Teadee: Chapter 1


“Halo anak gaulnya Smawi..!! Met pagi semuanya…,” sapa Debbie yang hari itu bertugas memandu acara.

“Aduh, kok pada lemes sih? Udah sarapan belum??” seru Echa.

“Udaaahhhh…,”koor anak-anak. Ternyata teriknya matahari Kota Bercahaya nggak menurunkan semangat mereka pagi itu. Pensi tahunan yang digelar oleh  OSIS sekbid olahraga dan seni kali ini berhasil menyedot ribuan pengunjung yang sebagian besar berusia SMA. Dan untuk tahun ini, panitia menyajikan konsep pensi yang berbeda yaitu dengan menyajikan festival akustik, modern dance, dan band yang hanya diikuti oleh seluruh kelas 11.

Di atas panggung, Debbie membacakan susunan acara pensi tahun ini. Praacara akan diisi oleh penampilan Smawi Voice, grup ansambel sekolah yang sudah banyak mengikuti festival musik pelajar dan memenangkan berbagai award. Setelah pembacaan laporan dari ketua panitia dan sambutan kepala sekolah, acara langsung memasuki inti yaitu festival akustik yang kemudian disambung dengan modern dance, dan band.

Yang paling banyak diminati adalah festival band. Walau tahun ini pesertanya hanya perwakilan dari setiap kelas 11, panitia tetap menyediakan piala bergengsi ‘Smawi Band Of The Year’ kepada band yang berhasil menjadi terfavorit versi dewan juri maupun penonton. Konon, band yang berhasil memperolehnya seolah sudah mendapatkan jalan bagi karir bermusik mereka. Seenggaknya, tawaran untuk mengisi acara di pensi sekolah lain ataupun di kafe-kafe akan meningkat.

“Oke guys, sekarang kita udah memasuki acara utama yang pertama yaitu akustik! Nah, kelas mana nih yang pertama tampil, Deb?”

“Kelasnya..oh, itu dia mereka, Cha! Ada Angga, Ferdy, Danis, Alif, dan yang lainnya. Yup, langsung aja kita saksikan penampilan 11 IPA 4 yang akan membawakan lagunya Chris Brown…”

“ ‘With You’ !!”

“Tepuk tangannya dong...” seru Echa lagi.

Sama seperti penonton lainnya, Teadee, Andrea, dan Honey juga udah nggak sabar untuk menyaksikan acara utamanya. Mereka adalah tiga sahabat sejak SMP. Walau usia dan tingkat mereka berbeda, mereka tetap bisa menjaga kekompakan. Andrea dan Honey sudah duduk di bangku kelas 11 sementara Teadee satu tingkat di bawah kedua sobatnya. Agar lebih puas, ketiganya memilih menonton dari sayap kanan panggung.

“Eh, coba perhatiin deh, cowo yang main gitar warna coklat itu! Keren,ya?” kata Teadee membuka pembicaraan.

“Apanya? Pemainnya, teknik ngegitarnya, atau gitarnya?” tanya Honey.

“Gitarnya donk! Tapi cara dia metik senar cool juga… Kayak udah profesional!” puji Teadee.

“Oo..Angga! Kalo dia sih..nggak heran!” komentar Andrea setelah mengetahui cowo yang dimaksud Teadee. “Dari SD, dia memang udah ikut les gitar. Malah ngakunya, dia udah menguasai alat  musik petik itu sejak masih di dalam kandungan.”

Teadee mengangguk-angguk. Pantesan keren, komentarnya dalam hati.

“Ngomong-ngomong, elo berminat ama pemainnya juga nggak?” tanya Andrea sambil tersenyum usil.

“Nggak usah deh, makasih!”

Akustik masih berjalan. Setiap kelas berusaha menampilkan sesuatu yang ‘beda’ agar berhasil memikat penonton dan dewan juri. Seiring dengan berjalannya waktu, acara di panggung sudah berganti menjadi modern dance. Antusiasme penonton semakin meningkat. Selain karena gerakan dancenya yang keren, penampilan para dancernya sendiri menjadi daya tarik bagi penonton untuk menyaksikan penampilan mereka dari dekat.
            
Teadee terlihat bosan. Berulang kali matanya melihat ke tempat bazar. Sebagian besar yang dijual adalah makanan dan minuman ringan hasil kreasi siswa.
            
Teadee beranjak dari tempat berdirinya. “Eh, gue nyari makanan dulu ya! Pada mau nitip nggak?” tawarnya.
            
“Gue mau nyobain minuman di standnya 11 IPS 2 deh,” jawab Andrea.
            
“Sama. Tap esnya jangan terlalu banyak, ya,” pesan Honey.
            
Teadee segera melesat ke arena bazaar. Keren juga OSIS tahun ini! Pengunjungnya banyak banget!!
            
Setelah mengantri cukup lama di stand 11 IPS 2, Teadee kembali hunting makanan ringan untuk mengganjal perutnya yang sudah mulai berbunyi. Dilihatnya stand yang menjual siomay dan batagor semakn penuh sesak oleh pembeli. Takut kehabisan, Teadee segera menuju stand 10-3 itu.
            
“Siomay duaa..”
           
“Batagornya dooongg..”
           
“Pesenan gue mana??”
            
Para penjaga stand tampak kewalahan melayani pembeli yang berebut meneriakkan pesanan mereka. Melihat itu, Teadee berinsatif untuk nyempil diantara kerumunan pembeli demi mendapatkan seporsi siomay. Tangannya terjulur ke meja. Ketika menyentuh kotak makan yang menurutnya berisi somay, ia segera menariknya keluar. Namun, bungkusan itu terasa ditarik juga oleh orang lain sehingga susah diambil.
            
“Eit..ini punya gue!” Ternyata ada seorang cowo yang juga sedang memegang bungkusan itu. Seingat Teadee, ia sering melihat wajahnya. Tapi, di mana, ya?
            
“Enak aja! Orang gue duluan yang ngambil kok,” ujar Teadee. Tangannya nggak rela melepaskan bungkusan itu. Sialnya, si cowo juga berpikiran sama. Maka terjadilah tarik menarik diantara keduanya. Para penjual dan pembeli yang ada di sekitar mereka tampaknya belum menyadari keributan kecil itu. Sampai akhrnya ada seorang cowo lagi yang menghampiri mereka. Angga, yang tadi gitarnya ditaksir Teadee.
            
“Loe di sini rupanya! Lagi ngapain,sih?” tanyanya sambil melirik Teadee sekilas. Ia langsung dapat menebak apa yang baru terjadi. “Yaelah, Yog! Udahlah, ngalah aja. Masa siomay aja mesti dijadiin rebutan ama cewe? Adik kelas, pula!”
            
Oh, kakak kelas! Pantes kayak sering ngeliat. Lumayan juga! Tapi…’

“Tapi gue yang ngambil ini duluan!” protes cowo itu. Keras kepala juga tu anak.
            
“Udah deh! Nanti kan bisa beli lagi. Bentar lagi kita mau tampil,” bujuk Angga.
            
Cowo itu mulai menghilangkan emosinya. “Oh iya! Kita tampil pertama, ya? Aargh..siapa sih yang ngambil undiannya kemarin?”
            
“Kan elo yang ngambil! Yuk, buruan ke back stage! Anak-anak udah pada nungguin tuh,” ajak Angga.
            
Akhirnya siomay itu diberikan kepada Teadee. Teadee senang sekaligus heran. Kenapa cowo itu ngeliatin dia dengan tatapan sinis, ya? Dia nggak rela, atau…

 🎸🎸🎸

Teadee kembali ke tempat duduknya. Dengan nada kesal, ia menceritakan insiden siomay – begitu Teadee menyebut kejadian tadi – kepada kedua sobatnya. Andrea dan Honey malah tertawa mendengarnya. Obrolan mereka terputus saat band pertama tampil.

“Selamat siang semua…!!!” sapa sang vokalis. “Kami Impressive band dari 11 IPA 4 akan membawakan lagu yang pasti udah akrab banget di telinga kalian.”
            
Tepuk tangan penonton terdengar di sana-sini.
            
“Sebelumnya gue akan memperkenalkan para personil kami. Yang paling jangkung sekaligus jayus, drummer kami, Terry. Lalu ada Peter di Rhytm, Eran di bass, serta di sebelah kiri gue, Angga di melody. Dan yang terakhir…Gue sendiri donk! Yoga sang vokalis; keren, smart, masih single pula!”
            
“Huuu…,” sorak penonton. Yang disoraki malah cengar-cengir pede. Sementara Teadee tersedak oleh siomay yang sedang dinikmatinya.
            
“Apa? Keren? Pede amat tu orang!” celetuknya.
            
“Yee..kok gitu seehhh…?? Ya udah, langsung aja lagu pertama dari kami, ‘She Will be Loved’ miliknya Maroon 5! Tepuk tangannya donk…,” seru Yoga.  Nggak lama kemudian, permainan Impressive sudah terdengar di seantero halaman sekolah. Penonton yang hafal liriknya ikut bernyanyi menikmati lagu yang mereka bawakan. Terlihat juga beberapa panitia pensi sedang membagi-bagikan kertas polling kepada penonton.
            
Teadee memalingkan muka dari arah panggung.

“Kenapa loe, Tea?” tanya Honey.

“Tu orang, kepedean banget!!” jawabnya.

Andrea mengangguk mengiyakan. “Iya, tapi kayaknya ada yang perlu dia ralat tadi. Kalo soal smartnya sih, gue bisa percaya! Tapi kerennya? Hmm…nggak deh kayaknya… . Lagian, dia bukannya masih single, tapi baru diputusin!”
           
“Dan keras kepala, nggak mau ngalah, nyebelin!” tambah Teadee berapi-api.
            
“Maksud loe?” tanya Honey.
            
“Dia tuh, yang nyaris ngerebut siomay gue!” emosi Teadee mendadak muncul lagi. Dan sama seperti saat ia menceritakan insiden itu, Andrea dan Honey malah tertawa melihat keadaan Teadee yang kembali emosi ini.
            
“Oh…jadi cowo yang elo maksud itu Yoga ‘Pesu’!” kata Andrea di sela tawanya.
            
“ ‘Pesu’? Dia dipanggil ‘Pesu’? Kok bisa? “ tanya Teadee.
            
“Menurut cerita temen gue dulu, itu gara-gara nasibnya mirip Pesu, guk-guknya Hagemaru!”
            
Teadee tertawa kecil mendengarnya.
            
“Saking solidernya ama temen, dia selalu mau kalo dimintain tolong ama temennya. Tapi seringnya, malah dia sendiri yang akhirnya  ketiban sial dan perlu pertolongan!”
            
Tawa Teadee makin keras. Ia nggak sadar kalau Yoga sempat meliriknya sekilas.
            
Penampilan Impressive siang itu sanggup menghibur penonton. Di sela suara Yoga, terdengar suara ‘backing vokal dadakan’ alias para penonton yang ikut bernyanyi. Lampu blitz dari kamera reporter majalah sekolah, mading, dan penonton cewe juga turut mewarnai penampilan mereka.
            
Impressive band memainkan lagu kedua mereka. Mau nggak mau Teadee dan Andrea kini memperhatikan mereka dengan seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Eh,salah! Bukan gitu ding! Maksudnya, kedua cewe  itu memperhatikannya dengan amat sangat cermat sekali, nyaris nggak berkedip. Kini Yoga cs memainkan lagu lama milik Peterpan, ‘Topeng’. Andrea memang penggemar berat band asal Bandung yang kini sudah berganti nama itu sedangkan satu – satunya lagu Peterpan yang disukai Teadee adalah lagu kedua yang akan dibawakan Impressive.

“Cie..nyanyi lagu favorit, nih!” goda Honey. Andrea dan Teadee tetap memfokuskan pandangan mereka ke panggung. Merasa dicuekin, Honey pun memilih ikut memperhatikan penampilan Impressive. Barulah ketika band itu meninggalkan panggung, Honey menanyai pendapat kedua sobatnya.

”Gimana? Udah sesuai ama band aslinya belum,tuh?” Kalo menurut Honey sendiri, Yoga seharusnya nggak menyanyikan lagu itu tadi. Fales banget!

Teadee menarik nafas. “Satu kata : FALES!!” serunya. Tanpa dia sadari, Yoga sempat menatapnya tajam dari balik panggung. Apa dia mendengar pendapat Teadee barusan, ya?

“Ah, payah banget sih! Kalo nggak ngerti nadanya, harusnya Pesu nggak usah maksa nyanyi lagu itu,” komentar Andrea kecewa. “Tapi aransemen musiknya keren juga! Pasti kerjaannya Angga.” Honey hanya tersenyum kecil mendengar komentar kedua sobatnya.

Satu per satu grup band dari tiap kelas tampil. Andrea dan Honey menyemangati wakil dari kelas masing- masing saat band dari XI IPA 2 dan XI IPA 1 tampil. Saat band terakhir tampil membawakan lagu terakhir, Teadee teringat bahwa ia dimintai tolong oleh salah satu temannya yang juga menjadi panitia pensi. Temannya itu meminta bantuan Teadee untuk menghitung hasil polling band terfavorit versi penonton yang nantinya berhak mendapatkan piala ‘Smawi Band Of The Year’.

“Eh, gue mau bertugas dulu, nih! Ikut yuk, ngebantuin. Lagian, kalian panitia pensi juga kan?” ajak Teadee.

“Yah, walaupun sebenernya ini bukan tugas kita, nggak papa deh! Moga aja nggak sesial Pesu nanti,” kata Honey.

Teadee menarik lengan kedua sobatnya. “Ayolah..nggak bakal ada kesialan, koq! Kan di sini udah ada Dewi Fortuna!” Teadee mengedipkan mata.
            
Akhirnya Andrea dan Honey beranjak dari tempat duduk mereka. Di bawah terik matahari, mereka berjalan menembus kerumunan penonton yang masih menikmati beberapa acara tambahan berupa tari tradisional dan kabaret. Ketiganya mencari Elda, teman Teadee yang meminta bantuan kepadanya. Setelah bertemu, Elda menyerahkan dua kotak yang sudah penuh berisi kertas polling.

 🎸🎸🎸

Satu jam sudah Teadee, Andrea, dan Honey duduk di sebuah ruang kelas baru di lantai dua gedung baru. Ruangan itu masih kosong, belum ada satupun peralatan di dalamnya.
            
“Hmm..kayaknya pendukung Impressive banyak juga,” kata Teadee. Di hadapannya berserakan potongan- potongan kertas dari salah satu kotak yang tadi diserahkan Elda.
            
“Yang mendukung band kelas gue juga banyak,” kata Honey sambil memisahkan kertas yang bertuliskan nama band dari XI IPA 1.
            
“Lebih banyak pendukung IPA 2,donk..,”kata Andrea nggak mau kalah. Keduanya terus menghitung sambil berdebat sampai Echa masuk ke ruang itu.
            
“Oi, ngitungnya udah selesai belum? Bentar lagi kita mau ngumumin pemenang band favorit, nih!” serunya ngos – ngosan.
            
“Belum semuanya, sih! Tapi kayaknya Impressive yang menang,deh! Banyak banget yang milih mereka. Tunggu sepuluh menit lagi, ya?” kata Teadee. Echa mengangguk setuju. Dengan cekatan Teadee menulis hasil polling yang telah dihitung olehnya bersama Andrea dan Honey.
            
Sepuluh menit kemudian, Echa masuk dan kembali menanyakan hal yang sama. Dengan mantap Teadee menjawab Impressivelah yang berhak mendapatkan pialanya karena band itu berhasil mendapat dukunga sekitar 45% dari total penonton yang memilih. Echa segera kembali ke panggung. Teadee, Andrea dan Honey menyusul setelah mereka membereskan ruangan.
            
Di atas panggung, Debbie sedang mengumumkan peserta akustik dan dance terbaik versi dewan juri yang terdiri dari Pak Melo guru seni musik, Bu Iin guru seni tari, serta salah seorang alumnus Smawi. Wakil dari kelas Honey terpilih menjadi peserta akustik terbaik sedangkan para dancer dari kelas Andrea dinobatkan sebagai dancer terbaik tahun ini. Penonton cukup puas dengan keputusan itu dan memberikan tepuk tangan kepada para pemenang. Namun mereka masih dilanda rasa penasaran, band mana yang akan mendapat piala bergengsi itu. Melihat Echa datang membawa sebuah amplop, mereka makin penasaran.
            
“Akhirnya yang kita tunggu datang juga,” seru Debbie.
            
“Yap! Sekarang gue dan Debbie bakal mengumumkan band mana yang merhak menyandang predikat sebagai band terfavorit di Smawi tahun ini,” kata Echa.
            
Dengan hati – hati Echa membuka amplop di tangannya. Debbie ikut membantu. Setelah menarik nafas panjang, barulah mereka membacakan hasil polling kepada penonton.
             
“Dan…band terfavorit di Smawi tahun ini adalah..”
            
“Impressive dari XI IPA 4!!!” seru kedua MC itu serempak. Penonton bertepuk tangan dengan meriah termasuk Teadee, Andrea, dan Honey.
            
Layaknya pemenang Grammy, satu per satu para personil Impressive naik ke atas panggung. Mereka terlihat cool kecuali Terry dan Yoga. Kedua personil itu melambaikan tangan kepada para supporternya seperti seorang superstar yang sedang menyapa para fansnya. Dari raut muka keduanya, Honey bisa membaca bahwa sebenarnya mereka sendiri nggak menyangka akan mendapat award itu. Namun, tentu aja mereka sangat gembira! Senyum terus tersungging dari bibir keduanya.
            
“Thank you! Matur nuwun! Gracias! Mercy! Xie –xie! Makasih semuanya..,” seru Yoga setelah menerima piala Smawi Band Of The Year 2008. Teman – teman sekelasnya bersorak sorai menyambut kemenangan Impressive. Yoga cs turun dari panggung dan segera bergabung dengan mereka.
            
“Oke deh..selamat ya buat Impressive! Tingkatkan terus prestasinya,” kata Echa.
            
“Dan teman – teman, akhirnya selesai sudah pensi Smawi tahun ini. Sekali lagi, selamat buat para pemenang! Sampai jumpa di pensi Smawi tahun depan yang so pasti lebih keren lagi. Bye…”
            
Terdengar lagu This Love mengalun mengiringi pengunjung yang berdesakan menuju pintu keluar. Dengan penuh semangat ’45, Teadee menarik lengan dan tas kedua sobatnya menuju pintu gerbang Smawi. Belum sempat Andrea dan Honey berdiri, Echa kembali ke atas panggung untuk mengumumkan sesuatu.
            
“Eh sori, tadi ada yang kelupaan! Ini ada pesan dari Pak Melo. Kata beliau, seluruh panitia pensi diharapkan kumpul di depan panggung. Jangan ada yang pulang dulu.”
            
Seketika terdengar keluhan di mana – mana, termasuk dari mulut Andrea.
            
“Duh..males banget deh! Paling disuruh ngumpulin sampah – sampah. Pulang aja yuk,” kata Andrea. Teadee menyetujui usul itu.
            
“Hayu! Gue juga udah pegel – pegel nih..,” keluh Teadee.
            
Honey jelas nggak menyetujui ajakan kedua sobatnya. “Nggak boleh gitu, donk! Kita kan udah dikasih kepercayaan jadi panitia pensi. Jadi, udah seharusnya kita bertanggung jawab ama semua yang diamanatkan ke kita. Termasuk sekarang kumpul di depan panggung,” kata Honey bijak. Gantian dia yang menarik Andrea dan Teadee. Dalam hati Teadee menolak. Dia kan, bukan panitia! Kenapa jadi ikut – ikutan gini?
            
Tapi nggak papalah. Anggap aja amal. Lagian gue juga ogah pulang sendiri, batin Teadee.


🎸🎸🎸

“Huaahh…capeknya!” Teadee menghempaskan diri ke jok belakang angkutan kota yang ditumpanginya. Hari itu ia dan ketiga sobatnya memang memilih naik si ijo – ijo, sebutan Teadee untuk angkot yang biasa dia tumpangi ke sekolah. Berhubung harga BBM naik, mereka juga harus semakin berhemat.
            
“Hmm…gue jadi tertarik ngeband, nih! Asyik kali, ya,” kata Teadee. Pandangannya menerawang keluar.
            
“Emang loe bisa main alat musik apa gitu?” tanya Honey.
            
“Belum ada yang bisa, sih… . Gue pengennya main bass kalo nggak drum sekalian!” jawab Teadee bersemangat.
            
“Ngg…gini ya, Tea! Gue nggak bermaksud mematahkan semangat loe dalam bermusik. Tapi, niup recorder sopran aja loe selalu fales, gimana mau main alat band yang kayak gitu?” celetuk Andrea santai.
            
“Yaaa…itu sih beda…,” kata Teadee mencoba membela diri.
            
Melihat raut muka si tomboy berubah, Honey mencoba mengembalikan semangatnya lagi. “ Tenang aja, Tea! Sekarang banyak koq music course yang bisa melatih kita main gitar, keyboard, bahkan drum.”
            
“Nah, tuh kan! Gue bisa ikut les,” kata Teadee kembali ceria.
            
“Eh, loe beneran mau ikut les musik?” tanya Andrea.
            
“Emang kenapa?”
            
“Masalahnya, gue disuruh bokap ikutan les musik juga. Kalo loe beneran mau ikut, kita kan bisa les bareng,” jawab Andrea.
            
“Eh, kata temen gue, ada music course baru loh! Lokasinya masih di dalem komplek kita, lagi. Tapi sebagian besar muridnya cowo..,” kata Honey. Teadee dan Andrea berpandangan sejenak. Tak lama kemudian, senyum mereka mengembang.
            
“Wah…boleh juga,tuh!” seru Teadee.
            
“Asal nggak ada anak Smawi yang lain terutama yang seangkatan ama kita, bolehlah,” kata Andrea.
            
“Kalo gitu, nanti sore kita ke sana, yuk!” ajak Teadee.
            
“Kita? Nggak deh, loe ama Andrea aja. Gue nggak berminat klo main musik,” tolak Honey. “Kalo cuma menikmati doang, baru gue  suka!”
            
“Yee…kalo gitu sih, gue juga suka!” kata Andrea.
            
“Ayolah, Hon! Nanti kita bikin band cewe. Keren kan? Kali aja bisa nyaingin Impressive,” ajak Teadee.
            
“Loh,koq jadi nyambung ke Impressive? Ada apa, nih?” goda Honey.
            
Teadee langsung berkelit. “Ah, enggak. Gue males aja ngeliat lagak mereka pas nerima piala tadi.”
           
“ ‘Mereka’ atau vokalisnya doank?” kata Honey lagi.
            
“Mereka!” jawab Teadee tegas.
            
“Oh ya? Gue malah ada firasat, mau nggak mau nanti kita berurusan ama mereka setelah ikut les musik itu,” kata Andrea.
            
“Idih, jangan ngomong kayak gitu, ah!” Dalam hati Teadee berharap firasat Andrea tidak terwujud.
            
Obrolan mereka terhenti karena angkot yang mereka tumpangi sudah sampai di terminal khusus angkot. Dari situ, mereka harus berjalan kaki lagi sekitar 15 menit menuju Perumahan Griya Bercahaya, tempat mereka tinggal. Sambil bejalan, mereka biasanya membicarakan banyak hal. Mulai dari pelajaran, gossip di sekolah, sampai kegiatan mereka masing – masing. Kadang kalau masih ada sisa uang saku, mereka mampir dulu di warung es doger yang murah meriah. Lumayan, bisa mengurangi rasa haus di tengah teriknya Kota Bercahaya itu.

 🎸🎸🎸

Seminggu setelah pensi, barulah Teadee dan Andrea mendaftarkan diri di music course yang dimaksud Honey. Namanya ‘Gidruki Music Course’. Sebenarnya tempat itu hanya rumah tinggal biasa yang bertingkat. Lantai dasar rumah itulah yang dimanfaatkan si empunya rumah sebagai tempat kursus musik, serta menyimpan alat – alat band. Di lantai dasar itu hanya terdapat ruang tamu, toilet, rak – rak buku, dapur, dan sisanya dijadikan tempat kursus. Tempat belajar yang luas itu dilapisi karpet dan dibagi lagi menjadi lima ruangan kecil dengan dibatasi sekat. Setiap ruangan diberi nama dengan beberapa tokoh musik dunia. Ada ruang Beethoven, Chopin, Hayden, Mozart, dan Schubert.
            
Teadee dan Andrea berbincang- bincang dengan pengajar tunggal sekaligus pemilik music course itu. Dia cowo. Orangnya ramah, murah senyum lagi. Usianya juga belum terlalu tua. Mungkin seumuran dengan kakak kedua Teadee. Makanya kedua cewe ini memanggilnya ‘kakak’. Sayangnya si kakak nggak mau menyebutkan nama lengkapnya. Dia lebih suka dipanggil Unai atau Ka Unai.
            
Seperti biasa, Teadee dan Andrea gugup pada awalnya. Mereka belum menyiapkan kata – kata untuk menyampaikan maksud kedatangan mereka. Untunglah keramahan Ka Unai bisa membuat keduanya sedikit tenang.
            
“Halo! Please introduce yourself,” sambut Ka Unai.
            
“Teadee.”
            
“Andrea.”
            
Ka Unai mengangguk – angguk dan menunggu ucapan mereka selanjutnya. Akhirnya Teadeelah yang menyampaikan maksud kedatangan mereka.
            
“Gini, Ka! Kita berdua pengen banget jago main gitar, tapi masalahnya kita belum pernah nyoba sama sekali,” kata Teadee.
            
“Sama sekali?”
            
“Yaa..paling gonjrang – gonjreng nggak jelas gitu,” kata Andrea.
            
Ka Unai tersenyum kecil mendengarnya. Ia beranjak mengambil sebuah gitar akustik berwarna cokelat.
            
“Coba sekarang kalian ke dalam, ambil dua gitar akustik kayak gini yang warnanya item,” kata Ka Unai. Dalam sekejap Teadee dan Andrea mencari gitar yang dimaksud. Namun mereka kembali hanya dengan satu gitar.
            
“Yang satu senarnya ada yang putus Ka,” kata Andrea. “Trus sekarang ngapain?”
            
Belum sempat Ka Unai menjawab, Teadee sudah memotongnya. “Waduh, jangan suruh main dulu, Kak! Kita nggak bisa sama sekali.”
            
Walau begitu, Ka Unai tetap menyuruh mereka memetik senar demi senar secara bergantian. Ka Unai juga mulai mengajarkan teknik – teknik dasar bermain gitar. Awalnya, Teadee dan Andrea memetik senar dengan satu tangan. Setelah dianggap lancar, mereka mulai diberikan materi tentang kunci – kunci gitar.
            
“Ka, udah berapa lama jago main gitar?” tanya Andrea di sela – sela latihan.
            
“Ah, segini tuh masih belum jago,” jawab Ka Unai, “Masih banyak yang harus Kakak pelajari. Tapi kalo dibandingin ama teman – teman Kakak, emang Kakak yang paling jago…”
           
“Belajarnya otodidak atau ikut les kayak gini?”
            
“Belajar dari orang lain pernah, tapi seringnya belajar dari buku. Ada tuh bukunya, tebel banget. Setebel Harry Potter jilid 3, tapi ukurannya lebih besar lagi.”
            
“Ckckck…rajin amat, Ka! Kalo kita sih, hehe, mendingan baca komik, deh!” celetuk Teadee sambil memandang Andrea yang mengangguk tanda setuju.
            
“Oh iya Ka, selain kita berdua, ada lagi nggak anak Smawi yang les gitar di sini? Terutama yang kelas 11,” kata Andrea.
            
“Hmm…siapa, ya?” Ka Unai tampak berpikir sejenak. “Kayaknya minggu ini cuma kalian berdua, deh! Anak Smawi jarang yang belajar gitar kayak gini. Paling mereka minta dilatih ngeband buat tampil di pensi atau ikut festival gitu.” Ka Unai beranjak ke atas dan menyuruh kedua murid barunya mempelajari beberapa materi darinya.
            
Teadee mengerahkan 80 % tenaganya ke tangan kiri yang sedang ia gunakan untuk menekan senar – senar gitar. Dia masih belum bisa membunyikan kunci G seperti yang dicontohkan Ka Unai tadi. Sementara itu, Andrea asyik berkeliling melihat keadaan rumah Ka Unai yang menurutnya unik itu.
            
“An, sini donk,” panggil Teadee.
            
“Apaan?” jawab Andrea malas – malasan.
            
“Ke sini bentar deh…”
            
Andrea menoleh sekilas ke arah Teadee. Ia terseyum begitu menyadari maksud sobatnya itu.
            
“Iya, gue tau! Nanti aja gantiannya, kalo loe udah bisa ngebunyiin kunci G kayak Ka Unai.”
            
“Ah, tau aja loe,” kata Teadee. “Tapi beneran deh, loe ke sini dulu. Ada yang mau gue omongin. Penting!” pinta Teadee.
            
Andrea mulai kesal. “Rese! Ada apaan lagi?”
            
“Pulang, yuk! Udah sakit nih jari – jari gue,” kata Teadee memasang tampang tak berdosa. Satu jitakan mendarat di kepalanya.
            
“Wadoww…sakit tau!” Belum sempat Teadee membalas, Andrea sudah menghindar sambil tersenyum jahil.
            
“Gimana sih…kan dulu elo yang niat banget pengen bikin band ampe dibela – belain ikut les gitar di sini! Masa sekarang minta pulang?” kata Andrea.
           
“Tapi jari – jari gue…”
            
“Kenapa jari – jarinya?” tanya Ka Unai yang tiba – tiba muncul.
           
“Enggak koq, nggak papa, Ka,” jawab Teadee segera.
            
“Gimana latihannya? Udah lancar berapa kunci?”
            
Teadee dan Andrea berpandangan sejenak.
            
“Baru dua…,” jawab mereka kompak.
            
“C ama D minor,” tambah Teadee.
            
Ka Unai hanya tersenyum maklum. Dalam hati ia sedikit khawatir kedua muridnya kesulitan mengikuti materi yang ia berikan.
            
Ada sedikit rasa bersalah dalam diri Teadee dan Andrea setelah melihat ekspresi kurang puas Ka Unai. Sebenarnya mereka sudah hafal posisi jari semua kunci yang telah diberikan Ka Unai. Namun yang berhasil mereka bunyikan dengan baik hanya kedua kunci itu tadi.
            
Sebelum hari semakin gelap, kedua murid baru Gidruki itu memutuskan untuk pamit. Mereka sempat bertukar nomor HP dan alamat email dengan Ka Unai. Setelah meninggalkan rumah itu, Teadee terus mengocehkan jari jemarinya yang lecet di sana sini sementara Andrea menceritakan album foto milik Ka Unai yang berisi foto – foto ketika guru mereka itu mengikuti berbagai festival musik.

Blog Archive

All written by Yudistyana. Powered by Blogger.

Hello Guest! :)

Name

Email *

Message *