Cerita Putri Pena: Yang Kedua

“Aku memiliki dua penawaran untukmu,” kata Panglima Pasukan Pertahanan dengan suara rendah. Sore itu, kami sedang berada di Ruang Pertemuan. Sang Raja mengundang para panglima dan beberapa prajurit membicarakan strategi memakmurkan negeri.
“Dua penawaran? Untukku?” Aku masih belum menangkap arah pembicaraan yang tiba-tiba itu.
“Yang pertama, seorang prajurit yang sepertinya sudah tidak asing bagimu, bagi kita semua. Ia hadir nyaris di setiap pertemuan yang diadakan oleh Sang Raja, kecuali hari ini. Prajurit yang selalu bersikap ceria dan kadang mengundang gelak tawa.”

Cerita Putri Pena: Seharusnya

“Seharusnya aku yang ikut pergi bersamamu.”
Di tengah segala badai ujian ini, satu kalimat tersebut terdengar begitu menyejukkan.
‘Seharusnya’. Mungkin kali ini Semesta belum mengijinkan, semoga diberikan pada lain kesempatan.

Random Though

Salah satu #misteri yang sampai sekarang bikin penasaran sama jawabannya: gimana ya permainan  semacam ini bisa seolah menganalisa kepribadian kita dengan tepat atau minimal mendekati deh?

Misalnya tentang wiki-wikian ini. Agak geli juga sih kalau bayangin bagian 'able to say "I'm fine" with tears in her eyes'. Faktanya, itu memang pernah terjadi..tapi siang hari #oops.

Tapi bagaimanapun cara yang digunakan, rangkaian kalimat sederhana ini menjadi penyemangat lagi untuk terus melangkah. And even if the future doesn't look great kayak belakang ini yang kebanyakan awan mendungnya, I will keep moving forward.

Cerita Putri Pena: Pada Awalnya

“Jadi, apa yang kau ketahui tentang Negeri Energi?”
“Aku? Sejujurnya aku tidak tahu sampai terjadi perang itu yang mengharuskanku menyelamatkan diri.”
“Tidak tahu? Tidakkah kau pernah mendengar sedikitpun tentang negeri indah ini?”
Ia menggeleng.
“Bukankah negeri ini bertetangga dengan kerajaan tempatmu tinggal dulu?”
Ia tersenyum. “Tetapi aku benar-benar tidak tahu apapun. Mendengar namanya pun rasanya sangat jarang. Kurasa itulah tugasmu kelak.”
“Kau menambah tugasku saja. Tidakkah kau ingin membantu?”
Aku menghela nafas. Ia tersenyum lagi, lebih lebar.

Cerita Putri Pena: Didengarkan

Selamat datang di Negeri Energi! Sebuah negeri yang selalu mendorong penduduknya melakukan inovasi. Negeri yang menginginkan penduduknya mempelajari hal baru dengan cepat setiap hari. Negeri tempatku berada kini.
Bukan tanpa alasan aku berada di sini. Negeri Energi memiliki nyaris segalanya yang aku inginkan, mungkin juga sebenarnya aku butuhkan. Pembelajaran, kesempatan, kedamaian. Negeri Energi adalah negeri yang telah Semesta pilihkan.
Berada di Negeri Energi membuatku merasa muda kembali. Akupun menggunakan identitasku sebagai seorang prajurit, sama seperti beberapa pendatang baru dari berbagai penjuru. Mungkin di antara mereka pun ada yang menjadi seorang pangeran atau putri di negerinya terdahulu, tetapi di Negeri Energi mereka tidak memperlihatkan itu.
Semesta rupanya menepati janjinya untuk “memberikan kesempatan baru”. Tidak ada yang kukenal di sini, begitu pula sebaliknya. Aku benar-benar harus beradaptasi dari awal lagi. Tidak terlalu sulit menurutku, tetapi tidak juga bisa dikatakan mudah. 
Semakin hari, kehidupan terasa semakin sibuk. Mengalahkan Negeri 1000 Dagang bahkan. Dan sepertinya, aku harus meralat pernyataanku tadi.
Sulit. Di sini sulit. Penduduknya menginginkan setiap prajurit memiliki kemampuan seperti panglima. Dalam waktu singkat. Bagaimana bisa?
Ditambah, sedikit sekali sosok yang bisa mendengarkan. Yang bisa menyimak. Menjadi tempat berbagi kisah, walau mungkin akan lebih banyak keluh kesah. Semua ingin didengarkan. Lalu, kapan mereka mau mendengarkanku?
Ah ya, aku masih memiliki Semesta untuk mendengarkanku. Aku akan selalu mengingat itu.

Cerita Putri Pena: Menemukan

Dalam perjalananku, aku menemukannya. Ia ada di sana, ketika aku berhenti sejenak. Ia yang pertama menyapa, lalu kami berbagi cerita.
Dalam perjalananku, aku menemukannya. Ada sesuatu yang berbeda dalam dirinya. Mungkin, itulah pesonanya.
Dalam perjalananku, aku menemukannya. Rupanya, tujuan kami sama. Sayangnya, arah langkah berbeda. 
Akankah kami bertemu lagi di ujung sana? Kalau dari awal ia yang menemukanku, mungkin kisah ini akan berbeda. Tapi, Semesta selalu punya cara menyelesaikan kisahnya, bukan?

Cerita Putri Pena: Pergi

Pada akhirnya, aku memilih pergi. Meninggalkan kehidupanku yang lama. Menjemput mimpi dan harapan baru.
Kau masih ingat ketika Semesta memberiku tiga pilihan? Aku memilih yang pertama. Yang membuatku terpisah dengan apa yang pernah kumiliki. Yang membuatku mengulangi segalanya nyaris dari awal. Menjadi ksatria dan putri serba bisa untuk menghadapi tantangan zaman.
Aku belum bisa memberitahumu keberadaanku. Yang pasti, sudah jauh dari Negeri Kilau, Kerajaan Tulis, apalagi Negeri 1000 Dagang. Aku akan menempa diri di tempat yang menawarkan kedamaian.
Mungkin sesekali kau juga perlu pergi. Jauh, dari keberadaanmu saat ini. Jika bukan untuk menempa diri, setidaknya kau akan tahu, siapa selama ini mereka yang benar-benar peduli.

Cerita Putri Pena: Jembatan

“Astaga! Aku tidak pernah menyangka ada tempat seindah ini di Negeri Kilau!”
“Desa ini memang sangat jarang mendapat kunjungan. Keberadaannya pun hanya diketahui orang-orang tertentu. Beruntung, Sang Raja saat ini memiliki kepedulian yang sangat tinggi sehingga mau mengunjungi mereka.”
“Betul. Apakah ini kunjungan pertamamu juga, seperti aku?”
“Tidak. Aku cukup sering ke sini. Sekedar mencari ketenangan, atau bermain dengan anak-anak desa.”
“Ketenangan? Di sini?” Aku menatap sekeliling. Bagaimana ia bisa mendapatkan ketenangan di tengah hiruk pikuk warga yang beraktifitas setiap harinya?

Cerita Putri Pena: Terima Kasih

Terima kasih, untuk pernah menjadi bagian dari hidupku
Terima kasih, untuk datang, menghilang, kembali, lalu pergi
Terima kasih, untuk mengajarkan dan membuatku menjadi seorang putri yang kuat
Yang sanggup menyelesaikan berbagai permasalahan hidup, dengan atau tanpa seseorang di sisinya
Terima kasih, untuk menunjukkan bahwa tidak semua ksatria mampu bersikap seperti layaknya gelar yang ia sandang
Bahwa ada juga ksatria yang pengecut dibalik pedangnya yang tajam. Bahwa ada juga ksatria yang manis dalam berkata dan menebar janji belaka
Terima kasih, untuk membuatku melihat lebih dekat dan mendengarkan nasihat-nasihat orang terdekat
Terima kasih, untuk menjadikanku mempercayai janji Semesta: selalu ada yang baik untuk yang baik.
Selamat menempuh hidup baru.

Cerita Putri Pena: Kesempatan

“Aku akan memberimu tiga pilihan kesempatan. Maukah kau mengambilnya?”
“Tiga, Semesta? Tetapi mengapa…”
“Tiga kesempatan. Kau mau memilihnya, atau tidak?”
“Baiklah, aku akan mengambilnya. Bisakah aku mendapat petunjuk?”

Cerita Putri Pena: Serupa, Tapi Tak Sama

Aku melihatnya di gerbang perbatasan Negeri 1000 Dagang. Bersama rombongan kecilnya, ia menunggu untuk melewati pos pemeriksaan. Sesekali ia mengusap tunggangannya. Tampaknya ia sangat menyayangi kuda hitam nan gagah itu.
Ia. Aku tidak tahu namanya. Bahkan tidak tahu siapa dia sebenarnya. Bukan ksatria Negeri 1000 Dagang, kurasa. Karena beberapa kali mengunjungi negeri penuh cerita itu, aku baru pertama kali melihatnya.

Yang Ternyata Ada di Dunia Kerja

Tadi pagi, saya berkesempatan melakukan diskusi ringan dengan rekan-rekan kerja. Semacan sharing session lah, dengan topik mengenai dunia kerja.

Salah satu senior saya memberikan pernyataan yang menarik. "Kalau udah kerja itu, aplikasi teori cuma sekitar 20% aja, sisanya kita harus improvisasi." Walau tidak tahu berapa persentase pastinya antara teori dan improvisasi di dunia kerja, saya setuju dengan pernyataan tersebut.

Dunia kuliah nggak pernah memberikan teori tentang 'bekerja di bawah tekanan', padahal poin ini nyaris selalu ada di beberapa lowongan yang saya incar.

Dunia kuliah juga nggak pernah mengajarkan tentang 'cara menghadapi orang menyebalkan', padahal kenyataannya, tipe orang seperti ini adaaaaa aja.

Nggak heran, ada beberapa orang yang saya kenal sering mengeluhkan pekerjaannya. Walau sekarang frekuensinya lumayan berkurang #eh.

Memasuki dunia kerja, berarti sudah harus siap dengan segala resikonya. Bertanggung jawab terhadap ilmu yang sudah kita peroleh selama kuliah (dan yang sering menjadi 'modal utama' saat melamar kerja!), tapi di sisi lain harus bisa beradaptasi dengan banyak hal mulai dari beban kerja, budaya perusahaan, bersosialisasi dengan rekan kerja, dan hal-hal lain yang mungkin terlihat ringan.

Bahkan ketika menjalankan pekerjaan idaman pun, tantangan-tantangan itu selalu ada. Ya kalo nggak ada, hidup juga nggak rame sih hahaha. Nggak ada pembelajaran #cie.

Dan ada kalanya juga cirambay sudah di pelupuk mata. Kalau sudah begitu, saya punya obat mujarabnya warisan dari nenek, "Nggak papa orang lain jahat atau bersikap menyebalkan sama kita, yang penting kita harus tetap baik sama dia dan sama orang-orang. Kebaikan akan kembali ke kita, begitu juga sebaliknya."

Cerita Putri Pena: Pangeran untuk Putri

Hari ini, aku berkuda menuju Hutan Hijau. Ini adalah Hari Bebas-ku, satu hari di mana aku bebas untuk tidak melaksanakan kewajiban sebagai seorang prajurit Negeri Kilau. Setiap tahu nnya, seorang prajurit pasti akan mendapatkan hari ini, sesuai kebijakan Yang Mulia.
Suasana Hutan Hijau masih belum berubah. Syukurlah, setidaknya masih ada hal baik yang bertahan. Pepohonan bertambah rimbun, Sungai Bening bertambah jernih. Air suci masih menjadi tempat kegemaran para ksatria dan prajurit dari berbagai penjuru. Entah sekedar melepas lelah atau memang tergoda mencicipi air yang konon memiliki khasiat tertentu itu.

Cerita Putri Pena: Kebetulan-kebetulan

Pernahkah kau mengalami kebetulan dalam hidupmu? Pasti pernah. Atau kau tidak menganggapnya sebagai kebetulan, melainkan hasil pengaturan Semesta?
Suatu hari, aku pernah memanjatkan doa pada Semesta. Memohon kehidupan baru, ilmu baru, dan kebahagiaan baru. Dan aku berjanji, akan bersabar menunggu mendapatkan semua itu.
Entah doaku sudah terkabul atau belum, tetapi saat ini kehidupanku terasa jauh lebih berwarna. Negeri Kilau yang dinamis membuatku mendapatkan ilmu baru nyaris setiap hari. Tidak hanya sebagai seorang prajurit, tetapi juga ketika menjadi diriku sendiri. Menjadi seorang Putri Pena.

Cerita Putri Pena: Strategi dari Masa Lalu

“Hari ini kita akan mempelajari strategi baru. Strategi menguasai kawasan tak berpenghuni,” jelas Panglima Strategi setelah kami berkumpul menghadap Sang Raja. Kami yaitu aku, sang Panglima, Prajurit Api, serta Prajurit Angin.
Sebagai negara baru, Negeri Kilau memang masih akan terus memperluas wilayah kekuasaannya. Namun, Sang Raja tidak pernah mengijinkan pasukannya menduduki kawasan yang sudah menjadi milik negara lain. Ia tidak menyukai peperangan apalagi kalau untuk merebut wilayah.

Cerita Putri Pena: Kesehatan, Lembah Biru, dan Panglima Strategi

Apa kabar? Kuharap kau benar-benar sehat di tengah cuaca yang tidak bersahabat belakangan ini. Ya, angin kencang dan hujan deras kini rutin mendatangi Negeri Kilau, membuatku tidak bisa meninggalkan tempat tidur selama lima hari lebih. Suaraku nyaris hilang, tetapi syukurlah Prajurit Api membawakan ramuan penyembuh tiap hari.
Jadi, sungguh, aku ingin mengetahui kabarmu dan kuharap kau baik-baik saja.
Ada banyak hal yang ingin kuceritakan padamu. Sayangnya tabib Sang Raja masih melarangku menulis terlalu banyak. Hari ini aku diijinkan bertemu kembali dengan penaku karena menurutnya keadaanku sudah membaik.
Bagaimana kalau kumulai dengan cerita Lembah Biru?

Cerita Putri Pena: Negeri Tetangga

Selamat pagi! Coba tebak aku berada di mana?
Pagi ini aku menemani sang Raja, Ratu, dan beberapa panglima ke Negeri 1000 Dagang. Iya, kau tidak salah membacanya. Negeri tempat sang Ksatria. Negeri tempatku pernah menjalin kisah bahagia.
Kunjungan kali ini berkaitan dengan strategi pertahanan Negeri Kilau. Konon Raja Negeri 1000 Dagang bersahabat erat dengan Sang Raja dan ia dikenal pandai mengatur strategi. Sang Raja tidak menginginkan adanya perang, tetapi pertahanan biasa pun dikhawatirkan tidak mampu meredam kebencian.

Cerita Putri Pena: Pelantikan Mereka

“Lama tak jumpa! Bagaimana kabarmu? Sehat? Bahagia?” Sederetan pertanyaan lain langsung menyambutku setibanya di Istana Kerajaan Tulis.  Beberapa hari lalu Sang Raja dan Ratu mengundang kami, para Raja dan Ratu Muda mereka, menghadiri pelantikan Raja dan Ratu Muda yang baru. Sama sepertiku dan para sahabat, mereka mengalami pembelajaran yang tidak bisa dibilang ringan. Semoga kelak mereka dapat memimpin kerajaan dengan nilai-nilai yang telah diperoleh selama pembelajaran.
Pelantikan kemarin menjadi berkesan bagiku. Bukan karena mengenang masa ketika aku berada di posisi mereka, melainkan momen ini memberiku kesempatan bertemu kembali dengan para sahabatku. Dengan mereka yang juga telah meninggalkan Kerajaan Tulis dan menempuh jalan hidup masing-masing. Dengan mereka yang bisa menjadi teman berdiskusi sekaligus berbagi suka duka.
Sedikitnya ada sepuluh Raja dan Ratu muda yang hadir. Meski sudah menanggalkan pakaian kebesaran Kerajaan Tulis, mereka tetaplah seperti dulu. Tetap bisa menebarkan keceriaan dan semangat satu sama lain.
Tetap bisa membuatku lupa sejenak pada sang Ksatria yang konon sering berkunjung ke Hutan Hijau tanpa memberikan kabar.
Ngomong-ngomong, pada satu kesempatan, salah seorang sahabat menggodaku mengenai hal itu. Tentang aku dan sang Ksatria, maksudku. Candanya menyenangkan, tapi rasanya belum waktunya kuungkap dan kubagikan padamu. Aku hanya berharap, canda dan doa mereka didengar Semesta dan terwujud menjadi nyata. Suatu saat kelak. Semoga.

Cerita Putri Pena: Darurat

“Seluruh Prajurit berkumpul di Ruang Pertemuan Istana! Keadaan Darurat!”
Pengumuman itu memecah kedamaian sore negeri tempat tinggalku. Negeri ini sangat jarang terlibat perang atau konflik dengan negara lain. Lalu, ada keadaan darurat apa sehingga Yang Mulia memanggil para prajuritnya?
Pintu tempat tinggalku diketuk. Prajurit Angin, Prajurit Lembah, serta Prajurit Air sudah menunggu. Tanpa sempat merapikan ruangan, aku bergegas menuju istana bersama mereka. Dalam perjalanan, kami bertemu Panglima Penyerang yang juga tampak terburu-buru. Ia bahkan belum menyarungkan pedangnya dengan sempurna.

Cerita Putri Pena: Pesan Prajurit Angin

“Jadi, ini ksatriamu?” tanya Prajurit Angin sore itu. Ia sedang mengunjungi tempat tinggalku, tepat ketika aku baru menyelesaikan satu lukisan sang Ksatria.
“Ya,” jawabku singkat.
“Di mana ia sekarang?” tanyanya lagi. Ia mulai mengingatkanku pada Putri Tutur yang banyak bertanya. Oh ya, di negeri baruku, tidak ada perbedaan untuk calon pangeran dan putri. Kami semua bergelar ‘Prajurit’ dan jika sudah lolos ujian akan mendapat gelar baru.
“Negeri 1000 Dagang,” jawabku kembali singkat. Sejujurnya aku belum terlalu ingin bercerita mengenai sang Ksatria pada para sahabat baruku di sini. Kami kan baru saling mengenal.

Cerita Putri Pena: Baru

Hai! Bagaimana kabarmu? Senang sekali aku bisa kembali bercerita kepadamu. Ya, sejak meninggalkan Kerajaan Tulis, hidupku ternyata tetap berjalan seperti biasa, bahkan mungkin lebih sibuk dibandingkan sebelumnya. Ah, kau sempat membaca tulisanku untuk ksatria itu? Iya, semoga ia membaca tulisan singkat itu.
Berbulan-bulan meninggalkan Kerajaan Tulis membuatku mempelajari banyak hal. Salah satunya, bagaimana menyesuaikan diri di lingkungan baru yang sangat berbeda dengan Kerajaan Tulis.

Cerita Putri Pena: Tidak Tahu

Apa kabar, Ksatria?
Maaf kalau kau merasa terganggu. Sesungguhnya akupun sudah tidak ingin menanyakannya lagi. Tapi, mereka terus bertanya padaku. ‘Bagaimana kabar Sang Ksatria?’ 'Bahagiakah ia dengan jabatannya kini?’ 'Kapan ia akan mengunjungi Kerajaan Tulis?’ 'Hubunganmu masih baik-baik saja dengannya, bukan?’

Cerita Putri Pena: Ya Sudah

Mungkin aku memang banyak meminta, tapi kuusahakan untuk tidak memaksa. Tidak, aku tidak suka itu. Kalau Semesta mengabulkan, syukur akan kuucapkan. Kalau belum atau tidak sama sekali, ya sudah. Aku yakin, Semesta akan menggantinya dengan yang lebih baik.
Kau tidak perlu khawatir. Aku tidak akan mengganggu hidupmu, juga mungkin suasana di sekitarmu. Lakukanlah apa yang menurutmu menjadi kewajibanmu, dahulukan apa yang menjadi kepentinganmu, pilihanmu. Tidak ada namaku pada daftar kepentinganmu? Ya sudah. Mungkin Semesta sudah menyiapkan kebahagiaan lain untukku.
Biarkan aku berpikir dan bertindak sesuai caraku. Jangan terlalu cepat menilaiku, kita belum sedekat itu. Kau belum cukup dalam mengenaliku. Tidak usah terlalu mengkhawatirkanku dan pemikiranku. Kau pikir, pelajaran menjadi Ratu Muda yang diberikan padaku tidak cukup menjadi bekal awal dalam menjalani hidup terutama ketika di luar Kerajaan Tulis?

Cerita Putri Pena: Kepada Mereka

Tulisan kali ini kupersembahkan untuk mereka, orang-orang yang selalu ada di sisimu. Mungkin tidak selalu, tetapi setidaknya lebih sering dibandingkan aku.
Dari mana sebaiknya kita mulai? Oh mungkin ada baiknya aku memperkenalkan diri terlebih dahulu. Namaku Putri Pena dari Kerajaan Tulis. Meskipun kerajaanku cukup jauh dari negara kalian, aku pernah beberapa kali berkunjung ke sana. 
Mungkin kalian tidak ingin terlalu mengenalku.Tidak apa.Tapi kuharap, kita bisa saling menjaga perasaan masing-masing. 
Kau tahu maksudku?
Aku tahu, mungkin kita hanya pernah bertemu beberapa kali. Kalian tidak mengenalku, akupun tidak mencari tahu lebih mengenai sosok kalian. Tapi tolonglah, jangan saling menyinggung perasaan. Meskipun secara tidak langsung.
Aku tahu, kalian tentu lebih mengenalnya. Lebih mengetahui kehidupannya, bahkan mungkin rahasianya yang tidak kuketahui. Tidak, aku tidak akan memaksa untuk mengetahuinya juga. Aku hanya ingin, sekali lagi, jangan saling menyinggung perasaan. 
Aku tahu, aku tak pernah bisa menjadi sosok yang terbaik di mata semua orang. Aku juga tahu, apapun bisa terjadi pada kami sewaktu-waktu, bahkan hal terburuk sekalipun. Kalau kau tahu maksudku. Maka, biarkanlah Semesta yang mengaturnya untuk kami. 
Kalau kalian tidak, atau belum bisa memberikan dukungan, bolehkah kuminta, untuk tidak menjatuhkan..ku?
Alam ini sudah cukup panas. Tidak perlu ditambah api yang kalian ciptakan.

Cerita Putri Pena: Tentang Rasa

Pernahkah kau menyukai seseorang? Begitu menyukainya sehingga ingin selalu bersamanya?
Atau, pernahkah kau tidak menyukai seseorang? Begitu tidak menyukainya sehingga bahkan tidak ingin melihatnya lagi?
Bagaimana jika orang yang kau beri rasa suka sekaligus tidak suka itu adalah orang yang sama?

Cerita Putri Pena: Nasihat Ibu Suri

“Kalau kau meragu, titipkanlah hatimu pada Semesta. Biarkan ia menjaganya untuk kemudian diberikan kepada orang yang tepat. Seseorang yang bisa menjaga perasaanmu, memberikan kasih sayangnya untukmu, dan selalu melindungimu. Sambil menunggu, teruslah memperbaiki dirimu. Jadilah putri yang tangguh, mengasihi sesama, dan selalu ceria. Yakinlah, putri yang terbaik akan mendapatkan pendamping yang baik pula.”
“Buka matamu. Lihatlah dunia selagi mampu. Pergilah ke Utara, Selatan, Timur, dan Barat. Selalu ada pembelajaran baru yang bisa kau peroleh.”
“Kita memilih, maka kita ada.”
“Teruslah menulis. Sebarkan pengetahuan, sebarkan kebaikan.”

Cerita Putri Pena: Kehilangan

Halo! Apakah kau masih suka berjalan-jalan di dekat istana dan membaca tulisanku di Diarium? Akhir-akhir ini aku memang tidak menulis, padahal banyak hal yang ingin kutuangkan melalui tulisan.
Beberapa hari lalu, Kerajaan Tulis berkabung. Ibu Suri kami, orang yang kami hormati setelah Sang Raja dan Sang Ratu, pergi meninggalkan kami untuk selamanya. Sang Raja memerintahkan seluruh penduduk menaikkan bendera hitam sebagai tanda kerajaan kami sedang berkabung. Masa itu ditetapkan selama tujuh hari.

Cerita Putri Pena: K

“Kadang, kita tidak bisa mendapat semua keinginan dalam waktu bersamaan. Perlu ada yang dikorbankan, dilepaskan, dihilangkan, apapun itu. Percayalah, dengan usaha keras dan keyakinan kuat, pengorbanan itu tidak sia-sia dibandingkan dengan hasil yang didapat.”
Begitulah salah satu nasihat Sang Ratu yang kuingat hingga kini. Saat itu, ia mengatakannya ketika aku sedang menjalani serangkaian pelatihan menjadi calon ratu muda Kerajaan Tulis. 
Kau tahu mengapa cerita kali ini hanya kuberi judul satu huruf saja? Begini kisahnya.

Cerita Putri Pena: Pelantikan

Ksatria Tak Berkuda telah resmi menjadi Menteri Muda bidang Pertahanan Negeri 1000 Dagang! Ya, ia dilantik beberapa hari yang lalu pada sebuah acara yang terbilang meriah. Ada puluhan ksatria lain yang juga dilantik atau mendapat kenaikan pangkat sehingga suasana Negeri 1000 Dagang hari itu penuh suka cita.
Ya, hari itu. Aku ke sana bersama salah satu sahabatku. Sayang, aku tidak melihat prosesi pelantikannya karena… begitulah. Aku kan tidak mendapat undangan resmi dan bukan datang sebagai utusan Kerajaan Tulis.

Cerita Putri Pena: Sahabat

“Kalau aku berada di posisimu, sepertinya aku tak akan sanggup menghadapinya,” celetuk Putri Maroon. 
“Aku pun demikian. Lebih baik aku tinggalkan dan mencari yang lebih baik,” dukung Putri Sastra.
Aku tersenyum kecil mendengarnya. Saat itu, kami sedang menghabiskan waktu bersama di paviliun Putri Maroon. Sudah lama kami tidak bertemu seperti ini, jadi ini adalah salah satu hal yang sangat aku nantikan.

Cerita Putri Pena: Jamuan

“Sang Raja ingin mengundangmu pada jamuan yang akan kami adakan siang ini di Hutan Hijau. Kuharap kau bisa memenuhinya. Bersiaplah, aku akan menjemputmu satu jam lagi,” tulis sang Ksatria. Sepertinya ia terburu-buru, tulisannya tidak serapi biasanya. Akibatnya, akupun sedikit perlu mencerna isi tulisan tersebut. Sang Raja? Mengundangku? Jamuan di Hutan Hijau?
Tidak ada waktu untuk berpikir terlalu jauh. Lebih baik aku segera mempersiapkan diri. Bagaimanapun, undangan ini sebuah kehormatan bagiku dan aku tidak ingin mengecewakan mereka.
“Kau sudah siap? Bagus, mari kita pergi,” ajak sang Ksatria ketika ia tiba di depan paviliunku. Bahkan seekor kuda cokelat berdiri dengan gagah, siap untuk mengantar kami ke tempat jamuan.
“Mengapa… aku? Maksudku, mengapa mendadak seperti ini?”
“Ceritanya panjang. Lebih baik tenangkan dirimu karena jamuan itu juga dihadiri sang Ratu dan beberapa tetua negeri kami.”
Kalau aku tidak berpegangan padanya, mungkin saat itu juga aku terjungkal dari kuda yang sedang kami naiki. Kejutan apalagi ini? Padahal pada malam sebelumnya, kami sempat berselisih paham karena satu hal. Ah, Ksatriaku ini memang sulit ditebak! Tapi, bukankah itu yang dulu kuinginkan pada Semesta?
Kami tiba di tempat jamuan. Tidak tahu harus berbicara apa, – ya, sesungguhnya aku gugup – aku memilih lebih banyak tersenyum. Untungnya, mereka menyambutku ramah. Sang Raja, Ratu, semuanya. Semesta, terima kasih…
Hari itu menjadi terasa sangat panjang. Tapi, aku sangat menikmatinya. Ini indah. Mungkin juga pertanda permulaan yang baik. Ya, semoga. Terima kasih atas jamuanmu, Sang Raja. Semoga aku cukup tangguh untuk kelak bisa diangkat menjadi… pendamping ksatriamu.

Cerita Putri Pena: Bertemu

Tadi, aku bertemu dengannya. Siapa lagi? Masih perlu kusebutkan?
Dalam pertemuan itu, ia tetap gagah seperti biasa. Bahkan pembawaannya terlihat lebih dewasa dibandingkan terakhir kali kami bertemu. Ia tersenyum menyapaku ketika aku mempersilakannya masuk ke dalam paviliun. Cuaca yang cerah, Ksatria Tak Berkuda, bagaimana mungkin aku tidak bersyukur?

Cerita Putri Pena: Perputaran

Aku tahu, hidup ini seperti roda. Berputar. Tapi sepertinya aku perlu diingatkan, kadang perputaran itu sangat cepat. Siap tidak siap, harus tetap berjalan.
Sungguh, aku ingin sekali berbincang-bincang secara langsung. Dengan… Yah, kau tahulah siapa saja. Di satu sisi aku merasa hidupku berjalan lambat. Tidak ada tugas dari sang Raja (oh ya, selain menyusun kitab jika aku masih ingin melepas gelar sebagai putri Kerajaan Tulis), tidak ada berkumpul dengan para sahabat, tidak ada janji bertemu sang Ksatria di Hutan Hijau…
Tolong. Aku merindukan itu.
Tapi tenang, aku tidak akan merengek kok. Hanya mengucapkannya saja, boleh kan?

Hi!

All written by Yudistyana. Powered by Blogger.

Hello Guest! :)

Name

Email *

Message *