Showing posts with label Cerita Putri Pena. Show all posts
Showing posts with label Cerita Putri Pena. Show all posts

Thursday, April 28, 2016

Cerita Putri Pena: Yang Kedua

“Aku memiliki dua penawaran untukmu,” kata Panglima Pasukan Pertahanan dengan suara rendah. Sore itu, kami sedang berada di Ruang Pertemuan. Sang Raja mengundang para panglima dan beberapa prajurit membicarakan strategi memakmurkan negeri.
“Dua penawaran? Untukku?” Aku masih belum menangkap arah pembicaraan yang tiba-tiba itu.
“Yang pertama, seorang prajurit yang sepertinya sudah tidak asing bagimu, bagi kita semua. Ia hadir nyaris di setiap pertemuan yang diadakan oleh Sang Raja, kecuali hari ini. Prajurit yang selalu bersikap ceria dan kadang mengundang gelak tawa.”

Wednesday, April 27, 2016

Tuesday, April 26, 2016

Cerita Putri Pena: Pada Awalnya

“Jadi, apa yang kau ketahui tentang Negeri Energi?”
“Aku? Sejujurnya aku tidak tahu sampai terjadi perang itu yang mengharuskanku menyelamatkan diri.”
“Tidak tahu? Tidakkah kau pernah mendengar sedikitpun tentang negeri indah ini?”
Ia menggeleng.
“Bukankah negeri ini bertetangga dengan kerajaan tempatmu tinggal dulu?”
Ia tersenyum. “Tetapi aku benar-benar tidak tahu apapun. Mendengar namanya pun rasanya sangat jarang. Kurasa itulah tugasmu kelak.”
“Kau menambah tugasku saja. Tidakkah kau ingin membantu?”
Aku menghela nafas. Ia tersenyum lagi, lebih lebar.

Cerita Putri Pena: Didengarkan

Selamat datang di Negeri Energi! Sebuah negeri yang selalu mendorong penduduknya melakukan inovasi. Negeri yang menginginkan penduduknya mempelajari hal baru dengan cepat setiap hari. Negeri tempatku berada kini.
Bukan tanpa alasan aku berada di sini. Negeri Energi memiliki nyaris segalanya yang aku inginkan, mungkin juga sebenarnya aku butuhkan. Pembelajaran, kesempatan, kedamaian. Negeri Energi adalah negeri yang telah Semesta pilihkan.
Berada di Negeri Energi membuatku merasa muda kembali. Akupun menggunakan identitasku sebagai seorang prajurit, sama seperti beberapa pendatang baru dari berbagai penjuru. Mungkin di antara mereka pun ada yang menjadi seorang pangeran atau putri di negerinya terdahulu, tetapi di Negeri Energi mereka tidak memperlihatkan itu.
Semesta rupanya menepati janjinya untuk “memberikan kesempatan baru”. Tidak ada yang kukenal di sini, begitu pula sebaliknya. Aku benar-benar harus beradaptasi dari awal lagi. Tidak terlalu sulit menurutku, tetapi tidak juga bisa dikatakan mudah. 
Semakin hari, kehidupan terasa semakin sibuk. Mengalahkan Negeri 1000 Dagang bahkan. Dan sepertinya, aku harus meralat pernyataanku tadi.
Sulit. Di sini sulit. Penduduknya menginginkan setiap prajurit memiliki kemampuan seperti panglima. Dalam waktu singkat. Bagaimana bisa?
Ditambah, sedikit sekali sosok yang bisa mendengarkan. Yang bisa menyimak. Menjadi tempat berbagi kisah, walau mungkin akan lebih banyak keluh kesah. Semua ingin didengarkan. Lalu, kapan mereka mau mendengarkanku?
Ah ya, aku masih memiliki Semesta untuk mendengarkanku. Aku akan selalu mengingat itu.

Monday, April 25, 2016

Cerita Putri Pena: Menemukan

Dalam perjalananku, aku menemukannya. Ia ada di sana, ketika aku berhenti sejenak. Ia yang pertama menyapa, lalu kami berbagi cerita.
Dalam perjalananku, aku menemukannya. Ada sesuatu yang berbeda dalam dirinya. Mungkin, itulah pesonanya.
Dalam perjalananku, aku menemukannya. Rupanya, tujuan kami sama. Sayangnya, arah langkah berbeda. 
Akankah kami bertemu lagi di ujung sana? Kalau dari awal ia yang menemukanku, mungkin kisah ini akan berbeda. Tapi, Semesta selalu punya cara menyelesaikan kisahnya, bukan?

Sunday, April 24, 2016

Cerita Putri Pena: Pergi

Pada akhirnya, aku memilih pergi. Meninggalkan kehidupanku yang lama. Menjemput mimpi dan harapan baru.
Kau masih ingat ketika Semesta memberiku tiga pilihan? Aku memilih yang pertama. Yang membuatku terpisah dengan apa yang pernah kumiliki. Yang membuatku mengulangi segalanya nyaris dari awal. Menjadi ksatria dan putri serba bisa untuk menghadapi tantangan zaman.
Aku belum bisa memberitahumu keberadaanku. Yang pasti, sudah jauh dari Negeri Kilau, Kerajaan Tulis, apalagi Negeri 1000 Dagang. Aku akan menempa diri di tempat yang menawarkan kedamaian.
Mungkin sesekali kau juga perlu pergi. Jauh, dari keberadaanmu saat ini. Jika bukan untuk menempa diri, setidaknya kau akan tahu, siapa selama ini mereka yang benar-benar peduli.

Saturday, April 23, 2016

Cerita Putri Pena: Jembatan

“Astaga! Aku tidak pernah menyangka ada tempat seindah ini di Negeri Kilau!”
“Desa ini memang sangat jarang mendapat kunjungan. Keberadaannya pun hanya diketahui orang-orang tertentu. Beruntung, Sang Raja saat ini memiliki kepedulian yang sangat tinggi sehingga mau mengunjungi mereka.”
“Betul. Apakah ini kunjungan pertamamu juga, seperti aku?”
“Tidak. Aku cukup sering ke sini. Sekedar mencari ketenangan, atau bermain dengan anak-anak desa.”
“Ketenangan? Di sini?” Aku menatap sekeliling. Bagaimana ia bisa mendapatkan ketenangan di tengah hiruk pikuk warga yang beraktifitas setiap harinya?

Friday, April 22, 2016

Cerita Putri Pena: Terima Kasih

Terima kasih, untuk pernah menjadi bagian dari hidupku
Terima kasih, untuk datang, menghilang, kembali, lalu pergi
Terima kasih, untuk mengajarkan dan membuatku menjadi seorang putri yang kuat
Yang sanggup menyelesaikan berbagai permasalahan hidup, dengan atau tanpa seseorang di sisinya
Terima kasih, untuk menunjukkan bahwa tidak semua ksatria mampu bersikap seperti layaknya gelar yang ia sandang
Bahwa ada juga ksatria yang pengecut dibalik pedangnya yang tajam. Bahwa ada juga ksatria yang manis dalam berkata dan menebar janji belaka
Terima kasih, untuk membuatku melihat lebih dekat dan mendengarkan nasihat-nasihat orang terdekat
Terima kasih, untuk menjadikanku mempercayai janji Semesta: selalu ada yang baik untuk yang baik.
Selamat menempuh hidup baru.

Thursday, April 21, 2016

Wednesday, April 20, 2016

Cerita Putri Pena: Serupa, Tapi Tak Sama

Aku melihatnya di gerbang perbatasan Negeri 1000 Dagang. Bersama rombongan kecilnya, ia menunggu untuk melewati pos pemeriksaan. Sesekali ia mengusap tunggangannya. Tampaknya ia sangat menyayangi kuda hitam nan gagah itu.
Ia. Aku tidak tahu namanya. Bahkan tidak tahu siapa dia sebenarnya. Bukan ksatria Negeri 1000 Dagang, kurasa. Karena beberapa kali mengunjungi negeri penuh cerita itu, aku baru pertama kali melihatnya.

Tuesday, April 19, 2016

Cerita Putri Pena: Pangeran untuk Putri

Hari ini, aku berkuda menuju Hutan Hijau. Ini adalah Hari Bebas-ku, satu hari di mana aku bebas untuk tidak melaksanakan kewajiban sebagai seorang prajurit Negeri Kilau. Setiap tahu nnya, seorang prajurit pasti akan mendapatkan hari ini, sesuai kebijakan Yang Mulia.
Suasana Hutan Hijau masih belum berubah. Syukurlah, setidaknya masih ada hal baik yang bertahan. Pepohonan bertambah rimbun, Sungai Bening bertambah jernih. Air suci masih menjadi tempat kegemaran para ksatria dan prajurit dari berbagai penjuru. Entah sekedar melepas lelah atau memang tergoda mencicipi air yang konon memiliki khasiat tertentu itu.

Monday, April 18, 2016

Cerita Putri Pena: Kebetulan-kebetulan

Pernahkah kau mengalami kebetulan dalam hidupmu? Pasti pernah. Atau kau tidak menganggapnya sebagai kebetulan, melainkan hasil pengaturan Semesta?
Suatu hari, aku pernah memanjatkan doa pada Semesta. Memohon kehidupan baru, ilmu baru, dan kebahagiaan baru. Dan aku berjanji, akan bersabar menunggu mendapatkan semua itu.
Entah doaku sudah terkabul atau belum, tetapi saat ini kehidupanku terasa jauh lebih berwarna. Negeri Kilau yang dinamis membuatku mendapatkan ilmu baru nyaris setiap hari. Tidak hanya sebagai seorang prajurit, tetapi juga ketika menjadi diriku sendiri. Menjadi seorang Putri Pena.

Sunday, April 17, 2016

Cerita Putri Pena: Strategi dari Masa Lalu

“Hari ini kita akan mempelajari strategi baru. Strategi menguasai kawasan tak berpenghuni,” jelas Panglima Strategi setelah kami berkumpul menghadap Sang Raja. Kami yaitu aku, sang Panglima, Prajurit Api, serta Prajurit Angin.
Sebagai negara baru, Negeri Kilau memang masih akan terus memperluas wilayah kekuasaannya. Namun, Sang Raja tidak pernah mengijinkan pasukannya menduduki kawasan yang sudah menjadi milik negara lain. Ia tidak menyukai peperangan apalagi kalau untuk merebut wilayah.

Saturday, April 16, 2016

Cerita Putri Pena: Kesehatan, Lembah Biru, dan Panglima Strategi

Apa kabar? Kuharap kau benar-benar sehat di tengah cuaca yang tidak bersahabat belakangan ini. Ya, angin kencang dan hujan deras kini rutin mendatangi Negeri Kilau, membuatku tidak bisa meninggalkan tempat tidur selama lima hari lebih. Suaraku nyaris hilang, tetapi syukurlah Prajurit Api membawakan ramuan penyembuh tiap hari.
Jadi, sungguh, aku ingin mengetahui kabarmu dan kuharap kau baik-baik saja.
Ada banyak hal yang ingin kuceritakan padamu. Sayangnya tabib Sang Raja masih melarangku menulis terlalu banyak. Hari ini aku diijinkan bertemu kembali dengan penaku karena menurutnya keadaanku sudah membaik.
Bagaimana kalau kumulai dengan cerita Lembah Biru?

Friday, April 15, 2016

Cerita Putri Pena: Negeri Tetangga

Selamat pagi! Coba tebak aku berada di mana?
Pagi ini aku menemani sang Raja, Ratu, dan beberapa panglima ke Negeri 1000 Dagang. Iya, kau tidak salah membacanya. Negeri tempat sang Ksatria. Negeri tempatku pernah menjalin kisah bahagia.
Kunjungan kali ini berkaitan dengan strategi pertahanan Negeri Kilau. Konon Raja Negeri 1000 Dagang bersahabat erat dengan Sang Raja dan ia dikenal pandai mengatur strategi. Sang Raja tidak menginginkan adanya perang, tetapi pertahanan biasa pun dikhawatirkan tidak mampu meredam kebencian.

Cerita Putri Pena: Pelantikan Mereka

“Lama tak jumpa! Bagaimana kabarmu? Sehat? Bahagia?” Sederetan pertanyaan lain langsung menyambutku setibanya di Istana Kerajaan Tulis.  Beberapa hari lalu Sang Raja dan Ratu mengundang kami, para Raja dan Ratu Muda mereka, menghadiri pelantikan Raja dan Ratu Muda yang baru. Sama sepertiku dan para sahabat, mereka mengalami pembelajaran yang tidak bisa dibilang ringan. Semoga kelak mereka dapat memimpin kerajaan dengan nilai-nilai yang telah diperoleh selama pembelajaran.
Pelantikan kemarin menjadi berkesan bagiku. Bukan karena mengenang masa ketika aku berada di posisi mereka, melainkan momen ini memberiku kesempatan bertemu kembali dengan para sahabatku. Dengan mereka yang juga telah meninggalkan Kerajaan Tulis dan menempuh jalan hidup masing-masing. Dengan mereka yang bisa menjadi teman berdiskusi sekaligus berbagi suka duka.
Sedikitnya ada sepuluh Raja dan Ratu muda yang hadir. Meski sudah menanggalkan pakaian kebesaran Kerajaan Tulis, mereka tetaplah seperti dulu. Tetap bisa menebarkan keceriaan dan semangat satu sama lain.
Tetap bisa membuatku lupa sejenak pada sang Ksatria yang konon sering berkunjung ke Hutan Hijau tanpa memberikan kabar.
Ngomong-ngomong, pada satu kesempatan, salah seorang sahabat menggodaku mengenai hal itu. Tentang aku dan sang Ksatria, maksudku. Candanya menyenangkan, tapi rasanya belum waktunya kuungkap dan kubagikan padamu. Aku hanya berharap, canda dan doa mereka didengar Semesta dan terwujud menjadi nyata. Suatu saat kelak. Semoga.

Thursday, April 14, 2016

Cerita Putri Pena: Darurat

“Seluruh Prajurit berkumpul di Ruang Pertemuan Istana! Keadaan Darurat!”
Pengumuman itu memecah kedamaian sore negeri tempat tinggalku. Negeri ini sangat jarang terlibat perang atau konflik dengan negara lain. Lalu, ada keadaan darurat apa sehingga Yang Mulia memanggil para prajuritnya?
Pintu tempat tinggalku diketuk. Prajurit Angin, Prajurit Lembah, serta Prajurit Air sudah menunggu. Tanpa sempat merapikan ruangan, aku bergegas menuju istana bersama mereka. Dalam perjalanan, kami bertemu Panglima Penyerang yang juga tampak terburu-buru. Ia bahkan belum menyarungkan pedangnya dengan sempurna.

Wednesday, April 13, 2016

Cerita Putri Pena: Pesan Prajurit Angin

“Jadi, ini ksatriamu?” tanya Prajurit Angin sore itu. Ia sedang mengunjungi tempat tinggalku, tepat ketika aku baru menyelesaikan satu lukisan sang Ksatria.
“Ya,” jawabku singkat.
“Di mana ia sekarang?” tanyanya lagi. Ia mulai mengingatkanku pada Putri Tutur yang banyak bertanya. Oh ya, di negeri baruku, tidak ada perbedaan untuk calon pangeran dan putri. Kami semua bergelar ‘Prajurit’ dan jika sudah lolos ujian akan mendapat gelar baru.
“Negeri 1000 Dagang,” jawabku kembali singkat. Sejujurnya aku belum terlalu ingin bercerita mengenai sang Ksatria pada para sahabat baruku di sini. Kami kan baru saling mengenal.

Tuesday, April 12, 2016

Cerita Putri Pena: Baru

Hai! Bagaimana kabarmu? Senang sekali aku bisa kembali bercerita kepadamu. Ya, sejak meninggalkan Kerajaan Tulis, hidupku ternyata tetap berjalan seperti biasa, bahkan mungkin lebih sibuk dibandingkan sebelumnya. Ah, kau sempat membaca tulisanku untuk ksatria itu? Iya, semoga ia membaca tulisan singkat itu.
Berbulan-bulan meninggalkan Kerajaan Tulis membuatku mempelajari banyak hal. Salah satunya, bagaimana menyesuaikan diri di lingkungan baru yang sangat berbeda dengan Kerajaan Tulis.

Monday, April 11, 2016

Cerita Putri Pena: Tidak Tahu

Apa kabar, Ksatria?
Maaf kalau kau merasa terganggu. Sesungguhnya akupun sudah tidak ingin menanyakannya lagi. Tapi, mereka terus bertanya padaku. ‘Bagaimana kabar Sang Ksatria?’ 'Bahagiakah ia dengan jabatannya kini?’ 'Kapan ia akan mengunjungi Kerajaan Tulis?’ 'Hubunganmu masih baik-baik saja dengannya, bukan?’