Friday, August 12, 2016

Yudistyana's Kitchen: Tumis Sawi Hijau Ala-ala

"Dia mah paling bisanya cuma masak mi!"

"Enggak kok, aku juga bisa masak telor! :p"

Saya lupa sejak kapan mulai terbiasa (baca: terpaksa bisa) masak. Mungkin sejak kuliah dan tinggal sendiri di rumah. Antara bosan sama makanan di luar yang kadang rasanya nggak sesuai selera dan memang ingin bereksperimen mencoba resep. Nggak yang ribet kok, masakan rumahan saja. Yang cukup dimakan buat porsi berdua (karena saya tinggal sama adik) atau berempat kalau kebetulan kedua orang tua lagi berkunjung.

Kebiasaan ini kembali berkembang setelah saya merantau ke Bontang. Alhamdulillahnya di sini juga disediakan rumah dinas plus dapur minimalisnya sehingga 'hobi' memasak bisa tersalurkan. Tantangannya cuma satu: bahannya susah! Nyari ceker aja duh ampuuuun! Kalaupun ada di pasar, biasanya nggak bisa dibeli karena sudah dipesan. Mau masak sayur, kalau beli dari warung dekat perumahan, terbatas sekali pilihannya.

Salah satu solusinya, saya mencoba membeli sayur dari kebun hidroponik mitra binaannya Badak LNG. Waktu pertama kali kunjungan lapangan ke tempat ini, saya langsung suka. Segar banget suasananya, sayuran di mana-mana. Apalagi kalau menemukan tanaman yang saya kenal, rasanya ingin langsung memetik dan mengolahnya menjadi makanan.

Kali kedua berkunjung, saya akhirnya bisa membeli beberapa sayur. Dengan Rp 20.000,00 yang kebetulan ada di saku jaket, saya mendapatkan sekeresek sedang sawi hijau, seledri, selada, dan daun mint. Saat ini yang sedang panen banyak memang sawi hijau, jadi sayur inilah yang jumlahnya banyak.



Sawi hijau bukanlah jenis bahan baku utama yang sering saya olah. Baru ngeh malah, sayur ini ternyata yang sering ada di bakso, nasi goreng atau mi goreng tek-tek, dan mi kuah sebagai sayuran pendamping. Biasa kan tinggal makan.. :))

Mumpung masih segar, saya langsung mengolah beberapa lembar sawi itu untuk menu makan malam. Berbekal aneka informasi dari Cookpad, ketemulah resep yang keliatannya enak: Tumis Sawi Hijau. Ini dia resep dan cara memasaknya dengan sedikit modifikasi:

Bahan:
Sawi hijau segenggam, cuci bersih lalu iris
Cabe keriting, iris
Cabe rawit, iris
Bawang merah, iris
Bawang putih, iris
Bawang bombay, iris
Telur ayam
Daging iris (kalau saya pakai daging yang untuk isian burger, bisa juga diganti dengan sosis/bakso)
Mentega untuk menumis
Saos tiram
Air secukupnya
Garam
Gula pasir
Terasi (kalau suka)
Tomat (kalau suka)
Penyedap rasa (kalau suka)
Bawang goreng (kalau suka)

Cara Memasak:
1. Haluskan irisan cabe-cabean dan bawang-bawangan (kecuali bawang bombay) bersama garam, gula pasir, dan terasi
2. Panaskan mentega, tumis semua bumbu halus sampai tercium harumnya.
3. Masukkan daging iris dan bawang bombay, tumis sampai agak matang dan harum.
4. Masukkan telur, buat orak-arik.
5. Masukkan sawi hijau, tambahkan sedikit air, saos tiram, dan penyedap rasa serta tomat.
6. Setelah sayuran agak empuk dan rasanya pas, sajikan.
7. Taburkan bawang goreng supaya lebih nikmat.

Simpel kan? Iya, masak itu nggak perlu ribet kok. Yang penting kualitas bahannya terjamin dan rasanya sesuai selera. Karena resep ini dimodifikasi, setelah disajikan bersama nasi putih hangat malah jadi terlihat seperti nasi gila sih sebenarnya. Tapi nggak papalah, tetap layak makan kok hehe.



Gimana, berminat mencoba resep ini? Atau resep lainnya yang pernah saya share? ;)






Monday, August 8, 2016

How You Met Your Partner?

Mendapat berita rencana dan undangan pernikahan secara bertubi-tubi dalam waktu dekat belakangan ini, sejujurnya membuat saya kembali sering memikirkan mengenai 'resolusi ketiga'. Salah satu goal & objective individu yang sampai saat ini progressnya masih gitu-gitu aja karena kadang juga masih bingung sendiri: mau mulai dari mana?

Beberapa orang yang saya tanya pendapatnya memberikan jawaban yang kurang memuaskan. Begitupun dari artikel-artikel tentang relationship, rasanya kok belum ada yang pas untuk diterapkan hehe. Akhirnya, saya memilih belajar dari pengalaman orang-orang. Menjadi sering bertanya, "Dulu ketemunya gimana?" kepada mereka yang sudah (mungkin merasa?) berhasil menemukan 'the right one'.

Salah satu teman saya yang akan menikah bulan depan bertemu dengan calon suaminya ketika sedang menyeberang jalan dari tempat tinggal ke kantor (iya, jarak kantornya sedekat itu memang hehehe). Si calon suami pernah melintas di jalanan itu sambil senyum, teman saya yang sedang berjalan bersama beberapa orang lainnya melihat, teman saya ini kebetulan juga suka tapi nggak mau geer si masnya tadi senyum untuk siapa. Dia juga mengaku beberapa kali melihat si mas itu melintas dekat kantornya, tapi masih belum tahu siapa dia.

Singkat cerita pada suatu hari, teman sekantornya merencanakan blind date untuk dia. Dan Semesta pun bekerja, pasangan blind datenya adalah si mas mas yang pernah melintas di jalan depan kantornya itu sambil senyum! Surprisenya lagi, sebenarnya mereka sudah pernah, bahkan sering bertemu di masa awal bekerja alias probation. Sayang, pada saat itu keduanya belum ada 'rasa'. Setelah blind date itu, keduanya jadi aktif berkomunikasi, jalan bareng, menjalin hubungan, dan pada akhirnya berani memutuskan akan hidup bersama. Rentang waktu dari blind date sampai mereka (akan) menikah adalah satu tahun.

Orang kedua yang saya kepo cerita 'pertemuan pertama'nya kebetulan adalah kakek jauh saya. Dengan semangatnya, baru-baru ini dia menceritakan perjuangannya untuk mendapatkan hati sang nenek (beserta keluarga terutama ayahnya! :)) ) selama setahun lebih.

Bagaimana dia bertemu sang nenek? Suatu hari, sang kakek berada di bengkel temannya untuk memperbaiki kendaraannya. Saat menunggu, melintaslah sang nenek keluar dari rumahnya yang memang dekat bengkel itu. Kakek ini penasaran dan berusaha mencari informasi dari temannya. Dengan menyebutkan ciri-ciri sang nenek, temannya memberi petunjuk bahwa gadis idamannya selalu pergi tarawih di masjid bersama keluarganya lewat jalan yang sama. Sang kakek pun mencegatnya. Mereka berkenalan, jalan bareng, dan akhirnya sang kakek berani melamar pujaan hatinya, membentuk keluarga bahagia sampai saat ini :').

Cerita yang agak-agak mirip FTV juga ada. Pelakunya adalah pejuang LDR yang sudah menjalin hubungan selama enam tahun lebih dengan pacarnya. Memasuki tahun ketujuh, teman saya ini (cewe) baru tahu bahwa dia punya sepupu jauh (sekali) yang tinggal di kota yang sama dengannya. Awalnya mereka sering bertemu sebagai saudara. Selang seminggu, entah apa yang Semesta rencanakan, perasaan itu berubah. Teman saya memutuskan menjalin hubungan yang lebih serius dengan orang yang baru dikenalnya selama seminggu dan rela melepaskan orang yang sudah bertahun-tahun 'menemaninya'. Satu caturwulan kemudian (hayooo berapa lama? :)) ), keduanya memutuskan untuk menikah dan tentu saja sudah mendapat restu keluarga masing-masing. 

Lain lagi cerita salah satu sahabat yang baru-baru ini menikah. Suaminya dulu adalah salah satu senior sekaligus tutornya untuk persiapan lomba yang dia ikuti di kampus. Cerita mereka semacam perpaduan antara 'right man in the right time' yang berpadu dengan pepatah klasik 'witing tresno jalaran saka kulina'. Sahabat saya abis patah hati, dia mengobatinya dengan ikut lomba di kampus, ternyata tutornya memang sebenarnya sudah menyimpan rasa kepada dia, dan kesempatan untuk mengungkapkan itu akhirnya ada.

And theeeen...they live happilyyyy....~~

Sejauh pengamatan saya, ternyata sebenarnya sosok 'the right one' itu kadang nggak jauh dari kita. Sudah dekat. Sedekat pernah berada di circle yang sama. Sedekat tinggal di wilayah yang sama. Sedekat memiliki banyak kesamaan lainnya.

Lalu kalau ternyata sudah dekat, harus bagaimana?

Kalau kamu mengalami atau punya cerita yang unik tentang "Dulu ketemunya gimana?", share juga doong :)

Sunday, July 24, 2016

Siap Atau Belum Siap, Itukah Pertanyaannya?

Beberapa waktu lalu, saya dan beberapa teman seangkatan kerja diundang ke pernikahan salah satu putrinya mitra kerja. Lokasinya cukup berbeda dari resepsi pernikahan pada umumnya, di GOR salah satu perusahaan. Boleh juga idenya, pikir saya, cukup bisa menghemat anggaran untuk kursi karena para tamu bisa duduk di kursi tribun yang memang sudah tersedia hehehe.

Sambil memilih hidangan apa lagi yang akan disantap setelah Kambing Guling, saya memandang ke arah pelaminan. Dengan posisi duduk di tribun, pemandangan di area resepsi itu cukup luas terlihat. Kedua mempelai beserta keluarga seolah nggak lelah memberikan senyum kepada para tamu yang datang dan memberikan doa restu. Sementara itu anggota keluarga mereka yang lain juga turut larut dalam keceriaan, bahkan ada yang menyumbang beberapa lagu untuk sang mempelai.

Pikiran kemudian beralih ke keluarga besar. Dengan randomnya, satu pertanyaan terlintas, "Seru ya mengadakan acara nikahan seperti ini! Kok kayaknya di keluarga besar (dari pihak Bapak maupun Ibu) udah jarang banget ada acara kayak gini. Kapan terakhir kali merasakan euforia menjadi 'keluarga mempelai' ya?"

Kerandoman ini mungkin disebabkan oleh Kambing Guling!

Karena nggak lama kemudian saya tersadar...

..kalau sesuai 'urutan' usia, cucu perempuan yang masih available dari kedua keluarga besar ya saya! Yang artinya sangat potensial ada acara nikahan itu kalau.... :____))))

Secara ya, biasanya kan keluarga mempelai perempuan yang lebih bersemangat dan punya kontribusi lebih besar (atau memang wajib?) mengurus ini itunya dalam sebuah acara pernikahan.

Well, karena jarang ketemu keluarga besar, sejauh ini saya masih minim digerecokin pertanyaan 'Kapan' itu. Nggak tau ya kalau ternyata mereka nanyanya ke orang tua :(.

Menikah, bagi saya, adalah resolusi ketiga terbesar dalam hidup yang ingin sekali dicapai dengan baik. Dua resolusi sebelumnya Alhamdulillah sudah diperoleh, dengan proses yang lumayan membuat jatuh bangun tapi pada akhirnya indah. Kadang saya berpikir, mungkin karena 'hal ini' saya jadikan sebagai resolusi ketiga, tantangan yang dihadapinya akan sedikit lebih tinggi plus waktu ujiannya.. diperpanjang? .__.

Suatu hari, saya pernah chit-chat dengan salah satu teman dan tercetuslah pernyataan bahwa, "Saya ingin meraihnya (resolusi ketiga), tapi kok sampai sekarang belum kepikiran dengan segala printilan untuk merayakan 'hal itu' ya?"

Kadang ada kan, seseorang yang sudah benar-benar ingiiiiin sekali meraihnya sampai sudah merancang konsep perayaannya mau seperti apa, baju yang akan dikenakannya model gimana, dan blablabla lainnya. Sejauh ini 'persiapan' saya kalau untuk perayaannya baru sebatas follow beberapa akun tempat berkumpulnya vendor wedding party (semacam Bride Story etc), kepoin beberapa desainnya Vera Kebaya, dan.. 'menilai calon yang potensial'.

Saya lebih tertarik mempersiapkan kehidupan nyata setelah sebuah pesta untuk 'hal itu'. Untuk menjadi pendamping, makmum, 'manajer' keluarga... apapun predikatnya kelak. Beberapa persiapan sebenarnya sudah dicicil, yang terlihat jelas mungkin sejak SMA dan tinggal di asrama. Belajar membiasakan diri hidup bersih dan rapi, belajar disiplin, dan ilmu lainnya yang nggak dipelajari secara teoritis.

Mungkin kerandoman ini jugalah yang membuat saya menemukan artikel ini di tengah memikirkan jawaban baru kalau ditanya 'Kapan?': 14 Pertanda Bahwa Kamu Sebenarnya Sudah Siap Menikah.

Ehm, coba sedikit dibahas versi saya ya..

1. Kamu tahu betul prioritasmu dan pandai mengaturnya.
Untuk beberapa hal, ya.

2. Time management-mu walau belum sempurna tapi setidaknya sudah berjalan lebih baik setiap harinya
Kalau menurut orang yang sering berinteraksi dengan saya sih, saya 'masih belum pintar' di bidang ini :__))

3. Selalu belajar untuk tidak egois dan mengerti kebahagiaan calon istri atau suamimu juga sepenting kebahagiaanmu.
Kalau orang lain apalagi orang terdekat bahagia, InsyaAllah saya juga ikut bahagia.. :)


4. Selain bisa memimpin dirimu sendiri, kamu juga bisa memimpin orang terdekatmu.
Mmm ini perlu minta pendapat orang-orang dekat sih sebenarnya, tapi kalau di keseharian terutama untuk hal-hal yang sederhana, seringnya pendapat saya cukup diterima dan diterapkan sih (misal: memutuskan tempat makan siang/malam! :p)


5. Kamu sudah bisa mengatur keuanganmu sendiri hingga stabil.
Alhamdulillah..kalau dibilang stabil ya sudah..dan masih terus belajar mengaturnya :)

6. Kamu bisa berpikir lebih dewasa dan terbuka terhadap banyak hal.
Bisa kok (semoga)

7. Emosimu juga sudah bisa dibilang stabil.
Udah. Bahkan untuk menghadapi beberapa orang/masalah bisa cenderung tiis saking stabilnya :)))

8. Kamu bisa menoleransi perbedaan.
Iya, nggak perlulah debat panjang lebar kalau menghadapi perbedaan atau mempertahankan argumen, apalagi kalau yang dihadapinya keras kepala~ IMHO, sih.

9. Kamu sadar betul hidupmu nggak akan sebebas pas kamu single.
Sadaaaarrrr :__))))


10. Kamu bisa menyesuaikan sikap dan perilakumu di berbagai keadaan.
Bisa, walau kadang mungkin keceplosan agak 'bocah' :p

11. Kamu nggak akan mengambil keputusan berdasarkan perasaan.
Untuk beberapa hal, keputusan yang akan diambil juga perlu mempertimbangkan aspek perasaan sih.. tapi ya tetap seimbanglah sama logika.. penilaiannya yang menyeluruh dulu

12. Kamu tahu tujuan hidupmu.
Tujuan hidup sudah dirancang dari jaman kuliah. Sebenarnya ada tiga resolusi besar sebagai tujuan hidup. Berhubung resolusi ketiganya masih dalam proses, saat ini sambil memperjuangkan yang lain dulu. Mau nemenin? :') #eh


13. Kamu sadar bahwa ketika menikah nanti, belum tentu impianmu bisa terwujud.
Iya, makanya beberapa mimpi berusaha dicapai sambil memperjuangkan resolusi ketiga ini.

14. Kamu siap berkorban untuk keluargamu, baik suami atau istri dan anakmu (kelak).
InsyaAllah siap

Jadi simpulannya?

Kalau kadang saya menjawab 'Kapan' dengan bercanda, bukan berarti saya sama sekali nggak ada usaha. Nggak semua usaha perlu dipamerkan, nggak semua hal tentang 'Kapan' perlu seperti dilombakan atau sesuai urutan.

Kalau berdasarkan empat belas pertanyaan ini, memang masih ada beberapa poin yang sepertinya saya 'belum siap'. Tapi 'hal itu' sesungguhnya lebih luas dari sekedar '14 Siap' ini kan. Mungkin kita nggak pernah tahu kapan benar-benar siap, tapi Sang Pencipta pasti sudah punya jawabannya untuk kita.

Terus berusaha, dan berdoa. Ini aja kan kunci utamanya? :')





Thursday, July 21, 2016

Belajar Mengapresiasi

Kemarin malam, saya iseng membuka folder-folder jaman kuliah. Di jurusan Jurnalistik Fikom Unpad (alias 'Jurnal), pada masa itu terkenal dengan 'kerajinannya' memberikan tugas kepada mahasiswa. Bukan setiap minggu, melainkan nyaris setiap mata kuliah.

Dulu, penjurusan dimulai di semester 3. Selama dua semester awal, kami diberikan mata kuliah dasar dan pengantar, salah satunya Pengantar Ilmu Jurnalistik (sebut saja PIJ). Kebetulan, kelas saya mendapat dosen PIJ yang memang 'suhu'nya jurusan Jurnal. Dibandingkan kelas lain, kelas kami serasa diperlakukan sudah seperti anak Jurnal. Ritme tugas tinggi, plus menuntut kualitas yang baik pula.

Kalau digambarkan dengan emoticon Whatsapp, perjalanan saya saat itu adalah emoticon menangis sambil ketawa. Tau kan? Artinya, sering rasanya mau nangis karena tugas-tugasnya nggak mudah, sering dikritik pedas oleh dosen, bahkan nggak jarang dikembalikan untuk direvisi. Di sisi lain, rasanya mau ketawa juga karena Jurnal memang jurusan pilihan saya sejak masuk kuliah sehingga saya harus bisa menjalaninya dengan baik. *setel lagu 'Tabah'*

Salah satu ciri khas tugas jurusan Jurnal adalah 'apresiasi'. Tugas ini diberikan oleh salah satu dosen senior. Yang itu tadi, yang sudah saya temui sejak semester 2 sementara teman-teman saya baru bertemu dengannya di semester 3. Lumayanlah, enam bulan 'pendekatan' dengan gaya mengajarnya :___))).

Hampir setiap minggunya, dosen kami ini memberikan tugas mengapresiasi. Mulai dari buku, berita di koran, majalah, film, dan... apa lagi ya, begitu lah kurang lebihnya. Jeda waktu pengumpulan tugas adalah satu minggu dan tidak boleh telat sedetikpun. Disiplin sekali memang, tapi inilah yang membuat kami menjadi lebih menghargai waktu.

Meski untuk mata kuliah yang berbeda, format Tugas Apresiasi ini selalu sama. Ada empat bagian yang harus kami cantumkan sebagai bentuk 'apresiasi' terhadap karya yang ditunjuk: Rangkuman, Pembahasan, Simpulan dan Saran, Pertanyaan. Tidak kurang, tidak lebih. Dan semua ditulis dengan jenis serta ukuran font yang sama, plus margin yang sama pula. Nggak kebayang ih dulu bisa aja menjalani semua itu! :))))

Rasa bosan tentu kadang ada. Apalagi saya sudah mendapat 'bonus' satu semester mengerjakan tugas ini. Untungnya, saat itu ada beberapa hal yang menjadi sedikit penyemangat kalau sedang (atau sering) stuck mengerjakan tugas. Ingat lagi motivasi awal kuliah, demi nilai, cita-cita, plus ada yang nemenin begadang ngerjain tugas :") (baca: teman-teman sekelas yang juga stuck dan malah berujung chit-chat via YM).

Belakangan, apalagi setelah memasuki dunia kerja di korporasi, saya baru merasakan nilai lain yang diperoleh dari Tugas Apresiasi ini. Betul, intinya, belajar menghargai karya orang lain. Nggak gampang loh bagi seseorang untuk mengeluarkan karya yang berbobot seperti buku ajar, berita, film, atau produk lainnya. Kalau kita yang diminta membuat produk seperti itu juga belum tentu bisa menghasilkan kualitas yang sama bagusnya kan?

Dari empat bagian Tugas Apresiasi yang itu-itu aja, saya jadi belajar bahwa mengapresiasi dimulai dengan mengetahui betul apa yang akan kita apresiasi. Seperti di Rangkuman, kita perlu mengenal dulu apa atau siapa yang akan kita beri apresiasi. Seperti apa profilnya. Apa yang sudah dia hasilkan. Bagaimana prosesnya. Dan lain-lain.

Setelah mengenal, barulah kita bisa memberikan penilaian. Ini seperti ada di tahap Pembahasan. Bagi saya, inilah inti dari pemberian apresiasi. Meski penilaian bisa berarti baik atau buruk, maupun objektif atau subjektif. Sesungguhnya, memberi penilaian yang buruk bisa sama menyakitkannya dengan menerima nilai jelek alias kritikan. Apalagi kalau penilaiannya subjektif, hanya berdasarkan selera. Namun, semakin kita dikritik, pada akhirnya kita semakin tahu dan bisa memilah, mana kritik yang perlu didengarkan dan ditindaklanjuti, mana yang perlu disenyumi saja (sambil ngedumel dalam hati).

Saya nggak alergi kritikan atau mendapat penilaian buruk. Selama memang jelas alasannya, ada landasannya, berdasarkan fakta atau apapun penguat lainnya, kritikan adalah obat pahit yang akan membuat kita menjadi tumbuh dan semakin kuat. Seperti kata seseorang, "..pahit di awal, manis di akhir." Tapi ya ingat, nggak semua kritikan perlu diresapi apalagi pakai hati. Bisa stress nanti kalau nggak dipilah!

Ibaratnya kalau lagi mengerjakan bagian Pembahasan, kami dibebaskan memberi penilaian baik atau buruk terhadap karya yang sedang diapresiasi. Namun, harus ada opini penjelasan plus pendukungnya. Ada pembanding atau referensi lain. Untuk menilai sebuah film tentang perjuangan jurnalis mengejar narasumber, misalnya, kami boleh mengatakan film itu bagus karena sesuai fakta di lapangan atau justru sebaliknya, film itu jelek karena menyimpang dari teori yang seharusnya.

Jadi, tidak asal menilai. Bukan asal mengkritik. Apalagi kalau menilainya pakai emosi dulu. Bye!

Tahap berikutnya dalam mengapresiasi adalah membuat Simpulan dan Saran. Sederhananya, ini adalah gabungan dari Rangkuman dan Pembahasan. Kalau kita sudah tahu profil orang atau produknya, bisa menilai dengan tepat, pada akhirnya kita bisa membuat simpulan yang bijak. Apakah kita akan terus menjalin relasi dengan orang itu, apakah kita akan tetap menggunakan produk itu, semacam itu lah. Kalau pada tahap sebelumnya kita sudah memberikan penilaian yang kurang baik, seimbangkanlah dengan pemberian masukan yang membangun. Sekali lagi, sebaiknya tidak asal menilai.

Sebagai tahap akhir Tugas Apresiasi, dosen kami selalu mewajibkan mahasiswa mengajukan minimal lima pertanyaan di bagian Pertanyaan. Katanya, untuk mengasah nalar dan daya kritis kami. Waktu itu saya tidak terlalu menganggap serius bagian ini, jadi terkadang pertanyaan yang ditulis nggak terlalu penting kayaknya :___))). Setelah lulus, barulah terasa manfaatnya punya jiwa yang kritis. Supaya bisa cermat mengamati keadaan atau permasalahan, sehingga tidak asal atau salah mengambil kesimpulan dan membuat keputusan.

Pada dasarnya, menurut saya, semua ciptaan yang ada di dunia ini pasti memiliki kebaikan atau manfaat. Baik itu makhluk maupun benda. Namun kadang, untuk beberapa hal, kebaikan itu tertutup faktor lain atau memang kadarnya sedikit sekali sehingga dia tidak bisa mendapat penilaian yang baik.

Kalau sudah dihadapkan pada godaan untuk memberi apresiasi yang 'buruk', saya kemudian teringat kembali pesan nenek, "Biarin aja orang lain nggak suka atau jahat sama kita, yang penting kita harus tetap baik sama orang itu."

Memberi apresiasi yang buruk terkadang nggak salah. Tapi kalau banyak orang yang bisa memberi apresiasi dengan positif dan tulus, bukankah dunia akan terasa lebih indah?

Source: Idea Champions

Monday, July 11, 2016

Tidak Ada Sukatali Tahun Ini

Percakapan 1:

"Eh, siang ini lowong nggak? Temenin gw yuk!"
"Lowong sih..tapi masih di kantor.."

Percakapan 2:
"Lagi di rumah ini? Nggak ke mana-mana?"
"Ini lagi jam istirahat Bu, nanti balik lagi ke kantor :__))"


Dua percakapan tadi mewarnai siang saya hari ini. Yang pertama berasal dari seorang teman yang sudah mudik ke tanah tumpah darahnya, Bontang. Yang kedua berasal dari seorang ibu yang berbesar hati anaknya nggak bisa mudik lagi di Lebaran tahun ini. Persamaannya? Sama-sama nggak menyangka di sini H-2 Lebaran masih kerja full time sementara di hampir semua instansi dan perkantoran besar sudah merayakan cuti bersama. Tenang, ini masih di Indonesia kok.

Sunday, July 10, 2016

Yudistyana's Kitchen: Wedang Sereh

Ceritanya setelah marathon (kerja) merayakan Idulfitri 1437H, badan ini agak ngedrop minta istirahat. Apa daya, tiket (dan terutama) ijin cuti belum di tangan, jadilah terpaksa diistirahatkan di Bontang aja.

Setelah diamati, belakangan ini beberapa orang di sekitar saya juga ternyata banyak yang mengalami penurunan kondisi tubuh. Flu, batuk, bahkan ada yang sampai demam dan suaranya hilang. Saya sendiri 'cuma' mengalami pegal-pegal sebadan, hidung gatal agak meler, dan batuk ringan.

Sebagai orang yang malas mengonsumsi obat-obatan kimia, saya lebih memilih 'obat alternatif' semacam air hangat dicampur lemon dan madu untuk melegakan tenggorokan. Lumayan ampuh sebenarnya kalau nggak khilaf tetap makan es krim di rumah yang lagi open house :p. 

Beruntung, ibu senior manager saya yang sekarang memiliki latar belakang sebagai dokter dan cukup banyak tahu 'resep sehat nan alami' termasuk untuk mengobati flu dan batuk seperti saya sekarang ini. Salah satunya, Wedang Sereh. Ini dia resepnya:

Bahan:
Batang sereh/serai, dipotong jadi beberapa bagian lalu ditumbuk supaya aromanya lebih tercium
Jeruk nipis, bagi dua
Gula pasir / madu
Air mineral

Cara memasak:
1. Rebus air mineral sampai mendidih, masukkan batang sereh yang sudah ditumbuk
2. Setelah mulai mendidih, masukkan air perasan jeruk nipis. Tambahkan gula atau madu, aduk rata.
3. Kalau panas air dan rasanya sudah sesuai selera, matikan kompor dan wedang siap disajikan.
(Note: semua takaran bahan silakan menyesuaikan dengan kebutuhan dan selera masing-masing ya)
Simpel kan? Selamat mencoba dan semoga cepat sembuh :')

Sunday, July 3, 2016

Where My Love Goes - Lawson

Jangan tanya ini band dari mana dan segala detail lainnya. Saya nemu lagu ini secara random ketika lagi buka Youtube. Awalnya penasaran sama single terbaru Ed Sheeran, I Miss You, dan setelah lagu itu diputar, Youtube melanjutkan pemutaran videonya ke lagu ini.

Kalau nggak terlalu 'berkenan' dengan video klipnya, cermati liriknya deh! Jelas masuk kategori #penyebabbaper dan bisa dimasukan ke playlist you-know-what juga kalau mau :)

My love goes out of my heart and into the wind
Out my guitar and under your skin
Into your house and out of your headphones
That's where my love goes

Wherever you go, I'll follow
Don't worry about tomorrow
I will be in your shadow
Walking right beside you everyday


I'll be the one to save ya
When I put my pen to paper
Feels like it brings us closer
Even when you're so far away

Bullet trains and aeroplanes
I can choose the easy way
So I'll send a signal just for you

My love goes out of my heart and into the wind
Out my guitar and under your skin
Into your house and out of your headphones

My love goes out of your door and into the street
Down through the floor and up through your feet
Into your car and out of your radio
That's where my love goes

You will never be lonely
Just relax and listen to me
I breathe the air that you breathe
I am always with you in disguise

Bullet trains and aeroplanes
I can choose the easy way
So I'll send a signal just for you

My love goes out of my heart and into the wind
Out my guitar and under your skin
Into your house and out of your headphones

My love goes out of your door and into the street
Down through the floor and up through your feet
Into your car and out of your radio
That's where my love goes

That's where my love goes
Tell me, can you hear me now
I'm screaming out so loud
Oh, it goes out of my heart and into the wind
Out my guitar and under your skin
Into your house and out of your radio