Belajar Mengapresiasi

Kemarin malam, saya iseng membuka folder-folder jaman kuliah. Di jurusan Jurnalistik Fikom Unpad (alias 'Jurnal), pada masa itu terkenal dengan 'kerajinannya' memberikan tugas kepada mahasiswa. Bukan setiap minggu, melainkan nyaris setiap mata kuliah.

Dulu, penjurusan dimulai di semester 3. Selama dua semester awal, kami diberikan mata kuliah dasar dan pengantar, salah satunya Pengantar Ilmu Jurnalistik (sebut saja PIJ). Kebetulan, kelas saya mendapat dosen PIJ yang memang 'suhu'nya jurusan Jurnal. Dibandingkan kelas lain, kelas kami serasa diperlakukan sudah seperti anak Jurnal. Ritme tugas tinggi, plus menuntut kualitas yang baik pula.

Kalau digambarkan dengan emoticon Whatsapp, perjalanan saya saat itu adalah emoticon menangis sambil ketawa. Tau kan? Artinya, sering rasanya mau nangis karena tugas-tugasnya nggak mudah, sering dikritik pedas oleh dosen, bahkan nggak jarang dikembalikan untuk direvisi. Di sisi lain, rasanya mau ketawa juga karena Jurnal memang jurusan pilihan saya sejak masuk kuliah sehingga saya harus bisa menjalaninya dengan baik. *setel lagu 'Tabah'*

Salah satu ciri khas tugas jurusan Jurnal adalah 'apresiasi'. Tugas ini diberikan oleh salah satu dosen senior. Yang itu tadi, yang sudah saya temui sejak semester 2 sementara teman-teman saya baru bertemu dengannya di semester 3. Lumayanlah, enam bulan 'pendekatan' dengan gaya mengajarnya :___))).

Hampir setiap minggunya, dosen kami ini memberikan tugas mengapresiasi. Mulai dari buku, berita di koran, majalah, film, dan... apa lagi ya, begitu lah kurang lebihnya. Jeda waktu pengumpulan tugas adalah satu minggu dan tidak boleh telat sedetikpun. Disiplin sekali memang, tapi inilah yang membuat kami menjadi lebih menghargai waktu.

Meski untuk mata kuliah yang berbeda, format Tugas Apresiasi ini selalu sama. Ada empat bagian yang harus kami cantumkan sebagai bentuk 'apresiasi' terhadap karya yang ditunjuk: Rangkuman, Pembahasan, Simpulan dan Saran, Pertanyaan. Tidak kurang, tidak lebih. Dan semua ditulis dengan jenis serta ukuran font yang sama, plus margin yang sama pula. Nggak kebayang ih dulu bisa aja menjalani semua itu! :))))

Rasa bosan tentu kadang ada. Apalagi saya sudah mendapat 'bonus' satu semester mengerjakan tugas ini. Untungnya, saat itu ada beberapa hal yang menjadi sedikit penyemangat kalau sedang (atau sering) stuck mengerjakan tugas. Ingat lagi motivasi awal kuliah, demi nilai, cita-cita, plus ada yang nemenin begadang ngerjain tugas :") (baca: teman-teman sekelas yang juga stuck dan malah berujung chit-chat via YM).

Belakangan, apalagi setelah memasuki dunia kerja di korporasi, saya baru merasakan nilai lain yang diperoleh dari Tugas Apresiasi ini. Betul, intinya, belajar menghargai karya orang lain. Nggak gampang loh bagi seseorang untuk mengeluarkan karya yang berbobot seperti buku ajar, berita, film, atau produk lainnya. Kalau kita yang diminta membuat produk seperti itu juga belum tentu bisa menghasilkan kualitas yang sama bagusnya kan?

Dari empat bagian Tugas Apresiasi yang itu-itu aja, saya jadi belajar bahwa mengapresiasi dimulai dengan mengetahui betul apa yang akan kita apresiasi. Seperti di Rangkuman, kita perlu mengenal dulu apa atau siapa yang akan kita beri apresiasi. Seperti apa profilnya. Apa yang sudah dia hasilkan. Bagaimana prosesnya. Dan lain-lain.

Setelah mengenal, barulah kita bisa memberikan penilaian. Ini seperti ada di tahap Pembahasan. Bagi saya, inilah inti dari pemberian apresiasi. Meski penilaian bisa berarti baik atau buruk, maupun objektif atau subjektif. Sesungguhnya, memberi penilaian yang buruk bisa sama menyakitkannya dengan menerima nilai jelek alias kritikan. Apalagi kalau penilaiannya subjektif, hanya berdasarkan selera. Namun, semakin kita dikritik, pada akhirnya kita semakin tahu dan bisa memilah, mana kritik yang perlu didengarkan dan ditindaklanjuti, mana yang perlu disenyumi saja (sambil ngedumel dalam hati).

Saya nggak alergi kritikan atau mendapat penilaian buruk. Selama memang jelas alasannya, ada landasannya, berdasarkan fakta atau apapun penguat lainnya, kritikan adalah obat pahit yang akan membuat kita menjadi tumbuh dan semakin kuat. Seperti kata seseorang, "..pahit di awal, manis di akhir." Tapi ya ingat, nggak semua kritikan perlu diresapi apalagi pakai hati. Bisa stress nanti kalau nggak dipilah!

Ibaratnya kalau lagi mengerjakan bagian Pembahasan, kami dibebaskan memberi penilaian baik atau buruk terhadap karya yang sedang diapresiasi. Namun, harus ada opini penjelasan plus pendukungnya. Ada pembanding atau referensi lain. Untuk menilai sebuah film tentang perjuangan jurnalis mengejar narasumber, misalnya, kami boleh mengatakan film itu bagus karena sesuai fakta di lapangan atau justru sebaliknya, film itu jelek karena menyimpang dari teori yang seharusnya.

Jadi, tidak asal menilai. Bukan asal mengkritik. Apalagi kalau menilainya pakai emosi dulu. Bye!

Tahap berikutnya dalam mengapresiasi adalah membuat Simpulan dan Saran. Sederhananya, ini adalah gabungan dari Rangkuman dan Pembahasan. Kalau kita sudah tahu profil orang atau produknya, bisa menilai dengan tepat, pada akhirnya kita bisa membuat simpulan yang bijak. Apakah kita akan terus menjalin relasi dengan orang itu, apakah kita akan tetap menggunakan produk itu, semacam itu lah. Kalau pada tahap sebelumnya kita sudah memberikan penilaian yang kurang baik, seimbangkanlah dengan pemberian masukan yang membangun. Sekali lagi, sebaiknya tidak asal menilai.

Sebagai tahap akhir Tugas Apresiasi, dosen kami selalu mewajibkan mahasiswa mengajukan minimal lima pertanyaan di bagian Pertanyaan. Katanya, untuk mengasah nalar dan daya kritis kami. Waktu itu saya tidak terlalu menganggap serius bagian ini, jadi terkadang pertanyaan yang ditulis nggak terlalu penting kayaknya :___))). Setelah lulus, barulah terasa manfaatnya punya jiwa yang kritis. Supaya bisa cermat mengamati keadaan atau permasalahan, sehingga tidak asal atau salah mengambil kesimpulan dan membuat keputusan.

Pada dasarnya, menurut saya, semua ciptaan yang ada di dunia ini pasti memiliki kebaikan atau manfaat. Baik itu makhluk maupun benda. Namun kadang, untuk beberapa hal, kebaikan itu tertutup faktor lain atau memang kadarnya sedikit sekali sehingga dia tidak bisa mendapat penilaian yang baik.

Kalau sudah dihadapkan pada godaan untuk memberi apresiasi yang 'buruk', saya kemudian teringat kembali pesan nenek, "Biarin aja orang lain nggak suka atau jahat sama kita, yang penting kita harus tetap baik sama orang itu."

Memberi apresiasi yang buruk terkadang nggak salah. Tapi kalau banyak orang yang bisa memberi apresiasi dengan positif dan tulus, bukankah dunia akan terasa lebih indah?

Source: Idea Champions

12 comments:

  1. Andai ummat facebook memiliki ilmu mengapresiasi, maka status mereka tak akan hanya berupa 'share' atau hujatan. Pasti akan berupa link download pdf... :P
    Thanks... ilmu di atas, baru aku tau..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe, bisa Teh.. atau seenggaknya sebelum (asal) share punya fakta-fakta pendukung argumennya yang akurat :)

      Sama-sama Teh, semoga bermanfaat.

      Delete
  2. Di dunia kerjaan saya (kalau lagi kerja), paparan seseorang dikomentari dan ditanggapi sampai berakhir pada sebuah hasil. Kalau sedang pembahasan sering keringat dingin. Padahal ya mereka mengapresiasi hasil kerja.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kabayang..
      Dulu juga tugas apresiasi ini suka langsung 'diapresiasi' lagi sama dosen, dibacain beberapa tugas di depan kelas. Belum apa-apa udah deg-degan hahaha.

      Delete
  3. dulu waktu masih berdarah muda. rasanya mengkritik sesuatu itu keren banget. pokoknya sebaik apapun suatu karya, pasti aku cari celah untuk dikritik.

    semakin bertambah tingkat kedewasaan (sebut saja: tua, hahahaha) maka aku lebih memilih mengapresiasi. karena mengapresiasi itu mengundang energi positif yang luar biasa :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kadang memang perlu loh Teh ngasih kritik itu walaupun kayaknya seseorang atau karyanya sudah sangat sempurna. Selalu terbuka 'room for improvement'. Dan aku juga setuju, apresiasi positif itu bakal mengundang energi yang luar biasa, yang mungkin nggak kita sadari sebelumnya dampak ngasih apresiasi ini ;)

      Delete
  4. salam kenal *dedeph* jabat tangan cipika cipiki hahaha

    *idem sama mba ajeng* :))
    sekarang lebih senang mengapresiasi daripada mengritik ~walau masih suka lupa.. (masih muda) hahhaa
    kadang sebuah apresiasi atas segala yang orang lakukan itu istimewa~~ karena orang tsb gak akan pernah menyangka akan dapet apresiasi itu... ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haai Teh Dedeph :D *salaman* *cipika-cipiki*

      Alhamdulillah..kadang kalau kita ngasih apresiasi, kitanya sendiri suka lupa, tapi kalau kita dikasih kritik, ingatnya awet ya? :p

      Delete
  5. Kaya beginian ternyata ada ilmunya!

    UHUY~

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi bahkan dulu aku nggak nyadar sih ini sebuah 'ilmu', pokoknya yang penting tugas selesai dan berharap nilai bagus :p

      Semoga bermanfaat! :D

      Delete
  6. iya betul menilai itu susah ya, gak gampang hanay sekedar menilai tanpa ilmunya. Trims ilmunya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe, terima kasih kembali atas apresiasinya :')

      Delete

Hi!

All written by Yudistyana. Powered by Blogger.

Hello Guest! :)

Name

Email *

Message *