Wednesday, March 2, 2016

Cerita Putri Pena: Ketika Semesta Bekerja

demi semesta dan segenap isinya! aku bertemu lagi dengan ksatria tak berkuda!
hari ini aku menghadiri undangan jamuan makan dari para pangeran dan puteri yang pernah mengikuti konferensi pembangunan dunia beberapa bulan lalu. sahabatku, putri citra, juga diundang dan hadir karena ia sudah kembali dari negeri timur.
semua sepakat jamuan diadakan di hutan hijau. di mana lagi suasana yang tenang dan damai selain di hutan nan teduh itu? 
tempat yang tertera di undangan adalah di belakang air terjun satu-satunya di hutan hijau. sayangnya, tempat itu ternyata ramai dipenuhi oleh pedagang dari berbagai penjuru dunia yang sedang bertransaksi. tidak, jangan di situ.
tempat kedua adalah di sebuah gua kecil di dekat gua kaki. sayangnya, lagi-lagi tempat itu tidak bisa didekati untuk sementara waktu karena konon ada induk singa yang baru melahirkan di sekitar situ.
setelah memutar otaak dan berdiskusi singkat, akhirnya kami menemukan sebuah tempat yang terlihat cukup nyaman di tepi sungai bening. selain tidak terlalu ramai, sungai bening begitu jernih dan tenang sehingga membuat siapapun yang berada di tepinya sulit beranjak.
karena jamuan akan dimulai setelah matahari terbenam, beberapa pangeran dan putri memutuskan untuk berjalan-jalan terlebih dahulu di sekita hutan hijau. aku sendiri lebih memilih menikmati pemandangan sejuk dari aliran sungai itu. mencoba membuat tulisan sambil sedikit berkhayal seandainya ada ksatria tak berkuda di sini karena sepertinya masa-masa seperti sekarang sedang banyak diadakan jamuan…
…sampai aku menoleh ke kiri, ke arah seekor rusa sedang asyik meminum air sungai. sesosok tegap dengan jubah merah dan pedang tersarung rapi di pinggang bagian kiri hadir. berhenti sebentar di tepi sungai, melihat sekilas ke arahku, kemudian berjalan menjauh. seperti sedang mencari sesuatu atau seseorang.
ksatria tak berkuda! itukah dia? mungkin keinginan yang terlalu kuat untuk bisa bertemu dengannya lagi membuat penglihatanku seperti melihat sosoknya. tapi, mengapa jantungku mendadak berdegup kencang? perasaan yang hanya muncul jika aku sedang di dekatnya…
jamuan dimulai. aku mencoba menepis kenyataan yang kualami tadi. berbaur dengan canda tawa para pangeran dan putri. tapi, mengapa hatiku berkata bahwa penglihatanku tidak salah?
semesta menjawabnya ketika aku hendak mengambil air suci sebagai buah tangan bagi sang raja. tempat air suci masih di sekitar sungai bening, hanya beberapa meter dari tempat jamuan. karena cukup banyak orang yang juga akan mengambil air suci, aku tidak mau berlama-lama. setelah mengambil air, aku menoleh ke belakang…
dan di situlah dirinya berada. sedang menunggu giliran untuk mengambil air suci juga rupanya. ksatria tak berkuda.
“hey, ksatria” ini benar dirimu, kan?
“hai. kau…di sini juga?”
“iya, ada jamuan makan…” oh semesta! mengapa mendadak susah berkata-kata?
“oh, aku juga”
“hmm..baiklah. aku kembali ke teman-temanku ya. sampai jumpa” bukan! bukan itu yang ingin kukatakan! bagaimana kabarmu, ksatria? sehatkah? bahagiakah? apakah perasaanmu juga sama denganku saat ini?
aku kembali ke jamuan makan. melihat putri citra sudah selesai dengan hidangannya, aku tak dapat menahan diri lagi untuk menceritakan kejadian tadi.
putri citra memang sahabat terbaik! dengan sabar ia mendengarkan ceritaku dan menanggapinya dengan antusias pula. bahkan ia penasaran ingin melihat sang ksatria. jadi, aku mengajaknya ke tempat air suci. sayang, ksatria tak berkuda sudah tidak ada di sana dan aku tidak tahu di mana jamuan yang ia hadiri itu. 
waktu terus berjalan sampai bulan mulai memancarkan cahayanya yang indah, pertanda sebaiknya kami meninggalkan tepi sungai dan hutan hijau. namun, rasanya sulit sekali untuk beranjak karena perbincangan dengan para pangeran dan putri masih ramai. di seberang sungai, kulihat sekelompok orang berjubah berjalan menjauhi sungai bening. sepertinya teman-teman sang ksatria. berarti ia pun sudah meninggalkan sungai bening, pikirku sedih.
putri citra ikut melayangkan pandangan ke seberang sungai. “yang mana ksatria tak berkuda? aku tidak bisa menemukannya”
“terlalu ramai, akupun sulit menemukannya,” jawabku sambil tetap berusaha mencari sosok yang selama ini aku rindukan itu. tapi aku pasti bisa menemukannya, lanjutku dalam hati.
“putri, aku pamit ya.” tiba-tiba sebuah suara yang kukenal muncul di belakangku. ksatria tak berkuda! apakah ia tahu aku mencarinya?
“oh, eh, baiklah ksatria, hati-hati di perjalanan”
setelah melemparkan senyum khasnya, ia pun menjauh dan kemudian menghilang dari pandanganku.
sesampainya di kerajaan tulis, aku tak henti mengucapkan syukur dan berterima kasih kepada semesta atas izinnya mempertemukan kami lagi. setelah berulang kali meminta, berharap, akhirnya kesempatan itu datang lagi. ingin rasanya menghentikan waktu untuk sementara agar aku bisa mengobrol banyak dengannya. berbagi cerita, berbagi dukungan, berbagi suka duka…
terima kasih untuk selalu menjaganya, semesta. ia masih tetap seorang ksatria yang terlihat dingin, tetapi sebenarnya hangat. terima kasih untuk mempertemukan kami kembali setelah sekian lama, semesta. rasa ini ternyata masih ada padaku, dan kuharap masih ada padanya. 

Tuesday, March 1, 2016

Cerita Putri Pena: Kalau Saja

kalau saja kemarin aku ke hutan hijau seperti biasa, aku bisa belajar membuat syair lagu bersama pujangga ternama yang juga adalah guruku
kalau saja kemarin aku belajar membuat syair lagu seperti biasa, aku bisa menciptakan lagu-lagu riang gembira
kalau saja kemarin aku berhasil menciptakan lagu riang gembira, aku bisa melupakan tentang ksatria tak berkuda
sayangnya, kemarin aku tidak ke hutan hijau, tidak belajar membuat syair lagu, dan tidak berhasil menciptakan lagu riang gembira
kalau saja kemarin sang raja tak memintaku pergi ke barat, aku tak perlu melewati pusat kota
kalau saja kemarin aku tak melewati pusat kota, aku tak perlu berhenti sejenak membaca diarium
kalau saja kemarin aku tak membaca diarium, aku tak perlu tahu bahwa sang ksatria tak berkuda sedang diutus rajanya untuk pergi ke rumah seorang tabib di hutan hijau, di mana rumahnya berdekatan dengan rumah pujangga yang menjadi guruku
kalau saja semesta mengijinkan, aku bisa melihat bayangannya sekelebat
semoga aku bisa bersabar lebih lama lagi menunggu ijin dari semesta untuk melihatnya

Monday, February 29, 2016

Cerita Putri Pena: Gua Kaki

sebentar lagi musim panen. selain di kerajaan tulis, masyarakat di kerajaan dan negara lain pun nampaknya sibuk menyambut panen raya tahun ini. hujan yang turun dengan teratur membuat tanaman-tanaman tumbuh subur. jumlah lahan yang mengalami ancaman kekeringan pun berkurang.
biasanya, hasil-hasil panen akan diperjualbelikan di hutan hijau. entah mengapa hutan ini menjadi kegemaran para pedagang maupun masyarakat di negara lain yang letaknya jauh dari kerajaan tulis. mungkin karena hutan hijau letaknya sangat strategis untuk menjadi tempat transaksi dunia. mungkin juga karena hutan hijau masih menyimpan banyak keindahan alam yang menjadi daya tarik tersendiri bagi orang-orang yang hanya ingin berjalan-jalan di sana.
seperti kebiasaan di tahun-tahun sebelumnya, menjelang panen raya tahun ini pun aku menyempatkan diri melihat-lihat aneka hasil alam yang diperjualbelikan pedagang dari berbagai belahan dunia. puas melihat-lihat, aku memutuskan beristirahat sambil menjelajah sejenak salah satu gua yang masih tersisa di hutan hijau, gua kaki. konon, nama itu diambil karena banyaknya jejak kaki nenek moyang kami di dalamnya.
gua kaki bukanlah salah satu tujuan favorit orang-orang yang singgah di hutan hijau. namun, hari itu gua yang terletak di bagian barat hutan hijau itu nampak ramai. baru melangkah beberapa puluh meter saja aku sudah bisa mendengar banyak orang bercakap-cakap dan sesekali tertawa.
“ada rombongan ksatria dari negeri 1000 dagang.mereka baru menjual hasil panennya dan sedang menunggu kiriman lagi,” jelas seorang kakek bertongkat yang tiba-tiba berdiri di sebelahku. namun, belum sempat aku mengajukan pertanyaan, sosok orang tua itu sudah lenyap dari pandanganku.
apa katanya tadi? ada rombongan ksatria dari negeri 1000 dagang? mungkinkah..ksatria tak berkuda pun ada di sini?
kini tujuanku hanya satu: menemukan ksatria tak berkuda. tak kupedulikan lagi indahnya lukisan-lukisan alam yang terpahat di dinding gua. tapi..aku mulai mengantuk dan lelah. tidak, aku harus mencoba mencarinya! bukankah kami sudah berada di bawah langit yang sama? dan bahkan berlindung dalam gua yang sama. oh semesta… bantulah aku! jika ia memang ‘untukku’, ijinkanlah kami…
“hey putri, apa kabar?” sosok tegap dengan jubah sedikit berkibar itu tersenyum menatapku.ksatria tak berkuda! mimpikah aku?
“mengapa diam saja? ayo temani aku mencari makan. siapa tahu ada yang bisa mengganjal perutku.” dengan santai ia menarik tanganku. dengan masih menatapnya tak percaya, aku mengikutinya.
selanjutnya, semua berjalan bagai air sungai biru. tenang dan menyejukkan. kami mengobrol layaknya dua orang…sahabat yang sudah lama tidak bertemu. bertukar kabar. sesekali tertawa. ah, ia masih pandai melontarkan cerita lucu!
sejujurnya, aku sungguh bahagia dengan kesempatan ini. aku memang sempat berjanji pada semesta, jika aku diijinkan bertemu ksatria tak berkuda lagi, aku hanya ingin melihat raut wajahnya saat bertemu denganku. bahagiakah? sedihkah? marah? atau malah takut dan menghindar?
kini, melihat senyum dan tawa yang seolah tidak pernah lepas dari wajahnya, rasanya aku sudah tahu jawabannya.
“baiklah, aku harus pergi sekarang. selamat tinggal, semoga kau selalu berbahagia,” ucap ksatria tak berkuda tiba-tiba.
“apa?mengapa cepat sekali? hey tunggu, ada satu hal yang ingin kutanyakan padamu!”
belum sempat aku mencegahnya, ia sudah membalikkan badan, berjalan cepat membelakangiku tanpa menoleh lagi. jangankan mendengar pertanyaanku, menjawab seruanku pun tidak dilakukannya. tapi aku tidak boleh cepat menyerah.
“ksatria, tunggu… ksatria…”
“hey, bangunlah. rombongan ksatria itu sudah meninggalkan gua ini.” bayangan ksatria tak berkuda mendadak lenyap, digantikan dengan sosok seorang ibu yang membawa keranjang penuh buah dan sayur.
“sepertinya kau tertidur terlalu lama, putri. rombongan ksatria dari negeri 1000 dagang itu sudah kembali ke perkemahan mereka sejak matahari tenggelam. tapi, jangan tanya di mana mereka berkemah karena aku tak tahu jawabannya,” jelas ibu yang tak kukenal itu. ia seolah bisa membaca pikiranku.
“sekarang, pulanglah ke tempatmu. makan, dan lanjutkan tidurmu dengan nyaman. mungkin besok kau bisa bertemu dengan rombongan itu.”
sambil belum sepenuhnya sadar, aku mengangguk dan berterima kasih kepada ibu yang baik hati itu. pelan, aku melangkah ke luar gua. ah, jadi semua tadi hanya mimpi. mimpi yang terlalu indah untuk menjadi nyata.
hutan hijau masih ramai oleh para pedagang yang menjual hasil panen mereka yang berlimpah. aku yakin, ksatria tak berkuda ada di antara mereka. namun, aku sudah terlalu lelah. lelah menunggu kesempatan itu tiba. baiklah semesta…baiklah jika kau tidak mengijinkan kami bertemu lagi…baiklah….

Sunday, February 28, 2016

Cerita Putri Pena: Cerita Putri Tutur

Halo! Adakah di antara kalian yang mendengar kabar terbaru tentang Ksatria Tak Berkuda? Kalau tidak, mari kuceritakan. Kabarnya aku dengar dari salah seorang sahabatku sebenarnya, yang baru saja berkunjung ke Negeri 1000 Dagang, tempat tinggal sang Ksatria.
Sebut saja, sahabatku ini bernama Putri Tutur. Ia termasuk sahabatku yang sangat gemar bercerita. Ia akan menceritakan apa saja yang menarik baginya, yang baru ditemuinya, termasuk juga kabar-kabar yang belum pasti kebenarannya. Sebenarnya aku tidak terlalu dekat dengannya. Namun, terkadang ia membawa cerita yang menarik untuk disimak. Seperti siang itu, ketika aku sedang menikmati sejuknya hembusan angin di taman istana sambil mencoba membuat sebuah tulisan tentang alam.
“Aku punya kabar tentang Ksatria Tak Berkuda!” sapa Putri Tutur siang itu. Mendengar nama itu, aku langsung berpaling dan siap mendengarkan kata-kata selanjutnya.
“Ceritakan padaku. Semuanya.” Lama tak mendengar kabar Ksatria Tak Berkuda bukan berarti aku tidak peduli lagi padanya.
Putri Tutur mulai berkisah. Ia tidak bertemu langsung dengan Ksatria Tak Berkuda saat berkunjung ke Negeri 1000 Dagang (ia bahkan tidak tahu bagaimana rupa sang Ksatria), tetapi ia bertemu sahabat lamanya yang mengenal sang Ksatria. 
Jadi, menurut sahabat lama Putri Tutur ini, Ksatria Tak Berkuda sebenarnya sudah lama menaruh hati pada seorang putri di negaranya. Bahkan, jauh sebelum ia mengenalku. Ia bahkan sudah hampir menyatakan perasaannya pada putri itu, tetapi sang Putri tidak memiliki perasaan yang sama dengannya.
Menurut sang Putri, Ksatria Tak Berkuda masih belum bisa bersikap tegas dalam menentukan pilihan hidupnya. Walaupun menyandang gelar sebagai salah satu ksatria terbaik Negeri 1000 Dagang, Ksatria Tak Berkuda masih belum bisa menjadi seorang pemimpin sejati sehingga putri itu hanya ingin menjalin persahabatan biasa dengannya.
Begitu? Jadi ia sudah lama mencintai sahabatnya itu?
Lalu, mengapa dulu ia sepertinya begitu peduli kepadaku? Mengirim surat nyaris setiap hari untukku? Selalu ‘menemani'ku saat aku membutuhkannya? Mengapa… Ah, sudahlah. Bisa-bisa matahari keburu tenggelam jika aku terus mengingat-ingatnya?
Satu pertanyaan lagi: Mengapa ia harus hadir di hidupku?
Sambil mendengar cerita Putri Tutur yang terus mengalir, aku berusaha menahan segala emosi buruk yang ada. Emosi terhadap Ksatria Tak Berkuda, tentu saja. Ingin rasanya menumpahkan amarah kepada semesta yang mempertemukanku dengannya, yang membuatku 'jatuh’ padanya, yang membuat hariku berwarna saat bersamanya.
Tapi, semesta tidak bersalah. Ia pasti tidak merancang pertemuan kami dalam satu malam. Tentu banyak hal yang sudah Ia pertimbangkan sebelum akhirnya mempertemukan aku dan Ksatria Tak Berkuda, bukan hanya sekali, tetapi beberapa kali. Tentu banyak kebaikan yang sebenarnya kudapatkan dari rencanaNya ini, walau setelah mendengar cerita Putri Tutur, aku jadi bertanya-tanya sendiri.
Putri Tutur masih terus menceritakan petualangannya yang lain di Negeri 1000 Dagang sementara aku tenggelam dalam pikiranku sendiri. Pada akhirnya, aku memutuskan untuk harus tetap menjadi seorang putri yang tangguh. Dengan atau tanpa Ksatria Tak Berkuda. Masih banyak mimpi yang harus kuraih. Masih banyak orang yang peduli kepadaku dan bisa kupedulikan. Masih banyak hal penting yang seharusnya memenuhi pikiranku sebagai seorang calon ratu masa depan.
Aku masih akan terus berbagi cerita denganmu. Namun, untuk jangka waktu yang lama, sepertinya aku akan (harus) berhenti bercerita tentang Ksatria Tak Berkuda. Kecuali jika semesta ternyata masih 'meminta’ kami bertemu

Saturday, February 27, 2016

Cerita Putri Pena: Ksatria Gunung

Ada seorang ksatria yang sedang menarik perhatianku. Ksatria Gunung namanya. Terlalu panjang rasanya untuk menceritakan bagaimana aku bisa bertemu dengannya, pokoknya kami akhirnya saling mengenal.
Seperti namanya, Ksatria Gunung adalah sosok yang tangguh dan keras. Tidak seperti kebanyakan ksatria yang kukenal, ia seorang yang berani mengungkapkan pendapatnya walau kadang berbeda dengan pendapat umum. Wawasannya pun luas, apalagi jika sudah menyangkut kegemarannya: menaklukkan gunung. 
Belum genap satu bulan aku mengenalnya, tapi ia sudah mampu membuatku mulai ‘memperhatikannya’. Mengamati kesehariannya, mencoba mengenalnya lebih jauh. Bagaimana tidak? Sejak pertemuan pertama kami, ia selalu mengirim surat setiap hari. Sebuah tindakan sederhana yang kupikir hanya basa-basi saat ia bertanya di pertemuan pertama kami, “Bolehkah aku mengirimimu surat setiap hari?”
Memang, isi suratnya seringkali sederhana dan tidak menimbulkan efek 'kupu-kupu-menggelitik-perut’ seperti yang dulu sering kurasakan saat membaca surat-surat dari Ksatria Tak Berkuda. Tapi, dengan cepat ia seperti bisa 'membaca’ keadaanku. Sedang apa aku, di mana aku, atau bagaimana suasana hatiku. Bagaimana bisa aku mengabaikan perhatiannya itu? 
Kehadiran surat-suratnya juga perlahan mengalihkanku dari pikiran tentang Ksatria Tak Berkuda. Ya, sampai saat ini, kadang aku masih memikirkannya. Menunggu surat-suratnya yang muncul di waktu yang tak diduga, tetapi (masih) di saat yang tepat. 
Aku tidak tahu mengapa semesta 'mengirimkan’ ksatria itu padaku. Aku tidak mau menebak-nebak. Kali ini, biarlah semua mengalir sesuai skenarionya. Kalaupun skenarionya berbeda dengan keinginanku, aku yakin, semua ini pasti akan membawa pengaruh yang baik bagi kehidupanku kelak.
Senang bisa mengenalmu, Ksatria Gunung! :)

Friday, February 26, 2016

Cerita Putri Pena: Diarium #2

“AKHIRNYA!”
Itulah ungkapan kebahagiaanku serta pangeran dan putri lainnya saat melihatDiarium untuk pertama kalinya ditempel di pusat Ibu Kota Kerajaan Tulis. 
Masih ingat Diarium? Ya, sebuah media baru yang menjadi pusat informasi bagi warga Kerajaan Tulis. Diarium ini adalah media pertama yang ada di Kerajaan Tulis sebagai pengganti ‘pengumuman sang Raja’. Dan kami, aku serta para pangeran dan putri yang diangkat setahun lalu, yang mendapat 'kehormatan’ untuk mewujudkan keinginan besar sang Raja ini.
Pembuatan Diarium ini memakan waktu sekitar sebulan. Dengan bimbingan beberapa paman dan bibi menteri, kami dibagi ke dalam empat kelompok, setiap kelompok harus mengisi dua lembar besar untuk ditempel pada satu papan Diarium. Sebelum ditempel, kami harus menyerahkan bahan-bahan berita kepada Paman Pengumpul, begitu kami menyebutnya. Paman Pengumpul ini yang bertanggung jawab untuk menempelkan semua berita di papan Diarium.
Satu bulan bisa dibilang waktu yang ideal untuk proyek ini. Tidak terlalu sebentar karena kami membutuhkan waktu untuk mengumpulkan berita-berita yang kira-kira penting bagi rakyat Kerajaan Tulis. Namun, tidak terlalu lama pula karena bisa-bisa kami malah bosan kalau terlalu lama mengerjakannya.
Aku dan sembilan orang Pangeran dan Putri berada di kelompok dua. Artinya, berita-berita kami nantinya akan ditempel pada papan Diarium yang terletak di titik selatan pusat Ibu Kota Kerajaan Tulis. 
Pada hari yang telah ditentukan, aku dan kesembilan sahabatku memberikan berita-berita kami kepada Paman Pengumpul. Rasa senang dan harapan besar menyelimuti kami. Senang, karena akhirnya kami berhasil memenuhi keinginan Sang Raja dan harapan besar bahwa Diarium kami akan dibaca banyak orang. 
Hari itu, rasanya langit lebih cerah dari biasanya. Angin bertiup sejuk, membawa kedamaian hati. Memang, kalau satu tugas berhasil diselesaikan, hidup rasanya satu tingkat lebih indah!
Sayang, kesenangan yang seharusnya kami dapat, malah berubah sebaliknya. Paman Pengumpul mendadak naik emosinya melihat Diarium kami. Ujarnya, kami melakukan kesalahan besar dan tidak melihat bagaiamana Diarium milik kelompok lain. Padahal setahu kami, Diarium yang kami buat sudah sama dengan kelompok lain: ditulis dengan tinta hitam, di atas daun apapun yang tulangnya menyirip, dan boleh dihias dengan buah, bunga, ranting, atau apapun itu asalkan bahannya bisa diperoleh di alam.
Belum habis kebingungan kami, Paman Pengumpul mengancam tidak akan menempelkan Diarium kami di pusat Ibu Kota ini. Puncaknya, ia mengeluarkan ancaman itu sesaat sebelum menempelkannya. Di pusat Ibu Kota. Di mana banyak orang berlalu lalang dan siapa pun yang lewat pasti bisa mendengar 'amukan'nya. Dan setiap yang mendengar, pasti mencuri pandang ke arah kami.
Untung saja Diarium kami tidak dibuang begitu saja!
Kami berusaha mencari informasi ke kelompok lain. Hasilnya? Semua sama. Ditulis dengan tinta hitam dan dibuat di atas daun bertulang menyirip. Lalu, apa yang membuat Paman Pengumpul begitu kesal?
Akhirnya kami menemukan jawabannya dari Paman Menteri Komunikasi. Paman Pengumpul lupa mengenakan kacamatanya saat akan menempelDiarium kami sehingga ia tidak bisa melihat bahwa karya kami ditulis dengan tinta hitam, bukan tinta emas, dan di atas daun bertulang menyirip, bukan menjari. Dengan sedikit tertawa, Paman Menteri Komunikasi menenangkan bahwa pekerjaan kami sudah benar dan mungkin Paman Pengumpul hanya terlalu lelah dengan tugasnya tersebut.
Jadi, masalahnya hanya terletak pada penglihatan Paman Pengumpul? Dan untuk itu kami harus menerima ledakan emosinya di depan rakyat banyak?
Menyadari kesalahannya, Paman Pengumpul akhirnya meminta maaf kepada kami dan langsung menempelkan Diarium sesuai papan yang telah disiapkannya. Rakyat bisa mendapatkan informasi terbaru seputar Kerajaan Tulis dan hal-hal penting lainnya dengan membaca Diarium kami.
“AKHIRNYA!” teriakku dan kesembilan sahabatku. 
Kalau kau sempat berkunjung ke Kerajaan Tulis, mampirlah ke pusat Ibu Kota. Ada empat papan di sana dan di situlah Diarium kami berada. Diarium pembawa berita, Diarium pembuka cakrawala. 

Wisata Nostalgia ke Tahura

"Jadi, mau main ke mana kita?"

Pertanyaan di grup Whatsapp teman-teman kuliah itu tercetus minggu lalu ketika beberapa dari kami berencana reuni kecil-kecilan. Saya kebetulan sedang cuti panjang, teman yang tinggal di Jakarta kebetulan tidak ada event weekend itu, teman yang sedang menyiapkan pernikahannya kebetulan ada 'jadwal' mengantar undangan ke beberapa rekan di Bandung, dan teman yang asli Bandung selaku tuan rumah bisa mengantar kami berkeliling.

Bandung bukan kota yang asing bagi saya. Bahkan, seperti penggalan lirik di salah satu lagu nasional kita, Bandung itu Kota kenang-kenangan.


"Pengen ke tempat yang tenang gitu..," ucap teman saya yang dari Jakarta.

"Yang alami, yang pemandangannya bagus..," tambah teman yang sedang menyiapkan pernikahannya.

Kami sedang berada di kawasan Dipati Ukur dan satu nama tempat wisata langsung terlintas di benak saya. 'Tapi jangan ke sana, plis plis..'

"Ke Tahura aja gimana? Udah pernah?" tawar teman asal Bandung yang menjadi pemandu wisata kami hari itu.

"Belum! Yuk!" Kedua teman saya yang lain antusias. Mobil akhirnya melaju ke daerah Dago Atas arah Tahura alias Taman Hutan Raya Juanda.

'Okay, saya kalah suara. Selamat kasuat-suat !' batin saya ketika kami memasuki pintu gerbang kawasan wisatanya.

Tahura memang salah satu tempat wisata yang eksotis. Menyajikan pemandangan alami khas hutan dan pepohonan yang masih rimbun, taman yang awalnya berstatus sebagai hutan lindung ini cocok dikunjungi bagi mereka yang ingin refreshing sejenak dari rutinitas.



Memasuki kawasan Tahura, saya akhirnya bernostalgia. Bukan, bukan mengenai suasana ketika pertama kali ke sini yang kasuat-suat-able, melainkan mengenai alasan saya menjadi jatuh cinta dengan Bandung meski sekarang sudah merantau ke pulau seberang.

Disambut dengan udara sejuk, saya jadi teringat suasana Bandung ketika masih kecil. Masih bisa menghirup udara sejuk, belum banyak polusi udara...Bandung menjelma menjadi salah satu kota favorit untuk ditinggali. Dan Alhamdulilah, mimpi bisa tinggal di Bandung akhirnya terwujud sejak SMA dan beberapa tahun setelah lulus kuliah. Kalau dihitung-hitung, sekitar 9 tahun saya menetap di kota ini dengan segala suka dukanya. Nggak kerasa! :')

Jajaran pohon yang menjulang tinggi malah mengingatkan saya pada kawasan Braga. Bedanya, di salah satu ikon kota Bandung itu, yang menjulang tinggi adalah tiang-tiang untuk menaikkan bendera para negara peserta KAA. Datanglah ke Bandung pada bulan April dan nikmati beragam acara yang biasanya diadakan khusus untuk memperingati peristiwa bersejarah Konferensi Asia Afrika.

Jika wisatawan umumnya memiliki tujuan utama ke curug, wisata kami ke Tahura saat itu punya agenda lain: memberi makan rusa! :)) Selain belum pernah, agenda ini juga diusulkan demi menghindari potensi kasuat-suat kalau malah ke curug.

Dari pintu masuk, kawasan penangkaran rusa tertulis berjarak sekitar 2 Km. Lumayanlaaah..paling nggak berasa...



Ternyata, dugaan kami agak melenceng. Perjalanannya berasa! Berasa nggak nyampe-nyampe :))) Ditambah outfit yang memang kurang sesuai (disarankan pakai pakaian dan sepatu yang nyaman buat jalan jauh, sepatu olahraga misalnya) dan jalan yang licin setelah hujan, kami memerlukan waktu sekitar satu jam untuk berjalan menuju tempat tujuan.

Kalau diibaratkan, perjalanan ke tempat penangkaran rusa alias trekking ini seperti perjalanan hidup saya ketika pertama kali datang ke Bandung. Waktu itu, niatnya adalah menuntut ilmu, mengembangkan kemampuan diri, dan bersosialisasi. Prosesnya memakan waktu dan nggak selamanya lancar. Bahkan, seperti masuk ke Goa Jepang dan Goa Belanda di sela perjalanan ke penangkaran, ada kalanya untuk menjalankan niat itu saya mengalami 'masa-masa kegelapan'.



Godaan yang menyenangkan tentu ada. Kalau di trekking ini godaannya berupa tawaran naik ojek yang akan menghemat waktu dan tenaga, maka dalam kehidupan godaannya seringkali berupa ajakan main dari teman-teman. Rasanya adaaaa aja tempat yang bisa dieksplorasi di Bandung ini. Nggak ngebosenin!

Selama perjalanan, saya dan teman-teman sempat berhenti beberapa kali karena udah ngos-ngosan (faktor 'u' yeuh ><), kehausan, dan tentunya... popotoan! Ini juga menjadi pelajaran bagi kami bahwa kadang dalam mencapai tujuan, kita perlu beristirahat sejenak. Lebih memperhatikan sekitar, mengisi tenaga lagi, lalu siap melanjutkan perjalanan dengan lebih bersemangat. Masa istirahat juga diisi dengan update kabar teman-teman kami diselingi nostalgia masa-masa perkuliahan yang indah untuk dikenang tapi tidak untuk diulang.


Setelah melewati rute yang licin, kadang sempit, kadang berbagi jalan dengan pengendara sepeda dan sepeda motor, dan beberapa jalan menanjak, akhirnya kami sampai di tempat tujuan: penangkaran rusa. Dengan niat awal, tentu saja memberi mereka makan (walau pada dasarnya rusa-rusa itu sudah mandiri nggak perlu disuapin rumput :)) ).


Melihat rusa-rusa itu mengunyah makanannya dengan lahap, saya teringat satu hal lagi yang membuat Bandung menjadi kota kenang-kenangan yang sulit dilupakan: kulinernya! Setuju? Jangankan dari satu set hidangan Sunda yang menggugah selera, dari bahan aci saja, orang Bandung bisa membuat beragam kreasi seperti cilok, cimol, cireng, ci...apalagi? Mau kuliner tradisional sampai internasional, banyak pilihan di kota ini. Mau menyantap hidangan di pusat keramaian atau di tengah kesejukan alam, tempatnya juga bervariasi. Nggak perlu bingung deh mau makan apa di Bandung.

Puas memberi makan rusa, kami kembali harus menempuh perjalanan panjang ke tempat parkir.  Ada rasa senang ketika akhirnya tujuan tercapai setelah melalui proses perjuangan.

Tahura, terima kasih nostalgianya. Tidak perlu lama, yang penting kualitasnya. Sampai jumpa lagi di nostalgia berikutnya karena Bandung punya pesona yang seakan tidak pernah bosan dibahas!



"Dan Bandung bagiku bukan cuma masalah geografis, lebih jauh dari itu melibatkan perasaan, yang bersamaku ketika sunyi." -Pidi Baiq