Di Balik Gelapnya Gerhana

Beberapa hari sebelum terjadinya Gerhana Matahari Total, masyarakat Indonesia terutama di media sudah terlihat hebohnya. Tentu saja dalam rangka menyambut fenomena langka itu. Media online beramai-ramai membuat berita mengenai gerhana matahari yang dilengkapi pendapat atau pernyataan ahli. Media sosial, seperti biasa tidak kalah ramai, perlahan 'dimeriahkan' dengan kemunculan berbagai meme seputar gerhana.

Menurut sejarah, Gerhana Matahari Total di Indonesia sebelumnya pernah terjadi tahun 1983. Jangankan menceritakannya kepada dunia melalui media sosial, saat itu masyarakat yang memiliki alat komunikasi dan media pun sedikit sekali. Bahkan, ada mitos yang beredar bahwa gerhana itu terjadi karena raksasa memakan matahari sehingga langit menjadi gelap. Orang-orang yang percaya pun lebih memilih berada di rumah untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Zaman berubah, begitu pula dengan kreatifitas manusia membuat cerita. Tentu, media sosial membantu saya mengingat kembali bahwa gerhana matahari sesungguhnya terjadi karena posisi matahari, bulan, dan bumi sedang sejajar. Namun, media sosial juga yang kini membuat saya 'gatal' menceritakan fenomena terbaru mengenai gerhana matahari.

Ada yang sudah tau ceritanya?

Alkisah, Bulan yang selama ini ada di dekat Bumi sebenarnya sedang menjalani long distance relationship alias LDR dengan Matahari. Jaraknya bukan sekedar sepanjang tol Cipularang yang menghubungkan Bandung - Jakarta, melainkan berjuta-juta tahun cahaya. Bulan memang kita kenal sebagai satelit Bumi sehingga ia harus berada tak jauh dari planet ini.

Suatu ketika, Semesta berkenan mengijinkan Bulan bertemu Matahari. Tanpa terhalang benda langit lainnya. Pertemuan yang begitu indah hingga membuat penduduk Bumi sangat menantikannya.
Bumi mengikhlaskan kepergian Bulan yang selama ini selalu ada di sisinya. Apalagi ia tahu, Bulan sudah lama sekali tidak bertemu Matahari. Suasana haru yang mewarnai pertemuan itu dirasakan Bumi dengan sendu. Diam-diam, Bumi juga ikhlas bila akhirnya Bulan lebih memilih berada dekat dengan Matahari.



Rupanya, Semesta memiliki rencana lain. Pertemuan yang ditunggu selama puluhan tahun itu hanya berlangsung singkat. Sangat singkat, hanya beberapa menit. Bulan lebih memilih kembali kepada Bumi, mendampinginya. Mengiringi kembali perputarannya.



Matahari kembali sendiri. Ia tidak tahu kapan bisa bertemu Bulan lagi. Pada akhirnya, ia ikhlas menerima bahwa Bulan ditakdirkan untuk selalu dekat dengan Bumi.

Penduduk Bumi juga kembali tidak terlalu mengacuhkannya lagi. Matahari tidak terlalu peduli. Yang ia tahu, ia akan tetap di sana, berada pada tempat yang sudah ditetapkan untuknya. Tetap bersinar, tetap benderang, dan tetap memberikan kehangatan bagi mereka yang membutuhkan.


4 comments:

  1. Hari ini postingan serba gerhana matahari ya hihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi iyaa kemarin ramai ya euforianya. Nggak papa lah, jarang-jarang :D

      Delete
  2. Ikhlas...ikhlas ya bang Mat (Bang Matahari maksudnya....) ntar pasti ketemu lagi kapan-kapan...

    ReplyDelete

Blog Archive

All written by Yudistyana. Powered by Blogger.

Hello Guest! :)

Name

Email *

Message *