya aja kalo berminat tapi gengsi lah ya. Dan takut ga muat sih hehehe.
Penemuan butik Amethyst ini berkat rekomensasi teteh make up-nya Bahman. Pada kunjungan pertama, di butik terpajang satu set kebaya modern dengam model yang cantik dan warna yang sesuai tema. Langsung deh jatuh hati dan memutuskan untuk menyewanya dengan sedikit perombakan ukuran! Untungnya saat fitting sekali-kalinya, baju pengantin prianya pas sekali di Mas LNG sehingga nggak perlu ada yang diubah. Kalo udah jodoh mah gitu ya :')
5. Dedy Pangjaitan
Sepertinya ini tukang jahit terbaik dan terefisien yang pernah saya temukan. Terletak di seberang jalan desa, Dedy Pangjaitan dipercayakan menjahit kebaya akad saya plus baju-baju Ibu dan para Ua. Mau tahu ongkos jahitnya berapa?
10%nya biaya semesteran jaman kuliah, Sodara-sodara! Murah kan? :____))) Tapi jangan salah, hasilnya nggak kalah rapi dan cantik seperti karya penjahit yang mematok harga lebih mahal.
6. Alifa Craft
Sesuai namanya, vendor hasil nemu di IG ini menyediakan beragam pilihan souvenir jadi. Pada awalnya souvenir mau yang agak rustic sih.. tapi mengingat fungsi juga penting, maka pilihan jatuh pada kipas bali warna-warni. Sebenarnya kalau search di IG, banyak vendor yang menyediakan souvenir serupa. Bedanya, Alifa Craft ini menawarkan harga yang bersahabat plus bebas ongkir untuk pengiriman ke seluruh area di Jawa! (saat itu sih..nggak tau ya kalau kebijakannya sudah berubah)
7. Tote Souve
Souvenir rustic ala-ala akhirnya bisa terwujud di acara unduh mantu di Kediri. Gelas enamel diameter 6 cm warna putih dengan desain yang bisa custom. Vendor ini dipilih karena saat itu, di tengah pencarian dadakan dan kelangkaan barangnya, hanya dia yang bisa menjamin ketersediaan gelas enamel warna putih polos. Mas LNG dan saya memang keukeuh ingin gelas enamel yang putih polos supaya kalau diberi desain custom kesannya lebih elegan dan bersih hehe.
Sebenarnya masih banyak lagi printilan dalam menyiapkan acara pernikahan dan rekomendasi vendor. Supaya nggak ribet sendiri, cobalah buat check list kebutuhannya sehingga nggak ada yang kelupaan di hari-hari terakhir. Pastikan juga segala pilihan sesuai budget dan tetap berkualitas. Jangan terlalu memaksakan, karena perjalanan ke depan masih memerlukan bekal jangka panjang. Belajar dari pengalaman saya, cobalah juga melihat potensi daerahnya dulu dalam mencari vendor-vendor pernikahan. Walau di kota kecil, ternyata ada kok para penyedia jasa yang bisa membantu kita mewujudkan pernikahan impian.
Jadi, udah beneran siap? Good luck! ;)
![]() |
| Source: Pinterest |
"Kok bisaaaa? Gimana ceritanyaaaa?"
Inilah reaksi umum yang saya dapat ketika baru-baru ini membagikan undangan pernikahan untuk teman-teman dekat. Dibilang 'mendadak nikah' sebenarnya nggak juga sih, karena persiapannya cukup lama dan memang sayanya aja yang nggak banyak berbagi cerita. Hehe.
Saya lupa kapan pertama kali tepatnya 'mulai memerhatikan' Mas LNG ini. Mungkin setelah nemu akun instagramnya yang mem-posting acara seminar di kantor yang saya selenggarakan. Bukan kepo ya, nemu berdasarkan hashtag! #exanakahensi :p Postingannya menarik perhatian karena di antara minimnya pekerja yang hadir waktu itu, ternyata masih ada orang yang bisa mengapresiasi materi yang dibawakan narasumbernya. Lumayanlah, mengurangi rasa capek karena nyiapin acaranya.
Atau mungkin juga setelah mendengar cerita tentangnya dari teman kantornya. Luar biasa sekali mendengar teman kantornya ini mengapresiasi dia. Selain kagum, saat mendengar cerita itu saya justru sempat menyimpulkan, "Orang sehebat ini mah pasti udah ada yang punya...Pendampingnya juga pasti nggak kalah luar biasa.. ." . Untungnya (?) teman kantornya langsung mengklarifikasi, "Kayaknya belum deh, nggak tau tuh.."
Beberapa bulan kemudian, pikiran random tadi seolah ditunjukkan jalan untuk menemukan jawabannya. Saya berkesempatan bekerja sama dengan Mas LNG untuk sebuah project.
Kesan pertama setelah ketemu sosok aslinya? Orangnya asik, bisa diajak kerja sama. Berbeda dengan orang-orang technical pada umumnya yang cenderung serius, dia justru tergolong yang rame.
Udah, segitu aja. Lha wong ketemunya juga sebentar banget.
Selanjutnya, semua berjalan mengalir. Muncullah kesan kedua, ketiga, dan seterusnya sampai akhirnya berani mengatakan "Siap."
Tentu memutuskan kesiapan ini nggak serta merta, melainkan dengan usaha juga dan berdoa.
Pada akhirnya, saya bisa menjawab pertanyaan diri sendiri yang ini. Bahkan jawabannya seolah diberikan nggak lama setelah posting tulisan itu. Waktu nulis juga udah sambil agak geer sih, siapa tau calon jodoh saya membacanya. Geer sama pede beda tipis memang :')
Jadi buat teman-teman yang masih mencari, cobalah lihat di sekelilingnya lagi. Siapa tau sosok itu juga sudah ada di sana, sedang memantaskan diri. Sambil menunggu, marilah terus menyiapkan hati. Meminta diberikan yang terbaik menurut Yang Maha Kuasa. Dan jika kita dirasa sudah siap, percayalah, sosok yang terbaik itu akan datang tepat pada waktunya.
![]() |
| Source: Pinterest |
I had a dream the other night..
..Pada salah satu acara Perusahaan yang namanya kurang lebih "Malam Apresiasi Pekerja Kategori I".
Waktu itu saya masih tergolong anak baru. Kebetulan departemen saya sering diminta supportnya untuk event, jadi walaupun acara itu di bawah koordinator departmen HRD, saya hadir. Untuk memastikan tim publikasi dan dokumentasi ada di tempat dan siap mengabadikan semua momen.
Sebagai pekerja yang masih minim pengalaman, kemampuan menghafal orang, apalagi prestasi, malam itu saya kebanyakan celingak-celinguk di meja belakang. Menanti cemilan disajikan. Atau menunggu diajak ngobrol orang.
Saya semeja dengan para ibu. Lupa, ada karyawatinya nggak ya. Yang jelas, sebagian besar adalah istri pekerja (dan pastinya saya juga belum banyak kenal bapak-bapaknya :__))) ). Saya juga belum terlalu memahami esensi acara itu sampai datanglah seorang ibu, saya tahu dia karyawati, duduk bergabung di meja saya.
"Selamat yaaa!" kata (sebut saja) Ibu Ceria yang menyambut ibu karyawati tadi.
"Makasih," jawab ibu karyawatinya singkat, tapi sumringah.
Mereka dan beberapa ibu lainnya kemudian terlibat obrolan. Dari mendengarkan, akhirnya saya tau kalau suaminya ibu ini, yang juga salah satu pekerja, dinobatkan menjadi salah satu pekerja terbaik dari Perusahaan berkat inovasi-inovasinya.
Satu quote kemudian terlintas: di balik laki-laki hebat/sukses, pasti ada perempuan hebat yang selalu mendukung dan mendoakannya.
Dan saya salut sama ibu karyawati tadi. Di tengah tanggung jawabnya sebagai seorang pekerja juga, dia nggak melupakan tugas utamanya sebagai seorang istri dan ibu rumah tangga sejati. Mendampingi sang suami.
Maka...pikiran random pun terlintas di tengah senyum sambil mendengarkan cerita ibu karyawati..
Seandainya..
Seandainya orang yang saya dampingi nanti adalah sesama pekerja juga...
Semogaaa suatu saat saya bisa 'mengantarkannya' menjadi salah satu sosok yang terbaik itu.
Amin.
Kenapa bukan mendoakan supaya diri sendiri yang kelak bisa maju ke panggung? Karena saya lebih bahagia kalau melihat orang yang saya dampingi kelak berbahagia :).
Doa selintas itu terucap tanpa ada bayangan siapa orang yang akan saya dampingi. Masih baaaaanyak sekali kemungkinan yang bisa terjadi. Tapi, nggak ada salahnya sedikit berharap kan? Hehe.
Sampai suatu hari, sosok itu memasuki kehidupan saya. Mewarnai, bahkan. Saya bukan Manajemen ataupun atasannya yang berhak menentukan dia menjadi yang terbaik atau bukan secara profesional, tapi dengan menjalani hari-hari bersamanya, saya tau dia layak mendapat predikat itu.
Dari cerita orang-orang tentangnya, hampir sebagian besar mengapresiasi ketulusan hatinya dalam setiap melakukan tindakan. Dari pertama kali melihat casing HPnya yang ternyata ada logo Perusahaan, terlihat betapa besar nasionalisme dan dedikasinya. Sebagai orang humas, saya terharu melihat inisiatifnya memasang logo di casing HP. Saya aja nggak kepikiran! :)) Dan dari inisialnya yang kebetulan sama dengan produknya Perusahaan, saya tau dia 'istimewa'.
Dan malam ini, mimpi selintas saya tahun lalu terwujud. Dengan skenario tidak persis seperti yang saya bayangkan, tetapi lebih seru dibandingkan yang saya harapkan. Belum resmi mendampingi, tetapi melihatnya malam ini sudah bisa membuat ikut berseri-seri. Apalagi ketika dia dan beberapa pekerja terbaik lainnya diminta menyanyikan 'lagu kebangsaan' kami. Duh, Gusti! :""")))
Sekali lagi, selamat Mas LNG! Mari terus bermimpi dan bersama mewujudkannya. Terima kasih sudah mau didampingi dan siap mendampingi. Semoga kita bisa bersama meraih kebahagiaan yang hakiki.
| In frame: Kepala Dinas Pariwisata Kaltim bersama rombongan wartawan berkunjung ke Knowledge House Badak LNG |
Halo!
Sudah siap meninggalkan tahun 2016? Sudah berapa banyak pencapaian yang diraih sepanjang tahun ini?
Rasanya, baru beberapa bulan lalu saya menulis review kehidupan di tahun 2015. Tahun terjadinya transformasi besar dalam hidup. Tahun yang menjadi titik awal untuk belajar lagi tentang banyak hal.
Hari ini, mendekati akhir tahun 2016. Sudah bisa dibilang berakhir bahkan, karena kalender 2017 sudah dibagikan :p #baladaanakmedia.
Dari segi penulisan dan posting-posting di socmed, sepertinya frekuensi update saya mengalami penurunan di tahun ini. Nggak terlalu penting juga sih, toh posting-posting itupun murni untuk berbagi aja hehe. Di sisi lain, tulisan (atau curhatan) di berbagai socmed itu sebenarnya bisa menjadi informasi untuk flashback kejadian yang sudah dialami selama satu tahun terakhir.
Kenapa perlu flashback? Kalau menurut saya, review ini diperlukan sebagai acuan untuk menjalani tahun-tahun berikutnya. Dengan adanya review, kita bisa tau kelebihan, kekurangan, pencapaian, penyebab baperan, atau hal lain yang pernah terjadi dalam hidup. Ada yang perlu diperbaiki dan ditingkatkan, ada juga yang cukup dipertahankan.
Tahun 2016 ini adalah tahunnya transisi. Persiapan memasuki perubahan. Di perusahaan tempat bekerja, maupun di kehidupan personal saya.
Jadi, seperti apa 2016 versi saya ini?
1. Ups
Masa-masa awal 2016 diisi dengan printilan pindah rumah. Nyicil mengangkut barang, menata di rumah baru, sekaligus beradaptasi lagi menjadi 'anak rumahan rasa kosan'. Meski jaraknya sedikit jauh dari kantor (secara dulu di apate cuma nyebrang aja kalau mau ngantor), kepindahan ini membawa hikmah tersendiri bagi saya: jadi bisa dan mau naik motor sendiri.
Yang juga menjadi highlite tahun ini adalah banyaknya undangan pernikahan. Mm semakin meningkat dibanding tahun-tahun sebelumnya lah. Mulai dari teman-teman kuliah, teman seperjuangan di Bontang, termasuk salah satu sahabat dekat saya. Rasanya seperti Semesta berkonspirasi sekali :'')
Tapi, dari kalangan keluarga justru nggak ada pernikahan sama sekali tahun ini. Hiduuuupp~~
Masalah pernikahan ini sempat diperhatikan superior saya ternyata. Penyebabnya, beberapa kali saya minta ijin pulang untuk menghadiri undangan pernikahan. Tiga kali sih seingat saya, untuk salah satu sahabat dekat saya dan dua ciwi PEP yang kebetulan waktunya berdekatan.
"Kamu ke nikahan orang terus, kapan nyiapin untuk nikahan sendirinya?"
Untungnya, seperti kepindahan rumah tadi, banyaknya undangan nikah ini juga membawa hikmah yang mengesankan tahun ini, berkesempatan travelling ke beberapa tempat yang belum pernah dijelajahi. Padang, Bukittinggi, Surabaya, Malang, Tulung Agung, Kediri... (yang terakhir itu masih 'numpang lewat' :p)
Dari segi resolusi kedua, tahun 2016 nggak terlalu banyak meninggalkan kesan berarti. Kecuali bahwa tahun ini kadang menuntut kesabaran super ekstra. Ada beberapa hal yang ingin dicoba tahun ini dan kadang sukses. Misalnya, memberanikan diri mengikuti Merdeka Sailing Race dan akhirnya meraih juara kedua. Atau, mencoba dive course tapi akhirnya nggak jadi karena berenang biasa pun nggak kuat :p
2. Downs
Yang masih diingat dari tahun ini adalah kepergian salah satu ua yang paling disayang. Begitu mendadak, bahkan bisa dibilang singkat. Beliau pergi dalam suasana Idul Fitri. Suasana yang seharusnya dijalani suka cita. Tahun ini, saya justru merasa benar-benar kehilangan euforianya. Udah mah kerja full selama dua hari tanggal merah itu, sedikit banget kesempatan buat ngobrol lama sama keluarga, ada kabar duka.. :(
Tahun ini, satu ujian juga menimpa keluarga. Berat juga memang waktu menjalaninya, tapi pada akhirnya semua harus disyukuri karena pasti ada hikmahnya.
3. Resolusi Ketiga
Pada bulan-bulan akhir tahun 2016, jalan menuju resolusi ketiga mulai terlihat. Secara tiba-tiba, sederhana, dan nyata.
"Sudah ada yang ngatur itu.."
Jalan ini membuat saya semakin percaya, kesabaran pasti akan berbuah manis. Semoga selalu dijaga ya :')
Apapun yang sudah terjadi, tahun 2016 memberikan cukup banyak pelajaran berharga. Tentang saya pribadi, sebagai seorang anak, teman, pekerja, atau predikat lainnya. Terima kasih kepada semua yang telah mengisi tahun 2016 saya. Yang telah memberikan warna walau kadang tanpa diminta.
Selamat menyambut tahun 2017. Semoga bisa mengisinya dengan lebih baik, bermanfaat, dan berkesan :)
![]() |
| Selamat pagi, Bukittinggi! :') |
![]() |
| Foto dulu biar nggak sedih karena jalannya memutar padahal ternyata bisa tembus langsung dari belakang hotel :)) |
![]() |
| Bahkan Uda-nya yang lebih semangat mengarahkan kami berpose di tempat yang punya background kece dan nggak backlight :p |
![]() |
| Ini pintu masuknya |
![]() |
| Inilah peta rencana pembangunan guanya. Beberapa bagian nggak bisa dimasuki / dilihat. |
![]() |
| "Kalau mau foto-foto di dalam, ada aturannya." "Apa?" "Harus senyum." " :___)))" |
![]() |
| Jangan takut gelap :) |
![]() |
| Bahkan udah ada EEAA! :)) |
![]() |
| Yang jelas bukan sidang usmas / skripsi.. |
![]() |
| Dapur yang nggak berfungsi sebagai 'dapur' pada umumnya :( |
![]() |
| Ada kalanya kita bertemu persimpangan dan harus memilih.. |
![]() |
| "Kita foto di depan toko oleh-oleh aja. Eh tapi kok jadi kayak di depan minimarket biasa? :))" |
![]() |
| Hujan di Hang Nadim :') |
![]() |
| Pemandangan dari udara sepanjang Batam - Padang aja udah membuat nggak jadi tidur |
![]() |
| Source: Trip Advisor |
![]() |
| Source: Booking.com |
![]() |
| Porsi mini .__. |
![]() |
| FYI, mungkin sisi ini adalah yang terbaik untuk memotret dengan latar belakang jamnya |