Showing posts with label RY Story. Show all posts
Showing posts with label RY Story. Show all posts

Tuesday, March 29, 2022

2021 in Review

Setengah tahun vakum nge-blog, sekarang tiba-tiba membuat year in review aja! Hehehe.

Sebelum menulis ini, saya sempat flashback membaca tulisan serupa di tahun 2020. Setelah banyak drama, Alhamdulillah di 2021 kehidupan lebih membaik dan cerah ceria walau terkadang ada sandungannya juga.

Dan, inilah perjalanan 2021 versi saya.

1. 'Inovasi' Ala-ala
Tahun 2021 masih diwarnai dengan virus Covid-19 yang trendingnya naik turun. Biasanya sih, kalau dekat musim liburan terus naik. Tapi, thanks to corona lagi, di tahun ini saya punya kesempatan membuat beberapa project sederhana yang berkaitan sama pekerjaan.

Project pertama adalah 'Jastip Tojas'. Sesuai namanya, project ini memungkinkan warga komplek untuk nitip belanja di minimarket kesayangan kami semua. Jastip Tojas lahir dari situasi pandemi yang saat itu mengharuskan banyak orang isoman (isolasi mandiri) atau karaman (karantina mandiri) dan nggak bisa berbelanja kebutuhannya. Plus, komplek dalam keadaan 'keterbatasan akses' sehingga kurir dari luar nggak bisa masuk dengan leluasa.

Sebagai orang yang nggak mau ribet, project ini nggak melibatkan banyak orang. Awalnya hanya ada 1 orang sebagai admin dan yang merekap pembayaran, dan 2 orang sebagai kurir. Mereka semua anak magang. Setelah dedek dedek itu selesai masa magangnya (tapi pandeminya ga selesai-selesai), saya diminta tetap melanjutkan project ini. Akhirnya saya mengajak satu mitra kerja yang bisa diajak kerja sama. Dia berperan sebagai kurir (termasuk angkat-angkat galon ke rumah :)) ) dan saya menjalankan sisanya.
 
Project ini pernah saya presentasikan di tugas akhir mata kuliah Business Leadership. Mungkin, project sederhana yang berdampak cukup luar biasa ini jugalah yang membantu saya mendapatkan predikat 'Best Achievement' di mata kuliah tersebut. 

Project kedua, Sedekah Sampah. Targetnya masih di dalam komplek dan latar belakangnya juga masih terkait kerjaan. Dari project kedua ini, lahirlah mini project lainnya yang ternyata seru juga dan akan saya ceritakan di lain kesempatan: RT Darling! Challenge dan Declutter Yuk! Bontang.

RT Darling! Challenge


2. Skills Level: Up!
Sejujurnya, di tahun 2021 saya sempat merasa stuck. Mungkin lelah dengan kondisi pandemi juga ya. Semacam, mau marah tapi ngutruk ke siapa. Bosan juga dengan beberapa hal karena setiap tahun harus menghadapi sesuatu yang sama.

Di tengah kejenuhan dengan segala penyebabnya, saya tersadar tahun ini harus bangkit. Harus meningkatkan kompetensi diri meski nggak ada yang men-sponsori. 

Jadi, di tahun 2021 akhirnya saya bisa mengikuti Sertifikasi Strategic PR dari salah satu lembaga sertifikasi yang sudah memiliki lisensi BNSP. Mumpung masih pandemi, bisa sertifikasi sambil duduk manis di Bontang ya kaaan~
 
Pilihan kompetensi untuk sertifikasi


Selain itu, saya juga sempat ikut kursus gratis dari Google tentang Digital Marketing. Ini ada e-certificatenya juga btw, tapi saya masih belum lolos passing grade hahaha. Buat yang mau belajar digital marketing dari basic, bagus loh itu materinya. Belajar teori dan sambil dikasih kuis di akhir setiap materi.

Masih banyak lagi webinar, seminar, apapun lah metode pembelajaran online yang saya ikuti sepanjang 2021. Sebagian besarnya memang masih terkait dengan CSR sih, tapi alhamdulillah banyak berkahnya. 

Oh iya, sepanjang 2021 ini, saya juga dipercaya mengisi in house training tentang public speaking dan menjadi narasumber public training perusahaan untuk topik CSR & PROPER. Buat saya, kedua kesempatan ini juga sekaligus mengasah skill saya di bidang lain: public speaking.

3. Cvd Attacked!
Yhaaa sebagaimana jutaan manusia lain, akhirnya si virus rese ini menyerang saya. Kayaknya ini pas gelombang kedua ya, tapi saya kena pas trennya mulai turun. Jadi, alhamdulillah dapat kamar karantina di apate. 

Saya memilih karantina di apate karena (alhamdulillahnya lagi) anak yang besar dan salah satu ART dinyatakan negatif PCR. Sisanya, positif 🤪. Ke-positif-an saya ini juga menjadi pemecah rekor karena di departemen saya akhirnya ada yang kena hahaha. Jangan tanya dapet dari mana, saya juga nggak tau. Malah awalnya denial ngerasa ngedrop karena emang lagi PMS pun.

Kesempatan 'staycation' selama hampir tiga minggu ini cukup berpengaruh pada beberapa hal dalam hidup saya. Jadi ingat untuk lebih bersyukur lagi pastinya. Bersyukur masih diberi kekuatan dan pertolongan dari banyak pihak untuk menjalani masa perawatan.

4. Pindah
Menjelang akhir 2021, saya dan suami memutuskan untuk pindah ke rumah dinas yang baru. Dengan ukuran yang lebih luas, kami berharap anak-anak bisa lebih mengeksplor lingkungan sekitarnya.

Sebenarnya, kesempatan untuk pindah sudah ada sekitar 2 atau 3 kali. Yang sebelum-sebelumnya, nggak mau pindah karena belum siap aja. Terutama bagi saya secara mental. Selain hoream riweuh pindahan, rumah lama itu adalah saksi saya bertumbuh di Bontang. Mulai dari masa-masa sendiri, sampai sekarang punya bernyit dua :').

Rupanya, Semesta mendukung keputusan pindah rumah saya ini. Saking mendukungnya, kerjaan saya pun (di)pindah ke bagian yang mengurusi fasilitas di perumahan dinas pekerja :__))).

A whole new world, banget. Saya, yang selama ini takut kalau mendapat posisi di luar kemampuan, seperti dipaksa keluar dari zona nyaman. Ya yang sebelumnya ini nggak nyaman banget gimana juga sih pada awalnya, tapi seenggaknya transisinya smooth lah hahaha.

Yang ini, bener-bener jauh. Secara latar belakang akademis, nonakademis, maupun tanggung jawabnya. Gimana coba, saya yang backgroundnya komunikasi terus harus menilai apakah rumah yang sudah diperbaiki itu dicatnya benar-benar dua kali atau sekali aja? Yang sebelumnya lagi semangat menyelami dunia PR (Public Relations), tiba-tiba dihadapkan sama aneka tools dan material yang saya pun nggak paham fungsi dan bedanya :)))). Biasa diminta me-review tulisan atau video, sekarang diminta memutuskan apakah alat elektronik yang rusak perlu diperbaiki atau diganti aja.
 
Biasa ngecek EYDnya tulisan udah bener atau belum, sekarang ngecek tanaman yang ditanam udah tumbuh segimana :')


Pada akhirnya, kepindahan ini terutama yang di kerjaan, disikapi dengan santai dan tetap berusaha memberikan yang terbaik. Ada kerjaan yang nggak bisa bener? Yaudah, coba lagi. Ada subordinate yang susah diatur? Yaudah coba ingetin. Sekali, dua kali nggak mempan, bye!
 

Itulah catatan perjalanan di 2021. Lebih rame dibandingkan tahun sebelumnya yang monoton banget dan lebih menantang. Terima kasih untuk semua support dan relasi yang baik selama tahun lalu! Semoga 2022 bisa lebih banyak menciptakan kebaikan dan kenangan indah 😊.


Sunday, July 29, 2018

Pengalaman Melahirkan

"Bu, kok di akta kelahiran aku ditulisnya 'abnormal'? Bukannya aku normal normal aja ya?"

"Ya kan dulu kamu keluarnya setelah dibantu pakai alat.."

Cerita Ibu kemudian terus mengalir mengenai proses kelahiran saya. Cerita yang diulang beberapa kali sampai rasanya saya bisa membayangkan situasi saat itu.

Pengalaman Ibu dalam melahirkan saya secara tidak langsung berpengaruh pada kondisi psikis. Sejak melihat dua garis merah pada test pack dan dinyatakan positif hamil oleh dokter, saya selalu bertanya-tanya, akan seperti apa pengalaman melahirkan nanti?

Untungnya, saya memiliki waktu sekitar sembilan bulan atau 39 minggu untuk menyiapkan segala sesuatunya. Baik fisik, mental, juga material dan finansial agar kelak sang buah hati dapat hidup sehat nan bahagia. Tapi memang, persiapan mentalnya yang lebih banyak sih dibandingkan fisik. Alias, lebih banyak baca teori tentang kehamilan dan persalinan aja dibanding mempraktikannya langsung! :__)))

Contoh nyatanya, saya baru mengikuti senam hamil di usia kandungan memasuki 37/38 minggu. Ini pun sekali-kalinya aja ikut, supaya ada sedikit wawasan saat persalinan nanti. Padahal kata teman saya yang sudah lebih dulu melahirkan, "Semua yang diajarin di kelas senam hamil itu lupa kalo udah masuk ruang bersalin!"

Menurut dokter, HPL saya diprediksi jatuh pada tanggal 17 Juli 2018. Bagus aja sih, jadi bisa mulai mengambil cuti hamil-melahirkan setelah Lebaran. Dan kalau dihitung hari kalender, cuti ini akan berada di masa lagi hectic-hecticnya kerjaan hehehehe. Saya juga bukan pecinta tanggal cantik, jadi mau melahirkan kapan pun oke saja buat saya. Tak perlu dipercepat atau diperlambat kecuali kalau alasannya kesehatan.

Namun diam-diam, saya sering berbisik kepada sang buah hati saat ia masih ada di dalam kandungan. Supaya ia 'keluar' di tanggal 12, tanggal yang sama dengan hari lahir saya. Tentu bisikan ini nggak serius-serius amat, sekali lagi yang terpenting adalah kami dalam keadaan selamat dan sehat saat persalinan, kapan pun tanggalnya.

Semakin mendekati HPL, kecemasan semakin meningkat. Sayangnya, kekhawatiran akan persalinan ini masih diiringi kemageran untuk melakukan berbagai hal yang konon bisa-mempercepat-dan-memperlancar-proses-persalinan. Beberapa kali suami menyarankan untuk mengepel lantai rumah sambil berlutut, tapi saya lebih memilih membersihkan lantai dengan vacuum cleaner. Ketika bisa bangun pagi dan ingin jalan kaki, eh cuaca malah hujan deras. Intinya, level kemageran pun malah meningkat.

Sampai akhirnya, saat yang dinantikan itu muncul. Ketika Ibu dan Ibu Mertua sedang menonton TV di ruang keluarga. Ketika suami dinas ke luar kota selama dua hari. Ketika saya lebih memilih gogoleran di kamar setelah Maghrib karena perut agak mulas.

Seperti biasa, kalau suami dinas kadang saya suka nitip 'oleh-oleh'. Malam itu, sambil gogoleran pun kami saling berkirim WA untuk mengupdate kabar. Saya masih sempat nitip beberapa komik dan novel, sementara suami menanyakan kabar sang buah hati kami diiringi pesan, "Nanti keluarnya nunggu Ayah ya, Sayang..."

Rasa mulas muncul timbul tenggelam. Kontraksi palsu nih, pikir saya. Sejujurnya nggak terlalu paham juga sih bedanya kontraksi yang asli dan palsu, tapi selama ini rasa mulas memang hanya muncul sekali dalam sehari. Saya juga sudah download aplikasi pencatat interval kontraksi, tapi rasanya kok nggak terlalu membantu ya :)).

Semakin malam, gerakan sang buah hati semakin aktif. Tendangannya kuat terasa walau sudah saya elus-elus perut untuk membuatnya sedikit tenang. Gerakannya menurun. Saya berusaha tidur cepat.

Sampai tiba-tiba....

...Ada satu tendangan yang rasanya lebih kencang dari biasanya. Menekan bagian bawah tubuh saya...

...dan tak lama, keluar cairan dari bagian tersebut.

Sedikit kaget, saya ke kamar mandi untuk memastikan. Bening, tidak ada flek atau apapun. Dokter kandungan yang memeriksa saya pernah berkata, ketuban yang pecah biasanya akan diiringi semacam flek atau darah. Bila itu terjadi, kita harus segera ke rumah sakit untuk mendapat tindakan lebih lanjut.

Karena cairan yang keluar tadi tidak diikuti zat apapun, saya berusaha berpikir positif.  Sedikit dilema juga sih, karena sepertinya bukan urin.

Selang beberapa menit, cairan kembali keluar tanpa mampu saya tahan. Jangan panik, jangan panik, jangan panik. Di tengah sedikit kekhawatiran (dan untungnya masih ada kewarasan), saya akhirnya memutuskan: berganti baju dan bersiap ke rumah sakit dengan hanya membawa HP, dompet, dan buku pink.

Untung nggak kerasa mulas atau apa! .___.

Dengan mencoba tetap tenang, saya berpamitan kepada kedua Ibu yang terlihat bingung. Saya nggak bisa membonceng mereka ataupun menyetir, jadi opsi ke rumah sakit sendiri naik motor harus diambil. Saya hanya meminta tolong untuk menyiapkan tas bersalin yang sudah disiapkan sebelumnya dan memberitahu suami bahwa sepertinya ia harus pulang malam ini (dari jadwal semula pulang besok sore).

Sampai di UGD, para suster jaga nggak kalah heran melihat saya masih bisa struggle naik motor sendirian. Apalagi ternyata sudah positif cairan yang keluar tadi adalah air ketuban. Yang sedikit mengesalkan, sinyal di rumah sakit malam itu jelek sekali sehingga saya sedikit kesulitan memberi kabar kepada para Ibu. Untungnya Ibu dan Ibu mertua akhirnya tiba di rumah sakit dengan diantar teman suami.

Saya sendiri langsung diajak ke ruang bersalin untuk diobservasi kondisi sang buah hati. Sudah bukaan satu ternyata. Alhamdulillah detak jantungnya masih terbilang bagus sehingga peluang saya untuk melahirkan normal masih ada. Saya pun dipindahkan lagi ke ruang perawatan untuk istirahat sambil menunggu bidan datang.

Dua jam setelah masuk ruang perawatan, bidan memutuskan untuk menginduksi saya melalui obat yang diletakkan di bawah lidah. Bagian ini nggak ada di artikel-artikel persalinan yang saya baca, jadi saya masih polos ketika mengonsumsi obat tersebut.

"Nanti kita lihat lima jam lagi apakah bukaannya udah lengkap. Kalau belum, nanti ditambah obatnya," kata mbak bidan. Saya iyain aja sambil mencoba melanjutkan tidur.

Ternyata nggak sampai lima jam pun...

GUSTI! PERASAAN APA INI???

Kadang ada, kadang hilang..makin lama intensitas nyerinya makin kuat. Inikah yang disebut 'gelombang cinta'? :___)))

Kalau mau tahu gimana rasanya, bayangkan perasaan ketika datang bulan, dikalikan beberapa kali lipat. Tapi kadang hilang, makanya mungkin itu yang membuatnya disebut 'gelombang'.

Beberapa kali saya hampir menyerah menghadapi gelombang itu. Bidan yang seharusnya dipanggil ketika bukaan sudah nyaris lengkap, terpaksa dipanggil tiga kali untuk mengecek progressnya. Beruntung, Ibu dan Ibu Mertua setia menemani di ruang perawatan. Apalagi Ibu, bersedia digenggam tangannya super erat oleh saya ketika gelombang itu datang. Huhu..ku merasa berdosa udah mau punya anak gini masih ngerepotin Ibu :____(

Entah karena lelah dipanggil terus atau apa, setelah tiga jam sang bidan akhirnya memutuskan untuk memindahkan saya ke ruang bersalin. Padahal masih belum ada rasa mulas. Tapi memang, pembukaannya tergolong berjalan cepat ternyata.

So, here we go. Ruang bersalin. Masih didampingi Ibu dan rasa gelombang yang makin menjadi-jadi.

Ketika akhirnya rasa mulas datang, bidan dan suster mulai bersiap. Menyuruh saya mengejan sekuat tenaga. Meminta saya membayangkan hal-hal mengesalkan agar kekuatan untuk mengejan semakin besar. Yah kalo lagi kondisi begitu mana bisa ingat sih Mba :____)))

Singkat cerita, saya berusaha mengejan sambil meracau. Nyaris satu jam lebih proses ini karena saya sering kekurangan nafas. Sampai pukul 04.00, akhirnya suami tiba di ruang bersalin. Dengan beberapa pertimbangan, saya memutuskan tetap di ruang bersalin bersama Ibu.

Mungkin memang benar ya kalau janin itu bisa 'mengerti' keinginan kita. Pukul 04.20, sang buah hati akhirnya terlahir ke dunia dengan selamat sentosa. Tanggal 12 Juli, seperti keinginan ibunya yang pengen 'tanggal 12', plus setelah ayahnya datang, seperti keinginannya yang pengen 'ditungguin'.

Melahirkan bayi adalah pengalaman luar biasa, apalagi jika baru pertama kali mengalaminya. Terlepas dari semua drama selama kontraksi - persalinan, saya sangat bersyukur karena Yang Maha Kuasa mempercayakan kami -- saya dan suami -- untuk menjadi orang tua dari seorang putri cantik nan sehat yang selanjutnya kami beri nama "Kanaya Mahira Sakti".

Selamat datang di dunia, Kanaya! Terima kasih telah hadir mewarnai kehidupan Ayah dan Ibu 😊

Tuesday, January 16, 2018

Oleh-oleh dari Desa Ende

Awal tahun 2018 sebelum sempat menyusun resolusi, saya berkesempatan mengunjungi salah satu pulau yang menjadi "10 Destinasi Wisata Unggulan Indonesia": Lombok. Meski dalam rangka business trip, kunjungan ini sekaligus menambah daftar baru pulau/kepulauan di Indonesia yang akhirnya bisa disinggahi.

Selain wisata pantai dan alamnya yang memang cantik, Lombok menyimpan warisan budaya yang masih terpelihara hingga kini. Mampirlah sejenak ke Desa Sasak Ende. Desa yang masih bernuansa asli, bahkan nyaris minim tersentuh teknologi masa kini.

Tiba di Desa Sasak Ende, kami (saya dan rombongan) disambut oleh gapura selamat datang berbentuk atap rumah Mataram yang khas. Beberapa bapak berseragam yang sebelumnya duduk mengobrol di gazebo dekat gapura, tersenyum menyambut. Salah satunya langsung sigap menghampiri, menjadi tour guide kami.

Selamat Datang!
Saya tidak memiliki gambaran sama sekali mengenai desa ini. Yang ada di benak saya, kondisinya mungkin kurang lebih sama dengan di Sukatali, desa nenek moyang. Kondisi badan yang sedang hamil muda juga membuat saya nggak terlalu excited untuk menjelajah. Ditambah jalanan yang cukup nanjak di area masuknya, maka pertanyaan pertama saya kepada sang tour guide adalah, "Berapa lama kita akan keliling?" *Belum apa-apa udah ngos-ngosan* 

Kelelahan saya mulai berkurang setelah berjalan beberapa meter dari gapura masuk tadi. Sekelompok anak kecil memakai baju adatnya, duduk dan kembali menyapa kami ramah, "Selamat dataaang!!" Otomatis, suasana hati ikut ceria melihat semangat mereka.

Belum sampai lima menit berjalan, ternyata kami diajak ke pemberhentian pertama: salah satu rumah adat Suku Sasak Ende. Rumah ini memang dijadikan obyek bagi wisatawan untuk melihat lebih detil sekaligus masuk ke dalam bagi yang berminat.

Permisi...

Yang unik dari rumah adat ini adalah konstruksinya. Bentuk atapnya rendah, sehingga pengunjung harus agak menunduk kalau mau naik ke teras apalagi masuk ke dalam. Hal ini sekaligus menandakan bahwa sang tamu harus menghormati tuan rumah.

Bagian lantai rumah terlihat kokoh seperti disemen. Namun, tahukah kamu apa bahan dasarnya? Yess, kotoran kerbau. Dicampur tanah liat, hehehe.

Di teras rumah, terdapat atraksi menenun oleh perempuan berusia sekitar 8 tahun. Masih muda banget memang. Saya aja mikir, waktu seusianya udah bisa apa yaa :')))) . Pengunjung juga diperbolehkan masuk dan melihat bagian dalam rumah yang ternyata masih alami sekali. Minim perabotan dan penerangan.

Lanjut, sang tour guide mengajak kami ke area perkampungan yang rumahnya lebih ramai. Ada sebidang tanah lapang yang rupanya sudah disiapkan untuk atraksi berikutnya: Tarian Peresean. Dua orang lelaki bertarung dengan pedang dan tameng tradisionalnya diiringi bunyi musik khas Sasak. Satu orang yang menjadi wasit, memiliki peluit sebagai pertanda tarian dimulai atau berhenti sejenak. Kalau tarian berhenti sejenak, wasitnya akan menari sementara kedua penari/petarungnya bersiap melanjutkan.

Area pertunjukan

Para pemusik

Pembukaan pertunjukan

Tari Peresean
Selesai para pemuda bertarung, pertunjukan dilanjutkan dengan atraksi anak-anak yang menampilkan tarian yang sama. Ini super gemaaaas! Anak-anaknya masih bocah banget aslinyaaa hahahha! Salut sama orang yang sudah bisa mewariskan kesenian tradisional itu ke mereka, juga kepada dedek-dedeknya yang kayak udah paham aja sama tariannya di usia sedini itu (walau kadang pas peluit ditiup, mereka masih berantem :'))) )


Priittt...priiitt..!!
Sudah selesai?

Belum. Selanjutnya, giliran para pengunjung yang berkesempatan 'uji nyali' mencoba tarian tersebut. Dua orang dari rombongan kami akhirnya menawarkan diri untuk tampil. Diiringi sorakan para pendukung plus rombongan lain yang kebetulan hadir, mereka seolah nggak mempedulikan teriknya matahari yang semakin bersinar.

Daeng Kiki vs Daeng Boski


Menjelajahi Desa Ende, pengunjung tidak perlu membayar tiket masuk, retribusi atau semacamnya. Yang diminta hanya keikhlasan pengunjung untuk mendukung pelestarian warisan budaya nusantara tersebut. Jadi, setelah tiga atraksi tadi ditampilkan, sang wasit dari pertandingan pertama kembali tampil menari sambil membawa salah satu tameng untuk diedarkan kepada para pengunjung yang ingin 'nyawer'. Kreatif!


Selain atraksi kesenian, di Desa Ende kita juga bisa membeli langsung produk kerajinan khas Suku Sasak seperti baju, sarung, tas, dan aksesoris lainnya. Tas selempangnya lucu-lucu deh. Kecil, praktis untuk dibawa jalan.

Puas berbelanja (dan ada juga yang ngadem), kami kembali melanjutkan perjalanan ke tempat berikutnya. Agak sedih waktu melihat perubahan raut wajah anak-anak yang mengiringi kami, tapi rupanya mereka tetap bisa dadah dadah ceria sambil menyampaikan pesan, "Semoga perjalanannya menyenangkan!"


Ah, terima kasih banyak Desa Ende! Di balik kesederhanaan penampilan dan kekayaan warisan budayanya, banyak pelajaran dan kesan positif yang bisa dipetik. Semoga lain waktu bisa berkunjung ke sana lagi :)

*All photos taken by Kiky Widiyanto

Tuesday, July 4, 2017

7 Rekomendasi Vendor Pernikahan ala #RYLNGStory

Belum ada genap setahun, saya pernah posting mengenai kesiapan meraih resolusi ketiga. Pada tulisan itu, kesiapannya memang lebih dari segi mental. Ada 14 pertanyaan yang bisa mengindikasikan apakah si penjawab sebenarnya sudah siap menikah atau belum. Dan si penjawab yang sok iye itu dengan pedenya menjawab di blog padahal saat itu belum ada bayangan jelas tentang resolusi ketiganya :)).

Setelah kemantapan hati itu ada, rupanya segala hal menuju terlaksananya acara sakral itu juga perlu disiapkan dengan matang. Nggak sekadar aspek yang besar seperti tempat, dekor, baju (dan seragam), dan katering ternyata, melainkan banyak sekali printilan yang perlu dimatangkan.

Sederhananya, acara sakral ini melibatkan dua pihak. Yang tidak kecil ternyata, besar sekali. Maka, membuatnya pun perlu melihat dari berbagai sisi, termasukn
mempertimbangkan kenyamanan keluarga besar dan tamu yang akan datang.

Berbicara mengenai pernikahan, kata pertama yang terlintas di benak saya saat itu adalah 'rustic'. Klasik, timeless. Natural. Sederhana. Berkesan. Beda. Belakangan setelah browsing sana-sini, ternyata tema rustic sepertinya memang cukup banyak digemari para calon manten. Hehe.

Setelah tema pernikahan rustic disetujui juga oleh Mas LNG, detil terkait tema itu langsung dicari. Pilih, pilih, lucu, suka, harga nggak masuk budget, menjadi tahapan selanjutnya. Memilih segala sesuatu untuk acara sakral ini memang perlu pertimbangan matang karena bagi saya ini akan menjadi acara yang diselenggarakan sekali seumur hidup. Namun harus memilih dengan rasional juga dan melihat 'asas manfaat'nya, mengingat setelah menikah pasti bakal banyak kebutuhan yang perlu dipenuhi.

Referensi utama saya mencari hal-hal terkait tema rustic ini adalah Pinterest dan Instagram. Tinggal masukkan hashtag atau keyword yang dicari, dan voila! Keluarlah beragam referensi yang bikin nggak sabar pengen segera menikah :___)))).

Pinterest lebih diperuntukkan mencari konsep, sedangkan Instagram untuk mencari mereka yang bisa mewujudkannya. Misalnya begini. Saya mencari referensi dekor atau undangan tema rustic di Pinterest, lalu mencari vendor yang kira-kira bisa mewujudkannya. Walaupun hasilnya nggak mirip-mirip banget, ya lumayanlah suka hehe.

Jadi, tujuan tulisan ini apa? :))

Betul, memberi referensi atau rekomendasi vendor yang kemarin berjasa membantu terwujudnya acara sakral itu. Sebagian ditemukan di dunia maya, tapi nggak sedikit juga yang ditemukan di dunia nyata.

Maka, kalau kamu kurang lebih mirip saya, suka sesuatu yang lain daripada yang lain tapi bagus dan unik, menyiapkan acara dari jarak jauh, lokasi acara ada di kota kecil yang belum banyak referensi vendor wedding, semoga tulisan ini bisa cukup membantu :)

1. Bahman
Vendor yang satu ini ada di Sumedang, kota tempat acara dilangsungkan. Konon jasanya udah terkenal bagus dan ternyata keluarga saya beberapa kali bekerja sama untuk acara nikahan sodara dan khitanan.

Sebagai vendor senior yang sudah punya nama, jasa yang disediakan Bahman lengkap. Kemarin saya memakai tenda, dekorasi, katering, make up (pengantin dan keluarga), seragam keluarga dan penerima tamu, plus mobil pengantin.

Tenda, dekor, dan make up untuk saya disiapkan mulai dari acara pengajian. Meski dekor dan make upnya nggak seperti referensi dari Pinterest maupun Instagram, hasilnya cukup memuaskan dan banyak tamu yang suka. Ohya, kateringnya juga enak terutama jus jambunya yang menggunakan buah asli! Sayang saya nggak terlalu sempet mencicipi sebagian besar hidangannya :))

2. Enan Dharsita
Ini bukan vendor sih, lebih tepatnya sosok orang yang memiliki beberapa koneksi vendor pengisi acara. Kang Enan sendiri berprofesi sebagai MC dan jasanya sudah terkenal di kalangan tokoh masyarakat Bogor dan sekitarnya. Meskipun kiprahnya di sana, Kang Enan ternyata sesama wargi Sukatali (desa nenek, tempat acara) dan masih ada hubungan keluarga. Cincaylah untuk book beliau di tengah kepadatan jadwalnya :))).

Selain jasa MC Formal - Sunda mulai dari pengajian sampai resepsi, Kang Enan juga membawa 'tim hore' berupa dokumentasi foto dan video (pake drone!), pengisi acara, dan beberapa orang WO-nya yang memastikan semua acara berjalan tepat waktu.

Btw, kami nggak pakai WO khusus untuk acara sakral ini. Semua rangkaian acara Alhamdulillah dibantu oleh keluarga kedua belah pihak. Pengisi acara yang disiapkan Kang Enan juga termasuk 'prosesi' pengajian, siraman, dan adat Sunda sebelum memulai resepsi. Sesuai idaman :')

3. Aksa Bride
Inilah vendor yang ditemukan di IG berkat keukeuhnya ingin membuat undangan dengan konsep yang unik dan beda. Di antara konsep undangan rustic yang bertebaran, vendor dari Jogya ini bisa membuat undangan yang sekaligus berfungsi sebagai pembatas buku. Desain dan ilustrasinya lucu. Mereka juga cukup kooperatif melayani permintaan (baca: revisian) dari saya dan Mas LNG sebelum akhirnya undangan siap cetak dan disebarkan. Maklum, di sini terbiasa dengan urusan cetak mencetak, jadi segala tahapan prosesnya mulai dari konsep awal, desain, draft, sampai dummy perlu dicek quality controlnya supaya hasil akhirnya sesuai harapan.

4. Amethyst
Ini vendor untuk menyewa baju pengantin di Sumedang. Perihal baju pengantin ini awalnya sempat ada beberapa wacana, di antaranya cukup mengenakan satu baju sepanjang acara dan ingin jahit sendiri.

Sebelum menemukan butik mini ini, saya sebenarnya sangat tertarik dengan salah satu baju kebaya-modern-muslim-Sunda hasil berburu di IG. Nggak paham detil bahan dan printilannya, yang jelas model dan tampilan kebaya itu terlihat elegan. Saat mengontak penjahitnya, ternyata kebaya itu bukan disewa, melainkan dibuat khusus untuk kliennya. Saya juga disarankan untuk kontak langsung ke kliennya aja kalo berminat tapi gengsi lah ya. Dan takut ga muat sih hehehe.

Penemuan butik Amethyst ini berkat rekomensasi teteh make up-nya Bahman. Pada kunjungan pertama, di butik terpajang satu set kebaya modern dengam model yang cantik dan warna yang sesuai tema. Langsung deh jatuh hati dan memutuskan untuk menyewanya dengan sedikit perombakan ukuran! Untungnya saat fitting sekali-kalinya, baju pengantin prianya pas sekali di Mas LNG sehingga nggak perlu ada yang diubah. Kalo udah jodoh mah gitu ya :')

5. Dedy Pangjaitan
Sepertinya ini tukang jahit terbaik dan terefisien yang pernah saya temukan. Terletak di seberang jalan desa, Dedy Pangjaitan dipercayakan menjahit kebaya akad saya plus baju-baju Ibu dan para Ua. Mau tahu ongkos jahitnya berapa?
10%nya biaya semesteran jaman kuliah, Sodara-sodara! Murah kan? :____))) Tapi jangan salah, hasilnya nggak kalah rapi dan cantik seperti karya penjahit yang mematok harga lebih mahal.

6. Alifa Craft
Sesuai namanya, vendor hasil nemu di IG ini menyediakan beragam pilihan souvenir jadi. Pada awalnya souvenir mau yang agak rustic sih.. tapi mengingat fungsi juga penting, maka pilihan jatuh pada kipas bali warna-warni. Sebenarnya kalau search di IG, banyak vendor yang menyediakan souvenir serupa. Bedanya, Alifa Craft ini menawarkan harga yang bersahabat plus bebas ongkir untuk pengiriman ke seluruh area di Jawa! (saat itu sih..nggak tau ya kalau kebijakannya sudah berubah)

7. Tote Souve
Souvenir rustic ala-ala akhirnya bisa terwujud di acara unduh mantu di Kediri. Gelas enamel diameter 6 cm warna putih dengan desain yang bisa custom. Vendor ini dipilih karena saat itu, di tengah pencarian dadakan dan kelangkaan barangnya, hanya dia yang bisa menjamin ketersediaan gelas enamel warna putih polos. Mas LNG dan saya memang keukeuh ingin gelas enamel yang putih polos supaya kalau diberi desain custom kesannya lebih elegan dan bersih hehe.

Sebenarnya masih banyak lagi printilan dalam menyiapkan acara pernikahan dan rekomendasi vendor. Supaya nggak ribet sendiri, cobalah buat check list kebutuhannya sehingga nggak ada yang kelupaan di hari-hari terakhir. Pastikan juga segala pilihan sesuai budget dan tetap berkualitas. Jangan terlalu memaksakan, karena perjalanan ke depan masih memerlukan bekal jangka panjang. Belajar dari pengalaman saya, cobalah juga melihat potensi daerahnya dulu dalam mencari vendor-vendor pernikahan. Walau di kota kecil, ternyata ada kok para penyedia jasa yang bisa membantu kita mewujudkan pernikahan impian.

Jadi, udah beneran siap? Good luck! ;)

Friday, April 28, 2017

How I Met My Partner

"Kok bisaaaa? Gimana ceritanyaaaa?"

Inilah reaksi umum yang saya dapat ketika baru-baru ini membagikan undangan pernikahan untuk teman-teman dekat. Dibilang 'mendadak nikah' sebenarnya nggak juga sih, karena persiapannya cukup lama dan memang sayanya aja yang nggak banyak berbagi cerita. Hehe.

Saya lupa kapan pertama kali tepatnya 'mulai memerhatikan' Mas LNG ini. Mungkin setelah nemu akun instagramnya yang mem-posting acara seminar di kantor yang saya selenggarakan. Bukan kepo ya, nemu berdasarkan hashtag! #exanakahensi :p Postingannya menarik perhatian karena di antara minimnya pekerja yang hadir waktu itu, ternyata masih ada orang yang bisa mengapresiasi materi yang dibawakan narasumbernya. Lumayanlah, mengurangi rasa capek karena nyiapin acaranya.

Atau mungkin juga setelah mendengar cerita tentangnya dari teman kantornya. Luar biasa sekali mendengar teman kantornya ini mengapresiasi dia. Selain kagum, saat mendengar cerita itu saya justru sempat menyimpulkan, "Orang sehebat ini mah pasti udah ada yang punya...Pendampingnya juga pasti nggak kalah luar biasa.. ." . Untungnya (?) teman kantornya langsung mengklarifikasi, "Kayaknya belum deh, nggak tau tuh.."

Beberapa bulan kemudian, pikiran random tadi seolah ditunjukkan jalan untuk menemukan jawabannya. Saya berkesempatan bekerja sama dengan Mas LNG untuk sebuah project.

Kesan pertama setelah ketemu sosok aslinya? Orangnya asik, bisa diajak kerja sama. Berbeda dengan orang-orang technical pada umumnya yang cenderung serius, dia justru tergolong yang rame.

Udah, segitu aja. Lha wong ketemunya juga sebentar banget.

Selanjutnya, semua berjalan mengalir. Muncullah kesan kedua, ketiga, dan seterusnya sampai akhirnya berani mengatakan "Siap."

Tentu memutuskan kesiapan ini nggak serta merta, melainkan dengan usaha juga dan berdoa.

Pada akhirnya, saya bisa menjawab pertanyaan diri sendiri yang ini. Bahkan jawabannya seolah diberikan nggak lama setelah posting tulisan itu. Waktu nulis juga udah sambil agak geer sih, siapa tau calon jodoh saya membacanya. Geer sama pede beda tipis memang :')

Jadi buat teman-teman yang masih mencari, cobalah lihat di sekelilingnya lagi. Siapa tau sosok itu juga sudah ada di sana, sedang memantaskan diri. Sambil menunggu, marilah terus menyiapkan hati. Meminta diberikan yang terbaik menurut Yang Maha Kuasa. Dan jika kita dirasa sudah siap, percayalah, sosok yang terbaik itu akan datang tepat pada waktunya.

Wednesday, March 29, 2017

Berawal dari Mimpi

I had a dream the other night..

..Pada salah satu acara Perusahaan yang namanya kurang lebih "Malam Apresiasi Pekerja Kategori I".

Waktu itu saya masih tergolong anak baru. Kebetulan departemen saya sering diminta supportnya untuk event, jadi walaupun acara itu di bawah koordinator departmen HRD, saya hadir. Untuk memastikan tim publikasi dan dokumentasi ada di tempat dan siap mengabadikan semua momen.

Sebagai pekerja yang masih minim pengalaman, kemampuan menghafal orang, apalagi prestasi, malam itu saya kebanyakan celingak-celinguk di meja belakang. Menanti cemilan disajikan. Atau menunggu diajak ngobrol orang.

Saya semeja dengan para ibu. Lupa, ada karyawatinya nggak ya. Yang jelas, sebagian besar adalah istri pekerja (dan pastinya saya juga belum banyak kenal bapak-bapaknya :__))) ). Saya juga belum terlalu memahami esensi acara itu sampai datanglah seorang ibu, saya tahu dia karyawati, duduk bergabung di meja saya.

"Selamat yaaa!" kata (sebut saja) Ibu Ceria yang menyambut ibu karyawati tadi.

"Makasih," jawab ibu karyawatinya singkat, tapi sumringah.

Mereka dan beberapa ibu lainnya kemudian terlibat obrolan. Dari mendengarkan, akhirnya saya tau kalau suaminya ibu ini, yang juga salah satu pekerja, dinobatkan menjadi salah satu pekerja terbaik dari Perusahaan berkat inovasi-inovasinya.

Satu quote kemudian terlintas: di balik laki-laki hebat/sukses, pasti ada perempuan hebat yang selalu mendukung dan mendoakannya.

Dan saya salut sama ibu karyawati tadi. Di tengah tanggung jawabnya sebagai seorang pekerja juga, dia nggak melupakan tugas utamanya sebagai seorang istri dan ibu rumah tangga sejati. Mendampingi sang suami.

Maka...pikiran random pun terlintas di tengah senyum sambil mendengarkan cerita ibu karyawati..

Seandainya..

Seandainya orang yang saya dampingi nanti adalah sesama pekerja juga...

Semogaaa suatu saat saya bisa  'mengantarkannya' menjadi salah satu sosok yang terbaik itu.

Amin.

Kenapa bukan mendoakan supaya diri sendiri yang kelak bisa maju ke panggung? Karena saya lebih bahagia kalau melihat orang yang saya dampingi kelak berbahagia :).

Doa selintas itu terucap tanpa ada bayangan siapa orang yang akan saya dampingi. Masih baaaaanyak sekali kemungkinan yang bisa terjadi. Tapi, nggak ada salahnya sedikit berharap kan? Hehe.

Sampai suatu hari, sosok itu memasuki kehidupan saya. Mewarnai, bahkan. Saya bukan Manajemen ataupun atasannya yang berhak menentukan dia menjadi yang terbaik atau bukan secara profesional, tapi dengan menjalani hari-hari bersamanya, saya tau dia layak mendapat predikat itu.

Dari cerita orang-orang tentangnya, hampir sebagian besar mengapresiasi ketulusan hatinya dalam setiap melakukan tindakan. Dari pertama kali melihat casing HPnya yang ternyata ada logo Perusahaan, terlihat betapa besar nasionalisme dan dedikasinya. Sebagai orang humas, saya terharu melihat inisiatifnya memasang logo di casing HP. Saya aja nggak kepikiran! :)) Dan dari inisialnya yang kebetulan sama dengan produknya Perusahaan, saya tau dia 'istimewa'.

Dan malam ini, mimpi selintas saya tahun lalu terwujud. Dengan skenario tidak persis seperti yang saya bayangkan, tetapi lebih seru dibandingkan yang saya harapkan. Belum resmi mendampingi, tetapi melihatnya malam ini sudah bisa membuat ikut berseri-seri. Apalagi ketika dia dan beberapa pekerja terbaik lainnya diminta menyanyikan 'lagu kebangsaan' kami. Duh, Gusti! :""")))

Sekali lagi, selamat Mas LNG! Mari terus bermimpi dan bersama mewujudkannya. Terima kasih sudah mau didampingi dan siap mendampingi. Semoga kita bisa bersama meraih kebahagiaan yang hakiki.


Monday, January 30, 2017

Tentang LNG

"Ini semua tentang LNG," kata Superior saya tadi pagi. Konteks sebenarnya adalah persiapan salah satu program kerja kami yang akan dikenalkan kepada publik dalam waktu dekat. Tapi sepertinya, frase ini bagus juga untuk menjadi bagian pembuka sebuah tulisan. Mirip judul novel terbarunya Tere Liye-lah.. "Tentang Kamu".

Ini semua tentang LNG. Apa yang diketahui tentangnya?

Sampai usia seperempat abad, saya nggak tau LNG itu apa. Malah lebih akrab sama 'saudara'nya, LPG, karena dekat dengan kehidupan sehari-hari. Kalau dengan LPG, terdengar lebih familier kan?

Ini semua tentang LNG.

Liquefied Natural Gas. Gas alam yang dicairkan. Zat gas yang diubah menjadi cair. Benda yang proses perubahannya kayaknya belum pernah diajarin di jaman sekolah dulu (atau udah, tapi kesekip :p ). Sesuatu yang baru dikenal sekarang padahal kayaknya dari dulu udah cukup dekat sama kehidupan.

Ini semua tentang LNG.

Yang proses pembuatannya melibatkan tekanan super besar untuk menghasilkan produksi maksimal. Yang proses pembuatannya membutuhkan standar keselamatan tinggi, dan tentunya dedikasi agar bisa memberikan yang terbaik bagi negeri.

Ini semua tentang LNG.

Prosesnya berawal dari menghilangkan karbon dioksida yang ada di gas alam dan berlanjut menghilangkan kandungan air serta merkuri. Setelah ketiga zat tadi 'pergi', gas alam lalu difraksinasi alias dilakukan pemisahan sesuai komponen penyusunnya. Ada metana, etana, propana, butana, juga pentana. Dalam proses pembuatan LNG, komponen yang lebih dibutuhkan adalah metana. Namun, komponen lain seperti propana juga tetap berperan. Metana selanjutnya didinginkan menggunakan MCR (Multi Component Refrigerant) dan dicairkan di MHE (Main Heat Exchanger).

Kalau mau tau lebih detilnya, bisa cari literatur lain atau ngobrol sama orang-orang yang punya latar belakang di bidang Kimia ya.

Ini semua tentang LNG.

Suatu zat yang kasat mata, padahal kontribusinya terasa nyata. Seperti di Bontang, tempat kilang LNG terbesar berada, Badak LNG. Beberapa pembangunan infrastruktur, bantuan CSR dan support untuk kegiatan-kegiatan positif, sampai program pemberdayaan masyarakatnya jelas ada. Baru-baru ini, BPS Kota Bontang bahkan merilis bahwa kontribusi migas masih menjadi komoditas andalan Kota Bontang.

"Ekspor migas masih menjadi andalan. Kontribusinya mencapai 75,24 persen," kata Kepala BPS Bontang Basiran Suwandi seperti yang dimuat di Bontang Post edisi Senin 30 Januari.

Ini semua tentang LNG.

Ada yang masih ingin diketahui?
Silakan tulis di kolom komentar :)

Wednesday, January 4, 2017

Cerita di Januari

Sejak tahun 2015, setiap awal Januari menjadi momentum bagi saya untuk 'merapikan' dan memperbaiki diri. Kenapa 2015? Karena di tahun itu, keberanian dan kenekatan membawa saya ke kehidupan yang benar-benar baru, lebih struggle, dan terkadang seru.

Tepatnya di Kota Bontang. Di sebuah perusahaan energi kelas dunia, Badak LNG.
Bisa menjadi bagian dari komunitas ini hampir nggak pernah terbayangkan sebelumnya. Mau 'masuk' dari mana? Background engineer aja bukan.

Tapi rupanya kalau Semesta sudah berkonspirasi, segalanya menjadi mungkin. Menjadi bisa. Ketemu orang-orang baru dengan beragam karakternya, ketemu tugas-tugas baru yang kadang datangnya secepat roller coaster, juga ketemu kebiasaan-kebiasaan baru yang rupanya memang perlu diterapkan.

Dua tahun memang bukan waktu yang lama. Terbukti dengan belum bolehnya bikin 'perayaan' ulang tahun dinas sama superior. Tapi, dua tahun juga bukan waktu yang sebentar. Untuk diberikan keluarga baru, komunitas baru, juga yang mungkin dicari dari dulu.

Jadi, terima kasih PTB. Untuk segala kesempatannya, di pekerjaan maupun kehidupan :)

In frame: Kepala Dinas Pariwisata Kaltim bersama rombongan wartawan berkunjung ke Knowledge House Badak LNG

Friday, November 25, 2016

Journey to The West (Sumatra) Part. 2

Konon katanya, menjelajahi Sumatra Barat nggak cukup dalam waktu satu minggu. Apalagi kalau sekedar 2 - 3 hari atau memanfaatkan misi ke kondangan seperti saya. Satu kota di Sumatra Barat aja punya banyak daya tarik dan ciri khas masing-masing. Belum lagi kalau suka pantai, duh cantik-cantik banget deh pantai di sana itu!

Bagi wedtraveller seperti saya, undangan pernikahan di kota baru justru agak membuat salah fokus. Alih-alih merencanakan bagaimana tampil kece di kondangan, saya lebih suka membuat itinerary sederhana tempat apa saja yang bisa dikunjungi dalam waktu singkat. Bahkan kalau bisa dimulai dari malam pertama menjejakkan kaki di kota tujuan itu.

Cerita sebelumnya: Journey to The West (Sumatra) Part. 1

Setelah cukup puas mengenal Bukittinggi di malam hari, saya dan partner kembali merencanakan jalan-jalan sebelum kondangan. Kebetulan acara kondangannya siang hari mulai pukul 11.00 WIB sehingga kami punya cukup banyak waktu untuk menjelajah lagi.

Untuk menghemat waktu, saya dan partner sepakat nggak sarapan di hotel. Berbekal petunjuk dari Waze, kami memulai perjalanan dengan jalan kaki. Sama seperti malam hari, udara pagi di Bukittinggi masih cenderung sejuk. Nggak membuat terlalu berkeringat meski cahaya matahari juga cukup cerah bersinar.
Selamat pagi, Bukittinggi! :')
Tujuan utama kami pagi itu adalah Goa Jepang. Terletak berdekatan dengan Ngarai Sianok, gua bersejarah ini memakan waktu tempuh sekitar 15 menit jalan kaki dari hotel. Sebenarnya bisa lebih singkat karena secara geografis gua yang ada di Taman Panorama ini terletak di belakang hotel! Kami terpaksa berjalan memutar karena mengikuti petunjuk Waze yang memberi petunjuk untuk jalan dengan kendaraan. FYI, jalan di depan hotel itu memang searah, jadi kalau pakai kendaraan memang harus memutar :__)))

Foto dulu biar nggak sedih karena jalannya memutar padahal ternyata bisa tembus langsung dari belakang hotel :))
Sampai di area Taman Panorama, kami disambut sekelompok pemuda yang entah sedang apa. Terlihat ramah kok, tapi tetap aja perlu waspada. Setelah membayar tiket masuk, saya dan partner langsung bergerak mencari spot foto. Ternyata, mungkin kami diperhatikan salah satu dari pemuda di pintu masuk tadi karena dia langsung menghampiri dan menawarkan memotret kami #pede.

Singkat cerita, uda ini memperkenalkan diri sebagai semacam tour guide untuk memandu ke Goa Jepang. Kalau yang saya tangkap dari ceritanya, sepertinya dia adalah 'mitra binaan'nya Disbudpar Bukittinggi untuk menjadi pemandu wisata di sekitar kawasan itu. Tidak hanya memahami sejarah Goa Jepang, Uda Ade juga terlihat menguasai informasi objek wisata di sekitar Taman Panorama itu.


Bahkan Uda-nya yang lebih semangat mengarahkan kami berpose di tempat yang punya background kece dan nggak backlight :p
Sekilas, saya jadi membandingkan dengan Goa Jepang yang ada di Tahura Bandung. Di sana juga ada jasa 'pemandu wisata', tapi terkesan 'menodong'. Yang di Bukittinggi ini, pendekatannya sopan dan terbuka. Sebelum masuk ke dalam goa, kami di-briefing singkat sekaligus diberi tahu harga jasa guiding-nya.

Berdasarkan informasi dari Kompas Travel, Goa Jepang pertama kali ditemukan tahun 1950. Konstruksinya sendiri dimulai tahun 1944 dan memakan waktu sekitar tiga tahun untuk menyelesaikannya. Pembangunan Goa Jepang menggunakan tenaga kerja dari Sulawesi, Jawa, dan Kalimantan. Tidak ada warga Bukittinggi yang dilibatkan pada pembangunan untuk menjaga kerahasiaan. Sebaliknya, mereka justru dikirim ke luar Sumatra untuk dipekerjakan secara paksa di proyek Jepang lainnya.

Memasuki Goa Jepang, kita perlu menuruni ratusan anak tangga. Goa dengan kedalaman sekitar 49 meter di bawah permukaan tanah ini memiliki panjang sekitar 6 kilometer dan bisa dijelajahi sekitar 20 menit untuk sampai di ujung jalan yang menjadi pintu keluarnya.

Pada masanya dulu, Goa Jepang ini merupakan tempat persembunyian tentara Jepang. Berbeda dengan gua pada umumnya yang dingin, lembap, gelap, dan menimbulkan gema jika ada suara, Goa Jepang yang di Bukittinggi ini terasa lebih 'rapi'. Sebagian besar dinding sudah ditutupi semen, tetapi tidak mengurangi penampakan aslinya. Yang unik, dinding gua yang masih asli sengaja dibuat tidak merata. Ada ceruk yang berfungsi meredam suara dalam gua sehingga tidak terjadi gema. Jepang udah cerdas dari dulu ya :')

Konon, lokasi yang juga dikenal sebagai 'Lubang Jepang' ini mampu menahan letusan bom hingga 500 kg. Ketika ada gempa di Sumatra Barat pun, gua yang mulai dibuka untuk umum tahun 1984 ini nggak mengalami kerusakan parah. Hanya lapisan semennya yang rontok, sementara kontur dindingnya tetap utuh.

Inilah beberapa ruangan dalam guanya:

Ini pintu masuknya

Inilah peta rencana pembangunan guanya. Beberapa bagian nggak bisa dimasuki / dilihat.

"Kalau mau foto-foto di dalam, ada aturannya."
"Apa?"
"Harus senyum."
" :___)))"

Jangan takut gelap :)



Bahkan udah ada EEAA! :))



Yang jelas bukan sidang usmas / skripsi..

Dapur yang nggak berfungsi sebagai 'dapur' pada umumnya :(

Ada kalanya kita bertemu persimpangan dan harus memilih..
Keluar dari Goa Jepang, waktu ternyata masih cukup pagi buat siap-siap kondangan. Saya dan partner memilih melanjutkan lagi perjalanan kami ke dua tempat wisata alam yang letaknya nggak jauh dari Taman Panorama tadi. Tunggu ceritanya di part.3 ya :D










Wednesday, September 21, 2016

Journey to The West (Sumatra) Part. 1

Kalau di serial Kera Sakti, perjalanan ke barat dilakukan tokoh utamanya untuk mencari kitab suci. Sementara di kehidupan nyata, saya dan teman seangkatan kerja baru-baru ini melakukan perjalanan ke barat untuk mencapai sebuah misi: menghadiri undangan pernikahan.

Adalah Bukittinggi, kota yang menjadi tujuan utama kami. Terletak di Sumatra Barat yang belum pernah saya dan partner kunjungi membuat antusiasme kami meningkat. Meski di awal sempat deg-degan merencanakan perjalanan karena ternyata ada agenda mendadak yang 'nyempil'.

Sebelum mencapai Bukittinggi, kami harus ke Padang terlebih dahulu dari kota masing-masing. Saya dari Surabaya, sedangkan partner saya dari Balikpapan. Ternyata tidak ada penerbangan langsung untuk semua maskapai. Transitnya pun cukup lama dan ada di beberapa tempat. Untunglah kami menemukan rute Lion Air baik dari Surabaya maupun Balikpapan yang bisa sama-sama transit di Batam selama dua jam. Total waktu tempuhnya pun mungkin paling singkat, 'hanya' sekitar lima jam. Partner saya tiba lebih dulu dan saya menyusul sekitar satu jam kemudian.

"Kita foto di depan toko oleh-oleh aja. Eh tapi kok jadi kayak di depan minimarket biasa? :))"
Hujan di Hang Nadim :')
Pemandangan dari udara sepanjang Batam - Padang aja udah membuat nggak jadi tidur
Setelah dicurhatin partner yang perjalanan udaranya mengalami beberapa drama, kami melanjutkan perjalanan dengan travel dari bandara Minangkabau menuju Bukittinggi. Estimasi waktu tempuh adalah 2,5 - 3 jam dengan rute perjalanan relatif lurus dan mulus.

Ada yang unik dari travel APV yang kami tumpangi ini. Sepanjang perjalanan, drivernya nyetel lagu berbahasa Minang! Saya dan partner sama-sama nggak ngerti, jadi kami cuma menebak-nebak arti liriknya. Karena saat itu hari juga sudah gelap (kami tiba sekitar pukul 18.00 WIB), nggak banyak pemandangan yang bisa dilihat. Jadilah kami ngobrol ngalor-ngidul plus mendadak terharu karena di tengah perjalanan drivernya memberikan air mineral gelas kepada semua penumpang. Duuh, naik travel Bontang - Balikpapan yang dua kali lipat jauhnya aja nggak pernah diperhatiin sampai sebegitunya :""")))

Sampai di Bukittinggi sekitar pukul 21.00 WIB, kami langsung check in di Grand Rocky dan meletakkan barang. Hotel ini sepertinya masih baru dan cukup recommended. Kami memesan kamar dengan twin bed dan kalau pagi pemandangannya bagus banget! Lokasi hotel juga strategis, dekat tempat-tempat wisata populer dan bisa ditempuh hanya dengan berjalan kaki.

Source: Trip Advisor

Source: Booking.com
Udah agak malam untuk jalan sih, tapi karena lapar, kami sepakat langsung mencari udara luar. Untungnya, tumben-tumbenan partner saya yang biasanya nggak mau makan pedas lagi ngidam hal yang sama: sate padang! Udara Bukittinggi malam hari dingin menyegarkan. Nggak perlu pakai jaket juga nggak papa.

Berbekal arahan dari orang-orang di sekitar hotel, kami berjalan kaki sekitar 5 menit dan menemukan warung makan yang menjual sate padang. Sayang sudah habis, jadi kami mencari lagi dan ternyata ketemulah dengan "Pusat Kuliner Jl. Ahmad Yani". Kalau belum terlalu malam, mungkin tempat itu ramai.

Kami memesan seporsi sate danguang-danguang untuk masing-masing. Saya pakai lontong dan ini pilihan tepat kalau lagi lapar karena ternyata porsinya nggak sebesar dugaan awal. Sate danguang-danguang ini rupanya adalah sate khas Bukittinggi. Berbeda dengan sate padang yang mungkin sering kita jumpai di Jawa, daging pada sate danguang-danguang diberi kelapa sebelum dilumuri bumbu sehingga rasanya lebih gurih dan mengurangi kepedasannya.

Porsi mini .__.
Kenyang makan malam, kami mencari tujuan lain yang bisa dikunjungi selarut itu. Pikiran pun langsung tertuju pada Jam Gadang, salah satu ikonnya Ranah Minang. Berbekal arahan dari Waze, kami jalan kaki mengikuti petunjuknya dan ternyata dekat sekali! Nggak sampai 5 menit sih kayaknya :))).

Sedikit tips membaca Waze, tetaplah lihat peta secara keseluruhan karena kita umumnya mengatur settingan arah untuk ditempuh dengan kendaraan. Beberapa jalan di Bukittinggi ini cenderung satu arah sehingga kalau mengikuti petunjuk Waze, kita harus berjalan memutar padahal sebenarnya bisa lurus terus jalannya. Ngerti kan ya maksudnya? Atau bisa juga sih settingan Wazenya langsung diubah menjadi jalan kaki hehe.

Sampai di Jam Gadang, kami langsung mencari posisi yang pas untuk 'pemotretan'. Selain bangunan jamnya, ternyata ada semacam taman kecil di sekitar situ.Meski saat itu sudah pukul 22.00 WIB lebih, suasananya masih lumayan ramai terkendali dan di salah satu sudut taman ada Satpol PP yang berjaga-jaga. Rasanya aman :')

FYI, mungkin sisi ini adalah yang terbaik untuk memotret dengan latar belakang jamnya 
Puas berfoto (dan nyemil kacang rebus karena lapar lagi), kami memutuskan kembali ke hotel untuk istirahat. Perjalanan pulang ini cukup nanjak. Untungnya rasa lapar sudah hilang, berganti rasa mulai kedinginan. Malam pertama di Bukittinggi kami sepakat memiliki kesan yang baik terhadap kota ini: udaranya sejuk tetapi tidak menusuk, malamnya relatif sepi tetapi masih aman, dan enak untuk dijelajahi dengan berjalan kaki.

Wednesday, September 14, 2016

Wedtravelling

Saya tidak tahu sudah ada yang pernah memperkenalkannya atau belum, tetapi istilah 'wedtravelling' ini sudah tercetus sejak Agustus 2014. Kalau memang belum ada, anggaplah saya penemunya ya..hehe.

Secara etimologis (halah), 'wedtravelling' berasal dari dua kata yaitu 'wedding' dan 'travelling'. Kalau diartikan, sederhananya istilah ini berarti melakukan kegiatan travelling dengan niat utama (atau niat awal) adalah menghadiri undangan pernikahan.

Saya sendiri baru dua kali melakukannya, ke Cirebon dan Bukittinggi. Diundang menghadiri pernikahan ke dua kota ini memberikan keuntungan tersendiri, menjelajahi kota yang sebelumnya tidak pernah saya datangi.

Karena ada dua tujuan utama yaitu menghadiri undangan pernikahan dan jalan-jalan, wedtravelling memerlukan persiapan yang sedikit berbeda dibandingkan dengan travelling dan kondangan pada umumnya. Dengan pengalaman yang masih minim, saya mencoba berbagi persiapan untuk ber-wedtravelling ria seperti berikut.

1. Tentukan Lama Perjalanan
Acara pernikahan biasanya memang berlangsung hanya satu hari. Atau mungkin dua, kalau akadnya dilakukan di hari yang berbeda dan berniat hadir.

Sebagai wedtraveller, kita harus bisa membaca peluang ini untuk menyempatkan diri menjelajahi kota yang dituju. Syukur-syukur kalau bisa memanfaatkan jatah cuti sehingga lebih maksimal travellingnya.

Saya biasanya lebih suka menjelajahi kota sebelum menghadiri undangan supaya nggak terlalu capek. Kalau kota yang dituju jauh dari tempat tinggal, idealnya sediakan waktu H-2 acara sampai H+1 untuk waktu tempuh. Tapi kalaupun nggak bisa, 2-3 hari pun sudah cukup kok :')

2. Susun Fokus Wisata
Setelah mengetahui lama perjalanan, cobalah susun itinerary agar bisa memanfaatkan waktu secara maksimal. Satu kota terkadang memiliki banyak tujuan wisata yang menggoda. Namun karena keterbatasan waktu, kita harus bijak menentukan prioritas.

Kenali potensi terbesar dari kota yang akan dituju lalu sesuaikan dengan minat kita. Mau wisata alam? Budaya? Kuliner? Belanja? Apakah ada event tertentu di tanggal kita berada di kota itu yang bisa dikunjungi? (Pengalaman saya saat berada di Padang-Bukittinggi lalu, ternyata di hari saya ada di Bukittinggi, Noah sedang menyelenggarakan konser di Padang dan sebenarnya itu bisa ditonton! Huhu :( )

Jangan lupa masukkan juga perhitungan jarak tempuh dari tempat menginap ke tempat resepsi ya.

3. Bijak Memilih Transportasi
Kalau ada beberapa pilihan transportasi, pilihlah kendaraan dengan jarak dan waktu tempuh yang meminimalisir rasa lelah. Simpan energi untuk menjelajahi kota tujuan dan menghadiri undangan!

Saya pernah agak kurang tepat memilih kendaraan ketika ber-wedtravelling dari Bandung ke Cirebon. Waktu itu, saya dan teman seperjalanan memilih kereta eksekutif untuk berangkat dan kereta ekonomi untuk pulang. Kami berasumsi, saat pulang kondisi keuangan pasti akan menipis sehingga perlu berhemat. Namun menurut saya, ke depannya strategi ini perlu dibalik, pilih kelas ekonomi untuk berangkat dan kelas eksekutif untuk pulang. Mengapa? Karena ketika pulang, badan biasanya baru terasa lelah sehingga memerlukan kenyamanan ekstra! :p

4. Bawa Barang Seperlunya
Bawalah baju, sepatu, aksesoris, dan printilan lain seperlunya. Ini supaya nggak ribet selama di perjalanan dan anggaplah untuk menyisakan tempat oleh-oleh hehehe. Pastikan juga kita sudah tahu kondisi cuaca di kota tujuan supaya nggak saltum. Kemarin teman saya lupa membawa baju hangat padahal kami bepergian ke daerah dataran tinggi. Untung karena terlalu bersemangat, jadi nggak merasa kedinginan :p

Baju kondangannya jangan lupa! :))

5. Memilih Partner
Ini juga persiapan yang nggak kalah penting. Mengapa? Karena partner akan menentukan kebahagiaan kita selama perjalanan hahahaha. Alhamdulillah selama dua kali melakukan wedtravelling, saya ditemani partner yang bisa diajak kerja sama, nggak ribet, dan berbagi suka duka (duka: ketika nyasar ke tempat wisata yang mau dituju :p)

Sebelum berangkat, carilah teman yang kira-kira bisa diajak ber-wedtravelling dan memiliki jadwal yang sama untuk memudahkan koordinasi. Lebih asik lagi kalau sang partner memiliki kemiripan selera dan semangat sehingga travellingnya bisa lebih maksimal.

Saya nggak menyarankan untuk pergi sendirian karena secara pribadi kota tujuan wedtravelling ini umumnya masih asing bagi saya. Tidak ada saudara ataupun kenalan di kota itu sehingga kalau (amit-amit) kenapa-napa, nanti susah meminta pertolongan. Keberadaan partner juga diperlukan untuk mendapat restu orang tua sebelum berangkat :')

Ada yang sudah pernah atau sering melakukan wedtravelling juga? Mari berbagi pengalaman dan tipsnya! :)

Wednesday, September 7, 2016

'Tenggelam' di Monumen Kapal Selam

Setelah beberapa kali sekedar singgah di bandaranya, September ini akhirnya saya berkesempatan mengunjungi Kota Pahlawan, Surabaya. Sebagai kota terluas kedua di Indonesia, dan jarang sekali ada kesempatan main ke Jawa Timur, saya antusias untuk menjelajahinya. Walaupun waktunya cukup terbatas mulai sore hari karena paginya ada workshop dulu :p

Pilihan pertama tempat wisata adalah Monumen Kapal Selam alias Monkasel. Selain jaraknya relatif dekat dari hotel kalau menurut Waze, tempat ini masih buka sampai malam. Sepertinya menarik juga karena pengunjung bisa masuk ke bagian dalam kapal selamnya.

Saya dan rekan kerja ke sana menggunakan taksi dari hotel. Ternyata jaraknya memang sangat dekat, argo taksi pun rasanya nggak bergerak banyak :)))). Kami membeli tiket senilai Rp 10.000,00 yang sudah bisa digunakan untuk masuk ke museum sekaligus menonton videorama yang diputar setiap satu jam (08.00, 09.00, dst).

Dikutip dari situs resminya, Monkasel Surabaya ini ternyata merupakan monumen kapal selam yang terbesar di Asia Tenggara. Modelnya adalah KRI Pasopati 410 tipe SS Whiskey Class buatan Rusia tahun 1952. Konon, kapal selam ini sudah mengabdi untuk Angkatan Laut RI sejak tahun 1962 dengan tugas utama menghancurkan garis musuh (anti-shipping), mengawasi, dan melakukan penggerebekan diam-diam. Yaa.. sesuai aja sih, posisi dia kan di dalam laut ya bukan permukaan..hehe.

KRI Pasopati 410 ini juga punya peran besar dalam mempertahankan hukum kelautan, misalnya pada Operasi Trikora. Pada operasi itu, kapal ini berada di belakang garis musuh, memberi penindasan secara psikologis.

Meski dari luar terlihat gagah, awalnya saya mengira bagian dalam kapal ini seperti museum pada umumnya. Akan banyak gambar tokoh maupun peristiwa yang terkait kapal sepanjang 76 meter ini. Ternyata tidak! Bagian dalamnya memang berisi ruangan-ruangan dan komponen lain pada sebuah kapal selam.

Indonesia!

Profil KRI Pasopati 410

Bagian depan kapal

Ruang Torpedo Haluan, dipersenjatai dengan empat torpedo propeller dan berfungsi sebagai tempat penyimpanan torpedo

Karena.. kita nggak bisa nggak berkomunikasi, kan? :')

Masih dari Ruang Komunikasi. Gimana rasanya ngobrol dari dalam lautan ya? :')

Pintu perpindahan tiap ruangan. Pegel juga lewatnya~ :))

Mungkin ruang mesin. Atau ruang kerja. 

Periskopnya. Nggak keliatan apa-apa waktu diintip. 

Masih mungkin ruang mesin.

Supaya nggak hilang arah..

Untuk menghitung jarak torpedo ke sasaran.

Meja makannya.

Ruang tidur ABK. Have a nice sleep..

Mungkin ruang listrik

Motor Ekonomi, digunakan saat kapal berlayar dengan kecepatan ekonomis

Pompa hidrolik, berfungsi mengubah energi mekanik menjadi energi hidrolik

Ruang Torpedo Buritan

Secara keseluruhan, kapal selam ini memiliki tujuh ruangan (yang sepertinya nggak semua terdokumentasikan saya), yaitu:
  1. Ruang untuk haluan torpedo, dipersenjatai dengan 4 torpedo propeller, juga bertindak sebagai penyimpanan untuk torpedo
  2. Ruang Komandan, Ruang Makan, dan Ruang Kerja. Di bawah dek adalah ruang untuk baterai I
  3. Jembatan utama dan Pusat Komando. Penyimpanan makanan di bawah dek
  4. Ruangan Awak Kapal, Dapur, dan penyimpanan untuk Baterai II di bawah dek
  5. Ruangan Mesin Diesel dan Terminal Mesin
  6. Kamar Mesin Listrik
  7. Ruangan Torpedo untuk bagian buritan, berisi 2 buah torpedo.
Pada awalnya juga, saya mengira dari dalam kapal selam ini kita bisa melihat bagian luar kapal. Ada kaca-kaca gitu, yang memungkinkan orang di dalamnya melihat kehidupan bawah laut. Ternyata tidak, seluruh badan kapal tertutup rapat sehingga tidak bisa terlihat dari luar. Iya juga sih, kan fungsinya memang sebagai salah satu alat pertahanan, bukan untuk wisata #baruinget #kebanyakannontonfilm. 

Dan meskipun bagian dalamnya kecil, di beberapa bagian malah kepala harus agak menunduk karena atapnya rendah, kapal selam ini sudah diberi AC sehingga udaranya nggak terlalu pengap. Kalau dia masuk di air, apakah ada AC juga ya? Nggak kebayang deh.. 

Selain menelusuri bagian dalam kapal, di Monkasel pengunjung juga bisa menyaksikan film dokumenter tentang perjalanan kapal selam ini dan sekilas profil TNI AL. Filmnya sekitar 15 menit dengan kualitas produksi tahun 2008. Yaa... lumayan cukup memberikan gambaran laah.

Secara keseluruhan, dengan wilayahnya yang nggak terlalu luas, Monkasel ini cukup bisa mengingatkan kembali pada salah satu lagu anak-anak, "Nenek moyangku seorang pelaut~". Ya, wilayah laut Indonesia yang masih sangat luas ini menyimpan kekayaan yang perlu kita jaga bersama. Baik dari segi kedaulatannya, maupun lingkungannya. Dimulai dari hal paling simpel aja seperti nggak membuang sampah ke laut maupun sungai, nggak mengeksploitasi kekayaan alamnya dengan cara-cara ilegal, termasuk juga menjaga kelestarian terumbu karang. Kalau laut Indonesia bersih, dijaganya kan juga enak yaa :)

Selamat berwisata!