Sunday, April 28, 2024

Panduan Memilih Pengasuh Anak

Sebagai perempuan yang memutuskan memiliki anak dan tetap bekerja di luar rumah, 'pengasuh anak' adalah salah satu hal yang membuat overthinking bahkan sebelum sang baby terlahir ke dunia. Saya dan suami sadar, kami nggak bisa secara fisik hadir 24/7 mendampingi anak kelak, sehingga perlu orang yang bisa dipercaya untuk menjaganya.

Saat hamil anak pertama, di kota tempat tinggal kami belum ada yayasan penyalur baby sitter atau semacamnya. Di sini pun jarang sekali ada jasa ART yang bersedia menginap. Sementara, saya dan suami memilih ART yang bisa menginap supaya lebih tenang dan meminimalisir drama.

Kami beruntung, di dua tahun pertama sejak kelahiran Kakak, ada pengasuh yang bisa 'diimpor' dari kampung halaman. Kita sebut saja 'ART Pertama'. Ibu dan mertua juga bergantian tinggal di rumah untuk menemani sekaligus mengawasi kinerja ART ini. Tapi, mereka nggak full tinggal dengan kami selama dua tahun. Saat saya siap, mereka kembali pulang.

Drama mulai muncul setelah Kakak berusia dua tahun lebih. ART Pertama ingin pulang dan tidak kembali lagi bekerja. Udah mah bilangnya mendadak, nyolot, Kakak lagi aktif-aktifnya, kerjaan di kantor riweuh, saya hamil anak kedua...wah lengkap sudah. Akhirnya daripada ART Pertama semakin drama dan bisa berdampak buruk buat anak, kami memulangkannya. 

Long story short, saya perlu mencari penggantinya segera sebelum anak kedua lahir. Dari kampung halaman udah nggak ada yang bisa 'diimpor', terpaksa mencari dari sumber lain. Tanya sana-sini, sampai browsing ke sana - kemari. Saat itu saya belum kenal yang namanya 'penyalur', 'agen', dan sejenisnya. Sempat kena tipu juga sama agen yang hiih amit-amit jangan keulang lagi 😤. Tapi saat sadar ketipu itu, sambil mencoba berbesar hati juga siapa tau ini salah satu 'jalan memutar' yang harus ditempuh untuk menemukan pengasuh yang tepat untuk anak. 

Percobaan kedua, menghubungi agen yang kayaknya lebih meyakinkan. Interview, cocok, 'impor'. Kita sebut saja 'ART Kedua'. Sayangnya, ART Kedua ini daya tahannya lebih singkat, cuma 3 atau 4 bulanan deh :))).

Yang ini lebih drama lagi. Sering cerita majikan-majikan dia sebelumnya yang kayaknya 'wow' banget. Artis lah, desainer lah, tinggal di apartemen lah, sering nemenin majikannya syuting dan rempong banget lah bla bla bla. Seru sih dengernya, udah semacam subscribe infotainment yah. Tapi kayak... biar apa Bi cerita begitu ke saya? Saya bisa juga sih kalo mau songong, tapi kan asa teu kudu :))).

Setelah yang kedua pulang, saya cari penggantinya. Ngulang lagi prosesnya dari awal. Cari penyalur/agen lain lagi karena penyalur ART Kedua ini malah 'kabur' saat diminta pertanggungjawaban soal garansi atau ART Pengganti. Beberapa bulan setelah drama ART Kedua ini, si penyalur masih sering nge-WA broadcast nawarin jasa ART/nanny. Hih sori ya ga main sama yang cupu!

Penyalur berikutnya, tampak menjanjikan. Saya menemukan review tentang penyalur ini dari seorang momblogger yang cukup terkenal saat itu. Dari penyalur ini, saya ditawarkan beberapa pilihan sampai menemukan yang benar-benar cocok. Alhamdulillah dapet, bisa bonding banget sama anak, plus cocok juga sama saya. Pas ngintip tanggal lahir di KTPnya, eh ternyata Aries juga toh! Pantesss 😎 #pantesapa.


Mendapatkan ART khususnya nanny yang cocok dengan anak memang udah kayak nyari jodoh. Ditinggal pulang sama mereka pun rasanya kayak agak patah hati. Memang sih, rasanya makin ke sini makin jarang ya menemukan orang yang bener-bener bisa cocok dan betah banget 'ikut' sama kita sampai bertahun-tahun. Tapi, bukan berarti nggak bisa loh menemukan yang cocok.

Berdasarkan pengalaman saya, berikut beberapa hal yang bisa dicek ke penyalur maupun ART langsung sebelum memutuskan menggunakan jasanya.

1. Kenali Kebutuhan
Perkara nyari yang ngasuh anak aja ternyata istilahnya banyak banget, Bun! Ada ART alias Asisten Rumah Tangga, Baby Sitter, Nanny, dan Governess. Beda 'jabatan', beda juga pekerjaannya dan kadang ada penyalur atau calon pekerja yang strict banget cuma mau jobdesk sesuai title-nya aja 🙄.

Kita kenalan satu-satu dulu ya. ART itu adalah orang yang bantu beres-beres/bebersih di rumah. Nyapu, nyetrika, ngepel, masak, standar lah. Yang ber-title ART ini job umumnya nggak 'pegang' anak. Murni ngurus rumah aja. Kecuali yang ada title tambahan, 'ART Momong/ART Serabutan', nah ini bisa diminta pegang anak.

Untuk baby sitter/nanny/governess tugas utamanya adalah mengasuh anak. Dari anak bangun sampai tidur lagi. Termasuk kalau anak terbangun tengah malam karena perlu ganti popok misalnya. 

Lalu bedanya apa? Biasanya, berdasarkan usia anak yang diasuh. Baby Sitter (atau ada juga yang menyebutnya 'Suster Newborn') umumnya bisa mengasuh anak dari umur 0 bulan alias masih orok pisan. Nanny dan Governess mengasuh anak usia balita, mungkin dari sekitar umur 2 tahun. Nanny biasanya mengasuh anak secara umum saja, sementara untuk Governess dituntut punya keahlian lebih selain mengasuh anak misalnya bisa bahasa asing, mengajari anak baca tulis de el el sehingga agak merangkap guru privat menurut saya mah.

Nah, Bunda lagi cari apa? Sesuaikan juga sama budget ya..

2. Cari Penyalur yang (Semoga) Amanah
Setelah ditinggal mendadak oleh ART Pertama, saya sempat hilang arah mencari penggantinya. Butuh banget, tapi nggak mau keliatan butuh. Lagi nyari, tapi nggak mau infoin lowongan pakai akun sendiri.

Saat itu, saya mengerahkan berbagai sumber daya yang ada. Searching di Instagram, Google, join di satu grup komunitas di Facebook, termasuk metode tradisional: minta dicariin kenalan.

Kalau menemukan referensi dari internet, jangan langsung dipercaya. Cek dulu kredibilitasnya, reviewnya, dan segala rekam jejak yang memungkinkan. 

Oya, kalau ada agen atau penyalur yang belum apa-apa udah minta dibayar ini itu, itu red flag banget!!! Belum apa-apa di sini konteksnya adalah belum memberikan data singkat, foto, dan/atau kesempatan ke kita untuk mewawancara calon ARTnya. Udah, cari aja yang lain.

Sebaliknya, kalau ada agen atau penyalur yang memberikan pelatihan atau sertifikasi untuk pekerjanya, agen atau penyalurnya hanya ada di satu kota, kemungkinan instansinya cukup amanah.

3. Wawancara Langsung ARTnya
Berdasarkan pengalaman dan pengamatan, penyalur yang baik tidak selalu berkorelasi lurus dengan calon pekerja yang baik juga. Ada penyalur yang terkonfirmasi kredibel, tapi pekerjanya rada-rada. Atau sebaliknya. Jadi biar aman, usahakan bisa mewawancara calon tenaga kerja yang ditawarkan sebelum deal supaya lebih yakin bahwa calon tersebut sesuai dengan yang kita butuhkan. 


Ketika akan mewawancara calon ART untuk pertama kali, sayapun sempat kebingungan karena data yang saya butuhkan rasanya sudah ada di CV ARTnya. Namun, setelah mampir ke blognya seorang momfluencer yang membuat panduan pertanyaan untuk wawancara ART, saya jadi lebih punya gambaran apa saja yang harus saya pastikan ke calon ART ini saat wawancara.

Panduan pertanyaan untuk wawancara ART akan saya buatkan postingan terpisah ya 😊.

4. Investigasi Calon ARTnya
Di zaman yang semakin mudah menjangkau internet seperti sekarang, rasanya hampir semua kalangan punya profil kedua di dunia maya. Termasuk, mungkin, calon ART yang akan kita hire.

Ini langkah opsional sih..kalau merasa udah percaya dari hasil wawancara atau dengan melihat muka dan CVnya saja, silakan bisa di-skip. Tapi buat saya, langkah ini perlu untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan dan potensi drama.

Investigasi versi saya terdiri dari tiga metode dan semuanya udah pernah saya coba sendiri.

Satu, menghubungi majikan calon ART sebelumnya. Kalo ARTnya bersedia memberikan nomor majikan sebelumnya, ada kemungkinan kinerjanya baik dan bisa dipercaya sehingga dia nggak ragu memberikan nomor orang yang bisa menambahkan kredibilitasnya. Kalo dia nggak bisa memberikan, cek dulu alasannya. Bisa jadi memang udah nggak nyimpan karena HPnya rusak atau masalah teknis lain, atau karena dia nggak yakin majikan lamanya akan memberikan penilaian positif tentang dia.

Dua, cek namanya di Get Contact (atau aplikasi sejenis lainnya). Ini juga metode lain untuk mengecek kredibilitas calon ART. Hati-hati kalau hasil pencarian di Get Contact menunjukkan nama alay, aneh, mencurigakan, umpatan, atau nama-nama meragukan lainnya. Ini udah yellow flag dan bisa dikonfirmasi ke tahap selanjutnya.

Ketiga, alias tahap terakhir, adalah cek di media sosial. Di tahap ini memang agak sulit sih karena kadang nama di KTP sama nama di media sosial beda. Perlu jam terbang dan terus mengasah kemampuan detektif supaya bisa menemukan akun media sosialnya. Atau kalaupun nggak menemukan media sosialnya, simpan nomor kontak calon ART ini dan coba perhatikan apakah dia cukup sering update status di WA dan seperti apa update-nya. 

Kalau bisa menemukan akun media sosialnya dan sekiranya postingan-postingannya bikin nggak sreg, saran saya, mending cari kandidat lain aja.


Menemukan ART yang cocok (secara kebutuhan dan budget) memang memerlukan ketelitian dan kesabaran. Jadi kalau sudah menemukannya, semoga bisa dijaga dengan baik ya supaya sama-sama betah.

Semoga bermanfaat!

Image Source:
Unsplash
Getty Image
iStock








Wednesday, April 26, 2023

Tips: Serunya Jelajah Museum

 Apa yang terlintas di benakmu kalau mendengar kata ‘museum’? Gelap? Kuno? Sepi? Bagi saya, museum justru bisa menjadi semacam mesin waktu yang akan membawa kita ke masa lampau. Berkunjung ke Museum Geologi, misalnya. Sebagai manusia modern, kita bisa sedikit mengintip kehidupan pada jaman purba di sana. Atau mengunjungi Museum Pos Indonesia yang ada di jalan Cilaki, dekat Gedung Sate. Melalui diorama yang dipajang, kita bisa melihat bagaimana orang jaman dahulu berkomunikasi dengan keluarga atau kerabat yang letaknya jauh dengan menggunakan surat.

Sebagai salah satu kota di Indonesia yang memiliki beberapa museum seru, tidak ada salahnya jika sesekali kita mengunjungi aneka museum yang ada di Bandung. Untuk memeringati Hari Museum Internasional yang jatuh pada 18 Mei ini, Bandung Review akan memberikan tips seru untuk menjelajah museum. Sudah siap?

1. Sesuaikan Minat

Ada baiknya, kunjungi museum yang sesuai dengan minat kita. Misalnya jika tertarik pada hal-hal mengenai seni dan sastra, coba kunjungi Museum Sri Baduga yang ada di kawasan Tegallega. Selain menambah wawasan di bidang yang kita sukai, tips ini juga akan mengusir kesan ‘membosankan’ dari sebuah kunjungan ke museum. Kalau kita berada di lingkungan yang mendukung minat kita, antusiasme untuk belajar juga akan meningkat bukan?

2. Pelajari Sekilas Isi Museum

Ini berguna agar kita mendapat gambaran sekilas mengenai hal-hal yang kita temui. Beberapa museum biasanya juga memiliki program khusus di waktu-waktu tertentu seperti Museum Konperensi Asia-Afrika yang baru-baru ini menyelenggarakan peringatan HUT KAA. Bila tidak menemukan informasinya di internet, coba cari tahu dari orang yang sudah pernah ke museum yang ingin kita kunjungi.

3. Kenakan Pakaian yang Nyaman

Karena sebuah museum umumnya memerlukan waktu yang tidak sebentar untuk dijelajahi, gunakan pakaian yang akan membuat nyaman. Sepatu misalnya, pilih jenis yang tidak membuat kaki cepat pegal. Agar lebih seru, pakaian yang dikenakan bisa disesuaikan dengan tema museum yang akan dikunjungi seperti memakai baju ala sosialita tempo dulu untuk berkunjung ke Museum KAA atau mengenakan baju safari untuk main ke Museum Geologi.

4. Bawa Barang Seperlunya

Sebelum menjelajah setiap bagiannya, museum biasanya memiliki peraturan bagi pengunjung untuk menitipkan tasnya. Kalaupun tidak, bawalah barang yang diperlukan misalnya kamera. Meminimalisir barang bawaan akan meningkatkan kenyamanan kita saat mengelilingi isi museum.

Beberapa museum mungkin tidak mengijinkan pengunjung memotret koleksi yang ada di dalam atau dilarang memotret dengan lampu kilat. Bila menemui aturan seperti ini, jangan dilanggar karena penggunaan lampu kilat dikhawatirkan dapat mengurangi keindahan koleksi yang ditampilkan.

5. Ikuti Guide

Selain informasi yang tertera pada brosur, kunjungan ke museum akan lebih asyik bila kita dipandu seseorang yang memahami seluk beluk koleksi di dalamnya. Sambil melihat-lihat, wawasan kita pun bertambah. Tidak ada guide khusus untuk menjelajah di dalam museum? Cobalah mengikuti rombongan yang juga sedang mengadakan kunjungan ke museum. Rombongan seperti itu biasanya memiliki pemandu yang juga bisa menceritakan hal-hal unik dibalik aneka koleksi yang akan kita lihat di dalam museum.

6. Bergabung di Komunitas

Ingin menjelajah museum tetapi tidak ada teman? Bergabunglah dengan komunitas! Meski tidak terbatas pada mengunjungi museum-museum yang ada di Bandung, saat ini ada beberapa komunitas yang kegiatan utamanya adalah berwisata ke museum. Menjelajah museum bersama banyak orang umumnya memang lebih mengasyikkan dibandingkan dengan menjelajah seorang diri.

Mengunjungi museum adalah salah satu alternatif untuk menghilangkan penat sekaligus belajar hal baru. Dengan biaya yang terjangkau, kita bisa pulang membawa sejumlah wawasan baru. Jadi, sudah menentukan museum mana yang akan dikunjungi pekan ini? (RY)

 

Published on: Bandung Review

Tips: Membuat Perpustakaan Pribadi

 Masih suka menonton kartun Doraemon? Robot kucing yang datang dari masa depan ini selalu memiliki peralatan ajaib yang membuat kita ngiler ingin memilikinya. Salah satu peralatan favorit dari robot penyuka dorayaki ini adalah Pintu ke Mana Saja. Dengan pintu berwarna pink ini, penggunanya bisa langsung pergi ke tempat yang dituju begitu memutar kenopnya.

Mungkin benda seperti Pintu ke Mana Saja akan sulit diwujudkan keberadaannya di dunia nyata. Namun sebenarnya, kita juga bisa loh ‘pergi ke mana saja’ tanpa perlu kendaraan dan terjebak kemacetan! Caranya, dengan membaca buku. Seperti kata pepatah, ‘buku adalah jendela dunia’. Maka, salah satu cara terbaik mengenal aneka tempat dan negara lain adalah dengan cara mulai membaca.

Dalam rangka memperingati Hari Buku Internasional yang dirayakan setiap 23 April, Bandung Review akan memberikan tips membuat perpustakaan pribadi di rumah. Coba siapkan koleksi bukunya untuk dibuatkan ‘rumah’ baru yang nyaman!

1. Rancang Konsepnya

Pada dasarnya, perpustakaan pribadi tidak selalu membutuhkan ruangan khusus. Sebuah sudut di ruang keluarga atau kamar juga bisa disulap menjadi tempat menyimpan koleksi buku sekaligus membaca yang nyaman. Idealnya, ruangan yang dipilih bersifat tenang dan cukup jauh dari suara ramai sehingga bisa berkonsentrasi saat sedang membaca. Agar semakin meningkatkan minat baca, perpustakaan pribadi juga bisa dihias dengan tema tertentu, misalnya diisi pernak-pernik dari jenis buku favorit atau dicat dengan warna-warna lembut.

2. Penerangan yang Cukup

Karena indera utama yang akan ‘bekerja’ di perpustakaan pribadi adalah mata, pastikan perpustakaan pribadi nantinya memiliki penerangan yang cukup. Cahaya tidak perlu terlalu terang, tetapi bisa membuat mata tidak cepat lelah saat membaca. Ada baiknya lampu yang digunakan adalah lampu neon, bukan lampu pijar untuk menghindari pantulan cahaya pada kertas yang dapat memicu kelelahan mata. Kalau perlu, sediakan lampu portable yang posisinya bisa disesuaikan dengan tempat untuk membaca.

3. Sirkulasi Udara yang Baik

Selain penerangan, aspek yang satu ini juga perlu diperhatikan. Sirkulasi udara yang baik membuat kita nyaman dan betah berlama-lama di perpustakaan pribadi. Buat suhu ruangan yang tidak terlalu lembab, bisa dengan menempatkan AC atau beberapa tanaman hias yang tidak terlalu besar di salah satu sudut perpustakaan pribadi. Dengan demikian, koleksi buku pun akan lebih awet karena terhindar dari timbulnya jamur.

4. Klasifikasikan Buku

Pengklasifikasian buku bisa dibuat secara alfabetis berdasarkan judul atau pengarangnya. Sistem ini akan memudahkan kita mencarinya di lain waktu. Untuk lebih melindunginya, koleksi buku bisa ditempatkan dalam sebuah lemari dengan kaca bening. Bila lemari dirasa terlalu besar, sebuah rak dengan beberapa kotak bisa menjadi pilihan. Dalam satu kotak itu misalnya bisa diisi satu seri komik atau buku-buku karya satu pengarang tertentu. Supaya lebih awet, buku-buku sebaiknya diberi sampul plastik terlebih dahulu sebelum ditata pada rak atau lemari.

5. Membuat Kliping Majalah & Koran

Ini adalah alternatif untuk melengkapi koleksi perpustakaan pribadi. Kalau selama ini berlangganan atau rutin membeli majalah dan koran, tidak ada salahnya dikumpulkan lagi. Siapa tahu suatu saat ada informasi yang perlu dicari dari majalah atau koran itu.

Buku adalah gudang ilmu. Semakin banyak membaca, semakin banyak pula pengetahuan yang diperoleh. Jangan ragu menjadi kutu buku, banyak membaca itu seru! (RY)

 

Published on: Bandung Review

Monday, May 30, 2022

Zea Activity Zone, Playground Seru di Bontang

Setelah cuti panjang ke Jawa bulan lalu, anak-anak saya menjadi semacam ketagihan bermain di playground. Saat itu, saya dan suami memang mengajak mereka bermain di playground sesekali. Selain untuk melatih keberanian mencoba aneka permainan yang ada, kami berharap mereka bisa mengembangkan imajinasi dan belajar bersosialisasi. Minimal main 'bareng' dengan anak sebaya yang nggak dikenal.

Di Bontang sendiri, sebenarnya sudah ada playground yang sepertinya cukup nyaman. Namun, kami belum berani membawa anak-anak karena keburu terkendala pandemi. Walaupun sempat zona kuning, rasanya masih ada potensi virus aja di tempat indoor seperti itu. 

Playground ini berada di lantai dua dari toko mainan Zea Edu Toys. Meski lokasinya di dalam ruko, mainan yang disajikan cukup beragam dan nggak kalah seru dibandingkan playground yang ada di dalam mal hehe.

Kami ke sana hari Sabtu, menyesuaikan dengan jadwal liburnya sang Ayah. Kebetulan, saat itu dari pagi cuacanya mendung dan sempat hujan cukup deras di Bontang. Ketika hujan sudah mulai reda, kami berangkat. Jadilah di sana sepi dan belum ada anak lain yang main.

Nilai plus dari playground ini adalah sistem pembayarannya yang hanya menghitung jumlah anak. Biasanya kan pendamping juga dihitung dan dibatasi ya.. kemarin mah enggak. Nggak tau apa karena lagi sepi ya.. hehe. 

Pricelist as per Mei 2022


Secara umum, di playground ini terdapat empat zona yaitu Activity 1, Activity 2, 'Food Court', dan 'Education'. Masing-masing memiliki ukuran yang nggak terlalu luas, tetapi cukup nyaman untuk anak bisa bereksplorasi. Saya sempat melihat tulisan di salah satu dinding bahwa kapasitas maksimum adalah 5 anak, tapi kurang tau juga apakah itu maksudnya kapasitas total di playground ini (karena masih ada pandemi) atau kapasitas total di setiap zona.

Zona Activities yang nyaman dan aman


Di Activity 1, permainan utamanya adalah berseluncur di atas kolam bola. Untuk mencapai papan seluncur, anak harus berjalan melewati beberapa rintangan. Di sela rintangan itu, ada juga mini trampolin yang bisa digunakan sambil menunggu giliran.

Berjalan di atas terowongan tali dan jembatan ayun

Perosotannya ada dua, meminimalisir rebutan


Di sebelah kiri Acitivity 1, terdapat area yang saya sebut Activity 2. Di sini permainannya lebih memperkuat lagi motorik kasar anak karena ada trampolin yang berukuran lebih besar, ring basket dan bolanya, serta panjat tebing mini.

Pendampingnya bisa ikutan lompat-lompat sih ini :))

Lanjut, ke Zea Food Court. Saya sempat kecele, kirain ada food court beneran atau di area itu anak-anak boleh sambil makan. Ternyata, area yang dimaksud adalah kolam berisi kacang hijau kupas yang di dalamnya ada beberapa mainan.

Jadi pengen bikin juga di rumah :))

Area terakhir yaitu 'Education', nggak sempat saya foto karena keburu ada pengunjung lain yang lagi duduk di situ. Sebagai gambaran, di area ini ada beberapa meja dan kursi serta buku-buku yang bisa dibaca di tempat. Ada juga buku dan snack yang dijual. 

Zea Activity Zone ini saya rekomendasikan banget buat yang lagi nyari playground ramah anak di Bontang. Tidak terlalu besar, tapi juga nggak kekecilan sehingga anak-anak nggak cepat bosan. Fasilitasnya pun memadai, ada AC, toilet, dan tempat shalat. Plus, adanya pembatasan jumlah pengunjung membuat anak bisa mengeksplor permainan yang ada dengan lebih puas.

Namun, jangan lupa untuk tetap mewaspadai pergerakan si kecil ya! Kadang anak saya masih kurang pede kalau merasa tidak diawasi atau ada hal-hal yang berpotensi menyebabkan celaka (dalam kasus saya, anak saya diserobot anak laki-laki di area Acitvity 1 😠).

Selamat bermain!





This entry was posted in

Tuesday, March 29, 2022

2021 in Review

Setengah tahun vakum nge-blog, sekarang tiba-tiba membuat year in review aja! Hehehe.

Sebelum menulis ini, saya sempat flashback membaca tulisan serupa di tahun 2020. Setelah banyak drama, Alhamdulillah di 2021 kehidupan lebih membaik dan cerah ceria walau terkadang ada sandungannya juga.

Dan, inilah perjalanan 2021 versi saya.

1. 'Inovasi' Ala-ala
Tahun 2021 masih diwarnai dengan virus Covid-19 yang trendingnya naik turun. Biasanya sih, kalau dekat musim liburan terus naik. Tapi, thanks to corona lagi, di tahun ini saya punya kesempatan membuat beberapa project sederhana yang berkaitan sama pekerjaan.

Project pertama adalah 'Jastip Tojas'. Sesuai namanya, project ini memungkinkan warga komplek untuk nitip belanja di minimarket kesayangan kami semua. Jastip Tojas lahir dari situasi pandemi yang saat itu mengharuskan banyak orang isoman (isolasi mandiri) atau karaman (karantina mandiri) dan nggak bisa berbelanja kebutuhannya. Plus, komplek dalam keadaan 'keterbatasan akses' sehingga kurir dari luar nggak bisa masuk dengan leluasa.

Sebagai orang yang nggak mau ribet, project ini nggak melibatkan banyak orang. Awalnya hanya ada 1 orang sebagai admin dan yang merekap pembayaran, dan 2 orang sebagai kurir. Mereka semua anak magang. Setelah dedek dedek itu selesai masa magangnya (tapi pandeminya ga selesai-selesai), saya diminta tetap melanjutkan project ini. Akhirnya saya mengajak satu mitra kerja yang bisa diajak kerja sama. Dia berperan sebagai kurir (termasuk angkat-angkat galon ke rumah :)) ) dan saya menjalankan sisanya.
 
Project ini pernah saya presentasikan di tugas akhir mata kuliah Business Leadership. Mungkin, project sederhana yang berdampak cukup luar biasa ini jugalah yang membantu saya mendapatkan predikat 'Best Achievement' di mata kuliah tersebut. 

Project kedua, Sedekah Sampah. Targetnya masih di dalam komplek dan latar belakangnya juga masih terkait kerjaan. Dari project kedua ini, lahirlah mini project lainnya yang ternyata seru juga dan akan saya ceritakan di lain kesempatan: RT Darling! Challenge dan Declutter Yuk! Bontang.

RT Darling! Challenge


2. Skills Level: Up!
Sejujurnya, di tahun 2021 saya sempat merasa stuck. Mungkin lelah dengan kondisi pandemi juga ya. Semacam, mau marah tapi ngutruk ke siapa. Bosan juga dengan beberapa hal karena setiap tahun harus menghadapi sesuatu yang sama.

Di tengah kejenuhan dengan segala penyebabnya, saya tersadar tahun ini harus bangkit. Harus meningkatkan kompetensi diri meski nggak ada yang men-sponsori. 

Jadi, di tahun 2021 akhirnya saya bisa mengikuti Sertifikasi Strategic PR dari salah satu lembaga sertifikasi yang sudah memiliki lisensi BNSP. Mumpung masih pandemi, bisa sertifikasi sambil duduk manis di Bontang ya kaaan~
 
Pilihan kompetensi untuk sertifikasi


Selain itu, saya juga sempat ikut kursus gratis dari Google tentang Digital Marketing. Ini ada e-certificatenya juga btw, tapi saya masih belum lolos passing grade hahaha. Buat yang mau belajar digital marketing dari basic, bagus loh itu materinya. Belajar teori dan sambil dikasih kuis di akhir setiap materi.

Masih banyak lagi webinar, seminar, apapun lah metode pembelajaran online yang saya ikuti sepanjang 2021. Sebagian besarnya memang masih terkait dengan CSR sih, tapi alhamdulillah banyak berkahnya. 

Oh iya, sepanjang 2021 ini, saya juga dipercaya mengisi in house training tentang public speaking dan menjadi narasumber public training perusahaan untuk topik CSR & PROPER. Buat saya, kedua kesempatan ini juga sekaligus mengasah skill saya di bidang lain: public speaking.

3. Cvd Attacked!
Yhaaa sebagaimana jutaan manusia lain, akhirnya si virus rese ini menyerang saya. Kayaknya ini pas gelombang kedua ya, tapi saya kena pas trennya mulai turun. Jadi, alhamdulillah dapat kamar karantina di apate. 

Saya memilih karantina di apate karena (alhamdulillahnya lagi) anak yang besar dan salah satu ART dinyatakan negatif PCR. Sisanya, positif 🤪. Ke-positif-an saya ini juga menjadi pemecah rekor karena di departemen saya akhirnya ada yang kena hahaha. Jangan tanya dapet dari mana, saya juga nggak tau. Malah awalnya denial ngerasa ngedrop karena emang lagi PMS pun.

Kesempatan 'staycation' selama hampir tiga minggu ini cukup berpengaruh pada beberapa hal dalam hidup saya. Jadi ingat untuk lebih bersyukur lagi pastinya. Bersyukur masih diberi kekuatan dan pertolongan dari banyak pihak untuk menjalani masa perawatan.

4. Pindah
Menjelang akhir 2021, saya dan suami memutuskan untuk pindah ke rumah dinas yang baru. Dengan ukuran yang lebih luas, kami berharap anak-anak bisa lebih mengeksplor lingkungan sekitarnya.

Sebenarnya, kesempatan untuk pindah sudah ada sekitar 2 atau 3 kali. Yang sebelum-sebelumnya, nggak mau pindah karena belum siap aja. Terutama bagi saya secara mental. Selain hoream riweuh pindahan, rumah lama itu adalah saksi saya bertumbuh di Bontang. Mulai dari masa-masa sendiri, sampai sekarang punya bernyit dua :').

Rupanya, Semesta mendukung keputusan pindah rumah saya ini. Saking mendukungnya, kerjaan saya pun (di)pindah ke bagian yang mengurusi fasilitas di perumahan dinas pekerja :__))).

A whole new world, banget. Saya, yang selama ini takut kalau mendapat posisi di luar kemampuan, seperti dipaksa keluar dari zona nyaman. Ya yang sebelumnya ini nggak nyaman banget gimana juga sih pada awalnya, tapi seenggaknya transisinya smooth lah hahaha.

Yang ini, bener-bener jauh. Secara latar belakang akademis, nonakademis, maupun tanggung jawabnya. Gimana coba, saya yang backgroundnya komunikasi terus harus menilai apakah rumah yang sudah diperbaiki itu dicatnya benar-benar dua kali atau sekali aja? Yang sebelumnya lagi semangat menyelami dunia PR (Public Relations), tiba-tiba dihadapkan sama aneka tools dan material yang saya pun nggak paham fungsi dan bedanya :)))). Biasa diminta me-review tulisan atau video, sekarang diminta memutuskan apakah alat elektronik yang rusak perlu diperbaiki atau diganti aja.
 
Biasa ngecek EYDnya tulisan udah bener atau belum, sekarang ngecek tanaman yang ditanam udah tumbuh segimana :')


Pada akhirnya, kepindahan ini terutama yang di kerjaan, disikapi dengan santai dan tetap berusaha memberikan yang terbaik. Ada kerjaan yang nggak bisa bener? Yaudah, coba lagi. Ada subordinate yang susah diatur? Yaudah coba ingetin. Sekali, dua kali nggak mempan, bye!
 

Itulah catatan perjalanan di 2021. Lebih rame dibandingkan tahun sebelumnya yang monoton banget dan lebih menantang. Terima kasih untuk semua support dan relasi yang baik selama tahun lalu! Semoga 2022 bisa lebih banyak menciptakan kebaikan dan kenangan indah 😊.


Monday, June 21, 2021

How MBA Changed My Weekend: Tugasnya Nonton "Crimson Tide"

Minggu ini, saya memulai perkuliahan yang sudah masuk semester keempat. "Sebentar lagi selesai," kata Kaprodi saat melakukan sosialisasi tugas akhir dan diamini saya dalam hati.

Berbeda dengan tiga semester sebelumnya, kali ini para mahasiswa dibebaskan memilih mata kuliah sesuai minat (dan bakat?) masing-masing. Bagi mahasiswa yang menghindari itung-itungan rumit seperti saya, tentu mata kuliah di bidang Human Capital dan Marketing my darling adalah pilihan terbaik. Sayangnya, saya nggak jodoh sama jadwalnya kelas-kelas Marketing. Untung masih bisa ikut kelas Human Capital.

Di pertemuan perdana kelas pilihan ini, mata kuliah pertama adalah Business Leadership. Seruu..sesuai ekspektasi (nggak ada perhitungan yang rumit haha!), bahkan melebihi sebenarnya. Selain materinya mudah dicerna, wawasan saya beneran bertambah soal leadership dalam konteks dunia bisnis terutama. Plus, ada self assesmen juga apakah saya sudah bisa menjadi leader yang baik (tentuuuuuuuu..... belum 😂).

Pengalaman sebelumnya di kelas Human Capital, tugasnya 'unik'. Nggak sekedar membahas kasus atau membuat analisis situasi. Kami saat itu sempat dibagi menjadi tiga kelompok dalam satu kelas dan tugasnya juga dibagi tiga: membuat dua webinar dan mengelola satu akun Youtube. Saya, pilih yang mengelola Youtube.

Kali ini, tugasnya nggak kalah seru: menonton film. Bukan sembarang film, melainkan yang ada hubungannya dengan leadership.

Judulnya 'Crimson Tide'. Bukan film baru pastinya, dan entah kapan rilis di bioskopnya. Tapi ternyata, ada yang udah pernah nonton loh 😂 Dengan berbagai cara, akhirnya bisa juga nonton film ini secara utuh dan nyaman (thanks to My LNG 💖).

Jadi, film ini tentang apa sih?

Film ini bercerita tentang pasukan Angkatan Laut AS yang punya misi tertentu dan sebagian besar aktifitasnya dilakukan di dalam kapal selam. Alih-alih fokus pada strategi yang dilakukan untuk mencapai misi tersebut, kita akan diajak melihat perbedaan gaya kepemimpinan dari kedua pemimpin pasukan yang ada. 

Sebenarnya, kapal selam ini dipimpin eh seorang (sebut saja) komandan dan sebelum berangkat, ada orang baru yang ditugaskan untuk mendampingi komandan itu. Kita sebut saja dia wakil komandan. Disebut baru, karena wakil komandan ini belum pernah terlibat misi di kapal selam itu sementara sang komandan udah 'khatam banget' sama kapal selam ini.

Singkat cerita, masalah yang dihadapi nggak hanya bagaimana mereka mengalahkan musuh dari eksternal, tetapi juga dari dalam pasukan itu sendiri. Di internal mereka pun ada beberapa perbedaan pandangan dan pendapat untuk menyelesaikan masalah, dan kalau nggak segera diatasi malah justru membuat masalah baru. 

Ketika menonton (yang untungnya ada subtitle), saya kira tugasnya nanti akan dikaitkan dengan strategi problem solving. Gimana pemimpin memecahkan masalah yang ada, yang kadang bener tapi pernah juga malah memperparah.

Besoknya di kelas, ternyata diskusi lebih diarahkan kepada 'Situational Leadership'. Bahwa pemimpin nggak selamanya benar dan harus bertindak. Bahwa anak buah nggak selamanya benar juga :)) tapi suatu saat harus berani mengambil keputusan untuk bertindak secara sistematis dan terukur. 

Jadi, apa itu sebenarnya 'Situational Leadership'? 

Bersambung di postingan selanjutnya ya.. :)

Sambil nunggu, tonton deh filmnya. Menarik kok, bahkan untuk orang yang nggak suka nonton action macem saya hehe.




Thursday, June 10, 2021

How MBA Changed My Weekend: Best Achiever, Checked!!

Beberapa hari lalu, di grup WA angkatan saya ramai karena bagian administrasi SBM ITB mengumumkan para peraih 'Best Achievers' untuk mata kuliah yang diambil di semester empat ini. Ada enam mata kuliah yang diambil oleh kelas Bontang dan dari keenam mata kuliah itu masing-masing ada satu atau lebih peraih 'Best Achievers'nya. 

Dari keenam mata kuliah itu, saya hanya mengambil satu. Buat saya, kebebasan memilih mata kuliah ini sendiri sudah menjadi 'achievement' karena saya nggak harus mengikuti kuliah yang penuh dengan angka dan sobat ambis. Ya, di semester ini memang mata kuliahnya bisa dipilih sesuai minat dan bakat sehingga saya sih nyadar diri aja hahaha. Yang cukup ikut bikin senang, dua dari beberapa peraih best achievers itu berada dalam satu sindikat (kelompok diskusi) yang sama dengan saya di mata kuliah yang umum. Lumayan :') #lumayanapaaa.

Di semester empat ini, saya memilih mata kuliah yang sekiranya bisa saya ikuti dengan benar. Untungnya di kelas lain, tepatnya kelas Batam, ada dibuka kelas non hitung-hitungan seperti Business Leadership (BusLed) dan Leading and Managing Organizational Change (LMOC). Di kelas Batam ini, pesertanya terdiri dari berbagai latar belakang profesi dan perusahaan. Seru juga jadinya kalau diskusi, mendengar banyak insight dari perusahaan yang jauh berbeda kulturnya dengan oil & gas. Dan jadi pengen pindah ke Batam juga deh buat opsi.

Lalu tiba-tiba, pagi ini dengan mata yang masih mengantuk, saya melihat jam di HP. Sekilas, ada notif WA dari bagian administrasi SBM ITB dan yang kebaca sama saya cuma "Selamat ya, Bu".

Mata saya langsung melek sepenuhnya. Kantuk hilang. Begitu buka WA, ternyata ada gambar ini:

 

WHOAA!!! Nggak salah kan ini?? 😁😁😁 Excitednya sementara di dalam hati aja dulu takut anak kebangun.

Seperti mata kuliah lain pada umumnya, di mata kuliah business leadership ini target saya standar banget: yang penting lulus. Syukur kalo bisa dapat 'A' karena mata kuliah ini dipilih dengan kesadaran sendiri tanpa paksaan jadi harusnya saya bisa lebih bertanggung jawab. Pun ketika kuliah, masih sempat meng-quote beberapa kalimat atau insight menarik (yang bisa dibaca di highlite IG saya: MBA Lyfe).

Business Leadership ini adalah mata kuliah pertama di semester empat. Artinya, selain beradaptasi dengan materi dan dosen, saya juga harus beradaptasi dengan 'teman-teman sekelas' yang lebih beragam dibandingkan LMOC. Kalau dipetakan, porsi mahasiswa di kelas ini cukup seimbang: 1/3 dari kelas Batam (yang backgroundnya udah beragam mulai dari korporat sampai pemerintahan), 1/3 dari kelas KPC (yang backgroundnya sesuai nama kelasnya, pertambangan), dan 1/3 dari kelas Bontang (walaupun jumlah peminatnya cukup untuk bikin satu sindikat aja :)) ). 

Sesungguhnya saya juga baru tau ada 'reward' semacam Best Achievers ini. Kayaknya di tiga semester sebelumnya nggak pernah ada. Apa mungkin program ini baru ada atau karena di semester ini achieversnya memang menonjol banget dibanding yang lain? Apa di semester sebelumnya pencapaian rang-orang banyak yang standar (standar A :') ) jadi belum ada program ini? 

Entahlah :)) Yang jelas kalau buat saya, terharu banget bisa diberi apresiasi semacam ini. Jadi semacam self reward buat diri sendiri selain selalu bersyukur setiap melihat transkrip nilai karena nggak ada nilai 'C'. Semoga semua ilmu dalam Business Leadership (dan matkul lain pastinya :)) ) bisa saya terapkan di pekerjaan ataupun kehidupan sehari-hari. Minimal kalau ada asesmen atau apalah, sertifikat ini nanti bisa dilampirkan di CV ya.

Terima kasih ITB! Terima kasih sobat BusLed dan sobat cumlaude ku!


Thursday, January 7, 2021

How MBA Changed My Weekend: List Mata Kuliah

 Hai!

Ketemu lagi dengan series ini. Seperti penjelasan di tulisan sebelumnya, series ini akan mengangkat perjalanan MBA saya yang semoga bisa menginspirasi walau lebih sering sekipnya.

Di postingan kali ini, saya mau share mata kuliah apa aja yang akan ditempuh di program MBA SBM ITB. Disclaimer dulu ya, karena kelas yang saya ikuti ini kelas inhouse alias kerja sama dengan perusahaan, mungkin akan ada beberapa mata kuliah yang berbeda dengan program lain di MBA SBM ITB. 

Memang, ada program apa aja di MBA SBM ITB? Silakan bisa dicek di sini.

Secara keseluruhan, program MBA ini ditempuh selama 5 semester plus final project. Final project-nya sendiri sudah bisa dimulai setelah menyelesaikan 3 semester alias sekarang saya lagi mulai :').

Sistem perkuliahannya sendiri dilakukan secara offline (sebelum pandemi) dan online (setelah pandemi, thanks God!) dengan jadwal setiap dua minggu sekali. Dua minggu sekali, full Sabtu-Minggu dari pagi sampai sore dan kadang bablas maghrib. Kecuali untuk Semester Pendek di semester 2 kemarin, kuliahnya beneran dipadatkan sehingga setiap minggu ada kuliah.


Kelasnya juga dijalankan secara berurutan. Artinya, kami akan menyelesaikan satu mata kuliah dulu, baru beranjak ke mata kuliah lain. Nggak multitasking seperti zaman S1 dulu di mana satu minggu kita belajar mata kuliah A, B, C sekaligus. Ini poin plusnya sih menurut saya, jadinya belajar dan mengerjakan tugasnya bisa lebih fokus.

Terus, apa aja yang dipelajari setiap semesternya? Ini dia:

SEMESTER 1:

  • Business Ethics, Law, and Sustainability
  • Marketing Management
  • Operation Management
SEMESTER II:
  • Accounting
  • People in Organization
SEMESTER III:
  • Business Economics
  • Decision Making & Negotiation
  • Financial Management
SEMESTER IV: (coming very soon)
Pada kondisi normal dan kalau melihat kelas inhouse angkatan sebelumnya, semester ini harusnya diisi mata kuliah 'Business Strategy & Enterprise Modelling'. Berhubung tahun ini kuliahnya masih online selama satu semester, kami para peserta kelas inhouse (termasuk juga kelas inhouse di perusahaan lain dan kelas di Bandung) sepakat untuk menggeser mata kuliah itu ke semester berikutnya dan mengganti dengan mata kuliah pilihan.

Mata kuliah pilihan yang saya ambil di semester ini:
  • Business Leadership
  • Leading & Managing Organizational Change
  • Small Business Management
SEMESTER V: (coming soon):
  • Business Strategy & Enterprise Modelling

Terus, yang dipelajari di setiap mata kuliah itu apa aja? Nah, itu nanti akan dijawab di postingan-postingan berikutnya pada series ini ya! Stay tune!

Apa Resolusinya?

 "Apa resolusinya?" tanya Superior saya ujug-ujug. Nggak jelas ditujukan ke siapa, jadi kami semua yang ada di ruangan itu malah saling berpandangan.

"2021, apa resolusinya? Biasanya kan bikin resolusi gitu ya.."

Sejujurnya, saya lupa kapan terakhir membuat resolusi secara 'resmi' alias ditulis begini. Sepertinya untuk menyambut tahun lalu nggak ada resolusi khusus. Jadinya acakadul deh.

Belajar dari tahun lalu, saya ingin mengembalikan kebiasaan-kebiasaan baik yang mungkin sempat hilang. Termasuk menulis resolusi. Kenapa sih harus ditulis? Supaya ingat. Dan lebih memotivasi untuk bisa mencapainya. Walau dalam beberapa kasus, resolusi selintas yang justru terkabul :').

Jadi, untuk tahun 2021, inilah beberapa resolusi saya...

1. Menerapkan Gaya Hidup Sehat

Alias lebih banyak 'gerak' (bukan olahraga ya hahaha) dan mengurangi goreng-gorengan. Terutama kalo di kantor. Huhuhu monmaap ya gaes kalo saya akan sering absen melipir ke tempat gorengan nanti. 

Tapi kalo ada menu #KantinCorcomm yang lain yhaaa... diliat dulu menunya apa 🙈

2. Kembali Menulis

Menulis blog, menulis freelance, menulis di socmed, apapun deh. Ibarat olahragawan yang jarang gerak, ini jari udah mulai kaku kalo nggak diasah lagi. 

3. Baca yang Berfaedah

Termasuk buku yang nggak melulu fiksi. Dari pertengahan tahun sebenarnya udah mulai membiasakan lagi baca satu buku nonfiksi. Biasanya tema parenting atau pengembangan diri. Tapi, durasi antara menyelesaikan novel fiksi vs buku nonfiksi beda jauh yaa ternyata 😂

4. Mengurangi Overthinking

Suatu hari, saya pernah cerita sama salah satu sohib, kenapa pikiran random saya sering kejadian. Ternyata, teman saya ini juga mengalami hal yang sama beberapa kali, tiba-tiba kepikiran sesuatu terus malah kejadian. Kami akhirnya menyimpulkan teori jaman kuliah dulu, bahwa ketika kita menginginkan atau memikirkan sesuatu, Semesta akan berkonsipirasi mewujudkannya. 

Sayangnya, yang random kepikiran ini kadang nggak selalu tentang hal positif. Kadang biasa aja mempertanyakan sesuatu, tapi yang kejadiannya malah jelek. Huhu!

Belajar dari beberapa kerandoman di tahun lalu, saya ingin mengurangi ke-overthinking-an di tahun ini. Nggak mikir aneh-aneh deh intinya! Termasuk juga dalam menghadapi orang-orang yang 'nggak sesuai harapan'. 

Jadi, inilah empat resolusi saya di tahun 2021, selain tentunya beberapa resolusi terkait relationship, parenting, dan karir yang nggak perlu dituliskan di sini hehehe. 

Kalau kamu, punya resolusi apa?

Resolusi 2021

Photo: Unsplash





This entry was posted in

Thursday, December 31, 2020

2020 in Review

Seumur-umur, 2020 kayaknya adalah tahun yang paling 'drama'. Selain situasi hidup yang suka jungkir-balik, kondisi dunia pada umumnya juga berubah drastis akibat adanya pandemi Covid-19. 

Di balik semua roller coaster kehidupan, ada beberapa hal yang membuat saya masih sangat bersyukur di tahun ini. Selain diri sendiri, keluarga, dan support system yang sehat lahir batin, berikut ini beberapa hal atau keputusan terbaik yang terjadi di tahun 2020 versi saya.

1. Melahirkan Anak Kedua

Ini adalah peristiwa terbaik pertama yang terjadi di tahun 2020. Dengan kehamilan yang nggak direncanakan dan diprediksi, Alhamdulillah baby kedua ini bisa lahir sesuai prediksi tanggalnya.

Hamil anak kedua, perjalanannya lebih struggle. Sang Kakak yang semakin aktif dan fisik yang rasanya makin renta membuat kehamilan kali ini dijalani dengan lebih legawa. 

Anak kedua diperkirakan lahir 8 Maret 2020. Belajar dari pengalaman kelahiran pertama yang maju seminggu dari HPL, saya udah menyiapkan segala peralatan untuk ke RS, termasuk juga sounding ke Sang Kakak dan mewanti-wanti suami untuk nggak dinas ke luar kota. 

Hari H HPL, saya masih kuliah. Ujian pula. Saat itu, corona masih belum seheboh sekarang, jadi kuliahnya masih secara langsung. Lumayan sih, mau nggak mau jadi 'olahraga' naik turun tangga tiap dua minggu sekali. 

Sebenarnya, saya udah sounding ke baby supaya keluar sesuai HPL aja. Nggak usah di tanggal 12 (teteup hahaha) juga nggak papa. Biar apa? Biar ujiannya take home ajaaa~ 😂. Tapi mungkin sang baby justru mau menyemangati saya yang ujian karena dia pun udah 'ikut' kuliahnya dari awal. Jadi, dia memilih melihat dunia satu hari tepat setelah ujian.

Setelah Kinar lahir, dunia saya dan dunia secara keseluruhan serasa berubah. Dunia saya, jelas, ada peran tambahan. Tapi Alhamdulillah bangetnya, Kinar ini baiiiiik sekali. Sangat jarang 'ngajak' ibunya begadang kecuali di sebulan pertama kehidupannya. Terima kasih ya, Sayangku!



Dan di luar sana, virus Covid-19 mulai disikapi serius oleh 'pihak-pihak yang berwenang'. Nggak lama setelah saya bersalin di RS, pemerintah setempat membuat kebijakan bahwa melahirkan di RS harus tes rapid/SWAB dulu dan hanya bisa didampingi satu orang aja plus nggak boleh dijenguk. Mau kontrol kehamilan ke RS pun ada beberapa protokol yang harus diperhatikan. Intinya, lebih ribet. 

2. Kuliah Lagi

Keputusan maju mundur ini sebenarnya dibuat di akhir tahun 2019. Waktu itu, sama sekali nggak bakal menyangka akan ada corona yang mengubah segalanya.

Kesempatan kuliah lagi akhirnya diambil karena dari perusahaan mengadakan kelas kerja sama. Jadi, nggak perlu ribet bolak-balik ke luar kota, pikir saya. Plus, jam istirahat masih bisa pulang ke rumah sebentar seperti biasa. Dan untungnya lagi, jam kuliahnya lebih 'manusiawi' dibanding angkatan sebelumnya. Sabtu-Minggu, dua minggu sekali, 08.00 - 17.00 WITA.

Saya juga sempat sharing sama teman di angkatan sebelumnya yang menjalani perkuliahan dengan kondisi baru melahirkan. Asli, salut banget sih sama perjuangannya! Sambil mikir juga apakah saya bisa, ketika dia pernah bercerita, "Waktu itu pas lagi ujian, pernah anak nangis kehausan. Dia ada di musholla (Training Center Badak LNG) sama Mamaku. Jadi, ngebut deh ngerjain ujiannya dan buru-buru menemui mereka."

Namanya kuliah Manajemen, suka nggak suka memang pasti akan ketemu dengan angka. Tapi, saya baru menyadari 'tantangannya' ketika melihat daftar mata kuliah dan silabusnya. Nggak cuma hitung-hitungan akuntansi, banyak juga ternyata yang menggunakan rumus dan simbol yang nggak pernah saya lihat sebelumnya. 😭 

'Thanks' to corona, sejak pertengahan Maret 2020 alias setelah saya melahirkan, sistem perkuliahan diubah ke online. Memang perlu penyesuaian cara belajar, tapi hikmahnya, perkuliahan ini bisa dilakukan dari rumah. Jadilah terkadang di beberapa perkuliahan, saya belajar sambil mengasuh anak dan ketiduran

Yang membuat lebih bersyukur, semua tugas dan ujian juga dilakukan secara online jadi masih ada waktu untuk mempelajari materi yang sulit dipahami (dan ini banyak! Ga cuma untuk satu mata kuliah aja 😂). Yuk bisa yuk dua semester lagi lulus!

3. Sharing Knowledge

Tahun 2020 juga memberi kesempatan bagi saya untuk lebih banyak berbagi ilmu dan pengalaman. Karena dilakukan secara online, ada satu masa rasanya kerjaan jadi sharing melulu. Tapi seru kok, menambah jaringan sekaligus mengasah percaya diri lagi~.

Jadi, terima kasih 2020! Untuk semua suka duka, pelajaran berharga, dan pengingatnya. Yuk 2021 lebih seru lagi yuk!


All illustration photos taken from Unsplash



Tim CSR Badak LNG 'Diundang' ke Dubai! Kok Bisa?

Semua berawal dari WA temen kosan zaman kuliah yang saat ini dinas di Kedubes UEA. 

Jadi, dia mendadak diminta membuat event dalam rangka Hari Ibu bertema 'Perempuan Inovatif'. Bingung mencari narasumber, dia akhirnya mengontak saya, mengusulkan untuk menampilkan salah satu mitra binaannya Badak LNG. Sebelumnya, kami memang pernah kontak-kontakan untuk rencana kolaborasi. Sayangnya, belum terwujud.

Membaca pesannya, kantuk saya langsung hilang. Super excited, karena kesempatan ini nggak semua orang atau institusi bisa dapat. Sambil mengonfirmasi ke mitra binaan, saya mengiyakan tawarannya.

Beruntung, mitra binaan yang saya propose bersedia menjadi narasumber. Ibu ini memang inspiratif sih. Setiap tahun selalu ada produk kuliner baru yang unik. 

Hari H, saya yang deg-degan. Setelah training online, langsung cus ke studio LNGTV demi bisa mendampingi prosesnya. 



Alhamdulillah.. acaranya berjalan lancar. Ibu mitra binaan bisa bercerita dengan baik dan menjawab pertanyaan-pertanyaan dengan lancar. Acara yang bisa disaksikan dari Zoom dan Facebook live-nya Kedubes Uni Emirat Arab & LNG TV ini mendapat cukup antusias dari penonton. Nggak hanya masyarakat umum, Ibu Kedubes bahkan sepertinya berminat mengadakan pelatihan pembuatan snack secara online untuk WNI di sana. Wah, siap Bu! Pelatihan langsung di sana boleh juga loh 😉


Tahun ini, kami memang baru bisa bertemu secara virtual. Tapi, kami yakin, kesempatan perdana ini akan membuka lebih banyak kesempatan lagi untuk institusi atau secara personal. 

Yuk ah, lebih banyak kolaborasi lagi di 2021! 😁


Saturday, August 15, 2020

How MBA Changed My Weekend (The Series)

Tidak terasa, sudah tiga semester saya menempuh kuliah S2 di SBM ITB. Adanya kelas kerja sama dengan perusahaan dan beberapa alasan lain membuat saya nekat mencoba mengikuti perkuliahan ini.

Berbeda dengan suasana S1, perkuliahan S2 ini ternyata lebih terasa lelahnya. Dari sisi jadwal, sebenarnya enak sih karena kita diajak mempelajari satu mata kuliah dulu sampai selesai baru beralih ke mata kuliah berikutnya. Jadi lebih fokus. Kalau S1 dulu kan seminggu aja jadwal mata kuliahnya gonta-ganti yaa... Jam perkuliahan juga lebih 'lumayan' yaitu Sabtu & Minggu, setiap dua minggu sekali, mulai pukul 09.00 - 17.00 WITA (kurang lebih). Mungkin karena kuliah ini disambi dengan kerja serius (kalo dulu S1 kan freelance aja hehe) dan tanggung jawab lain yaa~

Di antara semua mata kuliah yang udah ditempuh, tentu nggak semua materinya langsung bisa saya pahami. Apalagi kalo dosen sudah bersabda "Yang perempuan mana nih belum ngomong?" pasti langsung merapel doa supaya nggak diabsen berdasarkan gender atau ditunjuk acak. Kalau situasi begitu, jadi bersyukur kadang nama saya disangka laki 😏

Perbedaan lainnya adalah dalam hal mengerjakan tugas. Kalau dulu tugas menulisnya kebanyakan menggunakan referensi dari buku (atau fotokopian), sekarang lebih banyak langsung gugling aja. Kadang jawabannya ada berbagai versi yang ujung-ujungnya malah bikin bingung sendiri.

Untuk merangkum perjalanan inilah, saya akan membuat series seperti judul di atas. Ke depannya akan berisi seputar curhatan random, review perkuliahan atau update beberapa tugas individu saya yang semoga membantu.

Sampai ketemu di postingan selanjutnya!




Sunday, June 28, 2020

My Ikigai

Last month, I bought "Ikigai: The Japanese Secret to A Long and Happy Life" book, written by Hector Gracia and Francesc Miralles. I still not finish to read that, but today in People in Organization class, mention about this concept.

Based on the diagram that presented in the class, Ikigai is "the reason for our being". This concept combine the answers of what are we good at, what we love, what the world needs, and what we can paid for.

For me, find my Ikigai is challenging. Sometimes I know what makes me happy, and sometimes I don't know. But, I will try to find my Ikigai by answer the slice one by one.



The first slice is what I good at and what I love. Since elementary school, i love writing so much. Write personal diary, poem, short story, and this capability is growing when I was in Communication Faculty with major in Journalism. I can say i am good at writing because I had won some writing competition. So, for the 'passion' slice, the answer is writing.

Next slice is about what we love and what the world needs. I found what I love, and I think the world needs 'high quality news'. High quality here means the news is written based on "9 Elements of Journalism". So, my 'mission' is make a better world with my written that applied "9 Elements of Journalism" principle.

To answer the questions of what the world needs and what we can paid for, I can say it is by being a journalist. I had try this when I was in college but i think I can not sustain as a journalist. The risks are too high, not worth with the money income.

On the fourth slice, 'profession', this is the answer for question what we can paid of and what we good at. Basically, I am good at writing. Not only write news, but also articles, fiction, and caption for social media. So, I am happy when I was accepted as Media Relation Officer in Badak LNG because I can show off my capability and get good salary from it.

Although i found that my Ikigai is writing, I believe that I still can improved that. Some area that I need to improve is write in English, SEO, monetize my personal blog, and write a book (fiction/nonfiction).

To growth my writing skill, I try to read articles that written in English. I also often read articles about SEO and google ads. In Facebook, I joined writing group named "Komunitas Bisa Menulis" to see what topics that can attract readers nowadays. From that group, one of the member ever asked me whether it is possible to write novel together.

I am grateful that my circle support me to keep my Ikigai and achieve more from that. If you ever read my writing, I also open for critics and suggestions to make my writing skill better. 

This entry was posted in

Wednesday, November 13, 2019

Seru-seruan Ikut Ujian

"Udah lama nggak ujian ya, Mba?"
"Kalo ujian kehidupan sih sering, ujian tertulis yang jarang :')"


Beberapa hari lalu, saya memutuskan ikut tes seleksi S2 SBM ITB. Nawaitunya enggak sengotot waktu mencari tempat kuliah atau kerja di perusahaan idaman dulu. Murni lebih ke coba-coba. Dan sedikit termotivasi dari beberapa dedek di kantor yang ternyata berencana melanjutkan kuliah mereka melalui kelas online.

Sejujurnya, karena penasaran aja sih apakah saya masih mampu (dan kuat) mengerjakan soal-soal seperti itu :))

Berangkat dari nawaitu tadi, saya nyaris nggak melakukan persiapan apapun. Selain beli pensil 2B dan ngecek lagi info waktu dan lokasi tes. Malah hampir kayaknya nggak bisa ikut tes sesuai jadwal karena bentrok sama agenda kantor.



Di hari H, rencananya saya akan mengikuti dua tes, TOEFL dan TPA. Beruntung, nilai TOEFLnya ternyata bisa juga diganti dengan TOEIC dan saya punya sertifikatnya yang masih berlaku. Beruntungnya lagi, kata orang yang tes di sebelah saya, soal TOEFLnya 'amit-amit'. Listeningnya enggak pake dialog singkat dulu, langsung ke bacain paragraf gitu dan satu kali listening untuk menjawab beberapa soal :)))

Seperti bayangan saya, model soal TPAnya masih sama.Verbal, numerik, dan logika. Yang nggak kebayang, soalnya naudzubillah bikin pusing! :))) 90 verbal, 90 numerik, dan 70 logika dengan durasi setiap tahapnya hanya 60 menit. Nggak boleh lebih dan nggak boleh ngerjain tahap sebelumnya walau masih ada waktu.

Tahap pertama di soal kemampuan verbal, otak masih bisa diajak kerja sama. Ada empat tipe soal yaitu tentang mencari arti kata, sinonim, antonim, dan menjawab pertanyaan dari teks/narasi. Sebisa-bisanya, ya nggak 100% yakin juga sih. Ada beberapa kata yang sering terdengar dan sebenarnya paham maksudnya, tapi nggak yakin apa arti sebenarnya. Misalnya 'isbat', yang selalu terdengar menjelang awal Ramadan. Paham sih kalau ada yang bilang istilah itu, tapi artinya apakah penetapan, rapat, atau jangan-jangan ada arti lainnya? Atau 'samad', yang saya tau adalah nama belakang seorang pejabat. Atau arti dari jamais vu, yang saya cuma yakin maksudnya bukan sesuatu yang berbau negara Jamaika :))).

Tes verbal saya kerjakan sekitar 30 menit lebih. Masih banyak waktu yang tersisa, yang andai saja bisa digunakan untuk nyicil mengerjakan soal-soal model berikutnya. Oh iya, yang agak ngeselin dari tes verbal ini adalah munculnya istilah-istilah filsafat yang menjadi pilihan jawaban untuk tes verbal tipe narasi. Ontologi, epistimologi, dan aksiologi. Saya cuma inget, istilah itu sering terdengar di mata kuliah Filsafat Ilmu Komunikasi, yang kuliahnya seringnya di Gedung 4, dan saat kuliah saya nyaris sama sekali nggak paham sampai akhirnya harus ngulang. Huhu, ternyata menamatkan baca Dunia Sophie kayaknya ada faedahnya buat tes begini yaa~

Masuk ke tahap selanjutnya. Sebelumnya, saya memilih ke toilet sejenak dan mengambil segelas air minum. Buat amunisi.Enaknya ikut TPA kali ini, suasananya lebih 'ramah'. Peserta boleh ngambil air di sela-sela ngerjain soal. Dan karena sebagian besar peserta saling kenal, ruangan nggak kaku. Bisa saling curhat setelah ngerjain soal-soalnya.

Di tahap numerik, saya sedikit keteteran karena salah strategi. Haqqul yaqin soal-soal yang di halaman awal masih bisa masuk 'nalar' saya.. ternyata nggak juga! Soal yang menyelesaikan deret angka biasa masih oke lah.. deret diganti huruf juga masih paham.. lah kalau pecahan? Asli, blank :))). Padahal angka pecahannya masih kecil semacam 1/4, 2/3, gitu-gitu.. Tapi saya sempat lupa gimana menjumlahkannya. Dan yang paling nggak paham, soal yang pakai tanda seru semacam '5!4!3! dst' ini digimanain ngerjainnya? :__))))

Ketika time keeper mengingatkan waktu tinggal 5 menit lagi, langsung gunakan metode kiralogi dan cocoklogi. Yang penting semua nomor kejawab. Toh nggak ada pengulangan nilai semacam SNMPTN :p

Berlanjut ke tes logika, saya sedikit mengubah strategi. Sadar diri, makin ke halaman belakang otak makin panas dan gampang ngeblank ngerjainnya :)). Maka, saya memilih mengerjakan soal yang sekiranya saya (sebenarnya pasti) bisa menyelesaikan. Kalau nggak nemu jalan keluarnya, skip skip dulu. Strategi ini sedikit berhasil karena saat menyelesaikan soal-soal logika saya nggak nyaris kehabisan waktu seperti mengerjakan soal numerik. Yhaaa sekali lagi, walaupun nggak yakin juga yang saya rasa bisa ngerjain, jawabannya bener :)))

Ketika bahas soal-soalnya sama temen seangkatan



Ajaibnya, Alhamdulillahnya, setelah pengumuman keluar, hasil TPA saya ternyata di atas standar minimal kelulusan 475. Artinya, saya lolos seleksi dan bisa mengikuti tahap selanjutnya untuk pendaftaran S2 ini. Hore!

Sedikit tips untuk yang akan ikut ujian sejenis, JANGAN LUPA MAKAN. Makan yang bener. Supaya perut kenyang dan otak tenang. Sejujurnya saat mengerjakan tes ini saya cuma makan sedikit dan jadinya agak pusing. Ya pusing kurang makan, ya pusing ngerjain soal :)). Persiapkan juga alat tulis dan segala sesuatunya sesuai kebutuhan. Jangan panik duluan kalau menemukan soal yang keliatannya ribet. Siapa tau sebenarnya solusinya ternyata sederhana #pengalaman.

Dan terakhir pastinya, berdoalah sebelum dan sesudah mengerjakan. Kalau memang hasilnya bisa membawa kebaikan untuk kita, berdoalah supaya bisa lulus, sepuyeng apapun saat mengerjakan soalnya. Goodluck!

Friday, June 21, 2019

Menanam Mangrove, Mewujudkan Pembangunan Berkelanjutan

Saya masih ingat saat pertama kali bertemu dengannya. Siang itu, satu hari di tahun 2015. Bersama seorang teman, ia menjamu kami di salah satu saungnya yang berada di dekat area penanaman mangrove.


Namanya Muhammad Ali. Usianya 50 tahun. Namun, semangatnya tidak kalah dengan anak muda. Apalagi kalau sudah membicarakan tumbuhan yang juga dikenal dengan nama bakau tersebut.


Perjuangan Ali Mangrove, begitu ia akrab disapa, dalam membudidayakan tanaman khas pesisir ini dimulai tahun 2009. Fenomena penebangan mangrove oleh orang-orang tak bertanggung jawab membuatnya khawatir. Selain berpotensi menyebabkan banjir saat air laut pasang, berkurangnya keberadaan mangrove juga berpengaruh kepada penurunan hasil tangkapan ikannya. Kala itu, Ali memang  berprofesi sebagai nelayan sekaligus menjadi karyawan sebuah perusahaan tambang.


Bersama sang istri, Ali kemudian mencoba membibitkan mangrove. Jenis yang ditanam adalah Rhizopora, sp. Agar lebih fokus, Ali memutuskan pensiun dini dari perusahaan tempatnya bekerja. Ia juga mendapat pendampingan dari Badak LNG agar usahanya terus berkembang dan memberikan dampak positif, baik dari segi lingkungan, ekonomi, maupun sosial. Badak LNG sendiri merupakan perusahaan pengolah gas alam menjadi gas alam cair (LNG/Liquefied Natural Gas) yang berkomitmen melakukan pemberdayaan masyarakat melalui program-program Community Development-nya.


Hasilnya, lahan miliknya yang semula tidak produktif kini menjelma menjadi hutan mangrove. Selain mencegah abrasi, keberadaan hutan mangrove membuat udara di sekitarnya menjadi sejuk. Ali juga memperluas manfaat lingkungan dari hutan mangrove tersebut dengan membuat area untuk pembudidayaan kepiting bakau yang baru dimulai pada akhir 2017 lalu.


Perlahan, kondisi ekonomi keluarga Ali juga meningkat. Kesadaran akan pelestarian lingkungan membuat banyak instansi di Kota Bontang memesan bibit mangrove kepadanya. Tak jarang, ia dan kelompoknya yang bernama Tani Lestari Indah juga diminta untuk menanam bibit-bibit tersebut di lokasi yang sudah ditentukan. Peluang ini juga berimbas kepada peningkatan pendapatan para anggota kelompoknya.


Tidak sampai di situ, kecintaan Ali pada mangrove membuatnya tak segan berbagi ilmu seputar pembibitan, penanaman, maupun perawatan mangrove. Tamu Pemerintah, Perusahaan, masyarakat umum, hingga anak-anak sekolah semua berkesempatan belajar langsung mengenai mangrove dari ahlinya. Dengan dukungan dari Badak LNG, lahan milik Ali tersebut kini menjadi Mangrove Information Center.


Pemberdayaan Masyarakat


Kegiatan yang dilakukan oleh Ali dan dengan pendampingan dari Badak LNG membuktikan bahwa pemberdayaan masyarakat memberikan kontribusi positif bagi pencapaian tujuan Sustainable Development Goals (SDGs). Dikutip dari jurnal "Sustainable Development Goals (SDGs) dan Pengentasan Kemiskinan", konsep SDGs lahir pada konferensi mengenai Pembangunan Berkelanjutan yang dilaksanakan oleh PBB tahun 2012 di Rio de Jainero. Tujuan yang ingin dihasilkan dalam pertemuan tersebut adalah memperoleh tujuan bersama yang universal, yang mampu memelihara keseimbangan tiga dimensi pembangunan berkelanjutan yakni lingkungan, sosial, dan ekonomi (Ishartono & Santoso Tri Raharjo, Social Work Jurnal Vol. 6, No. 2, Hal. 154-272).


Tiga dimensi pembangunan berkelanjutan tersebut kemudian dirumuskan menjadi 17 tujuan global SDGs dan melalui penanaman mangrove, setidaknya ada 7 tujuan yang bisa dibantu pencapaiannya sebagai berikut:


1. Tanpa Kemiskinan. Tidak ada kemiskinan dalam bentuk apapun di seluruh penjuru dunia.
Kegiatan penanaman mangrove dan pembibitannya telah menghasilkan keuntungan ekonomi sehingga perlahan mendorong anggota kelompok keluar dari kemiskinan.


2.  Tanpa Kelaparan. Tidak ada lagi kelaparan, mencapai ketahanan pangan, perbaikan nutrisi, serta mendorong budidaya pertanian yang berkelanjutan.
Anggota kelompok yang telah bebas dari kemiskinan juga akan terbebas dari ancaman kelaparan.


5. Kesetaraan Gender. Mencapai kesetaraan gender dan memberdayakan kaum ibu dan perempuan.
Sebagian besar anggota kelompok Tani Lestari Indah adalah para ibu. Mereka yang semula tidak produktif, kini menjadi memiliki kegiatan positif dan tambahan penghasilan. Buah mangrove yang bisa dimanfaatkan juga mendorong terbentuknya kelompok baru yang bergerak di bidang UMKM yaitu produksi sirup mangrove dan dodol mangrove dan seluruh anggota kelompok baru ini adalah perempuan.


8. Pertumbuhan Ekonomi dan Pekerjaan yang Layak. Mendukung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan dan inklusif, lapangan kerja yang penuh dan produktif, serta pekerjaan yang layak untuk semua orang.
Keberadaan usaha budidaya mangrove secara tidak langsung telah mendorong pertumbuhan ekonomi. Lapangan kerja tercipta dan dengan pendampingan dari Badak LNG kegiatan budidaya bisa berkelanjutan, bahkan terus berkembang.


14. Kehidupan Bawah Laut. Melestarikan dan menjaga keberlangsungan laut dan kehidupan sumber daya laut untuk perkembangan pembangunan yang berkelanjutan. 
Sebagai habitat beberapa hewan khas pesisir, keberadaan mangrove telah membantu melestarikan keberadaan mereka sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem laut.


15. Kehidupan di Darat. Melindungi, mengembalikan, dan meningkatkan keberlangsungan pemakaian ekosistem darat, mengelola hutan secara berkelanjutan, mengurangi tanah tandus serta tukar guling tanah, memerangi penggurunan, menghentikan dan memulihkan degradasi tanah, serta menghentikan kerugian keanekaragaman hayati.
Bagi makhluk yang tinggal di darat termasuk manusia, keberadaan mangrove adalah pelindung dari ancaman abrasi atau banjir yang datang saat air pasang.


17. Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. Memperkuat implementasi dan menghidupkan kembali kemitraan global untuk pembangunan yang berkelanjutan. 
Ali dan kelompok Tani Lestari Indah-nya memiliki tujuan yang disinergikan dengan cita-cita program Community Development Badak LNG. Jika Ali ingin lingkungan di sekitarnya terjaga sekaligus membantu masalah ekonomi anggota kelompoknya, Badak LNG pun memiliki cita-cita untuk Maju Bersama Masyarakat. Cita-cita ini sejalan dengan triple bottom line, konsep yang menjadi acuan sebuah perusahaan seperti Badak LNG dalam melaksanakan program-program Community Development.


Menurut konsep yang juga dikenal dengan nama "3P" tersebut, perusahaan yang ingin operasionalnya berkelanjutan harus berkomitmen pada aspek 3P yaitu profit, planet, dan people. Tidak hanya mencari profit, tetapi juga perusahaan harus bertanggung jawab terhadap kelestarian lingkungan serta pemberdayaan masyarakat di sekitar daerah operasionalnya.


Melestarikan lingkungan dan mencapai tujuan SDGs memerlukan sinergitas antara berbagai pihak, baik individu maupun institusi. Yang terpenting adalah memulai aksi positifnya dari sekarang, supaya kelak hasilnya bisa dinikmati di masa depan.


Selamat melakukan aksi positif!

Monday, February 18, 2019

#StayAtHyatt, Ketika Keramahan Berpadu dengan Kenyamanan

Pertengahan Januari lalu, saya berkesempatan menginap di Hyatt Regency Jogya. Walaupun dalam rangka dinas, Alhamdulillah bisa ditemani keluarga tercinta plus bapak ibu kami berdua.

Berdasarkan info di profil Instagramnya, Hyatt Regency Jogya adalah pemenang pertama "Indonesia Green Hotel 2017". Sebagai orang yang concern sama lingkungan, predikat ini langsung menarik perhatian saya.

Begitu sampai di hotel, kami (kecuali Kanaya) dikalungi bunga oleh staf di lobi depan. Senang plus curiga juga sih, jangan-jangan mereka salah mengira saya rombongan Direktur karena kemarin saya memang mem-bookingkan kamar juga untuk Pak Direktur. Belum pernah diginiin akutu, terharu :___)))


Lorong lobi yang asri

Lalu, apa lagi yang menarik dari Hyatt Regency Jogya ini sehingga saya rekomendasikan untuk keluarga yang mau staycation di Jogya? Ini dia beberapa keunggulannya.

1. Area Outdoor Luas
Hyatt Jogya memiliki keunggulan yang jarang dimiliki hotel lain saat ini: halamannya super luas! Mulai dari area masuk ke hotelnya yang serasa di hutan saking rimbunnya pepohonan, padang golf, dan halaman di sekitar gedung hotelnya. Mungkin keunggulan inilah yang membuatnya memiliki predikat "Green Hotel". Udara rasanya bersih dan yang pasti, kedua mata dimanjakan oleh warna hijau pepohonan dan rerumputan di mana-mana.


Bisa guling-guling


2. Banyak Atraksi
Mulai dari naik delman sampai berenang di kolam air asin, semua ada di sini. Kami sempat mencoba atraksi naik delmannya (gratis doong :p ) karena tiba di hotel sebelum waktu check in. Lumayan puas, dibawa hampir ke sekeliling area hotel. Bagi penggemar olahraga sepeda, hotel ini juga menyediakan paket "bike tour" untuk "bersepeda melihat area pedesaan dan persawahan". Tapi saya nggak nyoba dan nggak liat juga sawahnya di sebelah mana :))). Beberapa teman saya sempat menyewa sepeda ke pihak hotel untuk berkeliling di sekitar lapangan golf.

Kankan naik delman

Omong-omong soal golf, lapangan yang dimiliki hotel ini sepertinya juga menjadi referensi para pegolf luar negeri. Selain menjadi tempat turnamen, beberapa turis asing yang menginap di sini sepertinya sengaja hanya untuk 'merumput' di lapangan golfnya yang memang terbilang luas. Kalau Kanaya udah bisa jalan, pengen deh mengajaknya jalan-jalan di rerumputan lapangan golf itu!
Yang suka berenang, pastinya juga akan dimanjakan oleh beberapa kolam yang dimiliki Hyatt Regency Jogya. Kolam anak, ada. Kolam dewasa, ada. Kolam whirpool, ada. Kolam air asin, juga ada.

Candi itu tempat buat seluncuran, btw 

Yang nggak kalah penting, Hyatt Regency Jogya punya banyak spot foto yang instagrammable banget. Salah satunya, spot foto dengan berlatar Gunung Merapi. Kalau cuaca cerah, bagus deh gunungnya terlihat jelas.

Hai Merapi, haaai~~

3. Memiliki Kamar dengan Connecting Door
Masalah kamar ini agak ribet ketika saya mau booking empat kamar untuk keluarga. Mba-mba marketing yang saya kontak umumnya agak sangsi memberikan kamar yang connecting karena sepertinya tingkat okupansi saat itu masih tinggi. Namun ketika akan check in, resepsionis memberitahukan bahwa 4 kamar yang saya booking masing-masing memiliki connecting door. Ini untuk tipe deluxe saja ya, nggak tahu kalau tipe lainnya heu.

Halaman belakang kamar. Kebetulan tipe kamar yang saya booking ada di lantai paling bawah, jadi punya balkon juga

4. Pilihan Makanan Beragam
Must try on breakfast: roasted chicken! Dengan pilihan saus barbeque, mushroom atau blackpepper. Enak banget ayamnya, empuk. Dan ayam panggang ini disajikan setiap hari, semacam menu wajibnya.
Pilihan makanan untuk sarapan di hotel ini sangat beragam. Mulai dari masakan Indonesia, barat, aneka pastry, buah, gorengan, dimsum, sampai menu khusus vegetarian (mixed vegetables with peanut sauce a.k.a pecel! :)) ). Menu makan siangnya menurut saya juga cukup variatif, pernah ada batagor sama siomay segala hahaha.

Area makan outdoor

Kalau mau sarapan, saya sarankan memilih area outdoor di pinggir kolam renang. Pemandangannya bagus, apalagi kalau yang sarapan masih sedikit. Kadang bisa merasakan angin sepoi-sepoi juga. Minusnya, ya ada aja sih asap rokok..hih!

5. Lokasi Strategis
Ini sotoynya saya aja sih yang belum kenal banget sama Jogya, karena rasanya Hyatt ini nggak terlalu jauh dari bandara dan pusat kota. Lokasinya juga nggak terlalu di pinggir jalan raya sehingga lebih tenang dan pemandangannya sejuk. Asik lah!

Kalaupun belum berkesempatan staycation sama pasangan atau keluarga, cobalah menginap di sini ketika ada kesempatan dinas dan rasakan sensasi perpaduan keramahan staf hotel plus kenyamanannya. Selamat mencoba!