Kami tiba di Kampung Cakrawala, sebuah kampung di Selatan daerah pengasinganku yang seluruh penduduknya perempuan dan anak-anak. Tampak kesibukan mewarnai sore yang beranjak malam hari itu. Beberapa perempuan memanggul hasil alam dibantu anak-anak. Yang lain terlihat sibuk menyiapkan makan malam, terlihat dari asap yang membumbung dari tempat tinggal mereka.
“Selamat datang di Kampung Cakrawala,” seorang perempuan tua menyambut kami ramah. Usianya mungkin di atas Sang Ratu, tapi semangatnya masih terlihat membara. Sedikit ragu, aku dan Ksatria Tak Berkuda melangkah masuk. Namun, keramahan perempuan tersebut membuat kami dengan cepat beradaptasi di kampung itu.
Selain Ksatria Tak Berkuda, ternyata ada beberapa lelaki yang sedang berkumpul di dekat rumah perempuan tua itu. Sepertinya akan ada perjamuan. Sedikit gugup, aku dan Ksatria Tak Berkuda bergabung bersama mereka.
“Ada yang kau kenal?” bisik sang Ksatria. Aku menatap sekeliling dan menggeleng lemah. Tempat ini benar-benar asing bagiku.