Cerita Putri Pena: Serupa, Tapi Tak Sama

Aku melihatnya di gerbang perbatasan Negeri 1000 Dagang. Bersama rombongan kecilnya, ia menunggu untuk melewati pos pemeriksaan. Sesekali ia mengusap tunggangannya. Tampaknya ia sangat menyayangi kuda hitam nan gagah itu.
Ia. Aku tidak tahu namanya. Bahkan tidak tahu siapa dia sebenarnya. Bukan ksatria Negeri 1000 Dagang, kurasa. Karena beberapa kali mengunjungi negeri penuh cerita itu, aku baru pertama kali melihatnya.

Hari itu aku sedang melakukan kunjungan ke Negeri 1000 Dagang. Sebagai seorang prajurit Negeri Kilau, tentu saja. Bersama beberapa panglima dan prajurit lainnya.
Ia, melihatku sekilas. Atau lebih tepatnya, melihatku dan rombongan kami. Melemparkan senyum perkenalan, tanpa sepatah kata terucap. Rombongannya dipersilakan memasuki Negeri 1000 Dagang dan ia lalu menghilang dari pandangan.
“Ia salah seorang dari Ksatria Pengembara. Mereka biasa melakukan perjalanan berminggu bahkan berbulan-bulan, mengunjungi banyak negara dan kerajaan untuk menjalin persahabatan. Sosok mereka tidak terlalu dikenal di sini, tetapi ke mana pun kau pergi bersamanya, pasti akan ada satu dua orang yang mengenalinya, ” jelas salah satu penjaga pos pemeriksaan. Ah, ia pasti tahu daritadi aku memerhatikan sosok itu!
“Kami biasa memanggilnya Panglima Ksatria Pengembara. Tidak banyak yang bisa kuceritakan tentangnya selain kemahirannya bermain pedang dan panah, minatnya yang tinggi pada perekonomian negara sehingga menjadi salah satu penasihat Sang Raja, dan kebiasaannya menghabiskan waktu seorang diri di Hutan Hijau jika ia memiliki waktu luang,” lanjut sang penjaga.
Hutan Hijau! Astaga, hampir saja aku melupakan tempat indah itu. Dan, apa kata penjaga tadi? Bermain pedang, panah, dan perekonomian negara? Mengapa ia…mengingatkanku pada seseorang?
Aku tidak tahu apa Semesta memang menciptakan beberapa orang dengan nyaris serupa. Aku juga tidak tahu apa Semesta sengaja mempertemukanku dengan sosok yang begitu mirip sebagai ujian selintas atau akan menjadi sebuah cerita baru.
Siapapun dia, kuharap, Semesta selalu melindungi setiap langkahnya. Menyinari mata teduhnya. Mewarnai harinya. Atau, bolehkah aku menggantikanmu melakukan tugas-tugas itu, Semesta?

0 comments:

Post a Comment

Hi!

All written by Yudistyana. Powered by Blogger.

Hello Guest! :)

Name

Email *

Message *