Wednesday, December 21, 2016

2016 in Review: Transisi

Halo!

Sudah siap meninggalkan tahun 2016? Sudah berapa banyak pencapaian yang diraih sepanjang tahun ini?

Rasanya, baru beberapa bulan lalu saya menulis review kehidupan di tahun 2015. Tahun terjadinya transformasi besar dalam hidup. Tahun yang menjadi titik awal untuk belajar lagi tentang banyak hal.

Hari ini, mendekati akhir tahun 2016. Sudah bisa dibilang berakhir bahkan, karena kalender 2017 sudah dibagikan :p #baladaanakmedia.

Dari segi penulisan dan posting-posting di socmed, sepertinya frekuensi update saya mengalami penurunan di tahun ini. Nggak terlalu penting juga sih, toh posting-posting itupun murni untuk berbagi aja hehe. Di sisi lain, tulisan (atau curhatan) di berbagai socmed itu sebenarnya bisa menjadi informasi untuk flashback kejadian yang sudah dialami selama satu tahun terakhir.

Kenapa perlu flashback? Kalau menurut saya, review ini diperlukan sebagai acuan untuk menjalani tahun-tahun berikutnya. Dengan adanya review, kita bisa tau kelebihan, kekurangan, pencapaian, penyebab baperan, atau hal lain yang pernah terjadi dalam hidup. Ada yang perlu diperbaiki dan ditingkatkan, ada juga yang cukup dipertahankan.

Tahun 2016 ini adalah tahunnya transisi. Persiapan memasuki perubahan. Di perusahaan tempat bekerja, maupun di kehidupan personal saya.

Jadi, seperti apa 2016 versi saya ini?

1. Ups
Masa-masa awal 2016 diisi dengan printilan pindah rumah. Nyicil mengangkut barang, menata di rumah baru, sekaligus beradaptasi lagi menjadi 'anak rumahan rasa kosan'. Meski jaraknya sedikit jauh dari kantor (secara dulu di apate cuma nyebrang aja kalau mau ngantor), kepindahan ini membawa hikmah tersendiri bagi saya: jadi bisa dan mau naik motor sendiri.

Yang juga menjadi highlite tahun ini adalah banyaknya undangan pernikahan. Mm semakin meningkat dibanding tahun-tahun sebelumnya lah. Mulai dari teman-teman kuliah, teman seperjuangan di Bontang, termasuk salah satu sahabat dekat saya. Rasanya seperti Semesta berkonspirasi sekali :'')

Tapi, dari kalangan keluarga justru nggak ada pernikahan sama sekali tahun ini. Hiduuuupp~~

Masalah pernikahan ini sempat diperhatikan superior saya ternyata. Penyebabnya, beberapa kali saya minta ijin pulang untuk menghadiri undangan pernikahan. Tiga kali sih seingat saya, untuk salah satu sahabat dekat saya dan dua ciwi PEP yang kebetulan waktunya berdekatan.

"Kamu ke nikahan orang terus, kapan nyiapin untuk nikahan sendirinya?"

Untungnya, seperti kepindahan rumah tadi, banyaknya undangan nikah ini juga membawa hikmah yang mengesankan tahun ini, berkesempatan travelling ke beberapa tempat yang belum pernah dijelajahi. Padang, Bukittinggi, Surabaya, Malang, Tulung Agung, Kediri... (yang terakhir itu masih 'numpang lewat' :p)

Dari segi resolusi kedua, tahun 2016 nggak terlalu banyak meninggalkan kesan berarti. Kecuali bahwa tahun ini kadang menuntut kesabaran super ekstra. Ada beberapa hal yang ingin dicoba tahun ini dan kadang sukses. Misalnya, memberanikan diri mengikuti Merdeka Sailing Race dan akhirnya meraih juara kedua. Atau, mencoba dive course tapi akhirnya nggak jadi karena berenang biasa pun nggak kuat :p

2. Downs
Yang masih diingat dari tahun ini adalah kepergian salah satu ua yang paling disayang. Begitu mendadak, bahkan bisa dibilang singkat. Beliau pergi dalam suasana Idul Fitri. Suasana yang seharusnya dijalani suka cita. Tahun ini, saya justru merasa benar-benar  kehilangan euforianya. Udah mah kerja full selama dua hari tanggal merah itu, sedikit banget kesempatan buat ngobrol lama sama keluarga, ada kabar duka.. :(

Tahun ini, satu ujian juga menimpa keluarga. Berat juga memang waktu menjalaninya, tapi pada akhirnya semua harus disyukuri karena pasti ada hikmahnya.

3. Resolusi Ketiga
Pada bulan-bulan akhir tahun 2016, jalan menuju resolusi ketiga mulai terlihat. Secara tiba-tiba, sederhana, dan nyata.

"Sudah ada yang ngatur itu.."

Jalan ini membuat saya semakin percaya, kesabaran pasti akan berbuah manis. Semoga selalu dijaga ya :')

Apapun yang sudah terjadi, tahun 2016 memberikan cukup banyak pelajaran berharga. Tentang saya pribadi, sebagai seorang anak, teman, pekerja, atau predikat lainnya. Terima kasih kepada semua yang telah mengisi tahun 2016 saya. Yang telah memberikan warna walau kadang tanpa diminta.

Selamat menyambut tahun 2017. Semoga bisa mengisinya dengan lebih baik, bermanfaat, dan berkesan :)

This entry was posted in

Friday, November 25, 2016

Journey to The West (Sumatra) Part. 2

Konon katanya, menjelajahi Sumatra Barat nggak cukup dalam waktu satu minggu. Apalagi kalau sekedar 2 - 3 hari atau memanfaatkan misi ke kondangan seperti saya. Satu kota di Sumatra Barat aja punya banyak daya tarik dan ciri khas masing-masing. Belum lagi kalau suka pantai, duh cantik-cantik banget deh pantai di sana itu!

Bagi wedtraveller seperti saya, undangan pernikahan di kota baru justru agak membuat salah fokus. Alih-alih merencanakan bagaimana tampil kece di kondangan, saya lebih suka membuat itinerary sederhana tempat apa saja yang bisa dikunjungi dalam waktu singkat. Bahkan kalau bisa dimulai dari malam pertama menjejakkan kaki di kota tujuan itu.

Cerita sebelumnya: Journey to The West (Sumatra) Part. 1

Setelah cukup puas mengenal Bukittinggi di malam hari, saya dan partner kembali merencanakan jalan-jalan sebelum kondangan. Kebetulan acara kondangannya siang hari mulai pukul 11.00 WIB sehingga kami punya cukup banyak waktu untuk menjelajah lagi.

Untuk menghemat waktu, saya dan partner sepakat nggak sarapan di hotel. Berbekal petunjuk dari Waze, kami memulai perjalanan dengan jalan kaki. Sama seperti malam hari, udara pagi di Bukittinggi masih cenderung sejuk. Nggak membuat terlalu berkeringat meski cahaya matahari juga cukup cerah bersinar.
Selamat pagi, Bukittinggi! :')
Tujuan utama kami pagi itu adalah Goa Jepang. Terletak berdekatan dengan Ngarai Sianok, gua bersejarah ini memakan waktu tempuh sekitar 15 menit jalan kaki dari hotel. Sebenarnya bisa lebih singkat karena secara geografis gua yang ada di Taman Panorama ini terletak di belakang hotel! Kami terpaksa berjalan memutar karena mengikuti petunjuk Waze yang memberi petunjuk untuk jalan dengan kendaraan. FYI, jalan di depan hotel itu memang searah, jadi kalau pakai kendaraan memang harus memutar :__)))

Foto dulu biar nggak sedih karena jalannya memutar padahal ternyata bisa tembus langsung dari belakang hotel :))
Sampai di area Taman Panorama, kami disambut sekelompok pemuda yang entah sedang apa. Terlihat ramah kok, tapi tetap aja perlu waspada. Setelah membayar tiket masuk, saya dan partner langsung bergerak mencari spot foto. Ternyata, mungkin kami diperhatikan salah satu dari pemuda di pintu masuk tadi karena dia langsung menghampiri dan menawarkan memotret kami #pede.

Singkat cerita, uda ini memperkenalkan diri sebagai semacam tour guide untuk memandu ke Goa Jepang. Kalau yang saya tangkap dari ceritanya, sepertinya dia adalah 'mitra binaan'nya Disbudpar Bukittinggi untuk menjadi pemandu wisata di sekitar kawasan itu. Tidak hanya memahami sejarah Goa Jepang, Uda Ade juga terlihat menguasai informasi objek wisata di sekitar Taman Panorama itu.


Bahkan Uda-nya yang lebih semangat mengarahkan kami berpose di tempat yang punya background kece dan nggak backlight :p
Sekilas, saya jadi membandingkan dengan Goa Jepang yang ada di Tahura Bandung. Di sana juga ada jasa 'pemandu wisata', tapi terkesan 'menodong'. Yang di Bukittinggi ini, pendekatannya sopan dan terbuka. Sebelum masuk ke dalam goa, kami di-briefing singkat sekaligus diberi tahu harga jasa guiding-nya.

Berdasarkan informasi dari Kompas Travel, Goa Jepang pertama kali ditemukan tahun 1950. Konstruksinya sendiri dimulai tahun 1944 dan memakan waktu sekitar tiga tahun untuk menyelesaikannya. Pembangunan Goa Jepang menggunakan tenaga kerja dari Sulawesi, Jawa, dan Kalimantan. Tidak ada warga Bukittinggi yang dilibatkan pada pembangunan untuk menjaga kerahasiaan. Sebaliknya, mereka justru dikirim ke luar Sumatra untuk dipekerjakan secara paksa di proyek Jepang lainnya.

Memasuki Goa Jepang, kita perlu menuruni ratusan anak tangga. Goa dengan kedalaman sekitar 49 meter di bawah permukaan tanah ini memiliki panjang sekitar 6 kilometer dan bisa dijelajahi sekitar 20 menit untuk sampai di ujung jalan yang menjadi pintu keluarnya.

Pada masanya dulu, Goa Jepang ini merupakan tempat persembunyian tentara Jepang. Berbeda dengan gua pada umumnya yang dingin, lembap, gelap, dan menimbulkan gema jika ada suara, Goa Jepang yang di Bukittinggi ini terasa lebih 'rapi'. Sebagian besar dinding sudah ditutupi semen, tetapi tidak mengurangi penampakan aslinya. Yang unik, dinding gua yang masih asli sengaja dibuat tidak merata. Ada ceruk yang berfungsi meredam suara dalam gua sehingga tidak terjadi gema. Jepang udah cerdas dari dulu ya :')

Konon, lokasi yang juga dikenal sebagai 'Lubang Jepang' ini mampu menahan letusan bom hingga 500 kg. Ketika ada gempa di Sumatra Barat pun, gua yang mulai dibuka untuk umum tahun 1984 ini nggak mengalami kerusakan parah. Hanya lapisan semennya yang rontok, sementara kontur dindingnya tetap utuh.

Inilah beberapa ruangan dalam guanya:

Ini pintu masuknya

Inilah peta rencana pembangunan guanya. Beberapa bagian nggak bisa dimasuki / dilihat.

"Kalau mau foto-foto di dalam, ada aturannya."
"Apa?"
"Harus senyum."
" :___)))"

Jangan takut gelap :)



Bahkan udah ada EEAA! :))



Yang jelas bukan sidang usmas / skripsi..

Dapur yang nggak berfungsi sebagai 'dapur' pada umumnya :(

Ada kalanya kita bertemu persimpangan dan harus memilih..
Keluar dari Goa Jepang, waktu ternyata masih cukup pagi buat siap-siap kondangan. Saya dan partner memilih melanjutkan lagi perjalanan kami ke dua tempat wisata alam yang letaknya nggak jauh dari Taman Panorama tadi. Tunggu ceritanya di part.3 ya :D










Thursday, November 17, 2016

Wednesday, October 26, 2016

Sunday, October 2, 2016

Wednesday, September 21, 2016

Journey to The West (Sumatra) Part. 1

Kalau di serial Kera Sakti, perjalanan ke barat dilakukan tokoh utamanya untuk mencari kitab suci. Sementara di kehidupan nyata, saya dan teman seangkatan kerja baru-baru ini melakukan perjalanan ke barat untuk mencapai sebuah misi: menghadiri undangan pernikahan.

Adalah Bukittinggi, kota yang menjadi tujuan utama kami. Terletak di Sumatra Barat yang belum pernah saya dan partner kunjungi membuat antusiasme kami meningkat. Meski di awal sempat deg-degan merencanakan perjalanan karena ternyata ada agenda mendadak yang 'nyempil'.

Sebelum mencapai Bukittinggi, kami harus ke Padang terlebih dahulu dari kota masing-masing. Saya dari Surabaya, sedangkan partner saya dari Balikpapan. Ternyata tidak ada penerbangan langsung untuk semua maskapai. Transitnya pun cukup lama dan ada di beberapa tempat. Untunglah kami menemukan rute Lion Air baik dari Surabaya maupun Balikpapan yang bisa sama-sama transit di Batam selama dua jam. Total waktu tempuhnya pun mungkin paling singkat, 'hanya' sekitar lima jam. Partner saya tiba lebih dulu dan saya menyusul sekitar satu jam kemudian.

"Kita foto di depan toko oleh-oleh aja. Eh tapi kok jadi kayak di depan minimarket biasa? :))"
Hujan di Hang Nadim :')
Pemandangan dari udara sepanjang Batam - Padang aja udah membuat nggak jadi tidur
Setelah dicurhatin partner yang perjalanan udaranya mengalami beberapa drama, kami melanjutkan perjalanan dengan travel dari bandara Minangkabau menuju Bukittinggi. Estimasi waktu tempuh adalah 2,5 - 3 jam dengan rute perjalanan relatif lurus dan mulus.

Ada yang unik dari travel APV yang kami tumpangi ini. Sepanjang perjalanan, drivernya nyetel lagu berbahasa Minang! Saya dan partner sama-sama nggak ngerti, jadi kami cuma menebak-nebak arti liriknya. Karena saat itu hari juga sudah gelap (kami tiba sekitar pukul 18.00 WIB), nggak banyak pemandangan yang bisa dilihat. Jadilah kami ngobrol ngalor-ngidul plus mendadak terharu karena di tengah perjalanan drivernya memberikan air mineral gelas kepada semua penumpang. Duuh, naik travel Bontang - Balikpapan yang dua kali lipat jauhnya aja nggak pernah diperhatiin sampai sebegitunya :""")))

Sampai di Bukittinggi sekitar pukul 21.00 WIB, kami langsung check in di Grand Rocky dan meletakkan barang. Hotel ini sepertinya masih baru dan cukup recommended. Kami memesan kamar dengan twin bed dan kalau pagi pemandangannya bagus banget! Lokasi hotel juga strategis, dekat tempat-tempat wisata populer dan bisa ditempuh hanya dengan berjalan kaki.

Source: Trip Advisor

Source: Booking.com
Udah agak malam untuk jalan sih, tapi karena lapar, kami sepakat langsung mencari udara luar. Untungnya, tumben-tumbenan partner saya yang biasanya nggak mau makan pedas lagi ngidam hal yang sama: sate padang! Udara Bukittinggi malam hari dingin menyegarkan. Nggak perlu pakai jaket juga nggak papa.

Berbekal arahan dari orang-orang di sekitar hotel, kami berjalan kaki sekitar 5 menit dan menemukan warung makan yang menjual sate padang. Sayang sudah habis, jadi kami mencari lagi dan ternyata ketemulah dengan "Pusat Kuliner Jl. Ahmad Yani". Kalau belum terlalu malam, mungkin tempat itu ramai.

Kami memesan seporsi sate danguang-danguang untuk masing-masing. Saya pakai lontong dan ini pilihan tepat kalau lagi lapar karena ternyata porsinya nggak sebesar dugaan awal. Sate danguang-danguang ini rupanya adalah sate khas Bukittinggi. Berbeda dengan sate padang yang mungkin sering kita jumpai di Jawa, daging pada sate danguang-danguang diberi kelapa sebelum dilumuri bumbu sehingga rasanya lebih gurih dan mengurangi kepedasannya.

Porsi mini .__.
Kenyang makan malam, kami mencari tujuan lain yang bisa dikunjungi selarut itu. Pikiran pun langsung tertuju pada Jam Gadang, salah satu ikonnya Ranah Minang. Berbekal arahan dari Waze, kami jalan kaki mengikuti petunjuknya dan ternyata dekat sekali! Nggak sampai 5 menit sih kayaknya :))).

Sedikit tips membaca Waze, tetaplah lihat peta secara keseluruhan karena kita umumnya mengatur settingan arah untuk ditempuh dengan kendaraan. Beberapa jalan di Bukittinggi ini cenderung satu arah sehingga kalau mengikuti petunjuk Waze, kita harus berjalan memutar padahal sebenarnya bisa lurus terus jalannya. Ngerti kan ya maksudnya? Atau bisa juga sih settingan Wazenya langsung diubah menjadi jalan kaki hehe.

Sampai di Jam Gadang, kami langsung mencari posisi yang pas untuk 'pemotretan'. Selain bangunan jamnya, ternyata ada semacam taman kecil di sekitar situ.Meski saat itu sudah pukul 22.00 WIB lebih, suasananya masih lumayan ramai terkendali dan di salah satu sudut taman ada Satpol PP yang berjaga-jaga. Rasanya aman :')

FYI, mungkin sisi ini adalah yang terbaik untuk memotret dengan latar belakang jamnya 
Puas berfoto (dan nyemil kacang rebus karena lapar lagi), kami memutuskan kembali ke hotel untuk istirahat. Perjalanan pulang ini cukup nanjak. Untungnya rasa lapar sudah hilang, berganti rasa mulai kedinginan. Malam pertama di Bukittinggi kami sepakat memiliki kesan yang baik terhadap kota ini: udaranya sejuk tetapi tidak menusuk, malamnya relatif sepi tetapi masih aman, dan enak untuk dijelajahi dengan berjalan kaki.

Wednesday, September 14, 2016

Wedtravelling

Saya tidak tahu sudah ada yang pernah memperkenalkannya atau belum, tetapi istilah 'wedtravelling' ini sudah tercetus sejak Agustus 2014. Kalau memang belum ada, anggaplah saya penemunya ya..hehe.

Secara etimologis (halah), 'wedtravelling' berasal dari dua kata yaitu 'wedding' dan 'travelling'. Kalau diartikan, sederhananya istilah ini berarti melakukan kegiatan travelling dengan niat utama (atau niat awal) adalah menghadiri undangan pernikahan.

Saya sendiri baru dua kali melakukannya, ke Cirebon dan Bukittinggi. Diundang menghadiri pernikahan ke dua kota ini memberikan keuntungan tersendiri, menjelajahi kota yang sebelumnya tidak pernah saya datangi.

Karena ada dua tujuan utama yaitu menghadiri undangan pernikahan dan jalan-jalan, wedtravelling memerlukan persiapan yang sedikit berbeda dibandingkan dengan travelling dan kondangan pada umumnya. Dengan pengalaman yang masih minim, saya mencoba berbagi persiapan untuk ber-wedtravelling ria seperti berikut.

1. Tentukan Lama Perjalanan
Acara pernikahan biasanya memang berlangsung hanya satu hari. Atau mungkin dua, kalau akadnya dilakukan di hari yang berbeda dan berniat hadir.

Sebagai wedtraveller, kita harus bisa membaca peluang ini untuk menyempatkan diri menjelajahi kota yang dituju. Syukur-syukur kalau bisa memanfaatkan jatah cuti sehingga lebih maksimal travellingnya.

Saya biasanya lebih suka menjelajahi kota sebelum menghadiri undangan supaya nggak terlalu capek. Kalau kota yang dituju jauh dari tempat tinggal, idealnya sediakan waktu H-2 acara sampai H+1 untuk waktu tempuh. Tapi kalaupun nggak bisa, 2-3 hari pun sudah cukup kok :')

2. Susun Fokus Wisata
Setelah mengetahui lama perjalanan, cobalah susun itinerary agar bisa memanfaatkan waktu secara maksimal. Satu kota terkadang memiliki banyak tujuan wisata yang menggoda. Namun karena keterbatasan waktu, kita harus bijak menentukan prioritas.

Kenali potensi terbesar dari kota yang akan dituju lalu sesuaikan dengan minat kita. Mau wisata alam? Budaya? Kuliner? Belanja? Apakah ada event tertentu di tanggal kita berada di kota itu yang bisa dikunjungi? (Pengalaman saya saat berada di Padang-Bukittinggi lalu, ternyata di hari saya ada di Bukittinggi, Noah sedang menyelenggarakan konser di Padang dan sebenarnya itu bisa ditonton! Huhu :( )

Jangan lupa masukkan juga perhitungan jarak tempuh dari tempat menginap ke tempat resepsi ya.

3. Bijak Memilih Transportasi
Kalau ada beberapa pilihan transportasi, pilihlah kendaraan dengan jarak dan waktu tempuh yang meminimalisir rasa lelah. Simpan energi untuk menjelajahi kota tujuan dan menghadiri undangan!

Saya pernah agak kurang tepat memilih kendaraan ketika ber-wedtravelling dari Bandung ke Cirebon. Waktu itu, saya dan teman seperjalanan memilih kereta eksekutif untuk berangkat dan kereta ekonomi untuk pulang. Kami berasumsi, saat pulang kondisi keuangan pasti akan menipis sehingga perlu berhemat. Namun menurut saya, ke depannya strategi ini perlu dibalik, pilih kelas ekonomi untuk berangkat dan kelas eksekutif untuk pulang. Mengapa? Karena ketika pulang, badan biasanya baru terasa lelah sehingga memerlukan kenyamanan ekstra! :p

4. Bawa Barang Seperlunya
Bawalah baju, sepatu, aksesoris, dan printilan lain seperlunya. Ini supaya nggak ribet selama di perjalanan dan anggaplah untuk menyisakan tempat oleh-oleh hehehe. Pastikan juga kita sudah tahu kondisi cuaca di kota tujuan supaya nggak saltum. Kemarin teman saya lupa membawa baju hangat padahal kami bepergian ke daerah dataran tinggi. Untung karena terlalu bersemangat, jadi nggak merasa kedinginan :p

Baju kondangannya jangan lupa! :))

5. Memilih Partner
Ini juga persiapan yang nggak kalah penting. Mengapa? Karena partner akan menentukan kebahagiaan kita selama perjalanan hahahaha. Alhamdulillah selama dua kali melakukan wedtravelling, saya ditemani partner yang bisa diajak kerja sama, nggak ribet, dan berbagi suka duka (duka: ketika nyasar ke tempat wisata yang mau dituju :p)

Sebelum berangkat, carilah teman yang kira-kira bisa diajak ber-wedtravelling dan memiliki jadwal yang sama untuk memudahkan koordinasi. Lebih asik lagi kalau sang partner memiliki kemiripan selera dan semangat sehingga travellingnya bisa lebih maksimal.

Saya nggak menyarankan untuk pergi sendirian karena secara pribadi kota tujuan wedtravelling ini umumnya masih asing bagi saya. Tidak ada saudara ataupun kenalan di kota itu sehingga kalau (amit-amit) kenapa-napa, nanti susah meminta pertolongan. Keberadaan partner juga diperlukan untuk mendapat restu orang tua sebelum berangkat :')

Ada yang sudah pernah atau sering melakukan wedtravelling juga? Mari berbagi pengalaman dan tipsnya! :)