Seru-seruan Ikut Ujian

"Udah lama nggak ujian ya, Mba?"
"Kalo ujian kehidupan sih sering, ujian tertulis yang jarang :')"


Beberapa hari lalu, saya memutuskan ikut tes seleksi S2 SBM ITB. Nawaitunya enggak sengotot waktu mencari tempat kuliah atau kerja di perusahaan idaman dulu. Murni lebih ke coba-coba. Dan sedikit termotivasi dari beberapa dedek di kantor yang ternyata berencana melanjutkan kuliah mereka melalui kelas online.

Sejujurnya, karena penasaran aja sih apakah saya masih mampu (dan kuat) mengerjakan soal-soal seperti itu :))

Berangkat dari nawaitu tadi, saya nyaris nggak melakukan persiapan apapun. Selain beli pensil 2B dan ngecek lagi info waktu dan lokasi tes. Malah hampir kayaknya nggak bisa ikut tes sesuai jadwal karena bentrok sama agenda kantor.



Di hari H, rencananya saya akan mengikuti dua tes, TOEFL dan TPA. Beruntung, nilai TOEFLnya ternyata bisa juga diganti dengan TOEIC dan saya punya sertifikatnya yang masih berlaku. Beruntungnya lagi, kata orang yang tes di sebelah saya, soal TOEFLnya 'amit-amit'. Listeningnya enggak pake dialog singkat dulu, langsung ke bacain paragraf gitu dan satu kali listening untuk menjawab beberapa soal :)))

Seperti bayangan saya, model soal TPAnya masih sama.Verbal, numerik, dan logika. Yang nggak kebayang, soalnya naudzubillah bikin pusing! :))) 90 verbal, 90 numerik, dan 70 logika dengan durasi setiap tahapnya hanya 60 menit. Nggak boleh lebih dan nggak boleh ngerjain tahap sebelumnya walau masih ada waktu.

Tahap pertama di soal kemampuan verbal, otak masih bisa diajak kerja sama. Ada empat tipe soal yaitu tentang mencari arti kata, sinonim, antonim, dan menjawab pertanyaan dari teks/narasi. Sebisa-bisanya, ya nggak 100% yakin juga sih. Ada beberapa kata yang sering terdengar dan sebenarnya paham maksudnya, tapi nggak yakin apa arti sebenarnya. Misalnya 'isbat', yang selalu terdengar menjelang awal Ramadan. Paham sih kalau ada yang bilang istilah itu, tapi artinya apakah penetapan, rapat, atau jangan-jangan ada arti lainnya? Atau 'samad', yang saya tau adalah nama belakang seorang pejabat. Atau arti dari jamais vu, yang saya cuma yakin maksudnya bukan sesuatu yang berbau negara Jamaika :))).

Tes verbal saya kerjakan sekitar 30 menit lebih. Masih banyak waktu yang tersisa, yang andai saja bisa digunakan untuk nyicil mengerjakan soal-soal model berikutnya. Oh iya, yang agak ngeselin dari tes verbal ini adalah munculnya istilah-istilah filsafat yang menjadi pilihan jawaban untuk tes verbal tipe narasi. Ontologi, epistimologi, dan aksiologi. Saya cuma inget, istilah itu sering terdengar di mata kuliah Filsafat Ilmu Komunikasi, yang kuliahnya seringnya di Gedung 4, dan saat kuliah saya nyaris sama sekali nggak paham sampai akhirnya harus ngulang. Huhu, ternyata menamatkan baca Dunia Sophie kayaknya ada faedahnya buat tes begini yaa~

Masuk ke tahap selanjutnya. Sebelumnya, saya memilih ke toilet sejenak dan mengambil segelas air minum. Buat amunisi.Enaknya ikut TPA kali ini, suasananya lebih 'ramah'. Peserta boleh ngambil air di sela-sela ngerjain soal. Dan karena sebagian besar peserta saling kenal, ruangan nggak kaku. Bisa saling curhat setelah ngerjain soal-soalnya.

Di tahap numerik, saya sedikit keteteran karena salah strategi. Haqqul yaqin soal-soal yang di halaman awal masih bisa masuk 'nalar' saya.. ternyata nggak juga! Soal yang menyelesaikan deret angka biasa masih oke lah.. deret diganti huruf juga masih paham.. lah kalau pecahan? Asli, blank :))). Padahal angka pecahannya masih kecil semacam 1/4, 2/3, gitu-gitu.. Tapi saya sempat lupa gimana menjumlahkannya. Dan yang paling nggak paham, soal yang pakai tanda seru semacam '5!4!3! dst' ini digimanain ngerjainnya? :__))))

Ketika time keeper mengingatkan waktu tinggal 5 menit lagi, langsung gunakan metode kiralogi dan cocoklogi. Yang penting semua nomor kejawab. Toh nggak ada pengulangan nilai semacam SNMPTN :p

Berlanjut ke tes logika, saya sedikit mengubah strategi. Sadar diri, makin ke halaman belakang otak makin panas dan gampang ngeblank ngerjainnya :)). Maka, saya memilih mengerjakan soal yang sekiranya saya (sebenarnya pasti) bisa menyelesaikan. Kalau nggak nemu jalan keluarnya, skip skip dulu. Strategi ini sedikit berhasil karena saat menyelesaikan soal-soal logika saya nggak nyaris kehabisan waktu seperti mengerjakan soal numerik. Yhaaa sekali lagi, walaupun nggak yakin juga yang saya rasa bisa ngerjain, jawabannya bener :)))

Ketika bahas soal-soalnya sama temen seangkatan



Ajaibnya, Alhamdulillahnya, setelah pengumuman keluar, hasil TPA saya ternyata di atas standar minimal kelulusan 475. Artinya, saya lolos seleksi dan bisa mengikuti tahap selanjutnya untuk pendaftaran S2 ini. Hore!

Sedikit tips untuk yang akan ikut ujian sejenis, JANGAN LUPA MAKAN. Makan yang bener. Supaya perut kenyang dan otak tenang. Sejujurnya saat mengerjakan tes ini saya cuma makan sedikit dan jadinya agak pusing. Ya pusing kurang makan, ya pusing ngerjain soal :)). Persiapkan juga alat tulis dan segala sesuatunya sesuai kebutuhan. Jangan panik duluan kalau menemukan soal yang keliatannya ribet. Siapa tau sebenarnya solusinya ternyata sederhana #pengalaman.

Dan terakhir pastinya, berdoalah sebelum dan sesudah mengerjakan. Kalau memang hasilnya bisa membawa kebaikan untuk kita, berdoalah supaya bisa lulus, sepuyeng apapun saat mengerjakan soalnya. Goodluck!

All written by Yudistyana. Powered by Blogger.

Hello Guest! :)

Name

Email *

Message *