Showing posts with label RY Random Thoughts. Show all posts
Showing posts with label RY Random Thoughts. Show all posts

Wednesday, October 24, 2018

The Wonder Weeks App: Aplikasi Buat Ibu yang 'Nggak Pinter-pinter'

Halooo Ibu! Welcome to the new world! The world of joy, happiness, struggle, dan harus banyak banyak banyak sabar!

Tiga bulan pertama menjadi seorang Ibu ternyata jauh lebih struggle dibandingkan tiga bulan masa percobaan pekerja baru. Banyak pelajaran baru untuk memahami seorang 'manusia' yang nggak pernah terpikirkan sebelumnya.

Kalau masa percobaan kerja kita bisa menganalisis apa yang salah dan gimana mengatasinya, masa-masa awal memiliki anak terkadang sulit dipahami dan nggak melulu sesuai teori. Pada satu hari sang anak bisa tidur nyenyak di stroller, besoknya sama sekali nggak mau ditidurin di stroller, kasur atau di manapun, maunya digendong. Di hari lain menyusuinya tiap 2 - 3 jam, ada satu hari di mana sang anak rasanya harus disusui terus karena nggak kenyang-kenyang. Ada satu periode sang anak bisa tidur nyenyak semalaman, periode berikutnya tiap malam sang anak menangis tanpa sebab dan entah apa yang harus dilakukan untuk segera menenangkannya.

Durasi tidur malam sang anak adalah salah satu tantangan paling menguji kesabaran. Belakangan ini, Kanaya lagi susah tidur nyenyak di malam hari entah kenapa. Disusui sudah, popok diganti kalau basah sudah, diajak main sudah, tetaaaap aja matanya 'on'. Parahnya kalau sudah menangis, tangisannya menyayat hati. Nggak pake intro suara melemah dulu, langsung ke nada tinggi seolah abis diapain gitu :')).

Keadaan mirip seperti ini pernah terjadi di masa growth sprut-nya. Bedanya, saat itu dia masih mau menyusu. Atau setidaknya, menempelkan mulutnya untuk menyusu. Kali ini tidak. Terkadang dia menolak.

Ibu yang nggak pinter-pinter ini pun gugling sana-sini mencari berbagai kemungkinan penyebab. Kebanyakan tidur pagi/siang? Nggak juga karena di pagi-siang pun sulit ditidurkan. Kolik? Sepertinya juga bukan karena setiap abis menyusu Kanaya bisa sendawa, perutnya nggak kembung, dan saat menangis badannya nggak melengkung.

Akhirnya, sampailah saya pada satu kemungkinan: Fase Wonder Week. Fase ini menggambarkan periode perkembangan bayi yang meningkat tajam. Mau pinter sesuatu, kalau bahasa orang tua mah.
Jika dihitung manual dari hari kelahirannya, wajar kalau Kanaya memasuki Wonder Week ini. Tepatnya, di fase 'events', belajar mengenali sebab akibat yang sederhana. Penasaran lebih lanjut mengenai pertumbuhannya, saya pun 'bertemu' aplikasi yang bisa membantu menerjemahkan fase menakjubkan ini: The Wonder Weeks App.


Gambar bayinya gemaas!

The Wonder Weeks adalah aplikasi mobile yang memuat berbagai infomasi mengenai fase wonder week sang anak. Data disajikan dalam bentuk chart dan disertai penjelasan untuk setiap fasenya.

Kalau sang anak sedang memasuki suatu fase, orang tua akan mendapat gambaran mengenai apa yang sedang dialami sang anak, kemampuan barunya, pertanda yang ditunjukannya, dan hal-hal yang bisa dilakukan orang tua untuk menunjang tumbuh kembangnya tersebut.

Untuk memulai penggunaan aplikasi ini, kita harus download dulu di ponsel. Kalau di Google Play, harganya Rp41.000,00 (note: ada blogger lain yang bilang, bisa juga akses via websitenya kalau mau gratis. Tapi ribet sih menurut saya kalau harus bolak-balik buka website hehe). Setelah itu, kita diminta memasukkan data anak: Nama, jenis kelamin, dan due date. Kenapa due date dan bukan tanggal lahirnya? Karena ternyata, perkembangan mental sang anak sudah dimulai ketika ia mulai 'terbentuk' sebagai janin. Selengkapnya bisa baca penjelasan di appsnya ya :)))

Selain tampilannya yang sederhana, aplikasi ini memiliki beberapa fitur bermanfaat seperti chart leap untuk mengetahui timeline wonder weeks ini, alarm untuk mengingatkan sang Ibu bersiap menghadapi fase ini, beragam artikel seputar wonder weeks (yang bisa diakses langsung dari aplikasinya, e-book atau beli printed book-nya), sampai notes untuk tempat curhat atau sekadar mencatat perkembangan sang bayi.

Meski baru meng-install-nya beberapa jam lalu, saya nggak ragu merekomendasikan aplikasi ini untuk dimiliki para ibu baru. Supaya nggak bertanya-tanya aja gitu kalau anaknya mendadak sering cranky tengah malam. Siapa tau sang anak memang lagi mengalami fase wonder week sehingga kita bisa menemaninya melalui fase tersebut dengan tepat.

Semoga rekomendasi aplikasi ini bisa membuat kita setingkat lebih cerdas ya Buibu. Kalaupun masih merasa nggak pintar juga dalam menangani anak, ingatlah, sang anak lebih membutuhkan seorang ibu yang bahagia dan selalu ada untuknya.

Selalu tersenyum di depan sang anak ya, Bu! 

Sunday, July 30, 2017

Tentang Memaafkan dan Melupakan

Pada suatu acara (sebut saja 'arisan') yang bertabur bocah, dua anak laki-laki terlibat perebutan mainan. Keduanya masib balita, mungkin sekitar 2 tahunan atau kurang. Belum bisa jelas bicara dan banyak berkata-kata.

Dua anak laki-laki ini, kita sebut saja dedek A dan dedek B. Mereka memperebutkan sebuah mobil mainan yang entah milik siapa. Mungkin punyanya dedek B, karena arisannya di rumahnya. 

Rebutan yang awalnya 'hanya' tarik-tarikan mobil mainan, meningkat menjadi dedek A memukul dedek B. Keduanya sama-sama kaget dan hampir menangis. Dedek B langsung melepaskan tangannya dari mobil yang diperebutkan dan terdiam. Dalam hitungan detik mungkin dia udah cirambay dan membuat suasana arisan makin 'ramai'.

Untuk mencegah hal itu terjadi, ibu masing-masing dedek langsung bertindak. Ibu dedek A menyuruh sang anak meminta maaf dan meminjamkan mobilnya ke dedek B. Ibu dedek B membesarkan hati anaknya dan menyuruh sang anak bermain mainan lain. 

Alih-alih memperhatikan cara mengasuh anak, adegan selanjutnya berlangsung unyu. Dedek A mengulurkan tangan, tanda meminta maaf kepada dedek B. Dedek B yang masih gengsi (atau sakit kena pukul? :'( ) diam, tidak mau melihat apalagi menerima uluran tangan itu. Ibu dedek B membujuk agar anaknya menerima permintaan maaf itu. Begitu juga ibu dedek A, mengarahkan sang anak untuk memberikan mobil-mobilannya sebagai tanda keseriusan meminta maaf.

Akhirnya dedek B luluh. Uluran tangan diterima, begitu juga dengan mobil-mobilannya. Bonusnya, dedek A mencium kening dedek B yang tadi sempat kena pukul. Walaupun nggak langsung main bersama, keduanya kembali asik dengan mainan masing-masing. Lupa dengan pertengkaran tadi. Para ibu mengapresiasi kejadian tadi dan memuji kedua dedek yang bisa sama-sama 'legowo'.

Kalau hidup sesimpel pemandangan tadi, mungkin semua terasa lebih mudah. Berantem sebentar, cepet baikannya. Yang satu cepat meminta maaf, yang satu lagi cepat memaafkan. Lupa sudah dengan penyebab atau bahkan rasa sakitnya setelah dikeplak. Main bareng lagi, ketawa bareng lagi. Indahnya menjadi anak kecil yang sudah memberikan pelajaran sederhana itu.

Nggak lama setelah 'perdamaian' dedek A dan dedek B, ada kejadian baru. Kali ini, dedek A rebutan dengan dedek C, anak perempuan seumurannya yang juga tertarik dengan mainan truk. Tanpa pikir panjang, dedek A kembali melayangkan keplakan singkat yang langsung membuat dedek C menangis. 

Ibu dedek A kembali memerintahkan hal yang sama kepada anaknya. Sementara, ibu dedek C menenangkan anaknya sambil membujuk sang anak untuk bermain boneka aja. Tak lama, dedek A akhirnya mendekati dedek C untuk meminta maaf. Mengulurkan tangan dan memberikan truk mainan. Plus, mencium kening dedek C untuk meredakan tangisnya.

Bukannya berhenti, tangis dedek C malah semakin keras. Entah karena masih sakit dikeplak, atau 'sakit' karena nggak berhasil mendapatkan yang diinginkan :__)). Butuh waktu agak lama sampai akhirnya dia berhenti menangis dan hanya memegang truk tanpa memainkannya.

Simpulan awal tentang anak-kecil-cepat-meminta maaf-dan-memaafkan pun berubah. Melihat situasi kedua tadi, mungkinkah anak perempuan pada dasarnya memang sulit memaafkan apalagi melupakan? Kalau kata teman saya malah, "Perempuan nggak suka main-main apalagi dimainin." :___)))

Semoga semakin besar akan semakin sadar, tidak ada salahnya meminta maaf duluan dan lebih berbesar hati memaafkan duluan. Kalaupun kebiasaan itu belum bisa mewujudkan perdamaian dunia, minimal bisa mewujudkan kedamaian bagi diri sendiri di tengah kehidupan yang semakin random.

Source: Pinterest

Tuesday, May 2, 2017

Berdoa untuk Jodoh

"Gue pernah denger, katanya kalo berdoa tuh yang spesifik," kata seorang teman di sela mini reunian baru-baru ini.

Di usia sepantaran kami, masalah jodoh memang menjadi topik yang selalu ramai dibicarakan. Kalau statusnya masih single available, topik bahasan biasanya seputar 5W + H Cara Mendapatkan Jodoh. Kalau salah satu ada yang sudah menemukan, topiknya akan lebih spesifik mengenai Tips & Trik Mendapatkan Jodoh. Tentu disertai bumbu-bumbu lain sehingga ceritanya jadi panjang dan lama.

Pada suatu masa, saya pernah berada di situasi di mana chit-chat dengan teman dekat hampir selalu berujung pada topik 5W + H ini. 'Galau', kalau bahasa kekiniannya mah. Umur semakin berkurang, kerjaan nggak berkurang-kurang, malah undangan pernikahan yang terus bertambah. Beberapa di antaranya dari teman dekat pula. Pada masa itu, kadang saya bersyukur hidup merantau nun jauh di sana. Mengurangi frekuensi ditanya "Kapan atuh?"! Karena yang nanya seringnya sambil senyum, maka jawabnya perlu sambil senyum dan pede juga walau belum ada bayangan sosok siapapun saat itu, "Tunggu aja. Nanti juga ada :)"

Pada suatu masa yang lebih lampau lagi (sebut saja di masa masih 'bocah'), saya juga pernah mendengar quote yang sama seperti teman saya tadi. Yang ngomong motivator pula, jadi aja langsung dipraktikkan. 

"Berdoalah yang spesifik, minta dengan detil, insyaAllah bisa lebih cepat terkabul," sarannya. Saya, yang kata orang-orang di umur segini pun masih 'polos', ya nurut aja. Meminta sesuatu kepada Sang Pemberi Segalanya dengan spesifik, detil, bahkan sampai disebutkan alasan memintanya.
 
Hasilnya?

Terkabul. Setelah beberapa bulan. Dan efeknya juga sebentar, sesingkat setelah alasan meminta dulu diperlihatkan :)))

Beberapa masa kemudian, saya tersadar bahwa mungkin yang terlalu spesifik itu belum tentu yang terbaik buat saya bila dikabulkan. Termasuk untuk urusan jodoh, yang dalam kamus saya disebutnya 'resolusi ketiga'.

Maka, saya merevisi doa untuk resolusi ketiga ini.

Bukan lagi 'segera', melainkan ketika saya dirasa oleh-Nya sudah siap. Sudah siap lebih bertanggung jawab, lebih dewasa dalam berpikir dan bersikap, juga sudah 'kenyang bermain'. 

Bukan lagi 'yang sempurna', melainkan yang bisa saya terima apa adanya sebagaimana sosok itu menerima saya seutuhnya
.
Bukan lagi 'yang terbaik versi saya', melainkan yang terbaik bagi saya versi-Nya, yang bisa menuntun saya menjadi pribadi yang lebih baik lagi dan semoga saya juga bisa mendampingi sosok itu untuk terus berkembang menjadi semakin baik.

Bukan hanya 'menjaga hati', tetapi juga menitipkan hati kepada-Nya supaya kelak bisa diberikan kepada sosok yang tepat, yang bisa menjaganya dengan baik, dan bisa saya jaga pula hati milik tersebut.

Dan jika kami pada akhirnya dipertemukan, disatukan dengan ridho-Nya, semoga semua yang kami perjuangkan dan kelak akan dijalani bisa menjadi ibadah dan bernilai berkah, bagi kami, keluarga, dan orang-orang di sekitar kami.

Yakinlah, doa yang dipanjatkan secara ikhlas dan rutin suatu saat akan dikabulkan. Doa random aja sering terkabul kok :__))) Apalagi doa yang sungguh-sungguh dan efeknya bukan hanya untuk sesaat, melainkan seumur hidup. Dan sambil menunggu doanya dikabulkan, teruslah memperbaiki diri, menebar kebaikan, memberi manfaat, dan tetap berpikir positif.

Sudah berdoa hari ini? :)

Source: Pinterest

Monday, April 17, 2017

Goals & Objectives

Hari ini di kantor, superior saya mengajak 'merumuskan' beberapa Goals & Objectives (G&O) seksi kami. Tumben, biasanya saya tinggal terima jadi aja hehe.

Membaca poin-poin G&O seksi membuat saya teringat kembali dengan resolusi-resolusi yang biasa disampaikan menjelang pergantian tahun atau usia. Alhamdulillah resolusi terbesar ketiga (alias 'resolusi ketiga) akan dicapai tahun ini. Tentu setelah itu ada lagi resolusi keempat, kelima, dan seterusnya yang ingin dicapai dalam hidup. Karena resolusi lingkupnya terlalu general, mungkin saya perlu 'menurunkannya' menjadi lebih spesifik. 

Source: Pinterest
Maka, inilah beberapa 'G&O Individu' yang ingin saya capai selama rentang usia satu tahun ke depan:

1. Bebas Pilek Per Bulan
Entah pengaruh cuaca yang makin labil atau badan yang mulai renta, belakangan ini rasanya adaaaa aja kena penyakit pilek/batuk/tenggorokan sakit/suara nyaris ilang. Mungkin kurang minum air putih. Mungkin juga kurang makan buah dan sayur.
Di usia yang baru ini, saya semakin sadar badan nggak se'kuat' dulu. Apalagi intensitas bergeraknya makin sedikit. Jalan kaki pun semakin jarang. Sering kerja di ruang ber-AC, tapi sekalinya ke lapangan matahari garis khatulistiwanya serasa di ubun-ubun.
Untuk mencapai poin ini, mungkin saya akan kembali rajin masak sayuran (yang itu-itu aja :""))) ) plus menyediakan buah-buahan di rumah. Dan lebih banyak bergerak deh, apalagi udah ada yang bisa diajakin jalan pagi-pagi di hari weekend atau trekking ala ala di hutan Kalimantan hehe.

2. Berani Nyetir Mobil
Matic aja. Dan kalau bisa punya sendiri aja. 

3. Mengikuti Lomba Individu / Menulis Paper
Maksudnya bukan lomba yang atas nama Perusahaan. Atas nama sendiri atau tim kecil juga nggak papa. Saya baru nyadar jiwa kompetisi mulai pudar karena udah jarang diasah. Menulis paper ini juga perlu supaya otak kiri dan kanan tetap terjaga keseimbangannya #naon. 

4. Masak Seafood
Yang jenis apapun, tapi kalau bisa selain ikan. Supaya yang mau dikasih makan nggak protes disuguhin ayam terus :___))) 

5. Jelajah Tempat Baru
Mengunjungi satu kota/negara yang belum pernah dikunjungi sama sekali. Syukur-syukur kalau bisa mengunjungi berdua ehehehe.

Itulah tadi lima poin G&O Individu yang ingin dicapai selama rentang usia satu tahun ini. Tolong ingatkan saya supaya konsisten ya. 

Kalau kamu, apa G&O nya yang masih ingin dicapai?

Monday, March 27, 2017

Satu Hari

Kadang saya suka bingung kalau ada libur sehari di tengah-tengah minggu. Mau ke luar kota nanggung dan ribet bikin ijin, tapi kalau di rumah aja kok ya... sayang. Mau di dalam kota pun ke mana? :__))

Mungkin inilah salah satu resiko dari ngayal di angkot di tengah macet parahnya Cileunyi - Jatinangor. Resiko dari pengen-tinggal-di-tempat-yang-tenang-tanpa-macet-dan panas-panasan. Alhamdulillah panas-panasannya aja yang dapet, macetnya nggak. Alhamdulillah, 'tenang'nya pun dapet.

Saking tenangnya, seperti udah kehabisan ide untuk quick getaway kalau libur sehari di tengah minggu. Semua tempat potensial udah dijelajahi dari jaman anak-anak PEP masih aktif kongkow bareng.

Ada sih satu hal yang penasaran pengen dicoba sebenernya: quick getaway dari pagi ke Jembatan Pagung. Bawa bekel dari rumah kalau perlu.

Entah kenapa, saya suka sekali suasana di sana. Sepi, tenang, tapi nggak menyeramkan. Nggak takut ada buaya, air maupun darat. Apalagi kalau matahari lagi nggak terlalu kuat bersinar. Ditambah angin sepoi-sepoi. Rasanya semua pikiran bisa diistirahatkan sejenak.

Sayangnya lokasinya termasuk 'jauh banget' kalau dari rumah. Seberani-beraninya dulu ngebolang di Bandung sendirian, kalau ngebolang di sini rasanya belum sepede dulu :)).

Lyfeeee~~

Source: Pinterest

Sunday, October 2, 2016

Monday, August 8, 2016

How You Met Your Partner?

Mendapat berita rencana dan undangan pernikahan secara bertubi-tubi dalam waktu dekat belakangan ini, sejujurnya membuat saya kembali sering memikirkan mengenai 'resolusi ketiga'. Salah satu goal & objective individu yang sampai saat ini progressnya masih gitu-gitu aja karena kadang juga masih bingung sendiri: mau mulai dari mana?

Beberapa orang yang saya tanya pendapatnya memberikan jawaban yang kurang memuaskan. Begitupun dari artikel-artikel tentang relationship, rasanya kok belum ada yang pas untuk diterapkan hehe. Akhirnya, saya memilih belajar dari pengalaman orang-orang. Menjadi sering bertanya, "Dulu ketemunya gimana?" kepada mereka yang sudah (mungkin merasa?) berhasil menemukan 'the right one'.

Salah satu teman saya yang akan menikah bulan depan bertemu dengan calon suaminya ketika sedang menyeberang jalan dari tempat tinggal ke kantor (iya, jarak kantornya sedekat itu memang hehehe). Si calon suami pernah melintas di jalanan itu sambil senyum, teman saya yang sedang berjalan bersama beberapa orang lainnya melihat, teman saya ini kebetulan juga suka tapi nggak mau geer si masnya tadi senyum untuk siapa. Dia juga mengaku beberapa kali melihat si mas itu melintas dekat kantornya, tapi masih belum tahu siapa dia.

Singkat cerita pada suatu hari, teman sekantornya merencanakan blind date untuk dia. Dan Semesta pun bekerja, pasangan blind datenya adalah si mas mas yang pernah melintas di jalan depan kantornya itu sambil senyum! Surprisenya lagi, sebenarnya mereka sudah pernah, bahkan sering bertemu di masa awal bekerja alias probation. Sayang, pada saat itu keduanya belum ada 'rasa'. Setelah blind date itu, keduanya jadi aktif berkomunikasi, jalan bareng, menjalin hubungan, dan pada akhirnya berani memutuskan akan hidup bersama. Rentang waktu dari blind date sampai mereka (akan) menikah adalah satu tahun.

Orang kedua yang saya kepo cerita 'pertemuan pertama'nya kebetulan adalah kakek jauh saya. Dengan semangatnya, baru-baru ini dia menceritakan perjuangannya untuk mendapatkan hati sang nenek (beserta keluarga terutama ayahnya! :)) ) selama setahun lebih.

Bagaimana dia bertemu sang nenek? Suatu hari, sang kakek berada di bengkel temannya untuk memperbaiki kendaraannya. Saat menunggu, melintaslah sang nenek keluar dari rumahnya yang memang dekat bengkel itu. Kakek ini penasaran dan berusaha mencari informasi dari temannya. Dengan menyebutkan ciri-ciri sang nenek, temannya memberi petunjuk bahwa gadis idamannya selalu pergi tarawih di masjid bersama keluarganya lewat jalan yang sama. Sang kakek pun mencegatnya. Mereka berkenalan, jalan bareng, dan akhirnya sang kakek berani melamar pujaan hatinya, membentuk keluarga bahagia sampai saat ini :').

Cerita yang agak-agak mirip FTV juga ada. Pelakunya adalah pejuang LDR yang sudah menjalin hubungan selama enam tahun lebih dengan pacarnya. Memasuki tahun ketujuh, teman saya ini (cewe) baru tahu bahwa dia punya sepupu jauh (sekali) yang tinggal di kota yang sama dengannya. Awalnya mereka sering bertemu sebagai saudara. Selang seminggu, entah apa yang Semesta rencanakan, perasaan itu berubah. Teman saya memutuskan menjalin hubungan yang lebih serius dengan orang yang baru dikenalnya selama seminggu dan rela melepaskan orang yang sudah bertahun-tahun 'menemaninya'. Satu caturwulan kemudian (hayooo berapa lama? :)) ), keduanya memutuskan untuk menikah dan tentu saja sudah mendapat restu keluarga masing-masing. 

Lain lagi cerita salah satu sahabat yang baru-baru ini menikah. Suaminya dulu adalah salah satu senior sekaligus tutornya untuk persiapan lomba yang dia ikuti di kampus. Cerita mereka semacam perpaduan antara 'right man in the right time' yang berpadu dengan pepatah klasik 'witing tresno jalaran saka kulina'. Sahabat saya abis patah hati, dia mengobatinya dengan ikut lomba di kampus, ternyata tutornya memang sebenarnya sudah menyimpan rasa kepada dia, dan kesempatan untuk mengungkapkan itu akhirnya ada.

And theeeen...they live happilyyyy....~~

Sejauh pengamatan saya, ternyata sebenarnya sosok 'the right one' itu kadang nggak jauh dari kita. Sudah dekat. Sedekat pernah berada di circle yang sama. Sedekat tinggal di wilayah yang sama. Sedekat memiliki banyak kesamaan lainnya.

Lalu kalau ternyata sudah dekat, harus bagaimana?

Kalau kamu mengalami atau punya cerita yang unik tentang "Dulu ketemunya gimana?", share juga doong :)

Sunday, July 24, 2016

Siap Atau Belum Siap, Itukah Pertanyaannya?

Beberapa waktu lalu, saya dan beberapa teman seangkatan kerja diundang ke pernikahan salah satu putrinya mitra kerja. Lokasinya cukup berbeda dari resepsi pernikahan pada umumnya, di GOR salah satu perusahaan. Boleh juga idenya, pikir saya, cukup bisa menghemat anggaran untuk kursi karena para tamu bisa duduk di kursi tribun yang memang sudah tersedia hehehe.

Sambil memilih hidangan apa lagi yang akan disantap setelah Kambing Guling, saya memandang ke arah pelaminan. Dengan posisi duduk di tribun, pemandangan di area resepsi itu cukup luas terlihat. Kedua mempelai beserta keluarga seolah nggak lelah memberikan senyum kepada para tamu yang datang dan memberikan doa restu. Sementara itu anggota keluarga mereka yang lain juga turut larut dalam keceriaan, bahkan ada yang menyumbang beberapa lagu untuk sang mempelai.

Pikiran kemudian beralih ke keluarga besar. Dengan randomnya, satu pertanyaan terlintas, "Seru ya mengadakan acara nikahan seperti ini! Kok kayaknya di keluarga besar (dari pihak Bapak maupun Ibu) udah jarang banget ada acara kayak gini. Kapan terakhir kali merasakan euforia menjadi 'keluarga mempelai' ya?"

Kerandoman ini mungkin disebabkan oleh Kambing Guling!

Karena nggak lama kemudian saya tersadar...

..kalau sesuai 'urutan' usia, cucu perempuan yang masih available dari kedua keluarga besar ya saya! Yang artinya sangat potensial ada acara nikahan itu kalau.... :____))))

Secara ya, biasanya kan keluarga mempelai perempuan yang lebih bersemangat dan punya kontribusi lebih besar (atau memang wajib?) mengurus ini itunya dalam sebuah acara pernikahan.

Well, karena jarang ketemu keluarga besar, sejauh ini saya masih minim digerecokin pertanyaan 'Kapan' itu. Nggak tau ya kalau ternyata mereka nanyanya ke orang tua :(.

Menikah, bagi saya, adalah resolusi ketiga terbesar dalam hidup yang ingin sekali dicapai dengan baik. Dua resolusi sebelumnya Alhamdulillah sudah diperoleh, dengan proses yang lumayan membuat jatuh bangun tapi pada akhirnya indah. Kadang saya berpikir, mungkin karena 'hal ini' saya jadikan sebagai resolusi ketiga, tantangan yang dihadapinya akan sedikit lebih tinggi plus waktu ujiannya.. diperpanjang? .__.

Suatu hari, saya pernah chit-chat dengan salah satu teman dan tercetuslah pernyataan bahwa, "Saya ingin meraihnya (resolusi ketiga), tapi kok sampai sekarang belum kepikiran dengan segala printilan untuk merayakan 'hal itu' ya?"

Kadang ada kan, seseorang yang sudah benar-benar ingiiiiin sekali meraihnya sampai sudah merancang konsep perayaannya mau seperti apa, baju yang akan dikenakannya model gimana, dan blablabla lainnya. Sejauh ini 'persiapan' saya kalau untuk perayaannya baru sebatas follow beberapa akun tempat berkumpulnya vendor wedding party (semacam Bride Story etc), kepoin beberapa desainnya Vera Kebaya, dan.. 'menilai calon yang potensial'.

Saya lebih tertarik mempersiapkan kehidupan nyata setelah sebuah pesta untuk 'hal itu'. Untuk menjadi pendamping, makmum, 'manajer' keluarga... apapun predikatnya kelak. Beberapa persiapan sebenarnya sudah dicicil, yang terlihat jelas mungkin sejak SMA dan tinggal di asrama. Belajar membiasakan diri hidup bersih dan rapi, belajar disiplin, dan ilmu lainnya yang nggak dipelajari secara teoritis.

Mungkin kerandoman ini jugalah yang membuat saya menemukan artikel ini di tengah memikirkan jawaban baru kalau ditanya 'Kapan?': 14 Pertanda Bahwa Kamu Sebenarnya Sudah Siap Menikah.

Ehm, coba sedikit dibahas versi saya ya..

1. Kamu tahu betul prioritasmu dan pandai mengaturnya.
Untuk beberapa hal, ya.

2. Time management-mu walau belum sempurna tapi setidaknya sudah berjalan lebih baik setiap harinya
Kalau menurut orang yang sering berinteraksi dengan saya sih, saya 'masih belum pintar' di bidang ini :__))

3. Selalu belajar untuk tidak egois dan mengerti kebahagiaan calon istri atau suamimu juga sepenting kebahagiaanmu.
Kalau orang lain apalagi orang terdekat bahagia, InsyaAllah saya juga ikut bahagia.. :)


4. Selain bisa memimpin dirimu sendiri, kamu juga bisa memimpin orang terdekatmu.
Mmm ini perlu minta pendapat orang-orang dekat sih sebenarnya, tapi kalau di keseharian terutama untuk hal-hal yang sederhana, seringnya pendapat saya cukup diterima dan diterapkan sih (misal: memutuskan tempat makan siang/malam! :p)


5. Kamu sudah bisa mengatur keuanganmu sendiri hingga stabil.
Alhamdulillah..kalau dibilang stabil ya sudah..dan masih terus belajar mengaturnya :)

6. Kamu bisa berpikir lebih dewasa dan terbuka terhadap banyak hal.
Bisa kok (semoga)

7. Emosimu juga sudah bisa dibilang stabil.
Udah. Bahkan untuk menghadapi beberapa orang/masalah bisa cenderung tiis saking stabilnya :)))

8. Kamu bisa menoleransi perbedaan.
Iya, nggak perlulah debat panjang lebar kalau menghadapi perbedaan atau mempertahankan argumen, apalagi kalau yang dihadapinya keras kepala~ IMHO, sih.

9. Kamu sadar betul hidupmu nggak akan sebebas pas kamu single.
Sadaaaarrrr :__))))


10. Kamu bisa menyesuaikan sikap dan perilakumu di berbagai keadaan.
Bisa, walau kadang mungkin keceplosan agak 'bocah' :p

11. Kamu nggak akan mengambil keputusan berdasarkan perasaan.
Untuk beberapa hal, keputusan yang akan diambil juga perlu mempertimbangkan aspek perasaan sih.. tapi ya tetap seimbanglah sama logika.. penilaiannya yang menyeluruh dulu

12. Kamu tahu tujuan hidupmu.
Tujuan hidup sudah dirancang dari jaman kuliah. Sebenarnya ada tiga resolusi besar sebagai tujuan hidup. Berhubung resolusi ketiganya masih dalam proses, saat ini sambil memperjuangkan yang lain dulu. Mau nemenin? :') #eh


13. Kamu sadar bahwa ketika menikah nanti, belum tentu impianmu bisa terwujud.
Iya, makanya beberapa mimpi berusaha dicapai sambil memperjuangkan resolusi ketiga ini.

14. Kamu siap berkorban untuk keluargamu, baik suami atau istri dan anakmu (kelak).
InsyaAllah siap

Jadi simpulannya?

Kalau kadang saya menjawab 'Kapan' dengan bercanda, bukan berarti saya sama sekali nggak ada usaha. Nggak semua usaha perlu dipamerkan, nggak semua hal tentang 'Kapan' perlu seperti dilombakan atau sesuai urutan.

Kalau berdasarkan empat belas pertanyaan ini, memang masih ada beberapa poin yang sepertinya saya 'belum siap'. Tapi 'hal itu' sesungguhnya lebih luas dari sekedar '14 Siap' ini kan. Mungkin kita nggak pernah tahu kapan benar-benar siap, tapi Sang Pencipta pasti sudah punya jawabannya untuk kita.

Terus berusaha, dan berdoa. Ini aja kan kunci utamanya? :')





Thursday, July 21, 2016

Belajar Mengapresiasi

Kemarin malam, saya iseng membuka folder-folder jaman kuliah. Di jurusan Jurnalistik Fikom Unpad (alias 'Jurnal), pada masa itu terkenal dengan 'kerajinannya' memberikan tugas kepada mahasiswa. Bukan setiap minggu, melainkan nyaris setiap mata kuliah.

Dulu, penjurusan dimulai di semester 3. Selama dua semester awal, kami diberikan mata kuliah dasar dan pengantar, salah satunya Pengantar Ilmu Jurnalistik (sebut saja PIJ). Kebetulan, kelas saya mendapat dosen PIJ yang memang 'suhu'nya jurusan Jurnal. Dibandingkan kelas lain, kelas kami serasa diperlakukan sudah seperti anak Jurnal. Ritme tugas tinggi, plus menuntut kualitas yang baik pula.

Kalau digambarkan dengan emoticon Whatsapp, perjalanan saya saat itu adalah emoticon menangis sambil ketawa. Tau kan? Artinya, sering rasanya mau nangis karena tugas-tugasnya nggak mudah, sering dikritik pedas oleh dosen, bahkan nggak jarang dikembalikan untuk direvisi. Di sisi lain, rasanya mau ketawa juga karena Jurnal memang jurusan pilihan saya sejak masuk kuliah sehingga saya harus bisa menjalaninya dengan baik. *setel lagu 'Tabah'*

Salah satu ciri khas tugas jurusan Jurnal adalah 'apresiasi'. Tugas ini diberikan oleh salah satu dosen senior. Yang itu tadi, yang sudah saya temui sejak semester 2 sementara teman-teman saya baru bertemu dengannya di semester 3. Lumayanlah, enam bulan 'pendekatan' dengan gaya mengajarnya :___))).

Hampir setiap minggunya, dosen kami ini memberikan tugas mengapresiasi. Mulai dari buku, berita di koran, majalah, film, dan... apa lagi ya, begitu lah kurang lebihnya. Jeda waktu pengumpulan tugas adalah satu minggu dan tidak boleh telat sedetikpun. Disiplin sekali memang, tapi inilah yang membuat kami menjadi lebih menghargai waktu.

Meski untuk mata kuliah yang berbeda, format Tugas Apresiasi ini selalu sama. Ada empat bagian yang harus kami cantumkan sebagai bentuk 'apresiasi' terhadap karya yang ditunjuk: Rangkuman, Pembahasan, Simpulan dan Saran, Pertanyaan. Tidak kurang, tidak lebih. Dan semua ditulis dengan jenis serta ukuran font yang sama, plus margin yang sama pula. Nggak kebayang ih dulu bisa aja menjalani semua itu! :))))

Rasa bosan tentu kadang ada. Apalagi saya sudah mendapat 'bonus' satu semester mengerjakan tugas ini. Untungnya, saat itu ada beberapa hal yang menjadi sedikit penyemangat kalau sedang (atau sering) stuck mengerjakan tugas. Ingat lagi motivasi awal kuliah, demi nilai, cita-cita, plus ada yang nemenin begadang ngerjain tugas :") (baca: teman-teman sekelas yang juga stuck dan malah berujung chit-chat via YM).

Belakangan, apalagi setelah memasuki dunia kerja di korporasi, saya baru merasakan nilai lain yang diperoleh dari Tugas Apresiasi ini. Betul, intinya, belajar menghargai karya orang lain. Nggak gampang loh bagi seseorang untuk mengeluarkan karya yang berbobot seperti buku ajar, berita, film, atau produk lainnya. Kalau kita yang diminta membuat produk seperti itu juga belum tentu bisa menghasilkan kualitas yang sama bagusnya kan?

Dari empat bagian Tugas Apresiasi yang itu-itu aja, saya jadi belajar bahwa mengapresiasi dimulai dengan mengetahui betul apa yang akan kita apresiasi. Seperti di Rangkuman, kita perlu mengenal dulu apa atau siapa yang akan kita beri apresiasi. Seperti apa profilnya. Apa yang sudah dia hasilkan. Bagaimana prosesnya. Dan lain-lain.

Setelah mengenal, barulah kita bisa memberikan penilaian. Ini seperti ada di tahap Pembahasan. Bagi saya, inilah inti dari pemberian apresiasi. Meski penilaian bisa berarti baik atau buruk, maupun objektif atau subjektif. Sesungguhnya, memberi penilaian yang buruk bisa sama menyakitkannya dengan menerima nilai jelek alias kritikan. Apalagi kalau penilaiannya subjektif, hanya berdasarkan selera. Namun, semakin kita dikritik, pada akhirnya kita semakin tahu dan bisa memilah, mana kritik yang perlu didengarkan dan ditindaklanjuti, mana yang perlu disenyumi saja (sambil ngedumel dalam hati).

Saya nggak alergi kritikan atau mendapat penilaian buruk. Selama memang jelas alasannya, ada landasannya, berdasarkan fakta atau apapun penguat lainnya, kritikan adalah obat pahit yang akan membuat kita menjadi tumbuh dan semakin kuat. Seperti kata seseorang, "..pahit di awal, manis di akhir." Tapi ya ingat, nggak semua kritikan perlu diresapi apalagi pakai hati. Bisa stress nanti kalau nggak dipilah!

Ibaratnya kalau lagi mengerjakan bagian Pembahasan, kami dibebaskan memberi penilaian baik atau buruk terhadap karya yang sedang diapresiasi. Namun, harus ada opini penjelasan plus pendukungnya. Ada pembanding atau referensi lain. Untuk menilai sebuah film tentang perjuangan jurnalis mengejar narasumber, misalnya, kami boleh mengatakan film itu bagus karena sesuai fakta di lapangan atau justru sebaliknya, film itu jelek karena menyimpang dari teori yang seharusnya.

Jadi, tidak asal menilai. Bukan asal mengkritik. Apalagi kalau menilainya pakai emosi dulu. Bye!

Tahap berikutnya dalam mengapresiasi adalah membuat Simpulan dan Saran. Sederhananya, ini adalah gabungan dari Rangkuman dan Pembahasan. Kalau kita sudah tahu profil orang atau produknya, bisa menilai dengan tepat, pada akhirnya kita bisa membuat simpulan yang bijak. Apakah kita akan terus menjalin relasi dengan orang itu, apakah kita akan tetap menggunakan produk itu, semacam itu lah. Kalau pada tahap sebelumnya kita sudah memberikan penilaian yang kurang baik, seimbangkanlah dengan pemberian masukan yang membangun. Sekali lagi, sebaiknya tidak asal menilai.

Sebagai tahap akhir Tugas Apresiasi, dosen kami selalu mewajibkan mahasiswa mengajukan minimal lima pertanyaan di bagian Pertanyaan. Katanya, untuk mengasah nalar dan daya kritis kami. Waktu itu saya tidak terlalu menganggap serius bagian ini, jadi terkadang pertanyaan yang ditulis nggak terlalu penting kayaknya :___))). Setelah lulus, barulah terasa manfaatnya punya jiwa yang kritis. Supaya bisa cermat mengamati keadaan atau permasalahan, sehingga tidak asal atau salah mengambil kesimpulan dan membuat keputusan.

Pada dasarnya, menurut saya, semua ciptaan yang ada di dunia ini pasti memiliki kebaikan atau manfaat. Baik itu makhluk maupun benda. Namun kadang, untuk beberapa hal, kebaikan itu tertutup faktor lain atau memang kadarnya sedikit sekali sehingga dia tidak bisa mendapat penilaian yang baik.

Kalau sudah dihadapkan pada godaan untuk memberi apresiasi yang 'buruk', saya kemudian teringat kembali pesan nenek, "Biarin aja orang lain nggak suka atau jahat sama kita, yang penting kita harus tetap baik sama orang itu."

Memberi apresiasi yang buruk terkadang nggak salah. Tapi kalau banyak orang yang bisa memberi apresiasi dengan positif dan tulus, bukankah dunia akan terasa lebih indah?

Source: Idea Champions

Monday, July 11, 2016

Tidak Ada Sukatali Tahun Ini

Percakapan 1:

"Eh, siang ini lowong nggak? Temenin gw yuk!"
"Lowong sih..tapi masih di kantor.."

Percakapan 2:
"Lagi di rumah ini? Nggak ke mana-mana?"
"Ini lagi jam istirahat Bu, nanti balik lagi ke kantor :__))"


Dua percakapan tadi mewarnai siang saya hari ini. Yang pertama berasal dari seorang teman yang sudah mudik ke tanah tumpah darahnya, Bontang. Yang kedua berasal dari seorang ibu yang berbesar hati anaknya nggak bisa mudik lagi di Lebaran tahun ini. Persamaannya? Sama-sama nggak menyangka di sini H-2 Lebaran masih kerja full time sementara di hampir semua instansi dan perkantoran besar sudah merayakan cuti bersama. Tenang, ini masih di Indonesia kok.

Sunday, July 3, 2016

Where My Love Goes - Lawson

Jangan tanya ini band dari mana dan segala detail lainnya. Saya nemu lagu ini secara random ketika lagi buka Youtube. Awalnya penasaran sama single terbaru Ed Sheeran, I Miss You, dan setelah lagu itu diputar, Youtube melanjutkan pemutaran videonya ke lagu ini.

Kalau nggak terlalu 'berkenan' dengan video klipnya, cermati liriknya deh! Jelas masuk kategori #penyebabbaper dan bisa dimasukan ke playlist you-know-what juga kalau mau :)

My love goes out of my heart and into the wind
Out my guitar and under your skin
Into your house and out of your headphones
That's where my love goes

Wherever you go, I'll follow
Don't worry about tomorrow
I will be in your shadow
Walking right beside you everyday


I'll be the one to save ya
When I put my pen to paper
Feels like it brings us closer
Even when you're so far away

Bullet trains and aeroplanes
I can choose the easy way
So I'll send a signal just for you

My love goes out of my heart and into the wind
Out my guitar and under your skin
Into your house and out of your headphones

My love goes out of your door and into the street
Down through the floor and up through your feet
Into your car and out of your radio
That's where my love goes

You will never be lonely
Just relax and listen to me
I breathe the air that you breathe
I am always with you in disguise

Bullet trains and aeroplanes
I can choose the easy way
So I'll send a signal just for you

My love goes out of my heart and into the wind
Out my guitar and under your skin
Into your house and out of your headphones

My love goes out of your door and into the street
Down through the floor and up through your feet
Into your car and out of your radio
That's where my love goes

That's where my love goes
Tell me, can you hear me now
I'm screaming out so loud
Oh, it goes out of my heart and into the wind
Out my guitar and under your skin
Into your house and out of your radio

Monday, June 20, 2016

Inspirasi Gaya di Hari Raya untuk yang Berjiwa Muda

Ini adalah sebuah acara Kompetisi Blogger ShopCoupons & InvolveAsia X HB & BB yang diselenggarakan oleh ShopCoupons. Voucher Berrybenka dan Voucher Hijabenka disponsori oleh Berrybenka & Hijabenka.

Siang tadi, di tengah dinginnya AC sentral, seorang teman tiba-tiba mengirim gambar melalui Whatsapp. Gambar yang berupa teks sih lebih tepatnya. Isinya seperti ini:

Source: Anonymous
Baper? Tentu saja! Bahkan bapernya dobel, karena belum punya baju Lebaran plus baju pengantin dan nggak bisa berburu baju untuk hari raya itu di kota tercinta.

Untungnya, menyiapkan baju Lebaran nggak seribet menyiapkan baju untuk nikahan. Ada beberapa model dan ukuran yang sepertinya sudah pas dikenakan, misalnya beberapa koleksi dari Hijabenka dan Berrybenka ini.

Sunday, May 22, 2016

Hold On (The Break) - Walk Off The Earth

Dua minggu lalu waktu lagi kongkow di sebuah kafe di Bontang, ownernya memutarkan video klip di layar besar yang biasa digunakan untuk nobar. Lagunya familiar, tapi nama grup musiknya nggak: Walk Off The Earth.

Waktu itu, video yang diputar memang cover dari lagu-lagu populer seperti Royals-nya Lorde dan Hello-nya Adelle. Kirain grup ini kurang lebih sama seperti grup-grup cover lainnya, ternyata beda! Konsep video klip mereka untuk beberapa lagu cover unik dan beberapa ada yang kocak. Berkat mereka, saya jadi suka lagu Hello-nya Adelle karena inget video klipnya yang jauh dari bikin baper :))

Wednesday, April 27, 2016

Random Though

Salah satu #misteri yang sampai sekarang bikin penasaran sama jawabannya: gimana ya permainan  semacam ini bisa seolah menganalisa kepribadian kita dengan tepat atau minimal mendekati deh?

Misalnya tentang wiki-wikian ini. Agak geli juga sih kalau bayangin bagian 'able to say "I'm fine" with tears in her eyes'. Faktanya, itu memang pernah terjadi..tapi siang hari #oops.

Tapi bagaimanapun cara yang digunakan, rangkaian kalimat sederhana ini menjadi penyemangat lagi untuk terus melangkah. And even if the future doesn't look great kayak belakang ini yang kebanyakan awan mendungnya, I will keep moving forward.

Wednesday, April 20, 2016

Yang Ternyata Ada di Dunia Kerja

Tadi pagi, saya berkesempatan melakukan diskusi ringan dengan rekan-rekan kerja. Semacan sharing session lah, dengan topik mengenai dunia kerja.

Salah satu senior saya memberikan pernyataan yang menarik. "Kalau udah kerja itu, aplikasi teori cuma sekitar 20% aja, sisanya kita harus improvisasi." Walau tidak tahu berapa persentase pastinya antara teori dan improvisasi di dunia kerja, saya setuju dengan pernyataan tersebut.

Dunia kuliah nggak pernah memberikan teori tentang 'bekerja di bawah tekanan', padahal poin ini nyaris selalu ada di beberapa lowongan yang saya incar.

Dunia kuliah juga nggak pernah mengajarkan tentang 'cara menghadapi orang menyebalkan', padahal kenyataannya, tipe orang seperti ini adaaaaa aja.

Nggak heran, ada beberapa orang yang saya kenal sering mengeluhkan pekerjaannya. Walau sekarang frekuensinya lumayan berkurang #eh.

Memasuki dunia kerja, berarti sudah harus siap dengan segala resikonya. Bertanggung jawab terhadap ilmu yang sudah kita peroleh selama kuliah (dan yang sering menjadi 'modal utama' saat melamar kerja!), tapi di sisi lain harus bisa beradaptasi dengan banyak hal mulai dari beban kerja, budaya perusahaan, bersosialisasi dengan rekan kerja, dan hal-hal lain yang mungkin terlihat ringan.

Bahkan ketika menjalankan pekerjaan idaman pun, tantangan-tantangan itu selalu ada. Ya kalo nggak ada, hidup juga nggak rame sih hahaha. Nggak ada pembelajaran #cie.

Dan ada kalanya juga cirambay sudah di pelupuk mata. Kalau sudah begitu, saya punya obat mujarabnya warisan dari nenek, "Nggak papa orang lain jahat atau bersikap menyebalkan sama kita, yang penting kita harus tetap baik sama dia dan sama orang-orang. Kebaikan akan kembali ke kita, begitu juga sebaliknya."

Tuesday, March 29, 2016

On Repeat: Everglow - Coldplay

Saya menemukan lagu ini di tengah kerandoman menyusun playlist untuk teman perjalanan pulang. Dari salah satu 'top chart', judul lagu yang simpel ini langsung mengundang penasaran.

Kadang saya suka bingung, kenapa beberapa lagu bisa 'muncul' di saat yang tepat dalam kehidupan. Waktu lagi masa percobaan kerja misalnya, ketemulah sama lagu Superhero nya The Script yang bisa bikin optimis lagi. Atau ketika pada masanya sepi otak-isu-hati, datanglah Nidji mengeluarkan album baru yang salah satu hitsnya berjudul "Saat yang Tepat". Dalam sepi, kutemukan kamu~~  #iyaudah

Sunday, March 20, 2016

Kebahagiaan Adalah...

Banyak pendapat yang mengatakan bahwa 'bahagia itu sederhana'. Saya setuju, meski kadang nggak menyadarinya bahwa hal-hal kecil ternyata bisa menimbulkan rasa bahagia dalam diri kita. Maka, di Hari Kebahagiaan Internasional ini, ijinkan saya membagi beberapa sumber kebahagiaan di antara baaaanyak sekali hal yang bisa menjadi penyebabnya.

1. Tinggal di Rumah
Bagi pekerja sekaligus perantauan seperti saya, bahagia itu sesederhana bisa beristirahat di rumah. Apalagi kalau cuti, bebas sejenak dari rutinitas selama ini. Berdiam diri di rumah juga berarti bisa kembali menjadi diri sendiri, melakukan hal-hal yang disukai. Kalau di hari kerja sehari-hari mencari berita tentang bisnis LNG, di rumah bacaannya kembali lagi ke komik Paman Gober hehehe.

Monday, February 22, 2016

"Pay for Plastic" atau "Pay for Environment"?

Bagi para pejuang lingkungan di Indonesia, boleh jadi tanggal 21 Februari 2016 lalu menjadi salah satu hari bersejarah dalam perjalanan perjuangan mereka: Pemerintah RI akhirnya mengeluarkan kebijakan #Pay4Plastic. Sederhananya, kebijakan ini berarti konsumen -- di beberapa wilayah yang menjadi uji coba kebijakan ini -- harus membayar per lembar plastik yang dia gunakan khususnya kalau berbelanja di ritel-ritel besar.

Kota tempat saya menghabiskan cuti sekarang (juga tempat tumbuh kembang mengumpulkan pengalaman) yaitu Bandung menjadi salah satu wilayah uji coba ini. Sebagai warga percobaan, saya sudah mengalaminya tadi sore ketika membeli buku di Gramedia TSM. Di kasirnya tercantum 'pengumuman' mengenai kampanye ini dan sebelum membayar sang kasir pun bertanya dengan ramah, "Saat ini penggunaan plastik sudah berbayar 200 rupiah, mau tetap pakai?" Berhubung tadi hanya membawa tas tangan dan buku yang dibeli lebih dari satu, saya mengiyakan.

Saya jadi teringat  pengalaman beberapa tahun lalu ketika kebijakan #Pay4Plastic ini belum disahkan. Dulu, saya cukup sering mampir ke Gramed-depan-BIP (yang tinggal di Bandung tau lah ya hehehe) sekedar beli satu komik kalau Conan terbaru terbit. Suatu ketika, saya hanya membeli satu komik dan menolak menggunakan plastik. Selain kebetulan tas saya cukup besar, toh yang dibeli juga cuma satu komik kecil. Alih-alih Mba Kasirnya senang karena stok plastiknya nggak berkurang, dia malah menjawab, "Diplastikin aja ya Mba, soalnya suka diperiksa satpam kalau nggak pakai plastik." Lah? 😒 Saya sempat berargumen dengan Mbanya, berusaha untuk menolak, dan bilang bahwa saya akan menyimpan bukti pembeliannya kalau ditanya satpam. Si Mba juga tetap keukeuh memberikan plastik dan daripada tambah ribet, akhirnya komik saya dimasukkan ke plastik. 😒😒😒

Oke, balik lagi ke kampanye yang lagi booming ini ya. Awalnya, yang saya tau adalah gerakan #DietKantongPlastik yang digagas oleh Greeneration Indonesia a.k.a GI. Itupun tau setelah saya keterima 'magang liburan' di sana selama beberapa bulan hehehehe. Sebagai pencetus gerakan peduli lingkungan ini, GI menawarkan solusi yaitu menggunakan kantong plastik berkali-kali pakai alias reusable bag. Yang bahannya kuat dan nggak mudah rusak. Mereka bahkan juga punya produk reusable (and fold-able!) bag yang praktis dan membuat penggunanya tetap stylish.

Sejujurnya, saya pribadi lebih setuju dengan gerakan #DietKantongPlastik dibandingkan #Pay4Plastic. Dengan 'diet', konsumen diajak menghemat atau menggunakan plastik dengan bijak. Sementara kalau ada embel-embel 'pay'nya kok malah terkesan... konsumtif? Apalagi tadi setelah mendengarkan talkshow di salah satu radio swasta Bandung dengan dosen lingkungan yang ditanya "Apa harapannya dengan adanya kebijakan ini?"

Entah bercanda dulu atau tidak, dosennya menjawab, "Ya harapannya, nanti di bukti pembayaran itu tercetak berapa rupiah yang kita keluarkan untuk menggunakan plastik." 😞 Walaupun setelah itu sang dosen memberi penjelasan tambahan tentang harapan ke depan yang tentunya berdampak pada upaya pelestarian lingkungan, tetap saja pernyataan tadi kemudian membuat saya greget ingin mencari tahu beberapa jawaban lagi:

Kenapa 'hanya' Rp 200,00? Tapi di Balikpapan mah Rp 1.500,00 sih :))

Lalu, untuk apa nantinya keping-keping yang terkumpul dari membeli-kantong-plastik itu? Apakah diserahkan ke pemerintah untuk mengelola lingkungan dengan benar..atau menjadi penghasilan tambahan bagi pemilik usaha?

Sejauh apa komitmen para pelaku usaha yang sudah ikut menerapkan kebijakan ini? Sekedar 'penggugur kewajiban' atau memang tulus ingin ikut berupaya melestarikan lingkungan?

Dan pertanyaan-pertanyaan lain yang random terlintas nantinya.

Setelah merantau ke Bontang, saya jadi tertarik dengan kebijakan terkait penggunaan kantong plastik yang diterapkan Badak LNG di minimarket dalam kompleknya.

Badak LNG, perusahaan penghasil gas alam cair terbesar di Indonesia ini, menerapkan kebijakan untuk tidak menyediakan kantong plastik di minimarket Tojasera yang berlokasi di dalam kompleknya. Solusinya, mereka menyediakan tas belanja reusable seharga Rp 2.000,00 untuk ukuran kecil dan Rp 4.000,00 untuk ukuran besar. Bagi konsumen yang berbelanja banyak (misalnya belanja bulanan), mereka menawarkan kardus bekas gratis untuk wadah belanjanya. Jadi, yang 'dijual' adalah reusable bag-nya yang bisa dipakai berkali-kali dan awet, bukan kantong plastiknya yang awet dipakai juga tapi berbahaya dalam mencemari lingkungan.

Ketika pertama kali berbelanja di Tojasera, saya dan teman-teman kaget dengan kebijakan ini. Banyak barang yang dibeli, sementara tas yang dibawa minim. Maklum, selama ini kepedean pasti bakal disediakan kantong plastik sama penjualnya hehehe. Lama kelamaan, kesadaran untuk membawa tas belanja sendiri mulai terbentuk. Minimal memang kalau ingin ke Tojasera aja sih..

Dari kebijakan itu, setidaknya ada tiga manfaat yang bisa diperoleh kalau diterapkan secara konsisten, baik oleh konsumen maupun penjual.

Pertama, mengubah gaya hidup konsumen menjadi suka menyiapkan reusable bag kalau sewaktu-waktu perlu membeli atau membawa sesuatu.

Kedua, perubahan gaya hidup menjadi ramah lingkungan akan berdampak positif pada alam sekitar. Lebih bersih, sehat, mengurangi sampah untuk generasi mendatang, mencegah musibah akibat sampah, dan masih banyak lagi.

Ketiga (dan bonus), menjadi sarana promosi tidak langsung buat penjual. Reusable bag-nya kan bisa didesain sederhana, hanya menampilkan logo tokosaja misalnya. Pemasukan tambahan dari 'penjualan' reusable bag ini juga menambah keuntungan tersendiri. Atau lebih okenya lagi, bisa digunakan untuk kampanye lingkungan di bidang lain (misalnya penyelamatan satw langka! :( )

Lalu, gimana kalau reusable bag-nya jadi nggak laku karena konsumen sudah memilih membawa kantong belanjanya sendiri? Selamat, kampanyenya berhasil! 😊

Di balik beragam pro kontra yang beredar mengenai kebijakan #Pay4Plastic ini, saya tetap mendukung kok. Sebagai uji coba, kampanye ini cukup bagus membuka wawasan dan meningkatkan kepedulian masyarakat mengenai bahayanya kantong plastik. Apalagi kalau niat kampanyenya memang untuk melestarikan lingkungan. Anggap saja dengan sekali membayar kantong plastik -- atau sekali berdiet kantong plastik --saat berbelanja maupun membawa barang, kita juga sekaligus 'membayar' kehidupan yang lebih baik untuk masa depan dan generasi mendatang.



Wednesday, February 17, 2016

It's About Him

Saya mengidolakannya sejak SMP. Bukan hanya dia sebenarnya, saya menyukai satu band bernama Peterpan itu secara keseluruhan. Lagunya enak, mudah dimainkan chord gitarnya (untuk ukuran saya yang seorang pemula dalam belajar gitar), dan sebagai band pendatang baru, mereka mudah diterima masyarakat Indonesia dan tetap rendah hati.
Saya menyukainya sampai sekarang. Sampai sang vokalis tersandung masalah besar.
Dan sekarang, ketika rasanya semua orang membicarakan keburukannya, sejujurnya hati dan telinga saya ‘panas’.
Hey kalian, bisakah kalian berhenti membicarakan semua keburukannya?
Mengapa hanya keburukannya yang dilihat dan diingat?
Tidakkah kalian lihat karya-karya yang sudah dihasilkannya? Bukankah itu lebih membanggakan untuk dibicarakan terutama di media sosial, di mana seluruh dunia bisa mengetahuinya?
Menjawab semua pertanyaan yang ditujukan kepada saya sebagai penggemarnya, maka sampai saat ini saya akan menjawab: ya, saya masih akan tetap menjadi penggemarnya. Penggemar karya-karyanya. Karya berupa LAGU, bukan yang lain. Karena saya melihatnya sebagai seorang vokalis sekaligus pencipta lagu-lagu easy listening, yang musiknya dapat saya nikmati.
Saya rasa, tidak ada seorang pun yang sempurna di dunia ini. Kalau memang sang vokalis itu terbukti menjadi pemain dalam video yang menghebohkan itu, baiklah. Saya juga tidak akan menyangkalnya lagi. Namun, ada cara yang lebih baik bagi kita untuk menyikapi kasus ini, kan?
Dan bagaimanapun, sekali lagi dia telah menjadi inspirasi saya, kali ini untuk tugas makalah. Tetaplah bersinar, wahai vokalis :)

*Juni 2010, ditulis ketika kasus-nya mulai ramai dibicarakan -RY

Bintang

Dulu, saya menyukai malam. Walau gelap, saya memiliki tiga bintang yang akan menerangi saya dengan cahayanya masing-masing.
Ketika tiga bintang itu pergi, saya masih tetap menyukai malam dan menantikan kehadirannya. Karena, jika malam tiba, saya bisa berjumpa dengan sang bintang yang bersinar sangat terang. Sinarnya bahkan bisa mengalahkan pekatnya malam.
Dan ketika sang bintang itu mulai menghilang, saya tidak tahu, apakah saya masih menyukai malam.