Cerita Putri Pena: Kehilangan

Halo! Apakah kau masih suka berjalan-jalan di dekat istana dan membaca tulisanku di Diarium? Akhir-akhir ini aku memang tidak menulis, padahal banyak hal yang ingin kutuangkan melalui tulisan.
Beberapa hari lalu, Kerajaan Tulis berkabung. Ibu Suri kami, orang yang kami hormati setelah Sang Raja dan Sang Ratu, pergi meninggalkan kami untuk selamanya. Sang Raja memerintahkan seluruh penduduk menaikkan bendera hitam sebagai tanda kerajaan kami sedang berkabung. Masa itu ditetapkan selama tujuh hari.

Meski tidak terlalu mengenal dan dekat dengannya, aku sangat menghormati Ibu Suri. Bagiku, beliau adalah orang yang paling bijaksana di kerajaan ini. Jika kesehatannya memungkinkan, rasanya ia masih bisa memimpin kerajaan ini.
Aku pernah diundang untuk minum teh bersamanya. Terkadang, Ibu Suri memang memanggil para pangeran dan putri ke kediamannya. Satu per satu. Meski yang mereka lakukan terkadang sederhana, minum teh atau menonton pertunjukan seni, mereka merasa senang menghabiskan waktu bersama beliau.
Ibu Suri paling suka bercerita. Ajukan pertanyaan sederhana tentang masa mudanya, ia akan mengisahkannya panjang lebar. Terkadang matanya berubah sendu jika sampai pada bagian bagaimana ia bertemu pujaan hatinya. Ketika bercerita, tak lupa ia menyelipkan nasihat bagi kami yang masih muda.
“Apa kabar? Kau selalu terlihat ceria seperti tidak pernah memiliki masalah. Pertahankan senyummu itu, rakyat lebih menyukai putri yang riang dibandingkan pemurung,” sapanya sore itu. 
“Kabar baik, Ibu Suri. Bagaimana dengan Anda?” Sepertinya saat itu kebahagiaanku memang sedang berlipat, setelah mengunjunginya aku berencana untuk menemui Ksatria Tak Berkuda.
“Aku? Seperti yang kau lihat. Apa sebabnya mereka melarangku untuk sekedar menghirup udara segar di Hutan Hijau?”
Aku tertawa kecil. Dari cerita beberapa tetua kerajaan, Ibu Suri memang dikenal suka berjalan-jalan. Ia bahkan bisa menghilang selama beberapa hari sehingga membuat tentara kerajaan sibuk mencarinya. Ia pernah tersesat di Hutan Hijau sepertiku tidak, ya?
Cerita demi cerita terus mengalir dari bibirnya. Kadang ia ganti memintaku bercerita. Ketika aku menceritakan pembelajaran menjadi ratu muda, pandangannya sedikit menerawang. Mungkin mengingat masa ketika ia mengalami hal itu.
“Jadilah putri yang tangguh. Putri yang tangguh bukan berarti ia tidak boleh bersedih atau menangis. Boleh saja, asalkan jangan terlalu larut. Dan sesudahnya, kau harus bangkit lagi. Menjadi putri yang lebih baik, layak memimpin, serta dicintai rakyat,” pesannya sebelum mengakhiri pertemuan kami.
“Dan satu lagi, jangan habiskan waktu untuk sesuatu, atau seseorang yang bahkan tidak pernah memikirkanmu. Kau mungkin mengerti maksudku.”
Astaga. Apakah ia pernah membaca tulisan-tulisanku yang menyedihkan itu?
Suatu saat, aku ingin sekali menuliskan sebuah kitab yang berisi nasihat-nasihatnya.
Aku tahu, ia sudah lebih tenang di tempat barunya kini. Namun, Ibu Suri akan tetap hidup selamanya di hati kami, seluruh penduduk Kerajaan Tulis. Selamat jalan, Ibu Suri.

0 comments:

Post a Comment

Hi!

All written by Yudistyana. Powered by Blogger.

Hello Guest! :)

Name

Email *

Message *