Cerita Putri Pena: Gua Kaki

sebentar lagi musim panen. selain di kerajaan tulis, masyarakat di kerajaan dan negara lain pun nampaknya sibuk menyambut panen raya tahun ini. hujan yang turun dengan teratur membuat tanaman-tanaman tumbuh subur. jumlah lahan yang mengalami ancaman kekeringan pun berkurang.
biasanya, hasil-hasil panen akan diperjualbelikan di hutan hijau. entah mengapa hutan ini menjadi kegemaran para pedagang maupun masyarakat di negara lain yang letaknya jauh dari kerajaan tulis. mungkin karena hutan hijau letaknya sangat strategis untuk menjadi tempat transaksi dunia. mungkin juga karena hutan hijau masih menyimpan banyak keindahan alam yang menjadi daya tarik tersendiri bagi orang-orang yang hanya ingin berjalan-jalan di sana.
seperti kebiasaan di tahun-tahun sebelumnya, menjelang panen raya tahun ini pun aku menyempatkan diri melihat-lihat aneka hasil alam yang diperjualbelikan pedagang dari berbagai belahan dunia. puas melihat-lihat, aku memutuskan beristirahat sambil menjelajah sejenak salah satu gua yang masih tersisa di hutan hijau, gua kaki. konon, nama itu diambil karena banyaknya jejak kaki nenek moyang kami di dalamnya.
gua kaki bukanlah salah satu tujuan favorit orang-orang yang singgah di hutan hijau. namun, hari itu gua yang terletak di bagian barat hutan hijau itu nampak ramai. baru melangkah beberapa puluh meter saja aku sudah bisa mendengar banyak orang bercakap-cakap dan sesekali tertawa.
“ada rombongan ksatria dari negeri 1000 dagang.mereka baru menjual hasil panennya dan sedang menunggu kiriman lagi,” jelas seorang kakek bertongkat yang tiba-tiba berdiri di sebelahku. namun, belum sempat aku mengajukan pertanyaan, sosok orang tua itu sudah lenyap dari pandanganku.
apa katanya tadi? ada rombongan ksatria dari negeri 1000 dagang? mungkinkah..ksatria tak berkuda pun ada di sini?
kini tujuanku hanya satu: menemukan ksatria tak berkuda. tak kupedulikan lagi indahnya lukisan-lukisan alam yang terpahat di dinding gua. tapi..aku mulai mengantuk dan lelah. tidak, aku harus mencoba mencarinya! bukankah kami sudah berada di bawah langit yang sama? dan bahkan berlindung dalam gua yang sama. oh semesta… bantulah aku! jika ia memang ‘untukku’, ijinkanlah kami…
“hey putri, apa kabar?” sosok tegap dengan jubah sedikit berkibar itu tersenyum menatapku.ksatria tak berkuda! mimpikah aku?
“mengapa diam saja? ayo temani aku mencari makan. siapa tahu ada yang bisa mengganjal perutku.” dengan santai ia menarik tanganku. dengan masih menatapnya tak percaya, aku mengikutinya.
selanjutnya, semua berjalan bagai air sungai biru. tenang dan menyejukkan. kami mengobrol layaknya dua orang…sahabat yang sudah lama tidak bertemu. bertukar kabar. sesekali tertawa. ah, ia masih pandai melontarkan cerita lucu!
sejujurnya, aku sungguh bahagia dengan kesempatan ini. aku memang sempat berjanji pada semesta, jika aku diijinkan bertemu ksatria tak berkuda lagi, aku hanya ingin melihat raut wajahnya saat bertemu denganku. bahagiakah? sedihkah? marah? atau malah takut dan menghindar?
kini, melihat senyum dan tawa yang seolah tidak pernah lepas dari wajahnya, rasanya aku sudah tahu jawabannya.
“baiklah, aku harus pergi sekarang. selamat tinggal, semoga kau selalu berbahagia,” ucap ksatria tak berkuda tiba-tiba.
“apa?mengapa cepat sekali? hey tunggu, ada satu hal yang ingin kutanyakan padamu!”
belum sempat aku mencegahnya, ia sudah membalikkan badan, berjalan cepat membelakangiku tanpa menoleh lagi. jangankan mendengar pertanyaanku, menjawab seruanku pun tidak dilakukannya. tapi aku tidak boleh cepat menyerah.
“ksatria, tunggu… ksatria…”
“hey, bangunlah. rombongan ksatria itu sudah meninggalkan gua ini.” bayangan ksatria tak berkuda mendadak lenyap, digantikan dengan sosok seorang ibu yang membawa keranjang penuh buah dan sayur.
“sepertinya kau tertidur terlalu lama, putri. rombongan ksatria dari negeri 1000 dagang itu sudah kembali ke perkemahan mereka sejak matahari tenggelam. tapi, jangan tanya di mana mereka berkemah karena aku tak tahu jawabannya,” jelas ibu yang tak kukenal itu. ia seolah bisa membaca pikiranku.
“sekarang, pulanglah ke tempatmu. makan, dan lanjutkan tidurmu dengan nyaman. mungkin besok kau bisa bertemu dengan rombongan itu.”
sambil belum sepenuhnya sadar, aku mengangguk dan berterima kasih kepada ibu yang baik hati itu. pelan, aku melangkah ke luar gua. ah, jadi semua tadi hanya mimpi. mimpi yang terlalu indah untuk menjadi nyata.
hutan hijau masih ramai oleh para pedagang yang menjual hasil panen mereka yang berlimpah. aku yakin, ksatria tak berkuda ada di antara mereka. namun, aku sudah terlalu lelah. lelah menunggu kesempatan itu tiba. baiklah semesta…baiklah jika kau tidak mengijinkan kami bertemu lagi…baiklah….

Cerita Putri Pena: Cerita Putri Tutur

Halo! Adakah di antara kalian yang mendengar kabar terbaru tentang Ksatria Tak Berkuda? Kalau tidak, mari kuceritakan. Kabarnya aku dengar dari salah seorang sahabatku sebenarnya, yang baru saja berkunjung ke Negeri 1000 Dagang, tempat tinggal sang Ksatria.
Sebut saja, sahabatku ini bernama Putri Tutur. Ia termasuk sahabatku yang sangat gemar bercerita. Ia akan menceritakan apa saja yang menarik baginya, yang baru ditemuinya, termasuk juga kabar-kabar yang belum pasti kebenarannya. Sebenarnya aku tidak terlalu dekat dengannya. Namun, terkadang ia membawa cerita yang menarik untuk disimak. Seperti siang itu, ketika aku sedang menikmati sejuknya hembusan angin di taman istana sambil mencoba membuat sebuah tulisan tentang alam.
“Aku punya kabar tentang Ksatria Tak Berkuda!” sapa Putri Tutur siang itu. Mendengar nama itu, aku langsung berpaling dan siap mendengarkan kata-kata selanjutnya.
“Ceritakan padaku. Semuanya.” Lama tak mendengar kabar Ksatria Tak Berkuda bukan berarti aku tidak peduli lagi padanya.
Putri Tutur mulai berkisah. Ia tidak bertemu langsung dengan Ksatria Tak Berkuda saat berkunjung ke Negeri 1000 Dagang (ia bahkan tidak tahu bagaimana rupa sang Ksatria), tetapi ia bertemu sahabat lamanya yang mengenal sang Ksatria. 
Jadi, menurut sahabat lama Putri Tutur ini, Ksatria Tak Berkuda sebenarnya sudah lama menaruh hati pada seorang putri di negaranya. Bahkan, jauh sebelum ia mengenalku. Ia bahkan sudah hampir menyatakan perasaannya pada putri itu, tetapi sang Putri tidak memiliki perasaan yang sama dengannya.
Menurut sang Putri, Ksatria Tak Berkuda masih belum bisa bersikap tegas dalam menentukan pilihan hidupnya. Walaupun menyandang gelar sebagai salah satu ksatria terbaik Negeri 1000 Dagang, Ksatria Tak Berkuda masih belum bisa menjadi seorang pemimpin sejati sehingga putri itu hanya ingin menjalin persahabatan biasa dengannya.
Begitu? Jadi ia sudah lama mencintai sahabatnya itu?
Lalu, mengapa dulu ia sepertinya begitu peduli kepadaku? Mengirim surat nyaris setiap hari untukku? Selalu ‘menemani'ku saat aku membutuhkannya? Mengapa… Ah, sudahlah. Bisa-bisa matahari keburu tenggelam jika aku terus mengingat-ingatnya?
Satu pertanyaan lagi: Mengapa ia harus hadir di hidupku?
Sambil mendengar cerita Putri Tutur yang terus mengalir, aku berusaha menahan segala emosi buruk yang ada. Emosi terhadap Ksatria Tak Berkuda, tentu saja. Ingin rasanya menumpahkan amarah kepada semesta yang mempertemukanku dengannya, yang membuatku 'jatuh’ padanya, yang membuat hariku berwarna saat bersamanya.
Tapi, semesta tidak bersalah. Ia pasti tidak merancang pertemuan kami dalam satu malam. Tentu banyak hal yang sudah Ia pertimbangkan sebelum akhirnya mempertemukan aku dan Ksatria Tak Berkuda, bukan hanya sekali, tetapi beberapa kali. Tentu banyak kebaikan yang sebenarnya kudapatkan dari rencanaNya ini, walau setelah mendengar cerita Putri Tutur, aku jadi bertanya-tanya sendiri.
Putri Tutur masih terus menceritakan petualangannya yang lain di Negeri 1000 Dagang sementara aku tenggelam dalam pikiranku sendiri. Pada akhirnya, aku memutuskan untuk harus tetap menjadi seorang putri yang tangguh. Dengan atau tanpa Ksatria Tak Berkuda. Masih banyak mimpi yang harus kuraih. Masih banyak orang yang peduli kepadaku dan bisa kupedulikan. Masih banyak hal penting yang seharusnya memenuhi pikiranku sebagai seorang calon ratu masa depan.
Aku masih akan terus berbagi cerita denganmu. Namun, untuk jangka waktu yang lama, sepertinya aku akan (harus) berhenti bercerita tentang Ksatria Tak Berkuda. Kecuali jika semesta ternyata masih 'meminta’ kami bertemu

Cerita Putri Pena: Ksatria Gunung

Ada seorang ksatria yang sedang menarik perhatianku. Ksatria Gunung namanya. Terlalu panjang rasanya untuk menceritakan bagaimana aku bisa bertemu dengannya, pokoknya kami akhirnya saling mengenal.
Seperti namanya, Ksatria Gunung adalah sosok yang tangguh dan keras. Tidak seperti kebanyakan ksatria yang kukenal, ia seorang yang berani mengungkapkan pendapatnya walau kadang berbeda dengan pendapat umum. Wawasannya pun luas, apalagi jika sudah menyangkut kegemarannya: menaklukkan gunung. 
Belum genap satu bulan aku mengenalnya, tapi ia sudah mampu membuatku mulai ‘memperhatikannya’. Mengamati kesehariannya, mencoba mengenalnya lebih jauh. Bagaimana tidak? Sejak pertemuan pertama kami, ia selalu mengirim surat setiap hari. Sebuah tindakan sederhana yang kupikir hanya basa-basi saat ia bertanya di pertemuan pertama kami, “Bolehkah aku mengirimimu surat setiap hari?”
Memang, isi suratnya seringkali sederhana dan tidak menimbulkan efek 'kupu-kupu-menggelitik-perut’ seperti yang dulu sering kurasakan saat membaca surat-surat dari Ksatria Tak Berkuda. Tapi, dengan cepat ia seperti bisa 'membaca’ keadaanku. Sedang apa aku, di mana aku, atau bagaimana suasana hatiku. Bagaimana bisa aku mengabaikan perhatiannya itu? 
Kehadiran surat-suratnya juga perlahan mengalihkanku dari pikiran tentang Ksatria Tak Berkuda. Ya, sampai saat ini, kadang aku masih memikirkannya. Menunggu surat-suratnya yang muncul di waktu yang tak diduga, tetapi (masih) di saat yang tepat. 
Aku tidak tahu mengapa semesta 'mengirimkan’ ksatria itu padaku. Aku tidak mau menebak-nebak. Kali ini, biarlah semua mengalir sesuai skenarionya. Kalaupun skenarionya berbeda dengan keinginanku, aku yakin, semua ini pasti akan membawa pengaruh yang baik bagi kehidupanku kelak.
Senang bisa mengenalmu, Ksatria Gunung! :)

Cerita Putri Pena: Diarium #2

“AKHIRNYA!”
Itulah ungkapan kebahagiaanku serta pangeran dan putri lainnya saat melihatDiarium untuk pertama kalinya ditempel di pusat Ibu Kota Kerajaan Tulis. 
Masih ingat Diarium? Ya, sebuah media baru yang menjadi pusat informasi bagi warga Kerajaan Tulis. Diarium ini adalah media pertama yang ada di Kerajaan Tulis sebagai pengganti ‘pengumuman sang Raja’. Dan kami, aku serta para pangeran dan putri yang diangkat setahun lalu, yang mendapat 'kehormatan’ untuk mewujudkan keinginan besar sang Raja ini.
Pembuatan Diarium ini memakan waktu sekitar sebulan. Dengan bimbingan beberapa paman dan bibi menteri, kami dibagi ke dalam empat kelompok, setiap kelompok harus mengisi dua lembar besar untuk ditempel pada satu papan Diarium. Sebelum ditempel, kami harus menyerahkan bahan-bahan berita kepada Paman Pengumpul, begitu kami menyebutnya. Paman Pengumpul ini yang bertanggung jawab untuk menempelkan semua berita di papan Diarium.
Satu bulan bisa dibilang waktu yang ideal untuk proyek ini. Tidak terlalu sebentar karena kami membutuhkan waktu untuk mengumpulkan berita-berita yang kira-kira penting bagi rakyat Kerajaan Tulis. Namun, tidak terlalu lama pula karena bisa-bisa kami malah bosan kalau terlalu lama mengerjakannya.
Aku dan sembilan orang Pangeran dan Putri berada di kelompok dua. Artinya, berita-berita kami nantinya akan ditempel pada papan Diarium yang terletak di titik selatan pusat Ibu Kota Kerajaan Tulis. 
Pada hari yang telah ditentukan, aku dan kesembilan sahabatku memberikan berita-berita kami kepada Paman Pengumpul. Rasa senang dan harapan besar menyelimuti kami. Senang, karena akhirnya kami berhasil memenuhi keinginan Sang Raja dan harapan besar bahwa Diarium kami akan dibaca banyak orang. 
Hari itu, rasanya langit lebih cerah dari biasanya. Angin bertiup sejuk, membawa kedamaian hati. Memang, kalau satu tugas berhasil diselesaikan, hidup rasanya satu tingkat lebih indah!
Sayang, kesenangan yang seharusnya kami dapat, malah berubah sebaliknya. Paman Pengumpul mendadak naik emosinya melihat Diarium kami. Ujarnya, kami melakukan kesalahan besar dan tidak melihat bagaiamana Diarium milik kelompok lain. Padahal setahu kami, Diarium yang kami buat sudah sama dengan kelompok lain: ditulis dengan tinta hitam, di atas daun apapun yang tulangnya menyirip, dan boleh dihias dengan buah, bunga, ranting, atau apapun itu asalkan bahannya bisa diperoleh di alam.
Belum habis kebingungan kami, Paman Pengumpul mengancam tidak akan menempelkan Diarium kami di pusat Ibu Kota ini. Puncaknya, ia mengeluarkan ancaman itu sesaat sebelum menempelkannya. Di pusat Ibu Kota. Di mana banyak orang berlalu lalang dan siapa pun yang lewat pasti bisa mendengar 'amukan'nya. Dan setiap yang mendengar, pasti mencuri pandang ke arah kami.
Untung saja Diarium kami tidak dibuang begitu saja!
Kami berusaha mencari informasi ke kelompok lain. Hasilnya? Semua sama. Ditulis dengan tinta hitam dan dibuat di atas daun bertulang menyirip. Lalu, apa yang membuat Paman Pengumpul begitu kesal?
Akhirnya kami menemukan jawabannya dari Paman Menteri Komunikasi. Paman Pengumpul lupa mengenakan kacamatanya saat akan menempelDiarium kami sehingga ia tidak bisa melihat bahwa karya kami ditulis dengan tinta hitam, bukan tinta emas, dan di atas daun bertulang menyirip, bukan menjari. Dengan sedikit tertawa, Paman Menteri Komunikasi menenangkan bahwa pekerjaan kami sudah benar dan mungkin Paman Pengumpul hanya terlalu lelah dengan tugasnya tersebut.
Jadi, masalahnya hanya terletak pada penglihatan Paman Pengumpul? Dan untuk itu kami harus menerima ledakan emosinya di depan rakyat banyak?
Menyadari kesalahannya, Paman Pengumpul akhirnya meminta maaf kepada kami dan langsung menempelkan Diarium sesuai papan yang telah disiapkannya. Rakyat bisa mendapatkan informasi terbaru seputar Kerajaan Tulis dan hal-hal penting lainnya dengan membaca Diarium kami.
“AKHIRNYA!” teriakku dan kesembilan sahabatku. 
Kalau kau sempat berkunjung ke Kerajaan Tulis, mampirlah ke pusat Ibu Kota. Ada empat papan di sana dan di situlah Diarium kami berada. Diarium pembawa berita, Diarium pembuka cakrawala. 

Wisata Nostalgia ke Tahura

"Jadi, mau main ke mana kita?"

Pertanyaan di grup Whatsapp teman-teman kuliah itu tercetus minggu lalu ketika beberapa dari kami berencana reuni kecil-kecilan. Saya kebetulan sedang cuti panjang, teman yang tinggal di Jakarta kebetulan tidak ada event weekend itu, teman yang sedang menyiapkan pernikahannya kebetulan ada 'jadwal' mengantar undangan ke beberapa rekan di Bandung, dan teman yang asli Bandung selaku tuan rumah bisa mengantar kami berkeliling.

Bandung bukan kota yang asing bagi saya. Bahkan, seperti penggalan lirik di salah satu lagu nasional kita, Bandung itu Kota kenang-kenangan.


"Pengen ke tempat yang tenang gitu..," ucap teman saya yang dari Jakarta.

"Yang alami, yang pemandangannya bagus..," tambah teman yang sedang menyiapkan pernikahannya.

Kami sedang berada di kawasan Dipati Ukur dan satu nama tempat wisata langsung terlintas di benak saya. 'Tapi jangan ke sana, plis plis..'

"Ke Tahura aja gimana? Udah pernah?" tawar teman asal Bandung yang menjadi pemandu wisata kami hari itu.

"Belum! Yuk!" Kedua teman saya yang lain antusias. Mobil akhirnya melaju ke daerah Dago Atas arah Tahura alias Taman Hutan Raya Juanda.

'Okay, saya kalah suara. Selamat kasuat-suat !' batin saya ketika kami memasuki pintu gerbang kawasan wisatanya.

Tahura memang salah satu tempat wisata yang eksotis. Menyajikan pemandangan alami khas hutan dan pepohonan yang masih rimbun, taman yang awalnya berstatus sebagai hutan lindung ini cocok dikunjungi bagi mereka yang ingin refreshing sejenak dari rutinitas.



Memasuki kawasan Tahura, saya akhirnya bernostalgia. Bukan, bukan mengenai suasana ketika pertama kali ke sini yang kasuat-suat-able, melainkan mengenai alasan saya menjadi jatuh cinta dengan Bandung meski sekarang sudah merantau ke pulau seberang.

Disambut dengan udara sejuk, saya jadi teringat suasana Bandung ketika masih kecil. Masih bisa menghirup udara sejuk, belum banyak polusi udara...Bandung menjelma menjadi salah satu kota favorit untuk ditinggali. Dan Alhamdulilah, mimpi bisa tinggal di Bandung akhirnya terwujud sejak SMA dan beberapa tahun setelah lulus kuliah. Kalau dihitung-hitung, sekitar 9 tahun saya menetap di kota ini dengan segala suka dukanya. Nggak kerasa! :')

Jajaran pohon yang menjulang tinggi malah mengingatkan saya pada kawasan Braga. Bedanya, di salah satu ikon kota Bandung itu, yang menjulang tinggi adalah tiang-tiang untuk menaikkan bendera para negara peserta KAA. Datanglah ke Bandung pada bulan April dan nikmati beragam acara yang biasanya diadakan khusus untuk memperingati peristiwa bersejarah Konferensi Asia Afrika.

Jika wisatawan umumnya memiliki tujuan utama ke curug, wisata kami ke Tahura saat itu punya agenda lain: memberi makan rusa! :)) Selain belum pernah, agenda ini juga diusulkan demi menghindari potensi kasuat-suat kalau malah ke curug.

Dari pintu masuk, kawasan penangkaran rusa tertulis berjarak sekitar 2 Km. Lumayanlaaah..paling nggak berasa...



Ternyata, dugaan kami agak melenceng. Perjalanannya berasa! Berasa nggak nyampe-nyampe :))) Ditambah outfit yang memang kurang sesuai (disarankan pakai pakaian dan sepatu yang nyaman buat jalan jauh, sepatu olahraga misalnya) dan jalan yang licin setelah hujan, kami memerlukan waktu sekitar satu jam untuk berjalan menuju tempat tujuan.

Kalau diibaratkan, perjalanan ke tempat penangkaran rusa alias trekking ini seperti perjalanan hidup saya ketika pertama kali datang ke Bandung. Waktu itu, niatnya adalah menuntut ilmu, mengembangkan kemampuan diri, dan bersosialisasi. Prosesnya memakan waktu dan nggak selamanya lancar. Bahkan, seperti masuk ke Goa Jepang dan Goa Belanda di sela perjalanan ke penangkaran, ada kalanya untuk menjalankan niat itu saya mengalami 'masa-masa kegelapan'.



Godaan yang menyenangkan tentu ada. Kalau di trekking ini godaannya berupa tawaran naik ojek yang akan menghemat waktu dan tenaga, maka dalam kehidupan godaannya seringkali berupa ajakan main dari teman-teman. Rasanya adaaaa aja tempat yang bisa dieksplorasi di Bandung ini. Nggak ngebosenin!

Selama perjalanan, saya dan teman-teman sempat berhenti beberapa kali karena udah ngos-ngosan (faktor 'u' yeuh ><), kehausan, dan tentunya... popotoan! Ini juga menjadi pelajaran bagi kami bahwa kadang dalam mencapai tujuan, kita perlu beristirahat sejenak. Lebih memperhatikan sekitar, mengisi tenaga lagi, lalu siap melanjutkan perjalanan dengan lebih bersemangat. Masa istirahat juga diisi dengan update kabar teman-teman kami diselingi nostalgia masa-masa perkuliahan yang indah untuk dikenang tapi tidak untuk diulang.


Setelah melewati rute yang licin, kadang sempit, kadang berbagi jalan dengan pengendara sepeda dan sepeda motor, dan beberapa jalan menanjak, akhirnya kami sampai di tempat tujuan: penangkaran rusa. Dengan niat awal, tentu saja memberi mereka makan (walau pada dasarnya rusa-rusa itu sudah mandiri nggak perlu disuapin rumput :)) ).


Melihat rusa-rusa itu mengunyah makanannya dengan lahap, saya teringat satu hal lagi yang membuat Bandung menjadi kota kenang-kenangan yang sulit dilupakan: kulinernya! Setuju? Jangankan dari satu set hidangan Sunda yang menggugah selera, dari bahan aci saja, orang Bandung bisa membuat beragam kreasi seperti cilok, cimol, cireng, ci...apalagi? Mau kuliner tradisional sampai internasional, banyak pilihan di kota ini. Mau menyantap hidangan di pusat keramaian atau di tengah kesejukan alam, tempatnya juga bervariasi. Nggak perlu bingung deh mau makan apa di Bandung.

Puas memberi makan rusa, kami kembali harus menempuh perjalanan panjang ke tempat parkir.  Ada rasa senang ketika akhirnya tujuan tercapai setelah melalui proses perjuangan.

Tahura, terima kasih nostalgianya. Tidak perlu lama, yang penting kualitasnya. Sampai jumpa lagi di nostalgia berikutnya karena Bandung punya pesona yang seakan tidak pernah bosan dibahas!



"Dan Bandung bagiku bukan cuma masalah geografis, lebih jauh dari itu melibatkan perasaan, yang bersamaku ketika sunyi." -Pidi Baiq

Cerita Putri Pena: Surat Sepi

Hai Ksatria Tak Berkuda, apa kabar? Sudah lama ya aku tidak mengirim surat padamu. Sebenarnya, aku juga belum yakin surat ini akan kukirimkan padamu. Aku hanya ingin berbagi sedikit cerita.
Jadi, hari ini nyaris setahun yang lalu ya. Ketika aku akan dinobatkan sebagai ratu muda dan kau menghadapi perang pertamamu. Perang yang sudah kau siapkan sebaik mungkin selama berbulan-bulan sebelumnya. Perang yang nyaris menyita seluruh waktumu.
Penobatan dan perang yang… menjauhkan kita.
Lalu, bagaimana dengan tahun ini?
Menjadi ratu muda ternyata tidak semudah dugaanku. Semakin hari rasanya semakin banyak tugas dari Sang Raja. Tentu dengan kadar yang semakin berat karena kalau tidak, kualitas para pangeran dan putri Kerajaan Pena tidak akan meningkat.
Kadang, ingin rasanya aku kembali saja ke masa-masa persiapan menjadi ratu muda. Bukan karena lebih ringan tugas-tugasnya, tapi aku merasa lebih kuat menjalaninya. Karena aku tahu, ada dirimu yang selalu menyemangatiku dengan surat-suratmu. Entahlah kau sadar atau tidak.
Yah, itu hanya salah satu pemikiran sepi saja. Jangan khawatir, Ksatria, masa-masa berat itu tak akan terulang lagi. Kecuali ada ilmuwan yang menemukan mesin waktu, aku akan mengajakmu kembali ke masa kegelapan-tapi-membahagiakan itu.
Bagaimana denganmu, Ksatria? Kudengar kini kau sudah menjadi salah satu pemimpin pasukan perang di negaramu. Hmm semakin beruntung aku mengenal ksatria sehebat dirimu!
Ternyata, kita semakin berbeda ya. Jika aku berjalan, kau berlari. Saat aku terlelap, kau malah terjaga. 
Kita sudah tidak sejalan. Tapi, semoga tetap satu tujuan.
Selamat malam, Ksatria
p.s: hey, Hutan Hijau merindukan ksatrianya yang pemberani. tidakkah kau ingin berkunjung ke sana?

Cerita Putri Pena: Diarium

Lagi-lagi, warga Kerajaan Tulis dibuat sibuk. Tidak seluruhnya, hanya para Pangeran dan Putri tepatnya.
Sejak dua minggu yang lalu, sang Raja mengumumkan ingin membuat sesuatu yang bisa menjadi penyampai informasi dari kerajaan kepada rakyat. Selama ini, pemberian informasi hanya melalui Paman Menteri Komunikasi yang disampaikan langsung kepada rakyat setelah mereka dikumpulkan di lapangan timur kerajaan. Cara tersebut dinilai sudah tidak efektif lagi karena semakin lama semakin sedikit rakyat yang hadir. 
Berdasarkan saran Paman Menteri Komunikasi dan menteri-menteri lainnya, sang Raja setuju untuk membuat sebuah media bernama Diarium. Diarium ini nantinya akan berisi berita-berita penting tentang Kerajaan Tulis dan sekitarnya. 
Para Pangeran dan Putri di Kerajaan Tulis mendapat kehormatan untuk mengisi berita di Diarium. Dengan kehormatan tersebut, kami harus bekerja ekstra keras untuk menghasilkan berita-berita terbaik.
Pada awalnya, proses menuju kelahiran Diarium ini berjalan menyenangkan. Kami bisa mengenal banyak orang penting di Kerajaan Tulis selain yang tinggal di lingkungan istana. Kami juga diperbolehkan mencari berita di luar Kerajaan Tulis. Banyak pengalaman baru yang kami dapat.
Namun, ternyata semua itu harus dibayar mahal dengan sesuatu bernama kebersamaan. 
Ya, sejak sang Raja mengumumkan rencana pembuatan Diarium ini, kami para Pangeran dan Putri Kerajaan Tulis, mendadak menjadi orang sibuk. Jika bertemu, hanya sempat bertegur sapa singkat atau hanya melempar senyum. Semua seolah sibuk dengan dunianya sendiri.
Wahai para Pangeran dan Putri, bagaimana kabar kalian hari ini? Sehatkah? Sesungguhnya, aku rindu berkumpul bersama kalian lagi. Berbincang hangat atau tertawa penuh keakraban bersama. Sekedar duduk di taman belakang istana atau menjelajah Hutan Hijau tanpa lelah. 
Apakah kalian juga sedang merindukan hal yang sama?

Snack Review: Chitato Rasa Indomie Goreng

Saya suka Chitato, terutama yang rasa sapi panggang. Saya juga suka Indomie Goreng, terutama yang rasa original. Pernah membayangkan menyantap keduanya bersamaan?

Ketika produk baru ini diluncurkan, saya juga termasuk orang yang penasaran ingin mencobanya. Kalau kedua hal yang kita sukai bersatu, harapannya bakal menghasilkan sesuatu yang lebih oke dong ya.

Untungnya, nggak lama setelah snack ini beredar, saya lagi mengambil jatah cuti perdana dan bisa pulang ke kota, di mana minimarket bertebaran dan snack ini muda ditemukan. Kalau di plant site, susah! Minimarket yang menjadi distributor utama snack ini pun baru ada di daerah perbatasan kota :)).

Berbeda dengan varian lainnya Chitato Indomie Goreng ini memiliki bungkus yang khusus. Nggak tau deh jenis plastiknya, tapi kurang lebih sama seperti Chitato Asian Taste itu. Lupa harga dan ukurannya, terlalu excited untuk membeli dan segera mencobanya :)).

Ternyata...

Aroma yang pertama kali keluar setelah bungkusnya dibuka menurut saya agak aneh. Bukan khas Indomie Goreng, bukan pula wangi sapi panggang atau ayam-ayaman.

Dan gigitan pertama....

Biasa aja. Serius. *muka datar* Setelah dihayati, aroma dan rasa Indomie Gorengnya mulai keluar. Iseng melihat komposisi (karena penasaran dengan kandungan MSGnya yang berarti juga dobel?), ternyata beberapa kandungan dalam keripik kentang ini ada udang, ikan, telur, dan... kacang tanah. Kok jadi langsung kebayang pecel? :))

Walaupun pada akhirnya habis juga, saya sepertinya lebih senang menikmati Chitato dan Indomie Goreng secara terpisah. Memang, nggak selamanya kolaborasi itu cocok ya ternyata :').

Cerita Putri Pena: Deja Vu

Aku berdiri di antara kedamaian Hutan Hijau sore tadi. Namun, belum juga puas menikmati nyanyian alam, ketenanganku terusik. Sekelompok ksatria berlalu lalang dengan lambang Negeri 1000 Dagang pada sarung pedangnya. Sebagian dari mereka membawa tanaman-tanaman yang dulu pernah diberikan Ksatria Tak Berkuda padaku. Belum cukup dengan ‘pemandangan’ itu, aku baru tersadar sedang berdiri di tempat pertama kali bertemu sang Ksatria Tak Berkuda.
Ada apa sore ini? Semesta seakan berkonspirasi membawa ingatanku kembali kepada Ksatria Tak Berkuda.

"Pay for Plastic" atau "Pay for Environment"?

Bagi para pejuang lingkungan di Indonesia, boleh jadi tanggal 21 Februari 2016 lalu menjadi salah satu hari bersejarah dalam perjalanan perjuangan mereka: Pemerintah RI akhirnya mengeluarkan kebijakan #Pay4Plastic. Sederhananya, kebijakan ini berarti konsumen -- di beberapa wilayah yang menjadi uji coba kebijakan ini -- harus membayar per lembar plastik yang dia gunakan khususnya kalau berbelanja di ritel-ritel besar.

Kota tempat saya menghabiskan cuti sekarang (juga tempat tumbuh kembang mengumpulkan pengalaman) yaitu Bandung menjadi salah satu wilayah uji coba ini. Sebagai warga percobaan, saya sudah mengalaminya tadi sore ketika membeli buku di Gramedia TSM. Di kasirnya tercantum 'pengumuman' mengenai kampanye ini dan sebelum membayar sang kasir pun bertanya dengan ramah, "Saat ini penggunaan plastik sudah berbayar 200 rupiah, mau tetap pakai?" Berhubung tadi hanya membawa tas tangan dan buku yang dibeli lebih dari satu, saya mengiyakan.

Saya jadi teringat  pengalaman beberapa tahun lalu ketika kebijakan #Pay4Plastic ini belum disahkan. Dulu, saya cukup sering mampir ke Gramed-depan-BIP (yang tinggal di Bandung tau lah ya hehehe) sekedar beli satu komik kalau Conan terbaru terbit. Suatu ketika, saya hanya membeli satu komik dan menolak menggunakan plastik. Selain kebetulan tas saya cukup besar, toh yang dibeli juga cuma satu komik kecil. Alih-alih Mba Kasirnya senang karena stok plastiknya nggak berkurang, dia malah menjawab, "Diplastikin aja ya Mba, soalnya suka diperiksa satpam kalau nggak pakai plastik." Lah? 😒 Saya sempat berargumen dengan Mbanya, berusaha untuk menolak, dan bilang bahwa saya akan menyimpan bukti pembeliannya kalau ditanya satpam. Si Mba juga tetap keukeuh memberikan plastik dan daripada tambah ribet, akhirnya komik saya dimasukkan ke plastik. 😒😒😒

Oke, balik lagi ke kampanye yang lagi booming ini ya. Awalnya, yang saya tau adalah gerakan #DietKantongPlastik yang digagas oleh Greeneration Indonesia a.k.a GI. Itupun tau setelah saya keterima 'magang liburan' di sana selama beberapa bulan hehehehe. Sebagai pencetus gerakan peduli lingkungan ini, GI menawarkan solusi yaitu menggunakan kantong plastik berkali-kali pakai alias reusable bag. Yang bahannya kuat dan nggak mudah rusak. Mereka bahkan juga punya produk reusable (and fold-able!) bag yang praktis dan membuat penggunanya tetap stylish.

Sejujurnya, saya pribadi lebih setuju dengan gerakan #DietKantongPlastik dibandingkan #Pay4Plastic. Dengan 'diet', konsumen diajak menghemat atau menggunakan plastik dengan bijak. Sementara kalau ada embel-embel 'pay'nya kok malah terkesan... konsumtif? Apalagi tadi setelah mendengarkan talkshow di salah satu radio swasta Bandung dengan dosen lingkungan yang ditanya "Apa harapannya dengan adanya kebijakan ini?"

Entah bercanda dulu atau tidak, dosennya menjawab, "Ya harapannya, nanti di bukti pembayaran itu tercetak berapa rupiah yang kita keluarkan untuk menggunakan plastik." 😞 Walaupun setelah itu sang dosen memberi penjelasan tambahan tentang harapan ke depan yang tentunya berdampak pada upaya pelestarian lingkungan, tetap saja pernyataan tadi kemudian membuat saya greget ingin mencari tahu beberapa jawaban lagi:

Kenapa 'hanya' Rp 200,00? Tapi di Balikpapan mah Rp 1.500,00 sih :))

Lalu, untuk apa nantinya keping-keping yang terkumpul dari membeli-kantong-plastik itu? Apakah diserahkan ke pemerintah untuk mengelola lingkungan dengan benar..atau menjadi penghasilan tambahan bagi pemilik usaha?

Sejauh apa komitmen para pelaku usaha yang sudah ikut menerapkan kebijakan ini? Sekedar 'penggugur kewajiban' atau memang tulus ingin ikut berupaya melestarikan lingkungan?

Dan pertanyaan-pertanyaan lain yang random terlintas nantinya.

Setelah merantau ke Bontang, saya jadi tertarik dengan kebijakan terkait penggunaan kantong plastik yang diterapkan Badak LNG di minimarket dalam kompleknya.

Badak LNG, perusahaan penghasil gas alam cair terbesar di Indonesia ini, menerapkan kebijakan untuk tidak menyediakan kantong plastik di minimarket Tojasera yang berlokasi di dalam kompleknya. Solusinya, mereka menyediakan tas belanja reusable seharga Rp 2.000,00 untuk ukuran kecil dan Rp 4.000,00 untuk ukuran besar. Bagi konsumen yang berbelanja banyak (misalnya belanja bulanan), mereka menawarkan kardus bekas gratis untuk wadah belanjanya. Jadi, yang 'dijual' adalah reusable bag-nya yang bisa dipakai berkali-kali dan awet, bukan kantong plastiknya yang awet dipakai juga tapi berbahaya dalam mencemari lingkungan.

Ketika pertama kali berbelanja di Tojasera, saya dan teman-teman kaget dengan kebijakan ini. Banyak barang yang dibeli, sementara tas yang dibawa minim. Maklum, selama ini kepedean pasti bakal disediakan kantong plastik sama penjualnya hehehe. Lama kelamaan, kesadaran untuk membawa tas belanja sendiri mulai terbentuk. Minimal memang kalau ingin ke Tojasera aja sih..

Dari kebijakan itu, setidaknya ada tiga manfaat yang bisa diperoleh kalau diterapkan secara konsisten, baik oleh konsumen maupun penjual.

Pertama, mengubah gaya hidup konsumen menjadi suka menyiapkan reusable bag kalau sewaktu-waktu perlu membeli atau membawa sesuatu.

Kedua, perubahan gaya hidup menjadi ramah lingkungan akan berdampak positif pada alam sekitar. Lebih bersih, sehat, mengurangi sampah untuk generasi mendatang, mencegah musibah akibat sampah, dan masih banyak lagi.

Ketiga (dan bonus), menjadi sarana promosi tidak langsung buat penjual. Reusable bag-nya kan bisa didesain sederhana, hanya menampilkan logo tokosaja misalnya. Pemasukan tambahan dari 'penjualan' reusable bag ini juga menambah keuntungan tersendiri. Atau lebih okenya lagi, bisa digunakan untuk kampanye lingkungan di bidang lain (misalnya penyelamatan satw langka! :( )

Lalu, gimana kalau reusable bag-nya jadi nggak laku karena konsumen sudah memilih membawa kantong belanjanya sendiri? Selamat, kampanyenya berhasil! 😊

Di balik beragam pro kontra yang beredar mengenai kebijakan #Pay4Plastic ini, saya tetap mendukung kok. Sebagai uji coba, kampanye ini cukup bagus membuka wawasan dan meningkatkan kepedulian masyarakat mengenai bahayanya kantong plastik. Apalagi kalau niat kampanyenya memang untuk melestarikan lingkungan. Anggap saja dengan sekali membayar kantong plastik -- atau sekali berdiet kantong plastik --saat berbelanja maupun membawa barang, kita juga sekaligus 'membayar' kehidupan yang lebih baik untuk masa depan dan generasi mendatang.



Cerita Putri Pena: Apa Kabar?

Belakangan ini, banyak yang bertanya padaku, “Bagaimana kabar Ksatria Tak Berkuda?” Biasanya, aku menjawabnya dengan senyuman tipis dan helaan nafas. Tidak tahu.
Ya, sudah lama aku tidak mendengar kabar Ksatria Tak Berkuda. Sehatkah dia? Masih berlatih perang? Atau… sudah diangkat menjadi Raja Muda?
Sesungguhnya, aku merindukannya. Aku rindu bertemu dengannya, menghabiskan waktu bersamanya, atau hanya sekedar berkirim surat. Masalahnya, apa ia juga merasakan hal yang sama?
Ah, sudahlah. Toh aku merindukannya sebagaimana rindu pada teman yang sudah lama tak berjumpa. Jika semesta mengijinkan, kami bisa bertemu lagi, bukan?

Life Goals

Cerita Putri Pena: Taman Satwa

“Sudah siap berpetualang hari ini?” tanya Ksatria berjubah jingga itu saat aku duduk di punggung kuda cokelatnya.
“Siap. Mengapa tidak?” jawabku yakin.
Jadi, dialah si pengirim surat misterius itu. Ksatria dari Kerajaan Tambang. Kerajaan Tambang terletak di sebelah barat Kerajaan Tulis. Hubungan kedua kerajaan ini tidak terlalu baik, tetapi tidak bisa dibilang buruk juga. Kami belum pernah mengadakan kunjungan resmi kerajaan.
Ksatria Pagi namanya. Seperti namanya, ksatria yang selalu memakai jubah jingga ini sangat bersemangat jika pagi datang. Seakan seluruh energinya berkumpul dan ia tidak takut menghadapi apapun yang akan ditemuinya hari itu. Sebuah semangat yang mampu menular kepada siapapun yang melihatnya, termasuk diriku.
Aku tidak tahu mengapa ia mendadak “muncul”. Melalui surat misterius, dan sekarang mengajakku berpetualang.
TAMAN SATWA. Hmm..kapan ya terakhir aku mengunjungi taman nan luas ini?
“Ayo.” Ajak Ksatria Pagi sambil membantuku turun dari kudanya.
“Mengapa kau membawaku ke sini?” Aku masih mencoba mengingat kapan terakhir kali aku ke sini. Dan hal menarik apa yang bisa aku temukan di sini?
“Karena kau sudah lama tidak ke taman ini, bukan? Aku juga,” jawab Ksatria Pagi singkat.
Sekilas, sikapnya yang agak dingin itu mengingatkanku pada sosok Ksatria Tak Berkuda. Ksatria yang tak banyak berbicara, tetapi kata-katanya selalu mampu menenangkan jiwa. Ksatria yang sudah lama tidak kudengar kabarnya. Ksatria yang… kurindukan.
Berkeliling Taman Satwa selama satu jam membuatku menyadari betapa luasnya tempat sejuk ini. Selain itu, tingkah aneka satwa yang lucu pun mampu memberikan hiburan tersendiri. Misalnya, saat kami memberi makan kawanan kera yang sibuk melompat-lompat dari dahan yang satu atau dahan yang lain. Atau melihat sang raja hutan yang tertidur lelap di peraduannya.
Namun, ada kalanya satwa itu terlihat menakutkan. Misalnya saat seekor ular hitam raksasa tiba-tiba melingkar di dahan yang jaraknya tidak jauh dari tempat Ksatria Pagi berdiri dan seolah siap menerjang. Membuatku ingin menarik sang Ksatria pergi melihat satwa lain, tetapi ia belum mau beranjak. Aku hanya berdoa agar Ksatria nan gagah itu tidak terlihat menarik untuk dimakan di mata sang ular.
Semakin menghabiskan waktu bersamanya, semakin aku teringat Ksatria Tak Berkuda. Aku tahu, tidak seharusnya aku membanding-bandingkan keduanya. Setiap individu tentu memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Apa yang tidak dimiliki Ksatria Tak Berkuda bisa kutemukan dalam sosok Ksatria Pagi, dan begitu pula sebaliknya.
Di sisi lain, kunjungan ke Taman Satwa ini seolah juga mengingatkanku untuk menjaga kelestarian mereka. Setidaknya dengan menjaga habitatnya agar mereka tidak punah. Hmm.. terima kasih sudah ‘mengingatkan’, Ksatria!
Bisa kukatakan, petualangan hari itu cukup menyenangkan. Sikap dingin Ksatria Pagi pun perlahan mencair seiring dengan mulai banyaknya topik yang bisa kami perbincangkan. Aku jadi mengetahui kebudayaan Kerajaan Tambang, salah satu kerajaan yang aku kagumi namun tidak banyak hal yang kuketahui tentangnya. Aku juga bisa menceritakan Kerajaan Tulis padanya.
Terima kasih sudah mengajakku mengunjungi Taman Satwa, Ksatria Pagi. Aku senang. Apakah tulisan ini sudah bisa menjawab pertanyaanmu, mengapa aku mau diajak olehmu?

Food Review: Bubur Paramantina (a.k.a Burfay) Jatinangor

Saya pertama kali mengenal bubur ini ketika masih kuliah, mungkin tahun 2010-an. Lokasinya mudah dijangkau, kalau dari arah kampus Unpad itu persis di samping kantor kecamatan Jatinangor. Masa-masa itu, tempat ngebubur ini juga berfungsi ganda sebagai tempat kongkow sebelum ada kelas.

Sekilas, bubur ini terlihat biasa saja. Tapi ketika sudah dihidangkan (apalagi semangkuk penuh dan pakai ati ampela), saya jadi bisa merasakan istimewanya.

Berbeda dengan bubur Bandung / khas Sunda pada umumnya yang memakai kuah kari, bubur ini nggak diberi tambahan kuah lagi karena memang sudah encer. Terlalu encer malah, kalau menurut sebagian orang. Menurut saya, justru inilah 'seni'nya makan bubur, nggak perlu terlalu banyak mengunyah! :))

Satu porsi bubur diberi topping ayam suwir, potongan cakue, bawang goreng, dan seledri. Kadang bisa menambah atau ampela atau telur rebus, tapi perlu datang pagi sekali supaya kebagian.

Supaya lebih nikmat, dan inilah yang membedakannya dengan bubur lain yang pernah saya coba, para pecinta burfay biasa menambahkan cabai bubuk. Sedikit aja udah bisa membuat huh hah kepedesan. Cocok buat pecinta kuliner pedas dan hati-hati buat yang nggak terlalu suka pedas :)) Cabai bubuk itu sendiri, dengan takaran yang tepat/sesuai selera, justru menambah cita rasa dari sang bubur. Kalau sudah kepedesan, bisa ditambah kecap (tapi saya nggak suka bubur pakai kecap hehe) atau emping (nah ini baru enak).

Saat ini, satu porsi bubur biasa (tanpa ati ampela / telor) dihargai Rp 10.000,00 dan empingnya Rp 1.000,00 per bungkus. Walaupun kayaknya sekarang mereka masih buka sampai jam 9-an (dulu jaman masih kuliah, jam setengah 9 aja suka kehabisan), akan lebih enak menikmati bubur ini di pagi hari ketika suasana masih sepi.

Selamat mencoba!
RY

Cerita Putri Pena: Surat

Suatu hari, sebuah amplop berpita perak tergeletak di meja menulisku. Tidak ada nama pengirimnya.
Rusa-rusa kecil yang melompat-lompat, burung-burung yang berkicau, raja hutan yang terlelap di peraduannya, tidakkah kau ingin melihatnya?
Hey, surat dari siapa ini? Untukku kah? Satu simbol matahari tertulis di bawah kalimat isi surat. Kubalikkan amplop, tidak ada alamat pengirim di sana. Hanya ada cap berlambang Kerajaan Tambang di sudut kanan atas bagian depan amplop.
Baru kali ini aku mendapat surat misterius seperti itu. Dengan isi hanya satu kalimat dan tanpa nama pengirim, bagaimana aku bisa membalasnya? Aku hanya bisa menebak-nebak siapa pengirimnya sambil mencoba mengartikan isinya.
Seminggu kemudian, surat misterius itu datang lagi. Ayo hirup udara segar, Putri! Belum sempat aku mengetahui pengirimnya, seorang pengawal memberitahuku, ada seorang Ksatria yang menunggu di gerbang depan kerajaan.
Penasaran, aku segera berlari menemuinya. Sesosok punggung tegap di atas kuda cokelat menyambutku. Diakah pengirim surat-surat misterius itu?

Some Random Quotes from August 2010

"Lw masih punya temen2 yang baik sama lw, that’s why you don’t need someone for now :)"
-Shadza Mulya

"By being hurt, we learn not to hurt other people because we already know how much pain it caused"
-Anonymous

"Tau tapi nggak kenal"
-Quote dari teman lama

"Merdeka adalah ikhlas melepas masa lalu dan berani menghadapi masa depan, apapun yang akan terjadi :)"

"If your wish does not come true then something better was meant for you. Just believe in that"
-Anonymous

"From the day we born, till the day we die, we never stop LEARNING"
-Learning, salah satu puisi jaman basis SMA

"Semangat: mudah diucapkan, sulit dilaksanakan"

"Ayo tuangkan semua unek-unek lewat kata-kata, wahai spesialis generalis!"
-Carla Siregar, Jurnal 08

"I am my own boss, I can do what i want and when i want to do it"
-Muqliza Ironi, Designer & Director Sou Brette

"Fotografer harus tenang supaya bisa berpikir jernih dan selalu punya back up plan. Modal utama fotografer itu bukan kamera, tapi niat dan referensi."
-Bona Soetirto, Fashion Photographer

"It makes you feel so proud when you look back and see how much it took you to actually get here"
-Rihanna

"Real sucess is finding your lifework in the work that you love"
-Wira Sonata, Game Tester

"Everytime you do a project, you learn something new"
-Justin Timberlake

Syaharani on Jazzcraft Vaganza, Kota Baru Parahyangan, 2010

*Ini adalah postingan lama ketika masih aktif menjadi freelance writer di sebuah situs yang mereview segala hal tentang Bandung, jauh sebelum berkembangnya akun-akun socmed 'info blablabla', 'explore blablabla', dll.




Selamat Pagi, Pemirsa!

*postingan ini masih dari 'rumah lama' dan dipost ketika selesai ujian menjadi pembaca berita (2010)



kalau nggak salah untuk mata kuliah Feature TV ya? :))


Some Random Quotes from July 2010

"Gusti Allah Maha Adil"
-Soleh Solihun

"If something is not happening for you, it doesn’t mean it’s never going to happen. It means you’re not ready for it"
-Anonymous

"Everything in life is temporary, because everything changes."
-Anonymous

"Good or bad, hit the reset button and start over tomorrow. And don’t forget: “Pray for the best results!”"
-Anonymous

"If you love somebody, let them go. If they return, they were always yours. If they don’t, they never were."
-Anonymous (dikasih teman, diamini oleh saya)

"Allah pasti mendengar doa hambaNya. Maka itu, berdoalah"

"Sebaik-baik pemimpin adalah yang kamu cintai & mereka mencintaimu.Kamu mendoakan mereka & mereka mendoakanmu."
-H.R Muslim

"Anyone can stand by you when you’re right, but a true friend will stick by you, even when you are wrong"
-Anonymous

Cerita Putri Pena: Tamu untuk Kerajaan #2

Satu pertanyaan dari seorang pengembara yang selalu kuingat sepanjang hari ini, “Mengapa kalian mengadakan dua penyambutan sekaligus tetapi di tempat yang terpisah? Bukankah Kerajaan Tulis seharusnya ‘satu’?”
Ketika dia bertanya langsung, kujawab sebisaku disertai senyum tulus. Mengapa? Aku pun bertanya demikian, pengembara.
Tetapi, lihatlah. Dua penyambutan kami berhasil menyenangkan Kerajaan Nalar maupun Kerajaan Surya. Masih haruskah kami menjawab pertanyaan 'mengapa’ itu?
Maha Guru Kerajaan Nalar benar-benar datang mengunjungi kerajaan kami, satu hal yang sangat jarang dilakukan orang yang namanya sudah sebesar dia. Penduduk Kerajaan Tulis yang mengagumi karya-karyanya (atau bahkan sosoknya) sudah berkumpul memenuhi Kebun Utara kerajaan, tempat yang aku pilih untuk penyambutan. Panas terik matahari tak mereka hiraukan, kalah oleh semangat mereka ingin melihat Maha Guru dari dekat.
Sesuai harapan pula, Maha Guru bercerita panjang lebar. Tentang karyanya, tentang prosesnya berkarya (yang menginspirasi penduduk Kerajaan Tulis untuk terus menulis), termasuk juga tentang kehidupannya yang ternyata sangat sederhana, tidak seperti bayangan banyak orang. Di balik jubahnya yang lebar, Maha Guru bercerita bahwa ia pun masih membutuhkan makan, minum, dan tidur seperti manusia pada umumnya.
Di balik keberhasilan penyambutan ini, ada sedikit hal yang mengganjal bagiku sebenarnya. Sang Raja. Ke mana ia? Bahkan kilau mahkotanya tak terlihat di Kebun Utara tadi. Hanya Raja Muda yang terlihat hadir dan sempat berbincang dengan Maha Guru. Belum juga matahari berada di singgasana tertingginya, Raja Muda sudah menghilang karena ia juga diminta hadir dalam penyambutan Kerajaan Surya. Sungguh sibuk dirimu hari ini, Raja Muda. Semoga kesehatan senantiasa menyertaimu.
Pada akhirnya, aku berterima kasih kepada semua yang telah banyak membantu hari ini. Kepada Maha Guru Kerajaan Nalar yang ternyata seterbuka itu kepada penduduk Kerajaan Tulis, kepada penduduk Kerajaan Tulis yang telah menyempatkan waktunya menyambut Maha Guru, dan tentu: kepada orang-orang terbaik yang dipercaya Sang Raja untuk membantuku menyiapkan penyambutan ini. Tanpa mereka semua, tentu aku tidak akan mendapat pengalaman seindah ini.
Terima kasih.

Hi!

Blog Archive

All written by Yudistyana. Powered by Blogger.

Hello Guest! :)

Name

Email *

Message *