"Terima Kasih.."

Pernah nggak menjadi panitia suatu acara, pesertanya sebagian besar mahasiswa, dan kamu kebagian menjadi seksi konsumsi yang membagikan snack secara langsung kepada para peserta? Kalau belum, cobain deh.

Suatu hari, saya melihat sebuah fenomena. Bukan sebagai panitia, hanya mengamati situasi yang saya gambarkan tadi. Di sebuah acara, panitia membagikan snack box kepada para peserta yang sebagian besar mahasiswa itu. Entah pesertanya kelaperan belum makan, pusing banyak tugas, abis berantem sama pacarnya atau gimana, SEBAGIAN BESAR dari mereka menerima kotak dengan muka lempeng. Tanpa ucapan "Terima kasih" keluar dari mulutnya.

Nggak usah ditanya gimana perasaannya panitia yang mungkin udah gedabrukan nyiapin acara itu, saya yang liat fenomena ini aja kzl sendiri.

Kenapa sih susah banget mengucapkan terima kasih? Atau sekedar ngasih senyum?

Helloooow..bilang 'terima kasih' itu gampang banget loh! Variasinya juga banyak. 'Makasih', 'thank you', 'tengs', 'suwun', sebutin deh pake bahasa yang dikuasai! Bahkan pakai bahasa nonverbal semacam senyuman juga nggak papa!

Mengucapkan 'terima kasih' adalah pelajaran memberi apresiasi yang paling sederhana, tapi bisa berefek besar. Membuat orang merasa dihargai, memotivasi orang untuk terus melakukan kebaikan, bahkan siapa tau, bisa memperbaiki mood yang sedang kacau. Menerima ucapan 'terima kasih' yang tulus itu bisa menjadi obat pereda lelah, you know :')

Maka..hayuuuk adik adik, kakak kakak, bapak ibu semua... kita biasakan...mengucapkan 'terima kasih' untuk sesederhana apapun hal baik yang kita terima atau lihat. Nggak perlu laah rasanya..buku setumpuk-tumpuk untuk tau gimana cara mengucapkan 'terima kasih' yang tulus. Cukup mulai dari diri sendiri, sering-sering mengapresiasi, dan lama-lama kebiasaan ini akan terbentuk dan (semoga) menular.

Jadi, sudah mengucapkan 'terima kasih' untuk siapa hari ini?

Terima kasih sudah membaca ya ;)

Oleh-oleh dari Desa Ende

Awal tahun 2018 sebelum sempat menyusun resolusi, saya berkesempatan mengunjungi salah satu pulau yang menjadi "10 Destinasi Wisata Unggulan Indonesia": Lombok. Meski dalam rangka business trip, kunjungan ini sekaligus menambah daftar baru pulau/kepulauan di Indonesia yang akhirnya bisa disinggahi.

Selain wisata pantai dan alamnya yang memang cantik, Lombok menyimpan warisan budaya yang masih terpelihara hingga kini. Mampirlah sejenak ke Desa Sasak Ende. Desa yang masih bernuansa asli, bahkan nyaris minim tersentuh teknologi masa kini.

Tiba di Desa Sasak Ende, kami (saya dan rombongan) disambut oleh gapura selamat datang berbentuk atap rumah Mataram yang khas. Beberapa bapak berseragam yang sebelumnya duduk mengobrol di gazebo dekat gapura, tersenyum menyambut. Salah satunya langsung sigap menghampiri, menjadi tour guide kami.

Selamat Datang!
Saya tidak memiliki gambaran sama sekali mengenai desa ini. Yang ada di benak saya, kondisinya mungkin kurang lebih sama dengan di Sukatali, desa nenek moyang. Kondisi badan yang sedang hamil muda juga membuat saya nggak terlalu excited untuk menjelajah. Ditambah jalanan yang cukup nanjak di area masuknya, maka pertanyaan pertama saya kepada sang tour guide adalah, "Berapa lama kita akan keliling?" *Belum apa-apa udah ngos-ngosan* 

Kelelahan saya mulai berkurang setelah berjalan beberapa meter dari gapura masuk tadi. Sekelompok anak kecil memakai baju adatnya, duduk dan kembali menyapa kami ramah, "Selamat dataaang!!" Otomatis, suasana hati ikut ceria melihat semangat mereka.

Belum sampai lima menit berjalan, ternyata kami diajak ke pemberhentian pertama: salah satu rumah adat Suku Sasak Ende. Rumah ini memang dijadikan obyek bagi wisatawan untuk melihat lebih detil sekaligus masuk ke dalam bagi yang berminat.

Permisi...

Yang unik dari rumah adat ini adalah konstruksinya. Bentuk atapnya rendah, sehingga pengunjung harus agak menunduk kalau mau naik ke teras apalagi masuk ke dalam. Hal ini sekaligus menandakan bahwa sang tamu harus menghormati tuan rumah.

Bagian lantai rumah terlihat kokoh seperti disemen. Namun, tahukah kamu apa bahan dasarnya? Yess, kotoran kerbau. Dicampur tanah liat, hehehe.

Di teras rumah, terdapat atraksi menenun oleh perempuan berusia sekitar 8 tahun. Masih muda banget memang. Saya aja mikir, waktu seusianya udah bisa apa yaa :')))) . Pengunjung juga diperbolehkan masuk dan melihat bagian dalam rumah yang ternyata masih alami sekali. Minim perabotan dan penerangan.

Lanjut, sang tour guide mengajak kami ke area perkampungan yang rumahnya lebih ramai. Ada sebidang tanah lapang yang rupanya sudah disiapkan untuk atraksi berikutnya: Tarian Peresean. Dua orang lelaki bertarung dengan pedang dan tameng tradisionalnya diiringi bunyi musik khas Sasak. Satu orang yang menjadi wasit, memiliki peluit sebagai pertanda tarian dimulai atau berhenti sejenak. Kalau tarian berhenti sejenak, wasitnya akan menari sementara kedua penari/petarungnya bersiap melanjutkan.

Area pertunjukan

Para pemusik

Pembukaan pertunjukan

Tari Peresean
Selesai para pemuda bertarung, pertunjukan dilanjutkan dengan atraksi anak-anak yang menampilkan tarian yang sama. Ini super gemaaaas! Anak-anaknya masih bocah banget aslinyaaa hahahha! Salut sama orang yang sudah bisa mewariskan kesenian tradisional itu ke mereka, juga kepada dedek-dedeknya yang kayak udah paham aja sama tariannya di usia sedini itu (walau kadang pas peluit ditiup, mereka masih berantem :'))) )


Priittt...priiitt..!!
Sudah selesai?

Belum. Selanjutnya, giliran para pengunjung yang berkesempatan 'uji nyali' mencoba tarian tersebut. Dua orang dari rombongan kami akhirnya menawarkan diri untuk tampil. Diiringi sorakan para pendukung plus rombongan lain yang kebetulan hadir, mereka seolah nggak mempedulikan teriknya matahari yang semakin bersinar.

Daeng Kiki vs Daeng Boski


Menjelajahi Desa Ende, pengunjung tidak perlu membayar tiket masuk, retribusi atau semacamnya. Yang diminta hanya keikhlasan pengunjung untuk mendukung pelestarian warisan budaya nusantara tersebut. Jadi, setelah tiga atraksi tadi ditampilkan, sang wasit dari pertandingan pertama kembali tampil menari sambil membawa salah satu tameng untuk diedarkan kepada para pengunjung yang ingin 'nyawer'. Kreatif!


Selain atraksi kesenian, di Desa Ende kita juga bisa membeli langsung produk kerajinan khas Suku Sasak seperti baju, sarung, tas, dan aksesoris lainnya. Tas selempangnya lucu-lucu deh. Kecil, praktis untuk dibawa jalan.

Puas berbelanja (dan ada juga yang ngadem), kami kembali melanjutkan perjalanan ke tempat berikutnya. Agak sedih waktu melihat perubahan raut wajah anak-anak yang mengiringi kami, tapi rupanya mereka tetap bisa dadah dadah ceria sambil menyampaikan pesan, "Semoga perjalanannya menyenangkan!"


Ah, terima kasih banyak Desa Ende! Di balik kesederhanaan penampilan dan kekayaan warisan budayanya, banyak pelajaran dan kesan positif yang bisa dipetik. Semoga lain waktu bisa berkunjung ke sana lagi :)

*All photos taken by Kiky Widiyanto

Serba-serbi Tes Alergi

Kata Ibu, kulit saya sensitif. Dari bayi umur lima bulan, saya pernah menderita penyakit biah, semacam bisul tapi terus menerus dan munculnya di sekitar muka. Ibu panik, tapi kata orang-orang justru itu pertanda bagus. Nanti kalau udah besar, kulit muka sang anak jadi bagus.

Alhamdulillah terbukti.

Beranjak dewasa, sensitifitas kulit semakin menjadi-jadi. Sampai akhirnya memutuskan untuk menjalani tes alergi. Kenapa nggak dari dulu? Terlalu banyak alasan untuk dijabarkan, dan sejujurnya agak gimanaaaa gitu sama 'dokter kulit' karena pengalaman konsul sama dokter kulit jaman dulu nggak terlalu bagus.

Sebelum menjalani tes alergi, saya beberapa kali bolak-balik ke dokter kulit (satu-satunya? :')) ) di Bontang ini. Konsul, dikasih obat, dilihat perkembangannya, baru dirujuk untuk tes. Sebenarnya memang penasaran juga sih saya alergi apa..apalagi saya tipikal hampir pemakan segala (kecuali seafood :p ).

Untuk menjalani tes alergi, kita harus bebas dari pengaruh obat yang diberikan dokter. Sekitar 10 hari dari obat terakhir diminum, kata dokter saya. Masuk akal sih, supaya hasilnya akurat nanti.

Singkat cerita, 10 hari kemudian akhirnya saya menjalani tes alergi. Sendiri T__T. Nggak papa sih sebenernya, agak takut aja pulangnya. Kebayang susah bawa motor sendiri karena kedua tangan pasti disuntik-suntik #takutduluan.

Tes alergi ini dilaksanakan oleh dokter THT. Saya pilih di tempat praktiknya, bukan di RS, supaya bisa tes di luar jam kerja dan lokasinya nggak terlalu jauh.

Sebelum 'disuntik-suntik' seperti yang terlihat di blog, saya dicek bagian telinga, hidung, dan tenggorokan. Ternyata ini sebabnya tes alergi dilakukan oleh dokter THT. Siapa tau pasien punya riwayat asma, sinus atau penyakit THT lainnya yang berpengaruh pada daya tahan kulitnya. Waktu periksa ini saya lagi flu, tapi secara keseluruhan dokter menyatakan saya bebas dari penyakit yang berhubungan dengan THT.

Tibalah saatnya tes yang bikin deg-degan. Yang pertama, dilakukan di bawah lengan kanan. Sang dokter menggambar semacam tabel sederhana dan diberi nomor. Di tabel itu, diberi cairan-cairan yang berpotensi menyebabkan alergi.

Sambil mengoleskan, dokter menjelaskan satu per satu cairannya. Mulai dari debu-debuan, serbuk, kulit hewan (termasuk kecoa!), seafood, daging, beberapa sayuran dan buah, sampai teh dan kopi.

'Oh gini doang toh tesnya.,' dalam hati pede karena nggak jadi disuntik-suntik. Nggak lama setelah tangan kanan dan kiri dioles cairan-cairan tadi, asisten sang dokter kembali mengambil banyak botol kecil DAN ADA JARUMNYA.

Duh Gusti! Nggak boleh nangis!! T__T

Satu per satu, sang dokter 'mencolek' tipis kulit saya di tabel-tabel itu. Satu tabel satu jarum. Udah nggak konsen sama penjelasan dokternya karena keburu meringis menahan nyeri. Rasanya nggak sesakit disuntik sih, tapi tetep aja.. :____(

Setelah 31 jarum, saya diminta menunggu di luar untuk menunggu reaksinya. Sekitar 10 menit katanya. Jadi, saya kembali ke ruang tunggu bersama ibu-ibu yang kepo tangan saya kenapa.

Setelah dua pasien (lebih dari 10 menit!) saya dipanggil kembali ke ruangan dokter untuk dibacakan nasib, eh, hasilnya.  Di antara 31 lokasi ini, ada dua tempat memang yang keliatan bentol merahnya lebih menonjol dibandingkan yang lainnya. Artinya, dua zat inilah yang berpotensi menimbulkan alergi pada saya.

Dan dua zat itu ternyata...

COKELAT DAN UDANG.

Dua makanan yang agak saya suka :____)))

Oke, sebenarnya saya nggak terlalu addict sama cokelat memang. Dulu aja makan cokelat satu bar bisa habis bermenit-menit karena makannya diemut. Bukan apa-apa, takut sakit gigi karena saya juga punya riwayat sakit gigi yang lumayan panjang.

Belakangan, saya mulai berani makan cokelat secara normal. Digigit dan dikunyah. Walau nggak setiap hari makan cokelat batangan, saya baru sadar kalau unsur cokelat juga ada di makanan atau minuman lain yang biasa saya konsumsi. Sebut saja susu, es krim, kue, dan cemilan lainnya rasa cokelat.

Yang paling bikin greget? Mas LNG baru pulang dinas dan salah satu oleh-olehnya adalah cokelat putih kesukaan. Nggak boleh segigit aja ya? :____)))

Kalau udang sih..nggak terlalu masalah karena memang nggak makan seafood juga. Sedikit bermasalah karena sebenarnya hewan ini yang paling bisa saya makan di antara seafood lainnya selama ini.

Yasudahlah.

Tapi, dokter THT saya kurang puas dan masih penasaran ternyata. Saya diminta tes alergi tahap kedua untuk mengetahui penyebab detilnya karena siapa tau ada zat yang berpotensi menimbulkan alergi tapi tidak terdeteksi dari hasil tes tadi. Jadi, dua minggu lagi saya akan tes IGe (kalau nggak salah) dengan cara diambil darahnya di lab. Semoga cukup sekali aja diambilnya dan di satu titik :__)

Tes alergi ini direkomendasikan buat yang punya kulit sensitif juga dan cenderung makan aja. Dengan tes alergi, seenggaknya kita punya panduan zat apa aja yang harus dihindari supaya alerginya nggak kambuh. Di Bontang sendiri, tes alergi tahap 1 seperti yang saya jalani biayanya Rp 300.000,00. Setelah tes, dokter masih ngasih resep untuk obat alergi dan vitamin E untuk membentuk kekebalan tubuh (katanya).

Jadi, tes alergi nggak sehoror yang dibaca di google ternyata. Dan ingatlah, bagaimanapun kesehatan itu yang utama dan perlu diutamakan. Kalau tubuh udah mengeluarkan 'pertanda', beristirahatlah sejenak dan mungkin bisa segera diperiksakan ke dokter sebelum semakin parah.

Semoga kita semua selalu sehat lahir batin :).

LNG on LNGTV

When your husband nongol di tv pas ibu-ibu lagi nonton.. :"""))))

Tentang Memaafkan dan Melupakan

Pada suatu acara (sebut saja 'arisan') yang bertabur bocah, dua anak laki-laki terlibat perebutan mainan. Keduanya masib balita, mungkin sekitar 2 tahunan atau kurang. Belum bisa jelas bicara dan banyak berkata-kata.

Dua anak laki-laki ini, kita sebut saja dedek A dan dedek B. Mereka memperebutkan sebuah mobil mainan yang entah milik siapa. Mungkin punyanya dedek B, karena arisannya di rumahnya. 

Rebutan yang awalnya 'hanya' tarik-tarikan mobil mainan, meningkat menjadi dedek A memukul dedek B. Keduanya sama-sama kaget dan hampir menangis. Dedek B langsung melepaskan tangannya dari mobil yang diperebutkan dan terdiam. Dalam hitungan detik mungkin dia udah cirambay dan membuat suasana arisan makin 'ramai'.

Untuk mencegah hal itu terjadi, ibu masing-masing dedek langsung bertindak. Ibu dedek A menyuruh sang anak meminta maaf dan meminjamkan mobilnya ke dedek B. Ibu dedek B membesarkan hati anaknya dan menyuruh sang anak bermain mainan lain. 

Alih-alih memperhatikan cara mengasuh anak, adegan selanjutnya berlangsung unyu. Dedek A mengulurkan tangan, tanda meminta maaf kepada dedek B. Dedek B yang masih gengsi (atau sakit kena pukul? :'( ) diam, tidak mau melihat apalagi menerima uluran tangan itu. Ibu dedek B membujuk agar anaknya menerima permintaan maaf itu. Begitu juga ibu dedek A, mengarahkan sang anak untuk memberikan mobil-mobilannya sebagai tanda keseriusan meminta maaf.

Akhirnya dedek B luluh. Uluran tangan diterima, begitu juga dengan mobil-mobilannya. Bonusnya, dedek A mencium kening dedek B yang tadi sempat kena pukul. Walaupun nggak langsung main bersama, keduanya kembali asik dengan mainan masing-masing. Lupa dengan pertengkaran tadi. Para ibu mengapresiasi kejadian tadi dan memuji kedua dedek yang bisa sama-sama 'legowo'.

Kalau hidup sesimpel pemandangan tadi, mungkin semua terasa lebih mudah. Berantem sebentar, cepet baikannya. Yang satu cepat meminta maaf, yang satu lagi cepat memaafkan. Lupa sudah dengan penyebab atau bahkan rasa sakitnya setelah dikeplak. Main bareng lagi, ketawa bareng lagi. Indahnya menjadi anak kecil yang sudah memberikan pelajaran sederhana itu.

Nggak lama setelah 'perdamaian' dedek A dan dedek B, ada kejadian baru. Kali ini, dedek A rebutan dengan dedek C, anak perempuan seumurannya yang juga tertarik dengan mainan truk. Tanpa pikir panjang, dedek A kembali melayangkan keplakan singkat yang langsung membuat dedek C menangis. 

Ibu dedek A kembali memerintahkan hal yang sama kepada anaknya. Sementara, ibu dedek C menenangkan anaknya sambil membujuk sang anak untuk bermain boneka aja. Tak lama, dedek A akhirnya mendekati dedek C untuk meminta maaf. Mengulurkan tangan dan memberikan truk mainan. Plus, mencium kening dedek C untuk meredakan tangisnya.

Bukannya berhenti, tangis dedek C malah semakin keras. Entah karena masih sakit dikeplak, atau 'sakit' karena nggak berhasil mendapatkan yang diinginkan :__)). Butuh waktu agak lama sampai akhirnya dia berhenti menangis dan hanya memegang truk tanpa memainkannya.

Simpulan awal tentang anak-kecil-cepat-meminta maaf-dan-memaafkan pun berubah. Melihat situasi kedua tadi, mungkinkah anak perempuan pada dasarnya memang sulit memaafkan apalagi melupakan? Kalau kata teman saya malah, "Perempuan nggak suka main-main apalagi dimainin." :___)))

Semoga semakin besar akan semakin sadar, tidak ada salahnya meminta maaf duluan dan lebih berbesar hati memaafkan duluan. Kalaupun kebiasaan itu belum bisa mewujudkan perdamaian dunia, minimal bisa mewujudkan kedamaian bagi diri sendiri di tengah kehidupan yang semakin random.

Source: Pinterest

7 Rekomendasi Vendor Pernikahan ala #RYLNGStory

Belum ada genap setahun, saya pernah posting mengenai kesiapan meraih resolusi ketiga. Pada tulisan itu, kesiapannya memang lebih dari segi mental. Ada 14 pertanyaan yang bisa mengindikasikan apakah si penjawab sebenarnya sudah siap menikah atau belum. Dan si penjawab yang sok iye itu dengan pedenya menjawab di blog padahal saat itu belum ada bayangan jelas tentang resolusi ketiganya :)).

Setelah kemantapan hati itu ada, rupanya segala hal menuju terlaksananya acara sakral itu juga perlu disiapkan dengan matang. Nggak sekadar aspek yang besar seperti tempat, dekor, baju (dan seragam), dan katering ternyata, melainkan banyak sekali printilan yang perlu dimatangkan.

Sederhananya, acara sakral ini melibatkan dua pihak. Yang tidak kecil ternyata, besar sekali. Maka, membuatnya pun perlu melihat dari berbagai sisi, termasukn
mempertimbangkan kenyamanan keluarga besar dan tamu yang akan datang.

Berbicara mengenai pernikahan, kata pertama yang terlintas di benak saya saat itu adalah 'rustic'. Klasik, timeless. Natural. Sederhana. Berkesan. Beda. Belakangan setelah browsing sana-sini, ternyata tema rustic sepertinya memang cukup banyak digemari para calon manten. Hehe.

Setelah tema pernikahan rustic disetujui juga oleh Mas LNG, detil terkait tema itu langsung dicari. Pilih, pilih, lucu, suka, harga nggak masuk budget, menjadi tahapan selanjutnya. Memilih segala sesuatu untuk acara sakral ini memang perlu pertimbangan matang karena bagi saya ini akan menjadi acara yang diselenggarakan sekali seumur hidup. Namun harus memilih dengan rasional juga dan melihat 'asas manfaat'nya, mengingat setelah menikah pasti bakal banyak kebutuhan yang perlu dipenuhi.

Referensi utama saya mencari hal-hal terkait tema rustic ini adalah Pinterest dan Instagram. Tinggal masukkan hashtag atau keyword yang dicari, dan voila! Keluarlah beragam referensi yang bikin nggak sabar pengen segera menikah :___)))).

Pinterest lebih diperuntukkan mencari konsep, sedangkan Instagram untuk mencari mereka yang bisa mewujudkannya. Misalnya begini. Saya mencari referensi dekor atau undangan tema rustic di Pinterest, lalu mencari vendor yang kira-kira bisa mewujudkannya. Walaupun hasilnya nggak mirip-mirip banget, ya lumayanlah suka hehe.

Jadi, tujuan tulisan ini apa? :))

Betul, memberi referensi atau rekomendasi vendor yang kemarin berjasa membantu terwujudnya acara sakral itu. Sebagian ditemukan di dunia maya, tapi nggak sedikit juga yang ditemukan di dunia nyata.

Maka, kalau kamu kurang lebih mirip saya, suka sesuatu yang lain daripada yang lain tapi bagus dan unik, menyiapkan acara dari jarak jauh, lokasi acara ada di kota kecil yang belum banyak referensi vendor wedding, semoga tulisan ini bisa cukup membantu :)

1. Bahman
Vendor yang satu ini ada di Sumedang, kota tempat acara dilangsungkan. Konon jasanya udah terkenal bagus dan ternyata keluarga saya beberapa kali bekerja sama untuk acara nikahan sodara dan khitanan.

Sebagai vendor senior yang sudah punya nama, jasa yang disediakan Bahman lengkap. Kemarin saya memakai tenda, dekorasi, katering, make up (pengantin dan keluarga), seragam keluarga dan penerima tamu, plus mobil pengantin.

Tenda, dekor, dan make up untuk saya disiapkan mulai dari acara pengajian. Meski dekor dan make upnya nggak seperti referensi dari Pinterest maupun Instagram, hasilnya cukup memuaskan dan banyak tamu yang suka. Ohya, kateringnya juga enak terutama jus jambunya yang menggunakan buah asli! Sayang saya nggak terlalu sempet mencicipi sebagian besar hidangannya :))

2. Enan Dharsita
Ini bukan vendor sih, lebih tepatnya sosok orang yang memiliki beberapa koneksi vendor pengisi acara. Kang Enan sendiri berprofesi sebagai MC dan jasanya sudah terkenal di kalangan tokoh masyarakat Bogor dan sekitarnya. Meskipun kiprahnya di sana, Kang Enan ternyata sesama wargi Sukatali (desa nenek, tempat acara) dan masih ada hubungan keluarga. Cincaylah untuk book beliau di tengah kepadatan jadwalnya :))).

Selain jasa MC Formal - Sunda mulai dari pengajian sampai resepsi, Kang Enan juga membawa 'tim hore' berupa dokumentasi foto dan video (pake drone!), pengisi acara, dan beberapa orang WO-nya yang memastikan semua acara berjalan tepat waktu.

Btw, kami nggak pakai WO khusus untuk acara sakral ini. Semua rangkaian acara Alhamdulillah dibantu oleh keluarga kedua belah pihak. Pengisi acara yang disiapkan Kang Enan juga termasuk 'prosesi' pengajian, siraman, dan adat Sunda sebelum memulai resepsi. Sesuai idaman :')

3. Aksa Bride
Inilah vendor yang ditemukan di IG berkat keukeuhnya ingin membuat undangan dengan konsep yang unik dan beda. Di antara konsep undangan rustic yang bertebaran, vendor dari Jogya ini bisa membuat undangan yang sekaligus berfungsi sebagai pembatas buku. Desain dan ilustrasinya lucu. Mereka juga cukup kooperatif melayani permintaan (baca: revisian) dari saya dan Mas LNG sebelum akhirnya undangan siap cetak dan disebarkan. Maklum, di sini terbiasa dengan urusan cetak mencetak, jadi segala tahapan prosesnya mulai dari konsep awal, desain, draft, sampai dummy perlu dicek quality controlnya supaya hasil akhirnya sesuai harapan.

4. Amethyst
Ini vendor untuk menyewa baju pengantin di Sumedang. Perihal baju pengantin ini awalnya sempat ada beberapa wacana, di antaranya cukup mengenakan satu baju sepanjang acara dan ingin jahit sendiri.

Sebelum menemukan butik mini ini, saya sebenarnya sangat tertarik dengan salah satu baju kebaya-modern-muslim-Sunda hasil berburu di IG. Nggak paham detil bahan dan printilannya, yang jelas model dan tampilan kebaya itu terlihat elegan. Saat mengontak penjahitnya, ternyata kebaya itu bukan disewa, melainkan dibuat khusus untuk kliennya. Saya juga disarankan untuk kontak langsung ke kliennya aja kalo berminat tapi gengsi lah ya. Dan takut ga muat sih hehehe.

Penemuan butik Amethyst ini berkat rekomensasi teteh make up-nya Bahman. Pada kunjungan pertama, di butik terpajang satu set kebaya modern dengam model yang cantik dan warna yang sesuai tema. Langsung deh jatuh hati dan memutuskan untuk menyewanya dengan sedikit perombakan ukuran! Untungnya saat fitting sekali-kalinya, baju pengantin prianya pas sekali di Mas LNG sehingga nggak perlu ada yang diubah. Kalo udah jodoh mah gitu ya :')

5. Dedy Pangjaitan
Sepertinya ini tukang jahit terbaik dan terefisien yang pernah saya temukan. Terletak di seberang jalan desa, Dedy Pangjaitan dipercayakan menjahit kebaya akad saya plus baju-baju Ibu dan para Ua. Mau tahu ongkos jahitnya berapa?
10%nya biaya semesteran jaman kuliah, Sodara-sodara! Murah kan? :____))) Tapi jangan salah, hasilnya nggak kalah rapi dan cantik seperti karya penjahit yang mematok harga lebih mahal.

6. Alifa Craft
Sesuai namanya, vendor hasil nemu di IG ini menyediakan beragam pilihan souvenir jadi. Pada awalnya souvenir mau yang agak rustic sih.. tapi mengingat fungsi juga penting, maka pilihan jatuh pada kipas bali warna-warni. Sebenarnya kalau search di IG, banyak vendor yang menyediakan souvenir serupa. Bedanya, Alifa Craft ini menawarkan harga yang bersahabat plus bebas ongkir untuk pengiriman ke seluruh area di Jawa! (saat itu sih..nggak tau ya kalau kebijakannya sudah berubah)

7. Tote Souve
Souvenir rustic ala-ala akhirnya bisa terwujud di acara unduh mantu di Kediri. Gelas enamel diameter 6 cm warna putih dengan desain yang bisa custom. Vendor ini dipilih karena saat itu, di tengah pencarian dadakan dan kelangkaan barangnya, hanya dia yang bisa menjamin ketersediaan gelas enamel warna putih polos. Mas LNG dan saya memang keukeuh ingin gelas enamel yang putih polos supaya kalau diberi desain custom kesannya lebih elegan dan bersih hehe.

Sebenarnya masih banyak lagi printilan dalam menyiapkan acara pernikahan dan rekomendasi vendor. Supaya nggak ribet sendiri, cobalah buat check list kebutuhannya sehingga nggak ada yang kelupaan di hari-hari terakhir. Pastikan juga segala pilihan sesuai budget dan tetap berkualitas. Jangan terlalu memaksakan, karena perjalanan ke depan masih memerlukan bekal jangka panjang. Belajar dari pengalaman saya, cobalah juga melihat potensi daerahnya dulu dalam mencari vendor-vendor pernikahan. Walau di kota kecil, ternyata ada kok para penyedia jasa yang bisa membantu kita mewujudkan pernikahan impian.

Jadi, udah beneran siap? Good luck! ;)

Berdoa untuk Jodoh

"Gue pernah denger, katanya kalo berdoa tuh yang spesifik," kata seorang teman di sela mini reunian baru-baru ini.

Di usia sepantaran kami, masalah jodoh memang menjadi topik yang selalu ramai dibicarakan. Kalau statusnya masih single available, topik bahasan biasanya seputar 5W + H Cara Mendapatkan Jodoh. Kalau salah satu ada yang sudah menemukan, topiknya akan lebih spesifik mengenai Tips & Trik Mendapatkan Jodoh. Tentu disertai bumbu-bumbu lain sehingga ceritanya jadi panjang dan lama.

Pada suatu masa, saya pernah berada di situasi di mana chit-chat dengan teman dekat hampir selalu berujung pada topik 5W + H ini. 'Galau', kalau bahasa kekiniannya mah. Umur semakin berkurang, kerjaan nggak berkurang-kurang, malah undangan pernikahan yang terus bertambah. Beberapa di antaranya dari teman dekat pula. Pada masa itu, kadang saya bersyukur hidup merantau nun jauh di sana. Mengurangi frekuensi ditanya "Kapan atuh?"! Karena yang nanya seringnya sambil senyum, maka jawabnya perlu sambil senyum dan pede juga walau belum ada bayangan sosok siapapun saat itu, "Tunggu aja. Nanti juga ada :)"

Pada suatu masa yang lebih lampau lagi (sebut saja di masa masih 'bocah'), saya juga pernah mendengar quote yang sama seperti teman saya tadi. Yang ngomong motivator pula, jadi aja langsung dipraktikkan. 

"Berdoalah yang spesifik, minta dengan detil, insyaAllah bisa lebih cepat terkabul," sarannya. Saya, yang kata orang-orang di umur segini pun masih 'polos', ya nurut aja. Meminta sesuatu kepada Sang Pemberi Segalanya dengan spesifik, detil, bahkan sampai disebutkan alasan memintanya.
 
Hasilnya?

Terkabul. Setelah beberapa bulan. Dan efeknya juga sebentar, sesingkat setelah alasan meminta dulu diperlihatkan :)))

Beberapa masa kemudian, saya tersadar bahwa mungkin yang terlalu spesifik itu belum tentu yang terbaik buat saya bila dikabulkan. Termasuk untuk urusan jodoh, yang dalam kamus saya disebutnya 'resolusi ketiga'.

Maka, saya merevisi doa untuk resolusi ketiga ini.

Bukan lagi 'segera', melainkan ketika saya dirasa oleh-Nya sudah siap. Sudah siap lebih bertanggung jawab, lebih dewasa dalam berpikir dan bersikap, juga sudah 'kenyang bermain'. 

Bukan lagi 'yang sempurna', melainkan yang bisa saya terima apa adanya sebagaimana sosok itu menerima saya seutuhnya
.
Bukan lagi 'yang terbaik versi saya', melainkan yang terbaik bagi saya versi-Nya, yang bisa menuntun saya menjadi pribadi yang lebih baik lagi dan semoga saya juga bisa mendampingi sosok itu untuk terus berkembang menjadi semakin baik.

Bukan hanya 'menjaga hati', tetapi juga menitipkan hati kepada-Nya supaya kelak bisa diberikan kepada sosok yang tepat, yang bisa menjaganya dengan baik, dan bisa saya jaga pula hati milik tersebut.

Dan jika kami pada akhirnya dipertemukan, disatukan dengan ridho-Nya, semoga semua yang kami perjuangkan dan kelak akan dijalani bisa menjadi ibadah dan bernilai berkah, bagi kami, keluarga, dan orang-orang di sekitar kami.

Yakinlah, doa yang dipanjatkan secara ikhlas dan rutin suatu saat akan dikabulkan. Doa random aja sering terkabul kok :__))) Apalagi doa yang sungguh-sungguh dan efeknya bukan hanya untuk sesaat, melainkan seumur hidup. Dan sambil menunggu doanya dikabulkan, teruslah memperbaiki diri, menebar kebaikan, memberi manfaat, dan tetap berpikir positif.

Sudah berdoa hari ini? :)

Source: Pinterest

Hi!

Blog Archive

All written by Yudistyana. Powered by Blogger.

Hello Guest! :)

Name

Email *

Message *