![]() |
| RT Darling! Challenge |
![]() |
| Biasa ngecek EYDnya tulisan udah bener atau belum, sekarang ngecek tanaman yang ditanam udah tumbuh segimana :') |
![]() |
| RT Darling! Challenge |
![]() |
| Biasa ngecek EYDnya tulisan udah bener atau belum, sekarang ngecek tanaman yang ditanam udah tumbuh segimana :') |
"Bu, kok di akta kelahiran aku ditulisnya 'abnormal'? Bukannya aku normal normal aja ya?"
"Ya kan dulu kamu keluarnya setelah dibantu pakai alat.."
Cerita Ibu kemudian terus mengalir mengenai proses kelahiran saya. Cerita yang diulang beberapa kali sampai rasanya saya bisa membayangkan situasi saat itu.
Pengalaman Ibu dalam melahirkan saya secara tidak langsung berpengaruh pada kondisi psikis. Sejak melihat dua garis merah pada test pack dan dinyatakan positif hamil oleh dokter, saya selalu bertanya-tanya, akan seperti apa pengalaman melahirkan nanti?
Untungnya, saya memiliki waktu sekitar sembilan bulan atau 39 minggu untuk menyiapkan segala sesuatunya. Baik fisik, mental, juga material dan finansial agar kelak sang buah hati dapat hidup sehat nan bahagia. Tapi memang, persiapan mentalnya yang lebih banyak sih dibandingkan fisik. Alias, lebih banyak baca teori tentang kehamilan dan persalinan aja dibanding mempraktikannya langsung! :__)))
Contoh nyatanya, saya baru mengikuti senam hamil di usia kandungan memasuki 37/38 minggu. Ini pun sekali-kalinya aja ikut, supaya ada sedikit wawasan saat persalinan nanti. Padahal kata teman saya yang sudah lebih dulu melahirkan, "Semua yang diajarin di kelas senam hamil itu lupa kalo udah masuk ruang bersalin!"
Menurut dokter, HPL saya diprediksi jatuh pada tanggal 17 Juli 2018. Bagus aja sih, jadi bisa mulai mengambil cuti hamil-melahirkan setelah Lebaran. Dan kalau dihitung hari kalender, cuti ini akan berada di masa lagi hectic-hecticnya kerjaan hehehehe. Saya juga bukan pecinta tanggal cantik, jadi mau melahirkan kapan pun oke saja buat saya. Tak perlu dipercepat atau diperlambat kecuali kalau alasannya kesehatan.
Namun diam-diam, saya sering berbisik kepada sang buah hati saat ia masih ada di dalam kandungan. Supaya ia 'keluar' di tanggal 12, tanggal yang sama dengan hari lahir saya. Tentu bisikan ini nggak serius-serius amat, sekali lagi yang terpenting adalah kami dalam keadaan selamat dan sehat saat persalinan, kapan pun tanggalnya.
Semakin mendekati HPL, kecemasan semakin meningkat. Sayangnya, kekhawatiran akan persalinan ini masih diiringi kemageran untuk melakukan berbagai hal yang konon bisa-mempercepat-dan-memperlancar-proses-persalinan. Beberapa kali suami menyarankan untuk mengepel lantai rumah sambil berlutut, tapi saya lebih memilih membersihkan lantai dengan vacuum cleaner. Ketika bisa bangun pagi dan ingin jalan kaki, eh cuaca malah hujan deras. Intinya, level kemageran pun malah meningkat.
Sampai akhirnya, saat yang dinantikan itu muncul. Ketika Ibu dan Ibu Mertua sedang menonton TV di ruang keluarga. Ketika suami dinas ke luar kota selama dua hari. Ketika saya lebih memilih gogoleran di kamar setelah Maghrib karena perut agak mulas.
Seperti biasa, kalau suami dinas kadang saya suka nitip 'oleh-oleh'. Malam itu, sambil gogoleran pun kami saling berkirim WA untuk mengupdate kabar. Saya masih sempat nitip beberapa komik dan novel, sementara suami menanyakan kabar sang buah hati kami diiringi pesan, "Nanti keluarnya nunggu Ayah ya, Sayang..."
Rasa mulas muncul timbul tenggelam. Kontraksi palsu nih, pikir saya. Sejujurnya nggak terlalu paham juga sih bedanya kontraksi yang asli dan palsu, tapi selama ini rasa mulas memang hanya muncul sekali dalam sehari. Saya juga sudah download aplikasi pencatat interval kontraksi, tapi rasanya kok nggak terlalu membantu ya :)).
Semakin malam, gerakan sang buah hati semakin aktif. Tendangannya kuat terasa walau sudah saya elus-elus perut untuk membuatnya sedikit tenang. Gerakannya menurun. Saya berusaha tidur cepat.
Sampai tiba-tiba....
...Ada satu tendangan yang rasanya lebih kencang dari biasanya. Menekan bagian bawah tubuh saya...
...dan tak lama, keluar cairan dari bagian tersebut.
Sedikit kaget, saya ke kamar mandi untuk memastikan. Bening, tidak ada flek atau apapun. Dokter kandungan yang memeriksa saya pernah berkata, ketuban yang pecah biasanya akan diiringi semacam flek atau darah. Bila itu terjadi, kita harus segera ke rumah sakit untuk mendapat tindakan lebih lanjut.
Karena cairan yang keluar tadi tidak diikuti zat apapun, saya berusaha berpikir positif. Sedikit dilema juga sih, karena sepertinya bukan urin.
Selang beberapa menit, cairan kembali keluar tanpa mampu saya tahan. Jangan panik, jangan panik, jangan panik. Di tengah sedikit kekhawatiran (dan untungnya masih ada kewarasan), saya akhirnya memutuskan: berganti baju dan bersiap ke rumah sakit dengan hanya membawa HP, dompet, dan buku pink.
Untung nggak kerasa mulas atau apa! .___.
Dengan mencoba tetap tenang, saya berpamitan kepada kedua Ibu yang terlihat bingung. Saya nggak bisa membonceng mereka ataupun menyetir, jadi opsi ke rumah sakit sendiri naik motor harus diambil. Saya hanya meminta tolong untuk menyiapkan tas bersalin yang sudah disiapkan sebelumnya dan memberitahu suami bahwa sepertinya ia harus pulang malam ini (dari jadwal semula pulang besok sore).
Sampai di UGD, para suster jaga nggak kalah heran melihat saya masih bisa struggle naik motor sendirian. Apalagi ternyata sudah positif cairan yang keluar tadi adalah air ketuban. Yang sedikit mengesalkan, sinyal di rumah sakit malam itu jelek sekali sehingga saya sedikit kesulitan memberi kabar kepada para Ibu. Untungnya Ibu dan Ibu mertua akhirnya tiba di rumah sakit dengan diantar teman suami.
Saya sendiri langsung diajak ke ruang bersalin untuk diobservasi kondisi sang buah hati. Sudah bukaan satu ternyata. Alhamdulillah detak jantungnya masih terbilang bagus sehingga peluang saya untuk melahirkan normal masih ada. Saya pun dipindahkan lagi ke ruang perawatan untuk istirahat sambil menunggu bidan datang.
Dua jam setelah masuk ruang perawatan, bidan memutuskan untuk menginduksi saya melalui obat yang diletakkan di bawah lidah. Bagian ini nggak ada di artikel-artikel persalinan yang saya baca, jadi saya masih polos ketika mengonsumsi obat tersebut.
"Nanti kita lihat lima jam lagi apakah bukaannya udah lengkap. Kalau belum, nanti ditambah obatnya," kata mbak bidan. Saya iyain aja sambil mencoba melanjutkan tidur.
Ternyata nggak sampai lima jam pun...
GUSTI! PERASAAN APA INI???
Kadang ada, kadang hilang..makin lama intensitas nyerinya makin kuat. Inikah yang disebut 'gelombang cinta'? :___)))
Kalau mau tahu gimana rasanya, bayangkan perasaan ketika datang bulan, dikalikan beberapa kali lipat. Tapi kadang hilang, makanya mungkin itu yang membuatnya disebut 'gelombang'.
Beberapa kali saya hampir menyerah menghadapi gelombang itu. Bidan yang seharusnya dipanggil ketika bukaan sudah nyaris lengkap, terpaksa dipanggil tiga kali untuk mengecek progressnya. Beruntung, Ibu dan Ibu Mertua setia menemani di ruang perawatan. Apalagi Ibu, bersedia digenggam tangannya super erat oleh saya ketika gelombang itu datang. Huhu..ku merasa berdosa udah mau punya anak gini masih ngerepotin Ibu :____(
Entah karena lelah dipanggil terus atau apa, setelah tiga jam sang bidan akhirnya memutuskan untuk memindahkan saya ke ruang bersalin. Padahal masih belum ada rasa mulas. Tapi memang, pembukaannya tergolong berjalan cepat ternyata.
So, here we go. Ruang bersalin. Masih didampingi Ibu dan rasa gelombang yang makin menjadi-jadi.
Ketika akhirnya rasa mulas datang, bidan dan suster mulai bersiap. Menyuruh saya mengejan sekuat tenaga. Meminta saya membayangkan hal-hal mengesalkan agar kekuatan untuk mengejan semakin besar. Yah kalo lagi kondisi begitu mana bisa ingat sih Mba :____)))
Singkat cerita, saya berusaha mengejan sambil meracau. Nyaris satu jam lebih proses ini karena saya sering kekurangan nafas. Sampai pukul 04.00, akhirnya suami tiba di ruang bersalin. Dengan beberapa pertimbangan, saya memutuskan tetap di ruang bersalin bersama Ibu.
Mungkin memang benar ya kalau janin itu bisa 'mengerti' keinginan kita. Pukul 04.20, sang buah hati akhirnya terlahir ke dunia dengan selamat sentosa. Tanggal 12 Juli, seperti keinginan ibunya yang pengen 'tanggal 12', plus setelah ayahnya datang, seperti keinginannya yang pengen 'ditungguin'.
Melahirkan bayi adalah pengalaman luar biasa, apalagi jika baru pertama kali mengalaminya. Terlepas dari semua drama selama kontraksi - persalinan, saya sangat bersyukur karena Yang Maha Kuasa mempercayakan kami -- saya dan suami -- untuk menjadi orang tua dari seorang putri cantik nan sehat yang selanjutnya kami beri nama "Kanaya Mahira Sakti".
Selamat datang di dunia, Kanaya! Terima kasih telah hadir mewarnai kehidupan Ayah dan Ibu 😊
| Selamat Datang! |
| Permisi... |
| Area pertunjukan |
| Para pemusik |
| Pembukaan pertunjukan |
| Tari Peresean |
| Priittt...priiitt..!! |
| Daeng Kiki vs Daeng Boski |
Belum ada genap setahun, saya pernah posting mengenai kesiapan meraih resolusi ketiga. Pada tulisan itu, kesiapannya memang lebih dari segi mental. Ada 14 pertanyaan yang bisa mengindikasikan apakah si penjawab sebenarnya sudah siap menikah atau belum. Dan si penjawab yang sok iye itu dengan pedenya menjawab di blog padahal saat itu belum ada bayangan jelas tentang resolusi ketiganya :)).
Setelah kemantapan hati itu ada, rupanya segala hal menuju terlaksananya acara sakral itu juga perlu disiapkan dengan matang. Nggak sekadar aspek yang besar seperti tempat, dekor, baju (dan seragam), dan katering ternyata, melainkan banyak sekali printilan yang perlu dimatangkan.
Sederhananya, acara sakral ini melibatkan dua pihak. Yang tidak kecil ternyata, besar sekali. Maka, membuatnya pun perlu melihat dari berbagai sisi, termasukn
mempertimbangkan kenyamanan keluarga besar dan tamu yang akan datang.
Berbicara mengenai pernikahan, kata pertama yang terlintas di benak saya saat itu adalah 'rustic'. Klasik, timeless. Natural. Sederhana. Berkesan. Beda. Belakangan setelah browsing sana-sini, ternyata tema rustic sepertinya memang cukup banyak digemari para calon manten. Hehe.
Setelah tema pernikahan rustic disetujui juga oleh Mas LNG, detil terkait tema itu langsung dicari. Pilih, pilih, lucu, suka, harga nggak masuk budget, menjadi tahapan selanjutnya. Memilih segala sesuatu untuk acara sakral ini memang perlu pertimbangan matang karena bagi saya ini akan menjadi acara yang diselenggarakan sekali seumur hidup. Namun harus memilih dengan rasional juga dan melihat 'asas manfaat'nya, mengingat setelah menikah pasti bakal banyak kebutuhan yang perlu dipenuhi.
Referensi utama saya mencari hal-hal terkait tema rustic ini adalah Pinterest dan Instagram. Tinggal masukkan hashtag atau keyword yang dicari, dan voila! Keluarlah beragam referensi yang bikin nggak sabar pengen segera menikah :___)))).
Pinterest lebih diperuntukkan mencari konsep, sedangkan Instagram untuk mencari mereka yang bisa mewujudkannya. Misalnya begini. Saya mencari referensi dekor atau undangan tema rustic di Pinterest, lalu mencari vendor yang kira-kira bisa mewujudkannya. Walaupun hasilnya nggak mirip-mirip banget, ya lumayanlah suka hehe.
Jadi, tujuan tulisan ini apa? :))
Betul, memberi referensi atau rekomendasi vendor yang kemarin berjasa membantu terwujudnya acara sakral itu. Sebagian ditemukan di dunia maya, tapi nggak sedikit juga yang ditemukan di dunia nyata.
Maka, kalau kamu kurang lebih mirip saya, suka sesuatu yang lain daripada yang lain tapi bagus dan unik, menyiapkan acara dari jarak jauh, lokasi acara ada di kota kecil yang belum banyak referensi vendor wedding, semoga tulisan ini bisa cukup membantu :)
1. Bahman
Vendor yang satu ini ada di Sumedang, kota tempat acara dilangsungkan. Konon jasanya udah terkenal bagus dan ternyata keluarga saya beberapa kali bekerja sama untuk acara nikahan sodara dan khitanan.
Sebagai vendor senior yang sudah punya nama, jasa yang disediakan Bahman lengkap. Kemarin saya memakai tenda, dekorasi, katering, make up (pengantin dan keluarga), seragam keluarga dan penerima tamu, plus mobil pengantin.
Tenda, dekor, dan make up untuk saya disiapkan mulai dari acara pengajian. Meski dekor dan make upnya nggak seperti referensi dari Pinterest maupun Instagram, hasilnya cukup memuaskan dan banyak tamu yang suka. Ohya, kateringnya juga enak terutama jus jambunya yang menggunakan buah asli! Sayang saya nggak terlalu sempet mencicipi sebagian besar hidangannya :))
2. Enan Dharsita
Ini bukan vendor sih, lebih tepatnya sosok orang yang memiliki beberapa koneksi vendor pengisi acara. Kang Enan sendiri berprofesi sebagai MC dan jasanya sudah terkenal di kalangan tokoh masyarakat Bogor dan sekitarnya. Meskipun kiprahnya di sana, Kang Enan ternyata sesama wargi Sukatali (desa nenek, tempat acara) dan masih ada hubungan keluarga. Cincaylah untuk book beliau di tengah kepadatan jadwalnya :))).
Selain jasa MC Formal - Sunda mulai dari pengajian sampai resepsi, Kang Enan juga membawa 'tim hore' berupa dokumentasi foto dan video (pake drone!), pengisi acara, dan beberapa orang WO-nya yang memastikan semua acara berjalan tepat waktu.
Btw, kami nggak pakai WO khusus untuk acara sakral ini. Semua rangkaian acara Alhamdulillah dibantu oleh keluarga kedua belah pihak. Pengisi acara yang disiapkan Kang Enan juga termasuk 'prosesi' pengajian, siraman, dan adat Sunda sebelum memulai resepsi. Sesuai idaman :')
3. Aksa Bride
Inilah vendor yang ditemukan di IG berkat keukeuhnya ingin membuat undangan dengan konsep yang unik dan beda. Di antara konsep undangan rustic yang bertebaran, vendor dari Jogya ini bisa membuat undangan yang sekaligus berfungsi sebagai pembatas buku. Desain dan ilustrasinya lucu. Mereka juga cukup kooperatif melayani permintaan (baca: revisian) dari saya dan Mas LNG sebelum akhirnya undangan siap cetak dan disebarkan. Maklum, di sini terbiasa dengan urusan cetak mencetak, jadi segala tahapan prosesnya mulai dari konsep awal, desain, draft, sampai dummy perlu dicek quality controlnya supaya hasil akhirnya sesuai harapan.
4. Amethyst
Ini vendor untuk menyewa baju pengantin di Sumedang. Perihal baju pengantin ini awalnya sempat ada beberapa wacana, di antaranya cukup mengenakan satu baju sepanjang acara dan ingin jahit sendiri.
Sebelum menemukan butik mini ini, saya sebenarnya sangat tertarik dengan salah satu baju kebaya-modern-muslim-Sunda hasil berburu di IG. Nggak paham detil bahan dan printilannya, yang jelas model dan tampilan kebaya itu terlihat elegan. Saat mengontak penjahitnya, ternyata kebaya itu bukan disewa, melainkan dibuat khusus untuk kliennya. Saya juga disarankan untuk kontak langsung ke kliennya aja kalo berminat tapi gengsi lah ya. Dan takut ga muat sih hehehe.
Penemuan butik Amethyst ini berkat rekomensasi teteh make up-nya Bahman. Pada kunjungan pertama, di butik terpajang satu set kebaya modern dengam model yang cantik dan warna yang sesuai tema. Langsung deh jatuh hati dan memutuskan untuk menyewanya dengan sedikit perombakan ukuran! Untungnya saat fitting sekali-kalinya, baju pengantin prianya pas sekali di Mas LNG sehingga nggak perlu ada yang diubah. Kalo udah jodoh mah gitu ya :')
5. Dedy Pangjaitan
Sepertinya ini tukang jahit terbaik dan terefisien yang pernah saya temukan. Terletak di seberang jalan desa, Dedy Pangjaitan dipercayakan menjahit kebaya akad saya plus baju-baju Ibu dan para Ua. Mau tahu ongkos jahitnya berapa?
10%nya biaya semesteran jaman kuliah, Sodara-sodara! Murah kan? :____))) Tapi jangan salah, hasilnya nggak kalah rapi dan cantik seperti karya penjahit yang mematok harga lebih mahal.
6. Alifa Craft
Sesuai namanya, vendor hasil nemu di IG ini menyediakan beragam pilihan souvenir jadi. Pada awalnya souvenir mau yang agak rustic sih.. tapi mengingat fungsi juga penting, maka pilihan jatuh pada kipas bali warna-warni. Sebenarnya kalau search di IG, banyak vendor yang menyediakan souvenir serupa. Bedanya, Alifa Craft ini menawarkan harga yang bersahabat plus bebas ongkir untuk pengiriman ke seluruh area di Jawa! (saat itu sih..nggak tau ya kalau kebijakannya sudah berubah)
7. Tote Souve
Souvenir rustic ala-ala akhirnya bisa terwujud di acara unduh mantu di Kediri. Gelas enamel diameter 6 cm warna putih dengan desain yang bisa custom. Vendor ini dipilih karena saat itu, di tengah pencarian dadakan dan kelangkaan barangnya, hanya dia yang bisa menjamin ketersediaan gelas enamel warna putih polos. Mas LNG dan saya memang keukeuh ingin gelas enamel yang putih polos supaya kalau diberi desain custom kesannya lebih elegan dan bersih hehe.
Sebenarnya masih banyak lagi printilan dalam menyiapkan acara pernikahan dan rekomendasi vendor. Supaya nggak ribet sendiri, cobalah buat check list kebutuhannya sehingga nggak ada yang kelupaan di hari-hari terakhir. Pastikan juga segala pilihan sesuai budget dan tetap berkualitas. Jangan terlalu memaksakan, karena perjalanan ke depan masih memerlukan bekal jangka panjang. Belajar dari pengalaman saya, cobalah juga melihat potensi daerahnya dulu dalam mencari vendor-vendor pernikahan. Walau di kota kecil, ternyata ada kok para penyedia jasa yang bisa membantu kita mewujudkan pernikahan impian.
Jadi, udah beneran siap? Good luck! ;)
"Kok bisaaaa? Gimana ceritanyaaaa?"
Inilah reaksi umum yang saya dapat ketika baru-baru ini membagikan undangan pernikahan untuk teman-teman dekat. Dibilang 'mendadak nikah' sebenarnya nggak juga sih, karena persiapannya cukup lama dan memang sayanya aja yang nggak banyak berbagi cerita. Hehe.
Saya lupa kapan pertama kali tepatnya 'mulai memerhatikan' Mas LNG ini. Mungkin setelah nemu akun instagramnya yang mem-posting acara seminar di kantor yang saya selenggarakan. Bukan kepo ya, nemu berdasarkan hashtag! #exanakahensi :p Postingannya menarik perhatian karena di antara minimnya pekerja yang hadir waktu itu, ternyata masih ada orang yang bisa mengapresiasi materi yang dibawakan narasumbernya. Lumayanlah, mengurangi rasa capek karena nyiapin acaranya.
Atau mungkin juga setelah mendengar cerita tentangnya dari teman kantornya. Luar biasa sekali mendengar teman kantornya ini mengapresiasi dia. Selain kagum, saat mendengar cerita itu saya justru sempat menyimpulkan, "Orang sehebat ini mah pasti udah ada yang punya...Pendampingnya juga pasti nggak kalah luar biasa.. ." . Untungnya (?) teman kantornya langsung mengklarifikasi, "Kayaknya belum deh, nggak tau tuh.."
Beberapa bulan kemudian, pikiran random tadi seolah ditunjukkan jalan untuk menemukan jawabannya. Saya berkesempatan bekerja sama dengan Mas LNG untuk sebuah project.
Kesan pertama setelah ketemu sosok aslinya? Orangnya asik, bisa diajak kerja sama. Berbeda dengan orang-orang technical pada umumnya yang cenderung serius, dia justru tergolong yang rame.
Udah, segitu aja. Lha wong ketemunya juga sebentar banget.
Selanjutnya, semua berjalan mengalir. Muncullah kesan kedua, ketiga, dan seterusnya sampai akhirnya berani mengatakan "Siap."
Tentu memutuskan kesiapan ini nggak serta merta, melainkan dengan usaha juga dan berdoa.
Pada akhirnya, saya bisa menjawab pertanyaan diri sendiri yang ini. Bahkan jawabannya seolah diberikan nggak lama setelah posting tulisan itu. Waktu nulis juga udah sambil agak geer sih, siapa tau calon jodoh saya membacanya. Geer sama pede beda tipis memang :')
Jadi buat teman-teman yang masih mencari, cobalah lihat di sekelilingnya lagi. Siapa tau sosok itu juga sudah ada di sana, sedang memantaskan diri. Sambil menunggu, marilah terus menyiapkan hati. Meminta diberikan yang terbaik menurut Yang Maha Kuasa. Dan jika kita dirasa sudah siap, percayalah, sosok yang terbaik itu akan datang tepat pada waktunya.
I had a dream the other night..
..Pada salah satu acara Perusahaan yang namanya kurang lebih "Malam Apresiasi Pekerja Kategori I".
Waktu itu saya masih tergolong anak baru. Kebetulan departemen saya sering diminta supportnya untuk event, jadi walaupun acara itu di bawah koordinator departmen HRD, saya hadir. Untuk memastikan tim publikasi dan dokumentasi ada di tempat dan siap mengabadikan semua momen.
Sebagai pekerja yang masih minim pengalaman, kemampuan menghafal orang, apalagi prestasi, malam itu saya kebanyakan celingak-celinguk di meja belakang. Menanti cemilan disajikan. Atau menunggu diajak ngobrol orang.
Saya semeja dengan para ibu. Lupa, ada karyawatinya nggak ya. Yang jelas, sebagian besar adalah istri pekerja (dan pastinya saya juga belum banyak kenal bapak-bapaknya :__))) ). Saya juga belum terlalu memahami esensi acara itu sampai datanglah seorang ibu, saya tahu dia karyawati, duduk bergabung di meja saya.
"Selamat yaaa!" kata (sebut saja) Ibu Ceria yang menyambut ibu karyawati tadi.
"Makasih," jawab ibu karyawatinya singkat, tapi sumringah.
Mereka dan beberapa ibu lainnya kemudian terlibat obrolan. Dari mendengarkan, akhirnya saya tau kalau suaminya ibu ini, yang juga salah satu pekerja, dinobatkan menjadi salah satu pekerja terbaik dari Perusahaan berkat inovasi-inovasinya.
Satu quote kemudian terlintas: di balik laki-laki hebat/sukses, pasti ada perempuan hebat yang selalu mendukung dan mendoakannya.
Dan saya salut sama ibu karyawati tadi. Di tengah tanggung jawabnya sebagai seorang pekerja juga, dia nggak melupakan tugas utamanya sebagai seorang istri dan ibu rumah tangga sejati. Mendampingi sang suami.
Maka...pikiran random pun terlintas di tengah senyum sambil mendengarkan cerita ibu karyawati..
Seandainya..
Seandainya orang yang saya dampingi nanti adalah sesama pekerja juga...
Semogaaa suatu saat saya bisa 'mengantarkannya' menjadi salah satu sosok yang terbaik itu.
Amin.
Kenapa bukan mendoakan supaya diri sendiri yang kelak bisa maju ke panggung? Karena saya lebih bahagia kalau melihat orang yang saya dampingi kelak berbahagia :).
Doa selintas itu terucap tanpa ada bayangan siapa orang yang akan saya dampingi. Masih baaaaanyak sekali kemungkinan yang bisa terjadi. Tapi, nggak ada salahnya sedikit berharap kan? Hehe.
Sampai suatu hari, sosok itu memasuki kehidupan saya. Mewarnai, bahkan. Saya bukan Manajemen ataupun atasannya yang berhak menentukan dia menjadi yang terbaik atau bukan secara profesional, tapi dengan menjalani hari-hari bersamanya, saya tau dia layak mendapat predikat itu.
Dari cerita orang-orang tentangnya, hampir sebagian besar mengapresiasi ketulusan hatinya dalam setiap melakukan tindakan. Dari pertama kali melihat casing HPnya yang ternyata ada logo Perusahaan, terlihat betapa besar nasionalisme dan dedikasinya. Sebagai orang humas, saya terharu melihat inisiatifnya memasang logo di casing HP. Saya aja nggak kepikiran! :)) Dan dari inisialnya yang kebetulan sama dengan produknya Perusahaan, saya tau dia 'istimewa'.
Dan malam ini, mimpi selintas saya tahun lalu terwujud. Dengan skenario tidak persis seperti yang saya bayangkan, tetapi lebih seru dibandingkan yang saya harapkan. Belum resmi mendampingi, tetapi melihatnya malam ini sudah bisa membuat ikut berseri-seri. Apalagi ketika dia dan beberapa pekerja terbaik lainnya diminta menyanyikan 'lagu kebangsaan' kami. Duh, Gusti! :""")))
Sekali lagi, selamat Mas LNG! Mari terus bermimpi dan bersama mewujudkannya. Terima kasih sudah mau didampingi dan siap mendampingi. Semoga kita bisa bersama meraih kebahagiaan yang hakiki.
"Ini semua tentang LNG," kata Superior saya tadi pagi. Konteks sebenarnya adalah persiapan salah satu program kerja kami yang akan dikenalkan kepada publik dalam waktu dekat. Tapi sepertinya, frase ini bagus juga untuk menjadi bagian pembuka sebuah tulisan. Mirip judul novel terbarunya Tere Liye-lah.. "Tentang Kamu".
Ini semua tentang LNG. Apa yang diketahui tentangnya?
Sampai usia seperempat abad, saya nggak tau LNG itu apa. Malah lebih akrab sama 'saudara'nya, LPG, karena dekat dengan kehidupan sehari-hari. Kalau dengan LPG, terdengar lebih familier kan?
Ini semua tentang LNG.
Liquefied Natural Gas. Gas alam yang dicairkan. Zat gas yang diubah menjadi cair. Benda yang proses perubahannya kayaknya belum pernah diajarin di jaman sekolah dulu (atau udah, tapi kesekip :p ). Sesuatu yang baru dikenal sekarang padahal kayaknya dari dulu udah cukup dekat sama kehidupan.
Ini semua tentang LNG.
Yang proses pembuatannya melibatkan tekanan super besar untuk menghasilkan produksi maksimal. Yang proses pembuatannya membutuhkan standar keselamatan tinggi, dan tentunya dedikasi agar bisa memberikan yang terbaik bagi negeri.
Ini semua tentang LNG.
Prosesnya berawal dari menghilangkan karbon dioksida yang ada di gas alam dan berlanjut menghilangkan kandungan air serta merkuri. Setelah ketiga zat tadi 'pergi', gas alam lalu difraksinasi alias dilakukan pemisahan sesuai komponen penyusunnya. Ada metana, etana, propana, butana, juga pentana. Dalam proses pembuatan LNG, komponen yang lebih dibutuhkan adalah metana. Namun, komponen lain seperti propana juga tetap berperan. Metana selanjutnya didinginkan menggunakan MCR (Multi Component Refrigerant) dan dicairkan di MHE (Main Heat Exchanger).
Kalau mau tau lebih detilnya, bisa cari literatur lain atau ngobrol sama orang-orang yang punya latar belakang di bidang Kimia ya.
Ini semua tentang LNG.
Suatu zat yang kasat mata, padahal kontribusinya terasa nyata. Seperti di Bontang, tempat kilang LNG terbesar berada, Badak LNG. Beberapa pembangunan infrastruktur, bantuan CSR dan support untuk kegiatan-kegiatan positif, sampai program pemberdayaan masyarakatnya jelas ada. Baru-baru ini, BPS Kota Bontang bahkan merilis bahwa kontribusi migas masih menjadi komoditas andalan Kota Bontang.
"Ekspor migas masih menjadi andalan. Kontribusinya mencapai 75,24 persen," kata Kepala BPS Bontang Basiran Suwandi seperti yang dimuat di Bontang Post edisi Senin 30 Januari.
Ini semua tentang LNG.
Ada yang masih ingin diketahui?
Silakan tulis di kolom komentar :)
| In frame: Kepala Dinas Pariwisata Kaltim bersama rombongan wartawan berkunjung ke Knowledge House Badak LNG |
![]() |
| Selamat pagi, Bukittinggi! :') |
![]() |
| Foto dulu biar nggak sedih karena jalannya memutar padahal ternyata bisa tembus langsung dari belakang hotel :)) |
![]() |
| Bahkan Uda-nya yang lebih semangat mengarahkan kami berpose di tempat yang punya background kece dan nggak backlight :p |
![]() |
| Ini pintu masuknya |
![]() |
| Inilah peta rencana pembangunan guanya. Beberapa bagian nggak bisa dimasuki / dilihat. |
![]() |
| "Kalau mau foto-foto di dalam, ada aturannya." "Apa?" "Harus senyum." " :___)))" |
![]() |
| Jangan takut gelap :) |
![]() |
| Bahkan udah ada EEAA! :)) |
![]() |
| Yang jelas bukan sidang usmas / skripsi.. |
![]() |
| Dapur yang nggak berfungsi sebagai 'dapur' pada umumnya :( |
![]() |
| Ada kalanya kita bertemu persimpangan dan harus memilih.. |
![]() |
| "Kita foto di depan toko oleh-oleh aja. Eh tapi kok jadi kayak di depan minimarket biasa? :))" |
![]() |
| Hujan di Hang Nadim :') |
![]() |
| Pemandangan dari udara sepanjang Batam - Padang aja udah membuat nggak jadi tidur |
![]() |
| Source: Trip Advisor |
![]() |
| Source: Booking.com |
![]() |
| Porsi mini .__. |
![]() |
| FYI, mungkin sisi ini adalah yang terbaik untuk memotret dengan latar belakang jamnya |
Saya tidak tahu sudah ada yang pernah memperkenalkannya atau belum, tetapi istilah 'wedtravelling' ini sudah tercetus sejak Agustus 2014. Kalau memang belum ada, anggaplah saya penemunya ya..hehe.
Secara etimologis (halah), 'wedtravelling' berasal dari dua kata yaitu 'wedding' dan 'travelling'. Kalau diartikan, sederhananya istilah ini berarti melakukan kegiatan travelling dengan niat utama (atau niat awal) adalah menghadiri undangan pernikahan.
Saya sendiri baru dua kali melakukannya, ke Cirebon dan Bukittinggi. Diundang menghadiri pernikahan ke dua kota ini memberikan keuntungan tersendiri, menjelajahi kota yang sebelumnya tidak pernah saya datangi.
Karena ada dua tujuan utama yaitu menghadiri undangan pernikahan dan jalan-jalan, wedtravelling memerlukan persiapan yang sedikit berbeda dibandingkan dengan travelling dan kondangan pada umumnya. Dengan pengalaman yang masih minim, saya mencoba berbagi persiapan untuk ber-wedtravelling ria seperti berikut.
1. Tentukan Lama Perjalanan
Acara pernikahan biasanya memang berlangsung hanya satu hari. Atau mungkin dua, kalau akadnya dilakukan di hari yang berbeda dan berniat hadir.
Sebagai wedtraveller, kita harus bisa membaca peluang ini untuk menyempatkan diri menjelajahi kota yang dituju. Syukur-syukur kalau bisa memanfaatkan jatah cuti sehingga lebih maksimal travellingnya.
Saya biasanya lebih suka menjelajahi kota sebelum menghadiri undangan supaya nggak terlalu capek. Kalau kota yang dituju jauh dari tempat tinggal, idealnya sediakan waktu H-2 acara sampai H+1 untuk waktu tempuh. Tapi kalaupun nggak bisa, 2-3 hari pun sudah cukup kok :')
2. Susun Fokus Wisata
Setelah mengetahui lama perjalanan, cobalah susun itinerary agar bisa memanfaatkan waktu secara maksimal. Satu kota terkadang memiliki banyak tujuan wisata yang menggoda. Namun karena keterbatasan waktu, kita harus bijak menentukan prioritas.
Kenali potensi terbesar dari kota yang akan dituju lalu sesuaikan dengan minat kita. Mau wisata alam? Budaya? Kuliner? Belanja? Apakah ada event tertentu di tanggal kita berada di kota itu yang bisa dikunjungi? (Pengalaman saya saat berada di Padang-Bukittinggi lalu, ternyata di hari saya ada di Bukittinggi, Noah sedang menyelenggarakan konser di Padang dan sebenarnya itu bisa ditonton! Huhu :( )
Jangan lupa masukkan juga perhitungan jarak tempuh dari tempat menginap ke tempat resepsi ya.
3. Bijak Memilih Transportasi
Kalau ada beberapa pilihan transportasi, pilihlah kendaraan dengan jarak dan waktu tempuh yang meminimalisir rasa lelah. Simpan energi untuk menjelajahi kota tujuan dan menghadiri undangan!
Saya pernah agak kurang tepat memilih kendaraan ketika ber-wedtravelling dari Bandung ke Cirebon. Waktu itu, saya dan teman seperjalanan memilih kereta eksekutif untuk berangkat dan kereta ekonomi untuk pulang. Kami berasumsi, saat pulang kondisi keuangan pasti akan menipis sehingga perlu berhemat. Namun menurut saya, ke depannya strategi ini perlu dibalik, pilih kelas ekonomi untuk berangkat dan kelas eksekutif untuk pulang. Mengapa? Karena ketika pulang, badan biasanya baru terasa lelah sehingga memerlukan kenyamanan ekstra! :p
4. Bawa Barang Seperlunya
Bawalah baju, sepatu, aksesoris, dan printilan lain seperlunya. Ini supaya nggak ribet selama di perjalanan dan anggaplah untuk menyisakan tempat oleh-oleh hehehe. Pastikan juga kita sudah tahu kondisi cuaca di kota tujuan supaya nggak saltum. Kemarin teman saya lupa membawa baju hangat padahal kami bepergian ke daerah dataran tinggi. Untung karena terlalu bersemangat, jadi nggak merasa kedinginan :p
Baju kondangannya jangan lupa! :))
5. Memilih Partner
Ini juga persiapan yang nggak kalah penting. Mengapa? Karena partner akan menentukan kebahagiaan kita selama perjalanan hahahaha. Alhamdulillah selama dua kali melakukan wedtravelling, saya ditemani partner yang bisa diajak kerja sama, nggak ribet, dan berbagi suka duka (duka: ketika nyasar ke tempat wisata yang mau dituju :p)
Sebelum berangkat, carilah teman yang kira-kira bisa diajak ber-wedtravelling dan memiliki jadwal yang sama untuk memudahkan koordinasi. Lebih asik lagi kalau sang partner memiliki kemiripan selera dan semangat sehingga travellingnya bisa lebih maksimal.
Saya nggak menyarankan untuk pergi sendirian karena secara pribadi kota tujuan wedtravelling ini umumnya masih asing bagi saya. Tidak ada saudara ataupun kenalan di kota itu sehingga kalau (amit-amit) kenapa-napa, nanti susah meminta pertolongan. Keberadaan partner juga diperlukan untuk mendapat restu orang tua sebelum berangkat :')
Ada yang sudah pernah atau sering melakukan wedtravelling juga? Mari berbagi pengalaman dan tipsnya! :)
![]() |
| Indonesia! |
![]() |
| Profil KRI Pasopati 410 |
![]() |
| Bagian depan kapal |
![]() |
| Ruang Torpedo Haluan, dipersenjatai dengan empat torpedo propeller dan berfungsi sebagai tempat penyimpanan torpedo |
![]() |
| Karena.. kita nggak bisa nggak berkomunikasi, kan? :') |
![]() |
| Masih dari Ruang Komunikasi. Gimana rasanya ngobrol dari dalam lautan ya? :') |
![]() |
| Pintu perpindahan tiap ruangan. Pegel juga lewatnya~ :)) |
![]() |
| Mungkin ruang mesin. Atau ruang kerja. |
![]() |
| Periskopnya. Nggak keliatan apa-apa waktu diintip. |
![]() |
| Masih mungkin ruang mesin. |
![]() |
| Supaya nggak hilang arah.. |
![]() |
| Untuk menghitung jarak torpedo ke sasaran. |
![]() |
| Meja makannya. |
![]() |
| Ruang tidur ABK. Have a nice sleep.. |
![]() |
| Mungkin ruang listrik |
![]() |
| Motor Ekonomi, digunakan saat kapal berlayar dengan kecepatan ekonomis |
![]() |
| Pompa hidrolik, berfungsi mengubah energi mekanik menjadi energi hidrolik |
![]() |
| Ruang Torpedo Buritan |