Cerita Putri Pena: Perubahan-perubahan

Kali ini, aku tidak akan memulai ceritaku dengan menanyakan kabar. Apakah ada yang akan menanyakan kabarku?
Banyak perubahan terasa begitu cepat belakangan ini. Sang Raja tiba-tiba mengumumkan akan segera meletakkan tahtanya dan mencari pengganti. Padahal, Kerajaan Tulis kembali disibukkan dengan pembelajaran bagi para pangeran dan putri untuk menjadi raja dan ratu muda. Sementara aku dan sebagian besar sahabatku masih memikirkan penyusunan kitab sesuai keinginan Sang Raja dan para tetua agar kami diijinkan menjalani kehidupan baru di luar kerajaan. Mengapa Sang Raja tidak menghapus aturan itu saja?

Cerita Putri Pena: Terima Kasih, Semesta!

Terima kasih Semesta, untuk mengirimkanku seorang ksatria yang luar biasa
Luar biasa tangguh, luar biasa membuatku luluh
Luar biasa cerdas, luar biasa berkualitas
Luar biasa membolak-balikkan rasa
Luar biasa sekaligus sederhana: Ksatria Tak Berkuda

On Repeat: Everglow - Coldplay

Saya menemukan lagu ini di tengah kerandoman menyusun playlist untuk teman perjalanan pulang. Dari salah satu 'top chart', judul lagu yang simpel ini langsung mengundang penasaran.

Kadang saya suka bingung, kenapa beberapa lagu bisa 'muncul' di saat yang tepat dalam kehidupan. Waktu lagi masa percobaan kerja misalnya, ketemulah sama lagu Superhero nya The Script yang bisa bikin optimis lagi. Atau ketika pada masanya sepi otak-isu-hati, datanglah Nidji mengeluarkan album baru yang salah satu hitsnya berjudul "Saat yang Tepat". Dalam sepi, kutemukan kamu~~  #iyaudah

Cerita Putri Pena: Cerita-cerita

“Kau tahu, suatu hari ia pernah mengingatkanku. Katanya, kunjungannya ke Hutan Hijau sebagian besar merupakan tugas dari sang Raja.”
“Lalu?”
“Ya.. mungkin sebaiknya aku tidak terlalu ‘mengganggunya’, kau tahu kan maksudku. Meskipun sesungguhnya aku ingin mendampingi perjalanannya.”
“Hmm.. yaa aku mengerti. Tapi kadang, ada satu hal yang kutakutkan. Berjanjilah kepadaku kau tak akan marah mendengarnya.”
“Ada apa?”
“Kau tahu,.. terkadang sikap seperti itu.. menjadikan semuanya tidak jelas. Seperti daun yang bergerak di atas aliran sungai. Kita semua menginginkan daun tersebut bisa berjalan sampai ke hilir. Nyatanya, bisa saja ia mengalami sesuatu dalam perjalanannya, tersangkut akar misalnya.”
“Ya..aku tahu.. Tapi sejak awal kami sudah menyepakatinya. Jadi kini, aku selalu berusaha menepati kesepakatan kami.”
“Meskipun terasa sakit?”
“Meskipun sakit dan mungkin ia tidak mengetahuinya.”
“Tapi aku percaya ia baik.”
“Ya, sangat baik bahkan…”
“Kurasa hanya ada dua pilihan untukmu: bersabar atau ia pergi.”
“Aku tahu…”
“Dan kau pun tahu bukan, kehilangan seseorang yang kita sayangi jauh terasa lebih sakit?”
“Benar.”
“Jadi, yang mana yang akan kau pilih?”
“Aku akan memilih tetap bersabar.”
“Aku tahu kau putri yang tangguh.”

Cerita Putri Pena: Pembimbing

Halo Semesta!
Bolehkah aku meminta seorang pembimbing? Ya, pembimbing. Bukan pendamping.
Kau tahu, penyusunan kitab sesuai permintaan Sang Raja dan Hakim Agung ini nyaris membuatku… ah aku tidak tahu bagaimana harus mengatakannya. Ini jauh lebih sulit dibandingkan pelajaran dan tugas-tugas saat akan menjadi seorang ratu muda.

Cerita Putri Pena: Menyusun Kitab

Kau pernah dikirim kerajaan atau negaramu untuk mengikuti sebuah perang besar? Aku  belum. Tapi kemarin, rasanya aku mengerti bagaimana menjadi seorang ksatria yang dinantikan kepulangannya dari medan perang. Dalam perang, hasil akhirnya hanya dua, menang atau kalah. Dan rakyat yang baik akan tetap menyambut ksatrianya dengan hangat meski sang ksatria gagal memenangkan perang yang diikutinya.
Tidak, aku bukan baru saja mengikuti sebuah perang besar. Tidak pula menggunakan kemampuan memanahku atau apapun itu sebagai bentuk pembelaan diri. Tubuhku pun tidak mendapat luka berarti, meski ada lelah yang sangat terasa.

Cerita Putri Pena: Satu Tahun

Jamuan makan, Hutan Hijau, Sungai Bening, dan air suci.
Kau masih ingat itu? Ya, itulah saat ketika aku dipertemukan kembali denganmu, Ksatria Tak Berkuda. Dengan waktu yang tak diduga, dengan cara yang tak disangka, oleh Semesta.
Kau tahu? Sebelum hari itu, aku selalu bertanya pada Semesta apakah diijinkan lagi bertemu denganmu. Seperti apa sikapmu, seperti apa perasaanku jika hal itu terjadi…
Dan semuanya terjawab, pada pertemuan kita satu tahun lalu.

Cerita Putri Pena: Putri Sajak #2 dan Lainnya

Halo Semesta! Apa kau sudah mendengar kabar mengenai Putri Sajak? Ya, kitabnya ditolak.
Kabar mengejutkan itu berhembus tak lama setelah aku dan para sahabatku mendiskusikan masa depan kami. Ketika kami sudah menguatkan asa untuk melepas gelar sebagai pangeran dan putri Kerajaan Tulis, kabar mengenai Putri Sajak itu sedikit menggoyahkan keyakinan.
Sekali lagi, Putri Tutur lah yang membawa kabar tak mengenakkan tersebut. Menurut ceritanya, Putri Sajak memang belum menyelesaikan kitabnya. Namun, beberapa tetua yang sudah membaca menolak karyanya karena dianggap tidak akan membawa kemajuan apapun bagi Kerajaan Tulis. Mereka menginginkan hasil pemikiran baru.

Blusukan dari Bontang

Orang-orang yang mengetahui saya merantau ke Bontang, Kalimantan Timur, sering bertanya-tanya bagaimana caranya menjangkau kota yang terkenal dengan industri pengolahan LNGnya ini. Maklum ya, kondisi Kalimantan kan bisa dibilang jarang mendapat perhatian media-media nasional kecuali kalau ada kejadian super 'wow' seperti blusukannya Pak Presiden misalnya.

Sebagai gambaran, Bontang adalah kota kecil di Kalimantan Timur yang sebagian besar wilayahnya berupa daratan. Kota ini bisa dijangkau dengan transportasi darat, udara (untuk kalangan terbatas), maupun laut (umumnya untuk pendatang dari daerah Sulawesi).

Dua kota besar yang dekat dengannya adalah Samarinda, ibukota provinsi, dan Balikpapan, kota industri yang bahkan lebih ramai daripada ibukota provinsinya. Jarak Bontang - Samarinda bisa ditempuh melalui jalur darat sekitar 2 - 3 jam dengan kecepatan normal. Sementara kalau ke Balikpapan, perjalanan udara dengan pesawat charter perusahaan cukup dengan 30 menit dan perjalanan darat normalnya bisa mencapai 6 - 7 jam.

Setahun lebih merantau di kota ini, saya selalu menggunakan transportasi udara untuk menempuh perjalanan Bontang - Balikpapan maupun sebaliknya. Baik dalam rangka dinas maupun bukan. Pernah sih nyaris nggak kebagian seat pesawat ATR yang super terbatas itu karena kesalahan sendiri, tapi untungnya masih dikasih jalan keluar sehingga nggak perlu 'berdarat-darat' untuk menempuh Balikpapan - Bontang.

Suatu hari, karena alasan khusus, saya akhirnya memutuskan mencoba jalur darat. Situasinya, ada long weekend dari Jumat - Minggu, saya harus ke Bandung, dan tidak ada penerbangan ATR di hari Jumat karena tanggal merah. Untuk menghemat waktu, akhirnya saya memilih naik bus malam menuju Balikpapan.

FYI, transportasi umum lewat darat untuk jalur Bontang - Balikpapan atau sebaliknya memiliki dua alternatif, dengan bus patas atau travel. Kalau ramai yang mau pergi sebenarnya lebih enak carter travel. Berhubung kemarin sebagian besar teman saya sudah membeli tiket bus patas, saya akhirnya ikutan.

Saya dan dua orang teman mendapat kursi di bagian belakang. Sempat terbayang faktor keamanannya karena kan kursi bagian belakang bus biasanya berderet lima sampai enam kursi dan ada beberapa bagian yang nggak ada pengamannya ya. Tapi sudahlah. Rupanya dugaan kami pun salah karena kursi busnya tetap 2 - 2 sampai ke kursi paling belakang.

Malam itu, akhirnya teman-teman seangkatan yang 'mudik' ternyata ada 8 orang. Cukup banyak, mengingat kami seangkatan 'hanya' 28 orang :)). Kami terpisah di dua bus, dua orang di 'bus tiga', sisanya di 'bus dua'. Berasa mau study tour hahahaha.

Bus favorit para perantau (dan mungkin karena satu-satunya) adalah Samarinda Lestari. Poolnya ada di dekat toko alat olahraga Bonex, kayaknya sih terdeteksi di Waze. Bus yang akrab disebut Samles ini punya jadwal keberangkatan yang tetap dan cenderung ontime, tiap pukul 22.00 WITA dan konon ada pagi jam 6.00 WITA dari Bontang. Sehari-hari biasanya cuma ada satu bus yang berangkat. Di hari luar biasa misalnya long weekend, bisa sampai 5 bus yang berangkat. Jadwal dari Balikpapannya saya belum tau karena belum pernah hehe.

Perjalanan dimulai. Saya sudah sering mendengar tentang 'sensasinya' naik bus malam ini, tapi belum pernah merasakannya sendiri. Dan seumur-umur, inilah perjalanan pertama saya menggunakan bus, malam hari, dengan waktu tempuh lebih dari tiga jam. Untung nggak sendirian.

Mau tau rasanya?

Belum juga 10 menit jalan, saya udah berasa naik roller coaster! Pada dasarnya, jalanan ketika masih di dalam kota Bontang memang agak naik turun dan berbelok meski nggak terlalu ekstrim. Tapi, jalur kayak gini aja sudah bisa membuat deg-degan.

Rute darat Bontang - Balikpapan konon terkenal dengan jeleknya jalanan antara Bontang - Samarinda. Banyak tanjakan, tikungan, dan lubang. Lengkap sudah!

Singkat cerita dan rasanya memang tiba-tiba udah nyampe aja, kami tiba di Bandara Sepinggan Balikpapan. Ternyata, sebagian besar penumpang bus (yang terlihat masih mengantuk) pun turun di sini. Bandara masih tutup jadi kami memilih duduk di dekat terminal keberangkatan. Iseng saya cek jam, masih pukul 03.00 WITA. Tadi kami berangkat dari Bontang pukul 22.00 WITA. Idealnya waktu tempuh Bontang - Balikpapan sekitar 6 jam. Bisa menyimpulkan sesuatu? :)))

Sebagai newbie yang baru pertama kali merasakan 'serunya' naik bus patas malam hari, berikut ada beberapa tips supaya perjalanan terasa agak menyenangkan. Agak.

1. Bawa barang seperlunya. Kapasitas penyimpanan di bus itu terbatas. Di bus yang saya naiki kemarin aja toiletnya 'diubah' menjadi bagasi tempat meletakkan beberapa koper. Nggak mau kan barang-barangnya mengalami nasib serupa?

2. Sebaiknya jangan pergi sendirian. Apalagi kalau cewek. Apalagi kalau gampang galau #eh. Untuk faktor keamanan aja sih, dan supaya ada teman ngobrol.

3. Bawa 'peralatan perang pribadi'. Terutama kalau kamu gampang mabuk (ehem, kayak saya). Beberapa senjata saya di antaranya playlist lebih dari 50 lagu (supaya nggak bosen), air minum, minyak kayu putih, permen, dan ehem, kresek warna gelap untuk you-know-what. Pastikan semua barang itu diletakkan di tempat yang mudah dijangkau sewaktu-waktu, misalnya di tas tangan/ransel yang dipangkuan.

4. Usahakan makan berat paling lambat satu jam sebelum keberangkatan. Supaya kalau rutenya ajaib, perutnya nggak terlalu berasa dikocok-kocok. Tapi jangan pergi dengan rasa lapar juga supaya nggak masuk angin.

5. Jangan telat! Pastikan kamu tahu jadwal keberangkatan busnya karena ada beberapa armada yang berangkat tepat waktu. Berdasarkan pengalaman pribadi, penumpang yang terlambat dapat meningkatkan emosi supir sehingga dia makin ngebut membawa busnya. Waspadalah! T__T

Silakan ditambahkan di kolom komen ya kalau ada yang kurang. Lebih oke lagi kalau ada yang mau berbagi pengalamannya juga naik bus malam. Sampai ketemu di cerita selanjutnya! :)

Cerita Putri Pena: Jamuan Pertama Halo Putri!

Halo Putri!
Tentu kau sudah menerima suratku kemarin bukan? Aku sedang menanti suratmu, apapun itu isinya.
Sementara itu, sungguh aku nyaris tidak bisa bersabar lagi mengajakmu. Aku ingin mengundangmu pada jamuan makan malam yang sederhana.
Bersediakah?
Kurasa banyak yang bisa kita bicarakan dan.. Entah mengapa, menghabiskan waktu bersamamu terdengar menarik.
Maukah kau?
Jika ya, aku akan menunggumu di hilir Sungai Bening, besok sore sebelum matahari terbenam. Kuharap aku mendapat kabar baik darimu - *

Cerita Putri Pena: Putri Sajak #1

Kerajaan Tulis gempar. Salah seorang ratu muda kebanggaan kami memutuskan untuk segera menyelesaikan pendidikan calon raja dan ratu agar bisa hidup di luar kerajaan.
Pagi itu, aku berencana menghadap sang Raja. Ada beberapa pangeran dan putri yang berniat sama denganku. Masa pengasingan kami memang sudah selesai sehingga harus melanjutkan kembali pendidikan di Kerajaan Tulis. Sebelum menghadap, aku makan pagi bersama mereka di paviliun Barat.
“Kudengar, Putri Sajak akan segera meninggalkan Kerajaan Tulis,” kata Putri Tutur membuka percakapan. Seperti biasa, ia selalu membawa topik yang membuat pendengarnya langsung menghentikan aktifitas mereka dan menyimak perkataan selanjutnya.
“Ia sedang menyusun sebuah kitab tentang dunia sajak sebagai persembahan terakhirnya bagi Kerajaan Tulis,” lanjut Putri Tutur.
Bisa ditebak, menu makan pagi kami kemudian terasa hambar. Mendengar Putri Tutur bercerita mengenai Putri Sajak lebih menarik.

Cerita Putri Pena: Kuda Putih

‘Bagaimana kalau kita jalan-jalan sebentar malam ini? Aku akan menjemputmu sebentar lagi.’
Begitulah isi surat sang Ksatria yang aku terima sore tadi. Saat ini aku memang sedang berada di Negeri 1000 Dagang untuk kunjungan kerajaan sebagai utusan dari Kerajaan Tulis.
Ksatria Tak Berkuda mengetahui kedatanganku ini. Sayangnya, kemungkinan kami untuk bertemu sangat kecil karena, lagi-lagi, ia pun sedang mendapat tugas penting dari rajanya. Namun rupanya, Semesta memiliki rencana tersendiri.
Begitulah.

Cerita Putri Pena: Sapa Singkat

Halo Semesta!
Sudah lama tidak menyapa ya. 
Sebenarnya, banyak yang ingin kusampaikan, kuceritakan. Namun, sepertinya aku terlalu lelah. Entah mengapa, akhir-akhir ini aku mudah sekali merasa seperti itu. Apakah aku menjadi lemah?
Semesta, Kau tahu, banyak sekali yang sudah terjadi padaku sejak beberapa bulan lalu. Sekali lagi, aku tak tahu mengapa semua itu menghampiriku.
Semesta, jika itu merupakan sebuah ujian kesabaran, bolehkah aku meminta bantuanMu untuk kesekian kali? Untuk tetap menguatkan dan menemaniku di setiap langkahku. Hingga akhirnya, aku benar-benar layak dinyatakan lulus dari ujian kesabaran itu. Kumohon Semesta.. kumohon…

semesta. aku ingin bertemu. Kau tahulah dengan siapa. bolehkah? bisakah?

Kebahagiaan Adalah...

Banyak pendapat yang mengatakan bahwa 'bahagia itu sederhana'. Saya setuju, meski kadang nggak menyadarinya bahwa hal-hal kecil ternyata bisa menimbulkan rasa bahagia dalam diri kita. Maka, di Hari Kebahagiaan Internasional ini, ijinkan saya membagi beberapa sumber kebahagiaan di antara baaaanyak sekali hal yang bisa menjadi penyebabnya.

1. Tinggal di Rumah
Bagi pekerja sekaligus perantauan seperti saya, bahagia itu sesederhana bisa beristirahat di rumah. Apalagi kalau cuti, bebas sejenak dari rutinitas selama ini. Berdiam diri di rumah juga berarti bisa kembali menjadi diri sendiri, melakukan hal-hal yang disukai. Kalau di hari kerja sehari-hari mencari berita tentang bisnis LNG, di rumah bacaannya kembali lagi ke komik Paman Gober hehehe.

Cerita Putri Pena: Hujan

Hujan lagi.
Entah malam ke berapa Kau mengirimnya ke Kerajaan Tulis. Untuk menemaniku? Sungguh, Kau baik sekali.
Pada dasarnya, aku menyukai hujan. Ia mendatangkan kesejukan. Menghapus kesedihan, terkadang. Coba saja ketika menangis kau berdiri di bawahnya, air matamu akan terhapus bersama rintik-rintiknya.

Cerita Putri Pena: Halo Putri!

Halo Putri! Apa kabar?
Terdengar klise ya. Tapi sejujurnya aku bingung harus mulai menulis dari mana. 
Baiklah, bagaimana kalau dimulai dengan pertemuan tak sengaja kita kemarin di air suci? Sungguh tak disangka ya, kita bisa bertemu lagi di sana. Sedang apa kau saat itu? Bersama para sahabatmu dari berbagai kerajaan dan negara?

Cerita Putri Pena: Mimpi

Belakangan ini, tidurku sering dihiasi mimpi. Dengan tokoh-tokoh yang sama, tapi jalan cerita yang berbeda. Sang Ksatria dan para sahabatku.
Yang pertama dan paling sering hadir dalam mimpiku beberapa hari ini adalah Ksatria Tak Berkuda. Biasanya, ia mengunjungiku dalam mimpi jika kami tak bisa bertemu dalam jangka waktu yang lama. Kedatangannya ke mimpiku ini cukup aneh mengingat baru beberapa hari yang lalu kami bertemu di Hutan Hijau.
Mimpiku tentangnya beragam. Kadang bermimpi melihatnya tertawa sambil menceritakan sesuatu padaku. Di lain hari, aku bermimpi ia mengajak berpetualang ke negara jauh, suatu tempat yang belum pernah kami kunjungi, selama beberapa hari. Dan wajahnya begitu bersemangat. Pernah juga aku bermimpi hanya bisa melihatnya tertidur pulas, seperti kelelahan akan sesuatu. 

Cerita Putri Pena: Hadiah Hari Lahir

Beberapa hari yang lalu adalah hari lahirku. Dengan atau tanpa perayaan, satu hari tersebut selalu berarti bagiku. Ada dua hal yang aku sukai pada hari itu, cuaca cerah seharian dan ucapan selamat serta doa dari berbagai kerabat dan sahabat.
Salah satu ucapan selamat yang membuatku tersenyum hari itu datang dari Putri Tutur. Sudah pernah kuceritakan sekilas tentangnya bukan? Sayangnya ia masih dalam masa pengasingan sehingga tidak bisa ikut merayakan hari lahirku di Kerajaan Tulis. 
Seperti kebanyakan surat yang datang ke paviliunku, Putri Tutur mengucapkan selamat dan menghadiahiku dengan doa-doa. Di akhir suratnya, sepertinya dengan rasa ingin tahu yang tinggi seperti biasa, ia menulis: apakah ia ikut merayakan hari lahirmu? apa hadiah darinya? Tanpa perlu kutanyakan, tentulah yang ia maksud adalah Ksatria Tak Berkuda.

Cerita Putri Pena: Pusat Pemerintahan Negeri 1000 Dagang

Halo, apa kabar?
Cuaca di Kerajaan Tulis sedang kurang baik belakangan ini. Kesehatanku pun sedikit menurun. Tapi, aku masih memiliki semangat untuk berbagi cerita denganmu. Kau pun masih ingin mendengarkannya bukan?
Jadi, sekarang aku telah kembali ke Kerajaan Tulis. Sang Raja telah mencabut masa pengasinganku beberapa minggu lalu. Sungguh senang sekali rasanya saat menerima surat pemberitahuan itu! Bagaimanapun, aku sangat merindukan Kerajaan Tulis dengan segenap suka duka yang ada.
Dan hadiah dari Ksatria Tak Berkuda seakan melengkapi kebahagiaanku. Ia mengajakku ke negerinya! Bukan sekedar datang, melainkan masuk dan berkeliling ke pusat pemerintahan Negeri 1000 Dagang.

Cerita Putri Pena: Negeri 1000 Dagang

selalu menyenangkan rasanya mengunjungi negeri 1000 dagang dan bertemu ksatria tak berkuda. tak ada rasa khawatir tersesat di negeri nan luas itu. panas matahari yang seakan selalu berada tepat di atas kepala pun seolah tak mengganggu kebersamaan kami.
hampir seharian tadi kami bersama. menjelajahi negeri tempat tinggalnya. bahkan, aku berkesempatan masuk ke wilayah pusat pemerintahannya. sibuk, seperti dugaanku. banyak orang berlalu lalang. entah siapa saja mereka.

Cerita Putri Pena: Kunjungan ke Pengasingan #2

Kami tiba di Kampung Cakrawala, sebuah kampung di Selatan daerah pengasinganku yang seluruh penduduknya perempuan dan anak-anak. Tampak kesibukan mewarnai sore yang beranjak malam hari itu. Beberapa perempuan memanggul hasil alam dibantu anak-anak. Yang lain terlihat sibuk menyiapkan makan malam, terlihat dari asap yang membumbung dari tempat tinggal mereka.
“Selamat datang di Kampung Cakrawala,” seorang perempuan tua menyambut kami ramah. Usianya mungkin di atas Sang Ratu, tapi semangatnya masih terlihat membara. Sedikit ragu, aku dan Ksatria Tak Berkuda melangkah masuk. Namun, keramahan perempuan tersebut membuat kami dengan cepat beradaptasi di kampung itu.
Selain Ksatria Tak Berkuda, ternyata ada beberapa lelaki yang sedang berkumpul di dekat rumah perempuan tua itu. Sepertinya akan ada perjamuan. Sedikit gugup, aku dan Ksatria Tak Berkuda bergabung bersama mereka.
“Ada yang kau kenal?” bisik sang Ksatria. Aku menatap sekeliling dan menggeleng lemah. Tempat ini benar-benar asing bagiku.

Cerita Putri Pena: Surat untuk Sang Raja

Selamat malam Sang Raja, apa kabar? Mungkin Kau akan terkejut menerima suratku karena kita jarang berkomunikasi seperti ini.Tapi, ada hal yang sangat ingin kusampaikan padamu saat ini.
Baiklah. Langsung saja. Bisakah aku segera mengakhiri pengasingan ini?

Cerita Putri Pena: Kunjungan ke Pengasingan #1

Di antara seluruh hari di pengasingan, aku paling suka kemarin. Ketika Ksatria Tak Berkuda datang dan menemaniku nyaris seharian di pengasingan.
Tentu kedatangannya bukan untuk bertemu denganku semata. Ia harus berlatih memanah di daerah yang kondisinya seperti di tempat pengasinganku sehingga kami bisa bertemu. Tak apalah, yang penting kami bisa saling meluangkan waktu.
Senyumku langsung mengembang begitu melihatnya di bawah pohon tempat kami janji bertemu. Senyumnya? Tipis seperti biasa. Tapi dari raut wajahnya aku tahu, ia bahagia.

Cerita Putri Pena: Surat dari Sang Ratu

Aku selalu suka hari ke lima ketika pagi. Hari kelima artinya aku bisa beristirahat sehari penuh di pengasingan atau melakukan perjalanan singkat ke Hutan Hijau. Hari kelima biasanya Ksatria Tak Berkuda pun mengunjungi hutan indah itu sehingga mungkin kami bisa bertemu.
Seperti yang sering kukatakan, aku selalu suka bertemu dengannya. Bahkan jika ia hanya diam pun, ada perasaan tenang jika di sampingnya. Sayangnya, belakangan ini semesta seperti sulit mempertemukan kami, entah mengapa. Sedang menyiapkan kejutan yang lebih besar? Semoga begitu.
Aku memang tidak bisa memaksa sang ksatria untuk selalu menemuiku. Ada tanggung jawab lain yang harus diselesaikannya. Jadi, aku tidak pernah meminta. hanya berharap.
Dan sebuah surat dari Sang ratu pagi ini datang mengejutkanku. Benar ini untukku? Setahuku, ia sangat sibuk mendampingi Sang Raja sehingga hampir kecil kemungkinannya mengirim surat seperti ini. Apalagi, aku juga jarang berbincang dengannya.
Penasaran, aku membuka amplopnya perlahan. Seorang prajurit mengantarkannya ketika aku selesai sarapan. Mungkin Sang Ratu memintaku pulang dan menyudahi pengasingan ini, khayalku.
Kubaca selintas isinya. Benar, ini tulisan tangan Sang Ratu. Dan isinya.. oh.. Bagaimana mungkin ia bisa mengetahui kegundahanku? 

hey semesta, aku rindu. ya, padanya, sang ksatria tak berkuda. sudah berapa lama tak berjumpa dengannya? berminggu-minggu. tapi aku tahu, ada tugas mulia yang harus ia jalankan dan tidak mungkin aku melarangnya. siapa diriku? sampaikan rinduku padanya, semesta. semoga ia merasakan hal yang sama. semoga kami bisa segera bertemu

Di Balik Gelapnya Gerhana

Beberapa hari sebelum terjadinya Gerhana Matahari Total, masyarakat Indonesia terutama di media sudah terlihat hebohnya. Tentu saja dalam rangka menyambut fenomena langka itu. Media online beramai-ramai membuat berita mengenai gerhana matahari yang dilengkapi pendapat atau pernyataan ahli. Media sosial, seperti biasa tidak kalah ramai, perlahan 'dimeriahkan' dengan kemunculan berbagai meme seputar gerhana.

Menurut sejarah, Gerhana Matahari Total di Indonesia sebelumnya pernah terjadi tahun 1983. Jangankan menceritakannya kepada dunia melalui media sosial, saat itu masyarakat yang memiliki alat komunikasi dan media pun sedikit sekali. Bahkan, ada mitos yang beredar bahwa gerhana itu terjadi karena raksasa memakan matahari sehingga langit menjadi gelap. Orang-orang yang percaya pun lebih memilih berada di rumah untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Zaman berubah, begitu pula dengan kreatifitas manusia membuat cerita. Tentu, media sosial membantu saya mengingat kembali bahwa gerhana matahari sesungguhnya terjadi karena posisi matahari, bulan, dan bumi sedang sejajar. Namun, media sosial juga yang kini membuat saya 'gatal' menceritakan fenomena terbaru mengenai gerhana matahari.

Ada yang sudah tau ceritanya?

Alkisah, Bulan yang selama ini ada di dekat Bumi sebenarnya sedang menjalani long distance relationship alias LDR dengan Matahari. Jaraknya bukan sekedar sepanjang tol Cipularang yang menghubungkan Bandung - Jakarta, melainkan berjuta-juta tahun cahaya. Bulan memang kita kenal sebagai satelit Bumi sehingga ia harus berada tak jauh dari planet ini.

Cerita Putri Pena: Kepada Semesta

Selamat malam, Semesta!
Malam ini indah bukan? Rembulan sempurna menampakkan dirinya ditemani bintang-bintang yang tak ragu membagikan sinarnya. Sekelompok kunang-kunang menari dengan anggun di taman istana. Sungguh pemandangan yang sangat langka.

Cerita Putri Pena: Kiriman Semesta

lagi-lagi sang raja memberi tugas yang tidak biasa kepada kami, para pangeran dan putri. kali ini, ia meminta kami melakukan perjalanan ke berbagai belahan dunia dan menuliskan kisah mengenai hal-hal yang kami temukan di sana. mungkin aku sedikit beruntung karena sang raja mengirimku dan dua orang putri lainnya ke perbatasan negeri 1000 dagang bagian utara.
konon, daerah perbatasan tersebut masih sangat berbahaya. selain masih cukup primitif, penduduknya tidak suka menerima orang asing. apalagi seorang pangeran atau putri dari luar negeri 1000 dagang. 

Cerita Putri Pena: Kejutan

Menurutku, hanya ada dua jenis kejutan di dunia ini: kejutan yang menyenangkan dan kejutan yang tidak menyenangkan. Sebuah kejutan akan menjadi menyenangkan jika sang penerima menerimanya dengan senang hati, begitu pula sebaliknya.
Dan hari ini, aku beruntung mendapat kejutan yang menyenangkan.
Jadi, di siang yang cerah tadi, nyaris seharian aku berada di dalam paviliun. Bukan karena tugas, Sang Raja sedang berbaik hati tidak memberikannya beberapa hari belakangan. Aku berada di paviliun untuk bertemu ksatria tak berkuda. Melalui surat-surat tentunya.
Ksatriaku tersayang (ijinkan aku menulisnya seperti itu ya!) memiliki seseorang yang khusus ditugaskan untuk mengantarkan surat-surat kami. Jika dulu aku bisa harus bersabar hingga berminggu-minggu menunggu balasan, kini dalam sehari pun kami bisa berkirim surat berkali-kali.
Kecepatan berkirim surat ini sangat membantuku mengobati kerinduan terhadapnya. Sudah berminggu-minggu aku tidak bisa bertemu Ksatria Tak Berkuda secara langsung. Mungkin Semesta sedang menyiapkan rencana indahNya sehingga ia menunda pertemuan kami.
Sebuah rencana indahpun sebenarnya sedang kupersiapkan bersama Ksatria Tak Berkuda. Ia pernah berkata akan mengajakku ke sebuah tempat rahasia di Hutan Hijau yang menurutnya pasti kusuka. Konon, tempat itu memiliki padang bunga yang luas, pepohonan yang rindang, serta danau yang diyakini para tetua sebagai pemandian bidadari. Aku terpesona membaca ceritanya dan sudah tak sabar ingin mengunjungi tempat yang tidak mau ia sebutkan namanya itu. 
Sayangnya, Sang Ksatria memilih untuk menunda mewujudkan ajakannya. Baiklah, mungkin Semesta belum siap mempertemukan kami kembali secara langsung. Sayangnya lagi, aku belum memiliki cukup keberanian untuk mengungkapkan betapa sebenarnya aku sangat merindukan Ksatria Tak Berkuda. Wahai Semesta, Kau masih mau membantuku menyampaikan salam rindu ini padanya, bukan?
Belum selesai menulis surat balasan ketujuh untuk Ksatria Tak Berkuda hari ini, aku mendengar suara derap kuda berjalan mendekati taman. Suara itu… sepertinya kukenal… tapi, benarkah… benarkah…
Benar! itu Ksatria Tak Berkuda! Di halaman paviliunku!
Aku mengintip sekali lagi melalui celah pintu untuk memastikan penglihatanku tidak salah. Benar, itu Ksatria Tak Berkuda. Ksatria yang kurindukan. Ksatria…ku.
Pintu kamarku diketuk. Perlahan aku membukanya dan melihat sosok ksatria gagah berdiri di hadapanku. Lengkap dengan senyum khasnya yang selalu bisa menenangkan.
“Halo, Putri!” salamnya. 
“Hai!” balasku riang, menyembunyikan rasa terkejut sekaligus senang karena tak menyangka ia akan mendatangiku seperti ini.
“Ambillah. Kau belum makan apa-apa sejak pagi bukan? Aku tidak ingin kau sakit,” Ksatria Tak Berkuda menyerahkan sebuah bungkusan berwarna merah hati. 
Sedikit gugup aku menerimanya. Wah, ini makanan kesukaanku! Dari mana ia tahu perutku sudah berbunyi sejak beberapa jam yang lalu?
“Terima..kasih…Ksatria…” jawabku malu-malu. Segera aku menata makanan di meja sebelum ia melihat mataku berkaca-kaca karena terharu. Semesta, Kau mengirimnya ke sini? Sungguh, terima kasih… 
Sesaat, aku tidak tahu bagaimana harus berkata-kata. Seluruh akal sehatku terpesona melihat salah satu hadiah sederhana dari Semesta ini: cuaca cerah, ksatria yang kusayangi, tiba-tiba datang karena mengkhawatirkan keadaanku.
Tapi seperti biasa, menghabiskan waktu bersama Ksatria Tak Berkuda selalu menyenangkan. Di balik ketenangan penampilannya, ia menyimpan banyak hal menarik untuk diceritakan.
Semesta, aku tidak tahu apakah aku bisa membalas kejutan indahmu ini. Ingatkan aku untuk selalu bersyukur kepada-Mu, Semesta. Atas kehadiran Ksatria Tak Berkuda dalam hidupku. Dan ijinkanlah kami untuk saling menjaga, Semesta. Terima kasih. 

Cerita Putri Pena: Ksatria-Ku

Halo, apa kabar?
Jika kau menanyakan hal itu padaku, aku akan menjawabnya dengan yakin, “sangat baik!” disertai senyuman lebar. Walau kenyataannya, tugas dari Sang Raja seolah tidak pernah berkurang apalagi berhenti untuk diselesaikan. Sangat menyita waktu. 
Sudahlah, lupakan sejenak mengenai kesibukan yang sedang dialami para pangeran dan putri di Kerajaan Tulis. Mungkin suatu saat aku akan menceritakannya padamu. Seberat apapun tugasnya, aku masih bisa menjalani hari-hari dengan riang. Jangan heran jika kau akan sering melihatku tersenyum belakangan ini. 
Sumber kebahagiaan itu adalah Ksatria Tak Berkuda. Kau mengenalnya? Ya, ia ksatria yang nyaris selalu hadir dalam kolomku di Diarium. Jika kau belum mengenalnya, ijinkan aku memperkenalkannya padamu melalui cerita ini. 
Kenalkan, namanya Ksatria Tak Berkuda. Ia seorang ksatria muda dari Negeri 1000 Dagang, sebuah negara maju di bagian barat Kerajaan Tulis. Negara tempatnya tinggal dan Kerajaan Tulis dipisahkan oleh sebuah hutan lebat bernama Hutan Hijau.
Kenalkan, Ksatria Tak Berkuda, Ksatria-ku. Setelah menerima berbagai hadiah indah dari semesta, akhirnya aku dapat memanggilnya seperti itu. Ksatria-ku. Dan ia pun memanggilku dengan panggilan nan menyejukkan: Putri Pena-ku. 
Jangan tanya “bagaimana bisa?” karena aku akan bingung menjelaskannya. Semuanya mengalir begitu tenang. Seperti aliran Sungai Bening yang menyejukkan siapapun yang berdiri di tepinya. Semesta, dengan segenap kuasaNya, telah mengatur segalanya bagi kami. 
Aku selalu suka menghabiskan waktu bersamanya. Jika ia sudah ada di sisiku, segala beban pikiran seakan menghilang sejenak. Tahukah kau, dibalik penampilannya yang gagah dan dingin, ternyata ia ksatria yang menyimpan kehangatan! Bersamanya, aku sering tersenyum lebar atau bahkan tertawa terbahak-bahak.
Selalu ada tingkah atau cerita sang Ksatria yang menyenangkan hatiku. Ia mungkin belum bisa membuat kumpulan sajak seperti para pangeran di Kerajaan Tulis, tetapi sebait kata-katanya kadang sudah mampu membuatku tidak bisa berkata-kata karena terharu. Ia tidak pernah memetik bunga untukku, tetapi suatu hari ia pernah menganyam akar rambat untuk dijadikan gelang dan dipasangkan pada pergelangan tanganku. Dan yang terpenting, sosoknya tidak selalu ada di sisiku, tetapi hatinya selalu menemani hatiku menjalani hari-hari berat di Kerajaan Tulis. 
“Carikan aku seorang Ksatria seperti itu, Putri!” pinta salah satu sahabatku memohon ketika aku sedikit bercerita tentang Ksatria Tak Berkuda padanya. Lihat, bahkan sahabatku pun mengidamkan sosok seperti sang Ksatria!
Banyak sahabat yang mengatakan kisahku dan Ksatria Tak Berkuda seperti dongeng-dongeng yang sering mereka tulis. Tentang hubungan saling menyayangi yang berujung pada kebahagiaan. Aku tersenyum menanggapinya. Diam-diam mengucap syukur pada Semesta dan masih menyimpan doa agar kisah ini bisa berakhir bahagia, seperti juga yang didoakan oleh para sahabatku. 

Resto Review: Tizi

Di antara beragam tempat kuliner yang ada di Bandung (dan sepertinya akan terus bertambah jumlahnya), saya tetap cinta sama satu restoran ini: Tizi. Pernah dengar?

Nama resto ini pertama kali diketahui ketika saya masih menjadi freelance writer untuk situs yang mereview berbagai hal tentang Kota Bandung (sayang, sekarang situsnya udah tutup deh kayaknya :( ). Berbekal info dari Ibu Bos yang mengusulkan saya mereview resto legendaris itu plus bumbu "Itu tempat pacaran orang-orang jaman dulu", jadilah saya makin penasaran dengan rupa resto dan hidangannya.

Saya akhirnya mengajak teman yang juga menjadi kontributor sebuah media di Bandung. Dengan status masih jadi mahasiswa dan pendapatan yang ala kadarnya saat itu, kami nggak terlalu berharap akan tempat dan rasa hidangan yang akan ditemui sebenarnya. Apalagi kalau dulunya menjadi 'tempat pacaran', harusnya harganya bersahabat dong ya :)).

Cerita Putri Pena: Satu Mimpi yang Sempurna

kau tahu bagaimana rasanya jika salah satu mimpi indah terwujud? bahagia, terharu,… rasanya tak dapat diungkapkan dengan kata-kata!
itulah yang kurasakan setelah bertemu kembali dengan ksatria tak berkuda beberapa hari yang lalu di hutan hijau. kami bersama-sama menghadiri pesta rakyat barat, sebuah festival yang digagas dan diselenggarakan oleh para negara dan kerajaan yang berada di belahan bumi bagian barat. kerajaan tulis adalah salah satunya, sedangkan negeri 1000 dagang tidak termasuk karena mereka berada di utara. namun, ksatria tak berkuda sedang diutus rajanya untuk suatu tugas tertentu di hutan hijau selama beberapa waktu sehingga ia mengetahui acara tersebut. dan mengajakku menghadirinya.
festival rakyat barat diselenggarakan selama satu hari penuh di hutan hijau. banyak pertunjukan seni dan hiburan yang ditampilkan. selain panggung pertunjukan, ada juga pameran kekayaan alam atau ciri khas sebuah negara barat yang tidak dimiliki negara atau kerajaan lainnya. selama satu hari itu, hutan hijau yang biasanya tenang dan damai disulap menjadi hutan yang menawarkan banyak keceriaan. 
puncak festival rakyat barat diadakan di pusat hutan hijau. pada suatu titik yang diyakini para tetua sebagai titik tengah hutan hijau, terdapat pepohonan raksasa yang konon sudah berusia ratusan tahun. pada area itu, seluruh seniman terbaik dari setiap negara atau kerajaan belahan bumi bagian barat bekerja sama membuat sebuah mahakarya. itulah yang sangat dinantikan oleh sang ksatria. aku juga penasaran, mahakarya apakah yang akan mereka buat?
ketika hampir tiba waktu puncak, ksatria tak berkuda mengajakku mencari tempat terbaik untuk menyaksikan pembuatan mahakarya yang dinanti-nanti itu. sekilas aku melayangkan pandangan ke sekeliling kami, sudah banyak pengunjung festival yang datang, dari berbagai golongan, negara, dan usia. seakan tidak ada yang mempedulikan perbedaan itu karena semua antusias menunggu puncak festival rakyat barat. 
sambil menunggu kehadiran para seniman, ksatria tak berkuda mengajakku mengobrol. tentang banyak hal, seperti biasa. sesekali kami juga melontarkan candaan hingga tertawa terbahak-bahak. oh semesta, sungguh keakraban ini lebih indah dari mimpi apapun!
saat akhirnya para seniman muncul, tawa kami berganti ungkapan kekaguman pada apa yang kami lihat: dedaunan yang lebat disulap menjadi ‘kanvas’ oleh para seniman itu. entah alat dan media apa saja yang mereka gunakan, pepohonan tua itu seketika menjelma menjadi sebuah 'lukisan raksasa’ yang menggambarkan hutan hijau, lengkap dengan sungai, air terjun, gua, dan elemen-elemn lainnya. kami dan semua yang menyaksikan hal itu nyaris tak henti memuji kehebatan para seniman berbakat tersebut. lukisan raksasa tentang hutan hijau! dan mereka menggunakan pepohonan tua itu sebagai 'kanvas'nya, bagaimana bisa?
selesai dengan mahakaryanya, para seniman kembali bersembunyi di tempat mereka semula. beberapa orang mulai meninggalkan pusat hutan sambil membicarakan lukisan yang tampak hidup itu. aku, sejujurnya masih belum mau beranjak. masih ingin mengamati mahakarya itu dari dekat… sekaligus menikmati waktu bersama sang ksatria. sayang, aku masih belum memiliki cukup keberanian untuk mengatakan alasan kedua itu padanya.
kami mulai berjalan menjauhi pusat hutan. perlahan, tanpa bergandengan tangan, tapi selalu memastikan kami selalu berada di samping satu sama lain, tidak terpisah. rasanya begitu enggan meninggalkan pepohonan tua itu…
sampai suara-suara kera tiba-tiba terdengar dari arah pusat hutan. belum sempat menemukan sosok mereka, langit tiba-tiba berubah menjadi penuh cahaya.
kunang-kunang! ratusan, ah mungkin ribuan ekor jumlahnya! secara berkelompok mereka muncul dari dedaunan, menghiasi langit hutan hijau. membentuk berbagai formasi yang indah. 
aku menatap langit. ksatria tak berkuda pun melakukan hal yang sama. diam-diam aku tersenyum. semesta, tahukah engkau bahwa aku sangat bahagia malam ini? salah satu mimpiku terwujud pada malam ini: melihat ratusan kunang-kunang menari indah di angkasa pada malam hari bersama seseorang yang kusayang. dari sudut matanya, aku menangkap ksatria tak berkuda pun sama antusias dan bahagianya sepertiku. namun, aku tak tahu karena hal apa. pemandangan indah di langit itu? 
sungguh semesta, satu atau dua kata rasanya tak cukup untuk mengungkapkan rasa terima kasihku padamu atas hadiah yang begitu indah ini. terima kasih, terima kasih, terima kasih! untuk menghadirkan ksatria tak berkuda, untuk momen indah malam itu… untuk segalanya. 

Cerita Putri Pena: Kelabu

hari ini surat dari ksatria tak berkuda tampak kelabu, tidak cerah seperti biasanya. ada apakah ksatria? ada sesuatu yang sedang mengganjal pikiranmu?
tapi ia tidak mau berbagi padaku. atau mungkin belum. baiklah, aku tidak akan memaksa.
wahai semesta, bisakah kau sampaikan padanya? tolong beri tahu, aku ada di sini untuknya. segeralah hilangkan kegundahan dan kesedihan di hatinya, semesta. aku ingin melihatnya ceria kembali, meski hanya melalui surat. 
dan, bisakah kau beritahukan pula padanya, bahwa aku menyayanginya? entahlah ia menganggapku apa, pokoknya, begitu.
tolong dan terima kasih, semesta.

Cerita Putri Pena: Terima Kasih, Semesta!

wahai semesta…
sekali lagi aku ingin mengucap syukur  atas hadiah darimu yang begitu indah ini..
terima kasih untuk mempertemukanku lagi dengan ksatria tak berkuda..
terima kasih telah menyusun skenario yang bahkan belum pernah hadir di mimpiku..
terima kasih untuk selalu menjaga kami… :)

Cerita Putri Pena: Ketika Semesta Bekerja

demi semesta dan segenap isinya! aku bertemu lagi dengan ksatria tak berkuda!
hari ini aku menghadiri undangan jamuan makan dari para pangeran dan puteri yang pernah mengikuti konferensi pembangunan dunia beberapa bulan lalu. sahabatku, putri citra, juga diundang dan hadir karena ia sudah kembali dari negeri timur.
semua sepakat jamuan diadakan di hutan hijau. di mana lagi suasana yang tenang dan damai selain di hutan nan teduh itu? 
tempat yang tertera di undangan adalah di belakang air terjun satu-satunya di hutan hijau. sayangnya, tempat itu ternyata ramai dipenuhi oleh pedagang dari berbagai penjuru dunia yang sedang bertransaksi. tidak, jangan di situ.
tempat kedua adalah di sebuah gua kecil di dekat gua kaki. sayangnya, lagi-lagi tempat itu tidak bisa didekati untuk sementara waktu karena konon ada induk singa yang baru melahirkan di sekitar situ.
setelah memutar otaak dan berdiskusi singkat, akhirnya kami menemukan sebuah tempat yang terlihat cukup nyaman di tepi sungai bening. selain tidak terlalu ramai, sungai bening begitu jernih dan tenang sehingga membuat siapapun yang berada di tepinya sulit beranjak.
karena jamuan akan dimulai setelah matahari terbenam, beberapa pangeran dan putri memutuskan untuk berjalan-jalan terlebih dahulu di sekita hutan hijau. aku sendiri lebih memilih menikmati pemandangan sejuk dari aliran sungai itu. mencoba membuat tulisan sambil sedikit berkhayal seandainya ada ksatria tak berkuda di sini karena sepertinya masa-masa seperti sekarang sedang banyak diadakan jamuan…
…sampai aku menoleh ke kiri, ke arah seekor rusa sedang asyik meminum air sungai. sesosok tegap dengan jubah merah dan pedang tersarung rapi di pinggang bagian kiri hadir. berhenti sebentar di tepi sungai, melihat sekilas ke arahku, kemudian berjalan menjauh. seperti sedang mencari sesuatu atau seseorang.
ksatria tak berkuda! itukah dia? mungkin keinginan yang terlalu kuat untuk bisa bertemu dengannya lagi membuat penglihatanku seperti melihat sosoknya. tapi, mengapa jantungku mendadak berdegup kencang? perasaan yang hanya muncul jika aku sedang di dekatnya…
jamuan dimulai. aku mencoba menepis kenyataan yang kualami tadi. berbaur dengan canda tawa para pangeran dan putri. tapi, mengapa hatiku berkata bahwa penglihatanku tidak salah?
semesta menjawabnya ketika aku hendak mengambil air suci sebagai buah tangan bagi sang raja. tempat air suci masih di sekitar sungai bening, hanya beberapa meter dari tempat jamuan. karena cukup banyak orang yang juga akan mengambil air suci, aku tidak mau berlama-lama. setelah mengambil air, aku menoleh ke belakang…
dan di situlah dirinya berada. sedang menunggu giliran untuk mengambil air suci juga rupanya. ksatria tak berkuda.
“hey, ksatria” ini benar dirimu, kan?
“hai. kau…di sini juga?”
“iya, ada jamuan makan…” oh semesta! mengapa mendadak susah berkata-kata?
“oh, aku juga”
“hmm..baiklah. aku kembali ke teman-temanku ya. sampai jumpa” bukan! bukan itu yang ingin kukatakan! bagaimana kabarmu, ksatria? sehatkah? bahagiakah? apakah perasaanmu juga sama denganku saat ini?
aku kembali ke jamuan makan. melihat putri citra sudah selesai dengan hidangannya, aku tak dapat menahan diri lagi untuk menceritakan kejadian tadi.
putri citra memang sahabat terbaik! dengan sabar ia mendengarkan ceritaku dan menanggapinya dengan antusias pula. bahkan ia penasaran ingin melihat sang ksatria. jadi, aku mengajaknya ke tempat air suci. sayang, ksatria tak berkuda sudah tidak ada di sana dan aku tidak tahu di mana jamuan yang ia hadiri itu. 
waktu terus berjalan sampai bulan mulai memancarkan cahayanya yang indah, pertanda sebaiknya kami meninggalkan tepi sungai dan hutan hijau. namun, rasanya sulit sekali untuk beranjak karena perbincangan dengan para pangeran dan putri masih ramai. di seberang sungai, kulihat sekelompok orang berjubah berjalan menjauhi sungai bening. sepertinya teman-teman sang ksatria. berarti ia pun sudah meninggalkan sungai bening, pikirku sedih.
putri citra ikut melayangkan pandangan ke seberang sungai. “yang mana ksatria tak berkuda? aku tidak bisa menemukannya”
“terlalu ramai, akupun sulit menemukannya,” jawabku sambil tetap berusaha mencari sosok yang selama ini aku rindukan itu. tapi aku pasti bisa menemukannya, lanjutku dalam hati.
“putri, aku pamit ya.” tiba-tiba sebuah suara yang kukenal muncul di belakangku. ksatria tak berkuda! apakah ia tahu aku mencarinya?
“oh, eh, baiklah ksatria, hati-hati di perjalanan”
setelah melemparkan senyum khasnya, ia pun menjauh dan kemudian menghilang dari pandanganku.
sesampainya di kerajaan tulis, aku tak henti mengucapkan syukur dan berterima kasih kepada semesta atas izinnya mempertemukan kami lagi. setelah berulang kali meminta, berharap, akhirnya kesempatan itu datang lagi. ingin rasanya menghentikan waktu untuk sementara agar aku bisa mengobrol banyak dengannya. berbagi cerita, berbagi dukungan, berbagi suka duka…
terima kasih untuk selalu menjaganya, semesta. ia masih tetap seorang ksatria yang terlihat dingin, tetapi sebenarnya hangat. terima kasih untuk mempertemukan kami kembali setelah sekian lama, semesta. rasa ini ternyata masih ada padaku, dan kuharap masih ada padanya. 

Cerita Putri Pena: Kalau Saja

kalau saja kemarin aku ke hutan hijau seperti biasa, aku bisa belajar membuat syair lagu bersama pujangga ternama yang juga adalah guruku
kalau saja kemarin aku belajar membuat syair lagu seperti biasa, aku bisa menciptakan lagu-lagu riang gembira
kalau saja kemarin aku berhasil menciptakan lagu riang gembira, aku bisa melupakan tentang ksatria tak berkuda
sayangnya, kemarin aku tidak ke hutan hijau, tidak belajar membuat syair lagu, dan tidak berhasil menciptakan lagu riang gembira
kalau saja kemarin sang raja tak memintaku pergi ke barat, aku tak perlu melewati pusat kota
kalau saja kemarin aku tak melewati pusat kota, aku tak perlu berhenti sejenak membaca diarium
kalau saja kemarin aku tak membaca diarium, aku tak perlu tahu bahwa sang ksatria tak berkuda sedang diutus rajanya untuk pergi ke rumah seorang tabib di hutan hijau, di mana rumahnya berdekatan dengan rumah pujangga yang menjadi guruku
kalau saja semesta mengijinkan, aku bisa melihat bayangannya sekelebat
semoga aku bisa bersabar lebih lama lagi menunggu ijin dari semesta untuk melihatnya

Hi!

Blog Archive

All written by Yudistyana. Powered by Blogger.

Hello Guest! :)

Name

Email *

Message *