Pengalaman Melahirkan

"Bu, kok di akta kelahiran aku ditulisnya 'abnormal'? Bukannya aku normal normal aja ya?"

"Ya kan dulu kamu keluarnya setelah dibantu pakai alat.."

Cerita Ibu kemudian terus mengalir mengenai proses kelahiran saya. Cerita yang diulang beberapa kali sampai rasanya saya bisa membayangkan situasi saat itu.

Pengalaman Ibu dalam melahirkan saya secara tidak langsung berpengaruh pada kondisi psikis. Sejak melihat dua garis merah pada test pack dan dinyatakan positif hamil oleh dokter, saya selalu bertanya-tanya, akan seperti apa pengalaman melahirkan nanti?

Untungnya, saya memiliki waktu sekitar sembilan bulan atau 39 minggu untuk menyiapkan segala sesuatunya. Baik fisik, mental, juga material dan finansial agar kelak sang buah hati dapat hidup sehat nan bahagia. Tapi memang, persiapan mentalnya yang lebih banyak sih dibandingkan fisik. Alias, lebih banyak baca teori tentang kehamilan dan persalinan aja dibanding mempraktikannya langsung! :__)))

Contoh nyatanya, saya baru mengikuti senam hamil di usia kandungan memasuki 37/38 minggu. Ini pun sekali-kalinya aja ikut, supaya ada sedikit wawasan saat persalinan nanti. Padahal kata teman saya yang sudah lebih dulu melahirkan, "Semua yang diajarin di kelas senam hamil itu lupa kalo udah masuk ruang bersalin!"

Menurut dokter, HPL saya diprediksi jatuh pada tanggal 17 Juli 2018. Bagus aja sih, jadi bisa mulai mengambil cuti hamil-melahirkan setelah Lebaran. Dan kalau dihitung hari kalender, cuti ini akan berada di masa lagi hectic-hecticnya kerjaan hehehehe. Saya juga bukan pecinta tanggal cantik, jadi mau melahirkan kapan pun oke saja buat saya. Tak perlu dipercepat atau diperlambat kecuali kalau alasannya kesehatan.

Namun diam-diam, saya sering berbisik kepada sang buah hati saat ia masih ada di dalam kandungan. Supaya ia 'keluar' di tanggal 12, tanggal yang sama dengan hari lahir saya. Tentu bisikan ini nggak serius-serius amat, sekali lagi yang terpenting adalah kami dalam keadaan selamat dan sehat saat persalinan, kapan pun tanggalnya.

Semakin mendekati HPL, kecemasan semakin meningkat. Sayangnya, kekhawatiran akan persalinan ini masih diiringi kemageran untuk melakukan berbagai hal yang konon bisa-mempercepat-dan-memperlancar-proses-persalinan. Beberapa kali suami menyarankan untuk mengepel lantai rumah sambil berlutut, tapi saya lebih memilih membersihkan lantai dengan vacuum cleaner. Ketika bisa bangun pagi dan ingin jalan kaki, eh cuaca malah hujan deras. Intinya, level kemageran pun malah meningkat.

Sampai akhirnya, saat yang dinantikan itu muncul. Ketika Ibu dan Ibu Mertua sedang menonton TV di ruang keluarga. Ketika suami dinas ke luar kota selama dua hari. Ketika saya lebih memilih gogoleran di kamar setelah Maghrib karena perut agak mulas.

Seperti biasa, kalau suami dinas kadang saya suka nitip 'oleh-oleh'. Malam itu, sambil gogoleran pun kami saling berkirim WA untuk mengupdate kabar. Saya masih sempat nitip beberapa komik dan novel, sementara suami menanyakan kabar sang buah hati kami diiringi pesan, "Nanti keluarnya nunggu Ayah ya, Sayang..."

Rasa mulas muncul timbul tenggelam. Kontraksi palsu nih, pikir saya. Sejujurnya nggak terlalu paham juga sih bedanya kontraksi yang asli dan palsu, tapi selama ini rasa mulas memang hanya muncul sekali dalam sehari. Saya juga sudah download aplikasi pencatat interval kontraksi, tapi rasanya kok nggak terlalu membantu ya :)).

Semakin malam, gerakan sang buah hati semakin aktif. Tendangannya kuat terasa walau sudah saya elus-elus perut untuk membuatnya sedikit tenang. Gerakannya menurun. Saya berusaha tidur cepat.

Sampai tiba-tiba....

...Ada satu tendangan yang rasanya lebih kencang dari biasanya. Menekan bagian bawah tubuh saya...

...dan tak lama, keluar cairan dari bagian tersebut.

Sedikit kaget, saya ke kamar mandi untuk memastikan. Bening, tidak ada flek atau apapun. Dokter kandungan yang memeriksa saya pernah berkata, ketuban yang pecah biasanya akan diiringi semacam flek atau darah. Bila itu terjadi, kita harus segera ke rumah sakit untuk mendapat tindakan lebih lanjut.

Karena cairan yang keluar tadi tidak diikuti zat apapun, saya berusaha berpikir positif.  Sedikit dilema juga sih, karena sepertinya bukan urin.

Selang beberapa menit, cairan kembali keluar tanpa mampu saya tahan. Jangan panik, jangan panik, jangan panik. Di tengah sedikit kekhawatiran (dan untungnya masih ada kewarasan), saya akhirnya memutuskan: berganti baju dan bersiap ke rumah sakit dengan hanya membawa HP, dompet, dan buku pink.

Untung nggak kerasa mulas atau apa! .___.

Dengan mencoba tetap tenang, saya berpamitan kepada kedua Ibu yang terlihat bingung. Saya nggak bisa membonceng mereka ataupun menyetir, jadi opsi ke rumah sakit sendiri naik motor harus diambil. Saya hanya meminta tolong untuk menyiapkan tas bersalin yang sudah disiapkan sebelumnya dan memberitahu suami bahwa sepertinya ia harus pulang malam ini (dari jadwal semula pulang besok sore).

Sampai di UGD, para suster jaga nggak kalah heran melihat saya masih bisa struggle naik motor sendirian. Apalagi ternyata sudah positif cairan yang keluar tadi adalah air ketuban. Yang sedikit mengesalkan, sinyal di rumah sakit malam itu jelek sekali sehingga saya sedikit kesulitan memberi kabar kepada para Ibu. Untungnya Ibu dan Ibu mertua akhirnya tiba di rumah sakit dengan diantar teman suami.

Saya sendiri langsung diajak ke ruang bersalin untuk diobservasi kondisi sang buah hati. Sudah bukaan satu ternyata. Alhamdulillah detak jantungnya masih terbilang bagus sehingga peluang saya untuk melahirkan normal masih ada. Saya pun dipindahkan lagi ke ruang perawatan untuk istirahat sambil menunggu bidan datang.

Dua jam setelah masuk ruang perawatan, bidan memutuskan untuk menginduksi saya melalui obat yang diletakkan di bawah lidah. Bagian ini nggak ada di artikel-artikel persalinan yang saya baca, jadi saya masih polos ketika mengonsumsi obat tersebut.

"Nanti kita lihat lima jam lagi apakah bukaannya udah lengkap. Kalau belum, nanti ditambah obatnya," kata mbak bidan. Saya iyain aja sambil mencoba melanjutkan tidur.

Ternyata nggak sampai lima jam pun...

GUSTI! PERASAAN APA INI???

Kadang ada, kadang hilang..makin lama intensitas nyerinya makin kuat. Inikah yang disebut 'gelombang cinta'? :___)))

Kalau mau tahu gimana rasanya, bayangkan perasaan ketika datang bulan, dikalikan beberapa kali lipat. Tapi kadang hilang, makanya mungkin itu yang membuatnya disebut 'gelombang'.

Beberapa kali saya hampir menyerah menghadapi gelombang itu. Bidan yang seharusnya dipanggil ketika bukaan sudah nyaris lengkap, terpaksa dipanggil tiga kali untuk mengecek progressnya. Beruntung, Ibu dan Ibu Mertua setia menemani di ruang perawatan. Apalagi Ibu, bersedia digenggam tangannya super erat oleh saya ketika gelombang itu datang. Huhu..ku merasa berdosa udah mau punya anak gini masih ngerepotin Ibu :____(

Entah karena lelah dipanggil terus atau apa, setelah tiga jam sang bidan akhirnya memutuskan untuk memindahkan saya ke ruang bersalin. Padahal masih belum ada rasa mulas. Tapi memang, pembukaannya tergolong berjalan cepat ternyata.

So, here we go. Ruang bersalin. Masih didampingi Ibu dan rasa gelombang yang makin menjadi-jadi.

Ketika akhirnya rasa mulas datang, bidan dan suster mulai bersiap. Menyuruh saya mengejan sekuat tenaga. Meminta saya membayangkan hal-hal mengesalkan agar kekuatan untuk mengejan semakin besar. Yah kalo lagi kondisi begitu mana bisa ingat sih Mba :____)))

Singkat cerita, saya berusaha mengejan sambil meracau. Nyaris satu jam lebih proses ini karena saya sering kekurangan nafas. Sampai pukul 04.00, akhirnya suami tiba di ruang bersalin. Dengan beberapa pertimbangan, saya memutuskan tetap di ruang bersalin bersama Ibu.

Mungkin memang benar ya kalau janin itu bisa 'mengerti' keinginan kita. Pukul 04.20, sang buah hati akhirnya terlahir ke dunia dengan selamat sentosa. Tanggal 12 Juli, seperti keinginan ibunya yang pengen 'tanggal 12', plus setelah ayahnya datang, seperti keinginannya yang pengen 'ditungguin'.

Melahirkan bayi adalah pengalaman luar biasa, apalagi jika baru pertama kali mengalaminya. Terlepas dari semua drama selama kontraksi - persalinan, saya sangat bersyukur karena Yang Maha Kuasa mempercayakan kami -- saya dan suami -- untuk menjadi orang tua dari seorang putri cantik nan sehat yang selanjutnya kami beri nama "Kanaya Mahira Sakti".

Selamat datang di dunia, Kanaya! Terima kasih telah hadir mewarnai kehidupan Ayah dan Ibu 😊

"Terima Kasih.."

Pernah nggak menjadi panitia suatu acara, pesertanya sebagian besar mahasiswa, dan kamu kebagian menjadi seksi konsumsi yang membagikan snack secara langsung kepada para peserta? Kalau belum, cobain deh.

Suatu hari, saya melihat sebuah fenomena. Bukan sebagai panitia, hanya mengamati situasi yang saya gambarkan tadi. Di sebuah acara, panitia membagikan snack box kepada para peserta yang sebagian besar mahasiswa itu. Entah pesertanya kelaperan belum makan, pusing banyak tugas, abis berantem sama pacarnya atau gimana, SEBAGIAN BESAR dari mereka menerima kotak dengan muka lempeng. Tanpa ucapan "Terima kasih" keluar dari mulutnya.

Nggak usah ditanya gimana perasaannya panitia yang mungkin udah gedabrukan nyiapin acara itu, saya yang liat fenomena ini aja kzl sendiri.

Kenapa sih susah banget mengucapkan terima kasih? Atau sekedar ngasih senyum?

Helloooow..bilang 'terima kasih' itu gampang banget loh! Variasinya juga banyak. 'Makasih', 'thank you', 'tengs', 'suwun', sebutin deh pake bahasa yang dikuasai! Bahkan pakai bahasa nonverbal semacam senyuman juga nggak papa!

Mengucapkan 'terima kasih' adalah pelajaran memberi apresiasi yang paling sederhana, tapi bisa berefek besar. Membuat orang merasa dihargai, memotivasi orang untuk terus melakukan kebaikan, bahkan siapa tau, bisa memperbaiki mood yang sedang kacau. Menerima ucapan 'terima kasih' yang tulus itu bisa menjadi obat pereda lelah, you know :')

Maka..hayuuuk adik adik, kakak kakak, bapak ibu semua... kita biasakan...mengucapkan 'terima kasih' untuk sesederhana apapun hal baik yang kita terima atau lihat. Nggak perlu laah rasanya..buku setumpuk-tumpuk untuk tau gimana cara mengucapkan 'terima kasih' yang tulus. Cukup mulai dari diri sendiri, sering-sering mengapresiasi, dan lama-lama kebiasaan ini akan terbentuk dan (semoga) menular.

Jadi, sudah mengucapkan 'terima kasih' untuk siapa hari ini?

Terima kasih sudah membaca ya ;)

Oleh-oleh dari Desa Ende

Awal tahun 2018 sebelum sempat menyusun resolusi, saya berkesempatan mengunjungi salah satu pulau yang menjadi "10 Destinasi Wisata Unggulan Indonesia": Lombok. Meski dalam rangka business trip, kunjungan ini sekaligus menambah daftar baru pulau/kepulauan di Indonesia yang akhirnya bisa disinggahi.

Selain wisata pantai dan alamnya yang memang cantik, Lombok menyimpan warisan budaya yang masih terpelihara hingga kini. Mampirlah sejenak ke Desa Sasak Ende. Desa yang masih bernuansa asli, bahkan nyaris minim tersentuh teknologi masa kini.

Tiba di Desa Sasak Ende, kami (saya dan rombongan) disambut oleh gapura selamat datang berbentuk atap rumah Mataram yang khas. Beberapa bapak berseragam yang sebelumnya duduk mengobrol di gazebo dekat gapura, tersenyum menyambut. Salah satunya langsung sigap menghampiri, menjadi tour guide kami.

Selamat Datang!
Saya tidak memiliki gambaran sama sekali mengenai desa ini. Yang ada di benak saya, kondisinya mungkin kurang lebih sama dengan di Sukatali, desa nenek moyang. Kondisi badan yang sedang hamil muda juga membuat saya nggak terlalu excited untuk menjelajah. Ditambah jalanan yang cukup nanjak di area masuknya, maka pertanyaan pertama saya kepada sang tour guide adalah, "Berapa lama kita akan keliling?" *Belum apa-apa udah ngos-ngosan* 

Kelelahan saya mulai berkurang setelah berjalan beberapa meter dari gapura masuk tadi. Sekelompok anak kecil memakai baju adatnya, duduk dan kembali menyapa kami ramah, "Selamat dataaang!!" Otomatis, suasana hati ikut ceria melihat semangat mereka.

Belum sampai lima menit berjalan, ternyata kami diajak ke pemberhentian pertama: salah satu rumah adat Suku Sasak Ende. Rumah ini memang dijadikan obyek bagi wisatawan untuk melihat lebih detil sekaligus masuk ke dalam bagi yang berminat.

Permisi...

Yang unik dari rumah adat ini adalah konstruksinya. Bentuk atapnya rendah, sehingga pengunjung harus agak menunduk kalau mau naik ke teras apalagi masuk ke dalam. Hal ini sekaligus menandakan bahwa sang tamu harus menghormati tuan rumah.

Bagian lantai rumah terlihat kokoh seperti disemen. Namun, tahukah kamu apa bahan dasarnya? Yess, kotoran kerbau. Dicampur tanah liat, hehehe.

Di teras rumah, terdapat atraksi menenun oleh perempuan berusia sekitar 8 tahun. Masih muda banget memang. Saya aja mikir, waktu seusianya udah bisa apa yaa :')))) . Pengunjung juga diperbolehkan masuk dan melihat bagian dalam rumah yang ternyata masih alami sekali. Minim perabotan dan penerangan.

Lanjut, sang tour guide mengajak kami ke area perkampungan yang rumahnya lebih ramai. Ada sebidang tanah lapang yang rupanya sudah disiapkan untuk atraksi berikutnya: Tarian Peresean. Dua orang lelaki bertarung dengan pedang dan tameng tradisionalnya diiringi bunyi musik khas Sasak. Satu orang yang menjadi wasit, memiliki peluit sebagai pertanda tarian dimulai atau berhenti sejenak. Kalau tarian berhenti sejenak, wasitnya akan menari sementara kedua penari/petarungnya bersiap melanjutkan.

Area pertunjukan

Para pemusik

Pembukaan pertunjukan

Tari Peresean
Selesai para pemuda bertarung, pertunjukan dilanjutkan dengan atraksi anak-anak yang menampilkan tarian yang sama. Ini super gemaaaas! Anak-anaknya masih bocah banget aslinyaaa hahahha! Salut sama orang yang sudah bisa mewariskan kesenian tradisional itu ke mereka, juga kepada dedek-dedeknya yang kayak udah paham aja sama tariannya di usia sedini itu (walau kadang pas peluit ditiup, mereka masih berantem :'))) )


Priittt...priiitt..!!
Sudah selesai?

Belum. Selanjutnya, giliran para pengunjung yang berkesempatan 'uji nyali' mencoba tarian tersebut. Dua orang dari rombongan kami akhirnya menawarkan diri untuk tampil. Diiringi sorakan para pendukung plus rombongan lain yang kebetulan hadir, mereka seolah nggak mempedulikan teriknya matahari yang semakin bersinar.

Daeng Kiki vs Daeng Boski


Menjelajahi Desa Ende, pengunjung tidak perlu membayar tiket masuk, retribusi atau semacamnya. Yang diminta hanya keikhlasan pengunjung untuk mendukung pelestarian warisan budaya nusantara tersebut. Jadi, setelah tiga atraksi tadi ditampilkan, sang wasit dari pertandingan pertama kembali tampil menari sambil membawa salah satu tameng untuk diedarkan kepada para pengunjung yang ingin 'nyawer'. Kreatif!


Selain atraksi kesenian, di Desa Ende kita juga bisa membeli langsung produk kerajinan khas Suku Sasak seperti baju, sarung, tas, dan aksesoris lainnya. Tas selempangnya lucu-lucu deh. Kecil, praktis untuk dibawa jalan.

Puas berbelanja (dan ada juga yang ngadem), kami kembali melanjutkan perjalanan ke tempat berikutnya. Agak sedih waktu melihat perubahan raut wajah anak-anak yang mengiringi kami, tapi rupanya mereka tetap bisa dadah dadah ceria sambil menyampaikan pesan, "Semoga perjalanannya menyenangkan!"


Ah, terima kasih banyak Desa Ende! Di balik kesederhanaan penampilan dan kekayaan warisan budayanya, banyak pelajaran dan kesan positif yang bisa dipetik. Semoga lain waktu bisa berkunjung ke sana lagi :)

*All photos taken by Kiky Widiyanto

Hi!

All written by Yudistyana. Powered by Blogger.

Hello Guest! :)

Name

Email *

Message *