Showing posts with label Special Written. Show all posts
Showing posts with label Special Written. Show all posts

Wednesday, April 26, 2023

Tips: Serunya Jelajah Museum

 Apa yang terlintas di benakmu kalau mendengar kata ‘museum’? Gelap? Kuno? Sepi? Bagi saya, museum justru bisa menjadi semacam mesin waktu yang akan membawa kita ke masa lampau. Berkunjung ke Museum Geologi, misalnya. Sebagai manusia modern, kita bisa sedikit mengintip kehidupan pada jaman purba di sana. Atau mengunjungi Museum Pos Indonesia yang ada di jalan Cilaki, dekat Gedung Sate. Melalui diorama yang dipajang, kita bisa melihat bagaimana orang jaman dahulu berkomunikasi dengan keluarga atau kerabat yang letaknya jauh dengan menggunakan surat.

Sebagai salah satu kota di Indonesia yang memiliki beberapa museum seru, tidak ada salahnya jika sesekali kita mengunjungi aneka museum yang ada di Bandung. Untuk memeringati Hari Museum Internasional yang jatuh pada 18 Mei ini, Bandung Review akan memberikan tips seru untuk menjelajah museum. Sudah siap?

1. Sesuaikan Minat

Ada baiknya, kunjungi museum yang sesuai dengan minat kita. Misalnya jika tertarik pada hal-hal mengenai seni dan sastra, coba kunjungi Museum Sri Baduga yang ada di kawasan Tegallega. Selain menambah wawasan di bidang yang kita sukai, tips ini juga akan mengusir kesan ‘membosankan’ dari sebuah kunjungan ke museum. Kalau kita berada di lingkungan yang mendukung minat kita, antusiasme untuk belajar juga akan meningkat bukan?

2. Pelajari Sekilas Isi Museum

Ini berguna agar kita mendapat gambaran sekilas mengenai hal-hal yang kita temui. Beberapa museum biasanya juga memiliki program khusus di waktu-waktu tertentu seperti Museum Konperensi Asia-Afrika yang baru-baru ini menyelenggarakan peringatan HUT KAA. Bila tidak menemukan informasinya di internet, coba cari tahu dari orang yang sudah pernah ke museum yang ingin kita kunjungi.

3. Kenakan Pakaian yang Nyaman

Karena sebuah museum umumnya memerlukan waktu yang tidak sebentar untuk dijelajahi, gunakan pakaian yang akan membuat nyaman. Sepatu misalnya, pilih jenis yang tidak membuat kaki cepat pegal. Agar lebih seru, pakaian yang dikenakan bisa disesuaikan dengan tema museum yang akan dikunjungi seperti memakai baju ala sosialita tempo dulu untuk berkunjung ke Museum KAA atau mengenakan baju safari untuk main ke Museum Geologi.

4. Bawa Barang Seperlunya

Sebelum menjelajah setiap bagiannya, museum biasanya memiliki peraturan bagi pengunjung untuk menitipkan tasnya. Kalaupun tidak, bawalah barang yang diperlukan misalnya kamera. Meminimalisir barang bawaan akan meningkatkan kenyamanan kita saat mengelilingi isi museum.

Beberapa museum mungkin tidak mengijinkan pengunjung memotret koleksi yang ada di dalam atau dilarang memotret dengan lampu kilat. Bila menemui aturan seperti ini, jangan dilanggar karena penggunaan lampu kilat dikhawatirkan dapat mengurangi keindahan koleksi yang ditampilkan.

5. Ikuti Guide

Selain informasi yang tertera pada brosur, kunjungan ke museum akan lebih asyik bila kita dipandu seseorang yang memahami seluk beluk koleksi di dalamnya. Sambil melihat-lihat, wawasan kita pun bertambah. Tidak ada guide khusus untuk menjelajah di dalam museum? Cobalah mengikuti rombongan yang juga sedang mengadakan kunjungan ke museum. Rombongan seperti itu biasanya memiliki pemandu yang juga bisa menceritakan hal-hal unik dibalik aneka koleksi yang akan kita lihat di dalam museum.

6. Bergabung di Komunitas

Ingin menjelajah museum tetapi tidak ada teman? Bergabunglah dengan komunitas! Meski tidak terbatas pada mengunjungi museum-museum yang ada di Bandung, saat ini ada beberapa komunitas yang kegiatan utamanya adalah berwisata ke museum. Menjelajah museum bersama banyak orang umumnya memang lebih mengasyikkan dibandingkan dengan menjelajah seorang diri.

Mengunjungi museum adalah salah satu alternatif untuk menghilangkan penat sekaligus belajar hal baru. Dengan biaya yang terjangkau, kita bisa pulang membawa sejumlah wawasan baru. Jadi, sudah menentukan museum mana yang akan dikunjungi pekan ini? (RY)

 

Published on: Bandung Review

Tips: Membuat Perpustakaan Pribadi

 Masih suka menonton kartun Doraemon? Robot kucing yang datang dari masa depan ini selalu memiliki peralatan ajaib yang membuat kita ngiler ingin memilikinya. Salah satu peralatan favorit dari robot penyuka dorayaki ini adalah Pintu ke Mana Saja. Dengan pintu berwarna pink ini, penggunanya bisa langsung pergi ke tempat yang dituju begitu memutar kenopnya.

Mungkin benda seperti Pintu ke Mana Saja akan sulit diwujudkan keberadaannya di dunia nyata. Namun sebenarnya, kita juga bisa loh ‘pergi ke mana saja’ tanpa perlu kendaraan dan terjebak kemacetan! Caranya, dengan membaca buku. Seperti kata pepatah, ‘buku adalah jendela dunia’. Maka, salah satu cara terbaik mengenal aneka tempat dan negara lain adalah dengan cara mulai membaca.

Dalam rangka memperingati Hari Buku Internasional yang dirayakan setiap 23 April, Bandung Review akan memberikan tips membuat perpustakaan pribadi di rumah. Coba siapkan koleksi bukunya untuk dibuatkan ‘rumah’ baru yang nyaman!

1. Rancang Konsepnya

Pada dasarnya, perpustakaan pribadi tidak selalu membutuhkan ruangan khusus. Sebuah sudut di ruang keluarga atau kamar juga bisa disulap menjadi tempat menyimpan koleksi buku sekaligus membaca yang nyaman. Idealnya, ruangan yang dipilih bersifat tenang dan cukup jauh dari suara ramai sehingga bisa berkonsentrasi saat sedang membaca. Agar semakin meningkatkan minat baca, perpustakaan pribadi juga bisa dihias dengan tema tertentu, misalnya diisi pernak-pernik dari jenis buku favorit atau dicat dengan warna-warna lembut.

2. Penerangan yang Cukup

Karena indera utama yang akan ‘bekerja’ di perpustakaan pribadi adalah mata, pastikan perpustakaan pribadi nantinya memiliki penerangan yang cukup. Cahaya tidak perlu terlalu terang, tetapi bisa membuat mata tidak cepat lelah saat membaca. Ada baiknya lampu yang digunakan adalah lampu neon, bukan lampu pijar untuk menghindari pantulan cahaya pada kertas yang dapat memicu kelelahan mata. Kalau perlu, sediakan lampu portable yang posisinya bisa disesuaikan dengan tempat untuk membaca.

3. Sirkulasi Udara yang Baik

Selain penerangan, aspek yang satu ini juga perlu diperhatikan. Sirkulasi udara yang baik membuat kita nyaman dan betah berlama-lama di perpustakaan pribadi. Buat suhu ruangan yang tidak terlalu lembab, bisa dengan menempatkan AC atau beberapa tanaman hias yang tidak terlalu besar di salah satu sudut perpustakaan pribadi. Dengan demikian, koleksi buku pun akan lebih awet karena terhindar dari timbulnya jamur.

4. Klasifikasikan Buku

Pengklasifikasian buku bisa dibuat secara alfabetis berdasarkan judul atau pengarangnya. Sistem ini akan memudahkan kita mencarinya di lain waktu. Untuk lebih melindunginya, koleksi buku bisa ditempatkan dalam sebuah lemari dengan kaca bening. Bila lemari dirasa terlalu besar, sebuah rak dengan beberapa kotak bisa menjadi pilihan. Dalam satu kotak itu misalnya bisa diisi satu seri komik atau buku-buku karya satu pengarang tertentu. Supaya lebih awet, buku-buku sebaiknya diberi sampul plastik terlebih dahulu sebelum ditata pada rak atau lemari.

5. Membuat Kliping Majalah & Koran

Ini adalah alternatif untuk melengkapi koleksi perpustakaan pribadi. Kalau selama ini berlangganan atau rutin membeli majalah dan koran, tidak ada salahnya dikumpulkan lagi. Siapa tahu suatu saat ada informasi yang perlu dicari dari majalah atau koran itu.

Buku adalah gudang ilmu. Semakin banyak membaca, semakin banyak pula pengetahuan yang diperoleh. Jangan ragu menjadi kutu buku, banyak membaca itu seru! (RY)

 

Published on: Bandung Review

Friday, June 21, 2019

Menanam Mangrove, Mewujudkan Pembangunan Berkelanjutan

Saya masih ingat saat pertama kali bertemu dengannya. Siang itu, satu hari di tahun 2015. Bersama seorang teman, ia menjamu kami di salah satu saungnya yang berada di dekat area penanaman mangrove.


Namanya Muhammad Ali. Usianya 50 tahun. Namun, semangatnya tidak kalah dengan anak muda. Apalagi kalau sudah membicarakan tumbuhan yang juga dikenal dengan nama bakau tersebut.


Perjuangan Ali Mangrove, begitu ia akrab disapa, dalam membudidayakan tanaman khas pesisir ini dimulai tahun 2009. Fenomena penebangan mangrove oleh orang-orang tak bertanggung jawab membuatnya khawatir. Selain berpotensi menyebabkan banjir saat air laut pasang, berkurangnya keberadaan mangrove juga berpengaruh kepada penurunan hasil tangkapan ikannya. Kala itu, Ali memang  berprofesi sebagai nelayan sekaligus menjadi karyawan sebuah perusahaan tambang.


Bersama sang istri, Ali kemudian mencoba membibitkan mangrove. Jenis yang ditanam adalah Rhizopora, sp. Agar lebih fokus, Ali memutuskan pensiun dini dari perusahaan tempatnya bekerja. Ia juga mendapat pendampingan dari Badak LNG agar usahanya terus berkembang dan memberikan dampak positif, baik dari segi lingkungan, ekonomi, maupun sosial. Badak LNG sendiri merupakan perusahaan pengolah gas alam menjadi gas alam cair (LNG/Liquefied Natural Gas) yang berkomitmen melakukan pemberdayaan masyarakat melalui program-program Community Development-nya.


Hasilnya, lahan miliknya yang semula tidak produktif kini menjelma menjadi hutan mangrove. Selain mencegah abrasi, keberadaan hutan mangrove membuat udara di sekitarnya menjadi sejuk. Ali juga memperluas manfaat lingkungan dari hutan mangrove tersebut dengan membuat area untuk pembudidayaan kepiting bakau yang baru dimulai pada akhir 2017 lalu.


Perlahan, kondisi ekonomi keluarga Ali juga meningkat. Kesadaran akan pelestarian lingkungan membuat banyak instansi di Kota Bontang memesan bibit mangrove kepadanya. Tak jarang, ia dan kelompoknya yang bernama Tani Lestari Indah juga diminta untuk menanam bibit-bibit tersebut di lokasi yang sudah ditentukan. Peluang ini juga berimbas kepada peningkatan pendapatan para anggota kelompoknya.


Tidak sampai di situ, kecintaan Ali pada mangrove membuatnya tak segan berbagi ilmu seputar pembibitan, penanaman, maupun perawatan mangrove. Tamu Pemerintah, Perusahaan, masyarakat umum, hingga anak-anak sekolah semua berkesempatan belajar langsung mengenai mangrove dari ahlinya. Dengan dukungan dari Badak LNG, lahan milik Ali tersebut kini menjadi Mangrove Information Center.


Pemberdayaan Masyarakat


Kegiatan yang dilakukan oleh Ali dan dengan pendampingan dari Badak LNG membuktikan bahwa pemberdayaan masyarakat memberikan kontribusi positif bagi pencapaian tujuan Sustainable Development Goals (SDGs). Dikutip dari jurnal "Sustainable Development Goals (SDGs) dan Pengentasan Kemiskinan", konsep SDGs lahir pada konferensi mengenai Pembangunan Berkelanjutan yang dilaksanakan oleh PBB tahun 2012 di Rio de Jainero. Tujuan yang ingin dihasilkan dalam pertemuan tersebut adalah memperoleh tujuan bersama yang universal, yang mampu memelihara keseimbangan tiga dimensi pembangunan berkelanjutan yakni lingkungan, sosial, dan ekonomi (Ishartono & Santoso Tri Raharjo, Social Work Jurnal Vol. 6, No. 2, Hal. 154-272).


Tiga dimensi pembangunan berkelanjutan tersebut kemudian dirumuskan menjadi 17 tujuan global SDGs dan melalui penanaman mangrove, setidaknya ada 7 tujuan yang bisa dibantu pencapaiannya sebagai berikut:


1. Tanpa Kemiskinan. Tidak ada kemiskinan dalam bentuk apapun di seluruh penjuru dunia.
Kegiatan penanaman mangrove dan pembibitannya telah menghasilkan keuntungan ekonomi sehingga perlahan mendorong anggota kelompok keluar dari kemiskinan.


2.  Tanpa Kelaparan. Tidak ada lagi kelaparan, mencapai ketahanan pangan, perbaikan nutrisi, serta mendorong budidaya pertanian yang berkelanjutan.
Anggota kelompok yang telah bebas dari kemiskinan juga akan terbebas dari ancaman kelaparan.


5. Kesetaraan Gender. Mencapai kesetaraan gender dan memberdayakan kaum ibu dan perempuan.
Sebagian besar anggota kelompok Tani Lestari Indah adalah para ibu. Mereka yang semula tidak produktif, kini menjadi memiliki kegiatan positif dan tambahan penghasilan. Buah mangrove yang bisa dimanfaatkan juga mendorong terbentuknya kelompok baru yang bergerak di bidang UMKM yaitu produksi sirup mangrove dan dodol mangrove dan seluruh anggota kelompok baru ini adalah perempuan.


8. Pertumbuhan Ekonomi dan Pekerjaan yang Layak. Mendukung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan dan inklusif, lapangan kerja yang penuh dan produktif, serta pekerjaan yang layak untuk semua orang.
Keberadaan usaha budidaya mangrove secara tidak langsung telah mendorong pertumbuhan ekonomi. Lapangan kerja tercipta dan dengan pendampingan dari Badak LNG kegiatan budidaya bisa berkelanjutan, bahkan terus berkembang.


14. Kehidupan Bawah Laut. Melestarikan dan menjaga keberlangsungan laut dan kehidupan sumber daya laut untuk perkembangan pembangunan yang berkelanjutan. 
Sebagai habitat beberapa hewan khas pesisir, keberadaan mangrove telah membantu melestarikan keberadaan mereka sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem laut.


15. Kehidupan di Darat. Melindungi, mengembalikan, dan meningkatkan keberlangsungan pemakaian ekosistem darat, mengelola hutan secara berkelanjutan, mengurangi tanah tandus serta tukar guling tanah, memerangi penggurunan, menghentikan dan memulihkan degradasi tanah, serta menghentikan kerugian keanekaragaman hayati.
Bagi makhluk yang tinggal di darat termasuk manusia, keberadaan mangrove adalah pelindung dari ancaman abrasi atau banjir yang datang saat air pasang.


17. Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. Memperkuat implementasi dan menghidupkan kembali kemitraan global untuk pembangunan yang berkelanjutan. 
Ali dan kelompok Tani Lestari Indah-nya memiliki tujuan yang disinergikan dengan cita-cita program Community Development Badak LNG. Jika Ali ingin lingkungan di sekitarnya terjaga sekaligus membantu masalah ekonomi anggota kelompoknya, Badak LNG pun memiliki cita-cita untuk Maju Bersama Masyarakat. Cita-cita ini sejalan dengan triple bottom line, konsep yang menjadi acuan sebuah perusahaan seperti Badak LNG dalam melaksanakan program-program Community Development.


Menurut konsep yang juga dikenal dengan nama "3P" tersebut, perusahaan yang ingin operasionalnya berkelanjutan harus berkomitmen pada aspek 3P yaitu profit, planet, dan people. Tidak hanya mencari profit, tetapi juga perusahaan harus bertanggung jawab terhadap kelestarian lingkungan serta pemberdayaan masyarakat di sekitar daerah operasionalnya.


Melestarikan lingkungan dan mencapai tujuan SDGs memerlukan sinergitas antara berbagai pihak, baik individu maupun institusi. Yang terpenting adalah memulai aksi positifnya dari sekarang, supaya kelak hasilnya bisa dinikmati di masa depan.


Selamat melakukan aksi positif!

Friday, August 12, 2016

Truly Reviving Night with @NOAH_ID

How’s your weekend?

Biasanya kalau mendapat pertanyaan itu di kelas bahasa Inggris pagi, saya akan menjawabnya ‘nothing special’. Pagi ini, kalau ditanya lagi, jawabannya akan berubah menjadi 'Great!’

Yes, weekend kemarin adalah salah satu mimpi sempurna yang terwujud. Bukan pas weekend sih tepatnya, Jumat (6/6).

Saya berkesempatan menonton konser eksklusif Noah.  Gratis. Sejam. Di Jakarta.

Bukan hasil menang kuis, tapi kebetulan salah satu temen yang kerja di promotornya memberikan satu tiket for free. Beneran gratis, nggak ada syarat harus ngetwit atau semacamnya. The power of networking!

Kebahagiaan ini dilengkapi dengan restu orang tua yang akhirnya ngijinin anaknya ngebolang ke Ibukota. Dan proses ngurus ijinnya nggak pake ribet hehehe. Serius deh, kalau nggak dapet ijin juga nggak akan berani pergi.

Begitu juga dengan 'Mamak’ di kantor yang ternyata ngasih cuti. Sebenernya saya berencana masuk setengah hari aja karena belum setahun kerja, belum ada jatah cuti. Tapi ternyata ada kebijakan baru jadi saya bisa ngambil jatah perdana. Syalalalala~

Konser eksklusif ini sebenernya diadain sama salah satu produk minuman yang mengangkat Noah sebagai ambassadornya. Tempatnya di Hardrock Cafe Pacific Place. Pintu dibuka jam 19.00 dan udah nyampe PP dari jam 14.00-an sebenernya bikin rada sekip. PP bukan mal yang 'ramah’ menurut saya, baik buat keuangan maupun hati.

Setelah Maghrib, saya akhirnya nemu cafenya. Juga ketemu temen yang berbaik hati ngasih tiket itu. Ternyata antrian udah lumayan panjang dan bisa ditebak, didominasi cewek (atau tante-tante).

Sebenernya malam itu saya berencana nonton sama salah satu temen kampus yang sekalian mau ngeliput konsernya. Sayang, dia belum juga dateng dan antrian makin panjang. Jadilah saya ngantri duluan demi mendapat posisi berdiri tepat di depan panggung. Maaf ya, kalau untuk mencapai mimpi, kadang harus berani 'jalan duluan’, hehe.

Sebenernya lagi, perasaan saya udah nggak seantusias dulu. Seneng, tapi biasa aja. Nggak deg-degan. Malah lebih terharu waktu dapet kesempatan liputan single Dara pas Ariel masih di Kebon Waru.

Tapi ternyata waktu akhirnya Ariel cs naik ke panggung, rasa antusias itu kembali ada. Apalagi jaraknya berasa deket banget dan nggak perlu struggle sama kamera-kamera raksasa para pekerja infotainment. Bahagiaaaaa!

Ada sekitar 10 lagu yang mereka mainkan. Kebanyakan dari album terbaru yang saya nggak terlalu hafal judul apalagi liriknya. Kalau dari album pertama & keduanya kan udah sampai khatam urutan lagu di kasetnya :p.

Walaupun nggak membawakan dua lagu kesukaan, malam itu Noah tetep tampil memukau. Beberapa lagu yang bikin saya ikut ngegigs di antaranya Menghapus Jejakmu, Walau Habis Terang, Langit Tak Mendengar,  dan Topeng yang juga menjadi lagu penutup. 


Karena ini adalah pengalaman pertama nonton Noah sambil berdiri tepat di depan panggung, saya juga sambil memerhatikan lingkungan sekitar. Tepatnya, beberapa penonton yang cukup ngeganggu kenyamanan.

Salah satu tipe penonton yang bikin pengen ngejitak adalah mbak mbak mungil yang berdiri di belakang saya. Bukan salahku punya badan tinggi~~ . Waktu pertama kali mau ambil gambar, mbak mungil ini menegur saya karena menghalangi pandangannya. Oke, teguran ini bisa diterima dan akhirnya tiap ngambil gambar saya pakai angle dari bawah. Ternyata, mba mungil ini malah 'membalas’ dengan kealayannya. Belum cukup doski memekik tepat di telinga saya (ini yang paling bikin pengen ngejitak), dia juga menyerukan kalimat semacam “Mau dooong jadi handuknyaaaa” waktu Ariel ngelap keringet atau “Ukiiiiii…jambangnya ga nahaaaannnn”. Pelis mbak.

Penonton lain yang juga bikin emosi massa (kalau ini beneran bikin kesel penonton lain :)) ) adalah mbak mbak yang berkesempatan ngasih pertanyaan buat Noah. Bukannya nanya hal penting semacam kapan album baru keluar dll, doski malah menanyakan masalah pribadi Ariel. Situ pekerja infotainment?

Terlepas dari hal-hal yang nggak penting tapi rada ngeselin tadi,  konser malam itu luar biasa. Nggak rugi bela-belain dari Bandung sendirian cuma buat nonton. Nggak capek bela-belain berdiri sekitar tiga jam karena sambil diajak nyanyi bareng. Rasanya semua keruwetan pikiran hilang seketika. Otak (sama hati) siap diisi lagi sama hal-hal baru. Bahagiaaaaaaa baaangeeeettttt!


Jadi, terima kasih Semesta sudah berkonspirasi mewujudkan salah satu Mimpi yang Sempurna milik saya. Saatnya mewujudkan mimpi-mimpi lain lagi, misalnya wawancara eksklusif bareng Noah-nya. Ini belum kepikiran gimana cara dan kesempatannya, tapi semoga aja nanti ada jalannya. Have a nice day all! :D

*pertama kali dipublikasikan di Tumblr pada Juni 2014. Diposting ulang untuk #KonserTerbaikGue Writing Competition.

Monday, June 20, 2016

Inspirasi Gaya di Hari Raya untuk yang Berjiwa Muda

Ini adalah sebuah acara Kompetisi Blogger ShopCoupons & InvolveAsia X HB & BB yang diselenggarakan oleh ShopCoupons. Voucher Berrybenka dan Voucher Hijabenka disponsori oleh Berrybenka & Hijabenka.

Siang tadi, di tengah dinginnya AC sentral, seorang teman tiba-tiba mengirim gambar melalui Whatsapp. Gambar yang berupa teks sih lebih tepatnya. Isinya seperti ini:

Source: Anonymous
Baper? Tentu saja! Bahkan bapernya dobel, karena belum punya baju Lebaran plus baju pengantin dan nggak bisa berburu baju untuk hari raya itu di kota tercinta.

Untungnya, menyiapkan baju Lebaran nggak seribet menyiapkan baju untuk nikahan. Ada beberapa model dan ukuran yang sepertinya sudah pas dikenakan, misalnya beberapa koleksi dari Hijabenka dan Berrybenka ini.

Friday, February 26, 2016

Wisata Nostalgia ke Tahura

"Jadi, mau main ke mana kita?"

Pertanyaan di grup Whatsapp teman-teman kuliah itu tercetus minggu lalu ketika beberapa dari kami berencana reuni kecil-kecilan. Saya kebetulan sedang cuti panjang, teman yang tinggal di Jakarta kebetulan tidak ada event weekend itu, teman yang sedang menyiapkan pernikahannya kebetulan ada 'jadwal' mengantar undangan ke beberapa rekan di Bandung, dan teman yang asli Bandung selaku tuan rumah bisa mengantar kami berkeliling.

Bandung bukan kota yang asing bagi saya. Bahkan, seperti penggalan lirik di salah satu lagu nasional kita, Bandung itu Kota kenang-kenangan.


"Pengen ke tempat yang tenang gitu..," ucap teman saya yang dari Jakarta.

"Yang alami, yang pemandangannya bagus..," tambah teman yang sedang menyiapkan pernikahannya.

Kami sedang berada di kawasan Dipati Ukur dan satu nama tempat wisata langsung terlintas di benak saya. 'Tapi jangan ke sana, plis plis..'

"Ke Tahura aja gimana? Udah pernah?" tawar teman asal Bandung yang menjadi pemandu wisata kami hari itu.

"Belum! Yuk!" Kedua teman saya yang lain antusias. Mobil akhirnya melaju ke daerah Dago Atas arah Tahura alias Taman Hutan Raya Juanda.

'Okay, saya kalah suara. Selamat kasuat-suat !' batin saya ketika kami memasuki pintu gerbang kawasan wisatanya.

Tahura memang salah satu tempat wisata yang eksotis. Menyajikan pemandangan alami khas hutan dan pepohonan yang masih rimbun, taman yang awalnya berstatus sebagai hutan lindung ini cocok dikunjungi bagi mereka yang ingin refreshing sejenak dari rutinitas.



Memasuki kawasan Tahura, saya akhirnya bernostalgia. Bukan, bukan mengenai suasana ketika pertama kali ke sini yang kasuat-suat-able, melainkan mengenai alasan saya menjadi jatuh cinta dengan Bandung meski sekarang sudah merantau ke pulau seberang.

Disambut dengan udara sejuk, saya jadi teringat suasana Bandung ketika masih kecil. Masih bisa menghirup udara sejuk, belum banyak polusi udara...Bandung menjelma menjadi salah satu kota favorit untuk ditinggali. Dan Alhamdulilah, mimpi bisa tinggal di Bandung akhirnya terwujud sejak SMA dan beberapa tahun setelah lulus kuliah. Kalau dihitung-hitung, sekitar 9 tahun saya menetap di kota ini dengan segala suka dukanya. Nggak kerasa! :')

Jajaran pohon yang menjulang tinggi malah mengingatkan saya pada kawasan Braga. Bedanya, di salah satu ikon kota Bandung itu, yang menjulang tinggi adalah tiang-tiang untuk menaikkan bendera para negara peserta KAA. Datanglah ke Bandung pada bulan April dan nikmati beragam acara yang biasanya diadakan khusus untuk memperingati peristiwa bersejarah Konferensi Asia Afrika.

Jika wisatawan umumnya memiliki tujuan utama ke curug, wisata kami ke Tahura saat itu punya agenda lain: memberi makan rusa! :)) Selain belum pernah, agenda ini juga diusulkan demi menghindari potensi kasuat-suat kalau malah ke curug.

Dari pintu masuk, kawasan penangkaran rusa tertulis berjarak sekitar 2 Km. Lumayanlaaah..paling nggak berasa...



Ternyata, dugaan kami agak melenceng. Perjalanannya berasa! Berasa nggak nyampe-nyampe :))) Ditambah outfit yang memang kurang sesuai (disarankan pakai pakaian dan sepatu yang nyaman buat jalan jauh, sepatu olahraga misalnya) dan jalan yang licin setelah hujan, kami memerlukan waktu sekitar satu jam untuk berjalan menuju tempat tujuan.

Kalau diibaratkan, perjalanan ke tempat penangkaran rusa alias trekking ini seperti perjalanan hidup saya ketika pertama kali datang ke Bandung. Waktu itu, niatnya adalah menuntut ilmu, mengembangkan kemampuan diri, dan bersosialisasi. Prosesnya memakan waktu dan nggak selamanya lancar. Bahkan, seperti masuk ke Goa Jepang dan Goa Belanda di sela perjalanan ke penangkaran, ada kalanya untuk menjalankan niat itu saya mengalami 'masa-masa kegelapan'.



Godaan yang menyenangkan tentu ada. Kalau di trekking ini godaannya berupa tawaran naik ojek yang akan menghemat waktu dan tenaga, maka dalam kehidupan godaannya seringkali berupa ajakan main dari teman-teman. Rasanya adaaaa aja tempat yang bisa dieksplorasi di Bandung ini. Nggak ngebosenin!

Selama perjalanan, saya dan teman-teman sempat berhenti beberapa kali karena udah ngos-ngosan (faktor 'u' yeuh ><), kehausan, dan tentunya... popotoan! Ini juga menjadi pelajaran bagi kami bahwa kadang dalam mencapai tujuan, kita perlu beristirahat sejenak. Lebih memperhatikan sekitar, mengisi tenaga lagi, lalu siap melanjutkan perjalanan dengan lebih bersemangat. Masa istirahat juga diisi dengan update kabar teman-teman kami diselingi nostalgia masa-masa perkuliahan yang indah untuk dikenang tapi tidak untuk diulang.


Setelah melewati rute yang licin, kadang sempit, kadang berbagi jalan dengan pengendara sepeda dan sepeda motor, dan beberapa jalan menanjak, akhirnya kami sampai di tempat tujuan: penangkaran rusa. Dengan niat awal, tentu saja memberi mereka makan (walau pada dasarnya rusa-rusa itu sudah mandiri nggak perlu disuapin rumput :)) ).


Melihat rusa-rusa itu mengunyah makanannya dengan lahap, saya teringat satu hal lagi yang membuat Bandung menjadi kota kenang-kenangan yang sulit dilupakan: kulinernya! Setuju? Jangankan dari satu set hidangan Sunda yang menggugah selera, dari bahan aci saja, orang Bandung bisa membuat beragam kreasi seperti cilok, cimol, cireng, ci...apalagi? Mau kuliner tradisional sampai internasional, banyak pilihan di kota ini. Mau menyantap hidangan di pusat keramaian atau di tengah kesejukan alam, tempatnya juga bervariasi. Nggak perlu bingung deh mau makan apa di Bandung.

Puas memberi makan rusa, kami kembali harus menempuh perjalanan panjang ke tempat parkir.  Ada rasa senang ketika akhirnya tujuan tercapai setelah melalui proses perjuangan.

Tahura, terima kasih nostalgianya. Tidak perlu lama, yang penting kualitasnya. Sampai jumpa lagi di nostalgia berikutnya karena Bandung punya pesona yang seakan tidak pernah bosan dibahas!



"Dan Bandung bagiku bukan cuma masalah geografis, lebih jauh dari itu melibatkan perasaan, yang bersamaku ketika sunyi." -Pidi Baiq