Showing posts with label Life. Show all posts
Showing posts with label Life. Show all posts

Tuesday, March 29, 2022

2021 in Review

Setengah tahun vakum nge-blog, sekarang tiba-tiba membuat year in review aja! Hehehe.

Sebelum menulis ini, saya sempat flashback membaca tulisan serupa di tahun 2020. Setelah banyak drama, Alhamdulillah di 2021 kehidupan lebih membaik dan cerah ceria walau terkadang ada sandungannya juga.

Dan, inilah perjalanan 2021 versi saya.

1. 'Inovasi' Ala-ala
Tahun 2021 masih diwarnai dengan virus Covid-19 yang trendingnya naik turun. Biasanya sih, kalau dekat musim liburan terus naik. Tapi, thanks to corona lagi, di tahun ini saya punya kesempatan membuat beberapa project sederhana yang berkaitan sama pekerjaan.

Project pertama adalah 'Jastip Tojas'. Sesuai namanya, project ini memungkinkan warga komplek untuk nitip belanja di minimarket kesayangan kami semua. Jastip Tojas lahir dari situasi pandemi yang saat itu mengharuskan banyak orang isoman (isolasi mandiri) atau karaman (karantina mandiri) dan nggak bisa berbelanja kebutuhannya. Plus, komplek dalam keadaan 'keterbatasan akses' sehingga kurir dari luar nggak bisa masuk dengan leluasa.

Sebagai orang yang nggak mau ribet, project ini nggak melibatkan banyak orang. Awalnya hanya ada 1 orang sebagai admin dan yang merekap pembayaran, dan 2 orang sebagai kurir. Mereka semua anak magang. Setelah dedek dedek itu selesai masa magangnya (tapi pandeminya ga selesai-selesai), saya diminta tetap melanjutkan project ini. Akhirnya saya mengajak satu mitra kerja yang bisa diajak kerja sama. Dia berperan sebagai kurir (termasuk angkat-angkat galon ke rumah :)) ) dan saya menjalankan sisanya.
 
Project ini pernah saya presentasikan di tugas akhir mata kuliah Business Leadership. Mungkin, project sederhana yang berdampak cukup luar biasa ini jugalah yang membantu saya mendapatkan predikat 'Best Achievement' di mata kuliah tersebut. 

Project kedua, Sedekah Sampah. Targetnya masih di dalam komplek dan latar belakangnya juga masih terkait kerjaan. Dari project kedua ini, lahirlah mini project lainnya yang ternyata seru juga dan akan saya ceritakan di lain kesempatan: RT Darling! Challenge dan Declutter Yuk! Bontang.

RT Darling! Challenge


2. Skills Level: Up!
Sejujurnya, di tahun 2021 saya sempat merasa stuck. Mungkin lelah dengan kondisi pandemi juga ya. Semacam, mau marah tapi ngutruk ke siapa. Bosan juga dengan beberapa hal karena setiap tahun harus menghadapi sesuatu yang sama.

Di tengah kejenuhan dengan segala penyebabnya, saya tersadar tahun ini harus bangkit. Harus meningkatkan kompetensi diri meski nggak ada yang men-sponsori. 

Jadi, di tahun 2021 akhirnya saya bisa mengikuti Sertifikasi Strategic PR dari salah satu lembaga sertifikasi yang sudah memiliki lisensi BNSP. Mumpung masih pandemi, bisa sertifikasi sambil duduk manis di Bontang ya kaaan~
 
Pilihan kompetensi untuk sertifikasi


Selain itu, saya juga sempat ikut kursus gratis dari Google tentang Digital Marketing. Ini ada e-certificatenya juga btw, tapi saya masih belum lolos passing grade hahaha. Buat yang mau belajar digital marketing dari basic, bagus loh itu materinya. Belajar teori dan sambil dikasih kuis di akhir setiap materi.

Masih banyak lagi webinar, seminar, apapun lah metode pembelajaran online yang saya ikuti sepanjang 2021. Sebagian besarnya memang masih terkait dengan CSR sih, tapi alhamdulillah banyak berkahnya. 

Oh iya, sepanjang 2021 ini, saya juga dipercaya mengisi in house training tentang public speaking dan menjadi narasumber public training perusahaan untuk topik CSR & PROPER. Buat saya, kedua kesempatan ini juga sekaligus mengasah skill saya di bidang lain: public speaking.

3. Cvd Attacked!
Yhaaa sebagaimana jutaan manusia lain, akhirnya si virus rese ini menyerang saya. Kayaknya ini pas gelombang kedua ya, tapi saya kena pas trennya mulai turun. Jadi, alhamdulillah dapat kamar karantina di apate. 

Saya memilih karantina di apate karena (alhamdulillahnya lagi) anak yang besar dan salah satu ART dinyatakan negatif PCR. Sisanya, positif ðŸĪŠ. Ke-positif-an saya ini juga menjadi pemecah rekor karena di departemen saya akhirnya ada yang kena hahaha. Jangan tanya dapet dari mana, saya juga nggak tau. Malah awalnya denial ngerasa ngedrop karena emang lagi PMS pun.

Kesempatan 'staycation' selama hampir tiga minggu ini cukup berpengaruh pada beberapa hal dalam hidup saya. Jadi ingat untuk lebih bersyukur lagi pastinya. Bersyukur masih diberi kekuatan dan pertolongan dari banyak pihak untuk menjalani masa perawatan.

4. Pindah
Menjelang akhir 2021, saya dan suami memutuskan untuk pindah ke rumah dinas yang baru. Dengan ukuran yang lebih luas, kami berharap anak-anak bisa lebih mengeksplor lingkungan sekitarnya.

Sebenarnya, kesempatan untuk pindah sudah ada sekitar 2 atau 3 kali. Yang sebelum-sebelumnya, nggak mau pindah karena belum siap aja. Terutama bagi saya secara mental. Selain hoream riweuh pindahan, rumah lama itu adalah saksi saya bertumbuh di Bontang. Mulai dari masa-masa sendiri, sampai sekarang punya bernyit dua :').

Rupanya, Semesta mendukung keputusan pindah rumah saya ini. Saking mendukungnya, kerjaan saya pun (di)pindah ke bagian yang mengurusi fasilitas di perumahan dinas pekerja :__))).

A whole new world, banget. Saya, yang selama ini takut kalau mendapat posisi di luar kemampuan, seperti dipaksa keluar dari zona nyaman. Ya yang sebelumnya ini nggak nyaman banget gimana juga sih pada awalnya, tapi seenggaknya transisinya smooth lah hahaha.

Yang ini, bener-bener jauh. Secara latar belakang akademis, nonakademis, maupun tanggung jawabnya. Gimana coba, saya yang backgroundnya komunikasi terus harus menilai apakah rumah yang sudah diperbaiki itu dicatnya benar-benar dua kali atau sekali aja? Yang sebelumnya lagi semangat menyelami dunia PR (Public Relations), tiba-tiba dihadapkan sama aneka tools dan material yang saya pun nggak paham fungsi dan bedanya :)))). Biasa diminta me-review tulisan atau video, sekarang diminta memutuskan apakah alat elektronik yang rusak perlu diperbaiki atau diganti aja.
 
Biasa ngecek EYDnya tulisan udah bener atau belum, sekarang ngecek tanaman yang ditanam udah tumbuh segimana :')


Pada akhirnya, kepindahan ini terutama yang di kerjaan, disikapi dengan santai dan tetap berusaha memberikan yang terbaik. Ada kerjaan yang nggak bisa bener? Yaudah, coba lagi. Ada subordinate yang susah diatur? Yaudah coba ingetin. Sekali, dua kali nggak mempan, bye!
 

Itulah catatan perjalanan di 2021. Lebih rame dibandingkan tahun sebelumnya yang monoton banget dan lebih menantang. Terima kasih untuk semua support dan relasi yang baik selama tahun lalu! Semoga 2022 bisa lebih banyak menciptakan kebaikan dan kenangan indah 😊.


Thursday, January 7, 2021

Apa Resolusinya?

 "Apa resolusinya?" tanya Superior saya ujug-ujug. Nggak jelas ditujukan ke siapa, jadi kami semua yang ada di ruangan itu malah saling berpandangan.

"2021, apa resolusinya? Biasanya kan bikin resolusi gitu ya.."

Sejujurnya, saya lupa kapan terakhir membuat resolusi secara 'resmi' alias ditulis begini. Sepertinya untuk menyambut tahun lalu nggak ada resolusi khusus. Jadinya acakadul deh.

Belajar dari tahun lalu, saya ingin mengembalikan kebiasaan-kebiasaan baik yang mungkin sempat hilang. Termasuk menulis resolusi. Kenapa sih harus ditulis? Supaya ingat. Dan lebih memotivasi untuk bisa mencapainya. Walau dalam beberapa kasus, resolusi selintas yang justru terkabul :').

Jadi, untuk tahun 2021, inilah beberapa resolusi saya...

1. Menerapkan Gaya Hidup Sehat

Alias lebih banyak 'gerak' (bukan olahraga ya hahaha) dan mengurangi goreng-gorengan. Terutama kalo di kantor. Huhuhu monmaap ya gaes kalo saya akan sering absen melipir ke tempat gorengan nanti. 

Tapi kalo ada menu #KantinCorcomm yang lain yhaaa... diliat dulu menunya apa 🙈

2. Kembali Menulis

Menulis blog, menulis freelance, menulis di socmed, apapun deh. Ibarat olahragawan yang jarang gerak, ini jari udah mulai kaku kalo nggak diasah lagi. 

3. Baca yang Berfaedah

Termasuk buku yang nggak melulu fiksi. Dari pertengahan tahun sebenarnya udah mulai membiasakan lagi baca satu buku nonfiksi. Biasanya tema parenting atau pengembangan diri. Tapi, durasi antara menyelesaikan novel fiksi vs buku nonfiksi beda jauh yaa ternyata 😂

4. Mengurangi Overthinking

Suatu hari, saya pernah cerita sama salah satu sohib, kenapa pikiran random saya sering kejadian. Ternyata, teman saya ini juga mengalami hal yang sama beberapa kali, tiba-tiba kepikiran sesuatu terus malah kejadian. Kami akhirnya menyimpulkan teori jaman kuliah dulu, bahwa ketika kita menginginkan atau memikirkan sesuatu, Semesta akan berkonsipirasi mewujudkannya. 

Sayangnya, yang random kepikiran ini kadang nggak selalu tentang hal positif. Kadang biasa aja mempertanyakan sesuatu, tapi yang kejadiannya malah jelek. Huhu!

Belajar dari beberapa kerandoman di tahun lalu, saya ingin mengurangi ke-overthinking-an di tahun ini. Nggak mikir aneh-aneh deh intinya! Termasuk juga dalam menghadapi orang-orang yang 'nggak sesuai harapan'. 

Jadi, inilah empat resolusi saya di tahun 2021, selain tentunya beberapa resolusi terkait relationship, parenting, dan karir yang nggak perlu dituliskan di sini hehehe. 

Kalau kamu, punya resolusi apa?

Resolusi 2021

Photo: Unsplash





This entry was posted in

Thursday, December 31, 2020

2020 in Review

Seumur-umur, 2020 kayaknya adalah tahun yang paling 'drama'. Selain situasi hidup yang suka jungkir-balik, kondisi dunia pada umumnya juga berubah drastis akibat adanya pandemi Covid-19. 

Di balik semua roller coaster kehidupan, ada beberapa hal yang membuat saya masih sangat bersyukur di tahun ini. Selain diri sendiri, keluarga, dan support system yang sehat lahir batin, berikut ini beberapa hal atau keputusan terbaik yang terjadi di tahun 2020 versi saya.

1. Melahirkan Anak Kedua

Ini adalah peristiwa terbaik pertama yang terjadi di tahun 2020. Dengan kehamilan yang nggak direncanakan dan diprediksi, Alhamdulillah baby kedua ini bisa lahir sesuai prediksi tanggalnya.

Hamil anak kedua, perjalanannya lebih struggle. Sang Kakak yang semakin aktif dan fisik yang rasanya makin renta membuat kehamilan kali ini dijalani dengan lebih legawa. 

Anak kedua diperkirakan lahir 8 Maret 2020. Belajar dari pengalaman kelahiran pertama yang maju seminggu dari HPL, saya udah menyiapkan segala peralatan untuk ke RS, termasuk juga sounding ke Sang Kakak dan mewanti-wanti suami untuk nggak dinas ke luar kota. 

Hari H HPL, saya masih kuliah. Ujian pula. Saat itu, corona masih belum seheboh sekarang, jadi kuliahnya masih secara langsung. Lumayan sih, mau nggak mau jadi 'olahraga' naik turun tangga tiap dua minggu sekali. 

Sebenarnya, saya udah sounding ke baby supaya keluar sesuai HPL aja. Nggak usah di tanggal 12 (teteup hahaha) juga nggak papa. Biar apa? Biar ujiannya take home ajaaa~ 😂. Tapi mungkin sang baby justru mau menyemangati saya yang ujian karena dia pun udah 'ikut' kuliahnya dari awal. Jadi, dia memilih melihat dunia satu hari tepat setelah ujian.

Setelah Kinar lahir, dunia saya dan dunia secara keseluruhan serasa berubah. Dunia saya, jelas, ada peran tambahan. Tapi Alhamdulillah bangetnya, Kinar ini baiiiiik sekali. Sangat jarang 'ngajak' ibunya begadang kecuali di sebulan pertama kehidupannya. Terima kasih ya, Sayangku!



Dan di luar sana, virus Covid-19 mulai disikapi serius oleh 'pihak-pihak yang berwenang'. Nggak lama setelah saya bersalin di RS, pemerintah setempat membuat kebijakan bahwa melahirkan di RS harus tes rapid/SWAB dulu dan hanya bisa didampingi satu orang aja plus nggak boleh dijenguk. Mau kontrol kehamilan ke RS pun ada beberapa protokol yang harus diperhatikan. Intinya, lebih ribet. 

2. Kuliah Lagi

Keputusan maju mundur ini sebenarnya dibuat di akhir tahun 2019. Waktu itu, sama sekali nggak bakal menyangka akan ada corona yang mengubah segalanya.

Kesempatan kuliah lagi akhirnya diambil karena dari perusahaan mengadakan kelas kerja sama. Jadi, nggak perlu ribet bolak-balik ke luar kota, pikir saya. Plus, jam istirahat masih bisa pulang ke rumah sebentar seperti biasa. Dan untungnya lagi, jam kuliahnya lebih 'manusiawi' dibanding angkatan sebelumnya. Sabtu-Minggu, dua minggu sekali, 08.00 - 17.00 WITA.

Saya juga sempat sharing sama teman di angkatan sebelumnya yang menjalani perkuliahan dengan kondisi baru melahirkan. Asli, salut banget sih sama perjuangannya! Sambil mikir juga apakah saya bisa, ketika dia pernah bercerita, "Waktu itu pas lagi ujian, pernah anak nangis kehausan. Dia ada di musholla (Training Center Badak LNG) sama Mamaku. Jadi, ngebut deh ngerjain ujiannya dan buru-buru menemui mereka."

Namanya kuliah Manajemen, suka nggak suka memang pasti akan ketemu dengan angka. Tapi, saya baru menyadari 'tantangannya' ketika melihat daftar mata kuliah dan silabusnya. Nggak cuma hitung-hitungan akuntansi, banyak juga ternyata yang menggunakan rumus dan simbol yang nggak pernah saya lihat sebelumnya. 😭 

'Thanks' to corona, sejak pertengahan Maret 2020 alias setelah saya melahirkan, sistem perkuliahan diubah ke online. Memang perlu penyesuaian cara belajar, tapi hikmahnya, perkuliahan ini bisa dilakukan dari rumah. Jadilah terkadang di beberapa perkuliahan, saya belajar sambil mengasuh anak dan ketiduran. 

Yang membuat lebih bersyukur, semua tugas dan ujian juga dilakukan secara online jadi masih ada waktu untuk mempelajari materi yang sulit dipahami (dan ini banyak! Ga cuma untuk satu mata kuliah aja 😂). Yuk bisa yuk dua semester lagi lulus!

3. Sharing Knowledge

Tahun 2020 juga memberi kesempatan bagi saya untuk lebih banyak berbagi ilmu dan pengalaman. Karena dilakukan secara online, ada satu masa rasanya kerjaan jadi sharing melulu. Tapi seru kok, menambah jaringan sekaligus mengasah percaya diri lagi~.

Jadi, terima kasih 2020! Untuk semua suka duka, pelajaran berharga, dan pengingatnya. Yuk 2021 lebih seru lagi yuk!


All illustration photos taken from Unsplash



Sunday, June 28, 2020

My Ikigai

Last month, I bought "Ikigai: The Japanese Secret to A Long and Happy Life" book, written by Hector Gracia and Francesc Miralles. I still not finish to read that, but today in People in Organization class, mention about this concept.

Based on the diagram that presented in the class, Ikigai is "the reason for our being". This concept combine the answers of what are we good at, what we love, what the world needs, and what we can paid for.

For me, find my Ikigai is challenging. Sometimes I know what makes me happy, and sometimes I don't know. But, I will try to find my Ikigai by answer the slice one by one.



The first slice is what I good at and what I love. Since elementary school, i love writing so much. Write personal diary, poem, short story, and this capability is growing when I was in Communication Faculty with major in Journalism. I can say i am good at writing because I had won some writing competition. So, for the 'passion' slice, the answer is writing.

Next slice is about what we love and what the world needs. I found what I love, and I think the world needs 'high quality news'. High quality here means the news is written based on "9 Elements of Journalism". So, my 'mission' is make a better world with my written that applied "9 Elements of Journalism" principle.

To answer the questions of what the world needs and what we can paid for, I can say it is by being a journalist. I had try this when I was in college but i think I can not sustain as a journalist. The risks are too high, not worth with the money income.

On the fourth slice, 'profession', this is the answer for question what we can paid of and what we good at. Basically, I am good at writing. Not only write news, but also articles, fiction, and caption for social media. So, I am happy when I was accepted as Media Relation Officer in Badak LNG because I can show off my capability and get good salary from it.

Although i found that my Ikigai is writing, I believe that I still can improved that. Some area that I need to improve is write in English, SEO, monetize my personal blog, and write a book (fiction/nonfiction).

To growth my writing skill, I try to read articles that written in English. I also often read articles about SEO and google ads. In Facebook, I joined writing group named "Komunitas Bisa Menulis" to see what topics that can attract readers nowadays. From that group, one of the member ever asked me whether it is possible to write novel together.

I am grateful that my circle support me to keep my Ikigai and achieve more from that. If you ever read my writing, I also open for critics and suggestions to make my writing skill better. 

This entry was posted in

Wednesday, November 13, 2019

Seru-seruan Ikut Ujian

"Udah lama nggak ujian ya, Mba?"
"Kalo ujian kehidupan sih sering, ujian tertulis yang jarang :')"


Beberapa hari lalu, saya memutuskan ikut tes seleksi S2 SBM ITB. Nawaitunya enggak sengotot waktu mencari tempat kuliah atau kerja di perusahaan idaman dulu. Murni lebih ke coba-coba. Dan sedikit termotivasi dari beberapa dedek di kantor yang ternyata berencana melanjutkan kuliah mereka melalui kelas online.

Sejujurnya, karena penasaran aja sih apakah saya masih mampu (dan kuat) mengerjakan soal-soal seperti itu :))

Berangkat dari nawaitu tadi, saya nyaris nggak melakukan persiapan apapun. Selain beli pensil 2B dan ngecek lagi info waktu dan lokasi tes. Malah hampir kayaknya nggak bisa ikut tes sesuai jadwal karena bentrok sama agenda kantor.



Di hari H, rencananya saya akan mengikuti dua tes, TOEFL dan TPA. Beruntung, nilai TOEFLnya ternyata bisa juga diganti dengan TOEIC dan saya punya sertifikatnya yang masih berlaku. Beruntungnya lagi, kata orang yang tes di sebelah saya, soal TOEFLnya 'amit-amit'. Listeningnya enggak pake dialog singkat dulu, langsung ke bacain paragraf gitu dan satu kali listening untuk menjawab beberapa soal :)))

Seperti bayangan saya, model soal TPAnya masih sama.Verbal, numerik, dan logika. Yang nggak kebayang, soalnya naudzubillah bikin pusing! :))) 90 verbal, 90 numerik, dan 70 logika dengan durasi setiap tahapnya hanya 60 menit. Nggak boleh lebih dan nggak boleh ngerjain tahap sebelumnya walau masih ada waktu.

Tahap pertama di soal kemampuan verbal, otak masih bisa diajak kerja sama. Ada empat tipe soal yaitu tentang mencari arti kata, sinonim, antonim, dan menjawab pertanyaan dari teks/narasi. Sebisa-bisanya, ya nggak 100% yakin juga sih. Ada beberapa kata yang sering terdengar dan sebenarnya paham maksudnya, tapi nggak yakin apa arti sebenarnya. Misalnya 'isbat', yang selalu terdengar menjelang awal Ramadan. Paham sih kalau ada yang bilang istilah itu, tapi artinya apakah penetapan, rapat, atau jangan-jangan ada arti lainnya? Atau 'samad', yang saya tau adalah nama belakang seorang pejabat. Atau arti dari jamais vu, yang saya cuma yakin maksudnya bukan sesuatu yang berbau negara Jamaika :))).

Tes verbal saya kerjakan sekitar 30 menit lebih. Masih banyak waktu yang tersisa, yang andai saja bisa digunakan untuk nyicil mengerjakan soal-soal model berikutnya. Oh iya, yang agak ngeselin dari tes verbal ini adalah munculnya istilah-istilah filsafat yang menjadi pilihan jawaban untuk tes verbal tipe narasi. Ontologi, epistimologi, dan aksiologi. Saya cuma inget, istilah itu sering terdengar di mata kuliah Filsafat Ilmu Komunikasi, yang kuliahnya seringnya di Gedung 4, dan saat kuliah saya nyaris sama sekali nggak paham sampai akhirnya harus ngulang. Huhu, ternyata menamatkan baca Dunia Sophie kayaknya ada faedahnya buat tes begini yaa~

Masuk ke tahap selanjutnya. Sebelumnya, saya memilih ke toilet sejenak dan mengambil segelas air minum. Buat amunisi.Enaknya ikut TPA kali ini, suasananya lebih 'ramah'. Peserta boleh ngambil air di sela-sela ngerjain soal. Dan karena sebagian besar peserta saling kenal, ruangan nggak kaku. Bisa saling curhat setelah ngerjain soal-soalnya.

Di tahap numerik, saya sedikit keteteran karena salah strategi. Haqqul yaqin soal-soal yang di halaman awal masih bisa masuk 'nalar' saya.. ternyata nggak juga! Soal yang menyelesaikan deret angka biasa masih oke lah.. deret diganti huruf juga masih paham.. lah kalau pecahan? Asli, blank :))). Padahal angka pecahannya masih kecil semacam 1/4, 2/3, gitu-gitu.. Tapi saya sempat lupa gimana menjumlahkannya. Dan yang paling nggak paham, soal yang pakai tanda seru semacam '5!4!3! dst' ini digimanain ngerjainnya? :__))))

Ketika time keeper mengingatkan waktu tinggal 5 menit lagi, langsung gunakan metode kiralogi dan cocoklogi. Yang penting semua nomor kejawab. Toh nggak ada pengulangan nilai semacam SNMPTN :p

Berlanjut ke tes logika, saya sedikit mengubah strategi. Sadar diri, makin ke halaman belakang otak makin panas dan gampang ngeblank ngerjainnya :)). Maka, saya memilih mengerjakan soal yang sekiranya saya (sebenarnya pasti) bisa menyelesaikan. Kalau nggak nemu jalan keluarnya, skip skip dulu. Strategi ini sedikit berhasil karena saat menyelesaikan soal-soal logika saya nggak nyaris kehabisan waktu seperti mengerjakan soal numerik. Yhaaa sekali lagi, walaupun nggak yakin juga yang saya rasa bisa ngerjain, jawabannya bener :)))

Ketika bahas soal-soalnya sama temen seangkatan



Ajaibnya, Alhamdulillahnya, setelah pengumuman keluar, hasil TPA saya ternyata di atas standar minimal kelulusan 475. Artinya, saya lolos seleksi dan bisa mengikuti tahap selanjutnya untuk pendaftaran S2 ini. Hore!

Sedikit tips untuk yang akan ikut ujian sejenis, JANGAN LUPA MAKAN. Makan yang bener. Supaya perut kenyang dan otak tenang. Sejujurnya saat mengerjakan tes ini saya cuma makan sedikit dan jadinya agak pusing. Ya pusing kurang makan, ya pusing ngerjain soal :)). Persiapkan juga alat tulis dan segala sesuatunya sesuai kebutuhan. Jangan panik duluan kalau menemukan soal yang keliatannya ribet. Siapa tau sebenarnya solusinya ternyata sederhana #pengalaman.

Dan terakhir pastinya, berdoalah sebelum dan sesudah mengerjakan. Kalau memang hasilnya bisa membawa kebaikan untuk kita, berdoalah supaya bisa lulus, sepuyeng apapun saat mengerjakan soalnya. Goodluck!

Sunday, October 21, 2018

Persiapan Persalinan

Setiap Kanaya terbangun sampai subuh, terutama melewati pukul 04.20, saya teringat kembali masa-masa untuk bertemu dengannya. Ada rasa ngilu bercampur haru saat memori mulai dari ke rumah sakit sendiri sampai melihat tubuh utuhnya keluar terputar di kepala.

Persalinan, normal maupun caesar, adalah fase pendahuluan perjuangan seorang perempuan sebelum menjadi ibu. Dibutuhkan persiapan fisik, mental, logistik, dan finansial agar proses ini dapat dilalui dengan baik. Kalau versi saya, inilah beberapa persiapan yang bisa dilakukan menjelang persalinan, berdasarkan pengalaman dan gugling sana-sini.

1. Makan Makanan Bergizi
Persiapan ini sebaiknya dilakukan dari awal dinyatakan hamil. Bagaimanapun, perkembangan janin sangat bergantung dari apa yang kita konsumsi.

Selama hamil, saya juga nggak mendadak menjalani pola makan yang sehat banget. Micin dan gorengan masih (khilaf) dikonsumsi walau kadang bisa membatasi jumlahnya.

Pola makan 4 sehat 5 sempurna adalah kuncinya. Kalau tidak memungkinkan diterapkan setiap makan (yakali tiap abis makan minum susu ), minimal pola ini bisa dilakukan dalam satu hari. Jadi, dalam satu hari usahakan ada asupan karbohidrat, protein, sayur, buah, dan susu.

Semual apapun, cobalah dihadapi dan tetap paksakan diri untuk makan/minum sesuatu. Kalau lagi mual atau malas makan, saya biasanya memilih makan buah seperti apel/pir/jeruk/pisang dan minum air putih agak banyak. Nggak mengenyangkan sih, tapi setidaknya janin tetap menerima asupan.

Bila dokter memberikan vitamin (biasanya asam folat) dan susu khusus untuk ibu hamil, silakan dikonsumsi rutin bila dirasa perlu. Awalnya saya nggak rajin mengonsumsi keduanya, tapi setelah baca-baca literatur, insyaAllah asam folat dan susu ini bisa memberikan tambahan manfaat bagi pertumbuhan janin. Selain itu, rajin minum air kelapa murni dan makan/minum jus kurma juga baik untuk kesehatan selama masa kehamilan dan menjelang persalinan.


2. Jalan Kaki dan Senam Hamil
Dua teman yang sudah melalui masa persalinan lebih dulu menyarankan agar saya rutin berjalan kaki pagi dan sore. Selain menjaga kebugaran, olahraga ringan ini konon dapat membantu memudahkan persalinan normal.

Sejujurnya, saya sendiri belum sempat melakukan jalan kaki pagi-sore ini secara rutin. Sebagai gantinya, kalau di rumah saya rutin jalan kaki dari kamar ke dapur (ngambil cemilan 😂 ) , dan kalau sedang bekerja, saya masih ikut turun ke lapangan selama kondisi fisik memungkinkan.

Untuk senam hamil, saya juga baru ikut sekali, itupun setelah usia kandungan 35 minggu. Idealnya, senam bisa rutin dilakukan setelah kondisi kandungan di atas 30 minggu. Ini nggak wajib sih, tapi menurut saya, senam hamil memberikan kita wawasan mengenai pose-pose yang bisa memudahkan persalinan, menguatkan posisi janin, dan tips trik bernafas saat persalinan tiba. Jadi, usahakan ikut minimal sekali ya, Buibu!

3. Menyiapkan Kebutuhan Bayi & Ibu
Ini persiapan kesukaan sekaligus sedikit membingungkan bagi saya hehehe. Senang, karena akhirnya bisa membeli ini itu untuk bayi sendiri sekaligus bingung, apa saja peralatan yang wajib, sunah, dan sebenarnya nggak perlu untuk sang bayi. Detil perlengkapan ini akan saya bahas tersendiri ya!

Menyiapkan kebutuhan bayi dan Ibu (baca: belanja-belanjanya) sebaiknya dimulai sejak usia kandungan memasuki tujuh bulan. Pada usia tersebut, kondisi janin cenderung lebih stabil, semakin kuat, dan Ibu belum terlalu lelah untuk 'berburu'. Pastikan kita tahu peralatan apa yang harus disiapkan untuk menyambut kehadiran sang buah hati. Bisa dengan gugling, atau bertanya kepada mereka yang sudah lebih berpengalaman.

Jika semua peralatan untuk bayi dan Ibu sudah terpenuhi, mulailah packing untuk persalinan. Saya saat itu menyiapkan dua tas. Satu tas diaper bag khusus untuk baju bayi dll dan satu tas biasa untuk baju dll bagi saya dan suami. Untuk persalinan normal, estimasi menginap di rumah sakit adalah sehari semalam, sementara persalinan sesar memakan waktu sekitar tiga hari. Namun, beda rumah sakit/klinik bisa beda kebijakan ya! Sebaiknya, tanyakan dulu kepada dokter kandungan mengenai durasi waktu menginap ini supaya barang yang dibawa tidak kurang, tetapi juga tidak berlebih.

4. Mengenal Dunia Bayi & Parenting
Dunia bayi adalah dunia yang unik. Memahaminya nggak bisa di-benchmark dengan pengalaman pribadi karena saya nggak tahu waktu bayi seperti apa 😆. Untungnya, sekarang banyak situs, akun Instagram atau aplikasi mobile yang bisa membantu kita, para calon orang tua baru, untuk memasukinya. 

Selain dunia bayi, dunia parenting menurut saya juga wajib dipelajari supaya kita lebih siap. Berikut beberapa rekomendasi situs/akun Instagram/aplikasi seputar dunia bayi dan parenting:

- Ibupedia (Wajib follow! Instastorynya update setiap hari dan terhubung langsung dengan link ke websitenya. Jadi kita bisa pilih artikel yang mau dibaca hari itu tanpa repot buka dari homepage-nya.)
- Parentnesia
- Alodokter (Download aplikasinya deh, lumayan bisa chat gratis sama dokter ketika merasa ada sesuatu yang membuat si kecil terlihat kesakitan)
- Parenting.co.id
- Chai's Play (Bingung apa yang harus dilakukan kalau bayi sedang 'on'? Chai's Play ini memberikan rekomendasi aneka permainan sederhana sesuai usia anak kita. Download juga aplikasinya ya)
- Kinedu (Kurang lebih sama seperti aplikasi Chai's Play. Bedanya, di aplikasi ini terdapat milestone yang berguna untuk memantau pertumbuhan sang anak. Kadang bikin galau sih kalau sang anak belum bisa mencapai milestone-nya. Tapi itu menjadi motivasi untuk tetap semangat bermain dan belajar bersamanya)
- Rabbithole (Instastorynya belakangan lagi sering share mengenai attachment parenting atau tips pengasuhan lainnya)
- Herviewfromhome (Lebih berisi curhat sharing para Ibu di seluruh dunia mengenai dunianya yang berubah setelah memiliki anak. Kalau nggak baperan, boleh follow loh)
- Bonus: follow hashtag #millenialparenting juga untuk update seputar isu parenting zaman now hehehe 

Beberapa artikel mengenai dunia bayi atau parenting kemungkinan akan bertolak belakang antara yang satu dengan yang lain. Bijaklah dalam menanggapinya dan pastikan tips yang diterapkan sesuai dengan kebutuhan bayi kita sendiri. 

5. Rajin Berkomunikasi
Semakin mendekati hari persalinan, saya sering 'ngobrol' dengan janin sambil mengusap-usap perut. Awalnya agak kagok memang, tapi kalau di rumah lagi sendirian, ternyata asik juga. Serasa ada yang menemani hehehe.

Komunikasikan apa saja. Kegiatan kita, perasaan kita, apa yang kita makan, apapun. Saya sering 'meminta'nya tetap sehat selama berada di dalam sampai waktunya tiba dan ia mudah dilahirkan nantinya. Dan, tak jarang, saya juga menyampaikan harapan agar ia 'keluar' di tanggal 12, angka favorit saya. Konon hal ini menjadi semacam sugesti positif bagi sang janin dan bisa saja terjadi. Jadi, sering-seringlah mengobrol dengannya ya!

6. Berdoa
Yesss, tentu ini super wajib hukumnya Buibu! Baik di awal, tengah, maupun akhir masa kehamilan, berdoa tidak boleh putus kita panjatkan. Karena pada akhirnya, manusia berencana dan Tuhan yang menentukan, bukan? 

Itulah enam tips menyiapkan persalinan versi saya. Bagaimana dengan pengalaman Buibu yang sudah mengalaminya juga? Share di comment yuk! 😊

Wednesday, May 2, 2018

"Terima Kasih.."

Pernah nggak menjadi panitia suatu acara, pesertanya sebagian besar mahasiswa, dan kamu kebagian menjadi seksi konsumsi yang membagikan snack secara langsung kepada para peserta? Kalau belum, cobain deh.

Suatu hari, saya melihat sebuah fenomena. Bukan sebagai panitia, hanya mengamati situasi yang saya gambarkan tadi. Di sebuah acara, panitia membagikan snack box kepada para peserta yang sebagian besar mahasiswa itu. Entah pesertanya kelaperan belum makan, pusing banyak tugas, abis berantem sama pacarnya atau gimana, SEBAGIAN BESAR dari mereka menerima kotak dengan muka lempeng. Tanpa ucapan "Terima kasih" keluar dari mulutnya.

Nggak usah ditanya gimana perasaannya panitia yang mungkin udah gedabrukan nyiapin acara itu, saya yang liat fenomena ini aja kzl sendiri.

Kenapa sih susah banget mengucapkan terima kasih? Atau sekedar ngasih senyum?

Helloooow..bilang 'terima kasih' itu gampang banget loh! Variasinya juga banyak. 'Makasih', 'thank you', 'tengs', 'suwun', sebutin deh pake bahasa yang dikuasai! Bahkan pakai bahasa nonverbal semacam senyuman juga nggak papa!

Mengucapkan 'terima kasih' adalah pelajaran memberi apresiasi yang paling sederhana, tapi bisa berefek besar. Membuat orang merasa dihargai, memotivasi orang untuk terus melakukan kebaikan, bahkan siapa tau, bisa memperbaiki mood yang sedang kacau. Menerima ucapan 'terima kasih' yang tulus itu bisa menjadi obat pereda lelah, you know :')

Maka..hayuuuk adik adik, kakak kakak, bapak ibu semua... kita biasakan...mengucapkan 'terima kasih' untuk sesederhana apapun hal baik yang kita terima atau lihat. Nggak perlu laah rasanya..buku setumpuk-tumpuk untuk tau gimana cara mengucapkan 'terima kasih' yang tulus. Cukup mulai dari diri sendiri, sering-sering mengapresiasi, dan lama-lama kebiasaan ini akan terbentuk dan (semoga) menular.

Jadi, sudah mengucapkan 'terima kasih' untuk siapa hari ini?

Terima kasih sudah membaca ya ;)

This entry was posted in

Tuesday, July 4, 2017

7 Rekomendasi Vendor Pernikahan ala #RYLNGStory

Belum ada genap setahun, saya pernah posting mengenai kesiapan meraih resolusi ketiga. Pada tulisan itu, kesiapannya memang lebih dari segi mental. Ada 14 pertanyaan yang bisa mengindikasikan apakah si penjawab sebenarnya sudah siap menikah atau belum. Dan si penjawab yang sok iye itu dengan pedenya menjawab di blog padahal saat itu belum ada bayangan jelas tentang resolusi ketiganya :)).

Setelah kemantapan hati itu ada, rupanya segala hal menuju terlaksananya acara sakral itu juga perlu disiapkan dengan matang. Nggak sekadar aspek yang besar seperti tempat, dekor, baju (dan seragam), dan katering ternyata, melainkan banyak sekali printilan yang perlu dimatangkan.

Sederhananya, acara sakral ini melibatkan dua pihak. Yang tidak kecil ternyata, besar sekali. Maka, membuatnya pun perlu melihat dari berbagai sisi, termasukn
mempertimbangkan kenyamanan keluarga besar dan tamu yang akan datang.

Berbicara mengenai pernikahan, kata pertama yang terlintas di benak saya saat itu adalah 'rustic'. Klasik, timeless. Natural. Sederhana. Berkesan. Beda. Belakangan setelah browsing sana-sini, ternyata tema rustic sepertinya memang cukup banyak digemari para calon manten. Hehe.

Setelah tema pernikahan rustic disetujui juga oleh Mas LNG, detil terkait tema itu langsung dicari. Pilih, pilih, lucu, suka, harga nggak masuk budget, menjadi tahapan selanjutnya. Memilih segala sesuatu untuk acara sakral ini memang perlu pertimbangan matang karena bagi saya ini akan menjadi acara yang diselenggarakan sekali seumur hidup. Namun harus memilih dengan rasional juga dan melihat 'asas manfaat'nya, mengingat setelah menikah pasti bakal banyak kebutuhan yang perlu dipenuhi.

Referensi utama saya mencari hal-hal terkait tema rustic ini adalah Pinterest dan Instagram. Tinggal masukkan hashtag atau keyword yang dicari, dan voila! Keluarlah beragam referensi yang bikin nggak sabar pengen segera menikah :___)))).

Pinterest lebih diperuntukkan mencari konsep, sedangkan Instagram untuk mencari mereka yang bisa mewujudkannya. Misalnya begini. Saya mencari referensi dekor atau undangan tema rustic di Pinterest, lalu mencari vendor yang kira-kira bisa mewujudkannya. Walaupun hasilnya nggak mirip-mirip banget, ya lumayanlah suka hehe.

Jadi, tujuan tulisan ini apa? :))

Betul, memberi referensi atau rekomendasi vendor yang kemarin berjasa membantu terwujudnya acara sakral itu. Sebagian ditemukan di dunia maya, tapi nggak sedikit juga yang ditemukan di dunia nyata.

Maka, kalau kamu kurang lebih mirip saya, suka sesuatu yang lain daripada yang lain tapi bagus dan unik, menyiapkan acara dari jarak jauh, lokasi acara ada di kota kecil yang belum banyak referensi vendor wedding, semoga tulisan ini bisa cukup membantu :)

1. Bahman
Vendor yang satu ini ada di Sumedang, kota tempat acara dilangsungkan. Konon jasanya udah terkenal bagus dan ternyata keluarga saya beberapa kali bekerja sama untuk acara nikahan sodara dan khitanan.

Sebagai vendor senior yang sudah punya nama, jasa yang disediakan Bahman lengkap. Kemarin saya memakai tenda, dekorasi, katering, make up (pengantin dan keluarga), seragam keluarga dan penerima tamu, plus mobil pengantin.

Tenda, dekor, dan make up untuk saya disiapkan mulai dari acara pengajian. Meski dekor dan make upnya nggak seperti referensi dari Pinterest maupun Instagram, hasilnya cukup memuaskan dan banyak tamu yang suka. Ohya, kateringnya juga enak terutama jus jambunya yang menggunakan buah asli! Sayang saya nggak terlalu sempet mencicipi sebagian besar hidangannya :))

2. Enan Dharsita
Ini bukan vendor sih, lebih tepatnya sosok orang yang memiliki beberapa koneksi vendor pengisi acara. Kang Enan sendiri berprofesi sebagai MC dan jasanya sudah terkenal di kalangan tokoh masyarakat Bogor dan sekitarnya. Meskipun kiprahnya di sana, Kang Enan ternyata sesama wargi Sukatali (desa nenek, tempat acara) dan masih ada hubungan keluarga. Cincaylah untuk book beliau di tengah kepadatan jadwalnya :))).

Selain jasa MC Formal - Sunda mulai dari pengajian sampai resepsi, Kang Enan juga membawa 'tim hore' berupa dokumentasi foto dan video (pake drone!), pengisi acara, dan beberapa orang WO-nya yang memastikan semua acara berjalan tepat waktu.

Btw, kami nggak pakai WO khusus untuk acara sakral ini. Semua rangkaian acara Alhamdulillah dibantu oleh keluarga kedua belah pihak. Pengisi acara yang disiapkan Kang Enan juga termasuk 'prosesi' pengajian, siraman, dan adat Sunda sebelum memulai resepsi. Sesuai idaman :')

3. Aksa Bride
Inilah vendor yang ditemukan di IG berkat keukeuhnya ingin membuat undangan dengan konsep yang unik dan beda. Di antara konsep undangan rustic yang bertebaran, vendor dari Jogya ini bisa membuat undangan yang sekaligus berfungsi sebagai pembatas buku. Desain dan ilustrasinya lucu. Mereka juga cukup kooperatif melayani permintaan (baca: revisian) dari saya dan Mas LNG sebelum akhirnya undangan siap cetak dan disebarkan. Maklum, di sini terbiasa dengan urusan cetak mencetak, jadi segala tahapan prosesnya mulai dari konsep awal, desain, draft, sampai dummy perlu dicek quality controlnya supaya hasil akhirnya sesuai harapan.

4. Amethyst
Ini vendor untuk menyewa baju pengantin di Sumedang. Perihal baju pengantin ini awalnya sempat ada beberapa wacana, di antaranya cukup mengenakan satu baju sepanjang acara dan ingin jahit sendiri.

Sebelum menemukan butik mini ini, saya sebenarnya sangat tertarik dengan salah satu baju kebaya-modern-muslim-Sunda hasil berburu di IG. Nggak paham detil bahan dan printilannya, yang jelas model dan tampilan kebaya itu terlihat elegan. Saat mengontak penjahitnya, ternyata kebaya itu bukan disewa, melainkan dibuat khusus untuk kliennya. Saya juga disarankan untuk kontak langsung ke kliennya aja kalo berminat tapi gengsi lah ya. Dan takut ga muat sih hehehe.

Penemuan butik Amethyst ini berkat rekomensasi teteh make up-nya Bahman. Pada kunjungan pertama, di butik terpajang satu set kebaya modern dengam model yang cantik dan warna yang sesuai tema. Langsung deh jatuh hati dan memutuskan untuk menyewanya dengan sedikit perombakan ukuran! Untungnya saat fitting sekali-kalinya, baju pengantin prianya pas sekali di Mas LNG sehingga nggak perlu ada yang diubah. Kalo udah jodoh mah gitu ya :')

5. Dedy Pangjaitan
Sepertinya ini tukang jahit terbaik dan terefisien yang pernah saya temukan. Terletak di seberang jalan desa, Dedy Pangjaitan dipercayakan menjahit kebaya akad saya plus baju-baju Ibu dan para Ua. Mau tahu ongkos jahitnya berapa?
10%nya biaya semesteran jaman kuliah, Sodara-sodara! Murah kan? :____))) Tapi jangan salah, hasilnya nggak kalah rapi dan cantik seperti karya penjahit yang mematok harga lebih mahal.

6. Alifa Craft
Sesuai namanya, vendor hasil nemu di IG ini menyediakan beragam pilihan souvenir jadi. Pada awalnya souvenir mau yang agak rustic sih.. tapi mengingat fungsi juga penting, maka pilihan jatuh pada kipas bali warna-warni. Sebenarnya kalau search di IG, banyak vendor yang menyediakan souvenir serupa. Bedanya, Alifa Craft ini menawarkan harga yang bersahabat plus bebas ongkir untuk pengiriman ke seluruh area di Jawa! (saat itu sih..nggak tau ya kalau kebijakannya sudah berubah)

7. Tote Souve
Souvenir rustic ala-ala akhirnya bisa terwujud di acara unduh mantu di Kediri. Gelas enamel diameter 6 cm warna putih dengan desain yang bisa custom. Vendor ini dipilih karena saat itu, di tengah pencarian dadakan dan kelangkaan barangnya, hanya dia yang bisa menjamin ketersediaan gelas enamel warna putih polos. Mas LNG dan saya memang keukeuh ingin gelas enamel yang putih polos supaya kalau diberi desain custom kesannya lebih elegan dan bersih hehe.

Sebenarnya masih banyak lagi printilan dalam menyiapkan acara pernikahan dan rekomendasi vendor. Supaya nggak ribet sendiri, cobalah buat check list kebutuhannya sehingga nggak ada yang kelupaan di hari-hari terakhir. Pastikan juga segala pilihan sesuai budget dan tetap berkualitas. Jangan terlalu memaksakan, karena perjalanan ke depan masih memerlukan bekal jangka panjang. Belajar dari pengalaman saya, cobalah juga melihat potensi daerahnya dulu dalam mencari vendor-vendor pernikahan. Walau di kota kecil, ternyata ada kok para penyedia jasa yang bisa membantu kita mewujudkan pernikahan impian.

Jadi, udah beneran siap? Good luck! ;)

Tuesday, May 2, 2017

Berdoa untuk Jodoh

"Gue pernah denger, katanya kalo berdoa tuh yang spesifik," kata seorang teman di sela mini reunian baru-baru ini.

Di usia sepantaran kami, masalah jodoh memang menjadi topik yang selalu ramai dibicarakan. Kalau statusnya masih single available, topik bahasan biasanya seputar 5W + H Cara Mendapatkan Jodoh. Kalau salah satu ada yang sudah menemukan, topiknya akan lebih spesifik mengenai Tips & Trik Mendapatkan Jodoh. Tentu disertai bumbu-bumbu lain sehingga ceritanya jadi panjang dan lama.

Pada suatu masa, saya pernah berada di situasi di mana chit-chat dengan teman dekat hampir selalu berujung pada topik 5W + H ini. 'Galau', kalau bahasa kekiniannya mah. Umur semakin berkurang, kerjaan nggak berkurang-kurang, malah undangan pernikahan yang terus bertambah. Beberapa di antaranya dari teman dekat pula. Pada masa itu, kadang saya bersyukur hidup merantau nun jauh di sana. Mengurangi frekuensi ditanya "Kapan atuh?"! Karena yang nanya seringnya sambil senyum, maka jawabnya perlu sambil senyum dan pede juga walau belum ada bayangan sosok siapapun saat itu, "Tunggu aja. Nanti juga ada :)"

Pada suatu masa yang lebih lampau lagi (sebut saja di masa masih 'bocah'), saya juga pernah mendengar quote yang sama seperti teman saya tadi. Yang ngomong motivator pula, jadi aja langsung dipraktikkan. 

"Berdoalah yang spesifik, minta dengan detil, insyaAllah bisa lebih cepat terkabul," sarannya. Saya, yang kata orang-orang di umur segini pun masih 'polos', ya nurut aja. Meminta sesuatu kepada Sang Pemberi Segalanya dengan spesifik, detil, bahkan sampai disebutkan alasan memintanya.
 
Hasilnya?

Terkabul. Setelah beberapa bulan. Dan efeknya juga sebentar, sesingkat setelah alasan meminta dulu diperlihatkan :)))

Beberapa masa kemudian, saya tersadar bahwa mungkin yang terlalu spesifik itu belum tentu yang terbaik buat saya bila dikabulkan. Termasuk untuk urusan jodoh, yang dalam kamus saya disebutnya 'resolusi ketiga'.

Maka, saya merevisi doa untuk resolusi ketiga ini.

Bukan lagi 'segera', melainkan ketika saya dirasa oleh-Nya sudah siap. Sudah siap lebih bertanggung jawab, lebih dewasa dalam berpikir dan bersikap, juga sudah 'kenyang bermain'. 

Bukan lagi 'yang sempurna', melainkan yang bisa saya terima apa adanya sebagaimana sosok itu menerima saya seutuhnya
.
Bukan lagi 'yang terbaik versi saya', melainkan yang terbaik bagi saya versi-Nya, yang bisa menuntun saya menjadi pribadi yang lebih baik lagi dan semoga saya juga bisa mendampingi sosok itu untuk terus berkembang menjadi semakin baik.

Bukan hanya 'menjaga hati', tetapi juga menitipkan hati kepada-Nya supaya kelak bisa diberikan kepada sosok yang tepat, yang bisa menjaganya dengan baik, dan bisa saya jaga pula hati milik tersebut.

Dan jika kami pada akhirnya dipertemukan, disatukan dengan ridho-Nya, semoga semua yang kami perjuangkan dan kelak akan dijalani bisa menjadi ibadah dan bernilai berkah, bagi kami, keluarga, dan orang-orang di sekitar kami.

Yakinlah, doa yang dipanjatkan secara ikhlas dan rutin suatu saat akan dikabulkan. Doa random aja sering terkabul kok :__))) Apalagi doa yang sungguh-sungguh dan efeknya bukan hanya untuk sesaat, melainkan seumur hidup. Dan sambil menunggu doanya dikabulkan, teruslah memperbaiki diri, menebar kebaikan, memberi manfaat, dan tetap berpikir positif.

Sudah berdoa hari ini? :)

Source: Pinterest

Friday, April 28, 2017

How I Met My Partner

"Kok bisaaaa? Gimana ceritanyaaaa?"

Inilah reaksi umum yang saya dapat ketika baru-baru ini membagikan undangan pernikahan untuk teman-teman dekat. Dibilang 'mendadak nikah' sebenarnya nggak juga sih, karena persiapannya cukup lama dan memang sayanya aja yang nggak banyak berbagi cerita. Hehe.

Saya lupa kapan pertama kali tepatnya 'mulai memerhatikan' Mas LNG ini. Mungkin setelah nemu akun instagramnya yang mem-posting acara seminar di kantor yang saya selenggarakan. Bukan kepo ya, nemu berdasarkan hashtag! #exanakahensi :p Postingannya menarik perhatian karena di antara minimnya pekerja yang hadir waktu itu, ternyata masih ada orang yang bisa mengapresiasi materi yang dibawakan narasumbernya. Lumayanlah, mengurangi rasa capek karena nyiapin acaranya.

Atau mungkin juga setelah mendengar cerita tentangnya dari teman kantornya. Luar biasa sekali mendengar teman kantornya ini mengapresiasi dia. Selain kagum, saat mendengar cerita itu saya justru sempat menyimpulkan, "Orang sehebat ini mah pasti udah ada yang punya...Pendampingnya juga pasti nggak kalah luar biasa.. ." . Untungnya (?) teman kantornya langsung mengklarifikasi, "Kayaknya belum deh, nggak tau tuh.."

Beberapa bulan kemudian, pikiran random tadi seolah ditunjukkan jalan untuk menemukan jawabannya. Saya berkesempatan bekerja sama dengan Mas LNG untuk sebuah project.

Kesan pertama setelah ketemu sosok aslinya? Orangnya asik, bisa diajak kerja sama. Berbeda dengan orang-orang technical pada umumnya yang cenderung serius, dia justru tergolong yang rame.

Udah, segitu aja. Lha wong ketemunya juga sebentar banget.

Selanjutnya, semua berjalan mengalir. Muncullah kesan kedua, ketiga, dan seterusnya sampai akhirnya berani mengatakan "Siap."

Tentu memutuskan kesiapan ini nggak serta merta, melainkan dengan usaha juga dan berdoa.

Pada akhirnya, saya bisa menjawab pertanyaan diri sendiri yang ini. Bahkan jawabannya seolah diberikan nggak lama setelah posting tulisan itu. Waktu nulis juga udah sambil agak geer sih, siapa tau calon jodoh saya membacanya. Geer sama pede beda tipis memang :')

Jadi buat teman-teman yang masih mencari, cobalah lihat di sekelilingnya lagi. Siapa tau sosok itu juga sudah ada di sana, sedang memantaskan diri. Sambil menunggu, marilah terus menyiapkan hati. Meminta diberikan yang terbaik menurut Yang Maha Kuasa. Dan jika kita dirasa sudah siap, percayalah, sosok yang terbaik itu akan datang tepat pada waktunya.

Monday, April 17, 2017

Goals & Objectives

Hari ini di kantor, superior saya mengajak 'merumuskan' beberapa Goals & Objectives (G&O) seksi kami. Tumben, biasanya saya tinggal terima jadi aja hehe.

Membaca poin-poin G&O seksi membuat saya teringat kembali dengan resolusi-resolusi yang biasa disampaikan menjelang pergantian tahun atau usia. Alhamdulillah resolusi terbesar ketiga (alias 'resolusi ketiga) akan dicapai tahun ini. Tentu setelah itu ada lagi resolusi keempat, kelima, dan seterusnya yang ingin dicapai dalam hidup. Karena resolusi lingkupnya terlalu general, mungkin saya perlu 'menurunkannya' menjadi lebih spesifik. 

Source: Pinterest
Maka, inilah beberapa 'G&O Individu' yang ingin saya capai selama rentang usia satu tahun ke depan:

1. Bebas Pilek Per Bulan
Entah pengaruh cuaca yang makin labil atau badan yang mulai renta, belakangan ini rasanya adaaaa aja kena penyakit pilek/batuk/tenggorokan sakit/suara nyaris ilang. Mungkin kurang minum air putih. Mungkin juga kurang makan buah dan sayur.
Di usia yang baru ini, saya semakin sadar badan nggak se'kuat' dulu. Apalagi intensitas bergeraknya makin sedikit. Jalan kaki pun semakin jarang. Sering kerja di ruang ber-AC, tapi sekalinya ke lapangan matahari garis khatulistiwanya serasa di ubun-ubun.
Untuk mencapai poin ini, mungkin saya akan kembali rajin masak sayuran (yang itu-itu aja :""))) ) plus menyediakan buah-buahan di rumah. Dan lebih banyak bergerak deh, apalagi udah ada yang bisa diajakin jalan pagi-pagi di hari weekend atau trekking ala ala di hutan Kalimantan hehe.

2. Berani Nyetir Mobil
Matic aja. Dan kalau bisa punya sendiri aja. 

3. Mengikuti Lomba Individu / Menulis Paper
Maksudnya bukan lomba yang atas nama Perusahaan. Atas nama sendiri atau tim kecil juga nggak papa. Saya baru nyadar jiwa kompetisi mulai pudar karena udah jarang diasah. Menulis paper ini juga perlu supaya otak kiri dan kanan tetap terjaga keseimbangannya #naon. 

4. Masak Seafood
Yang jenis apapun, tapi kalau bisa selain ikan. Supaya yang mau dikasih makan nggak protes disuguhin ayam terus :___))) 

5. Jelajah Tempat Baru
Mengunjungi satu kota/negara yang belum pernah dikunjungi sama sekali. Syukur-syukur kalau bisa mengunjungi berdua ehehehe.

Itulah tadi lima poin G&O Individu yang ingin dicapai selama rentang usia satu tahun ini. Tolong ingatkan saya supaya konsisten ya. 

Kalau kamu, apa G&O nya yang masih ingin dicapai?

Wednesday, March 29, 2017

Berawal dari Mimpi

I had a dream the other night..

..Pada salah satu acara Perusahaan yang namanya kurang lebih "Malam Apresiasi Pekerja Kategori I".

Waktu itu saya masih tergolong anak baru. Kebetulan departemen saya sering diminta supportnya untuk event, jadi walaupun acara itu di bawah koordinator departmen HRD, saya hadir. Untuk memastikan tim publikasi dan dokumentasi ada di tempat dan siap mengabadikan semua momen.

Sebagai pekerja yang masih minim pengalaman, kemampuan menghafal orang, apalagi prestasi, malam itu saya kebanyakan celingak-celinguk di meja belakang. Menanti cemilan disajikan. Atau menunggu diajak ngobrol orang.

Saya semeja dengan para ibu. Lupa, ada karyawatinya nggak ya. Yang jelas, sebagian besar adalah istri pekerja (dan pastinya saya juga belum banyak kenal bapak-bapaknya :__))) ). Saya juga belum terlalu memahami esensi acara itu sampai datanglah seorang ibu, saya tahu dia karyawati, duduk bergabung di meja saya.

"Selamat yaaa!" kata (sebut saja) Ibu Ceria yang menyambut ibu karyawati tadi.

"Makasih," jawab ibu karyawatinya singkat, tapi sumringah.

Mereka dan beberapa ibu lainnya kemudian terlibat obrolan. Dari mendengarkan, akhirnya saya tau kalau suaminya ibu ini, yang juga salah satu pekerja, dinobatkan menjadi salah satu pekerja terbaik dari Perusahaan berkat inovasi-inovasinya.

Satu quote kemudian terlintas: di balik laki-laki hebat/sukses, pasti ada perempuan hebat yang selalu mendukung dan mendoakannya.

Dan saya salut sama ibu karyawati tadi. Di tengah tanggung jawabnya sebagai seorang pekerja juga, dia nggak melupakan tugas utamanya sebagai seorang istri dan ibu rumah tangga sejati. Mendampingi sang suami.

Maka...pikiran random pun terlintas di tengah senyum sambil mendengarkan cerita ibu karyawati..

Seandainya..

Seandainya orang yang saya dampingi nanti adalah sesama pekerja juga...

Semogaaa suatu saat saya bisa  'mengantarkannya' menjadi salah satu sosok yang terbaik itu.

Amin.

Kenapa bukan mendoakan supaya diri sendiri yang kelak bisa maju ke panggung? Karena saya lebih bahagia kalau melihat orang yang saya dampingi kelak berbahagia :).

Doa selintas itu terucap tanpa ada bayangan siapa orang yang akan saya dampingi. Masih baaaaanyak sekali kemungkinan yang bisa terjadi. Tapi, nggak ada salahnya sedikit berharap kan? Hehe.

Sampai suatu hari, sosok itu memasuki kehidupan saya. Mewarnai, bahkan. Saya bukan Manajemen ataupun atasannya yang berhak menentukan dia menjadi yang terbaik atau bukan secara profesional, tapi dengan menjalani hari-hari bersamanya, saya tau dia layak mendapat predikat itu.

Dari cerita orang-orang tentangnya, hampir sebagian besar mengapresiasi ketulusan hatinya dalam setiap melakukan tindakan. Dari pertama kali melihat casing HPnya yang ternyata ada logo Perusahaan, terlihat betapa besar nasionalisme dan dedikasinya. Sebagai orang humas, saya terharu melihat inisiatifnya memasang logo di casing HP. Saya aja nggak kepikiran! :)) Dan dari inisialnya yang kebetulan sama dengan produknya Perusahaan, saya tau dia 'istimewa'.

Dan malam ini, mimpi selintas saya tahun lalu terwujud. Dengan skenario tidak persis seperti yang saya bayangkan, tetapi lebih seru dibandingkan yang saya harapkan. Belum resmi mendampingi, tetapi melihatnya malam ini sudah bisa membuat ikut berseri-seri. Apalagi ketika dia dan beberapa pekerja terbaik lainnya diminta menyanyikan 'lagu kebangsaan' kami. Duh, Gusti! :""")))

Sekali lagi, selamat Mas LNG! Mari terus bermimpi dan bersama mewujudkannya. Terima kasih sudah mau didampingi dan siap mendampingi. Semoga kita bisa bersama meraih kebahagiaan yang hakiki.


Wednesday, January 4, 2017

Cerita di Januari

Sejak tahun 2015, setiap awal Januari menjadi momentum bagi saya untuk 'merapikan' dan memperbaiki diri. Kenapa 2015? Karena di tahun itu, keberanian dan kenekatan membawa saya ke kehidupan yang benar-benar baru, lebih struggle, dan terkadang seru.

Tepatnya di Kota Bontang. Di sebuah perusahaan energi kelas dunia, Badak LNG.
Bisa menjadi bagian dari komunitas ini hampir nggak pernah terbayangkan sebelumnya. Mau 'masuk' dari mana? Background engineer aja bukan.

Tapi rupanya kalau Semesta sudah berkonspirasi, segalanya menjadi mungkin. Menjadi bisa. Ketemu orang-orang baru dengan beragam karakternya, ketemu tugas-tugas baru yang kadang datangnya secepat roller coaster, juga ketemu kebiasaan-kebiasaan baru yang rupanya memang perlu diterapkan.

Dua tahun memang bukan waktu yang lama. Terbukti dengan belum bolehnya bikin 'perayaan' ulang tahun dinas sama superior. Tapi, dua tahun juga bukan waktu yang sebentar. Untuk diberikan keluarga baru, komunitas baru, juga yang mungkin dicari dari dulu.

Jadi, terima kasih PTB. Untuk segala kesempatannya, di pekerjaan maupun kehidupan :)

In frame: Kepala Dinas Pariwisata Kaltim bersama rombongan wartawan berkunjung ke Knowledge House Badak LNG

Wednesday, December 21, 2016

2016 in Review: Transisi

Halo!

Sudah siap meninggalkan tahun 2016? Sudah berapa banyak pencapaian yang diraih sepanjang tahun ini?

Rasanya, baru beberapa bulan lalu saya menulis review kehidupan di tahun 2015. Tahun terjadinya transformasi besar dalam hidup. Tahun yang menjadi titik awal untuk belajar lagi tentang banyak hal.

Hari ini, mendekati akhir tahun 2016. Sudah bisa dibilang berakhir bahkan, karena kalender 2017 sudah dibagikan :p #baladaanakmedia.

Dari segi penulisan dan posting-posting di socmed, sepertinya frekuensi update saya mengalami penurunan di tahun ini. Nggak terlalu penting juga sih, toh posting-posting itupun murni untuk berbagi aja hehe. Di sisi lain, tulisan (atau curhatan) di berbagai socmed itu sebenarnya bisa menjadi informasi untuk flashback kejadian yang sudah dialami selama satu tahun terakhir.

Kenapa perlu flashback? Kalau menurut saya, review ini diperlukan sebagai acuan untuk menjalani tahun-tahun berikutnya. Dengan adanya review, kita bisa tau kelebihan, kekurangan, pencapaian, penyebab baperan, atau hal lain yang pernah terjadi dalam hidup. Ada yang perlu diperbaiki dan ditingkatkan, ada juga yang cukup dipertahankan.

Tahun 2016 ini adalah tahunnya transisi. Persiapan memasuki perubahan. Di perusahaan tempat bekerja, maupun di kehidupan personal saya.

Jadi, seperti apa 2016 versi saya ini?

1. Ups
Masa-masa awal 2016 diisi dengan printilan pindah rumah. Nyicil mengangkut barang, menata di rumah baru, sekaligus beradaptasi lagi menjadi 'anak rumahan rasa kosan'. Meski jaraknya sedikit jauh dari kantor (secara dulu di apate cuma nyebrang aja kalau mau ngantor), kepindahan ini membawa hikmah tersendiri bagi saya: jadi bisa dan mau naik motor sendiri.

Yang juga menjadi highlite tahun ini adalah banyaknya undangan pernikahan. Mm semakin meningkat dibanding tahun-tahun sebelumnya lah. Mulai dari teman-teman kuliah, teman seperjuangan di Bontang, termasuk salah satu sahabat dekat saya. Rasanya seperti Semesta berkonspirasi sekali :'')

Tapi, dari kalangan keluarga justru nggak ada pernikahan sama sekali tahun ini. Hiduuuupp~~

Masalah pernikahan ini sempat diperhatikan superior saya ternyata. Penyebabnya, beberapa kali saya minta ijin pulang untuk menghadiri undangan pernikahan. Tiga kali sih seingat saya, untuk salah satu sahabat dekat saya dan dua ciwi PEP yang kebetulan waktunya berdekatan.

"Kamu ke nikahan orang terus, kapan nyiapin untuk nikahan sendirinya?"

Untungnya, seperti kepindahan rumah tadi, banyaknya undangan nikah ini juga membawa hikmah yang mengesankan tahun ini, berkesempatan travelling ke beberapa tempat yang belum pernah dijelajahi. Padang, Bukittinggi, Surabaya, Malang, Tulung Agung, Kediri... (yang terakhir itu masih 'numpang lewat' :p)

Dari segi resolusi kedua, tahun 2016 nggak terlalu banyak meninggalkan kesan berarti. Kecuali bahwa tahun ini kadang menuntut kesabaran super ekstra. Ada beberapa hal yang ingin dicoba tahun ini dan kadang sukses. Misalnya, memberanikan diri mengikuti Merdeka Sailing Race dan akhirnya meraih juara kedua. Atau, mencoba dive course tapi akhirnya nggak jadi karena berenang biasa pun nggak kuat :p

2. Downs
Yang masih diingat dari tahun ini adalah kepergian salah satu ua yang paling disayang. Begitu mendadak, bahkan bisa dibilang singkat. Beliau pergi dalam suasana Idul Fitri. Suasana yang seharusnya dijalani suka cita. Tahun ini, saya justru merasa benar-benar  kehilangan euforianya. Udah mah kerja full selama dua hari tanggal merah itu, sedikit banget kesempatan buat ngobrol lama sama keluarga, ada kabar duka.. :(

Tahun ini, satu ujian juga menimpa keluarga. Berat juga memang waktu menjalaninya, tapi pada akhirnya semua harus disyukuri karena pasti ada hikmahnya.

3. Resolusi Ketiga
Pada bulan-bulan akhir tahun 2016, jalan menuju resolusi ketiga mulai terlihat. Secara tiba-tiba, sederhana, dan nyata.

"Sudah ada yang ngatur itu.."

Jalan ini membuat saya semakin percaya, kesabaran pasti akan berbuah manis. Semoga selalu dijaga ya :')

Apapun yang sudah terjadi, tahun 2016 memberikan cukup banyak pelajaran berharga. Tentang saya pribadi, sebagai seorang anak, teman, pekerja, atau predikat lainnya. Terima kasih kepada semua yang telah mengisi tahun 2016 saya. Yang telah memberikan warna walau kadang tanpa diminta.

Selamat menyambut tahun 2017. Semoga bisa mengisinya dengan lebih baik, bermanfaat, dan berkesan :)

This entry was posted in

Friday, November 25, 2016

Journey to The West (Sumatra) Part. 2

Konon katanya, menjelajahi Sumatra Barat nggak cukup dalam waktu satu minggu. Apalagi kalau sekedar 2 - 3 hari atau memanfaatkan misi ke kondangan seperti saya. Satu kota di Sumatra Barat aja punya banyak daya tarik dan ciri khas masing-masing. Belum lagi kalau suka pantai, duh cantik-cantik banget deh pantai di sana itu!

Bagi wedtraveller seperti saya, undangan pernikahan di kota baru justru agak membuat salah fokus. Alih-alih merencanakan bagaimana tampil kece di kondangan, saya lebih suka membuat itinerary sederhana tempat apa saja yang bisa dikunjungi dalam waktu singkat. Bahkan kalau bisa dimulai dari malam pertama menjejakkan kaki di kota tujuan itu.

Cerita sebelumnya: Journey to The West (Sumatra) Part. 1

Setelah cukup puas mengenal Bukittinggi di malam hari, saya dan partner kembali merencanakan jalan-jalan sebelum kondangan. Kebetulan acara kondangannya siang hari mulai pukul 11.00 WIB sehingga kami punya cukup banyak waktu untuk menjelajah lagi.

Untuk menghemat waktu, saya dan partner sepakat nggak sarapan di hotel. Berbekal petunjuk dari Waze, kami memulai perjalanan dengan jalan kaki. Sama seperti malam hari, udara pagi di Bukittinggi masih cenderung sejuk. Nggak membuat terlalu berkeringat meski cahaya matahari juga cukup cerah bersinar.
Selamat pagi, Bukittinggi! :')
Tujuan utama kami pagi itu adalah Goa Jepang. Terletak berdekatan dengan Ngarai Sianok, gua bersejarah ini memakan waktu tempuh sekitar 15 menit jalan kaki dari hotel. Sebenarnya bisa lebih singkat karena secara geografis gua yang ada di Taman Panorama ini terletak di belakang hotel! Kami terpaksa berjalan memutar karena mengikuti petunjuk Waze yang memberi petunjuk untuk jalan dengan kendaraan. FYI, jalan di depan hotel itu memang searah, jadi kalau pakai kendaraan memang harus memutar :__)))

Foto dulu biar nggak sedih karena jalannya memutar padahal ternyata bisa tembus langsung dari belakang hotel :))
Sampai di area Taman Panorama, kami disambut sekelompok pemuda yang entah sedang apa. Terlihat ramah kok, tapi tetap aja perlu waspada. Setelah membayar tiket masuk, saya dan partner langsung bergerak mencari spot foto. Ternyata, mungkin kami diperhatikan salah satu dari pemuda di pintu masuk tadi karena dia langsung menghampiri dan menawarkan memotret kami #pede.

Singkat cerita, uda ini memperkenalkan diri sebagai semacam tour guide untuk memandu ke Goa Jepang. Kalau yang saya tangkap dari ceritanya, sepertinya dia adalah 'mitra binaan'nya Disbudpar Bukittinggi untuk menjadi pemandu wisata di sekitar kawasan itu. Tidak hanya memahami sejarah Goa Jepang, Uda Ade juga terlihat menguasai informasi objek wisata di sekitar Taman Panorama itu.


Bahkan Uda-nya yang lebih semangat mengarahkan kami berpose di tempat yang punya background kece dan nggak backlight :p
Sekilas, saya jadi membandingkan dengan Goa Jepang yang ada di Tahura Bandung. Di sana juga ada jasa 'pemandu wisata', tapi terkesan 'menodong'. Yang di Bukittinggi ini, pendekatannya sopan dan terbuka. Sebelum masuk ke dalam goa, kami di-briefing singkat sekaligus diberi tahu harga jasa guiding-nya.

Berdasarkan informasi dari Kompas Travel, Goa Jepang pertama kali ditemukan tahun 1950. Konstruksinya sendiri dimulai tahun 1944 dan memakan waktu sekitar tiga tahun untuk menyelesaikannya. Pembangunan Goa Jepang menggunakan tenaga kerja dari Sulawesi, Jawa, dan Kalimantan. Tidak ada warga Bukittinggi yang dilibatkan pada pembangunan untuk menjaga kerahasiaan. Sebaliknya, mereka justru dikirim ke luar Sumatra untuk dipekerjakan secara paksa di proyek Jepang lainnya.

Memasuki Goa Jepang, kita perlu menuruni ratusan anak tangga. Goa dengan kedalaman sekitar 49 meter di bawah permukaan tanah ini memiliki panjang sekitar 6 kilometer dan bisa dijelajahi sekitar 20 menit untuk sampai di ujung jalan yang menjadi pintu keluarnya.

Pada masanya dulu, Goa Jepang ini merupakan tempat persembunyian tentara Jepang. Berbeda dengan gua pada umumnya yang dingin, lembap, gelap, dan menimbulkan gema jika ada suara, Goa Jepang yang di Bukittinggi ini terasa lebih 'rapi'. Sebagian besar dinding sudah ditutupi semen, tetapi tidak mengurangi penampakan aslinya. Yang unik, dinding gua yang masih asli sengaja dibuat tidak merata. Ada ceruk yang berfungsi meredam suara dalam gua sehingga tidak terjadi gema. Jepang udah cerdas dari dulu ya :')

Konon, lokasi yang juga dikenal sebagai 'Lubang Jepang' ini mampu menahan letusan bom hingga 500 kg. Ketika ada gempa di Sumatra Barat pun, gua yang mulai dibuka untuk umum tahun 1984 ini nggak mengalami kerusakan parah. Hanya lapisan semennya yang rontok, sementara kontur dindingnya tetap utuh.

Inilah beberapa ruangan dalam guanya:

Ini pintu masuknya

Inilah peta rencana pembangunan guanya. Beberapa bagian nggak bisa dimasuki / dilihat.

"Kalau mau foto-foto di dalam, ada aturannya."
"Apa?"
"Harus senyum."
" :___)))"

Jangan takut gelap :)



Bahkan udah ada EEAA! :))



Yang jelas bukan sidang usmas / skripsi..

Dapur yang nggak berfungsi sebagai 'dapur' pada umumnya :(

Ada kalanya kita bertemu persimpangan dan harus memilih..
Keluar dari Goa Jepang, waktu ternyata masih cukup pagi buat siap-siap kondangan. Saya dan partner memilih melanjutkan lagi perjalanan kami ke dua tempat wisata alam yang letaknya nggak jauh dari Taman Panorama tadi. Tunggu ceritanya di part.3 ya :D










Wednesday, October 26, 2016

Wednesday, September 21, 2016

Journey to The West (Sumatra) Part. 1

Kalau di serial Kera Sakti, perjalanan ke barat dilakukan tokoh utamanya untuk mencari kitab suci. Sementara di kehidupan nyata, saya dan teman seangkatan kerja baru-baru ini melakukan perjalanan ke barat untuk mencapai sebuah misi: menghadiri undangan pernikahan.

Adalah Bukittinggi, kota yang menjadi tujuan utama kami. Terletak di Sumatra Barat yang belum pernah saya dan partner kunjungi membuat antusiasme kami meningkat. Meski di awal sempat deg-degan merencanakan perjalanan karena ternyata ada agenda mendadak yang 'nyempil'.

Sebelum mencapai Bukittinggi, kami harus ke Padang terlebih dahulu dari kota masing-masing. Saya dari Surabaya, sedangkan partner saya dari Balikpapan. Ternyata tidak ada penerbangan langsung untuk semua maskapai. Transitnya pun cukup lama dan ada di beberapa tempat. Untunglah kami menemukan rute Lion Air baik dari Surabaya maupun Balikpapan yang bisa sama-sama transit di Batam selama dua jam. Total waktu tempuhnya pun mungkin paling singkat, 'hanya' sekitar lima jam. Partner saya tiba lebih dulu dan saya menyusul sekitar satu jam kemudian.

"Kita foto di depan toko oleh-oleh aja. Eh tapi kok jadi kayak di depan minimarket biasa? :))"
Hujan di Hang Nadim :')
Pemandangan dari udara sepanjang Batam - Padang aja udah membuat nggak jadi tidur
Setelah dicurhatin partner yang perjalanan udaranya mengalami beberapa drama, kami melanjutkan perjalanan dengan travel dari bandara Minangkabau menuju Bukittinggi. Estimasi waktu tempuh adalah 2,5 - 3 jam dengan rute perjalanan relatif lurus dan mulus.

Ada yang unik dari travel APV yang kami tumpangi ini. Sepanjang perjalanan, drivernya nyetel lagu berbahasa Minang! Saya dan partner sama-sama nggak ngerti, jadi kami cuma menebak-nebak arti liriknya. Karena saat itu hari juga sudah gelap (kami tiba sekitar pukul 18.00 WIB), nggak banyak pemandangan yang bisa dilihat. Jadilah kami ngobrol ngalor-ngidul plus mendadak terharu karena di tengah perjalanan drivernya memberikan air mineral gelas kepada semua penumpang. Duuh, naik travel Bontang - Balikpapan yang dua kali lipat jauhnya aja nggak pernah diperhatiin sampai sebegitunya :""")))

Sampai di Bukittinggi sekitar pukul 21.00 WIB, kami langsung check in di Grand Rocky dan meletakkan barang. Hotel ini sepertinya masih baru dan cukup recommended. Kami memesan kamar dengan twin bed dan kalau pagi pemandangannya bagus banget! Lokasi hotel juga strategis, dekat tempat-tempat wisata populer dan bisa ditempuh hanya dengan berjalan kaki.

Source: Trip Advisor

Source: Booking.com
Udah agak malam untuk jalan sih, tapi karena lapar, kami sepakat langsung mencari udara luar. Untungnya, tumben-tumbenan partner saya yang biasanya nggak mau makan pedas lagi ngidam hal yang sama: sate padang! Udara Bukittinggi malam hari dingin menyegarkan. Nggak perlu pakai jaket juga nggak papa.

Berbekal arahan dari orang-orang di sekitar hotel, kami berjalan kaki sekitar 5 menit dan menemukan warung makan yang menjual sate padang. Sayang sudah habis, jadi kami mencari lagi dan ternyata ketemulah dengan "Pusat Kuliner Jl. Ahmad Yani". Kalau belum terlalu malam, mungkin tempat itu ramai.

Kami memesan seporsi sate danguang-danguang untuk masing-masing. Saya pakai lontong dan ini pilihan tepat kalau lagi lapar karena ternyata porsinya nggak sebesar dugaan awal. Sate danguang-danguang ini rupanya adalah sate khas Bukittinggi. Berbeda dengan sate padang yang mungkin sering kita jumpai di Jawa, daging pada sate danguang-danguang diberi kelapa sebelum dilumuri bumbu sehingga rasanya lebih gurih dan mengurangi kepedasannya.

Porsi mini .__.
Kenyang makan malam, kami mencari tujuan lain yang bisa dikunjungi selarut itu. Pikiran pun langsung tertuju pada Jam Gadang, salah satu ikonnya Ranah Minang. Berbekal arahan dari Waze, kami jalan kaki mengikuti petunjuknya dan ternyata dekat sekali! Nggak sampai 5 menit sih kayaknya :))).

Sedikit tips membaca Waze, tetaplah lihat peta secara keseluruhan karena kita umumnya mengatur settingan arah untuk ditempuh dengan kendaraan. Beberapa jalan di Bukittinggi ini cenderung satu arah sehingga kalau mengikuti petunjuk Waze, kita harus berjalan memutar padahal sebenarnya bisa lurus terus jalannya. Ngerti kan ya maksudnya? Atau bisa juga sih settingan Wazenya langsung diubah menjadi jalan kaki hehe.

Sampai di Jam Gadang, kami langsung mencari posisi yang pas untuk 'pemotretan'. Selain bangunan jamnya, ternyata ada semacam taman kecil di sekitar situ.Meski saat itu sudah pukul 22.00 WIB lebih, suasananya masih lumayan ramai terkendali dan di salah satu sudut taman ada Satpol PP yang berjaga-jaga. Rasanya aman :')

FYI, mungkin sisi ini adalah yang terbaik untuk memotret dengan latar belakang jamnya 
Puas berfoto (dan nyemil kacang rebus karena lapar lagi), kami memutuskan kembali ke hotel untuk istirahat. Perjalanan pulang ini cukup nanjak. Untungnya rasa lapar sudah hilang, berganti rasa mulai kedinginan. Malam pertama di Bukittinggi kami sepakat memiliki kesan yang baik terhadap kota ini: udaranya sejuk tetapi tidak menusuk, malamnya relatif sepi tetapi masih aman, dan enak untuk dijelajahi dengan berjalan kaki.