Sunday, April 28, 2024
Wednesday, April 26, 2023
Tips: Serunya Jelajah Museum
Apa
yang terlintas di benakmu kalau mendengar kata ‘museum’? Gelap? Kuno?
Sepi? Bagi saya, museum justru bisa menjadi semacam mesin waktu yang
akan membawa kita ke masa lampau. Berkunjung ke Museum Geologi,
misalnya. Sebagai manusia modern, kita bisa sedikit mengintip kehidupan
pada jaman purba di sana. Atau mengunjungi Museum Pos Indonesia yang ada
di jalan Cilaki, dekat Gedung Sate. Melalui diorama yang dipajang, kita
bisa melihat bagaimana orang jaman dahulu berkomunikasi dengan keluarga
atau kerabat yang letaknya jauh dengan menggunakan surat.
Sebagai
salah satu kota di Indonesia yang memiliki beberapa museum seru, tidak
ada salahnya jika sesekali kita mengunjungi aneka museum yang ada di
Bandung. Untuk memeringati Hari Museum Internasional yang jatuh pada 18
Mei ini, Bandung Review akan memberikan tips seru untuk menjelajah
museum. Sudah siap?
1. Sesuaikan Minat
Ada
baiknya, kunjungi museum yang sesuai dengan minat kita. Misalnya jika
tertarik pada hal-hal mengenai seni dan sastra, coba kunjungi Museum Sri
Baduga yang ada di kawasan Tegallega. Selain menambah wawasan di bidang
yang kita sukai, tips ini juga akan mengusir kesan ‘membosankan’ dari
sebuah kunjungan ke museum. Kalau kita berada di lingkungan yang
mendukung minat kita, antusiasme untuk belajar juga akan meningkat
bukan?
2. Pelajari Sekilas Isi Museum
Ini
berguna agar kita mendapat gambaran sekilas mengenai hal-hal yang kita
temui. Beberapa museum biasanya juga memiliki program khusus di
waktu-waktu tertentu seperti Museum Konperensi Asia-Afrika yang
baru-baru ini menyelenggarakan peringatan HUT KAA. Bila tidak menemukan
informasinya di internet, coba cari tahu dari orang yang sudah pernah ke
museum yang ingin kita kunjungi.
3. Kenakan Pakaian yang Nyaman
Karena
sebuah museum umumnya memerlukan waktu yang tidak sebentar untuk
dijelajahi, gunakan pakaian yang akan membuat nyaman. Sepatu misalnya,
pilih jenis yang tidak membuat kaki cepat pegal. Agar lebih seru,
pakaian yang dikenakan bisa disesuaikan dengan tema museum yang akan
dikunjungi seperti memakai baju ala sosialita tempo dulu untuk
berkunjung ke Museum KAA atau mengenakan baju safari untuk main ke
Museum Geologi.
4. Bawa Barang Seperlunya
Sebelum
menjelajah setiap bagiannya, museum biasanya memiliki peraturan bagi
pengunjung untuk menitipkan tasnya. Kalaupun tidak, bawalah barang yang
diperlukan misalnya kamera. Meminimalisir barang bawaan akan
meningkatkan kenyamanan kita saat mengelilingi isi museum.
Beberapa
museum mungkin tidak mengijinkan pengunjung memotret koleksi yang ada
di dalam atau dilarang memotret dengan lampu kilat. Bila menemui aturan
seperti ini, jangan dilanggar karena penggunaan lampu kilat
dikhawatirkan dapat mengurangi keindahan koleksi yang ditampilkan.
5. Ikuti Guide
Selain
informasi yang tertera pada brosur, kunjungan ke museum akan lebih
asyik bila kita dipandu seseorang yang memahami seluk beluk koleksi di
dalamnya. Sambil melihat-lihat, wawasan kita pun bertambah. Tidak ada
guide khusus untuk menjelajah di dalam museum? Cobalah mengikuti
rombongan yang juga sedang mengadakan kunjungan ke museum. Rombongan
seperti itu biasanya memiliki pemandu yang juga bisa menceritakan
hal-hal unik dibalik aneka koleksi yang akan kita lihat di dalam museum.
6. Bergabung di Komunitas
Ingin
menjelajah museum tetapi tidak ada teman? Bergabunglah dengan
komunitas! Meski tidak terbatas pada mengunjungi museum-museum yang ada
di Bandung, saat ini ada beberapa komunitas yang kegiatan utamanya
adalah berwisata ke museum. Menjelajah museum bersama banyak orang
umumnya memang lebih mengasyikkan dibandingkan dengan menjelajah seorang
diri.
Mengunjungi museum adalah salah satu alternatif untuk
menghilangkan penat sekaligus belajar hal baru. Dengan biaya yang
terjangkau, kita bisa pulang membawa sejumlah wawasan baru. Jadi, sudah
menentukan museum mana yang akan dikunjungi pekan ini? (RY)
Published on: Bandung Review
Tips: Membuat Perpustakaan Pribadi
Masih
suka menonton kartun Doraemon? Robot kucing yang datang dari masa depan
ini selalu memiliki peralatan ajaib yang membuat kita ngiler
ingin memilikinya. Salah satu peralatan favorit dari robot penyuka
dorayaki ini adalah Pintu ke Mana Saja. Dengan pintu berwarna pink ini,
penggunanya bisa langsung pergi ke tempat yang dituju begitu memutar
kenopnya.
Mungkin benda seperti Pintu ke Mana Saja akan sulit
diwujudkan keberadaannya di dunia nyata. Namun sebenarnya, kita juga
bisa loh ‘pergi ke mana saja’ tanpa perlu kendaraan dan terjebak
kemacetan! Caranya, dengan membaca buku. Seperti kata pepatah, ‘buku
adalah jendela dunia’. Maka, salah satu cara terbaik mengenal aneka
tempat dan negara lain adalah dengan cara mulai membaca.
Dalam
rangka memperingati Hari Buku Internasional yang dirayakan setiap 23
April, Bandung Review akan memberikan tips membuat perpustakaan pribadi
di rumah. Coba siapkan koleksi bukunya untuk dibuatkan ‘rumah’ baru yang
nyaman!
1. Rancang Konsepnya
Pada
dasarnya, perpustakaan pribadi tidak selalu membutuhkan ruangan khusus.
Sebuah sudut di ruang keluarga atau kamar juga bisa disulap menjadi
tempat menyimpan koleksi buku sekaligus membaca yang nyaman. Idealnya,
ruangan yang dipilih bersifat tenang dan cukup jauh dari suara ramai
sehingga bisa berkonsentrasi saat sedang membaca. Agar semakin
meningkatkan minat baca, perpustakaan pribadi juga bisa dihias dengan
tema tertentu, misalnya diisi pernak-pernik dari jenis buku favorit atau
dicat dengan warna-warna lembut.
2. Penerangan yang Cukup
Karena
indera utama yang akan ‘bekerja’ di perpustakaan pribadi adalah mata,
pastikan perpustakaan pribadi nantinya memiliki penerangan yang cukup.
Cahaya tidak perlu terlalu terang, tetapi bisa membuat mata tidak cepat
lelah saat membaca. Ada baiknya lampu yang digunakan adalah lampu neon,
bukan lampu pijar untuk menghindari pantulan cahaya pada kertas yang
dapat memicu kelelahan mata. Kalau perlu, sediakan lampu portable yang
posisinya bisa disesuaikan dengan tempat untuk membaca.
3. Sirkulasi Udara yang Baik
Selain
penerangan, aspek yang satu ini juga perlu diperhatikan. Sirkulasi
udara yang baik membuat kita nyaman dan betah berlama-lama di
perpustakaan pribadi. Buat suhu ruangan yang tidak terlalu lembab, bisa
dengan menempatkan AC atau beberapa tanaman hias yang tidak terlalu
besar di salah satu sudut perpustakaan pribadi. Dengan demikian, koleksi
buku pun akan lebih awet karena terhindar dari timbulnya jamur.
4. Klasifikasikan Buku
Pengklasifikasian
buku bisa dibuat secara alfabetis berdasarkan judul atau pengarangnya.
Sistem ini akan memudahkan kita mencarinya di lain waktu. Untuk lebih
melindunginya, koleksi buku bisa ditempatkan dalam sebuah lemari dengan
kaca bening. Bila lemari dirasa terlalu besar, sebuah rak dengan
beberapa kotak bisa menjadi pilihan. Dalam satu kotak itu misalnya bisa
diisi satu seri komik atau buku-buku karya satu pengarang tertentu.
Supaya lebih awet, buku-buku sebaiknya diberi sampul plastik terlebih
dahulu sebelum ditata pada rak atau lemari.
5. Membuat Kliping Majalah & Koran
Ini
adalah alternatif untuk melengkapi koleksi perpustakaan pribadi. Kalau
selama ini berlangganan atau rutin membeli majalah dan koran, tidak ada
salahnya dikumpulkan lagi. Siapa tahu suatu saat ada informasi yang
perlu dicari dari majalah atau koran itu.
Buku adalah gudang
ilmu. Semakin banyak membaca, semakin banyak pula pengetahuan yang
diperoleh. Jangan ragu menjadi kutu buku, banyak membaca itu seru! (RY)
Published on: Bandung Review
Monday, May 30, 2022
Zea Activity Zone, Playground Seru di Bontang
Setelah cuti panjang ke Jawa bulan lalu, anak-anak saya menjadi semacam ketagihan bermain di playground. Saat itu, saya dan suami memang mengajak mereka bermain di playground sesekali. Selain untuk melatih keberanian mencoba aneka permainan yang ada, kami berharap mereka bisa mengembangkan imajinasi dan belajar bersosialisasi. Minimal main 'bareng' dengan anak sebaya yang nggak dikenal.
Di Bontang sendiri, sebenarnya sudah ada playground yang sepertinya cukup nyaman. Namun, kami belum berani membawa anak-anak karena keburu terkendala pandemi. Walaupun sempat zona kuning, rasanya masih ada potensi virus aja di tempat indoor seperti itu.
Playground ini berada di lantai dua dari toko mainan Zea Edu Toys. Meski lokasinya di dalam ruko, mainan yang disajikan cukup beragam dan nggak kalah seru dibandingkan playground yang ada di dalam mal hehe.
Kami ke sana hari Sabtu, menyesuaikan dengan jadwal liburnya sang Ayah. Kebetulan, saat itu dari pagi cuacanya mendung dan sempat hujan cukup deras di Bontang. Ketika hujan sudah mulai reda, kami berangkat. Jadilah di sana sepi dan belum ada anak lain yang main.
Nilai plus dari playground ini adalah sistem pembayarannya yang hanya menghitung jumlah anak. Biasanya kan pendamping juga dihitung dan dibatasi ya.. kemarin mah enggak. Nggak tau apa karena lagi sepi ya.. hehe.
![]() |
| Pricelist as per Mei 2022 |
![]() |
| Zona Activities yang nyaman dan aman |
![]() |
| Berjalan di atas terowongan tali dan jembatan ayun |
![]() |
| Perosotannya ada dua, meminimalisir rebutan |
![]() |
| Pendampingnya bisa ikutan lompat-lompat sih ini :)) |
![]() |
| Jadi pengen bikin juga di rumah :)) |
Tuesday, March 29, 2022
2021 in Review
![]() |
| RT Darling! Challenge |
![]() |
| Biasa ngecek EYDnya tulisan udah bener atau belum, sekarang ngecek tanaman yang ditanam udah tumbuh segimana :') |
Monday, June 21, 2021
How MBA Changed My Weekend: Tugasnya Nonton "Crimson Tide"
Thursday, June 10, 2021
How MBA Changed My Weekend: Best Achiever, Checked!!
Beberapa hari lalu, di grup WA angkatan saya ramai karena bagian administrasi SBM ITB mengumumkan para peraih 'Best Achievers' untuk mata kuliah yang diambil di semester empat ini. Ada enam mata kuliah yang diambil oleh kelas Bontang dan dari keenam mata kuliah itu masing-masing ada satu atau lebih peraih 'Best Achievers'nya.
Dari keenam mata kuliah itu, saya hanya mengambil satu. Buat saya, kebebasan memilih mata kuliah ini sendiri sudah menjadi 'achievement' karena saya nggak harus mengikuti kuliah yang penuh dengan angka dan sobat ambis. Ya, di semester ini memang mata kuliahnya bisa dipilih sesuai minat dan bakat sehingga saya sih nyadar diri aja hahaha. Yang cukup ikut bikin senang, dua dari beberapa peraih best achievers itu berada dalam satu sindikat (kelompok diskusi) yang sama dengan saya di mata kuliah yang umum. Lumayan :') #lumayanapaaa.
Di semester empat ini, saya memilih mata kuliah yang sekiranya bisa saya ikuti dengan benar. Untungnya di kelas lain, tepatnya kelas Batam, ada dibuka kelas non hitung-hitungan seperti Business Leadership (BusLed) dan Leading and Managing Organizational Change (LMOC). Di kelas Batam ini, pesertanya terdiri dari berbagai latar belakang profesi dan perusahaan. Seru juga jadinya kalau diskusi, mendengar banyak insight dari perusahaan yang jauh berbeda kulturnya dengan oil & gas. Dan jadi pengen pindah ke Batam juga deh buat opsi.
Lalu tiba-tiba, pagi ini dengan mata yang masih mengantuk, saya melihat jam di HP. Sekilas, ada notif WA dari bagian administrasi SBM ITB dan yang kebaca sama saya cuma "Selamat ya, Bu".
Mata saya langsung melek sepenuhnya. Kantuk hilang. Begitu buka WA, ternyata ada gambar ini:
WHOAA!!! Nggak salah kan ini?? 😁😁😁 Excitednya sementara di dalam hati aja dulu takut anak kebangun.
Seperti mata kuliah lain pada umumnya, di mata kuliah business leadership ini target saya standar banget: yang penting lulus. Syukur kalo bisa dapat 'A' karena mata kuliah ini dipilih dengan kesadaran sendiri tanpa paksaan jadi harusnya saya bisa lebih bertanggung jawab. Pun ketika kuliah, masih sempat meng-quote beberapa kalimat atau insight menarik (yang bisa dibaca di highlite IG saya: MBA Lyfe).
Business Leadership ini adalah mata kuliah pertama di semester empat. Artinya, selain beradaptasi dengan materi dan dosen, saya juga harus beradaptasi dengan 'teman-teman sekelas' yang lebih beragam dibandingkan LMOC. Kalau dipetakan, porsi mahasiswa di kelas ini cukup seimbang: 1/3 dari kelas Batam (yang backgroundnya udah beragam mulai dari korporat sampai pemerintahan), 1/3 dari kelas KPC (yang backgroundnya sesuai nama kelasnya, pertambangan), dan 1/3 dari kelas Bontang (walaupun jumlah peminatnya cukup untuk bikin satu sindikat aja :)) ).
Sesungguhnya saya juga baru tau ada 'reward' semacam Best Achievers ini. Kayaknya di tiga semester sebelumnya nggak pernah ada. Apa mungkin program ini baru ada atau karena di semester ini achieversnya memang menonjol banget dibanding yang lain? Apa di semester sebelumnya pencapaian rang-orang banyak yang standar (standar A :') ) jadi belum ada program ini?
Entahlah :)) Yang jelas kalau buat saya, terharu banget bisa diberi apresiasi semacam ini. Jadi semacam self reward buat diri sendiri selain selalu bersyukur setiap melihat transkrip nilai karena nggak ada nilai 'C'. Semoga semua ilmu dalam Business Leadership (dan matkul lain pastinya :)) ) bisa saya terapkan di pekerjaan ataupun kehidupan sehari-hari. Minimal kalau ada asesmen atau apalah, sertifikat ini nanti bisa dilampirkan di CV ya.
Terima kasih ITB! Terima kasih sobat BusLed dan sobat cumlaude ku!
Thursday, January 7, 2021
How MBA Changed My Weekend: List Mata Kuliah
Hai!
Ketemu lagi dengan series ini. Seperti penjelasan di tulisan sebelumnya, series ini akan mengangkat perjalanan MBA saya yang semoga bisa menginspirasi walau lebih sering sekipnya.
Di postingan kali ini, saya mau share mata kuliah apa aja yang akan ditempuh di program MBA SBM ITB. Disclaimer dulu ya, karena kelas yang saya ikuti ini kelas inhouse alias kerja sama dengan perusahaan, mungkin akan ada beberapa mata kuliah yang berbeda dengan program lain di MBA SBM ITB.
Memang, ada program apa aja di MBA SBM ITB? Silakan bisa dicek di sini.
Secara keseluruhan, program MBA ini ditempuh selama 5 semester plus final project. Final project-nya sendiri sudah bisa dimulai setelah menyelesaikan 3 semester alias sekarang saya lagi mulai :').
Sistem perkuliahannya sendiri dilakukan secara offline (sebelum pandemi) dan online (setelah pandemi, thanks God!) dengan jadwal setiap dua minggu sekali. Dua minggu sekali, full Sabtu-Minggu dari pagi sampai sore dan kadang bablas maghrib. Kecuali untuk Semester Pendek di semester 2 kemarin, kuliahnya beneran dipadatkan sehingga setiap minggu ada kuliah.
Kelasnya juga dijalankan secara berurutan. Artinya, kami akan menyelesaikan satu mata kuliah dulu, baru beranjak ke mata kuliah lain. Nggak multitasking seperti zaman S1 dulu di mana satu minggu kita belajar mata kuliah A, B, C sekaligus. Ini poin plusnya sih menurut saya, jadinya belajar dan mengerjakan tugasnya bisa lebih fokus.
Terus, apa aja yang dipelajari setiap semesternya? Ini dia:
SEMESTER 1:
- Business Ethics, Law, and Sustainability
- Marketing Management
- Operation Management
- Accounting
- People in Organization
- Business Economics
- Decision Making & Negotiation
- Financial Management
- Business Leadership
- Leading & Managing Organizational Change
- Small Business Management
- Business Strategy & Enterprise Modelling
Terus, yang dipelajari di setiap mata kuliah itu apa aja? Nah, itu nanti akan dijawab di postingan-postingan berikutnya pada series ini ya! Stay tune!
Apa Resolusinya?
"Apa resolusinya?" tanya Superior saya ujug-ujug. Nggak jelas ditujukan ke siapa, jadi kami semua yang ada di ruangan itu malah saling berpandangan.
"2021, apa resolusinya? Biasanya kan bikin resolusi gitu ya.."
Sejujurnya, saya lupa kapan terakhir membuat resolusi secara 'resmi' alias ditulis begini. Sepertinya untuk menyambut tahun lalu nggak ada resolusi khusus. Jadinya acakadul deh.
Belajar dari tahun lalu, saya ingin mengembalikan kebiasaan-kebiasaan baik yang mungkin sempat hilang. Termasuk menulis resolusi. Kenapa sih harus ditulis? Supaya ingat. Dan lebih memotivasi untuk bisa mencapainya. Walau dalam beberapa kasus, resolusi selintas yang justru terkabul :').
Jadi, untuk tahun 2021, inilah beberapa resolusi saya...
1. Menerapkan Gaya Hidup Sehat
Alias lebih banyak 'gerak' (bukan olahraga ya hahaha) dan mengurangi goreng-gorengan. Terutama kalo di kantor. Huhuhu monmaap ya gaes kalo saya akan sering absen melipir ke tempat gorengan nanti.
Tapi kalo ada menu #KantinCorcomm yang lain yhaaa... diliat dulu menunya apa 🙈
2. Kembali Menulis
Menulis blog, menulis freelance, menulis di socmed, apapun deh. Ibarat olahragawan yang jarang gerak, ini jari udah mulai kaku kalo nggak diasah lagi.
3. Baca yang Berfaedah
Termasuk buku yang nggak melulu fiksi. Dari pertengahan tahun sebenarnya udah mulai membiasakan lagi baca satu buku nonfiksi. Biasanya tema parenting atau pengembangan diri. Tapi, durasi antara menyelesaikan novel fiksi vs buku nonfiksi beda jauh yaa ternyata 😂
4. Mengurangi Overthinking
Suatu hari, saya pernah cerita sama salah satu sohib, kenapa pikiran random saya sering kejadian. Ternyata, teman saya ini juga mengalami hal yang sama beberapa kali, tiba-tiba kepikiran sesuatu terus malah kejadian. Kami akhirnya menyimpulkan teori jaman kuliah dulu, bahwa ketika kita menginginkan atau memikirkan sesuatu, Semesta akan berkonsipirasi mewujudkannya.
Sayangnya, yang random kepikiran ini kadang nggak selalu tentang hal positif. Kadang biasa aja mempertanyakan sesuatu, tapi yang kejadiannya malah jelek. Huhu!
Belajar dari beberapa kerandoman di tahun lalu, saya ingin mengurangi ke-overthinking-an di tahun ini. Nggak mikir aneh-aneh deh intinya! Termasuk juga dalam menghadapi orang-orang yang 'nggak sesuai harapan'.
Jadi, inilah empat resolusi saya di tahun 2021, selain tentunya beberapa resolusi terkait relationship, parenting, dan karir yang nggak perlu dituliskan di sini hehehe.
Kalau kamu, punya resolusi apa?
Thursday, December 31, 2020
2020 in Review
Seumur-umur, 2020 kayaknya adalah tahun yang paling 'drama'. Selain situasi hidup yang suka jungkir-balik, kondisi dunia pada umumnya juga berubah drastis akibat adanya pandemi Covid-19.
Di balik semua roller coaster kehidupan, ada beberapa hal yang membuat saya masih sangat bersyukur di tahun ini. Selain diri sendiri, keluarga, dan support system yang sehat lahir batin, berikut ini beberapa hal atau keputusan terbaik yang terjadi di tahun 2020 versi saya.
1. Melahirkan Anak Kedua
Ini adalah peristiwa terbaik pertama yang terjadi di tahun 2020. Dengan kehamilan yang nggak direncanakan dan diprediksi, Alhamdulillah baby kedua ini bisa lahir sesuai prediksi tanggalnya.
Hamil anak kedua, perjalanannya lebih struggle. Sang Kakak yang semakin aktif dan fisik yang rasanya makin renta membuat kehamilan kali ini dijalani dengan lebih legawa.
Anak kedua diperkirakan lahir 8 Maret 2020. Belajar dari pengalaman kelahiran pertama yang maju seminggu dari HPL, saya udah menyiapkan segala peralatan untuk ke RS, termasuk juga sounding ke Sang Kakak dan mewanti-wanti suami untuk nggak dinas ke luar kota.
Hari H HPL, saya masih kuliah. Ujian pula. Saat itu, corona masih belum seheboh sekarang, jadi kuliahnya masih secara langsung. Lumayan sih, mau nggak mau jadi 'olahraga' naik turun tangga tiap dua minggu sekali.
Sebenarnya, saya udah sounding ke baby supaya keluar sesuai HPL aja. Nggak usah di tanggal 12 (teteup hahaha) juga nggak papa. Biar apa? Biar ujiannya take home ajaaa~ 😂. Tapi mungkin sang baby justru mau menyemangati saya yang ujian karena dia pun udah 'ikut' kuliahnya dari awal. Jadi, dia memilih melihat dunia satu hari tepat setelah ujian.
Setelah Kinar lahir, dunia saya dan dunia secara keseluruhan serasa berubah. Dunia saya, jelas, ada peran tambahan. Tapi Alhamdulillah bangetnya, Kinar ini baiiiiik sekali. Sangat jarang 'ngajak' ibunya begadang kecuali di sebulan pertama kehidupannya. Terima kasih ya, Sayangku!
Dan di luar sana, virus Covid-19 mulai disikapi serius oleh 'pihak-pihak yang berwenang'. Nggak lama setelah saya bersalin di RS, pemerintah setempat membuat kebijakan bahwa melahirkan di RS harus tes rapid/SWAB dulu dan hanya bisa didampingi satu orang aja plus nggak boleh dijenguk. Mau kontrol kehamilan ke RS pun ada beberapa protokol yang harus diperhatikan. Intinya, lebih ribet.
2. Kuliah Lagi
Keputusan maju mundur ini sebenarnya dibuat di akhir tahun 2019. Waktu itu, sama sekali nggak bakal menyangka akan ada corona yang mengubah segalanya.
Kesempatan kuliah lagi akhirnya diambil karena dari perusahaan mengadakan kelas kerja sama. Jadi, nggak perlu ribet bolak-balik ke luar kota, pikir saya. Plus, jam istirahat masih bisa pulang ke rumah sebentar seperti biasa. Dan untungnya lagi, jam kuliahnya lebih 'manusiawi' dibanding angkatan sebelumnya. Sabtu-Minggu, dua minggu sekali, 08.00 - 17.00 WITA.
Saya juga sempat sharing sama teman di angkatan sebelumnya yang menjalani perkuliahan dengan kondisi baru melahirkan. Asli, salut banget sih sama perjuangannya! Sambil mikir juga apakah saya bisa, ketika dia pernah bercerita, "Waktu itu pas lagi ujian, pernah anak nangis kehausan. Dia ada di musholla (Training Center Badak LNG) sama Mamaku. Jadi, ngebut deh ngerjain ujiannya dan buru-buru menemui mereka."
Namanya kuliah Manajemen, suka nggak suka memang pasti akan ketemu dengan angka. Tapi, saya baru menyadari 'tantangannya' ketika melihat daftar mata kuliah dan silabusnya. Nggak cuma hitung-hitungan akuntansi, banyak juga ternyata yang menggunakan rumus dan simbol yang nggak pernah saya lihat sebelumnya. 😭
'Thanks' to corona, sejak pertengahan Maret 2020 alias setelah saya melahirkan, sistem perkuliahan diubah ke online. Memang perlu penyesuaian cara belajar, tapi hikmahnya, perkuliahan ini bisa dilakukan dari rumah. Jadilah terkadang di beberapa perkuliahan, saya belajar sambil mengasuh anak dan ketiduran.
Yang membuat lebih bersyukur, semua tugas dan ujian juga dilakukan secara online jadi masih ada waktu untuk mempelajari materi yang sulit dipahami (dan ini banyak! Ga cuma untuk satu mata kuliah aja 😂). Yuk bisa yuk dua semester lagi lulus!
3. Sharing Knowledge
Tahun 2020 juga memberi kesempatan bagi saya untuk lebih banyak berbagi ilmu dan pengalaman. Karena dilakukan secara online, ada satu masa rasanya kerjaan jadi sharing melulu. Tapi seru kok, menambah jaringan sekaligus mengasah percaya diri lagi~.
Jadi, terima kasih 2020! Untuk semua suka duka, pelajaran berharga, dan pengingatnya. Yuk 2021 lebih seru lagi yuk!
Tim CSR Badak LNG 'Diundang' ke Dubai! Kok Bisa?
Semua berawal dari WA temen kosan zaman kuliah yang saat ini dinas di Kedubes UEA.
Jadi, dia mendadak diminta membuat event dalam rangka Hari Ibu bertema 'Perempuan Inovatif'. Bingung mencari narasumber, dia akhirnya mengontak saya, mengusulkan untuk menampilkan salah satu mitra binaannya Badak LNG. Sebelumnya, kami memang pernah kontak-kontakan untuk rencana kolaborasi. Sayangnya, belum terwujud.
Membaca pesannya, kantuk saya langsung hilang. Super excited, karena kesempatan ini nggak semua orang atau institusi bisa dapat. Sambil mengonfirmasi ke mitra binaan, saya mengiyakan tawarannya.
Beruntung, mitra binaan yang saya propose bersedia menjadi narasumber. Ibu ini memang inspiratif sih. Setiap tahun selalu ada produk kuliner baru yang unik.
Hari H, saya yang deg-degan. Setelah training online, langsung cus ke studio LNGTV demi bisa mendampingi prosesnya.
Alhamdulillah.. acaranya berjalan lancar. Ibu mitra binaan bisa bercerita dengan baik dan menjawab pertanyaan-pertanyaan dengan lancar. Acara yang bisa disaksikan dari Zoom dan Facebook live-nya Kedubes Uni Emirat Arab & LNG TV ini mendapat cukup antusias dari penonton. Nggak hanya masyarakat umum, Ibu Kedubes bahkan sepertinya berminat mengadakan pelatihan pembuatan snack secara online untuk WNI di sana. Wah, siap Bu! Pelatihan langsung di sana boleh juga loh 😉
Saturday, August 15, 2020
How MBA Changed My Weekend (The Series)
Tidak terasa, sudah tiga semester saya menempuh kuliah S2 di SBM ITB. Adanya kelas kerja sama dengan perusahaan dan beberapa alasan lain membuat saya nekat mencoba mengikuti perkuliahan ini.
Berbeda dengan suasana S1, perkuliahan S2 ini ternyata lebih terasa lelahnya. Dari sisi jadwal, sebenarnya enak sih karena kita diajak mempelajari satu mata kuliah dulu sampai selesai baru beralih ke mata kuliah berikutnya. Jadi lebih fokus. Kalau S1 dulu kan seminggu aja jadwal mata kuliahnya gonta-ganti yaa... Jam perkuliahan juga lebih 'lumayan' yaitu Sabtu & Minggu, setiap dua minggu sekali, mulai pukul 09.00 - 17.00 WITA (kurang lebih). Mungkin karena kuliah ini disambi dengan kerja serius (kalo dulu S1 kan freelance aja hehe) dan tanggung jawab lain yaa~
Di antara semua mata kuliah yang udah ditempuh, tentu nggak semua materinya langsung bisa saya pahami. Apalagi kalo dosen sudah bersabda "Yang perempuan mana nih belum ngomong?" pasti langsung merapel doa supaya nggak diabsen berdasarkan gender atau ditunjuk acak. Kalau situasi begitu, jadi bersyukur kadang nama saya disangka laki 😏
Perbedaan lainnya adalah dalam hal mengerjakan tugas. Kalau dulu tugas menulisnya kebanyakan menggunakan referensi dari buku (atau fotokopian), sekarang lebih banyak langsung gugling aja. Kadang jawabannya ada berbagai versi yang ujung-ujungnya malah bikin bingung sendiri.
Untuk merangkum perjalanan inilah, saya akan membuat series seperti judul di atas. Ke depannya akan berisi seputar curhatan random, review perkuliahan atau update beberapa tugas individu saya yang semoga membantu.
Sampai ketemu di postingan selanjutnya!
Sunday, June 28, 2020
My Ikigai
Based on the diagram that presented in the class, Ikigai is "the reason for our being". This concept combine the answers of what are we good at, what we love, what the world needs, and what we can paid for.
For me, find my Ikigai is challenging. Sometimes I know what makes me happy, and sometimes I don't know. But, I will try to find my Ikigai by answer the slice one by one.
The first slice is what I good at and what I love. Since elementary school, i love writing so much. Write personal diary, poem, short story, and this capability is growing when I was in Communication Faculty with major in Journalism. I can say i am good at writing because I had won some writing competition. So, for the 'passion' slice, the answer is writing.
Next slice is about what we love and what the world needs. I found what I love, and I think the world needs 'high quality news'. High quality here means the news is written based on "9 Elements of Journalism". So, my 'mission' is make a better world with my written that applied "9 Elements of Journalism" principle.
To answer the questions of what the world needs and what we can paid for, I can say it is by being a journalist. I had try this when I was in college but i think I can not sustain as a journalist. The risks are too high, not worth with the money income.
On the fourth slice, 'profession', this is the answer for question what we can paid of and what we good at. Basically, I am good at writing. Not only write news, but also articles, fiction, and caption for social media. So, I am happy when I was accepted as Media Relation Officer in Badak LNG because I can show off my capability and get good salary from it.
Although i found that my Ikigai is writing, I believe that I still can improved that. Some area that I need to improve is write in English, SEO, monetize my personal blog, and write a book (fiction/nonfiction).
To growth my writing skill, I try to read articles that written in English. I also often read articles about SEO and google ads. In Facebook, I joined writing group named "Komunitas Bisa Menulis" to see what topics that can attract readers nowadays. From that group, one of the member ever asked me whether it is possible to write novel together.
I am grateful that my circle support me to keep my Ikigai and achieve more from that. If you ever read my writing, I also open for critics and suggestions to make my writing skill better.
Wednesday, November 13, 2019
Seru-seruan Ikut Ujian
"Kalo ujian kehidupan sih sering, ujian tertulis yang jarang :')"
Beberapa hari lalu, saya memutuskan ikut tes seleksi S2 SBM ITB. Nawaitunya enggak sengotot waktu mencari tempat kuliah atau kerja di perusahaan idaman dulu. Murni lebih ke coba-coba. Dan sedikit termotivasi dari beberapa dedek di kantor yang ternyata berencana melanjutkan kuliah mereka melalui kelas online.
Sejujurnya, karena penasaran aja sih apakah saya masih mampu (dan kuat) mengerjakan soal-soal seperti itu :))
Berangkat dari nawaitu tadi, saya nyaris nggak melakukan persiapan apapun. Selain beli pensil 2B dan ngecek lagi info waktu dan lokasi tes. Malah hampir kayaknya nggak bisa ikut tes sesuai jadwal karena bentrok sama agenda kantor.
Di hari H, rencananya saya akan mengikuti dua tes, TOEFL dan TPA. Beruntung, nilai TOEFLnya ternyata bisa juga diganti dengan TOEIC dan saya punya sertifikatnya yang masih berlaku. Beruntungnya lagi, kata orang yang tes di sebelah saya, soal TOEFLnya 'amit-amit'. Listeningnya enggak pake dialog singkat dulu, langsung ke bacain paragraf gitu dan satu kali listening untuk menjawab beberapa soal :)))
Seperti bayangan saya, model soal TPAnya masih sama.Verbal, numerik, dan logika. Yang nggak kebayang, soalnya naudzubillah bikin pusing! :))) 90 verbal, 90 numerik, dan 70 logika dengan durasi setiap tahapnya hanya 60 menit. Nggak boleh lebih dan nggak boleh ngerjain tahap sebelumnya walau masih ada waktu.
Tahap pertama di soal kemampuan verbal, otak masih bisa diajak kerja sama. Ada empat tipe soal yaitu tentang mencari arti kata, sinonim, antonim, dan menjawab pertanyaan dari teks/narasi. Sebisa-bisanya, ya nggak 100% yakin juga sih. Ada beberapa kata yang sering terdengar dan sebenarnya paham maksudnya, tapi nggak yakin apa arti sebenarnya. Misalnya 'isbat', yang selalu terdengar menjelang awal Ramadan. Paham sih kalau ada yang bilang istilah itu, tapi artinya apakah penetapan, rapat, atau jangan-jangan ada arti lainnya? Atau 'samad', yang saya tau adalah nama belakang seorang pejabat. Atau arti dari jamais vu, yang saya cuma yakin maksudnya bukan sesuatu yang berbau negara Jamaika :))).
Tes verbal saya kerjakan sekitar 30 menit lebih. Masih banyak waktu yang tersisa, yang andai saja bisa digunakan untuk nyicil mengerjakan soal-soal model berikutnya. Oh iya, yang agak ngeselin dari tes verbal ini adalah munculnya istilah-istilah filsafat yang menjadi pilihan jawaban untuk tes verbal tipe narasi. Ontologi, epistimologi, dan aksiologi. Saya cuma inget, istilah itu sering terdengar di mata kuliah Filsafat Ilmu Komunikasi, yang kuliahnya seringnya di Gedung 4, dan saat kuliah saya nyaris sama sekali nggak paham sampai akhirnya harus ngulang. Huhu, ternyata menamatkan baca Dunia Sophie kayaknya ada faedahnya buat tes begini yaa~
Masuk ke tahap selanjutnya. Sebelumnya, saya memilih ke toilet sejenak dan mengambil segelas air minum. Buat amunisi.Enaknya ikut TPA kali ini, suasananya lebih 'ramah'. Peserta boleh ngambil air di sela-sela ngerjain soal. Dan karena sebagian besar peserta saling kenal, ruangan nggak kaku. Bisa saling curhat setelah ngerjain soal-soalnya.
Di tahap numerik, saya sedikit keteteran karena salah strategi. Haqqul yaqin soal-soal yang di halaman awal masih bisa masuk 'nalar' saya.. ternyata nggak juga! Soal yang menyelesaikan deret angka biasa masih oke lah.. deret diganti huruf juga masih paham.. lah kalau pecahan? Asli, blank :))). Padahal angka pecahannya masih kecil semacam 1/4, 2/3, gitu-gitu.. Tapi saya sempat lupa gimana menjumlahkannya. Dan yang paling nggak paham, soal yang pakai tanda seru semacam '5!4!3! dst' ini digimanain ngerjainnya? :__))))
Ketika time keeper mengingatkan waktu tinggal 5 menit lagi, langsung gunakan metode kiralogi dan cocoklogi. Yang penting semua nomor kejawab. Toh nggak ada pengulangan nilai semacam SNMPTN :p
Berlanjut ke tes logika, saya sedikit mengubah strategi. Sadar diri, makin ke halaman belakang otak makin panas dan gampang ngeblank ngerjainnya :)). Maka, saya memilih mengerjakan soal yang sekiranya saya (sebenarnya pasti) bisa menyelesaikan. Kalau nggak nemu jalan keluarnya, skip skip dulu. Strategi ini sedikit berhasil karena saat menyelesaikan soal-soal logika saya nggak nyaris kehabisan waktu seperti mengerjakan soal numerik. Yhaaa sekali lagi, walaupun nggak yakin juga yang saya rasa bisa ngerjain, jawabannya bener :)))
![]() | ||||
| Ketika bahas soal-soalnya sama temen seangkatan |
Sedikit tips untuk yang akan ikut ujian sejenis, JANGAN LUPA MAKAN. Makan yang bener. Supaya perut kenyang dan otak tenang. Sejujurnya saat mengerjakan tes ini saya cuma makan sedikit dan jadinya agak pusing. Ya pusing kurang makan, ya pusing ngerjain soal :)). Persiapkan juga alat tulis dan segala sesuatunya sesuai kebutuhan. Jangan panik duluan kalau menemukan soal yang keliatannya ribet. Siapa tau sebenarnya solusinya ternyata sederhana #pengalaman.
Dan terakhir pastinya, berdoalah sebelum dan sesudah mengerjakan. Kalau memang hasilnya bisa membawa kebaikan untuk kita, berdoalah supaya bisa lulus, sepuyeng apapun saat mengerjakan soalnya. Goodluck!
Friday, June 21, 2019
Menanam Mangrove, Mewujudkan Pembangunan Berkelanjutan
Perjuangan Ali Mangrove, begitu ia akrab disapa, dalam membudidayakan tanaman khas pesisir ini dimulai tahun 2009. Fenomena penebangan mangrove oleh orang-orang tak bertanggung jawab membuatnya khawatir. Selain berpotensi menyebabkan banjir saat air laut pasang, berkurangnya keberadaan mangrove juga berpengaruh kepada penurunan hasil tangkapan ikannya. Kala itu, Ali memang berprofesi sebagai nelayan sekaligus menjadi karyawan sebuah perusahaan tambang.
Bersama sang istri, Ali kemudian mencoba membibitkan mangrove. Jenis yang ditanam adalah Rhizopora, sp. Agar lebih fokus, Ali memutuskan pensiun dini dari perusahaan tempatnya bekerja. Ia juga mendapat pendampingan dari Badak LNG agar usahanya terus berkembang dan memberikan dampak positif, baik dari segi lingkungan, ekonomi, maupun sosial. Badak LNG sendiri merupakan perusahaan pengolah gas alam menjadi gas alam cair (LNG/Liquefied Natural Gas) yang berkomitmen melakukan pemberdayaan masyarakat melalui program-program Community Development-nya.
Hasilnya, lahan miliknya yang semula tidak produktif kini menjelma menjadi hutan mangrove. Selain mencegah abrasi, keberadaan hutan mangrove membuat udara di sekitarnya menjadi sejuk. Ali juga memperluas manfaat lingkungan dari hutan mangrove tersebut dengan membuat area untuk pembudidayaan kepiting bakau yang baru dimulai pada akhir 2017 lalu.
Perlahan, kondisi ekonomi keluarga Ali juga meningkat. Kesadaran akan pelestarian lingkungan membuat banyak instansi di Kota Bontang memesan bibit mangrove kepadanya. Tak jarang, ia dan kelompoknya yang bernama Tani Lestari Indah juga diminta untuk menanam bibit-bibit tersebut di lokasi yang sudah ditentukan. Peluang ini juga berimbas kepada peningkatan pendapatan para anggota kelompoknya.
Tidak sampai di situ, kecintaan Ali pada mangrove membuatnya tak segan berbagi ilmu seputar pembibitan, penanaman, maupun perawatan mangrove. Tamu Pemerintah, Perusahaan, masyarakat umum, hingga anak-anak sekolah semua berkesempatan belajar langsung mengenai mangrove dari ahlinya. Dengan dukungan dari Badak LNG, lahan milik Ali tersebut kini menjadi Mangrove Information Center.
Pemberdayaan Masyarakat
Kegiatan yang dilakukan oleh Ali dan dengan pendampingan dari Badak LNG membuktikan bahwa pemberdayaan masyarakat memberikan kontribusi positif bagi pencapaian tujuan Sustainable Development Goals (SDGs). Dikutip dari jurnal "Sustainable Development Goals (SDGs) dan Pengentasan Kemiskinan", konsep SDGs lahir pada konferensi mengenai Pembangunan Berkelanjutan yang dilaksanakan oleh PBB tahun 2012 di Rio de Jainero. Tujuan yang ingin dihasilkan dalam pertemuan tersebut adalah memperoleh tujuan bersama yang universal, yang mampu memelihara keseimbangan tiga dimensi pembangunan berkelanjutan yakni lingkungan, sosial, dan ekonomi (Ishartono & Santoso Tri Raharjo, Social Work Jurnal Vol. 6, No. 2, Hal. 154-272).
Tiga dimensi pembangunan berkelanjutan tersebut kemudian dirumuskan menjadi 17 tujuan global SDGs dan melalui penanaman mangrove, setidaknya ada 7 tujuan yang bisa dibantu pencapaiannya sebagai berikut:
1. Tanpa Kemiskinan. Tidak ada kemiskinan dalam bentuk apapun di seluruh penjuru dunia.
2. Tanpa Kelaparan. Tidak ada lagi kelaparan, mencapai ketahanan pangan, perbaikan nutrisi, serta mendorong budidaya pertanian yang berkelanjutan.
5. Kesetaraan Gender. Mencapai kesetaraan gender dan memberdayakan kaum ibu dan perempuan.
8. Pertumbuhan Ekonomi dan Pekerjaan yang Layak. Mendukung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan dan inklusif, lapangan kerja yang penuh dan produktif, serta pekerjaan yang layak untuk semua orang.
14. Kehidupan Bawah Laut. Melestarikan dan menjaga keberlangsungan laut dan kehidupan sumber daya laut untuk perkembangan pembangunan yang berkelanjutan.
15. Kehidupan di Darat. Melindungi, mengembalikan, dan meningkatkan keberlangsungan pemakaian ekosistem darat, mengelola hutan secara berkelanjutan, mengurangi tanah tandus serta tukar guling tanah, memerangi penggurunan, menghentikan dan memulihkan degradasi tanah, serta menghentikan kerugian keanekaragaman hayati.
17. Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. Memperkuat implementasi dan menghidupkan kembali kemitraan global untuk pembangunan yang berkelanjutan.
Menurut konsep yang juga dikenal dengan nama "3P" tersebut, perusahaan yang ingin operasionalnya berkelanjutan harus berkomitmen pada aspek 3P yaitu profit, planet, dan people. Tidak hanya mencari profit, tetapi juga perusahaan harus bertanggung jawab terhadap kelestarian lingkungan serta pemberdayaan masyarakat di sekitar daerah operasionalnya.
Melestarikan lingkungan dan mencapai tujuan SDGs memerlukan sinergitas antara berbagai pihak, baik individu maupun institusi. Yang terpenting adalah memulai aksi positifnya dari sekarang, supaya kelak hasilnya bisa dinikmati di masa depan.
Selamat melakukan aksi positif!
Monday, February 18, 2019
#StayAtHyatt, Ketika Keramahan Berpadu dengan Kenyamanan
Begitu sampai di hotel, kami (kecuali Kanaya) dikalungi bunga oleh staf di lobi depan. Senang plus curiga juga sih, jangan-jangan mereka salah mengira saya rombongan Direktur karena kemarin saya memang mem-bookingkan kamar juga untuk Pak Direktur. Belum pernah diginiin akutu, terharu :___)))
![]() |
| Lorong lobi yang asri |
Lalu, apa lagi yang menarik dari Hyatt Regency Jogya ini sehingga saya rekomendasikan untuk keluarga yang mau staycation di Jogya? Ini dia beberapa keunggulannya.
Hyatt Jogya memiliki keunggulan yang jarang dimiliki hotel lain saat ini: halamannya super luas! Mulai dari area masuk ke hotelnya yang serasa di hutan saking rimbunnya pepohonan, padang golf, dan halaman di sekitar gedung hotelnya. Mungkin keunggulan inilah yang membuatnya memiliki predikat "Green Hotel". Udara rasanya bersih dan yang pasti, kedua mata dimanjakan oleh warna hijau pepohonan dan rerumputan di mana-mana.
![]() |
| Bisa guling-guling |
Mulai dari naik delman sampai berenang di kolam air asin, semua ada di sini. Kami sempat mencoba atraksi naik delmannya (gratis doong :p ) karena tiba di hotel sebelum waktu check in. Lumayan puas, dibawa hampir ke sekeliling area hotel. Bagi penggemar olahraga sepeda, hotel ini juga menyediakan paket "bike tour" untuk "bersepeda melihat area pedesaan dan persawahan". Tapi saya nggak nyoba dan nggak liat juga sawahnya di sebelah mana :))). Beberapa teman saya sempat menyewa sepeda ke pihak hotel untuk berkeliling di sekitar lapangan golf.
![]() |
| Kankan naik delman |
![]() |
| Candi itu tempat buat seluncuran, btw |
![]() |
| Hai Merapi, haaai~~ |
Masalah kamar ini agak ribet ketika saya mau booking empat kamar untuk keluarga. Mba-mba marketing yang saya kontak umumnya agak sangsi memberikan kamar yang connecting karena sepertinya tingkat okupansi saat itu masih tinggi. Namun ketika akan check in, resepsionis memberitahukan bahwa 4 kamar yang saya booking masing-masing memiliki connecting door. Ini untuk tipe deluxe saja ya, nggak tahu kalau tipe lainnya heu.
![]() |
| Halaman belakang kamar. Kebetulan tipe kamar yang saya booking ada di lantai paling bawah, jadi punya balkon juga |
Must try on breakfast: roasted chicken! Dengan pilihan saus barbeque, mushroom atau blackpepper. Enak banget ayamnya, empuk. Dan ayam panggang ini disajikan setiap hari, semacam menu wajibnya.
![]() |
| Area makan outdoor |
Ini sotoynya saya aja sih yang belum kenal banget sama Jogya, karena rasanya Hyatt ini nggak terlalu jauh dari bandara dan pusat kota. Lokasinya juga nggak terlalu di pinggir jalan raya sehingga lebih tenang dan pemandangannya sejuk. Asik lah!

.jpeg)

.jpeg)
.jpeg)

.jpeg)

.jpeg)



















