Thursday, December 31, 2020

2020 in Review

Seumur-umur, 2020 kayaknya adalah tahun yang paling 'drama'. Selain situasi hidup yang suka jungkir-balik, kondisi dunia pada umumnya juga berubah drastis akibat adanya pandemi Covid-19. 

Di balik semua roller coaster kehidupan, ada beberapa hal yang membuat saya masih sangat bersyukur di tahun ini. Selain diri sendiri, keluarga, dan support system yang sehat lahir batin, berikut ini beberapa hal atau keputusan terbaik yang terjadi di tahun 2020 versi saya.

1. Melahirkan Anak Kedua

Ini adalah peristiwa terbaik pertama yang terjadi di tahun 2020. Dengan kehamilan yang nggak direncanakan dan diprediksi, Alhamdulillah baby kedua ini bisa lahir sesuai prediksi tanggalnya.

Hamil anak kedua, perjalanannya lebih struggle. Sang Kakak yang semakin aktif dan fisik yang rasanya makin renta membuat kehamilan kali ini dijalani dengan lebih legawa. 

Anak kedua diperkirakan lahir 8 Maret 2020. Belajar dari pengalaman kelahiran pertama yang maju seminggu dari HPL, saya udah menyiapkan segala peralatan untuk ke RS, termasuk juga sounding ke Sang Kakak dan mewanti-wanti suami untuk nggak dinas ke luar kota. 

Hari H HPL, saya masih kuliah. Ujian pula. Saat itu, corona masih belum seheboh sekarang, jadi kuliahnya masih secara langsung. Lumayan sih, mau nggak mau jadi 'olahraga' naik turun tangga tiap dua minggu sekali. 

Sebenarnya, saya udah sounding ke baby supaya keluar sesuai HPL aja. Nggak usah di tanggal 12 (teteup hahaha) juga nggak papa. Biar apa? Biar ujiannya take home ajaaa~ 😂. Tapi mungkin sang baby justru mau menyemangati saya yang ujian karena dia pun udah 'ikut' kuliahnya dari awal. Jadi, dia memilih melihat dunia satu hari tepat setelah ujian.

Setelah Kinar lahir, dunia saya dan dunia secara keseluruhan serasa berubah. Dunia saya, jelas, ada peran tambahan. Tapi Alhamdulillah bangetnya, Kinar ini baiiiiik sekali. Sangat jarang 'ngajak' ibunya begadang kecuali di sebulan pertama kehidupannya. Terima kasih ya, Sayangku!



Dan di luar sana, virus Covid-19 mulai disikapi serius oleh 'pihak-pihak yang berwenang'. Nggak lama setelah saya bersalin di RS, pemerintah setempat membuat kebijakan bahwa melahirkan di RS harus tes rapid/SWAB dulu dan hanya bisa didampingi satu orang aja plus nggak boleh dijenguk. Mau kontrol kehamilan ke RS pun ada beberapa protokol yang harus diperhatikan. Intinya, lebih ribet. 

2. Kuliah Lagi

Keputusan maju mundur ini sebenarnya dibuat di akhir tahun 2019. Waktu itu, sama sekali nggak bakal menyangka akan ada corona yang mengubah segalanya.

Kesempatan kuliah lagi akhirnya diambil karena dari perusahaan mengadakan kelas kerja sama. Jadi, nggak perlu ribet bolak-balik ke luar kota, pikir saya. Plus, jam istirahat masih bisa pulang ke rumah sebentar seperti biasa. Dan untungnya lagi, jam kuliahnya lebih 'manusiawi' dibanding angkatan sebelumnya. Sabtu-Minggu, dua minggu sekali, 08.00 - 17.00 WITA.

Saya juga sempat sharing sama teman di angkatan sebelumnya yang menjalani perkuliahan dengan kondisi baru melahirkan. Asli, salut banget sih sama perjuangannya! Sambil mikir juga apakah saya bisa, ketika dia pernah bercerita, "Waktu itu pas lagi ujian, pernah anak nangis kehausan. Dia ada di musholla (Training Center Badak LNG) sama Mamaku. Jadi, ngebut deh ngerjain ujiannya dan buru-buru menemui mereka."

Namanya kuliah Manajemen, suka nggak suka memang pasti akan ketemu dengan angka. Tapi, saya baru menyadari 'tantangannya' ketika melihat daftar mata kuliah dan silabusnya. Nggak cuma hitung-hitungan akuntansi, banyak juga ternyata yang menggunakan rumus dan simbol yang nggak pernah saya lihat sebelumnya. 😭 

'Thanks' to corona, sejak pertengahan Maret 2020 alias setelah saya melahirkan, sistem perkuliahan diubah ke online. Memang perlu penyesuaian cara belajar, tapi hikmahnya, perkuliahan ini bisa dilakukan dari rumah. Jadilah terkadang di beberapa perkuliahan, saya belajar sambil mengasuh anak dan ketiduran

Yang membuat lebih bersyukur, semua tugas dan ujian juga dilakukan secara online jadi masih ada waktu untuk mempelajari materi yang sulit dipahami (dan ini banyak! Ga cuma untuk satu mata kuliah aja 😂). Yuk bisa yuk dua semester lagi lulus!

3. Sharing Knowledge

Tahun 2020 juga memberi kesempatan bagi saya untuk lebih banyak berbagi ilmu dan pengalaman. Karena dilakukan secara online, ada satu masa rasanya kerjaan jadi sharing melulu. Tapi seru kok, menambah jaringan sekaligus mengasah percaya diri lagi~.

Jadi, terima kasih 2020! Untuk semua suka duka, pelajaran berharga, dan pengingatnya. Yuk 2021 lebih seru lagi yuk!


All illustration photos taken from Unsplash



Tim CSR Badak LNG 'Diundang' ke Dubai! Kok Bisa?

Semua berawal dari WA temen kosan zaman kuliah yang saat ini dinas di Kedubes UEA. 

Jadi, dia mendadak diminta membuat event dalam rangka Hari Ibu bertema 'Perempuan Inovatif'. Bingung mencari narasumber, dia akhirnya mengontak saya, mengusulkan untuk menampilkan salah satu mitra binaannya Badak LNG. Sebelumnya, kami memang pernah kontak-kontakan untuk rencana kolaborasi. Sayangnya, belum terwujud.

Membaca pesannya, kantuk saya langsung hilang. Super excited, karena kesempatan ini nggak semua orang atau institusi bisa dapat. Sambil mengonfirmasi ke mitra binaan, saya mengiyakan tawarannya.

Beruntung, mitra binaan yang saya propose bersedia menjadi narasumber. Ibu ini memang inspiratif sih. Setiap tahun selalu ada produk kuliner baru yang unik. 

Hari H, saya yang deg-degan. Setelah training online, langsung cus ke studio LNGTV demi bisa mendampingi prosesnya. 



Alhamdulillah.. acaranya berjalan lancar. Ibu mitra binaan bisa bercerita dengan baik dan menjawab pertanyaan-pertanyaan dengan lancar. Acara yang bisa disaksikan dari Zoom dan Facebook live-nya Kedubes Uni Emirat Arab & LNG TV ini mendapat cukup antusias dari penonton. Nggak hanya masyarakat umum, Ibu Kedubes bahkan sepertinya berminat mengadakan pelatihan pembuatan snack secara online untuk WNI di sana. Wah, siap Bu! Pelatihan langsung di sana boleh juga loh 😉


Tahun ini, kami memang baru bisa bertemu secara virtual. Tapi, kami yakin, kesempatan perdana ini akan membuka lebih banyak kesempatan lagi untuk institusi atau secara personal. 

Yuk ah, lebih banyak kolaborasi lagi di 2021! 😁


Saturday, August 15, 2020

How MBA Changed My Weekend (The Series)

Tidak terasa, sudah tiga semester saya menempuh kuliah S2 di SBM ITB. Adanya kelas kerja sama dengan perusahaan dan beberapa alasan lain membuat saya nekat mencoba mengikuti perkuliahan ini.

Berbeda dengan suasana S1, perkuliahan S2 ini ternyata lebih terasa lelahnya. Dari sisi jadwal, sebenarnya enak sih karena kita diajak mempelajari satu mata kuliah dulu sampai selesai baru beralih ke mata kuliah berikutnya. Jadi lebih fokus. Kalau S1 dulu kan seminggu aja jadwal mata kuliahnya gonta-ganti yaa... Jam perkuliahan juga lebih 'lumayan' yaitu Sabtu & Minggu, setiap dua minggu sekali, mulai pukul 09.00 - 17.00 WITA (kurang lebih). Mungkin karena kuliah ini disambi dengan kerja serius (kalo dulu S1 kan freelance aja hehe) dan tanggung jawab lain yaa~

Di antara semua mata kuliah yang udah ditempuh, tentu nggak semua materinya langsung bisa saya pahami. Apalagi kalo dosen sudah bersabda "Yang perempuan mana nih belum ngomong?" pasti langsung merapel doa supaya nggak diabsen berdasarkan gender atau ditunjuk acak. Kalau situasi begitu, jadi bersyukur kadang nama saya disangka laki 😏

Perbedaan lainnya adalah dalam hal mengerjakan tugas. Kalau dulu tugas menulisnya kebanyakan menggunakan referensi dari buku (atau fotokopian), sekarang lebih banyak langsung gugling aja. Kadang jawabannya ada berbagai versi yang ujung-ujungnya malah bikin bingung sendiri.

Untuk merangkum perjalanan inilah, saya akan membuat series seperti judul di atas. Ke depannya akan berisi seputar curhatan random, review perkuliahan atau update beberapa tugas individu saya yang semoga membantu.

Sampai ketemu di postingan selanjutnya!




Sunday, June 28, 2020

My Ikigai

Last month, I bought "Ikigai: The Japanese Secret to A Long and Happy Life" book, written by Hector Gracia and Francesc Miralles. I still not finish to read that, but today in People in Organization class, mention about this concept.

Based on the diagram that presented in the class, Ikigai is "the reason for our being". This concept combine the answers of what are we good at, what we love, what the world needs, and what we can paid for.

For me, find my Ikigai is challenging. Sometimes I know what makes me happy, and sometimes I don't know. But, I will try to find my Ikigai by answer the slice one by one.



The first slice is what I good at and what I love. Since elementary school, i love writing so much. Write personal diary, poem, short story, and this capability is growing when I was in Communication Faculty with major in Journalism. I can say i am good at writing because I had won some writing competition. So, for the 'passion' slice, the answer is writing.

Next slice is about what we love and what the world needs. I found what I love, and I think the world needs 'high quality news'. High quality here means the news is written based on "9 Elements of Journalism". So, my 'mission' is make a better world with my written that applied "9 Elements of Journalism" principle.

To answer the questions of what the world needs and what we can paid for, I can say it is by being a journalist. I had try this when I was in college but i think I can not sustain as a journalist. The risks are too high, not worth with the money income.

On the fourth slice, 'profession', this is the answer for question what we can paid of and what we good at. Basically, I am good at writing. Not only write news, but also articles, fiction, and caption for social media. So, I am happy when I was accepted as Media Relation Officer in Badak LNG because I can show off my capability and get good salary from it.

Although i found that my Ikigai is writing, I believe that I still can improved that. Some area that I need to improve is write in English, SEO, monetize my personal blog, and write a book (fiction/nonfiction).

To growth my writing skill, I try to read articles that written in English. I also often read articles about SEO and google ads. In Facebook, I joined writing group named "Komunitas Bisa Menulis" to see what topics that can attract readers nowadays. From that group, one of the member ever asked me whether it is possible to write novel together.

I am grateful that my circle support me to keep my Ikigai and achieve more from that. If you ever read my writing, I also open for critics and suggestions to make my writing skill better. 

This entry was posted in

Wednesday, November 13, 2019

Seru-seruan Ikut Ujian

"Udah lama nggak ujian ya, Mba?"
"Kalo ujian kehidupan sih sering, ujian tertulis yang jarang :')"


Beberapa hari lalu, saya memutuskan ikut tes seleksi S2 SBM ITB. Nawaitunya enggak sengotot waktu mencari tempat kuliah atau kerja di perusahaan idaman dulu. Murni lebih ke coba-coba. Dan sedikit termotivasi dari beberapa dedek di kantor yang ternyata berencana melanjutkan kuliah mereka melalui kelas online.

Sejujurnya, karena penasaran aja sih apakah saya masih mampu (dan kuat) mengerjakan soal-soal seperti itu :))

Berangkat dari nawaitu tadi, saya nyaris nggak melakukan persiapan apapun. Selain beli pensil 2B dan ngecek lagi info waktu dan lokasi tes. Malah hampir kayaknya nggak bisa ikut tes sesuai jadwal karena bentrok sama agenda kantor.



Di hari H, rencananya saya akan mengikuti dua tes, TOEFL dan TPA. Beruntung, nilai TOEFLnya ternyata bisa juga diganti dengan TOEIC dan saya punya sertifikatnya yang masih berlaku. Beruntungnya lagi, kata orang yang tes di sebelah saya, soal TOEFLnya 'amit-amit'. Listeningnya enggak pake dialog singkat dulu, langsung ke bacain paragraf gitu dan satu kali listening untuk menjawab beberapa soal :)))

Seperti bayangan saya, model soal TPAnya masih sama.Verbal, numerik, dan logika. Yang nggak kebayang, soalnya naudzubillah bikin pusing! :))) 90 verbal, 90 numerik, dan 70 logika dengan durasi setiap tahapnya hanya 60 menit. Nggak boleh lebih dan nggak boleh ngerjain tahap sebelumnya walau masih ada waktu.

Tahap pertama di soal kemampuan verbal, otak masih bisa diajak kerja sama. Ada empat tipe soal yaitu tentang mencari arti kata, sinonim, antonim, dan menjawab pertanyaan dari teks/narasi. Sebisa-bisanya, ya nggak 100% yakin juga sih. Ada beberapa kata yang sering terdengar dan sebenarnya paham maksudnya, tapi nggak yakin apa arti sebenarnya. Misalnya 'isbat', yang selalu terdengar menjelang awal Ramadan. Paham sih kalau ada yang bilang istilah itu, tapi artinya apakah penetapan, rapat, atau jangan-jangan ada arti lainnya? Atau 'samad', yang saya tau adalah nama belakang seorang pejabat. Atau arti dari jamais vu, yang saya cuma yakin maksudnya bukan sesuatu yang berbau negara Jamaika :))).

Tes verbal saya kerjakan sekitar 30 menit lebih. Masih banyak waktu yang tersisa, yang andai saja bisa digunakan untuk nyicil mengerjakan soal-soal model berikutnya. Oh iya, yang agak ngeselin dari tes verbal ini adalah munculnya istilah-istilah filsafat yang menjadi pilihan jawaban untuk tes verbal tipe narasi. Ontologi, epistimologi, dan aksiologi. Saya cuma inget, istilah itu sering terdengar di mata kuliah Filsafat Ilmu Komunikasi, yang kuliahnya seringnya di Gedung 4, dan saat kuliah saya nyaris sama sekali nggak paham sampai akhirnya harus ngulang. Huhu, ternyata menamatkan baca Dunia Sophie kayaknya ada faedahnya buat tes begini yaa~

Masuk ke tahap selanjutnya. Sebelumnya, saya memilih ke toilet sejenak dan mengambil segelas air minum. Buat amunisi.Enaknya ikut TPA kali ini, suasananya lebih 'ramah'. Peserta boleh ngambil air di sela-sela ngerjain soal. Dan karena sebagian besar peserta saling kenal, ruangan nggak kaku. Bisa saling curhat setelah ngerjain soal-soalnya.

Di tahap numerik, saya sedikit keteteran karena salah strategi. Haqqul yaqin soal-soal yang di halaman awal masih bisa masuk 'nalar' saya.. ternyata nggak juga! Soal yang menyelesaikan deret angka biasa masih oke lah.. deret diganti huruf juga masih paham.. lah kalau pecahan? Asli, blank :))). Padahal angka pecahannya masih kecil semacam 1/4, 2/3, gitu-gitu.. Tapi saya sempat lupa gimana menjumlahkannya. Dan yang paling nggak paham, soal yang pakai tanda seru semacam '5!4!3! dst' ini digimanain ngerjainnya? :__))))

Ketika time keeper mengingatkan waktu tinggal 5 menit lagi, langsung gunakan metode kiralogi dan cocoklogi. Yang penting semua nomor kejawab. Toh nggak ada pengulangan nilai semacam SNMPTN :p

Berlanjut ke tes logika, saya sedikit mengubah strategi. Sadar diri, makin ke halaman belakang otak makin panas dan gampang ngeblank ngerjainnya :)). Maka, saya memilih mengerjakan soal yang sekiranya saya (sebenarnya pasti) bisa menyelesaikan. Kalau nggak nemu jalan keluarnya, skip skip dulu. Strategi ini sedikit berhasil karena saat menyelesaikan soal-soal logika saya nggak nyaris kehabisan waktu seperti mengerjakan soal numerik. Yhaaa sekali lagi, walaupun nggak yakin juga yang saya rasa bisa ngerjain, jawabannya bener :)))

Ketika bahas soal-soalnya sama temen seangkatan



Ajaibnya, Alhamdulillahnya, setelah pengumuman keluar, hasil TPA saya ternyata di atas standar minimal kelulusan 475. Artinya, saya lolos seleksi dan bisa mengikuti tahap selanjutnya untuk pendaftaran S2 ini. Hore!

Sedikit tips untuk yang akan ikut ujian sejenis, JANGAN LUPA MAKAN. Makan yang bener. Supaya perut kenyang dan otak tenang. Sejujurnya saat mengerjakan tes ini saya cuma makan sedikit dan jadinya agak pusing. Ya pusing kurang makan, ya pusing ngerjain soal :)). Persiapkan juga alat tulis dan segala sesuatunya sesuai kebutuhan. Jangan panik duluan kalau menemukan soal yang keliatannya ribet. Siapa tau sebenarnya solusinya ternyata sederhana #pengalaman.

Dan terakhir pastinya, berdoalah sebelum dan sesudah mengerjakan. Kalau memang hasilnya bisa membawa kebaikan untuk kita, berdoalah supaya bisa lulus, sepuyeng apapun saat mengerjakan soalnya. Goodluck!

Friday, June 21, 2019

Menanam Mangrove, Mewujudkan Pembangunan Berkelanjutan

Saya masih ingat saat pertama kali bertemu dengannya. Siang itu, satu hari di tahun 2015. Bersama seorang teman, ia menjamu kami di salah satu saungnya yang berada di dekat area penanaman mangrove.


Namanya Muhammad Ali. Usianya 50 tahun. Namun, semangatnya tidak kalah dengan anak muda. Apalagi kalau sudah membicarakan tumbuhan yang juga dikenal dengan nama bakau tersebut.


Perjuangan Ali Mangrove, begitu ia akrab disapa, dalam membudidayakan tanaman khas pesisir ini dimulai tahun 2009. Fenomena penebangan mangrove oleh orang-orang tak bertanggung jawab membuatnya khawatir. Selain berpotensi menyebabkan banjir saat air laut pasang, berkurangnya keberadaan mangrove juga berpengaruh kepada penurunan hasil tangkapan ikannya. Kala itu, Ali memang  berprofesi sebagai nelayan sekaligus menjadi karyawan sebuah perusahaan tambang.


Bersama sang istri, Ali kemudian mencoba membibitkan mangrove. Jenis yang ditanam adalah Rhizopora, sp. Agar lebih fokus, Ali memutuskan pensiun dini dari perusahaan tempatnya bekerja. Ia juga mendapat pendampingan dari Badak LNG agar usahanya terus berkembang dan memberikan dampak positif, baik dari segi lingkungan, ekonomi, maupun sosial. Badak LNG sendiri merupakan perusahaan pengolah gas alam menjadi gas alam cair (LNG/Liquefied Natural Gas) yang berkomitmen melakukan pemberdayaan masyarakat melalui program-program Community Development-nya.


Hasilnya, lahan miliknya yang semula tidak produktif kini menjelma menjadi hutan mangrove. Selain mencegah abrasi, keberadaan hutan mangrove membuat udara di sekitarnya menjadi sejuk. Ali juga memperluas manfaat lingkungan dari hutan mangrove tersebut dengan membuat area untuk pembudidayaan kepiting bakau yang baru dimulai pada akhir 2017 lalu.


Perlahan, kondisi ekonomi keluarga Ali juga meningkat. Kesadaran akan pelestarian lingkungan membuat banyak instansi di Kota Bontang memesan bibit mangrove kepadanya. Tak jarang, ia dan kelompoknya yang bernama Tani Lestari Indah juga diminta untuk menanam bibit-bibit tersebut di lokasi yang sudah ditentukan. Peluang ini juga berimbas kepada peningkatan pendapatan para anggota kelompoknya.


Tidak sampai di situ, kecintaan Ali pada mangrove membuatnya tak segan berbagi ilmu seputar pembibitan, penanaman, maupun perawatan mangrove. Tamu Pemerintah, Perusahaan, masyarakat umum, hingga anak-anak sekolah semua berkesempatan belajar langsung mengenai mangrove dari ahlinya. Dengan dukungan dari Badak LNG, lahan milik Ali tersebut kini menjadi Mangrove Information Center.


Pemberdayaan Masyarakat


Kegiatan yang dilakukan oleh Ali dan dengan pendampingan dari Badak LNG membuktikan bahwa pemberdayaan masyarakat memberikan kontribusi positif bagi pencapaian tujuan Sustainable Development Goals (SDGs). Dikutip dari jurnal "Sustainable Development Goals (SDGs) dan Pengentasan Kemiskinan", konsep SDGs lahir pada konferensi mengenai Pembangunan Berkelanjutan yang dilaksanakan oleh PBB tahun 2012 di Rio de Jainero. Tujuan yang ingin dihasilkan dalam pertemuan tersebut adalah memperoleh tujuan bersama yang universal, yang mampu memelihara keseimbangan tiga dimensi pembangunan berkelanjutan yakni lingkungan, sosial, dan ekonomi (Ishartono & Santoso Tri Raharjo, Social Work Jurnal Vol. 6, No. 2, Hal. 154-272).


Tiga dimensi pembangunan berkelanjutan tersebut kemudian dirumuskan menjadi 17 tujuan global SDGs dan melalui penanaman mangrove, setidaknya ada 7 tujuan yang bisa dibantu pencapaiannya sebagai berikut:


1. Tanpa Kemiskinan. Tidak ada kemiskinan dalam bentuk apapun di seluruh penjuru dunia.
Kegiatan penanaman mangrove dan pembibitannya telah menghasilkan keuntungan ekonomi sehingga perlahan mendorong anggota kelompok keluar dari kemiskinan.


2.  Tanpa Kelaparan. Tidak ada lagi kelaparan, mencapai ketahanan pangan, perbaikan nutrisi, serta mendorong budidaya pertanian yang berkelanjutan.
Anggota kelompok yang telah bebas dari kemiskinan juga akan terbebas dari ancaman kelaparan.


5. Kesetaraan Gender. Mencapai kesetaraan gender dan memberdayakan kaum ibu dan perempuan.
Sebagian besar anggota kelompok Tani Lestari Indah adalah para ibu. Mereka yang semula tidak produktif, kini menjadi memiliki kegiatan positif dan tambahan penghasilan. Buah mangrove yang bisa dimanfaatkan juga mendorong terbentuknya kelompok baru yang bergerak di bidang UMKM yaitu produksi sirup mangrove dan dodol mangrove dan seluruh anggota kelompok baru ini adalah perempuan.


8. Pertumbuhan Ekonomi dan Pekerjaan yang Layak. Mendukung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan dan inklusif, lapangan kerja yang penuh dan produktif, serta pekerjaan yang layak untuk semua orang.
Keberadaan usaha budidaya mangrove secara tidak langsung telah mendorong pertumbuhan ekonomi. Lapangan kerja tercipta dan dengan pendampingan dari Badak LNG kegiatan budidaya bisa berkelanjutan, bahkan terus berkembang.


14. Kehidupan Bawah Laut. Melestarikan dan menjaga keberlangsungan laut dan kehidupan sumber daya laut untuk perkembangan pembangunan yang berkelanjutan. 
Sebagai habitat beberapa hewan khas pesisir, keberadaan mangrove telah membantu melestarikan keberadaan mereka sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem laut.


15. Kehidupan di Darat. Melindungi, mengembalikan, dan meningkatkan keberlangsungan pemakaian ekosistem darat, mengelola hutan secara berkelanjutan, mengurangi tanah tandus serta tukar guling tanah, memerangi penggurunan, menghentikan dan memulihkan degradasi tanah, serta menghentikan kerugian keanekaragaman hayati.
Bagi makhluk yang tinggal di darat termasuk manusia, keberadaan mangrove adalah pelindung dari ancaman abrasi atau banjir yang datang saat air pasang.


17. Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. Memperkuat implementasi dan menghidupkan kembali kemitraan global untuk pembangunan yang berkelanjutan. 
Ali dan kelompok Tani Lestari Indah-nya memiliki tujuan yang disinergikan dengan cita-cita program Community Development Badak LNG. Jika Ali ingin lingkungan di sekitarnya terjaga sekaligus membantu masalah ekonomi anggota kelompoknya, Badak LNG pun memiliki cita-cita untuk Maju Bersama Masyarakat. Cita-cita ini sejalan dengan triple bottom line, konsep yang menjadi acuan sebuah perusahaan seperti Badak LNG dalam melaksanakan program-program Community Development.


Menurut konsep yang juga dikenal dengan nama "3P" tersebut, perusahaan yang ingin operasionalnya berkelanjutan harus berkomitmen pada aspek 3P yaitu profit, planet, dan people. Tidak hanya mencari profit, tetapi juga perusahaan harus bertanggung jawab terhadap kelestarian lingkungan serta pemberdayaan masyarakat di sekitar daerah operasionalnya.


Melestarikan lingkungan dan mencapai tujuan SDGs memerlukan sinergitas antara berbagai pihak, baik individu maupun institusi. Yang terpenting adalah memulai aksi positifnya dari sekarang, supaya kelak hasilnya bisa dinikmati di masa depan.


Selamat melakukan aksi positif!

Monday, February 18, 2019

#StayAtHyatt, Ketika Keramahan Berpadu dengan Kenyamanan

Pertengahan Januari lalu, saya berkesempatan menginap di Hyatt Regency Jogya. Walaupun dalam rangka dinas, Alhamdulillah bisa ditemani keluarga tercinta plus bapak ibu kami berdua.

Berdasarkan info di profil Instagramnya, Hyatt Regency Jogya adalah pemenang pertama "Indonesia Green Hotel 2017". Sebagai orang yang concern sama lingkungan, predikat ini langsung menarik perhatian saya.

Begitu sampai di hotel, kami (kecuali Kanaya) dikalungi bunga oleh staf di lobi depan. Senang plus curiga juga sih, jangan-jangan mereka salah mengira saya rombongan Direktur karena kemarin saya memang mem-bookingkan kamar juga untuk Pak Direktur. Belum pernah diginiin akutu, terharu :___)))


Lorong lobi yang asri

Lalu, apa lagi yang menarik dari Hyatt Regency Jogya ini sehingga saya rekomendasikan untuk keluarga yang mau staycation di Jogya? Ini dia beberapa keunggulannya.

1. Area Outdoor Luas
Hyatt Jogya memiliki keunggulan yang jarang dimiliki hotel lain saat ini: halamannya super luas! Mulai dari area masuk ke hotelnya yang serasa di hutan saking rimbunnya pepohonan, padang golf, dan halaman di sekitar gedung hotelnya. Mungkin keunggulan inilah yang membuatnya memiliki predikat "Green Hotel". Udara rasanya bersih dan yang pasti, kedua mata dimanjakan oleh warna hijau pepohonan dan rerumputan di mana-mana.


Bisa guling-guling


2. Banyak Atraksi
Mulai dari naik delman sampai berenang di kolam air asin, semua ada di sini. Kami sempat mencoba atraksi naik delmannya (gratis doong :p ) karena tiba di hotel sebelum waktu check in. Lumayan puas, dibawa hampir ke sekeliling area hotel. Bagi penggemar olahraga sepeda, hotel ini juga menyediakan paket "bike tour" untuk "bersepeda melihat area pedesaan dan persawahan". Tapi saya nggak nyoba dan nggak liat juga sawahnya di sebelah mana :))). Beberapa teman saya sempat menyewa sepeda ke pihak hotel untuk berkeliling di sekitar lapangan golf.

Kankan naik delman

Omong-omong soal golf, lapangan yang dimiliki hotel ini sepertinya juga menjadi referensi para pegolf luar negeri. Selain menjadi tempat turnamen, beberapa turis asing yang menginap di sini sepertinya sengaja hanya untuk 'merumput' di lapangan golfnya yang memang terbilang luas. Kalau Kanaya udah bisa jalan, pengen deh mengajaknya jalan-jalan di rerumputan lapangan golf itu!
Yang suka berenang, pastinya juga akan dimanjakan oleh beberapa kolam yang dimiliki Hyatt Regency Jogya. Kolam anak, ada. Kolam dewasa, ada. Kolam whirpool, ada. Kolam air asin, juga ada.

Candi itu tempat buat seluncuran, btw 

Yang nggak kalah penting, Hyatt Regency Jogya punya banyak spot foto yang instagrammable banget. Salah satunya, spot foto dengan berlatar Gunung Merapi. Kalau cuaca cerah, bagus deh gunungnya terlihat jelas.

Hai Merapi, haaai~~

3. Memiliki Kamar dengan Connecting Door
Masalah kamar ini agak ribet ketika saya mau booking empat kamar untuk keluarga. Mba-mba marketing yang saya kontak umumnya agak sangsi memberikan kamar yang connecting karena sepertinya tingkat okupansi saat itu masih tinggi. Namun ketika akan check in, resepsionis memberitahukan bahwa 4 kamar yang saya booking masing-masing memiliki connecting door. Ini untuk tipe deluxe saja ya, nggak tahu kalau tipe lainnya heu.

Halaman belakang kamar. Kebetulan tipe kamar yang saya booking ada di lantai paling bawah, jadi punya balkon juga

4. Pilihan Makanan Beragam
Must try on breakfast: roasted chicken! Dengan pilihan saus barbeque, mushroom atau blackpepper. Enak banget ayamnya, empuk. Dan ayam panggang ini disajikan setiap hari, semacam menu wajibnya.
Pilihan makanan untuk sarapan di hotel ini sangat beragam. Mulai dari masakan Indonesia, barat, aneka pastry, buah, gorengan, dimsum, sampai menu khusus vegetarian (mixed vegetables with peanut sauce a.k.a pecel! :)) ). Menu makan siangnya menurut saya juga cukup variatif, pernah ada batagor sama siomay segala hahaha.

Area makan outdoor

Kalau mau sarapan, saya sarankan memilih area outdoor di pinggir kolam renang. Pemandangannya bagus, apalagi kalau yang sarapan masih sedikit. Kadang bisa merasakan angin sepoi-sepoi juga. Minusnya, ya ada aja sih asap rokok..hih!

5. Lokasi Strategis
Ini sotoynya saya aja sih yang belum kenal banget sama Jogya, karena rasanya Hyatt ini nggak terlalu jauh dari bandara dan pusat kota. Lokasinya juga nggak terlalu di pinggir jalan raya sehingga lebih tenang dan pemandangannya sejuk. Asik lah!

Kalaupun belum berkesempatan staycation sama pasangan atau keluarga, cobalah menginap di sini ketika ada kesempatan dinas dan rasakan sensasi perpaduan keramahan staf hotel plus kenyamanannya. Selamat mencoba!