Friday, March 11, 2016

Cerita Putri Pena: Kunjungan ke Pengasingan #1

Di antara seluruh hari di pengasingan, aku paling suka kemarin. Ketika Ksatria Tak Berkuda datang dan menemaniku nyaris seharian di pengasingan.
Tentu kedatangannya bukan untuk bertemu denganku semata. Ia harus berlatih memanah di daerah yang kondisinya seperti di tempat pengasinganku sehingga kami bisa bertemu. Tak apalah, yang penting kami bisa saling meluangkan waktu.
Senyumku langsung mengembang begitu melihatnya di bawah pohon tempat kami janji bertemu. Senyumnya? Tipis seperti biasa. Tapi dari raut wajahnya aku tahu, ia bahagia.

Thursday, March 10, 2016

Cerita Putri Pena: Surat dari Sang Ratu

Aku selalu suka hari ke lima ketika pagi. Hari kelima artinya aku bisa beristirahat sehari penuh di pengasingan atau melakukan perjalanan singkat ke Hutan Hijau. Hari kelima biasanya Ksatria Tak Berkuda pun mengunjungi hutan indah itu sehingga mungkin kami bisa bertemu.
Seperti yang sering kukatakan, aku selalu suka bertemu dengannya. Bahkan jika ia hanya diam pun, ada perasaan tenang jika di sampingnya. Sayangnya, belakangan ini semesta seperti sulit mempertemukan kami, entah mengapa. Sedang menyiapkan kejutan yang lebih besar? Semoga begitu.
Aku memang tidak bisa memaksa sang ksatria untuk selalu menemuiku. Ada tanggung jawab lain yang harus diselesaikannya. Jadi, aku tidak pernah meminta. hanya berharap.
Dan sebuah surat dari Sang ratu pagi ini datang mengejutkanku. Benar ini untukku? Setahuku, ia sangat sibuk mendampingi Sang Raja sehingga hampir kecil kemungkinannya mengirim surat seperti ini. Apalagi, aku juga jarang berbincang dengannya.
Penasaran, aku membuka amplopnya perlahan. Seorang prajurit mengantarkannya ketika aku selesai sarapan. Mungkin Sang Ratu memintaku pulang dan menyudahi pengasingan ini, khayalku.
Kubaca selintas isinya. Benar, ini tulisan tangan Sang Ratu. Dan isinya.. oh.. Bagaimana mungkin ia bisa mengetahui kegundahanku? 

Wednesday, March 9, 2016

hey semesta, aku rindu. ya, padanya, sang ksatria tak berkuda. sudah berapa lama tak berjumpa dengannya? berminggu-minggu. tapi aku tahu, ada tugas mulia yang harus ia jalankan dan tidak mungkin aku melarangnya. siapa diriku? sampaikan rinduku padanya, semesta. semoga ia merasakan hal yang sama. semoga kami bisa segera bertemu

Di Balik Gelapnya Gerhana

Beberapa hari sebelum terjadinya Gerhana Matahari Total, masyarakat Indonesia terutama di media sudah terlihat hebohnya. Tentu saja dalam rangka menyambut fenomena langka itu. Media online beramai-ramai membuat berita mengenai gerhana matahari yang dilengkapi pendapat atau pernyataan ahli. Media sosial, seperti biasa tidak kalah ramai, perlahan 'dimeriahkan' dengan kemunculan berbagai meme seputar gerhana.

Menurut sejarah, Gerhana Matahari Total di Indonesia sebelumnya pernah terjadi tahun 1983. Jangankan menceritakannya kepada dunia melalui media sosial, saat itu masyarakat yang memiliki alat komunikasi dan media pun sedikit sekali. Bahkan, ada mitos yang beredar bahwa gerhana itu terjadi karena raksasa memakan matahari sehingga langit menjadi gelap. Orang-orang yang percaya pun lebih memilih berada di rumah untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Zaman berubah, begitu pula dengan kreatifitas manusia membuat cerita. Tentu, media sosial membantu saya mengingat kembali bahwa gerhana matahari sesungguhnya terjadi karena posisi matahari, bulan, dan bumi sedang sejajar. Namun, media sosial juga yang kini membuat saya 'gatal' menceritakan fenomena terbaru mengenai gerhana matahari.

Ada yang sudah tau ceritanya?

Alkisah, Bulan yang selama ini ada di dekat Bumi sebenarnya sedang menjalani long distance relationship alias LDR dengan Matahari. Jaraknya bukan sekedar sepanjang tol Cipularang yang menghubungkan Bandung - Jakarta, melainkan berjuta-juta tahun cahaya. Bulan memang kita kenal sebagai satelit Bumi sehingga ia harus berada tak jauh dari planet ini.

Tuesday, March 8, 2016

Monday, March 7, 2016

Cerita Putri Pena: Kiriman Semesta

lagi-lagi sang raja memberi tugas yang tidak biasa kepada kami, para pangeran dan putri. kali ini, ia meminta kami melakukan perjalanan ke berbagai belahan dunia dan menuliskan kisah mengenai hal-hal yang kami temukan di sana. mungkin aku sedikit beruntung karena sang raja mengirimku dan dua orang putri lainnya ke perbatasan negeri 1000 dagang bagian utara.
konon, daerah perbatasan tersebut masih sangat berbahaya. selain masih cukup primitif, penduduknya tidak suka menerima orang asing. apalagi seorang pangeran atau putri dari luar negeri 1000 dagang. 

Sunday, March 6, 2016

Cerita Putri Pena: Kejutan

Menurutku, hanya ada dua jenis kejutan di dunia ini: kejutan yang menyenangkan dan kejutan yang tidak menyenangkan. Sebuah kejutan akan menjadi menyenangkan jika sang penerima menerimanya dengan senang hati, begitu pula sebaliknya.
Dan hari ini, aku beruntung mendapat kejutan yang menyenangkan.
Jadi, di siang yang cerah tadi, nyaris seharian aku berada di dalam paviliun. Bukan karena tugas, Sang Raja sedang berbaik hati tidak memberikannya beberapa hari belakangan. Aku berada di paviliun untuk bertemu ksatria tak berkuda. Melalui surat-surat tentunya.
Ksatriaku tersayang (ijinkan aku menulisnya seperti itu ya!) memiliki seseorang yang khusus ditugaskan untuk mengantarkan surat-surat kami. Jika dulu aku bisa harus bersabar hingga berminggu-minggu menunggu balasan, kini dalam sehari pun kami bisa berkirim surat berkali-kali.
Kecepatan berkirim surat ini sangat membantuku mengobati kerinduan terhadapnya. Sudah berminggu-minggu aku tidak bisa bertemu Ksatria Tak Berkuda secara langsung. Mungkin Semesta sedang menyiapkan rencana indahNya sehingga ia menunda pertemuan kami.
Sebuah rencana indahpun sebenarnya sedang kupersiapkan bersama Ksatria Tak Berkuda. Ia pernah berkata akan mengajakku ke sebuah tempat rahasia di Hutan Hijau yang menurutnya pasti kusuka. Konon, tempat itu memiliki padang bunga yang luas, pepohonan yang rindang, serta danau yang diyakini para tetua sebagai pemandian bidadari. Aku terpesona membaca ceritanya dan sudah tak sabar ingin mengunjungi tempat yang tidak mau ia sebutkan namanya itu. 
Sayangnya, Sang Ksatria memilih untuk menunda mewujudkan ajakannya. Baiklah, mungkin Semesta belum siap mempertemukan kami kembali secara langsung. Sayangnya lagi, aku belum memiliki cukup keberanian untuk mengungkapkan betapa sebenarnya aku sangat merindukan Ksatria Tak Berkuda. Wahai Semesta, Kau masih mau membantuku menyampaikan salam rindu ini padanya, bukan?
Belum selesai menulis surat balasan ketujuh untuk Ksatria Tak Berkuda hari ini, aku mendengar suara derap kuda berjalan mendekati taman. Suara itu… sepertinya kukenal… tapi, benarkah… benarkah…
Benar! itu Ksatria Tak Berkuda! Di halaman paviliunku!
Aku mengintip sekali lagi melalui celah pintu untuk memastikan penglihatanku tidak salah. Benar, itu Ksatria Tak Berkuda. Ksatria yang kurindukan. Ksatria…ku.
Pintu kamarku diketuk. Perlahan aku membukanya dan melihat sosok ksatria gagah berdiri di hadapanku. Lengkap dengan senyum khasnya yang selalu bisa menenangkan.
“Halo, Putri!” salamnya. 
“Hai!” balasku riang, menyembunyikan rasa terkejut sekaligus senang karena tak menyangka ia akan mendatangiku seperti ini.
“Ambillah. Kau belum makan apa-apa sejak pagi bukan? Aku tidak ingin kau sakit,” Ksatria Tak Berkuda menyerahkan sebuah bungkusan berwarna merah hati. 
Sedikit gugup aku menerimanya. Wah, ini makanan kesukaanku! Dari mana ia tahu perutku sudah berbunyi sejak beberapa jam yang lalu?
“Terima..kasih…Ksatria…” jawabku malu-malu. Segera aku menata makanan di meja sebelum ia melihat mataku berkaca-kaca karena terharu. Semesta, Kau mengirimnya ke sini? Sungguh, terima kasih… 
Sesaat, aku tidak tahu bagaimana harus berkata-kata. Seluruh akal sehatku terpesona melihat salah satu hadiah sederhana dari Semesta ini: cuaca cerah, ksatria yang kusayangi, tiba-tiba datang karena mengkhawatirkan keadaanku.
Tapi seperti biasa, menghabiskan waktu bersama Ksatria Tak Berkuda selalu menyenangkan. Di balik ketenangan penampilannya, ia menyimpan banyak hal menarik untuk diceritakan.
Semesta, aku tidak tahu apakah aku bisa membalas kejutan indahmu ini. Ingatkan aku untuk selalu bersyukur kepada-Mu, Semesta. Atas kehadiran Ksatria Tak Berkuda dalam hidupku. Dan ijinkanlah kami untuk saling menjaga, Semesta. Terima kasih.