Friday, March 18, 2016

Cerita Putri Pena: Halo Putri!

Halo Putri! Apa kabar?
Terdengar klise ya. Tapi sejujurnya aku bingung harus mulai menulis dari mana. 
Baiklah, bagaimana kalau dimulai dengan pertemuan tak sengaja kita kemarin di air suci? Sungguh tak disangka ya, kita bisa bertemu lagi di sana. Sedang apa kau saat itu? Bersama para sahabatmu dari berbagai kerajaan dan negara?

Thursday, March 17, 2016

Cerita Putri Pena: Mimpi

Belakangan ini, tidurku sering dihiasi mimpi. Dengan tokoh-tokoh yang sama, tapi jalan cerita yang berbeda. Sang Ksatria dan para sahabatku.
Yang pertama dan paling sering hadir dalam mimpiku beberapa hari ini adalah Ksatria Tak Berkuda. Biasanya, ia mengunjungiku dalam mimpi jika kami tak bisa bertemu dalam jangka waktu yang lama. Kedatangannya ke mimpiku ini cukup aneh mengingat baru beberapa hari yang lalu kami bertemu di Hutan Hijau.
Mimpiku tentangnya beragam. Kadang bermimpi melihatnya tertawa sambil menceritakan sesuatu padaku. Di lain hari, aku bermimpi ia mengajak berpetualang ke negara jauh, suatu tempat yang belum pernah kami kunjungi, selama beberapa hari. Dan wajahnya begitu bersemangat. Pernah juga aku bermimpi hanya bisa melihatnya tertidur pulas, seperti kelelahan akan sesuatu. 

Wednesday, March 16, 2016

Cerita Putri Pena: Hadiah Hari Lahir

Beberapa hari yang lalu adalah hari lahirku. Dengan atau tanpa perayaan, satu hari tersebut selalu berarti bagiku. Ada dua hal yang aku sukai pada hari itu, cuaca cerah seharian dan ucapan selamat serta doa dari berbagai kerabat dan sahabat.
Salah satu ucapan selamat yang membuatku tersenyum hari itu datang dari Putri Tutur. Sudah pernah kuceritakan sekilas tentangnya bukan? Sayangnya ia masih dalam masa pengasingan sehingga tidak bisa ikut merayakan hari lahirku di Kerajaan Tulis. 
Seperti kebanyakan surat yang datang ke paviliunku, Putri Tutur mengucapkan selamat dan menghadiahiku dengan doa-doa. Di akhir suratnya, sepertinya dengan rasa ingin tahu yang tinggi seperti biasa, ia menulis: apakah ia ikut merayakan hari lahirmu? apa hadiah darinya? Tanpa perlu kutanyakan, tentulah yang ia maksud adalah Ksatria Tak Berkuda.

Tuesday, March 15, 2016

Cerita Putri Pena: Pusat Pemerintahan Negeri 1000 Dagang

Halo, apa kabar?
Cuaca di Kerajaan Tulis sedang kurang baik belakangan ini. Kesehatanku pun sedikit menurun. Tapi, aku masih memiliki semangat untuk berbagi cerita denganmu. Kau pun masih ingin mendengarkannya bukan?
Jadi, sekarang aku telah kembali ke Kerajaan Tulis. Sang Raja telah mencabut masa pengasinganku beberapa minggu lalu. Sungguh senang sekali rasanya saat menerima surat pemberitahuan itu! Bagaimanapun, aku sangat merindukan Kerajaan Tulis dengan segenap suka duka yang ada.
Dan hadiah dari Ksatria Tak Berkuda seakan melengkapi kebahagiaanku. Ia mengajakku ke negerinya! Bukan sekedar datang, melainkan masuk dan berkeliling ke pusat pemerintahan Negeri 1000 Dagang.

Monday, March 14, 2016

Cerita Putri Pena: Negeri 1000 Dagang

selalu menyenangkan rasanya mengunjungi negeri 1000 dagang dan bertemu ksatria tak berkuda. tak ada rasa khawatir tersesat di negeri nan luas itu. panas matahari yang seakan selalu berada tepat di atas kepala pun seolah tak mengganggu kebersamaan kami.
hampir seharian tadi kami bersama. menjelajahi negeri tempat tinggalnya. bahkan, aku berkesempatan masuk ke wilayah pusat pemerintahannya. sibuk, seperti dugaanku. banyak orang berlalu lalang. entah siapa saja mereka.

Sunday, March 13, 2016

Cerita Putri Pena: Kunjungan ke Pengasingan #2

Kami tiba di Kampung Cakrawala, sebuah kampung di Selatan daerah pengasinganku yang seluruh penduduknya perempuan dan anak-anak. Tampak kesibukan mewarnai sore yang beranjak malam hari itu. Beberapa perempuan memanggul hasil alam dibantu anak-anak. Yang lain terlihat sibuk menyiapkan makan malam, terlihat dari asap yang membumbung dari tempat tinggal mereka.
“Selamat datang di Kampung Cakrawala,” seorang perempuan tua menyambut kami ramah. Usianya mungkin di atas Sang Ratu, tapi semangatnya masih terlihat membara. Sedikit ragu, aku dan Ksatria Tak Berkuda melangkah masuk. Namun, keramahan perempuan tersebut membuat kami dengan cepat beradaptasi di kampung itu.
Selain Ksatria Tak Berkuda, ternyata ada beberapa lelaki yang sedang berkumpul di dekat rumah perempuan tua itu. Sepertinya akan ada perjamuan. Sedikit gugup, aku dan Ksatria Tak Berkuda bergabung bersama mereka.
“Ada yang kau kenal?” bisik sang Ksatria. Aku menatap sekeliling dan menggeleng lemah. Tempat ini benar-benar asing bagiku.

Saturday, March 12, 2016