Cerita Putri Pena: Pusat Pemerintahan Negeri 1000 Dagang

Halo, apa kabar?
Cuaca di Kerajaan Tulis sedang kurang baik belakangan ini. Kesehatanku pun sedikit menurun. Tapi, aku masih memiliki semangat untuk berbagi cerita denganmu. Kau pun masih ingin mendengarkannya bukan?
Jadi, sekarang aku telah kembali ke Kerajaan Tulis. Sang Raja telah mencabut masa pengasinganku beberapa minggu lalu. Sungguh senang sekali rasanya saat menerima surat pemberitahuan itu! Bagaimanapun, aku sangat merindukan Kerajaan Tulis dengan segenap suka duka yang ada.
Dan hadiah dari Ksatria Tak Berkuda seakan melengkapi kebahagiaanku. Ia mengajakku ke negerinya! Bukan sekedar datang, melainkan masuk dan berkeliling ke pusat pemerintahan Negeri 1000 Dagang.

Pusat pemerintahan Negeri 1000 Dagang ternyata tak jauh dari pondok yang selama ini kusinggahi jika berkunjung ke sana. Hanya saja, letaknya tertutup aneka pepohonan dan agak berada di bawah tanah sehingga tidak terlihat jelas. Jika bukan penduduk setempat, rasanya sulit menemukan gerbang masuk yang dipenuhi tanaman rambat itu.
Sekilas, suasana di sana mengingatkanku pada pusat pemerintahan Kerajaan Tulis. Banyak orang berlalu lalang, dengan atau tanpa tumpukan kertas di pangkuannya. Beberapa tampak berjalan sambil bercakap-cakap serius. Ada juga yang saling menyapa meski selintas. Bedanya, aku tak mengerti sebagian besar percakapan mereka. Nampaknya mereka hanya membahas masalah perekonomian negara dan dunia, salah satu hal yang tidak aku kuasai.
Selama di sana, aku selalu berjalan di dekat sang Ksatria. Bagaimanapun, tempat ini masih terasa asing bagiku dan aku tidak mau tersesat di sana. 
Sang Ksatria. Tahukah kau, hampir di setiap persimpangan ada yang menyapanya? Entah sekedar tersenyum ramah, atau menghentikan langkah sejenak untuk berbincang dengannya. Dan ia pun akan melayani mereka dengan hangat. 
Melihat keramahan sikapnya, tak heran banyak yang senang berbincang dengan sang Ksatria. Tak peduli seorang pangeran, putri, dayang, pengawal, atau siapapun, Ksatria Tak Berkuda memperlakukan mereka dengan baik. Hmm.. benar bukan penilaianku dulu? Dibalik wajah dingin yang sering ditampilkannya, ia adalah sosok yang hangat dan bersahabat. 
“Kau harus bangga berjalan di sisi orang terkenal sepertiku,” bisiknya bercanda setelah ia berbincang singkat dengan seorang menteri. Aku hanya tertawa kecil mendengarnya.
Ksatriaku, tahukah kau bahwa aku sudah bangga bisa mengenalmu? Salah satu ksatria terbaik yang dimiliki Negeri 1000 Dagang sekaligus yang pernah kutemui. Betapa beruntungnya mereka yang sudah mengenalmu terlebih dulu. Bisa berjalan di sisimu adalah suatu kebahagiaan sekaligus kehormatan tersendiri bagiku.
Ditambah lagi, kau seorang pemandu yang baik. Yang dengan detil menjelaskan setiap hal di pusat pemerintahan Negeri 1000 Dagang. Yang dengan sabar dan tak bosan menjawab pertanyaan-pertanyaanku. Semakin aku menyayangimu.
Dan untuk kesekian kalinya, aku mengucap syukur pada-Mu Semesta. Untuk tetap menjaga kami dan mengijinkan kami bersama. Terima kasih, sungguh.

0 comments:

Post a Comment

Blog Archive

All written by Yudistyana. Powered by Blogger.

Hello Guest! :)

Name

Email *

Message *