Cerita Putri Pena: Kunjungan ke Pengasingan #1

Di antara seluruh hari di pengasingan, aku paling suka kemarin. Ketika Ksatria Tak Berkuda datang dan menemaniku nyaris seharian di pengasingan.
Tentu kedatangannya bukan untuk bertemu denganku semata. Ia harus berlatih memanah di daerah yang kondisinya seperti di tempat pengasinganku sehingga kami bisa bertemu. Tak apalah, yang penting kami bisa saling meluangkan waktu.
Senyumku langsung mengembang begitu melihatnya di bawah pohon tempat kami janji bertemu. Senyumnya? Tipis seperti biasa. Tapi dari raut wajahnya aku tahu, ia bahagia.

Hari itu, aku baru menyelesaikan kunjungan ke salah satu desa di perbatasan timur tempat pengasinganku. Bukan atas kemauan Nenek Sihir itu, melainkan keinginanku sendiri.
Oh ya, sedikit kuceritakan padamu tentang Nenek Sihir itu. Badannya memang tidak bungkuk seperti nenek-nenek. Tidak punya sapu terbang, apalagi tongkat sihir. Ia bahkan tidak lebih tua dari paman dan bibi menteri di Kerajaan Tulis. Namun, sifatnya kadang sungguh menjengkelkan. Tak jarang suaranya melengking tinggi saat menyuruhku melakukan sesuatu. Sudahlah, pokoknya, sebaiknya kau jangan sampai mendapat masalah dengannya.
Sayangnya, Nenek Sihir ini justru mendapat kewajiban dari Sang Ratu untuk menjaga dan mengajariku selama di pengasingan. Konon, ilmunya memang terbilang matang untuk perempuan seusianya. Tapi tetap saja, bagaimana bisa belajar dengan hati lapang jika raut wajahnya selalu masam?
Sungguh berbeda jika aku bertemu Ksatria Tak Berkuda. Bersama Sang Ksatria, hari terasa lebih cerah. Segala letih hilang, terganti canda tawa dan suasana nyaman yang diciptakan olehnya.
Hari mulai gelap ketika kami beranjak meninggalkan Pohon Pelindung, begitu penduduk setempat biasa menyebutnya. Sang Ksatria dan aku memutuskan berjalan-jalan sebentar melihat desa tempat pengasinganku. Asal jangan melewati rumah Nenek Sihir, pintaku. Ksatria Tak Berkuda mengangguk sambil tertawa sedikit. Sepertinya ia sudah mulai mengenal tabiat Nenek Sihir itu karena aku sering menceritakannya dalam surat.
Sayangnya, baru berjalan beberapa langkah, salah seorang murid Nenek Sihir menahanku. Tanpa banyak bicara, ia menyerahkan secarik kertas dan pergi.
“Datangi kampung tua di daerah Selatan, seluruh penduduknya hanya perempuan dan anak-anak. Tulis semua hal menarik yang kau temukan. Jika sempat, buat lukisan tentang kehidupan mereka.”
Aku menatap kertas itu sekali lagi. Rasanya aku tahu daerah yang dimaksud, hanya saja aku belum pernah mengunjunginya. Dan sekarang ia menyuruhku ke sana? Di saat aku ingin menghabiskan waktu bersama Sang Ksatria?
Keceriaanku memudar. Sedikit berharap, pesan itu salah alamat. Tapi bagaimana mungkin? Nenek Sihir tidak pernah salah memilih orang untuk melaksanakan perintahnya. 
“Ada apa?” Ksatria Tak Berkuda bertanya lembut. Entah mengapa, aku selalu tidak bisa mengeluarkan emosi kesal jika sedang berhadapan dengannya. Sekalipun penyebabnya orang lain. Mungkin sifat tenangnya mengalir merasuki tubuhku.
Dengan malas, kuceritakan isi pesan dari Nenek Sihir. Di luar dugaan, Sang Ksatria menanggapi ringan, “Kalau begitu, ayo kita ke sana.”
“Kita? Kau sungguh tidak apa-apa membatalkan jalan-jalan ini? Dan menemaniku ke kampung itu?” Aku memastikan sekali lagi. Ia hanya menjawab dengan senyum dan anggukan kecil.
Ah ksatria terbaikku! Betapa aku ingin memelukmu saat itu!
Kami mengubah arah langkah, menuju Kampung Selatan. Entah apa yang akan kami temukan di sana. Tapi aku yakin, apapun itu, selama bersama Sang Ksatria, akan terasa lebih menyenangkan

0 comments:

Post a Comment

Blog Archive

All written by Yudistyana. Powered by Blogger.

Hello Guest! :)

Name

Email *

Message *